Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

ASPEK KLINIS MIOTONIA KONGENITA

OLEH:
dr. Agus Suryawan

PEMBIMBING:
dr. I Gst Ngurah Made Suwarba, Sp.A (K)
dr. Dewi Sutriani Mahalini, Sp.A

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS-1


BAGIAN ILMU PENYAKIT ANAK
RSUP SANGLAH DENPASAR
FEBRUARI 2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmatNya referat yang berjudul Aspek Klinis Miotonia Kongenita
ini dapat diselesaikan dengan baik. Adapun referat ini disusun sebagai salah satu
tugas Divisi Ilmu Penyakit Anak yang harus diselesaikan dalam rangka mengikuti
Program Pendidikan Dokter Spesialis I Neurologi Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada yang
terhormat dr. I Gst Ngurah Made Suwarba, Sp.A (K) dan dr. Dewi Sutriani
Mahalini, Sp.A selaku pembimbing penyusunan referat ini. Akhir kata, penulis
menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna sehingga memerlukan
saran dan kritik agar menjadi lebih baik. Atas perhatian dan masukannya, penulis
mengucapkan terima kasih.

Denpasar, Februari 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL.....................................................................................

KATA PENGANTAR...................................................................................

ii

DAFTAR ISI.................................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................

BAB II KAJIAN PUSTAKA........................................................................

2.1 Aspek klinis miotonia kongenita..................................................

2.1.1 Miotonia kongenita autosomal dominan............................

2.1.2 Miotonia general Resesif....................................................

2.2 Diagnosis......................................................................................

2.3 Diagnosis Banding........................................................................

11

2.4 Pengobatan Miotonis Kongenita..................................................

13

2.4.1 Terapi farmakologis............................................................

13

2.4.2 Pertimbangan terapi lain.....................................................

15

2.4.3 Terapi gen...........................................................................

15

BAB III SIMPULAN....................................................................................

17

DAFTAR PUSTAKA

......................................18

BAB I
PENDAHULUAN

Deskripsi menyeluruh pertama miotonia kongenita pada tahun 1876, ketika


Julius Thomsen, seorang dokter dari wilayah Schleswig Jerman Utara,
menerbitkan naskah pada penyakit otot yang menimpa beberapa anggota
keluarganya termasuk dirinya sendiri. Istilah Penyakit Thomsen kemudian
ditetapkan. (Menkes dan Sarnat 2000; Jorgensen, 2005; Lossin dan George, 2008)
Miotonia (myo dari bahasa Yunani: otot, dan tonus dari bahasa Latin: tension)
menjelaskan abnormal tertunda pada relaksasi otot mengikuti kontraksi volunteer
kuat. Miopati kongenital berkembang selama pembentukan otot. (Amstrong et al,
2007) Miotonia adalah gejala dari berbagai kondisi otot yang berbeda baik
diperoleh dan genetik yang mengganggu fase relaksasi kontraksi otot. Prevalensi
di seluruh dunia adalah antara 0,2-7,3 per 1,00,000 dengan prevalensi tertinggi
berada di Finlandia Utara, sebesar 7,3 per 100.000. Namun, kejadian di antara
orang Asia tidak diketahui dengan baik. (Menkes dan Harvey, 2000; Savitha et al,
2006) Miotonia kongenita adalah penyakit keturunan spesifik hipereksitabilitas
membran otot yang disebabkan oleh penurunan konduktansi sarkolema klorida
karena mutase CLCN1 di lokus 7q32, gen yang mengkode saluran utama klorida
otot rangka CLC-1. (Menkes dan Sarnat, 2000; Jorgensen, 2005; Lossin dan
George, 2008) Penyakit ini dapat ditularkan baik autosomal dominan atau resesif
dengan hampir 130 mutasi yang dikenal saat ini. Meskipun ini adalah penyakit
yang jarang, penjelasan dari patofisiologi yang mendasari miotonia kongenital

