Anda di halaman 1dari 6

1.4.

Cara Pemilihan Jokowi


Pemilihan umum Presiden Indonesia 2014
Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia
Tahun 2014 (disingkat Pilpres 2014) dilaksanakan pada tanggal 9
Juli 2014 untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Indonesia
untuk masa bakti 2014-2019. Pemilihan ini menjadi pemilihan
presiden langsung ketiga di Indonesia. Presiden petahana Susilo
Bambang Yudhoyono tidak dapat maju kembali dalam pemilihan
ini karena dicegah oleh undang-undang yang melarang periode
ketiga untuk seorang presiden. Menurut UU Pemilu 2008, hanya
partai yang menguasai lebih dari 20% kursi di Dewan Perwakilan
Rakyat atau memenangi 25% suara populer dapat mengajukan
kandidatnya. Undang-undang ini sempat digugat di Mahkamah
Konstitusi, namun pada bulan Januari 2014, Mahkamah
memutuskan undang-undang tersebut tetap berlaku. Pemilihan
umum ini akhirnya dimenangi oleh pasangan Joko Widodo-Jusuf
Kalla dengan memperoleh suara sebesar 53,15%, mengalahkan
pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang memperoleh
suara sebesar 46,85% sesuai dengan keputusan KPU RI pada 22
Juli 2014.[5] Presiden dan Wakil Presiden terpilih dilantik pada
tanggal 20 Oktober 2014, menggantikan Susilo Bambang
Yudhoyono.
Ir. H. Joko Widodo (O Jawa: Jaka Widada, Jawa Latin: Jk
Widd, Hanacaraka:
) atau yang akrab disapa Jokowi
(lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961; umur 54
tahun) adalah Presiden ke-7 Indonesia yang mulai menjabat
sejak 20 Oktober 2014. Ia terpilih bersama Wakil Presiden
Muhammad Jusuf Kalla dalam Pemilu Presiden 2014. Jokowi
pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak 15
Oktober 2012 hingga 16 Oktober 2014 didampingi Basuki
Tjahaja Purnama sebagai wakil gubernur, dan Wali Kota
Surakarta (Solo) sejak 28 Juli 2005 sampai 1 Oktober 2012

didampingi F.X. Hadi Rudyatmo sebagai wakil wali kota. Dua


tahun sementara menjalani periode keduanya di Solo, Jokowi
ditunjuk oleh partainya, Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP) untuk memasuki pemilihan Gubernur DKI
Jakarta bersama dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Joko Widodo berasal dari keluarga sederhana. Rumahnya bahkan


pernah digusur sebanyak tiga kali, ketika masa kecil, tapi ia
mampu menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Kehutanan
Universitas Gajah Mada. Dan setelah lulus, dia menekuni
profesinya sebagai pengusaha mebel. Karier politiknya dimulai
dengan menjadi Wali Kota Surakarta pada tahun 2005. Namanya
mulai dikenal setelah dianggap berhasil mengubah wajah kota
Surakarta menjadi kota pariwisata, budaya, dan batik. Pada
tanggal 20 September 2012, Jokowi berhasil memenangi Pilkada
Jakarta 2012, dan kemenangannya dianggap mencerminkan
dukungan populer untuk seorang pemimpin yang "baru" dan
"bersih", meskipun umurnya sudah lebih dari lima puluh tahun.
Semenjak terpilih sebagai gubernur, popularitasnya terus
melambung dan menjadi sorotan media. Akibatnya, muncul
wacana untuk menjadikannya calon presiden untuk pemilihan
umum presiden Indonesia 2014.[12] Ditambah lagi, hasil survei
menunjukkan bahwa nama Jokowi terus diunggulkan. Pada
awalnya, Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri
menyatakan bahwa ia tidak akan mengumumkan calon presiden
dari PDI Perjuangan sampai setelah pemilihan umum legislatif 9
April 2014. Namun, pada tanggal 14 Maret 2014, Jokowi
menerima mandat dari Megawati untuk maju sebagai calon
presiden, tiga minggu sebelum pemilihan umum legislatif dan dua
hari sebelum kampanye.

