Anda di halaman 1dari 20

Perawatan Cedera Kepala di

Intensive Care Unit (ICU)


DR. SUMRAHADI MANURUNG

PENDAHULUAN
Cedera kepala merupakan penyebab hampir setengah
dari seluruh kematian trauma, mengingat bahwa kepala
merupakan bagian yang tersering dan rentan terlibat
dalam suatu kecelakaan

Distribusi kasus cedera kepala lebih banyak melibatkan


kelompok usia produktif, yaitu anatara 15-44 tahun
(dengan usia rata-rata sekitar tiga puluh tahun) dan
lebih didominasi oleh kaum laki-laki

trauma mekanik pada kepala yang terjadi baik secara


langsung atau tidak langsung yang kemudia dapat
berakibat kepada gangguan fungsi neurologis, fungsi
fisik, kognitif, psikososial, bersifat temporer atau
permanent

suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital


ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan
atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi
atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan
kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik.

Perdossi

Brian Injury
Assosiation of
America

DEFINISI

MEKANISME
Cedera kontak bentur
akibat dari adanya suatu tenaga benturan yang
mengenai kepala

Lesi lokal akibat benturan


akibat benturan meliputi fraktur linier dan depresi
tulang tengkorak, hematome epidural, kontusi cup
(coup contussio), intraserebral hematome yang
merupakan tumpahan intraserebral hematome ke
dalam rongga subdural dan beberapa fraktur basis
kranii.

MEKANISME
Lesi ditempat lain akibat benturan
dapat melalui dua ekanisme yaitu distorsi otak dan
gelombang kejut (shock waves).Kedua hal inilah yang
dapat menyebabkan terjadinya fraktur tengkorak
ditempat yang jah dari lokasi benturan (remote fracture),
fraktur basis kranii serta kontusio kontercup dan
intermediate coup

Cedera akselerasi-deselerasi
otak dapat bergerak bebas dalam batas-batas tertentu di
dalam rongga tengkorak pada saat mulai geraka (sesaat
mulainya akselerasi), otak tertinggal di belakang gerakan
tengkorak untuk beberapa waktu yang singkat

MEKANISME
Akselerasi translasi
terjadi bila titik berat otak (biasanya kira-kira terletak di
daerah kelenjar pineal) bergerak dalam suatu sumbu
garis lurus.

Akselerasi rotasi
terjadi bila ada gerakan rotasi dititik berat otak tanpa
disertai pergerakan titik berat tersebut.

Akselarasi angular
gabungan dan akselerasi translasi dan rotasi.

KLASIFIKASI
Berdasarkan patologi
Cedera kepala primer, dapat berupa:
1. Fraktur linier, depresi, basis kranii, kebocoran likuor.
2. Cedera fokal yang berupa kontusi kup atau konterkup, hematome
epidural,subdural atau intraserebral.
3. Cedera difus yang berupa konkusi ringan atau klasik atau berupa
cedera aksonal difusa yang ringan, moderat hingga berat.
4. Trauma tembak.
Kerusakan otak sekunder, dapat berupa:
1. Gangguan sistemik: akibat hipoksia, hipotensi, gangguan metabolisme energi,
dan kegagalan otoregulasi.
2. Hematome traumatik: epidural, subdural (akut dan kronis) atau intraserebral.
Edema serebral perifokal generalisata
Pergerakan otak (Brain shift) herniasi batang otak

KLASIFIKASI
Berdasarkan Ritche Russel
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sangat ringan: lama amnesia <5 menit


Ringan : < 1 jam
Sedang : 1 hingga 24 jam
Berat : 1 hingga 7 hari
Sangat berat : > 7 hari
Amat sangat berat: > 4 minggu

KLASIFIKASI
Berdasarkan Glasgow Coma Scale (GCS)

Cedera kepala ringan : GCS 14-15


2. Cedera kepala sedang: GCS 9-13
3. Cedera kepala berat : GCS 8
1.

PERAWATAN INTENSIF CEDERA KEPALA

Perawatan intensif untuk


cedera kepala berat harus
termasuk kontrol TIK, sistem
respiratory, CNS, sistem
sirkulasi, metabolisme
glukosa,temperatur dan
balance cairan.

Dengan monitoring infasif


dan non infasif ini semua
tindakan pencegahan untuk
semua masalah sudah siap.

PERAWATAN INTENSIF CEDERA KEPALA


Indikasi untuk dimasukkan ke ICU:
1.
2.
3.
4.
5.

6.

7.
8.

Gangguan kesadaran
Gangguan saluran pernapasan
Gangguan respirasi yang progresif atau butuh ventilator
Kejang
Bukti klinis atau bukti Ct Scan yang menunjukkan peningkatan TIK yang
disebabkan oleh space occupying lesion, edema serebral atau haemoragic
conversion dari sumbatan serebral.
Komplikasi dari pengobatan ( contohnya: hipertensi, hipotensi, gangguan
cairan dan elektrolit, aspiration pneumonia, sepsis, cardiac arrytmias,
pulmonary embolism)
Monitoring ( contohnya: tingkat kesadaran, fungsi respirasi, TIK yang di
pantau dengan EEG)
Penanganan spesifik ( contohnya: intervensi bedah saraf, trombolysis intravena
atau arteri)

PERAWATAN INTENSIF CEDERA KEPALA


Ventilasi buatan
Tujuan menggunakan ventilasi buatan pada pasien

cidera kepala berat adalah untuk meningkatkan


pertukaran gas, meminimalkan tekanan intra
thorakal, menurunkan kerja pernapasan dan untuk
menghindari komplikasi. Pasien-pasien ini juga
mempunyai resiko untuk terjadinya edema
pulmonary neurogenik, aspirasi dari orofaringnya,
pneuminia dan atelektasis.