ditetapkan dari konduktansi sarkolema klorida pada kontrol dari eksitabilitas otot
dan menunjukkan contoh pertama dari penyakit manusia yang terkait dengan
family CLC dari trasnportasi klorida protein. (Nara dan Lumantobing, 1999;
Jorgensen, 2005; Lossin dan George, 2008)
Dalam gangguan ini, gangguan fungsi saluran klorida otot skeletal (CLC-1)
menyebabkan peningkatan rangsangan sarkolema yang secara klinis tampak
sebagai relaksasi otot (miotonia) yang tertunda. (Jorgensen, 2005; Lossin dan
George, 2008) Saat ini, banyak molekul saluran ion yang berperan dalam
membangkitkan potensial aksi telah ditetapkan pada level sequence nukleotida
primer, dan pekerjaan ini telah membuka jalan menuju dasar genetik. (Lossin dan
George, 2008) Secara paralel, kemajuan di bidang elektrofisiologi seluler
ditambah dengan penggunaan kanal ion rekombinan telah memungkinkan untuk
memperluas pengetahuan tentang patofisiologi molekuler gangguan tersebut.
Miotonia kongenita, meskipun penyakit yang jarang, terdapat petunjuk penting
mengenai pentingnya konduktansi sarkolema klorida dalam mengendalikan
rangsangan membran otot. (Jorgensen, 2005; Lossin dan George, 2008)

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Aspek Klinis Miotonia Kongenita


Gambaran klinis pasien dengan miotonia berupa kekakuan otot pada saat
memulai gerakan. Kekakuan tersebut membaik dengan beberapa pengulangan
gerakan yang sama, sehingga menimbulkan apa yang disebut fenomena warm-up.
Kesulitan dalam berdiri dari posisi duduk, kadang-kadang memulai berjalan
setelah duduk, dan kesulitan dalam menaiki tangga. Pada pemeriksaan didapatkan
kesulitan bangun dari posisi duduk dan inisiasi gerakan yang lambat, membaik
sambil terus berjalan. Ditemukan adanya hipertrofi otot betis, paha, otot gluteal
dan bisep memberikan 'penampilan seperti hercules". (Jorgensen, 2005; Savitha et
al, 2006; Lossin dan George, 2008; Hahn dan Brenda, 2009; Fenichel, 2009)
Dalam beberapa kasus, miotonia tidak dimulai sampai satu atau dua set gerakan
yang sama berakhir (miotonia tertunda). Jika gejala memburuk dengan latihan
berulang, istilah miotonia paradoks lebih tepat digunakan, akan tetapi hal ini
cenderung terjadi pada mutasi pengaturan kanal sodium otot. Miotonia dapat
terjadi

dengan berbagai gangguan

lainnya

termasuk

paralisis

periodik

hyperkalemic, paramiotonia kongenita, potassium aggravated miotonia, dan


distrofi otot myotonic. Paparan obat dan zat kimia toksik tertentu juga dapat
menyebabkan miotonia. Gambaran klinis kondisi ini tumpang tindih dalam
beberapa aspek, tapi review menyeluruh gejala, riwayat klinis, dan pola warisan

biasanya menunjukan diagnosis banding yang jelas (Tabel 2.1). (Lossin dan
George, 2008)
Tabel 2.1 Gambaran klinis dari miotonia kongenital (Lossin dan George,
2008)

