Anda di halaman 1dari 5

PERBANDINGAN KONTRAKSI LUKA TERHADAP LUKA BAKAR DERAJAT II

A DENGAN MADU, ALOE VERA, DAN SILVER SURFADIAZINE PADA TIKUS


PUTIH (Rattus norvegicus)

TUGAS AKHIR
Untuk Memenuhi Persyaratan
Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Keperawatan

Oleh:
DIDIK EKO SETYANTO
115070207113042

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Luka bakar bukan luka biasa. Luka bakar mempunyai dampak langsung
terhadap perubahan lokal maupun sistemik tubuh yang tidak terjadi pada
kebanyakan luka lain (Marzoeki, 2006). Luka bakar merupakan jenis cedera yang
dapat memperlihatkan morbiditas dan derajat cacat yang relatif tinggi dibanding
dengan cedera lain. Biaya yang dibutuhkan untuk penanganannya pun tinggi
(Sjamsuhidajat & Wim, 2005). Luka bakar dapat disebabkan oleh kontak dengan
suhu tinggi seperti api, air panas, listrik, bahan kimia, dan radiasi (Mansjoer,
2001). Cidera luka bakar dapat bervariasi dari luka kecil yang bisa ditangani di
sebuah klinik rawat jalan, hingga cidera luas yang dapat menyebabkan multisystem organ failure (MOF) dan perawatan di rumah sakit yang memanjang
(Klein, 2007). Kedalaman kerusakan jaringan akibat luka bakar tergantung pada
derajat panas sumber luka bakar, penyebab luka bakar dan lamanya kontak
dengan tubuh penderita (Noer, 2006)
Setiap orang pasti pernah mengalami berbagai macam luka dalam
hidupnya. Kebanyakan luka biasanya hanya luka ringan dan cepat sembuh, dan
hanya mendapat sedikit perhatian. Namun, beberapa orang mengalami lika yang
kronik dan komplek yang dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi, nyeri,
dan depresi. Selain itu juga membutuhkan biaya yang dikeluarkan untuk merawat
dan mengobati luka tersebut (Advance Medical Technology Association, 2006)
Luka bakar derajat dalam di RSUD Dr. Soetomo dalam evaluasi tahun 2007
hingga 2011 sekitar 26.2% (Hidayat dkk, 2012). Data tahun 2012 tercatat
sebanyak 25 kasus luka bakar derajat dalam (23.8%) di rawat di burn unit RSUD
Dr. Soetomo dari total 105 penderita luka bakar yang dirawat. Setiap tahun,
sekitar 1 juta orang menderita luka bakar di Amerika Serikat (Edelman, 2009).
Luka bakar paling sering terjadi di rumah dan yang ditemukan terbanyak adalah
luka bakar derajat II (Nurdiana dkk, 2008). Pasien yang mengalami luka bakar
pada umumnya mengalami penderitaan, kehilangan kepercayaan diri dan
mengeluarkan biaya yang relatif banyak untuk penyembuhan (Sjamsuhidajat &
Wim, 2005).
Perawatan luka bakar dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa
bahan tambahan, antara lain normal salin, lidah buaya dan madu. Madu

merupakan cairan kental dan terasa manis yang dihasilkan oleh tawon madu
dengan jalan proses pengubahan suatu cairan manis yang dihasilkan oleh bunga
atau bagian dari tanaman (Hadiwiyoto, 1986). Madu telah digunakan sebagai
obat sejak jaman kuno. Ayurveda (pengobatan India) mendefinisikan madu
sebagai sari kehidupan dan merekomendasikan penggunaannya sebagai
pengobatan. Papyrus dari mesir kuno menyebutkan pengobatan luka bakar
dengan menggunakan madu. Tentara rusia dan tentara Cina juga menggunakan
madu untuk mengobati luka pada Perang Dunia I. Madu telah digunakan untuk
mengobati luka bakar dan ulcer untuk mengurangi infeksi dan mempercepat
penyembuhan luka (Subrahmanyam, 1996). Dalam sebuah penelitian di India
disebutkan bahwa madu memiliki kemampuan yang lebih cepat dalam
menyembuhkan luka bakar derajat II dibandingkan dengan cara konvensional.
Hal ini terutama karena madu memiliki osmolaritas yang tinggi, mengandung
hidrogen peroksida, kadar glukosa yang tinggi dan beberapa komponen organik
lain. Selain itu kandungan madu juga memiliki komposisi yang sesuai dengan zat
yang dibutuhkan oleh manusia sehingga madu tidak dianggap sebagai benda
asing.

Dengan

kandungan

tersebut

madu

memiliki

kemampuan

untuk

membersihkan luka, menyerap cairan edema, memicu granulasi jaringan,


epitelialisasi

dan

peningkatan

nutrisi.

Penelitian

tersebut

menggunakan

perawatan luka bakar metode tertutup (Subrahmanyam, 1996).


