Anda di halaman 1dari 4

Review Jurnal

Waqf, Perpetual Charity, and Poverty Alleviation


Abulhasan M. Sadeq

Mata Kuliah Ekonomi Syariah


Universitas Indonesia
Desember, 2014

Waqf dalam jurnal ini dipaparkan sebagai peran sistem manajemen sumbangan yang memberikan
kelangsungan dalam upaya pengurangan kemiskinan dari berbagai aspek-aspeknya. Materi dan analisis yang
digunakan dalam jurnal ini membahas kemiskinan dan fungsi waqf, khususnya yang berada di negaranegara berkembang, sehingga secara lebih spesifik mendefinisikan kemiskinan dan skenario penyebabnya
lebih tepat, kemudian pembahasan mengenai metode-metode pendekatan yang digunakan, bagaimana
waqf dapat memiliki peran dari instrumen kesejahteraan sosial, sekaligus menjalankan proses interaksi
antara lembaga-lembaga multidimensional yang berarti dalam pengurangan kemiskinan di masyarakat.
Kemiskinan adalah masalah universal yang dihadapi sebagian besar masyarakat di dunia, terutama
di negara-negara berkembang yang justru dari segi persentase populasi di dunia merupakan minoritas.
Melihatnya dari perspektif hak asasi manusia, kemiskinan merupakan penghinaan, dan bahkan fenomena
ini terjadi pada masyarakat di negara-negara yang bekerja dengan keras untuk mengatasi dan
menanggulanginya. Namun faktanya adalah kemiskinan ini tetap ada seakan-akan menganggap peniadaan
fundamental hak dasar dari manusia, dengan segala bentuk usaha, pendekatan, dan cara pandangnya. Dari
kejanggalan-kejanggalan ini, disimpulkanlah bahwa kemiskinan merupakan fenomena multidimensional dan
tidak dapat hanya dilihat dari aspek pendapatan rendah saja, tetapi harus dilihat dari perpektif yang lebih
komprehensif. Terdapat empat variabel utama dari banyak variabel kemiskinan yang menjadi turunan
dari kategori-kategori dimensi fenomena kemiskinan, yaitu tingkat pendapatan, pendidikan, infrastruktur,
dan kesehatan. Empat variabel ini memiliki kausal dua arah dengan fenomena kemiskinan. Kemiskinan
membuat masyarakat sulit mengakses pendidikan, tapi di saat yang sama masyarakat dengan tingkat
pendidikan rendah menyebabkan kemiskinan (illiteracy as an effect of poverty), kemiskinan membuat
masyarakat tidak dapat memanfaatkan infrastruktur yang layak, tapi pada saat yang sama ketersediaan
infrastruktur yang sedikit berpotensi pada menyebabkan kemiskinan, begitu juga terjadi kausal yang sama
pada dua variabel lain yakni tingkat pendapatan dan kesehatan. Empat variabel di atas menjadi penyebab
sekaligus efek dari adanya kemiskinan. Usaha penurunan tingkat kemiskinan dengan menggunakan
pendekatan empat variabel tersebut dapat menjadi lebih efektif, karena masuk dari faktor-faktor kunci
dimensi kemiskinan itu sendiri tanpa harus fokus saja pada strategi peningkatan pendapatan.
Waqf, dalam hal ini sebagai fundamental komponen dalam program penurunan tingkat kemiskinan
melakukan perannya. Islam telah memiliki konsep dalam pengatasian kemiskinan dengan zakat, dimana
setiap orang yang memiliki kekayaan di bawah nisab meskipun dapat mencukupi kebutuhan dasarnya,
dianggap sebagai penderita kemiskinan dan akan mendapat hasil zakat. Dalam hal ini institusi zakat
bekerja sebagai institusi berbasis sumbangan, dan hal ini adalah salah satu konsep yang Islam berikan
mengenai penurunan tingkat kemiskinan dengan pendekatan yang komprehensif. Metode penurunan
kemiskinan berbasis sumbangan dalam Islam bukan berarti membiarkan masyarakat hidup hanya dengan
mendapatkan pendapatan dari sumbangan tersebut, namun menggunakan sistem pengelolaan dan esensi
yang benar terhadap penurunan tingkat kemiskinan. Strategi penurunan tingkat kemiskinan yang
Vembria Ferini- 1206214646