beberapa data menunjukan miotonia ditemukan sedikit lebih sering pada lakilaki dibanding perempuan. Perbedaan kultur tradisional dan peran gender
mungkin menyebabkan bias pada data.
Miotonia kongenita dapat diwariskan baik sebagai autosomal dominan
(Penyakit Thomsen) atau bersifat resesif (miotonia general resesif atau miotonia
Becker). Gambaran klinis dari kedua kondisi ini sangat mirip, tetapi dapat
dibedakan oleh derajat keparahan dan pola warisan. Kedua gangguan tersebut
disebabkan oleh mutasi pada gen (CLCN1) yang mengkode kanal klorida otot
CLC-1. (Menkes dan Sarnat, 2000; Jorgensen, 2005; Lossin dan George, 2008;
Fenichel, 2009)
2.1.1. Miotonia Kongenita Autosomal dominan (Penyakit Thomsen)
Pewarisan dominan miotonia kongenita biasanya terlihat selama awal masa
infant. Gejala pertama mungkin berupa relaksasi kelopak mata yang tertunda
setelah penutupan mata saat bersin atau selama menangis (von Graefes sign atau
lid lag). Infant juga dapat menunjukan gejala otot yang tidak biasa pada

ekstremitas, tetapi hipertrofi otot yang jelas jarang ditemukan pada infant. Sering,
penyakit Thomsen tidak ditegakan sampai late childhood, ketika anak
menunjukan clumsy dan mengalamai kesulitan bergerak setelah beristirahat.
Kekakuan otot, terutama pada kaki, setelah bangun dari posisi duduk, dan keraguraguan selama memanjat tangga mungkin jelas. (Lossin dan George, 2008)
Penyakit Thomsen dapat bervariasi dari derajat ringan sampai sedang dengan
kasus yang berat jarang terjadi. Harapan hidup normal dan individu yang terkena
dapat mencapai kehidupan yang memuaskan dan berhasil. Temukan genetik
terhadap penyakit Thomsen adalah tidak ada. Meskipun, dalam kasus yang parah
penyakit Thomsen dan resesif general miotonia (RGM), dapat menyebabkan
peningkatan risiko trauma sebagai akibat tergangguanya kemampuan dalam
memperbaiki posisi diri setelah kehilangan keseimbangan. Tidak ada manifestasi
sistem saraf pusat. Namun, beban kejiwaan dapat terlihat, dan khususnya pada
laki-laki muda di mana hipertrofi otot tampak jelas, ejekan dan kesalahpahaman
dengan rekan-rekan pada kinerja fisik yang buruk dan "clumsiness" dapat
bermasalah. Dalam beberapa kasus, keinginan untuk menghindari kondisi ini
dapat menjadi cukup kuat pada individu yang terkena untuk mempertimbangkan
pengobatan empiris sendiri dengan menggunakan obat yang diperoleh dari
pemasok nonmedis yang dapat menimbulkan risiko kesehatan lainnya. (Nara dan
Lumantobing, 1999; Lossin dan George, 2008)
Penyakit Thomsen diwariskan secara dominan, tetapi tidak jarang ditemukan
heterogenitas intrafamilial. Usia saat onset, kelompok otot yang terkena, dan
derajat keparahan dapat berbeda secara signifikan antara saudara kandung atau

anak-anak dan orang tua. Performa fisik hanya sedikit terpengaruh, beberapa
sebenarnya mungkin tidak menyadari kondisi mereka atau tanpa gejala klinis.
Evaluasi elektromiografi, bagaimanapun, mungkin menunjukkan bukti cetusan
abnormal (miotonia laten). (Jorgensen, 2005; Lossin dan George, 2008)
2.1.2. Miotonia general Resesif (miotonia Becker)
RGM mirip dengan penyakit Thomsen kecuali pola pewarisan resesif dan
fenotipe umumnya lebih parah. Eponim untuk gangguan ini adalah untuk
menghormati Professor Jerman Peter Emil Becker yang mempelajari telah
mempelajari penyakit ini selama bertahun-tahun dari kehidupannya, menunjukan
bahwa ada subset yang berbeda secara genetika dari penyakit Thomsen. (Lossin
dan George, 2008)
Secara klinis, RGM terjadi pada early childhood atau infant dengan miotonia
general yang disertai dengan hipertrofi otot moderat yang mungkin berkembang
karena aktivitas otot yang meningkat secara kronis. Dibandingkan dengan
penyakit Thomsen, penderita RGM mengalami miotonia yang lebih parah dan
mungkin mengalami periode kelemahan transien (<1 menit) pada saat memulai
gerakan, terutama setelah istirahat lama). Kelemahan transien terjadi tiba-tiba
dengan persepsi dari "gelombang" kelemahan atau kegagalan otot mempengaruhi
otot yang terlibat dalam tugas dan mungkin mengakibatkan jatuhnya sebuah objek
atau gangguan kontrol postural. Miotonia berat dapat mengganggu kontrol
postural saat memperbaiki gerakan adalah secara prematur "kekaku/frozen" pada
pertengahan gerakan menyebabkan terjatuh. Meskipun miotonia biasanya tidak
berhubungan dengan nyeri, pasien dengan RGM jarang mengalami kram otot

