Anda di halaman 1dari 30

Journal

Reading

Sampling Serangga atau


Kekurangan dalam Sampel ? Design
Eksperimental dan Kekuatan
Dugaan dalam Entomologi Forensik

Identitas Jurnal
Judul Jurnal
Sampling Flies or Sampling Flaws? Experimental Design and
Inference Strength in Forensic Entomology

Penulis
J.-P. MICHAUD,1,2 KENNETH G. SCHOENLY,3 AND G. MOREAU2

Penerbit
Entomological Society of America

Tahun terbit
2012

Pendahuluan
Entomologi forensic sering digunakan kepolisian untuk membantu
memperkirakan waktu interval kematian (PMI) atau periode aktivitas
serangga (PIA)
Waktu kematian dapat diperkirakan dengan cara melihat jumlah
kumpulan serangga dengan membandingkan waktu seranga dapat
berkembang biak dalam sebuah bangkai jenazah
Hal ini berbeda dengan indentifikasi forensic biasanya yang melihat
berdasarkan keunikan dari proses tubuh yang terlihat.
Entomologi forensic merupakan ilmu dugaan yang berdasarkan dari data
eksperimental yang didapatkan kemudian dianalisis dengan statistic
untuk mendapatkan kemungkinan terbaiknya

Pendahuluan (Contd)
Namun dalam hal identifikasi, bagian entomologi sangat mudah terpengaruh
dengan kondisi biotik dan abiotic.
Kondisi tersebut menyebabkan beberapa perubahan dalam pertumbuhan
serangga, sehingga dalam entomologi forensic tidak bias didukung dari data
deskriptif saja.
Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui dan memberi telaah kritis
dari rancangan eksperimental yang digunakan untuk membantu identifikasi
dalam entomologi forensic.
Kekurangan dalam rancangan penelitian memang tidak bisa dihindari,
namun kita harus menyadari bahwa terdapat kekurangan dalam rancangan
eksperimental tersebut, sehingga harus berhati hati dalam peneriapan klinis

Aturan untuk Proses Dugaan


Forensik
Entomologi forensic berfokus pada pendokumentasian dari
proses pembusukan dan melihat fauna spesifik yang terdapat di
area tersebut.
PMI diperkirakan dengan dugaan, dimana kemudian ditarik
kesimpulan dari seluruh data yang didapat dari satu jenazah,
kemudian diekstrapolasikan sesuai dengan waktu, tempat, dan
konteks kasus.
Variasi dari PMI dapat muncul dari factor biotik (spesies yang
berada disana, dan hewan beerveterbra) dan factor abiotic
(temperature harian, kelembaban tanah) dan factor sampling

Proses Dugaan Forensik


Saat penentuan dugaan forensic dibutuhkan
Replikasi yang adekuat
Kebebasan dari suatu unit eksperimental
Kondisi eksperimental yang dapat mewakili pada keseluruhan dari
varibilitas natural di lokasi kejadian

Replikasi Studi
Untuk mendapatkan studi replikasi, jumlah unit eksperimental
untuk setiap perlakuan minimal 2
Apabila tidak terdapat replikasi pada perlakuan, makan akan
menjadi sebuah replikasi semu sederhana
Jika terjadi replikasi sebelum sampel dapat terkumpul maka
terjadi Replikasi semu terkorban
Kegagalan eksperimental tidak dapat diperkirakan, sehingga
beda antara perlakuan tidak dapat dibandingkan

Kebebasan dari unit


eksperimental
Asumsi utama untuk statistic yaitu, tidak ada
autokorelasi/interdependensi yang terhitung antara unit sampel
Replikasi semu merupakan bentuk umum dari interdependensi
Namun kebebasan dari tiap unit eksperimental ini dapat
memiliki kelemahan ketika
Terdapat agregasi dari perlakuan
Terdapat efek acak
Apabila perlakuan berulang dari tiap unit eksperimental diketahui
sebagai replikasi nyata (replikasi semu sementara)

Kondisi Perlakuan yang dapat


Mewakili Variabilitas Alamiah
Untuk dapat menentukan studi yang dapat diekstrapolasikan ke
sebuah ekosistem, sebuah studi perlu dilakukan lebih dari 1
tempat untuk dapat mengukur efek potensial dari suatu tempat
tersebut
Dari perbedaan tempat tersebut kemudian dilihat efek yang
terjadi dan mungkin saling berinteraksi dan menghasilkan
sebuah variabilitas
Namun hal ini juga dapat mengurangi validitas eksternal dan
kekuatan dugaan, kecuali bila ditemukan beberap belatung
pada tempat yang sama dimana dilakukan perlakuan.