Page 1

dikonsepkan oleh Islam terdiri dari: (1) Strategi peningkatan pendapatan, (2) Perbaikan mutu aspek nonpendapatan, yaitu pendidikan, kesehatan, dan lain-lain, (3) Meningkatan akses masyarakat untuk
medapatkan akses pada fasilitas dan infrastruktur, sumber daya, dan pekerjaan. Yang membedakan Waqf
dari bentuk sumbangan lain yaitu Zakat dan sadaqah dalam konsep Islam adalah, sifatnya yang
berkelangsungan (perpetual). Tantangan yang dihadapi sistem sumbangan dalam usaha penurunan tingkat
kemiskinan ini adalah pendekatan redistributif yang diharapkan terjadi di masyarakat. Waqf dalam hal ini
dapat meningkatkan kapabilitas masyarakat untuk menjadi mandiri dan mampu menjaga dan memelihara
mereka sendiri. Waqf memberikan kontribusi relevan terhadap strategi penuruna tingkat kemiskinan
dengan menyediakan masyarakat mandiri ini akses terhadap pendidikan yang baik, fasilitas dan kesehatan
yang layak. Hal ini yang mendefinisikan waqf dapat secara efektif mengatasi masalah kemiskinan dengan
pendekatan komprehensif yang telah dijelaskan di atas. Definisi waqf dalam jurnal ini adalah penguncian
kepemilikan harta yang dimiliki dari dasarnya dan bagian dari keuntungannya, untuk tujuan-tujuan
tertentu. Harta waqf tidak dapat dipindahtangankan maupun dibuang, namun hanya keuntungan dari
pengelolaan harta ini saja yang dapat digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu, terkait dengan kegiatan
sumbangan itu sendiri pada dasarnya. Seperti sudah disebutkan di atas, waqf adalah bentuk sumbangan
dengan karakter keberlangsungan (perpetual), dengan institusinya yang dikelola dengan baik dan
bertujuan jangka panjang, mempertimbangan risiko-risiko sistem di sektor pengelolaan berbasis
sumbangan.
Jurnal ini membahas secara singkat aplikasi waqf dalam sejarah yang menjadi peran penting dalam
pembangunan sosial dan ekonomi pada zamannya. Di beberapa periode masa yang lalu banyak aktifitas
yang berjalan dari hasil kegiatan waqf, serta bagian proporsi yang besar lahan nasional merupakan lahan
waqf. Dalam beberapa waktu sebelumnya, terdapat zaman di mana pemerintahan tidak memiliki institusi
atau sistem, bahkan departemen yang mengelola konsep sumbangan, barang publik atau kebutuhan
masyarakat umum seperti rumah sakit, jembatan, dan semacamnya hingga waqf digunakan. Kemudian
selain waqf dalam bentuk lahan, terdapat juga waqf dalam bentuk uang, yang pada zamannya diberikan
oleh masyarakat mampu. Uang hasil sumbangan tersebut kemudian diinvestasikan atau diberikan sebagai
pinjaman untuk mendapatkan penghasilan lagi dari hasil sumbangan tersebut, lalu penghasilan tersebut
digunakan untuk membiayai proyek-proyek tertentu yang digunakan untuk kepentingan dan kebutuhan
umum.
Institusi waqf terdiri dari dua fungsi yaitu mengenai donasi harta waqf dan sistem administrasi
waqf. Bentuk waqf pada dasarnya adalah sumbangan, dan administrasi waqf tergantung pada bentuk waqf,
biasanya pengelolaan harta waqf diserahkan kepada manajemen atau pengelola harta waqf. Institusi waqf
dibuat secara sukarela, tergantung pada tingkat kedermawanan dan rasa kepentingan terhadap pelayanan
masyarakat. Meski lembaga waqf ini memiliki peran signifikan, pada kenyataannya lembaga ini tidak dapat
bekerja dengan efektifitas secara keseluruhan pengelolaan terhadap proyek-proyek atau aktifitas-aktifitas
yang menjadi bagian program penurunan tingkat kemiskinan. Hal ini karena tidak adanya jaminan
mengenai ada tidaknya serta jumlah donasi waqf yang bisa didapatkan untuk membiayai proyek-proyek
atau aktifitas-aktifitas rencana program. Selain itu, program yang direncanakan untuk mencapai satu
pencapaian akan penurunan kemiskinan dalam tingkat pengukuran yang telah ditargetkna biasanya
membutuhkan investasi dalam jumlah besar, yang tidak efektif jika hanya menunggu donasi waqf individu.
Dengan adanya permasalahan ini, jurnal ini mengajukan satu mekanisme waqf sebagai institusi yang dapat
secara efektif mendukung program penurunan tingkat kemiskinan yaitu dengan mendesain dan
merencakanan proyek aktifitas dengan prioritas tinggi dinilai berdasarkan urgensi dan efeknya, kemudian
proyek ini akan diarahkan ke Waqf Administration Body (WAB) di negara yang bersangkutan. WAB
menerbitkan profil proyek dan mengundang sumbangan sukarela untuk membiayai proyek tersebut.
Waqf uang ini didapat melalui penerbitan sertifikat waqf dengan berbagai denominasi yang bisa dibeli oleh
individu ataupun institusi. Cara ini menjadi wadah pengumpulan dana yang efektif untuk membiayai
proyek-proyek waqf besar. Inisiasi ini juga dapat menyentuh berbagai kalangan yang ingin berpartisipasi
dalam waqf yang dikelola ini, baik individu dalam nominal sumbangan kecil, individu dalam nominal
Vembria Ferini- 1206214646