yang menyakitkan atau mialgia, terutama selama istirahat setelah olahraga berat.
Meskipun hipertrofi otot general, beberapa individu dengan RGM mungkin
mengalami atrofi dari lengan. Elektromiografi pada ekstremitas atas harus
dihindari. Penurunan refleks ekstremitas atas dan dorsofleksi pergelangan yang
terbatas juga telah diamati. (Jorgensen, 2005; Lossin dan George, 2008)
Secara umum, wanita lebih sering daripada laki-laki, namun bias dalam
pemastian data mungkin tidak menunnjukan rasio jenis kelamin yang sebenarnya.
Sementara fluktuasi keparahan miotonia dapat terjadi dalam menanggapi
kekurangan makanan, kurang tidur, aktivitas fisik yang berkepanjangan, dan stres
emosional. Anekdot, kehamilan dan hipotiroidisme dapat memperbaiki atau
memperburuk gejala pada beberapa individu yang terkena. Demikian pula,
miotonia laten dapat menjadi jelas secara klinis selama menstruasi, yang mungkin
disebabkan oleh hormon seks yang memediasi perubahan fungsional CIC-1.
(Jorgensen, 2005; Lossin dan George, 2008)

2.2. Diagnosis miotonia Kongenita


Miotonia harus ditegakan pertama kali dari gejala yang khas. Adanya riwayat
keluarga miotonia membantu untuk membedakan penyakit Thomsen dari RGM
pada beberapa kasus, tapi tidak semua, karena ekspresivitas yang bervariasi. Pola
pewarisan autosomal dominan sebenarnya menyingkirkan diagnosis RGM, tetapi
tidak adanya miotonia di orang tua kurang informatif karena gangguan mungkin
timbul oleh mutasi de novo. (Lossin dan George, 2008)

Ditemukan adanya kekakuan otot pada saat memulai gerakan. Kekakuan


tersebut membaik dengan beberapa pengulangan gerakan yang sama, sehingga
menimbulkan apa yang disebut fenomena warm-up. Kesulitan dalam berdiri dari
posisi duduk, kadang-kadang memulai berjalan setelah duduk, dan kesulitan
dalam menaiki tangga. Pada pemeriksaan didapatkan kesulitan bangun dari posisi
duduk dan inisiasi gerakan yang lambat, membaik sambil terus berjalan, hipertrofi
otot betis, paha, otot gluteal dan bisep memberikan 'penampilan seperti hercules".
(Gambar 2.1) (Jorgensen, 2005; Savitha et al, 2006; Lossin dan George, 2008;
Gupta et al, 2009) Untuk mengevaluasi miotonia di samping tempat tidur, palu
refleks dapat digunakan pada otot yang prominent seperti eminensia tenar, sisi
lidah, atau paha (Gambar. 2.2), yang menunjukan dimpling (perkusi miotonia)
atau fasikulasi yang menetap selama beberapa detik. (Savitha et al, 2006; Lossin
dan George, 2008; Fenichel, 2009) Tidak adanya gambaran ini tidak juga
menyingkirkan miotonia, namun, karena variasi yang cukup besar dalam
gambaran fenotip (hari ke hari, antara individu, otot yang terlibat, dll). Bukti
obyektif untuk miotonia dapat ditunjukan pada elektromiografi jarum. Pada EMG
bila jarum diinsersi ke dalam otot akan terlihat pelepasan muatan yang repetitif
dengan frekuensi antara 20-80 spd. Didapatkan 2 jenis gelombang yaitu potensial
paku 10 uv l mv. Biopsi otot baik pada yang resesif maupun dominan tidak
ditemukan serat-serat otot tipe 2b. Kadar enzim creatine kinase berada dalam
batas normal. (Nara dan Lumantobing, 1999; Fenichel, 2009)
Umpan balik audio miotonia selama elektromiografi adalah jelas, menyerupai
suara yang dihasilkan oleh baling-baling pengebom selama Perang Dunia II dive