1.5 Beberapa Kinerja Jokowi di nilai Buruk

Setahun Presiden Joko Widodo dan pembantunya bekerja


sejak dipilih sebagai presiden 9 Juli 2014 lalu, masyarakat
menilai negatif. Kinerja pemerintahan Jokowi terutama di
sektor ekonomi, politik dan penegakan hukum dinilai
menurun.
Hal ini terlihat dari survei yang dilakukan Saiful Mujani
Research and Cosulting (SMRC) selama bulan Mei-Juni 2015
pada 1220 responden di seluruh Indonesia. "Tepatnya ada
sekitar 56 persen warga yang menganggap kurang/tidak
puas dengan kinerja Jokowi, sementara yang menyatakan
sangat/cukup puas hanyalah 41 persen," kata Direktur
Eksekutif SMRC, Yunadi Hanan saat memaparkan hasil survei
di kantor SMRC, Jalan Cendana no 8, Jakarta Pusat, Kamis
(9/7/2015). Yunandi mengatakan, ada tiga hal yang dinilai
masyarakat menurun selama setahun Jokowi bekerja. Hal ini
dibandingkan dengan setahun kerja presiden sebelumnya,
Susilo Bambang Yudhoyono. Pertama di bidang ekonomi,
dalam survei ditemukan 31.5 persen masyarakat
menyatakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini lebih buruk
dari setahun yang lalu. Sementara yang mengatakan lebih
baik 24 persen. Penilaian ini, kata Yunandi datang dari
kondisi yang dialami masyarakat secara langsung.
"Masyarakat merasa lebih susah atau harga mahal, yang
paling terasa dampak dari kenaikan harga BBM, mereka
harus membeli BBM lebih mahal, kemudian harga sembako
lebih mahal, harga transportasi lebih mahal, pekerjaan
makin susah, dirasakan langsung oleh masyarakat," beber
Yunandi. Sementara dalam bidang Politik, Yunandi
mengatakan dari hasil survei 37.5 persen masyarakat
menganggap kondisi politik Indonesia buruk, sementara
yang menyatakan baik 21.6 persen. Sedang dalam bidang
penegakan hukum, 38 persen masyarakat menyatakan
kondisi hukum Indonesia setahun pemerintahan Jokowi
buruk, sementara 32 persen menyatakan baik. Dalam

kondisi politik dan penegakan hukum, Yunandi mengatakan


hal ini bukan dirasakan masyarakat secara langsung, tapi
dilihat oleh masyarakat melalui media salah satunya televisi.
Misalnya, kisruh KPK dengan Polri, sampai ribu ribut soal
dana aspirasi. "Biasanya adalah hal-hal yang dilihat
masyarakat, memberikan pemberitaan yang sampai kepada
masyarakat melalui media, terutama TV. Karena 75 persen
masyarakat kita nonton tv," pungkas Yunandi. Dari survei
yang dilakukan dengan cara multistage random sampling itu,
diketahui masyarakat menilai negatif terhadap tiga bidang
dalam pemerintahan Jokowi selama setahun. "Temuan ini
mengkonfirmasi apa yang sudah dibicarakan cukup luas.
Kinerja Jokowi negatif di tiga bidang itu. Hal ini menunjukkan
bahwa kinerja pemerintahan dipertanyakan baik kalangan
elite maupun masyarakat secara umum," ujar Yunandi.