Metodologi dalam Ulasan


Literatur
Kami mengulas untuk rancangan penelitian dengan eksperimental dan
memiliki sisi manipulative untuk bagian entomologi forensic
Dicari terbitan setelah tahun 1984 hingga 2009
Tingginya tingkat replikasi semu dan kebingungan antara objek observasi
dan objek perlakuan tela dilaporkan pada beberapa penelitian termasuk
didalamnya
Ekologi
Perilaku hewan
Hewan laut tak bervertebra
Ekologi kimia
Entomologi ekonomis

Metodologi dalam Ulasan


Literatur (Contd)
Artikel dipilih bila menyertakan perbandingan pola suksesi serangga
dan pembusukan pada beberapa habitat, musim, dan scenario kasus
yang berbeda
Setelah evaluasi, setiap artikel dimasukan dalam lima kategori
Kateori analisis dan rancangan adekuat
Penelitian deskriptif
Replikasi semu terkorban
Analisis dan rancangan tidak adekuat
Replikasi semu sederhana

Kemudian dibagi menjadi 5 bagian tahun

Hasil dan Diskusi

Hasil
63 artikel didapatkan setelah masa tahun 1984
17% dari artikel memiliki analisis dan rancangan yang adekuat
78% dari artikel termasuk dalam replikasi semu terkorban atau
rancangan penelitian tidak adekuat
5% dari artikel tidak membuat suatu kesimpulan dugaan
Replikasi semu sederhana merupakan kesalahan yang sering
terjadi dengan 52%
Replikasi semu terkorban 19%
Analisis dan rancangan penelitian tidak adekuat sebanyak 6%

Hasil Penelitian

Kasus 1 : Habitat berbeda


Perbandingan pola suksesi dan proses dekomposisi dalam dua atau lebih
habitat yang berbeda dalam zona geografis umum dalam literatur entomologi
forensik.
Sebagai contoh, seseorang ingin membandingkan fauna dasar di hutan dan
ladang tanaman di suatu wilayah geografis, maka hal tersebut merupakan
suatu keharusan untuk menempatkan bangkai tunggal (sebagai umpan
perangkap) di masing-masing dua habitat dan untuk mencari perbedaan
spesies masing masing.
Sayangnya hal ini mudah sekali untuk menjadikan suatu eksperimental
menjadi sebuah kasus replikasi semu sederhana, karena setiap lokasi hanya
terdapat satu bangkai sebagai umpan yang diteliti, meskipun dilakukan
pengambilan data beberapa kali

Kasus 2: Peredaan Musim


Beberapa peneliti telah berusaha untuk menguji efek musiman
pada pola suksesi proses dekomposisi dan arthropoda
Sebagai contoh, seseorang ingin mendokumentasikan pola
suksesi untuk musim panas dan musim gugur di habitat
tertentu dari wilayah geografis, maka desain eksperimental
dapat diterapkan dengan menggunakan 4 kelompok sesuai
musim
Untuk mencegah terjadi replikasi semu, diperlukan dua sampel
setiap dari situs yang berbeda dari setiap musim

Kasus 3: Perbedaan Kasus


Kriminal
Karena penyebab dan cara kematian dapat mempengatuhi
proses postmortem, untuk mempelajari dekomposisi dan
suksesi digunakan berbagai skenario yang meniru kejadian di
TKP.
Contohnya adalah mati dengan digantung atau dengan
membakar, dan adanya pembatasan aksesibilitas serangga
melalui penyembunyian jenazah sebelumnya atau
penguburan.
Percobaan ini mudah sekali terkena replikasi semu sederhana,
sehingga diperlukan paling tidak 2 jenazah dari setiap kasus
untuk dapat menganalisis tanpa mendapatkan replikasi semu

Kasus 4: Kelompok data


serangga
Data suksesi dari bangkai dikumpulkan menjadi satu diagram atau meja
tanpa terlebih dahulu menguji spesies arthropoda untuk memastikan.
Dalam beberapa kasus, data pengumpulan dari beberapa bangkai
membawa hasil yang dapat diandalkan ketika diajukan sebagai data
perkiraan kematian.
Beberapa peneliti telah menemukan indeks (misalnya, taxonomi waktu
tinggal, spesies yang dikombinasikan pada kejadian berulang,
probabilitas individu atau gabungan terjadinya spesies dalam kaitannya
dengan akumulasi harian)
Diuji apakah pola atau sinkroni dari suksesi arthropoda bervariasi antara
bangkai tanpa replikasi semu.

