Anda di halaman 1dari 3

Posisi Sungsang pada Janin

Letak bayi sungsang merupakan salah satu hal yang mengkhawatirkan bagi ibu, terutama
bagi ibu yang sedang mengandung. Bayi sungsang merupakan suatu kelainan yang terjadi
dalam masa kehamilan. Istilah sungsang diartiakan sebagai suatu keadaan di mana kepala
bayi yang seharusnya berada pada bagian bawah berdekatan dengan mulut rahim malah
berada pada bagian atas sehingga ketika lahir bukan kepala bayi yang akan muncul terlebih
dahulu sebagaimana pada persalinan normal.
Kondisi ini umumnya tidak dapat dirasakan secara langsung oleh sang ibu, tetapi dapat
terdeteksi melalui USG. Sebetulnya sampai bayi berusia 34 minggu, letak bayi masih bebas,
artinya letak kepala bisa di atas atau di bawah karena masih memiliki ruang yang cukup
untuk bergerak. Namun jika usia kehamilan sudah lebih dari itu, sehingga bayi pun sudah
cukup besar, ia tidak mampu lagi merubah posisinya karena tidak banyak ruang sehingga
dapat mengakibatkan terjadinya posisi sungsang.
Letak bayi sungsang dapat menimbulkan masalah saat ibu menjalani persalinan kelak.
Berbeda dengan proses persalinan yang normal, pada persalinan bayi sungsang dibatasi
waktu. Pada saat melakukan persalinan normal pada bayi sungsang, begitu badan bayi keluar,
kepalanya harus segera dikeluarkan empat menit kemudian. Hal ini perlu dan harus dilakukan
demi keselamatan bayi, karena jikalau terlalu lama berada di dalam rongga perut ibunya saat
persalinan dapat menyebabkan bayi kekurangan oksigen yang berakibat pada kematian bayi.
Bayi sungsang dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain yaitu ibu memiliki panggul
yang kecil dan relatif sempit. Panggul sempit dapat membuat kepala janin terjepit sehingga
membuat janin tidak tahan ketika berada pada rongga panggul sang ibu yang membuat ia
untuk berputar ke arah atas dan terjadilah posisi sungsang.
Hidramnion merupakan faktor lain yang dapat menyebabkan posisi sungsang pada bayi.
Hidramnion yaitu kelebihan air amnion yang dapat membuat bayi untuk bergerak bebas di
dalam rahim sang ibu. Ketika sudah mencapai usia delapan bulan, bayi yang sudah semakin
besar tidak dapat bergerak bebas lagi sehingga bisa saja saat itu bayi dalam keadaan
sungsang.
Kepala bayi yang relatif besar juga merupakan faktor penyebab posisi sungsang pada bayi.
Bayi kembar dapat menyebabkan posisi sungsang. Kehamilan dengan bayi kembar dapat

beresiko besar posisi sungsang pada salah satu janinnya. Hal tersebut dapat terjadi karena
janin yang kepalanya berputar kebawah lebih dulu dapat membuat kembarannya sulit melalui
rongga panggul ibunya yang sempit, sehingga terjadilah posisi sungsang.
Persalinan yang dilakukan oleh bayi dengan letak sungsang sebagian besar yaitu dengan
persalinan caesar, hanya kecil kemungkinan dilakukannya persalinan normal. Bagi ibu yang
mengandung, mengetahui bahwa janinnya berada pada posisi sungsang menyebabkan ibu
merasa khawatir, tetapi posisi sungsang masih bisa diubah selama belum mencapai usia
kehamilan tua.
Posisi bersujud yang dilakukan oleh ibu hamil dapat merubah posisi sungsang pada janinnya.
Cara bersujud ini dapat dilakukan dengan bersujud, perut seolah-olah menggantung ke
bawah. Hal ini ditujukan supaya janin dapat melakukan perputaran di dalam rahim sang ibu.
Cara bersujud seperti ini dapat dilakukan dua kali sehari dengan waktu lima sampai sepuluh
menit. Bila posisi tersebut dilakukan secara baik dan teratur, maka potensi bayi sungsang
kembali ke posisi normalnya akan semakin besar. Posisi bersujud ini tidak berbahaya bagi ibu
hamil, karena secara ilmiah dapat memberikan cukup ruang bagi janin untuk memutar
posisinya kembali ke posisi normal, mekipun posisi ini dapat membuat ibu hamil terasa sesak
dan tidak nyaman jika dilakukan terlalu lama. Apabila ketika melakukan hal ini ibu hamil
merasa sesak berlebih bisa dihentikan dan dilanjutkan lain waktu.
Jalan alternatif lain yang dapat ditempuh oleh ibu hamil untuk merubah posisi sungsang yaitu
dengan ECV (External Cephalic Version). Cara ini dilakukan dengan teknik khusus oleh
dokter kandungan dengan cara menekan perut ibu hamil untuk merubah posisi kepala bayi
hingga berada dibawah pada mulut rahim. Tentu saja cara ini dapat mengakibatkan ibu hamil
merasa tidak nyaman. Pada kasus letak sungsang cara ini memiliki persentase keberhasilan
50%, berbeda pada bayi letak melintang , cara ini dapat memiliki persentase keberhasilan
sampai 90%. ECV dominan berhasil ketika dilakukan pada bayi kedua dan seterusnya.
ECV dapat mengalami keberhasilan dan juga kegagalan. Kegagalan dalam mengubah posisi
sungsang janin biasanya terjadi akibat ECV tidak bisa dilakukan dikarenakan beberapa faktor
seperti, ibu yang mengandung bayi kembar tidak dapat melakukan ECV karena dianggap
terlalu beresiko kepada salah dua janin. Begitu pula ada ibu yang memiliki riwayat
pendarahan, ECV tidak dapat dilakukan karena memiliki resiko yang besar akan terjadi
pendarahan lagi. Janin yang memilik cairan amnion yang berfungsi sebagai pelindung janin
dari benturan, jumlahnya yang sedikit tidak dapat menerapkan ECV pula, karena ditakutkan

janin akan mengalami benturan akibat tekanan dari tangan dokter. Perlu diperhatikan juga
ECV dapat mengakibatan komplikasi seperti terpisahnya plasenta dari dinding rahim,
sehingga mengharuskan untuk dilakukannya operasi caesar, karena detak jantung janin
menurun drastis. Hal inilah yang membuat ECV perlu dipersiapkan dengan baik dan
sebaiknya dilakukan di rumah sakit yang memiliki fasilitas yang lengkap bilamana terjadi
komplikasi-komplikasi yang tidak diinginkan.
Sebenarnya persalinan normal pada janin letak sungsang dianjurkan, terlebih lagi jika melihat
beberapa kondisi seperti, bayi memiliki berat lebih dari 3,8 kg atau kurang dari 2 kg, maupun
letak plasenta yang tergolong rendah atau ibu pernah melakukan operasi caesar sebelumnya.
Namun jika tidak berhasil melakukan perubahan posisi sungsang, umumnya operasi caesar
akan dilakukan untuk mengeluarkan bayi. Sebelum melakukan operasi sesar pada bayi
sungsang tentu saja harus dilakukan USG terlebih dahulu untuk memonitoring detak jantung
janin.
Posisi bayi sungsang memang merupakan suatu kelainan pada bayi dalam kandungan, untuk
itu diperlukannya selalu berkonsultasi dengan dokter dan sering melakukan pemeriksaan
terhadap kandungan untuk menghindari hal tersebut. Sebagai ibu hamil tentu seorang ibu
harus senantiasa menjaga kesehatan agar anak yang dikandung tidak mengalami komplikasikomplikasi yang tidak diinginkan.