Anda di halaman 1dari 26

38

BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian


5.1.1. Puskesmas Jeumpa
Puskesmas Jeumpa mempunyai luas wilayah kerja 69.420 km2. Adapun
batas-batas wilayah kerja Puskesmas Jeumpa sebagai berikut:
5.1.1.1 Sebelah Utara berbatas dengan Selat Malaka
5.1.1.2 Sebelah Barat berbatas dengan Kecamatan Peudada
5.1.1.3 Sebelah Selatan berbatas dengan Kecamatan Juli
5.1.1.4 Sebelah Timur berbatas dengan Kecamatan Kota Juang
Tahun 2010 jumlah penduduk di wilayah kerja puskesmas Jeumpa
sebanyak 32.593 jiwa. Dimana jumlah penduduk laki-laki 15.978 jiwa dan jumlah
penduduk perempuan 16.615 jiwa. Penduduk 80% bekerja sebagai petani, 20%
bekerja sebagai wiraswasta dan Pegawai Negeri Sipil. Jumlah desa di wilayah
kerja Puskesmas Jeumpa 42 desa yang terdiri dari 5 desa sangat terpencil, 10 desa
terpencil dan 27 desa tidak terpencil. (Profil Puskesmas Jeumpa Tahun 2010).
5.1.2. Puskesmas Juli Dua
Puskesmas Juli Dua mempunyai luas wilayah kerja 115 km 2. Adapun batasbatas wilayah kerja Puskesmas Juli Dua sebagai berikut:
5.1.2.1 Sebelah Utara berbatas dengan Kecamatan Kota Juang
5.1.2.2 Sebelah Barat berbatas dengan Kecamatan Jeumpa
5.1.2.3 Sebelah Selatan berbatas dengan Desa Pante Baro
5.1.2.4 Sebelah Timur berbatas dengan Kecamatan Peusangan

39

Tahun 2010 jumlah penduduk di wilayah kerja puskesmas Juli Dua


sebanyak 17.443 jiwa. Dimana jumlah penduduk laki-laki 8.373 jiwa dan jumlah
penduduk perempuan 9.070 jiwa. Penduduk 93% bekerja sebagai petani, 7%
bekerja sebagai wiraswasta dan Pegawai Negeri Sipil. Jumlah desa di wilayah
kerja Puskesmas Juli Dua 19 desa yang terdiri dari 1 desa desa terpencil dan 18
desa tidak terpencil. (Profil Puskesmas Juli Dua Tahun 2010)
5.1.3 Gambaran Umum Responden
Responden dalam penelitian ini adalah Pengelola Program Gizi, Kepala
Puskesmas dan Koordinator KIA pada masing-masing Puskesmas yang telah
bekerja lebih dari 1 tahun.
5.1.4 Fasilitas Kesehatan
Gambaran fasilitas pelayanan kesehatan di Puskesmas Jeumpa dan
Puskesmas Juli Dua yang berupa puskesmas induk, puskesmas pembantu,
polindes/poskesdes dan posyandu dapat dilihat pada tabel 5.1 berikut :
Tabel 5.1
Situasi Sarana Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Jeumpa dan
Puskesmas Juli Dua Kabupaten Bireuen Tahun 2011
Puskesmas
Puskesmas
Jumlah
Jeumpa
Juli Dua
(Unit)
1.
Puskesmas Induk
1
1
2
2.
Puskesmas Pembantu
2
2
3.
Polindes/Poskesdes
15
7
22
4.
Posyandu
42
20
62
Sumber : Profil Puskesmas Jeumpa dan Puskesmas Juli Dua, Tahun 2010
No

Fasilitas

Sesuai data profil kesehatan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen tahun
2010, rasio tenaga kesehatan yang terdiri dari tenaga medis, perawat, bidan,

40

apoteker/farmasi, ahli sanitasi, ahli gizi dan sarjana kesehatan masyarakat di


Puskesmas Jeumpa dan Puseksmas Juli Dua dapat dilihat berikut ini :
Tabel 5.2
Ketenagaan di Puskesmas Jeumpa dan Puskesmas Juli Dua
Kabupaten Bireuen Tahun 2011
Puskesmas
Puskesmas
Jeumpa
Juli Dua
1.
Dokter Umum
4
3
2.
Dokter Gigi
1
3.
Perawat
17
17
4.
Bidan
43
19
5.
Apoteker/Farmasi
2
2
6.
Ahli Sanitasi
2
4
7.
Ahli Gizi
1
8.
Sarjana Kesehatan Masyarakat
4
3
Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen, Tahun 2010
No

Ketenagaan

Jumlah
(Unit)
7
1
34
62
4
6
1
7

Rasio tenaga kesehatan di Puskesmas Juli Dua menunjukkan jumlah yang


lebih sedikit dibandingkan dengan Puskesmas Jeumpa.
5.2 Hasil Penelitian
Setelah dilakukan analisis, di dalam pelaksanaan Manajemen Program Gizi
di Puskesmas Jeumpa dan Puskesmas Juli Dua Kabupaten Bireuen didapatkan
hasil sebagai berikut pada komponen input, proses dan out put.
5.2.1 Komponen Input
Uraian komponen input analisis manajemen program gizi di Puskesmas
Jeumpa dan Puskesmas Juli Dua terdiri dari ketenagaan, petunjuk teknis program
gizi, ketersediaan data yang valid, sarana dan alokasi dana.