bomer. (gambar 2.3) Durasi repetitive discharge berkorelasi baik dengan


relaksasi otot yang tertunda dan mewakili ciri elektrofisiologi dari gangguan
tersebut. (Savitha et al, 2006; Lossin dan George, 2008; Fenichel, 2009)

Gambar 2.1. Hipertrofi otot paha dan betis; Hipertrofi dari oto biseps dan lengan
bawah (Gupta et al, 2009)

Gambar 2.2. Miotonia perkusi pada paha. (Lossin dan George, 2008)

10

Gambar 2.3. EMG sebelum pengobatan menunjukan discharge miotonia yang


khas (Savitha et al, 2006)
Miotonia kongenita bisa disertai dengan perubahan histologis pada otot.
Variasi abnormal pada diameter miosit, hipertrofi serat otot, tidak adanya serat
otot tipe IIb, lokasi pusat dari inti serat otot, dan agregat mitokondria telah
dilaporkan. Tak satu pun dari perubahan ini spesifik untuk miotonia kongenita dan
juga dapat diamati pada myotonias nondystrophic yang diwariskan. Namun,
subyek dengan miotonia dapat menjamin pemeriksaan histologi otot sebagai
bagian dari evaluasi untuk distrofi myotonic. (Lossin dan George, 2008)
Sebuah alat diagnostik yang muncul adalah pemeriksaan molekuler genetika.
Analisis genetik CLCN1 (Penyakit Thomsen dan RGM) sekarang tersedia secara
komersial. Dengan pemeriksaan ini, deteksi mutasi nonsense atau frameshift
sangat informatif, tetapi alel missens dapat bermasalah kecuali ditentukan
sebelumnya menunjukkan fungsi abnormal menggunakan tes in vitro atau ada
11

bukti cosegregation dari varian dengan fenotipe dalam keluarga yang terkena.
Pemeriksaan komersial saat ini menggunakan sekuensing DNA dari polymerase
chain reaction amplified exons dan flanking intron regiions dari CLCN1, tetapi
metode ini tidak akan mendeteksi delesi atau duplikasi gen segmental yang besar.
Oleh karena itu, hasil negative dari mutasi exonic tidak akan sepenuhnya
mengesampingkan gangguan tersebut. Pemeriksaan tambahan targeting gen
dikaitkan penyakit dengan miotonia sebagai bagian dari spektrum klinis seperti
SCN4A (paramiotonia kongenita, hyperkalemic periodik paralisis, dan sodiumaggravated miotonia) serta DMPK dan ZNF9 (Myotonic distrofi, tipe 1 dan 2)
mungkin diperlukan. (Lossin dan George, 2008)