1.6 Beberapa prestasi Jokowi


Efisiensi Anggaran Pelantikan. Dari sejak sebelum Jokowi
dilantik, Jokowi sudah menekankan agar anggaran untuk
pelantikannya nanti bisa ditekan serendah mungkin. Dan
akhirnya anggaran pun dikurangi menjadi 500-an juta dari
yang asalnya 1,05 milliar.Menghilangkan gaya
kepemimpinan yang protokoler dan tidak menggunakan
voorijder dalam aktivitas kesehariannya saat blusukan
menginspeksi masalah lapangan. Menepati janji
kampanyenya untuk lebih lama berada di lapangan dan
tidak hanya duduk dibelakang meja. Setelah pelantikan,
Jokowi langsung berkeliling untuk melihat secara langsung
permasalahan ditengah- tengah masyarakat, mulai dari

melihat kondisi perkampungan, hingga melihat langsung


kondisi sunga-sungai yang ternyata sangat tidak terurus
dengan banyaknya sampah. Jokowipun langsung
memerintahkan dinas PU untuk segera membersihkannya
dengan menambah ekscavator. Membuka Kantor balai kota
untuk rakyat. Sekarang rakyat bisa leluasa menyampaikan
keluhan ke balai kota dan bisa merasakan indahnya balai
kota daripada sebelumnya yang terkesan angker dan kurang
Welcome. Sidak ke kelurahan-kelurahan untuk
mendisiplinkan kinerja aparat di tingkat kelurahan yang
ternyata selama ini sangat tidak disiplin seringkali
melakukan pungutan-pungutan liar.

Ketegasan dalam Kepemimpinan. Sikap tegas Jokowi dalam


menghadapi birokrasi yang berbelit dibuktikan dengan
perombakan jajaran dinas di Pemprov DKI, dengan
digantikannya kepala dinas PU yang tidak bisa mengikuti
irama pemerintah pemprov DKI era Jakarta Baru yang harus
cepat, tepat dan melayani. Bukan itu saja, Jokowi juga
memindah tugaskan Wali Kota Jakarta Selatan Anas Effendi
sebagai Kepala Perpustakaan.

Memberi tambahan honorRp.500,000 bagi RT & RW, dan


tidak hanya itu, Jokowi juga memberikan bonus prestasi bagi
mereka-mereka yang mampu menciptakan terobosan dalam
pekerjaannya.

Mengangkat Budaya dan kearifan lokal Betawi dengan


mewajibkan PNS untuk memakai pakaian adat betawi pada
hari Jumt yang sekarang ganti menjadi hari rabu. Tidak

hanya itu, pemprov DKI menekankan seluruh bangunan di


Jakarta harus bisa menampilkan karakter kebetawiannya.

Melakukan efisiensi dengan menyatukan kantor dinas


dengan balai kota. Langkah ini sangat tepat untuk
memudahkan kontrol dan pengawasan, sekaligus
memperpendek jalur akses informasi antara dinas dengan
gubernur yang pastinya disamping efisien biaya, tempat
juga waktu.
Mereformasi SATPOL PP dengan menanggalkan pentungan
dan menginstruksikan untuk tidak lagi menggunakan caracara kekerasan tanpa kehilangan ketegasan. Dan sekarang
bisa kita lihat wajah SATPOL PP yang mendadak humanis,
terlebih setelah dikomandani oleh seorang wanita (Sylviana
Murni).
Kartu Jakarta Pintar (KJP) untuk para pelajar yang langsung
diberikan kepada siswa dengan system ATM dengan fasilitas
Bank DKI. Ini menarik, karena anggaran pendidikan akan
langsung tertuju pada sasaran, dan bisa menghindari
permainan & penyelewengan oleh oknum. Penambahan
fasilitas -fasilitas kesehatan di Rumah Sakit - Rumah Sakit
dan Puskesmas - puskesmas dan juga perobakan ruang kelas
II menjadi ruang kelas III di beberapa Rumah Sakit, juga
dengan penambahan Dokter adalah upaya untuk
mengimbangi melonjaknya jumlah pasien yang sebelumnya
tidak berani berobat ke Rumah Sakit. Menaikkan Upah Buruh
Propinsi DKI hingga 30%. Kenaikan yang fantastis, walaupun
Jokowi harus berhadapan dengan para kapitalis perusahaan
yang sempat mengancam akan hengkang dari Jakarta.