41

Tabel 5.3
Penilaian Komponen Input Program Gizi di Puskesmas Jeumpa
dan Puskesmas Juli Dua Kabupaten Bireuen
Tahun 2011
N
o
I.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Uraian Komponen Input


Tingkat Pelaksana / Penanggung jawab Program
Gizi
Setiap desa jumlah kader Posyandunya lebih dari 3
orang
Semua kader aktif dalam wilayah kerja Puskesmas
Pernah mengikuti pelatihan/bimbingan tekhnis
perencanaan program gizi
Pernah mengikuti pelatihan/bimbingan tekhnis SPM
gizi
Pernah mengikuti pelatihan/bimbingan tekhnis
evaluasi program gizi
Petunjuk tekhnis untuk pedoman UPGK
Petunjuk tekhnis untuk pedoman pemberian kapsul
vit. A
Petunjuk tekhnis untuk pedoman pemberian tablet
besi folat
Petunjuk tekhnis untuk pedoman pengelolaan MPASI untuk bayi 6 11 bulan
Petunjuk tekhnis tata laksana gizi buruk
Petunjuk tekhnis percepatan penggunaan ASI (PPASI)
Petunjuk tekhnis pedoman pemantauan garam
beryodium di masyarakat
Pernah dilakukan survei gizi dua tahun terakhir
Survei/evaluasi gizi dilakukan oleh Internal
Puskesmas
Pengelola program gizi dan Posyandu memiliki
kendaraan dinas
Semua Posyandu memiliki dacin
Stok Kapsul vitamin A merah dan biru di Puskesmas
Stok tablet besi-folat di Puskesmas
Dana yang dialokasikan cukup untuk program gizi
dan Posyandu sesuai dengan SPM
Tingkat koordinator KIA
Petugas pengelola program gizi berjumlah 2 orang
Petunjuk Teknis pedoman penyelenggaraan sistem
surveilens epidemiologi kesehatan
Alokasi dana untuk kegiatan gizi dan posyandu

Puskesmas
Jeumpa
Nilai
%

Puskesmas
Juli Dua
Nilai %

3,3

3,3

3,3

3,3

3,3

3,3

0
1
1

0
3,3
3,3

0
1
1

0
3,3
3,3

3,3

1
1
1

3,3
3,3
3,3

0
0
0

0
0
0

3,3

3,3

3,3

3,3

3,3

1
1
1
1

3,3
3,3
3,3
3,3

0
1
1
1

0
3,3
3,3
3,3

3,3

3,3

1
1

3,3
3,3

0
1

0
3,3

42

N
o
III
23
24
25
26
27
28
29
30

Uraian Komponen Output


Tingkat Kepala Puskesmas
Petugas Penanggung Jawab Pengelola Gizi dan
posyandu berlatar belakang pendidikan gizi
Pernah mengikuti pelatihan/bimbingan teknis
perencanaan program-program kesehatan
Pernah mengikuti pelatihan/bimbingan teknis SPM
program kesehatan
Pernah mengikuti pelatihan/bimbingan teknis
evaluasi program-program kesehatan
Pernah mengikuti pelatihan/bimbingan teknis diklat
kepemimpinan
Pernah mengikuti pelatihan/bimbingan teknis
perencanaan anggaran program-program kesehatan
Pernah mengikuti pelatihan/bimbingan teknis
advokasi program-program kesehatan
Pernah mengikuti pelatihan/bimbingan teknis
perencanaan program-program kesehatan
Jumlah

Puskesmas
Jeumpa
Nilai
%

Puskesmas
Juli Dua
Nilai %

3,3

3,3

3,3

3,3

3,3

3,3

3,3

3,3

3,3

3,3

28

92,4

13

42,9

Sumber : Data diolah, Tahun 2011


Dari tabel 5.3 diatas dapat dilihat bahwa Puskesmas Jeumpa komponen
input program gizinya sudah baik yaitu dengan jumlah nilai 28 atau 92,4%,
sedangkan Puskesmas Juli Dua Kabupaten Bireuen komponen input program
gizinya tidak baik yaitu dengan jumlah nilai 13 atau 42,9%.
5.2.2

Komponen Proses
Uraian komponen proses analisis manajemen program gizi di Puskesmas

Jeumpa dan Puskesmas Juli Dua yang terdiri dari perencanaan, koordinasi,
advoksi, dan evaluasi.

