Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Gerakan Terorisme di Penjuru Dunia belakangan ini semakin
menyebar, dimulai dari Negara Timur Tengah bahkan sampai ke Asia
Timur, Asia Tenggara dan Asia Selatan serta Benua Eropa, kasus
pengeboman beberapa wilayah di Negara Perancis Pekan Lalu semakin
membuktikan bahwa Gerakan Terorisme ini telah menyebar luas, pasalnya
Negara Perancis merupakan Negara yang makmur, sedikit kesenjangan
dan merupakan Negara yang tingkat keamananya Tinggi, namun para
teroris bisa masuk ke Negara perancis dan melakukan tindakan Terorisme
dengan mudahnya .
Terorisme sendiri sangat erat kaitanya dengan Radikalisme Agama
dan

merupakan salah satu ancaman nyata terhadap kehidupan dunia

global. Dampak dari gerakan radikal dan teroris dapat berimplikasi


terhadap dinamika ekonomi dan politik yang dapat mengalami guncangan
yang tidak kecil, sehingga mampu menciptakan rasa tidak aman pada
masyarakat luas. Kekerasan yang mengatasnamakan agama/keyakinan
sering sering dikaitkan ke dalam ranah radikalisme dan terorisme,
semenjak dicetuskannya program Global War on Terror (GWoT) oleh
Amerika Serikat setelah peristiwa 11 September 2001. Label kekerasan
dan ekstrim yang melekat menciptakan pandangan/asumsi bahwa antara
radikalisme dan terorisme (khususnya yang mengatasnamakan agama)
memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. meskipun keduanya
memiliki arti/definisi yang berbeda. Untuk diketahui bahwa radikalisme
adalah sebuah pemahaman yang bersifat ekstrim, sedangkan terorisme
adalah berupa ancaman atau kegiatan yang menggunakan kekerasan.
dalam Makalah ini akan menjelaskan mengenai radikalisme dalam ranah
keagamaan (khususnya agama Islam), terorisme, serta membahas
keterkaitan antara radikalisme keagamaan dengan aksi terorisme.
B. Rumusan Masalah
1

Rumusan Masalah dari Makalah ini yaitu:


1. Apa itu Radikalisme?
2. Apa itu Terorisme?
3. Bagaimana korelasi antara Radikalisme dan Terorisme dalam ranah
Agama(Khususnya Agama Islam)?

BAB II
2

PEMBAHASAN
1. Pengertian Radikalisme
Radikalisme dalam artian bahasa berarti paham atau aliran yang
mengingikan perubahan atau pembaharuan social dan politik dengan
cara kekerasan atau drastis. Namun, dalam artian lain, esensi
radikalisme adalah konsep sikap jiwa dalam mengusung perubahan.
Sementara itu radikalisme menurut pengertian lain adalah inti dari
perubahan itu cenderung menggunakan kekerasan
Yang dimaksud dengan radikalisme adalah gerakan yang
berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam
mengajarkan keyakinan mereka1.
Adapun dalam Kamus Ilmiyah Populer karya Pius A Partanto dan
M. Dahlan Al-Barry diterangkan bahwa radikalisme ialah faham
politik kenegaraan yang menghendaki adanya perubahan dan
perombakan besar sebagai jalan untuk mencapai taraf kemajuan.
Banyak Pemgertian Mengenai Radikalisme, Namun yang sering
TerjadiGerakan Radikalisme ini cenderung ke arah Negatif, dan
menimbulkan dampak Negatif yang cukup besar
Radikalisme keagamaan
Makna radikalisme dalam sudut pandang keagamaan dapat
diartikan sebagai paham keagamaan yang mengacu pada fondasi
agama yang sangat mendasar dengan fanatisme keagamaan yang
sangat tinggi, sehingga tidak jarang penganut paham/aliran tersebut
menggunakan kekerasan untuk mengaktualisasikan paham keagamaan
yang dianut dan diyakininya.
Proses yang terjadi dalam radikalisme adalah radikalisasi, yang
didefinisikan sebagai proses personal di mana individu mengadopsi
idealisme dan aspirasi politik, sosial, atau agama secara ekstrim,
dimana dalam pencapaian tujuannya membenarkan penggunaan
kekerasan tanpa pandang bulu, sehingga mempersiapkan dan
memotivasi seseorang untuk mencapai perilaku kekerasan2.
1