PERAWATAN INTENSIF CEDERA KEPALA


Ventilasi tekanan positif
Tujuan penggunaan ventilasi tekanan positif pada

pasien dengan multi trauma dengan cedera kepala


untuk meningkatkan oksigenasi dan mengontrol
tekanan CO2 arterial untuk meminimalkan
hipertensi intrakranial. Ventilasi tekanan positif
meningkatkan kapasitas residual fungsional dengan
meningkatkan kinerja alveolar, yang mengoptimisasi
oksigenasi.2

PERAWATAN INTENSIF CEDERA KEPALA


Trakeostomi pada ICU
Kelebihan dari trakeostomi adalah mengurangi

resiko terjadinya ekstubasi sendiri, mengurangi


sinusitis, mengurangi resisten dari jalan napas dan
kerja pernapasan, toleransi yang lebih baik,
mengurangi kebutuhan sedative, berpotensi
mengurangi dari durasi ventilasi buatan.2
Resiko dari trakeostomy adalah infeksi pada tempat
pembedahan, perdarahan jalan napas,
pneumothoraks, perforasi oesophageal.

PERAWATAN INTENSIF CEDERA KEPALA


Sedasi pada ICU neuro
Sedasi yang tidak cukup dapat menyebabkan

hipertensi,takikardi, hipoksia,hiperkapnea dan


ketidaknyamanan dengan ventilator. Kelebihan
sedasi menyebabkan hipotensi, bradikardia, koma,
depresi pernapasan, insufisiensi ileus, insufisiensi
renal, imunosupresi dan veneous stasis.2

PERAWATAN INTENSIF CEDERA KEPALA


Nutrisi
Tujuan utama pemberian nutrisi adalah menjaga massa

otot, dan menyediakan cairan yang adekuat. Monitoring


kadar elektrolit dan glukosa yang ketat harus dilakukan
selama sakit.2
Kelebihan dari EN dibandingkan PN :
1. Menurunkan tingkat infeksi
2. tidak memerlukan infus
3. Mempertahankan balance cairan yang baik
4. Mempertahankan bobot otot dan pencegahan atrofi vili
5. Biaya yang lebih rendah

PERAWATAN INTENSIF CEDERA KEPALA


Penanganan untuk menurunkan tekanan intrakranial
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Assessment dan manajemen dari ABC


Intubasi bila; GCS <8, adanya herniasi, apnea, ketidakmampuan untuk mempertahankan jalan napas
Elevasi kepala 15-30
Hiperventilasi: target PaCO2: 30-35 mmHg
Mannitol: bolus awal: 0.25-1 g/kg, lalu 0.25-0.5 g/kg, q 2-6 dalam 48 jam
Hipertonis saline
Steroid
Sedasi dan analgesik yang cukup
Pencegahan dan perawatan kejang:
Hindari stimulus berbahaya
Kontrol demam: antipiretik, ukur suhu
Maintenance cairan IV
Pertahankan kadar gula darah: 80-120 mg/dL
Tahan peningkatan TIK:
- sedasi kuat dan paralysis
- drain CSF
- koma barbiturate
- hipotermia
- decompressive craniectomy

PERAWATAN INTENSIF CEDERA KEPALA


Komplikasi perawatan di ICU
Komplikasi paru-paru :

1. pneumonia nosokomial
2. pneumonia karena ventilator
3. pneumonia aspirasi
4. adult respiratory distress syndrome
5. edema paru neurogenik
6. emboli paru

PERAWATAN INTENSIF CEDERA KEPALA


Komplikasi perawatan di ICU
Hipovolemia
Hipotensi / hipertensi
Kejang
Demam

PENUTUP
Cedera kepala adalah asalah kesehatan yang sangat serius di
seluruh dunia.Tiap tahun cedera kepala penyumbang kasus
kematian dan kecacatan permanen yang berarti. Manajemen
cedera kepala di ICU sangan susah, manajemen menjadi lebih
sulit ketika terdapat komplikasi paru-paru dan disfungsi organ.
Tujuan dari penggunaan ventilasi buatan adalah untuk
mempertahankan oksigenasi yang cukup dan ventilasi tanpa
meningkatkan ICP.Strategi dalam penanganan nutrisi pada
pasien-pasien ini harus direncanakan sebaik mungkin untuk
membantu sistem imun tanpa menumpuk CO2. Dengan terapi
suportif dan manajemen yang terarah tingkat mortilitas dan
morbiditas dengan pasien cedera kepala dapat diturunkan. 2