43

Tabel 5.4
Penilaian Komponen Proses Program Gizi di Puskesmas Jeumpa
dan Puskesmas Juli Dua Kabupaten Bireuen
Tahun 2011

N
o

Uraian Komponen Proses

I
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Tingkat Pelaksanaan/Penanggung Jawab Program Gizi


Rencana kegiatan penatalaksanaan gizi buruk
Rencana kegiatan distribusi vitamin A
Rencana kegiatan PMT
Rencana kegiatan PMT Bumil KEK
Kegiatan pengukuran TB-ABS
Kegiatan pembinaan Posyandu
Kegiatan PSG
Kegiatan pelatihan Kader
Kegiatan penyuluhan gizi
Kegiatan penanggulangan GAKY

II
12
13
III
14
15

Tingkat Koordinator KIA


POA gizi tahunan
Supervisi pencapaian program
Tingkat Kepala Puskesmas
Koordinasi program gizi dengan lintas sektor terkait
Koordinasi dengan lintas sektor tentang kegiatan
sosialisasi dan pelaksanaan Posyandu
Koordinasi dengan lintas sektor tentang Sistem
Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG)
Koordinasi dengan lintas sektor tentang kegiatan
pemberdayaan wanita
Pemberitaan di media massa tentang masalah gizi di
Puskesmas
Seminar/presentasi masalah gizi yang dihadiri oleh
pengambil kebijakan (Camat, Mukim dan Kepala Desa)
Lobi-lobi pada tingkat pengambil kebijakan (Camat,
Mukim dan Kepala Desa) menanggulangi masalah gizi
Pernah mengundang para pengambil kebijakan dalam
kegiatan program gizi
Pernah dilakukan evaluasi perencanaan program gizi di
Puskesmas (program berjalan sesuai rencana)
Pernah dilakukan implementasi program gizi di Puskesmas
(cakupan program gizi)
Pernah dilakukan evaluasi dampak program gizi terhadap
pembangunan (angka kematian Bayi/Balita, angka
kematian Ibu)
JUMLAH

16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Rencana program gizi jangka menengah dan jangka


panjang

Puskesmas
Jeumpa
Nilai %

Puskesmas
Juli Dua
Nilai %

1
1
0
1
0
1
1
1
1
1
1

4,1
4,1
0
4,1
0
4,1
4,1
4,1
4,1
4,1
4,1

0
1
0
1
0
1
0
1
1
0
0

0
4,1
0
4,1
0
4,1
0
4,1
4,1
0
0

1
1

4,1
4,1

1
1

4,1
4,1

1
1

4,1
4,1

0
1

0
4,1

1
1
1

4,1
4,1
4,1

0
0
0

0
0
0

4,1

4,1

4,1

4,1

4,1

4,1

4,1

4,1

4,1

21

86,1

10

41

44

Dari tabel 5.4 diatas dapat dilihat bahwa Puskesmas Jeumpa komponen
proses program gizinya sudah baik yaitu dengan jumlah nilai 21 atau 86,1%,
sedangkan Puskesmas Juli Dua Kabupaten Bireuen komponen proses program
gizinya tidak baik yaitu dengan jumlah nilai 10 atau 41%.
5.2.3

Kompnen Output
Uraian komponen output analisis manajemen program gizi di Puskesmas

Jeumpa dan Puskesmas Juli Dua yang terdiri balita yang naik berat badannya,
jumlah balita BGM, balita yang dapat vitamin A 2 kali pertahun, bumil yang dapat
90 tablet Fe, cakupan MP-ASI pada bayi BGM dari gakin, cakupan desa yang
beriodium baik dan desa/kelurahan yang mengalami KLB yang ditangani (24
jam).
Tabel 5.5
Penilaian Komponen Output Program Gizi di Puskesmas Jeumpa
dan Puskesmas Juli Dua Kabupaten Bireuen
Tahun 2011
N
o
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Uraian Komponen Output


Balita yang naik (N) berat badannya (N/D) sudah
mencapai target 80%
Target Balita Bawah Garis Merah (BGM) sudah
dibawah 5%
Target balita dapat kapsul vitamin A 2 kali pertahun
sudah 90%
Target Ibu hamil mendapat 90 tablet fe sudah 90%
Target MP-ASI pada bayi BGM dari keluarga
miskin sudah 100%
Target balita gizi buruk mendapat perawatan sudah
100%
Target Bayi mendapat ASI Eksklusif sudah 80%
Target desa dengan garam beryodium sudah 90%
Target desa dengan KLB Gizi Buruk telah ditangani
kurang dari 24 jam
Jumlah

Sumber ; Data diolah, Tahun 2011

Puskesmas
Jeumpa
Nilai
%

Puskesmas
Juli Dua
Nilai %

11,1

11,1

11,1

11,1

1
0

11,1
0

0
0

0
0

11,1

11,1

0
0
1

0
0
11,1

0
0
0

0
0
0

55,5

33,3

45

Dari tabel 5.5 diatas dapat dilihat bahwa Puskesmas Jeumpa komponen
output program gizinya sudah baik yaitu dengan jumlah nilai 5 atau 55,5%,
sedangkan Puskesmas Juli Dua Kabupaten Bireuen komponen output program
gizinya tidak baik yaitu dengan jumlah nilai 3 atau 33,3%.
5.3

