Anda di halaman 1dari 3

Manusia sebagai wujud yang materi, maka selama di alam materi ini ia

tidak akan lepas dari hubungannya dengan materi secara interaktif. Hubungan
manusia dengan materi , menuntutnya untuk menggunakan alat yang sifatnya
materi pula, yakni indra, karena sesuatu yang materi tidak bisa diubah menjadi
yang tidak materi . Dengan demikian, alam semesta yang materi merupakan
sumber pengetahuan yang paling awal dan indra merupakan alat untuk
mendapatkan pengetahuan dari alam fisik ini . Pengetahuan yang bersumber dari
indra-indra lahiriah seperti hasil dari melihat, mendengar, meraba, mencium, dan
merasa adalah suatu jenis pengenalan dan pemahaman yang bersifat lahiriah,
permukaan, dan tidak mendalam.
Tanpa indra manusia tidak dapat mengetahui alam fisik. Pengetahuan
indrawi bersifat parsial, disebabkan oleh adanya perbedaan antara indra yang satu
dengan yang lainnya. Masing-masing indra menangkap objek atau sesuatu yang
berbeda menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas organ-organ
tertentu, oleh karena itu, secara objektif, pengetahuan yang ditangkap satu indra
saja, tidak dapat dipandang sebagai pengetahuan yang utuh . Namun pengetahuan
indrawi menjadi sangat penting karena bertindak sebagai pintu gerbang pertama
menuju pengetahuan yang lebih utuh. Dalam filsafat Aristoteles klasik
pengetahuan lewat indra termasuk dari enam pengetahuan yang aksioamatis
(Analityca Posteriora). Benda-benda alam seperti bumi, langit, matahari, lautan,
dan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang dapat ditangkap manusia
dengan indra disebut sebagai hal yang dapat disimpulkan atau dipersepsi .
B. Alam Akal (Nalar)
Kaum Rasionalis, selain alam semesta atau alam fisik, meyakini bahwa
akal merupakan sumber pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat
pengetahuan. Mereka menganggap akal-lah yang sebenarnya menjadi alat
pengetahuan sedangkan indra hanya pembantu saja. Indra hanya merekam atau
memotret realita yanng berkaitan dengannya, namun yang menyimpan dan
mengolah adalah akal. Karena kata mereka, indra saja tanpa akal tidak ada artinya,
dan untuk meng-generalisasi-kan indra juga dibutuhkan akal.

1. Dalam pemikiran, Akal menarik kesimpulan. Yang dimaksud dengan menarik


kesimpulan adalah mengambil sebuah hukum atas sebuah kasus tertentu dari
hukum yang general. Aktivitas ini dalam istilah logika disebut silogisme kategoris
demonstratif.
2. Mengetahui konsep-konsep yang general. Mengatakan bahwa pengetahuan akal
tentang konsep yang general melalui tiga tahapan, yaitu persentuhan indra dengan
materi,
perekaman
ke
dalam
benak,
dan
penyimpulan.
3. Pengelompokkan Wujud. Akal mempunyai kemampuan mengelompokkan
segala yang ada di alam realita ke beberapa kelompok, misalnya realita-realita
yang dikelompokkan ke dalam substansi, apakah benda itu bersifat cair atau keras,
dan
lain
sebagainya.Pemilahan
dan
Penguraian.
4. Akal dapat menggabungan dan dapat menyusun. Akal juga dapat memilah dan
menguraikan.
5. Kreativitas. Dalam hal ini, akal dapat bersifat membangun dan mengeluarkan
pendapat atau pemikiran dalam mengefisiankan sesuatu.

Sebagian konsepsi-konsepsi dan pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki


oleh manusia tidak mungkin bersumber dari indra dan empiris, melainkan hanya
dapat diperoleh dengan perantaraan akal dan rasio, seperti konsepsi-konsepsi
tentang Tuhan, jiwa, dan yang sejenisnya. Menurut Imam Khomeni, manusia
secara fitri bersandar pada argumentasi akal dan demonstrasi rasional, yakni fitrah
manusia tunduk pada dalil dan burhan akal. Itulah fitrah yang dikhususkan bagi
manusia

dan

tidak

ada

perubahan

dalam

penciptaan

Tuhan.

Al-Ghazali mengatakan, bahwa akal juga termasuk sumber ilmu pengetahuan


sekaligus sebagai alat mencapai pengetahuan,. Akal itu sebagai kekuatan fitri
sehingga membuat manusia lebih tinngi dibandingkan dengan hewan. Diperjelas
dalam karyanya Ihya Ulum Ad-din bahwa yang menjadi jiwa rasional adalah akal
. Sama halnya menurut Immanuel Kant bahwa Akal mengucapkan putusanputusan. Artinya, akal menyimpulkan yang ditangkap oleh indra, bagaimanakah
sifat, bentuk, kandungan dan proses yang ada pada objek atau sesuatu yang
ditangkap oleh indra tersebut .
C. Hati (Intuisi dan Ilham)
Kaum empiris memandang bahwa sesuatu yang inmateri adalah tidak ada,
maka pengetahuan tentang inmateri tidak mungkin ada. Sebaliknya kaum Ilahi

( theosofi) yang meyakini bahwa ada sesuatu hal yang lebih luas dari sekedar
materi, mereka meyakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan
tentangnya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal dan hati. Hati dapat
merasakan sesuatu hal lain yang bukan bersifat materi, tetapi merasakan apa yang
sebenarnya terjadi dalam dirinya sendiri seperti rasa sakit, rasa lapar, dan
sebagainya.
Para filosof meletakkan akal dan indra-indra lahiriah sebagai alat untuk
mengenal alam yang terendah (alam materi, alam mulk, alam kegelapan),
sementara alam-alam lain yang bersifat metafisik (alam malakut dan alam cahaya)
hanya dapat disingkap dengan cara intuisi, mukasyafah, musyahadah, dan
pensucian hati. Walaupun pengetahuan rasional itu melahirkan bentuk-bentuk
keyakinan tertentu akan tetapi sangatlah terbatas, sedangkan keyakinan dan
makrifat yang dihadirkan oleh intuisi dan hati lebih sempurna, mendalam, dan
bersifat abadi. Peran argumen-argumen akal dalam hal ini lebih pada penegasan
terhadap dasar-dasar akidah dan asas-asas keagamaan bagi kalangan-kalangan
awam.
Dalam konteks islam, pengetahuan intuitif merupakan pengetahuan khas
manusia . Pengetahuan ini sebenarnya juga berada pada akal budi manusia, tetapi
yang dibedakan disini adalah menekankan pada sistematika dan kekuatan
metodologis. Selain itu, terdapat sumber pengetahuan lagi dalam perspektif islam,
yaitu Ilham dan wahyu. Hal ini disebutkan sebagai sumber pengetahuan tertinggi
di luar struktur pengalaman dan pengetahuan rasio, bahkan diluar jangkauan akal.
Para filosof sufilah yang memaparkan hal ini. Pengetahuan wahyu juga dapat
mengungkap tabir metafisik .