Proses penyembuhan ini dari fase awal, intermediate dan fase lanjut.
Masingmasing fase memiliki proses biologis dan peranan sel yang berbeda.
Pada fase awal, terjadi hemostasis dimana pembuluh darah yang terputus pada
luka akan dihentikan dengan terjadinya reaksi vasokonstriksi untuk memulihkan
aliran darah serta inflamasi untuk membuang jaringan rusak dan mencegah
infeksi bakteri. Pada fase intermediate, terjadi proliferasi sel mesenkim,
epitelialisasi dan angiogenesis. Terjadi pula kontraksi luka dan sintesis kolagen
pada fase ini. Sedangkan untuk fase akhir, terjadi pembentukan luka/remodelling.
Pada fase intermediete terjadi penurunan jumlah sel sel inflamasi, tanda
tanda

radang

berkurang,

munculnya

sel

fibroblast

yang

berproliferasi,

pembentukan pembuluh darah baru, epitelialisasi dan kontraksi luka.


Kontraksi luka adalah gerakan centripetal dari tepi leka menuju arah
tengah luka. Kontraksi luka maksimal berlanjut sampai hari ke-12 atau ke-15 tapi
juga bisa berlanjut apabila luka tetap terbuka. Kontraksi juga tergantung dari

jaringan kulit sekitar yang longgar. Sel yang banyak ditemukan pada kontraksi
luka adalah myofibroblast (Suryadi, 2012)
Madu adalah cairan kental manis yang dihasilkan oleh lebah. Bahan ini
telah lama digunakan sebagai obat, dan penelititan yang dilakukan pada dekade
terakhir telah menunjukkan manfaat yang besar dari madu. Analisis mengenai
kandungan madu menyebutkan bahwa unsur terbesar komponen madu adalah
glukosa dengan kadar fruktosa paling besar (76,8%), disamping mineral dan
vitamin (Martyarini, 2011)
Madu merupakan agen perawatan luka yang efektif, namun belum
digunakan secara luas dalam lingkup profesional. Penggunaan madu pada luka
terbukti meningkatkan waktu penyembuhan luka 4 kali lebih cepat dibandingkan
dengan agen perawatan luka yang lain. Literatur lain juga menunjukan bahwa
madu dapat mengurangi tingkat infeksi (Rio dan Aziz, 2012)
Tanaman lidah buaya (Aloe vera) lebih dikenal sebagai tanaman hias dan
banyak digunakan sebagai bahan dasar obat-obatan dan kosmetika, baik secara
langsung dalam keadaan segar atau diolah oleh perusahaan dan dipadukan
dengan bahan-bahan yang lain. Tanaman lidah buaya termasuk keluarga
liliaceae yang memiliki sekitar 200 spesies (Setiabudi, 2008). Khasiat dari
tanaman lidah buaya ini antara lain ialah menyembuhkan luka bakar dan
merangsang regenerasi kulit (McVicar, 2008).
Silver sulfadiazine merupakan gold standard terapi topikal pada luka
bakar. Obat silver sulfadiazine sering dipakai dalam bentuk krim 1%. Krim ini
sangat berguna karena bersifat bakteriostatik, mempunyai daya tembus yang
cukup efektif terhadap semua kuman, tidak menimbulkan resistensi dan aman
digunakan (Koller, 2004; Sjamsuhidajat, 2004). Silver sulfadiazine adalah obat
topikal yang umum digunakan untuk luka bakar, dan gel lidah buaya ternyata
terbukti mempunyai efektifitas yang hampir sama. Silver sulfadiazine digunakan
untuk pencegahan dan pengobatan infeksi pada pasien dengan luka bakar
derajat 2 dan 3. Kontra indikasi penggunaan silver sulfadiazine adalah pada bayi
kurang dari 2 bulan dan kehamilan cukup bulan (Zahroh, 2014)
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan yaitu
adakah perbandingan kontraksi luka bakar derajat II A (superficial partial-

thickness burn) dengan pemberian madu, aloe vera, dan silver sulfadiazine pada
tikus putih (Rattus norvegicus).
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui perbandingan kontraksi luka bakar derajat II A
(superficial partial-thickness burn) dengan pemberian madu, aloe vera, dan silver
sulfadiazine pada tikus putih (Rattus norvegicus).
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengindentifikasi perbandingan kontraksi luka bakar derajat II A
(superficial partial-thickness burn) dengan madu pada tikus putih (Rattus
norvegicus).
2. Untuk mengindentifikasi perbandingan kontraksi luka bakar derajat II A
(superficial partial-thickness burn) dengan aloe vera pada tikus putih
(Rattus norvegicus).
3. Untuk mengindentifikasi perbandingan kontraksi luka bakar derajat II A
(superficial partial-thickness burn) dengan silver sulfadiazine pada tikus
putih (Rattus norvegicus).

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Bagi Akademi
Hasil penelitian ini secara akademi diharapkan digunakan sebagai
informasi, referensi dan kajian bagi para akademisi keperawatan dalam
mengembangkan penelitian selanjutnya, terutama tentang perawatan luka bakar,
madu, aloe vera, dan silver sulfadiazine
1.4.2 Manfaat Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar teori dan bahan kajian yang
berkaitan dengan perawatan luka bakar derajat II
1.4.3 Manfaat Bagi Penulis
Manfaat penelitian ini bagi penulis dapat dijadikan sumber ilmu
pengetahuan baru dan juga dapat digunakan sebagai dasar penelitian
selanjutnya.