Pembahasan

5.3.1. Penilaian komponen input program gizi


Komponen input yang dinilai dalam Analisis Manajemen Program Gizi di
Puskesmas Jeumpa dan Puskesmas Juli Dua meliputi: Ketenagaan, Petunjuk
Tekhnis, Kualitas Data Yang tersedia, Sarana dan Alokasi Dana.
5.3.1.1. Ketenagaan
Di Puskesmas Jeumpa tenaga pengelola gizi berjumlah dua orang, satu
orang penanggung jawab gizi dengan latar belakang pendidikan D-III Gizi dan
satu orang staf gizi dengan latar belakang pendidikan D-III Keperawatan.
Sedangkan di Puskesmas Juli Dua tenaga pengelola gizi berjumlah dua
orang, satu orang penanggung jawab gizi dengan latar belakang pendidikan D-III
Keperawatan dan satu orang staf gizi dengan latar belakang pendidikan S-I
Kesehatan Masyarakat.
Kebutuhan jumlah petugas yang bekerja di bidang gizi di suatu wilayah
engan pendidikan D-I sampai D-IV Gizi mengacu indikator Indonesia Sehat 2010
adalah 22 orang per 100.000 jiwa penduduk. (Depkes RI, 2003)
Belum adanya tenaga pengelola gizi di Puskesmas Juli Dua, juga turut
menentukan keberhasilan pelaksanaan program gizi di Puskesmas Juli Dua.
Indikator penilaian selanjutnya adalah jumlah kader Posyandu di setiap desa. Di

46

Puskesmas Jeumpa dan Puskesmas Juli Dua jumlah kader Posyandunya di setiap
desa telah lebih dari tiga orang yang artinya sudah baik.
Kader Posyandu merupakan relawan kesehatan yang membantu petugas
dalam melaksanakan upaya perbaikan gizi dan perannya mempengaruhi kinerja
program gizi yang berbasis masyarakat. Kader merupakan orang-orang yang
tinggal di masyarakat dan merupakan ujung tombak kegiatan gizi di masyarakat.
Kader merupakan orang-orang yang tinggal di masyarakat, yang terdekat di
masyarakat dan mempunyai waktu yang lebih banyak untuk melayani masyarakat.
Sehingga keberadan relawan kesehatan /kader Posyandu cukup berperan dalam
upaya perbaikan gizi masarakat. (Suharto.1, 2005)
Jenis pelatihan bidang manajemen yang pernah di ikuti oleh pengelola
program gizi di Puskesmas Jeumpa adalah pelatihan perencanaan program gizi
dan Standar Pelayanan Minimal program gizi, sedangkan di Puskesmas Juli Dua
pengelola program gizi belum pernah mengikuti pelatihan.
Pelatihan dan bimbingan tekhnis penting diikuti oleh pengelola program
gizi di Puskesmas dalam rangka peningkatan mutu pelayanan kesehatan di era
otonomi daerah agar sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
(RJPM) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). Bidang gizi dan
kesehatan (Muninjaya, 2004)
5.3.1.2 Petunjuk tekhnis program gizi
Hasil penilaian terhadap petunjuk tekhnis program gizi di Puskesmas
Jeumpa mempunyai semua petunjuk tekhnis yang diperlukan untuk dapat
melaksanakan program gizi, sedangkan di Puskesmas Juli Dua hanya mempunyai

47

dua petunjuk teknis yaitu petunjuk teknis untuk pedoman UPGK dan pemberian
kapsul Vitamin A, sedangkan petunjuk teknis pemberian tablet besi, pengelolaan
MP-ASI, tatalaksana gizi buruk, PP-ASI dan pemantauan garam beryodium tidak
adda di Puskesmas Juli Dua. Petunjuk teknis sangat diperlukan untuk dapat
melaksanakan program gizi.
Petunjuk tekhnis merupakan tool kerja sehingga semua petugas dapat
melaksanakan fungsinya secara standar. Kegunaan lain dari petunjuk tekhnis
adalah untuk tool dalam melakukan evaluasi. Serta dalam rangka meningkatkan
menajemen mutu pelayanan kesehatan. (Muninjaya, 2004)
5.3.1.3. Ketersediaan data yang valid
Hasil penilaian ketersediaan data yang valid, bahwa Puskesmas Jeumpa
dan Puskesmas Juli Dua sudah baik karena sudah melakukan survei gizi pada dua
tahun terakhir, yang dilakukan oleh internal masing-masing Puskesmas. Untuk
menyusun perencanaan program gizi, analisis situasi diperlukan data yang valid
untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah gizi yang potensial berkembang di
masyarakat. Data program gizi dapat diperoleh dari hasil pengawasan rutin dan
laporan dari massyarakat. Data tersebut diolah dengan pendekatan epidemiologi
dan informasinya disajikan dengan menggunakan statistik. Dengan memproses
data program gizi yang menggunakan pendekatan epidemiologi dapat diketahui di
wilayah mana saja masalah gizi tersebut berkembang, kapan terjadinya, siapa saja
kelompok penduduk di wilayah tersebut yang menderita masalah gizi. Di
Puskesmas Jeumpa dan Puskesmas Juli Dua data gizi sudah ada dari laporan
bulanan bidan di desa yang ada di wilayah kerja masing-masing puskesmas.