2.3. Diagnosis Banding


Diagnosis banding miotonia termasuk gangguan myotonic herediter lainnya
seperti miotonia nondistrofi dan paralisis periodik, myotonic distrofi, proksimal
myotonic

myopathy

(PROMM), obat

yang

menginduksi

miotonia

dan

neuromiotonia. Dalam diagnosis banding dari sindrom myotonic, sangat penting


untuk membedakan dalam hubungannya dengan distrofi dari lebih jinak, bentuk
nondystrophic. Dalam kebanyakan kasus, perbedaan ini mudah dibuat secara
klinis. Distrofi myotonic, juga dikenal sebagai penyakit Steinert atau myotonia
atrophica, adalah gangguan multi sistem kehilangan progresif otot bulbar dan
distal dengan onset terlambat dengan lebih predominan dari miotonia derajat yang
relatif ringan. Pola pewarisan dominan dan penetrasi tinggi dengan perburukan
progresif pada generasi berikutnya berturut-turut (antisipasi genetik). Menariknya,

12

komponen myotonic berasal dari penyambungan menyimpang dari channel


klorida otot CLC-1 yang bermutasi pada miotonia kongenita. (Lossin dan George,
2008)
Sejumlah kecil obat dan toksin dapat memicu miotonia dengan mengurangi
konduktansi klorida pada sarkolema. Studi terbaik yang dipelajari adalah asam
karboksilat aromatik termasuk 9-anthracence carboxylic acid (9-AC), herbicide
2,4-Dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D), dan obat clofibrate penurun kolesterol
(2- (p-chlorophenoxy) propionic acid). Obat ini menghasilkan efek klinis melalui
mekanisme yang berbeda. Penurunan konduktansi klorida sarkolema oleh 2,4-D,
9-AC, dan beberapa senyawa asam karboksilat aromatik lainnya disebabkan oleh
perubahan ion selektif pada kanal klorida otot. Clofibrate, sebaliknya,
mempercepat deaktivasi kanal klorida dan menggeser voltage dependence dari
aktivasi kanal untuk potensi depolarisasi yang lebih mirip dengan banyak
miotonia yang menyebabkan mutasi CLCN1. Dua obat yang digunakan untuk
pengobatan hiperkolesterolemia, simvastatin dan pravastatin, baik HMGCoA
reduktase, dapat menginduksi miotonia pada kelinci dengan mengurangi
konduktansi klorida Sarkolema. (Lossin dan George, 2008)
Gambaran klinis tertentu dapat membantu membedakan penyakit Thomsen
dan RGM dari myotonias nondystrophic lainnya. miotonia paradoksikal dari
tangan, wajah, dan lidah yang diperburuk oleh pendinginan sangat mengesankan
paramiotonia kongenita, kelainan bawaan yang disebabkan oleh mutasi dari
saluran natrium gen SCN4A otot skeletal. Pendinginan juga dapat memperburuk
gejala pada miotonia yang dipicu kalium, sedangkan penyakit Thomsen dan RGM

13

umumnya tidak dipengaruhi oleh suhu. Usia saat onset cenderung di kemudian
hari untuk gangguan myotonic yang berkaitan dengan mutasi SCN4A. Miotonia
terkait dengan kelemahan episodik atau persisten juga mengesankan dari
gangguan lain (paralisis periodik dan miotonia yang diperburuk kalium).
Elektromiografi tidak mampu membedakan penyakit Thomsen dan RGM dari
gangguan myotonic lainnya. (Lossin dan George, 2008)

2.4. Pengobatan Miotonia Kongenita


Pengobatan myotonia ditujukan untuk stabilisasi kelistrikan membran otot.
(Savitha et al, 2006) Banyak individu dengan miotonia tidak memerlukan
intervensi farmakologis. Kebanyakan pasien lebih memilih untuk mengurangi
gejala mereka dengan menghindari situasi dan rangsangan yang memicu episode
miotonik. Ketika manuver ini tidak cukup, dapat digunakan obat-obatan yang
mengurangi rangsangan dari sarkolema. (Nara dan Lumantobing, 1999) (Lossin
dan George, 2008)
2.4.1. Terapi Farmakologi
Secara historis, quinidine dan kina digunakan sebagai obat anti miotonik.
Obat ini secara utama digunakan dalam pengobatan aritmia jantung dan malaria,
dan biasanya ditoleransi dengan baik pada penggunaan dosis rendah, jangka
pendek. Namun, pemberian lanjutan obat ini untuk menurunkan respon miotonik
tidak dianjurkan karena cinchonism, berupa reaksi toksik meliputi gangguan
visual dan pendengaran, vertigo, dan berbagai gejala gastrointestinal. Penggunaan
jangka panjang kina / quinidine adalah ototoksik dan juga dapat menyebabkan