Page 2

sumbangan besar, serta institusi. Jumlah dari pengumpulan ini tidak mungkin dicapai dengan upaya tunggal
tanpa membuat instrumen pengelolaan yang lebih terorganisir. Proyek-proyek ini termasuk proyek yang
menghasilkan pendapatan, fasilitas kesehatan, dan infrastruktur. Proyek yang menghasilkan pendapatan
seperti micro-project di area-area berpotensial tertentu seperti penginapan, industri pengrajin, dan lain-lain,
di mana dapat menyediakan lapangan kerja di saat yang sama penghasilan bagi kelompok masyarakat yang
ditargetkan di area tersebut. Fasilitas edukasi dapat memberikan kebutuhan pendidikan yang sangat
krusial bagi masyarakat yang tidak memiliki akses pendidikan di negara berkembang, yang diharapkan
dapat menjadikan pengurangan kemiskinan di masa yang akan datang. Kunci dari proyek-proyek ini adalah
fungsinya sebagai bagian dari sistem pengurangan kemiskinan, dengan keberlanjutan dan keberlangsungan
(sustainable). Dengan nilai dan prinsip ini, pengurangan kemiskinan dapat berjalan peningkatan kapabilitas
masyarakat miskin untuk menaikkan kondisi ekonomi mereka dengan mandiri tanpa bergantung pada
sumbangan semata.
Proyek-proyek pengurangan kemiskinan yang sudah direncanakan oleh lembaga Waqf merupakan
proyek-proyek yang secara langsung digunakan oleh masyarakat luas, tanpa batasan dan persaingan,
karena pada dasarnya memberikan atau menghasilkan kebutuhan publik. Dalam pembiayaan proyek ini
juga seperti dijelaskan di atas, yaitu dengan sertifikat Waqf yang diterbitkan dengan denominasi besar dan
denominasi kecil dapat mengakomodasi batasan untuk masuk dalam sektor ini. Selain itu, ada mekanisme
lain yang diajukan yaitu pembuatan secondary project yang bersifat komersial, dan hasil dari kegiatan
komersial ini adalah pembiayaan proyek prioritas dalam program pengurangan kemiskinan. Mekanisme ini
dibuat berdasarkan munculnya masalah pembiayaan tetap yang dibutuhkan proyek prioritas tadi. Pada
pembangunannya, dapat menggunakan sertifikat waqf seperti mekanisma pertama yang dijelaskan dalam
jurnal ini, namun untuk beban keberlangsungan proyek ini, tidak ada jaminan atas penanggungan biayabiaya tersebut sehingga perlu dibentuk satu bentuk proyek sekunder yang berfungsi menanggung biaya
tetap dan keberlangsungan dari proyek prioritas. Proyek sekunder ini dibuat dengan penerbitan sertifikat
waqf, mekanismenya sama dengan pembuatan proyek prioritas, dan proyek sekunder ini mengakomodasi
masyarakat bukan pemberi waqf untuk turut berkontribusi dalam sektor ini dengan berpartipasi dalam
transaksi di proyek sekunder yang membuka lebih inklusifitas pengelolaan waqf ini. Hal ini secara tidak
langsung menyebabkan redistributif efek yang lebih besar dari sebelumnya, baik antar masyarakat miskin,
maupun dari masyarakat mampu ke masyarakat miskin. Sekali lagi, karakter dari waqf yaitu