48

Proses pengumpulan data program gizi di puskesmas dilakukan dengan


cara langsung maupun tidak langsung seperti mendengarkan keluhan
masyarakat, membahas dengan tokoh-tokoh masyarakat, membahas masalah
gizi dengan bides, guru, staf pertanian di wilayah kerja puskesmas, mempelajari
peta wilayah dan membaca laporan kegiatan program kesehatan yang ada di
kantor-kantor kepala desa.
Pada umumnya data cakupan pelayanan kesehatan yang dilaporkan oleh
Pemerintah lebih tinggi dari data sebenarnya untuk menutupi kekurangan
tersebut data sebaiknya di komplikasikan dengan hasil survei yang dilakukan
oleh pihak ketiga. (Tilder. R, 2009)
5.3.1.4 Sarana
Hasil penilaian terhadap sarana, bahwa Puskesmas Jeumpa lebih baik
karena pengelola program gizi Puskesmas mempunyai kendaraan operasional,
semua Posyandu mempunyai dacin, serta adanya stok vitamin A merah dan biru.
Sedangkan di Puskesmas Juli Dua pengelola program gizi Puskesmas tidak
mempunyai kendaraan operasional, semua Posyandu mempunyai dacin, serta
tersedianya stok vitamin A merah dan biru di Puskesmas. Pengadaan sarana dan
peralatan dilakukan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan masalah gizi yang
timbul di masyarakat yang didasarkan pada analisis epidemiologi.
Sarana merupakan salah satu komponen penting dalam pelaksanaan
program gizi, tanpa tersedianya sarana yang dibutuhkan semua proses yang
telah direncanakan menjadi sangat sulit untuk dicapai, kendaraan operasional
dibutuhkan untuk operasional petugas gizi yang lebih banyak bekerja di

49

lapangan dalam mengumpulkan data-data tentang masalah gizi. (Muninjaya,


2004)
5.3.1.5. Alokasi Dana
Hasil penilaian terhadap alokasi dana, bahwa Puskesmas Jeumpa tidak
ada nilai, sama dengan Puskesmas Juli Dua, karena dana yang tersedia belum
mencukupi untuk melaksanakan seluruh kegiatan program gizi sebagaimana
yang diatur dalam Standar Pelayanan Minimal gizi. Puskesmas hanya memiliki
dana untuk operasional program gizi dari dana Jamkesmas dan BOK (Bantuan
Operasional Kesehatan). Kedua dana ini juga dikendalikan oleh panitia
Jamkesmas dan panitia dana BOK di Dinas Kesehatan. Dana BOK di
Puskesmas Jeumpa dan Puskesmas Juli Dua dipergunakan oleh petugass gizi
sebagai pengganti transport sebesar Rp. 15.000,- (Lima belas ribu rupiah) untuk
satu desa sekali kunjungan, sedangkan untuk mengembangkan programprogram gizi lain dananya tidak mencukupi karena harus dibagi programprogram lain di puskesmas.
Menurut

Muninjaya

(2004),

dana

yang

digunakan

untuk

mengembangkan kegiatan program di puskesmas terdiri dari dana rutin (gaji


pegawai) dan dana operasional untuk masing-masing program. Dana
operasional diarahkan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan program oleh
masing-masing staf pelaksana program. Alokasinya digunakan untuk biaya
kunjungan pembinaan kelapangan, pemeliharaan sarana dan pembelian alat
penunjang kegiatan rutin program dan sebagainya. Sejak otonomi daerah
ditetapkan berdasarkan UU No. 22 dan 25 tahun 1999. Sumber dana untuk

50

program puskesmas sebagian besar dari APBD Kabupaten/kota yang disalurkan


melalui dinas kesehatan kabupaten/kota. Hanya sebagian kecil saja dana yang
bersumber dari APBN.
5.3.2 Penilaian Komponen Proses Program Gizi
Komponen proses yang dinilai dalam analisis manajemen program gizi
di Puskesmas Jeumpa dan di Puskesmas Juli Dua, meliputi perencanaan,
koordinasi, advokasi, serta monitoring dan evaluasi.
5.3.2.1 Perencanaan
Hasil penilaian terhadap perencanaan, bahwa Puskesmas Jeumpa sudah
mempunyai rencana kegiatan penatalaksanaan gizi buruk, distribusi vitamin A,
PMT Bumil KEK, pembinaan Posyandu, kegiatan PSG, pelatihan kader,
penyuluhan gizi, penaggulangan GAKY, Rencana Program Gizi Jangka
Menengah dan Jangka Panjang, serta telah ada POA gizi tahunan. Kegiatan
perencanaan yang belum ada di Puskesmas Jeumpa yaitu, PMT Balita,
Pengukuran TB-ABS.
Sedangkan di Puskesmas Juli Dua hanya mempunyai rencana kegiatan,
distribusi vitamin A, PMT Bumil KEK, pembinaan Posyandu, pelatihan kader,
penyuluhan gizi, dan telah ada POA gizi tahunan. Kegiatan perencanaan yang
belum ada di Puskesmas Juli Dua yaitu penatalaksanaan gizi buruk, PMT Balita,
Pengukuran TB-ABS, PSG, Penanggulangan GAKY, rencana Program Gizi
Jangka Menengah dan Jangka Panjang, kurangnya perencanaan di Puskesmas
Juli Dua dipengaruhi oleh aspek geografis wilayah yang berkarakteristik
pegunungan sehingga dokumentasi program gizi sulit dilaksanakan.