Kasus 5: Pengamatan Kasus


berulang dari serangga
Studi suksesi di entomologi forensik biasanya melibatkan
pengambilan sampel berulang dari unit percobaan yang sama
(yaitu, bangkai babi) selama periode waktu.
Semua sampel harian berasal dari hewan yang sama, kekuatan
korelasi biasanya lebih tinggi pada pengukuran yang diambil
dalam waktu yang lebih dekat (misalnya, hari 1 vs 2)
dibandingkan yang diambil jauh terpisah (misalnya, hari 1 vs
10).

Kasus 6: Perkembangan masa


penelitian
Karena kebanyakan perkiraan PMI didasarkan pada usia
belatung yang ditemukan di TKP (bukan ukuran), studi
laboratorium di entomologi forensik memperhatikan dengan
mendokumentasikan kurva pertumbuhan dasar spesies,
kaitannya dengan suhu.
Efek media pemeliharaan, massa belatung, penyinaran, dan
obat-obatan terlarang dan racun (pada pengembangan
belatung) juga telah ditelit.

Kesimpulan
Kekuatan ilmiah dalam ilmu dugaan forensik seperti entomologi forensik
hanya dapat dicapai dengan cara desain eksperimen yang sesuai.
Kurangnya replikasi perlakuan tidak dapat diperbaiki oleh analisis statistik
apapun
Sulit untuk menggunakan desain eksperimental standar, karena
mereplikasi mayat manusia dalam percobaan forensik adalah mustahil.
Karena variabilitas dalam kondisi mayat (misalnya, usia, berat badan, jenis
kelamin, tanggal akuisisi, negara postmortem), peneliti tidak dapat
menerima replikasi mayat yang memenuhi kriteria desain mereka
(misalnya, kematian dalam waktu 48 jam dari akuisisi, utuh, belum
diotopsi, dan belum dibalsem)

Kesimpulan (Contd)
analisis statistik yang melibatkan satu atau lebih dari metode ini bisa
menjadi informatif atau dapat digunakan untuk menguatkan teori
tertentu
tidak ada pengganti untuk replikasi eksperimen seperti yang sangat
penting untuk dapat diekstrapolasi
Seperti artikel kami hanya mewakili pemeriksaan kritis kedua metode dan
praktik entomologi forensik, dan yang kedua untuk memberikan pedoman
dan standar
artikel ini merupakan langkah awal untuk memenuhi rekomendasi yang
diajukan oleh Panel Anggota dari American Academy of Sciences Forensik

Critical Appraisal

Sampling Flies or Sampling


Flaws? Experimental Design
and Inference Strength in
Forensic Entomology
Judul sesuai ketentuan < 20 kata (13 kata),
tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek,
tidak ada kalimat yang disingkat, dan mewakili
isi penelitian

CRITICAL
APPRAISAL

Abstrak < 250 kata (200 kata) dan


sudah menggambarkan isi jurnal.
Terdiri dari 1 paragraf
Mencantumkan kata kunci.
Critical Appraisal
cont. . .

P
I
C
O

POPULATION
Jenazah Forensik

INTERVENTION
Penentuan waktu kematian dari sampel
serangga

COMPARATION
OUTCOME
Tingkat kegunaan suatu penelitian dilihat
dari pemilihan sampel serangga

Bukti

Pertanyaan
ValidApakah alokasi pasien
pada penelitian ini
dilakukan secara acak?
Apakah pengamatan
pasien dilakukan secara
cukup panjang dan
lengkap?
Apakah semua pasien
dalam kelompok yang
diacak, dianalisis?
Apakah pasien dan
dokter tetap blind
dalam melakukan
terapi, selain dari terapi

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Dapat Diterapkan
Apakah pada pasien kita
terdapat perbedaan bila
dibandingkan dengan yang
terdapat pada penelitian
sblmnya?

Tidak

Apakah terapi tersebut


mungin dapat diterapkan
pada pasien kita?
Apakah pasien memiliki
potensi yang
menguntungan atau
merugikan bila terapi tsb
diterapkan?

Ya

Menguntungkan

Kesimpulan
Jurnal dapat diterapkan di Indonesia untuk penentuan
waktu kematian dengan menggunakan ilmu
entomologi .
Diperlukan ahli entomologi forensic di Indonesia
untuk dapat menggunakan kemanfaatan dari jurnal
tersebut