14

manifestasi neurologis berat atau bahkan kematian. Hal ini membuat pilihan untuk
menggunakan senyawa ini hanya saat diperlukan saja, misalnya untuk
mengantisipasi kondisi di mana performa motorik sangat penting. Sayangnya,
efek anti miotonik dari quinidine dan kina semakin berkurang dengan penggunaan
berulang sehingga manfaat jangka panjang dalam mengobati miotonia terbatas.
(Lossin dan George, 2008)
Obat lain yang telah digunakan dalam mengobati miotonia dengan berbagai
tingkat keberhasilan termasuk prokain, mexiletine, carbamazepine, dan phenytoin.
Semua obat ini bekerja dengan use-dependent block dari voltage-gated sodium
channels. Mexiletine, mulai dari 200 mg tiga kali sehari, adalah obat pilihan,
namun percobaan terkontrol yang membandingkan berbagai obat belum
dilakukan. Ada juga beberapa temuan tentang manfaat dehydroepiandrosterone,
yang juga dapat menghambat arus natrium dan meminimalkan kehilangan
kekuatan. Seperti pada semua senyawa yang memodulasi arus natrium,
pertimbangan khusus harus diberikan kepada pasien tua atau pasien dengan
kelainan konduksi jantung. Dalam semua kasus, pemantauan neurologis dan
jantung harus dilakukan di tempat saat terapi dimulai dan pada interval rutin untuk
meminimalkan risiko dari efek obat yang tidak diinginkan. (Lossin dan George,
2008)
Pendekatan diarahkan untuk memperbaiki miotonia karena defek kanal
klorida yang secara farmakologi akan meningkatkan konduktansi klorida dari otot
skletal. Taurin dan R- (+) isomer asam clofibric menghasilkan peningkatan
terukur dalam konduktansi klorida dari otot skeletal saat istirahat. Efeknya

15

sederhana dan tidak cukup untuk mencegah miotonia, meskipun data sebelum
menunjukan perbaikan dengan beberapa senyawa ini. (Lossin dan George, 2008)
Pada sebuah laporan kasus didapatkan adanya respon terhadap carbamazepine
pada dosis 15 mg / kg / hari. Setelah satu bulan pengobatan, terdapat perbaikan
dari semua gejala. Setelah follow up tujuh bulan, didapatkan benar-benar bebas
dari semua gejala dan melanjutkan obat tanpa efek yang tidak diinginkan. Namun,
tidak ditemukan perbaikan yang signifikan pada EMG. (Savitha et al, 2006)
2.4.2. Pertimbangan terapi Lain
Terapi nonfarmakologi mungkin sangat bermanfaat dalam pengobatan
miotonia kongenita. Keadaan emosional individu yang terkena mungkin
mempengaruhi tipe fenotipe keparahan dengan stres dan ketidaknyamanan mental
yang berkontribusi pada perburukan miotonia. Teknik relaksasi mungkin
bermanfaat jika etiologi miotonia adalah psikologis. Manfaat relaksasi mental
dapat menjelaskan perbaikan dengan penggunaan alkohol pada beberapa subjek.
Latihan yang meningkatkan fleksibilitas juga mungkin memiliki manfaat,
khususnya menghindari keseleo otot, ketika gerakan dilakukan selama kondisi
miotonik. (Lossin dan George, 2008)
Anestesi harus diberikan dengan hati-hati pada penderita miotonia kongenita
karena adanya peningkatan risiko malignant hyperthermia-like syndrome. Obatobatan yang dapat memperburuk miotonia, seperti propofol dan gabapentin.
(Lossin dan George, 2008)
2.4.3. Terapi Gen