51

Nilai yang didapat Puskesmas Jeumpa dari perencanaan sudah baik,


sedangkan Puskesmas Juli Dua nilai yang didapat tidak baik, karena masih
banyak kegiatan yang belum direncakanan.
Menurut Muninjaya (2004), perencanaan di puskesmas merupakan
fungsi yang terpenting yang harus dilakukan baik oleh Puskesmas Jeumpa
maupun Puskesmas Juli Dua karena merupakan awal dan arah dari proses
manajemen program gizi secara keseluruhan. Perencanaan dimulai dengan
sebuah ide atau perhatian yang khusus ditujukan untuk masalah gizi tertentu.
Perencanaan program gizi di puskesmas yaitu :
1.

Menjelaskan berbagai masalah


Untuk dapat menjelaskan masalah program gizi diperlukan upaya

analisis situasi. Sasaran analisis situasioleh berbagai aspek penting pelaksanaaan


program gizi di wilayah puskesmas. Aspek yang dinilai meliputi aspek
epidemiologis yang berhubungan dengan data gizi, aspek demografis yang
berhubungan dengan distribusi penduduk. Aspek geografis yang berhubungan
dengan karakteristik wilayah yang dapat mempengaruhi terjadinya masalah gizi
seperti keadaan alam, aspek sosial ekonomi yang mempengaruhi tidak langsung
timbulnya masalah gizi, seperti tingkat pendapatan dan aspek organisasi
program meliuti motivasi kerja staf. keterampilan, koordinasi dan sarana
lainnya.

52

2.

Menentukan prioritas masalah


Penetapan prioritas masalah adalah sebuah keharusan karena begitu

kompleksnya masalah dan terbatasnya sumber daya yang tersedia, semua


masalah yang telah di identifikasi kemudian ditentukan prioritasnya. Prioritas
masalah dijadikan dasar untuk menentukan tujuan perencanaan program.
3.

Menetapkan tujuan dan indikator keberhasilannya


Apabila prioritas program gizi dan wilayah binaan sudah ditetapkan,

langkah selanjutnya adalah menetapkan tujuan dan target program gizi


berdasarkan jumlah penduduk sasaran di wilayah kerja puskesmas.
4.

Mengkaji hambatan dan kendala


Sebelum menetapkan tolak ukur, perlu dipelajari dahulu hambatan-

hambatan program gizi yang pernah dialami atau yang diperkirakan dapat
terjadi, baik yang bersumber dari masyarakat, lingkungan, puskesmas maupun
sektor-sektor lainnya ditingkat kecamatan.
5.

Menyusun rencana kerja operasional


Dengan rencana kerja operasional (RKO) akan memudahkan pimpinan

mengetahui sumber daya yang dibutuhkan dan sebagai alat untuk pemantauan
program secara menyeluruh.
5.3.2.2. Koordinasi
Hasil penilaian terhadap koordinasi bahwa di Puskesmas Jeumpa, telah
adanya koordinasi dengan lintas program (KIA) karena ada dilakukannya
supervisi terhadap pencapaian program dan telah adanya koordinasi program gizi
dengan lintas sektor terkait seperti Ibu PKK, Dinas Pendidikan, Kantor Camat,

53

begitu juga dengan sosialisasi Posyandu, koordinasi dengan lintas sektor tentang
SKPG.
Sedangkan Puskesmas Juli Dua, koordinasi hanya dilakukan dengan
lintas sektor yang berkaitan dengan kegiatan sosialisasi dan pelaksanaan
Posyandu.
Nilai yang didapat Puskesmas Jeumpa pada penilaian koordinasi sudah
baik, sedangkan Puskesmas Juli Dua pada penilaian koordinasi nilainya tidak
baik, karena masih kurangnya koordinasi yang dilakukan dengan lintas sektor
yang lainnya untuk penccapaian program gizi di Puskesmas Juli Dua.
Keberhasilan pelaksanaan program gizi ini sangat dipengaruhi oleh
keberhasilan pimpinan puskesmas menimbulkan motivasi kerja staf dan semangat
kerja sama antara staf dengan staf lainnya di puskesmas (lintas program), antara
staf puskesmas dengan masyarakat dan antara staf puskesmas dengan pimpinan
instansi di tingkat

kecamatan (lintas sektor). Mekanisme komunikasi yang

dikembangkan oleh pimpinan puskesmas dengan stafnya, dengan camat dan


pimpinan sektor lainnya di tingkat kecamatan dan desa akan sanggat berpengaruh
pada keberhasilan program gizi. (Muninjaya, 2004).
5.3.2.3 Advokasi
Hasil penilaian terhadap advokasi bahwa di Puskesmas Jeumpa, pernah
dilakukan pemberitaan di media massa tentang masalah gizi di Puskesmas, pernah
diadakan seminar/presentasi gizi yang dihadiri Camat, Mukim, Kepala Desa,
pernah