keberlangsungan (perpetual) menonjol dalam mekanisme ini.
Terdapat model yang dibuat oleh Ethio-economic System of Islam (ESI) yang terdiri dari 5 poin
dalam pengurangan kemiskinan yaitu penghasilan, zakat & sedekah, pelarangan korupsi, akses trehadap
sumber daya dan fasilitas, sinergi/kerjasama. Institusi waqf berkontribusi dalam pengurangan kemiskinan
melalui pembuatan generator penghasilan bagi masyarakat miskin, sedekah, dan akses pada sumber daya
dan fasilitas. Dalam model tersebut waqf dibuat berdasarkan konsep sedekah dan sumbangan, kemudian
koperatif dengan masyakarat berbagai kalangan, yang dapat menyediakan akses terhadap sumber dana
dan fasilitas untuk memberdayakan masyarakat miskin. Waqf juga memfasilitasi masyarakat miskin dengan
generator penghasilan dari masyarakat mampu ke masyarakat miskin serta antar masyarakat miskin
dengan program proyek prioritas. Model ini menunjukkan dengan pengurangan kemiskinan akan
mengarah pada tingkat pendapatan masyarakat yang kembali menghasilkan zakat dan sedekah, karenanya
model ini menunjukkan interaksi dua arah.
Kemiskinan yang terjadi dengan masif, yang terjadi tidak hanya pada aspek pendapatan dan
penghasilan masyarakat secara materil namun juga pada aspek kesehatan, pendidikan, akses terhadap
fasilitas dan infrastruktur, menunjukkan bahwa permasalahan ini bukan masalah biasa yang dapat diatasi
dengan satu pendekatan, namun harus dengan pendekatan dari berbagai dimensi dan aspek yang
mengakibatkannya. Cara yang efektif untuk benar-benar mengurangi kemiskinan adalah dengan
sumbangan. Waqf sebagai bentuk dari sumbangan memiliki karakter keberlanjutan yang menjadikannya
sistem komprehensif dalam mengurangi kemiskinan dengan terorganisir. Jurnal ini mengungkapkan lebih
Vembria Ferini- 1206214646

Page 3

banyak bahwa benefit dari sistem waqf ini dinikmati oleh tidak hanya masyarakat dengan tujuan atau
kelompok kepercayaan tertentu tapi seluruh pihak. Hal ini mendukung dari sisi sumber distribusi
produktif kekayaan masyarakat mampu dan transfer-type redistribution. Mekanisme dan sistem terorganisir
dari Waqf ini memerlukan rencana dan program-program, yang disebut dengan organized voluntary waqf.
Cara perolehan dana ini adalah dengan dimunculkannya sertifikat waqf yang megurangi barrier to entry
serta mempermudah administrasi zakat. Dibuatnya mekanisme dan alat (tools) untuk manajemen waqf ini
secara signifikan mendukung pengurangan kemiskinan secara esensi dan fundamental karena terlibatnya
pelaku ekonomi, masyarakat, serta lembaga (kementrian terkait) untuk mengatasi masalah yang menjadi
utama bagi ekonomi maupun kemanusiaan di belahan dunia, bahkan sebagian besar manusia di dunia.
Waqf menjadi instrumen yang berlanjut, dengan sinergi positif yang dibentuk antar aktifitas dan
memberikan efek serta peran penting bagi perkembangan sosial dan ekonomi.

Vembria Ferini- 1206214646

Page 4