16

Dengan peningkatan pengetahuan tentang dasar molekul miotonia kongenita,


strategi pengobatan baru yang bertujuan untuk memperbaiki defek molekul yang
dibayangkan. Secara konseptual, pengobatan penyakit resesif seperti RGM
mungkin layak dengan memperkenalkan salinan fungsional dari gen normal ke
dalam jaringan yang terkena. Namun, pendekatan ini mungkin tidak sepenuhnya
efektif pada gangguan yang disebabkan oleh mekanisme dominan-negatif dan
strategi "gen repair" lainnya telah diusulkan. Sementara efikasi reaksi perbaikan
terbatas, studi menunjukkan terapi gen untuk miotonia mungkin layak. Tantangan
utama untuk suksesnya terapi gen miotonia kongenita tetap kesulitan besar secara
sistemik menargetkan otot skeletal dengan vektor pengiriman gen. (Lossin dan
George, 2008)

17

BAB III
SIMPULAN

Miotonia kongenita adalah channelopathy diakui pertama diwariskan


melibatkan saluran klorida CLC. Mengungkap dasar molekuler untuk penyakit ini
memiliki memberikan wawasan ke dalam fisiologi normal rangsangan sarkolema,
dan hubungan struktur-fungsi saluran CLC-1 klorida. Ditemukan adanya
kekakuan otot pada saat memulai gerakan. Kekakuan tersebut membaik dengan
beberapa pengulangan gerakan yang sama, sehingga menimbulkan apa yang
disebut fenomena warm-up. Kesulitan dalam berdiri dari posisi duduk, kadangkadang memulai berjalan setelah duduk, dan kesulitan dalam menaiki tangga.
Pada pemeriksaan didapatkan kesulitan bangun dari posisi duduk dan inisiasi
gerakan yang lambat, membaik sambil terus berjalan. Ditemukan adanya
hipertrofi otot betis, paha, otot gluteal dan bisep memberikan 'penampilan seperti
hercules". Arus tantangan yang ada dalam mempromosikan peningkatan
pengakuan

miotonia

kongenita

oleh

penyedia

layanan

kesehatan,

dan

memanfaatkan kesempatan terapi yang memiliki muncul sejak penjelasan dasar


genetik molekuler dari gangguan ini.

18

DAFTAR PUSTAKA

Fenichel, G. M. 2009. Clinical Pediatric Neurology: A Signs and Symptoms


Approach. Cramps, Muscle Stiffness, and Exercise Intolerance. Hal. 207-208.
Gupta, A., Batra, A.M., Rohatgi, A., Goyal, S. 2009. Myotonia Congenita
(Beckers Variant). JAPI, 57:707.
Jrgensen, E.C. 2005. Phenotypic Variability In Myotonia Congenita. Muscle
Nerve, 32:1934.
Lossin, C dan George, A.L. 2008. Myotonia Congenita. Advances in Genetics.
Elsevier Inc, 63:25-55.
Menkes, J.H dan Sarnat, R.H.B. 2000. Diseases of the Motor Unit. Child
Neurology. 6th ed. Lippincott, Williams & Wilkins. Hal 144-145.
Nara, P., Lumbantobing, S.M. 1999. Penyakit Unit Motor dan Sindrom
Neurokutan. Buku Ajar Neurologi Anak. Penyunting. Soetomenggolo T.S dan
lsmael, S. lkatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta. hal 289-292.
Savitha, M.R., Krishnamurthy, B., Hyderi, A., Ul-Haque, F dan Ramachandra,
N.B. 2006. Myotonia Congenita A Successful Response to Carbamazepine.
Indian Journal of Pediatrics,73:431-433.

19

20