dilakukan

lobi-lobi

pada

tingkat

pengambil

kebijakan

untuk

54

menanggulangi masalah gizi, serta pernah mengundang para pengambil kebijakan


dalam kegiatan program gizi.
Sedangkan di Puskesmas Juli Dua, kegiatan advokasi belum pernah
dilakukan sama sekali.
Nilai yang didapat Puskesmas Jeumpa pada kegiatan advokasi sudah
baik, sedangkan Puskesmas Juli Dua nilai yang didapatkan tidak baik karena
belum pernah melakukan kegiatan advokasi. Hal ini dipengaruhi oleh pimpinan
Puskesmas Juli Dua yang berlatar belakang pendidikan D-III Keperawatan.
Keberhasilan program harus diawali dengan melakukan advokasi kepada
pimpinan maupun atasan langsung dan pengambil kebijakan advokasi perlu
dilakukan tidak hanya bila ditemukan masalah gizi maupun kesehatan di
masyarakat, advokasi juga dapat dilakukan untuk memperlihat bahwa tujuan
program telah berhasil dicapai. Kemampuan pimpinan puskesmas melakukan
advokasi terhadap sektor lainnya ditingkat kecamatan terutama kepada camat
harus ditingkatkan, karena pembangunan berwawasan kesehatan masih disikapi
secara pasif oleh lembaga diluar kesehatan karena mereka menganggap
pembangunan berwawasan kesehatan merupakan kewenangan sektor kesehatan.
Pembangunan berwawasan kesehatan harus mampu menciptakan lingkungan
sehat dan membentuk prilaku hidup sehat masyarakat.. Dengan kondisi seperti itu
derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya akan dapat ditingkatkan. Untuk
menyiapkan puskesmas agar mampu melaksanakan misi ini, pimpinan dan staf
inti puskesmas harus dilatih secara khusus untuk melakukan advokasi terhadap
sektor non kesehatan dan analisi dampak kesehatan. Mereka paling tidak harus

55

memahami dan terampil dibidang epidemiologi dan statistik serta manajemen.


(Muninjaya, 2004).
5.3.2.4 Evaluasi
Hasil penilaian terhadap kegiatan evaluasi di Puskesmas Jeumpa telah
dilaksanakan yaitu evaluasi pelaksanakan program gizi (Program berjalan sesuai
rencana). Evaluasi implementasi program gizi (cakupan program gizi) kegiatan
yang belum dilaksanakan yaitu evaluasi dampak program gizi terhadap
pembangunan (angka kematian bayi/balita, angka kematian Ibu). Begitu juga
dengan Puskesmas Juli Dua kegiatan yang belum dilaksanakan yaitu evaluasi
dampak program gizi terhadap pembangunan (angka kematian bayi/balita, angka
kematian Ibu). Nilai yang didapat Puskesmas Jeumpa dan Puskesmas Juli Dua
pada kegiatan evaluasi sudah baik.
Tolak ukur keberhasilan program gizi di puskesmas ditetapkan melalui
rencana kerja operasional yang telah disusun. Pimpinan puskesmas dan
koordinator program gizi dapat mengevaluasi keberhasilan program dengan
menggunakan rencana kerja operasional sebagai standar dengan membandingkan
hasil kegiatan program gizi. Tanggung jawab pengawasan program gizi
dipuskesmas berada di tangan pimpinan puskesmas masing-masing tetapi
wewenang pengawasan dilapangan dilimpahkan kepada koordinator program gizi
dimasing-masing puskesmas.
Langkah-langkah
dipuskesmas adalah :

penting

dalam

mengevaluasi

program

gizi

56

1.

Menilai apakah ada kesenjangan antara target program gizi dan standar
untuk kerja staf dengan cakupan dan kemampuan staf untuk melaksanakan
tugas-tugasnya

2.

Menganalisa faktor-faktor penyebab timbulnya kesenjangan tersebut

3.

Merencanakan dan melaksanakan langkah-langkah untuk mengatasi


permasalahan yang muncul berdasarkan faktor-faktor penyebab yang sudah
diidentifikasi.
Upaya evaluasi program gizi hasilnya dapat digunakan sebagai umpan

balik (informasi) untuk memperbaiki proses perencanaan program gizi.


Pimpinan Puskesmas hendaknya selalu mengadakan evaluasi secara menyeluruh
terhadap pelaksanaan program gizi dengan menggunakan laporan staf, analisis
cakupan program gizi, laporan masyarakat dan hasil observasi (supervisi) di
lapangan sebagai bahan informasi.
Banyak evaluasi yang dilakukan oleh pihak lain bekerjasama dengan
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Namun data tidak dianalisis untuk
kepentingan daerah. Data yang didapatkan dikembalikan utuh dan tidak
mendapatkan feed back yang memadai terhadap hasil evaluasi. (Muninjaya,
2004)
5.3.3. Penilaian Komponen Output Program Gizi
Komponen output yang dinilai dalam analisis manajemen program gizi
di Puskesmas Jeumpa dan di Puskesmas Juli Dua, meliputi cakupan balita yang
naik berat badannya (N/D). Jumlah BGM, Cakupan vitamin A, Cakupan Fe 90
tablet pada Bumil, Cakupan pemberian MP-ASI pada bayi BGM dari Gakin,