Lihat,http://www.referensimakalah.com/2012/01/pengertian-fundamentalismeradikalisme_8767.html,

Wilner., A, Ph.D & Dubouloz., C-J, Ph.D, Homegrown Terrorism and Transformative
Learning : An Interdisciplinary Approach to Understanding Radicalization (Ottawa : Canadian
Political Science Association Conference, 2009), h.08.

Terbentuknya radikalisme dicapai melalui proses radikalisasi


dimana terdapat 3 (tiga) aspek yang memiliki peranan penting selama
proses tersebut berlangsung, yaitu :
Proses individu Radikalisasi dipandang sebagai salah satu
proses pencarian identitas bagi individu (anak muda pada
umumnya). Bagi anak muda, pencarian identitas merupakan
bagian dari proses mendefinisikan hubungan seseorang

dengan dunia.
Dinamika interpersonal Radikalisasi memerlukan interaksi
interpersonal dengan aktor aktor lain untuk merangsang
dan mempengaruhi proses pemahaman/pemikiran individu

yang menjaditarget radikalisme,


Pengaruh lingkungan Narasi dan kosa kata politik
organisasi keagamaan yang memiliki pengaruh besar di
lingkungan masyarakat dapat menjadi masukan narasi bagi
kelompok kelompok radikal3.

2. Pengertian Terorisme
Ancaman atau penggunaan kekerasan secara ilegal yang dilakukan
oleh aktor non-negara baik berupa perorangan maupun kelompok
untuk mencapai tujuan politis, ekonomi, religius, atau sosial dengan
menyebarkan ketakutan, paksaan, atau intimidasi menjelaskan definisi
dari terorisme4.
Terorisme didasarkan pada kekerasan sistematis dan purposif, yang
dirancang untuk mempengaruhi pilihan politik tiap individu/aktor,
lebih dari sekedar untuk menimbulkan korban atau kerusakan material.
Untuk mencapai pengaruh politik, terorisme tergantung pada kekuatan
untuk membangkitkan emosi publik, kelompok netral, pendukung, dan
kontra5.
3

.
Choudhury., Tufyal, The Role Of Muslim Identity Politics In Radicalisation (London :
Department for Communities and Local Government, 2007), h.21
.
EP, Global Terrorism Index : Capturing the Impact of Terrorism for the Last
Decade (Sydney : Institute for Economics and Peace, 2012), h.06.
Crenshaw., Martha, op-cit, Chapter 13 : The Psychology of Political Terrorism (San
Francisco : Political Psychology, 1986), h.380

Pengelompokan tipe-tipe terorisme dapat dibedakan berdasarkan


taget dan motivasi yang menjadi tujuan dari aksi terorisme yang
dilakukan, antara lain :
a) Terorisme Negara Penggunaan teror secara sistematis oleh
pemerintah untuk mengontrol penduduknya. Terorisme
negara

sepenuhnya

dilakukan

oleh

kelompok

yang

memegang kekuasaan di suatu negara, bukan organisasi


non-pemerintah. Terorisme negara adalah bentuk asli dari
terorisme.

Contoh

dari

terorisme

negara

adalah

pemerintahan yang diktator, seperti Revolusi Prancis


(1793), kekerasan terhadap suku Kurdi di Irak (oleh
Pemerintahan Saddam Hussein), dan penindasan/aksi
represif terhadap demonstran di Suriah.
b) Terorisme Keagamaan Terorisme yang dimotivasi oleh
ideologi agama dan ketidakpuasan, hal tersebut sangat
berbahaya karena fanatisme individu yang berlebihan serta
kesediaan untuk mengorbankan diri dalam mencapai
tujuan. Teroris keagamaan cenderung menggunakan segala
cara seperti bom bunuh diri, yang oleh ajaran agama
digunakan untuk membenarkan dan bahkan mendorong
semacam ini pengorbanan diri. Al-Qaeda adalah kelompok
yang dapat dicirikan sebagai teroris agama. Terorisme
sebagai agama juga tercatat pada konflik Katolik-Protestan
di Irlandia, serta Muslim-Hindu di Pakistan dan India.
c) Terorisme Sayap Kanan Jenis terorisme yang bertujuan
untuk memerangi pemerintah liberal dan melestarikan
tatanan sosial tradisional. Umumnya dicirikan oleh milisi
dan geng, dimana kelompok-kelompok ini termotivasi
rasial dan bertujuan untuk meminggirkan kaum minoritas
dalam negara. contoh dari kelompok teroris sayap kanan
adalah Klu Klux Klan dan Neo-Fasis.
d) Terorisme Sayap Kiri Kelompok yang berusaha untuk
menggulingkan demokrasi kapitalis dan membangun
pemerintahan sosialis atau komunis, dengan menyerang
5

sistem

pemerintahan

dalam

rangka

menyingkirkan

perbedaan kelas. Contoh dari kelompok teroris sayap kiri


adalah Partai Front Pembebasan Rakyat Revolusioner di
Turki, Organisasi Revolusioner 17 November di Yunani,
dan

Fuerzas

Armadas

Revolucionarias

de

Colombia (FARC) di kolombia.


e) Terorisme Patologis Aksi individu yang dilakukan untuk
meneror orang lain. Teroris patologis tidak memiliki motif
politik yang terdefinisikan dengan baik. Contoh dari
terorisme patologis adalah penembakan yang terjadi di
beberapa sekolah di Amerika dan Eropa.
f) Terorisme Berorientasi Isu Jenis terorisme yang dilakukan
dengan tujuan untuk memajukan isu tertentu, biasanya
terkait masalah sosial atau lingkungan. Pemboman klinik
aborsi, serangan untuk kapal-kapal penangkap ikan paus,
serta serangan resor ski dan kegiatan pemotongan kayu oleh
Environmental Liberation Front (ELF) adalah contoh dari
terorisme berorientasi isu. T
g) Terorisme Separatis Jenis terorisme khas kaum minoritas
dalam negara-bangsa yang menginginkan kemerdekaan
sendiri, umumnya akibat perasaan diskriminasi dari
kelompok mayoritas/negara. contoh dari kelompok teroris
separatis

adalah

separatis

ETA Basquedi

Spanyol,

kelompok Chechen di Chechnya, Tamil Tigers di Sri Lanka,


Kurdish PKK di Turki, Quebec Liberation Front (QLF) di
Canada, dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di
Indonesia.
h) Narko-terorisme Istilah yang mengacu pada organisasi yang
memperoleh dana melalui penjualan narkotika, dimana aksi
yang

dilakukan

adalah

penggunaan

kekerasan

oleh

kelompok-kelompok atau geng yang dirancang untuk


mempermudah penjualan narkotika. Contoh dari kelompok
narko-terorisme adalah Kartel di Meksiko yang melakukan
pemenggalan kepala, penguburan massal, dan tindak
6

kekerasan lainnya untuk mengintimidasi penduduk agar


tidak bekerja sama dengan pihak berwenang/pemerintah6.
3. Korelasi Antara Radikalisme dan Terorisme
Individu dapat menjadi teroris melalui radikalisasi dimana
kemudian mengadopsi pemahaman kekerasan pada radikalisme
sebagai taktik kegiatan. Kekerasan ekstrim menggambarkan tindakan
kekerasan atas dasar keyakinan radikal atau ekstremis, sehingga
dengan kata lain, ketika pemahaman seseorang terhadap keyakinannya
yang terdahulu berubah menjadi pemahaman dalam konteks kekerasan,
maka individu tersebut memiliki potensi untuk menjadi seorang
teroris7. Perantara, jaringan sosial, internet, dan penjara dianggap
memiliki peran kunci dalam proses radikalisasi agama dimana pada
akhirnya akan bermuara kepada aksi terorisme keagamaan8:
Perantara (individu karismatik) sering membantu
membujuk individu yang sebelumnya taat hukum untuk

menjadi radikal atau bahkan menjadi pelaku teror.


Jaringan sosial (baik virtual atau aktual)

dapat

mendukung/memperkuat

untuk

keputusan

individu

mempergunakan cara-cara kekerasan terhadap orang lain

berdasarkan pemahaman agama yang dimilikinya


Materi online terkait perang suci (jihad) yang terdapat pada
situs atau web yang beraliran radikal, dapat memberikan
pencerahan

kepada

individu/masyarakat

yang

mengaksesnya.
Penjara, radikalisasi yang dilakukan oleh para terpidana
kasus terorisme dipandang oleh beberapa pengamat sebagai
lahan subur bagi penanaman paham radikalisme keagamaan
yang dapat menjurus kepada aksi terorisme. Rekam jejak
tumbuh kembang radikalisme pada akhirnya menampilkan
wajah kekerasan atau terorisme di Indonesia (Ken Conboy),
dimana dalam perkembangannya, pelaku terorisme selalu

lihat http://handofreason.com/2011/featured/types-of-terrorism
Bjelopera., Jerome P., American Jihadist Terrorism : Combating a Complex Threat
(Washington, DC : Congressional Research Service, 2013), h.02. 18
Ibid, h.13-24.

meningkatkan segala upaya dalam mewujudkan perjuangan


yang

diyakini

oleh

kelompok

bahwa

apa

yang

diperjuangkan adalah benar dan diyakini berjuang dijalan


Allah/agama yang diyakininya (radikalisme keagamaan)9.
Menurut SETARA Institute, terkait survey tentang hubungan antara
terorisme dengan organisasi agama radikal di tanah air terlihat bahwa
lebih banyak anggota masyarakat yang memberikan pernyataan
negatif. Dengan kata lain, bagian terbesar masyarakat tidak melihat
adanya hubungan antara terorisme dengan organisasi agama radikal.
Namun demikian, dengan perbedaan prosentase yang tidak terlalu jauh
terdapat pernyataan bahwa keduanya memiliki hubungan.10.

BAB III
KESIMPULAN
Radikalisme terbentuk melalui dinamika interpersonal dan lingkungan
dengan memanfaatkan faktor sosial-politik, keagamaan, kultural, ideologis, dan
kebijakan pemerintah untuk mempengaruh individu/golongan agar dapat memiliki
fanatisme tinggi terhadap ilmu/aliran yang dipelajarinya. Sifat fanatisme
berlebihan melalui klaim kebenaran terhadap suatu aliran kepercayaan, ketaatan
mutlak terhadap pemimpin agama, tujuan mendirikan negara ideal, penggunaan
segala cara, serta perang suci menjadi landasan utama terbentuknya redikalisme
keagamaan. Pengelompokan tipe-tipe terorisme berdasarkan taget dan motivasi
tiap kelompok, dapat membantu untuk menggolongkan kelompok teroris
berdasarkan variabel dan klasifikasi yang terdapat pada dimensi terorisme. Tujuan
kelompok teroris untuk memperoleh pendukung dan memaksa pihak otoritas
diklasifikasikan ke dalam tipe terorisme demonstratif, destruktif, dan bunuh diri.
Perubahan suatu individu/kelompok menjadi radikal dan pada akhirnya bermuara
9

10

Lihat, jurnalsrigunting.com/2012/03/27/tumbuh-kembang-fundamentalisme-radikalismedan-terorisme-sebagai-bahaya-latent-di-indonesia
Hasani.,Ismail, et-al, Radikalisme Agama diJabodetabek & Jawa Barat: Implikasinya
terhadap Jaminan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (Jakarta : SETARA Institute, 2010),
h.69

menjadi/mendapat label teroris, terbentuk melalui peranan perantara (individu


kharismatik), jaringan sosial, internet, dan lingkungan penjara. Dalam kasus di
Indonesia, radikalisme agama (islam) tidak menjadi faktor utama terbentuknya
aksi terorisme, meskipun kelompok radikal islam dianggap memiliki tujuan yang
sama dengan kelompok terorisme.