57

Cakupan balita gizi buruk yang mendapat perawatan, Bayi yang mendapat ASI
eksklusif, Cakupan desa/kelurahan yang beryodium baik, Desa/kelurahan yang
mengalami KLB gizi buruk ditangani kurang dari 24 jam.
5.3.3.1 Cakupan Balita yang Naik Berat Badannya (N/D)
Hasil penilaian terhadap komponen output program gizi yaitu cakupan
balita yang naik berat badannya, bahwa Puskesmas Jeumpa dan Puskesmas Juli
Dua tidak baik, karena cakupan balita yang naik berat badannya (N/D) di kedua
Puskesmas belum mencapai target 80%.
Bila balita yang naik berat badannya disuatu daerah kurang dari 80%,
maka didaerah tersebut akan sering terjadinya kasus balita gizi kurang.
Puskesmas Jeumpa dan Puskesmas Juli Dua belum memenuhi target Indonesia
Sehat 2010 untuk balita yang naik berat badannya yaitu sebesar 80%.
Pemantauan pertumbuhan anak adalah hal yang penting untuk
mengetahui pertumbuhan anak telah sesuai dengan standar pertumbuhan sesuai
dengan umurnya, tinggi dan berat badan dibandingkan dengan populasi anak
sehat yang mencerminkan kesehatan dan kesejahteraan baik individual atau
masyarakat secara keseluruhan. (Depkes RI, 2010)
5.3.3.2. Balita Bawah Garis Merah (BGM)
Hasil penilaian terhadap komponen output program gizi yaitu cakupan
balita bawah garis merah (BGM), bahwa di Puskesmas Jeumpa dan Puskesmas
Juli Dua sudah baik, karena cakupan balita bawah garis merah sudah mencapai
target dibawah 5%.

58

Bila disuatu tempat atau daerah banyak dijumpai anak yang berat
badannya di bawah garis merah (BGM), maka di daerah tersebut anak-anaknya
akan menderita wasting (kurus) dan malnutrisi (kurang gizi) dan dianjurkan
untuk dipantau pertumbuhannya setiap bulan. Keuntungan dari pemantauan
pertumbuhannya setiap bulan adalah dapat memberikan makanan yang
mengandung zat gizi yang baik sehingga status gizinya dapat berubah.
(Suharto. T, 2005)
5.3.3.3. Balita yang mendapat vitamin A dua kali pertahun
Hasil penilaian terhadap komponen output program gizi yaitu cakupan
balita yang mendapat vitamin A dua kali pertahun, bahwa Puskesmas Jeumpa
dan Puskesmas Juli Dua sudah baik, karena sudah mencapai target yang
ditetapkan yaitu sebesar 90%.
Kekurangan vitamin A pada balita tingkat berat dapat menyebabkan
Xerophtalmia atau kebutaan, meningkatkan resiko angka kematian dan angka
kesakitan pada balita akibat penyakit campak dan ISPA. Program intervensi
yang dilakukan salah satunya adalah dengan memberikan kapsul vitamin A
dosis tinggi kepada balita dua kali pertahun. Keberhasilan penuntasan kebutaan
dan penurunan angka kematian balita sangat dipengaruhi oleh cakupan balita
yang mendapat kapsul vitamin A. Pemberian kapsul vitamin A dua kali pertahun
merupakan program intervensi kesehatan yang paling murah dan tingkat
efektifitasnya yang tinggi. Biasanya vitamin A tersebut diberikan bulan februari
dan bulan agustus setiap tahun. (Suharto. T, 2005)

59

5.3.3.4

Ibu hamil yang mendapat 90 Tablet Fe


Hasil penilaian terhadap komponen output program gizi yaitu

cakupan Ibu hamil yang mendapat 90 tablet Fe, bahwa Puskesmas Jeumpa
sudah baik karena sudah mencapai target 90%. Sedangkan Puskesmas Juli
Dua tidak baik karena belum mencapai target 90%.
Anemia pada Ibu hamil bisa meningkatkan resiko kematian Ibu
hamil pada fase post partum. Anemia pada umumnya disebabkan oleh
kekurangan zat besi dalam makanan yang dikonsumsi. Kekurangan zat besi
atau asam folat pada Ibu hamil dapat meningkatkan resiko cacat pada janin,
persalinan kurang bulan, serta berat bayi lahir rendah (< 2.500 gr)
Zat besi sangat penting sebagai bahan baku pembuat sel darah merah
dan sulit bagi Ibu hamil untuk mengkonsumsi cukup dari makanan. Oleh
karena itu, perlu diberikan suplemen zat besi agar Ibu hamil terhindar dari
Anemia. (Tider. R, 2009).
5.3.3.5

Pemberian Makanan Pendamping ASI pada bayi dari keluarga


miskin
Hasil penilaian terhadap komponen output program gizi yaitu

cakupan Pemberian Makanan Pendamping ASI pada bayi dari keluarga


miskin, bahwa Puskesmas Jeumpa dan Puskesmas Juli Dua tidak baik, karena
belum mencapai target 100%.
Makanan pendamping ASI merupakan makanan non susu yang
berfungsi sebagai tambahan dari ASI yang memberikan gizi tambahan dan

60

MP-ASI harus kaya dengan protein, energi dan zat gizi serta mudah dimakan
dan dicerna oleh bayi.
Agar suksesnya pemberian MP-ASI bagi balita BGM dari keluarga
miskin di masyarakat, pengambil kebijakan atau Pemerintah Daerah harus
memberi dukungan baik dana maupun tenaga, sehingga dapat memperkecil
timbulnya kasus gizi buruk. (Suharto. T, 2005)
5.3.3.6

Balita gizi buruk mendapat perawatan


Hasil penilaian terhadap komponen output program gizi yaitu

cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan, bahwa Puskesmas Jeumpa dan
Puskesmas Juli Dua sudah baik, karena balita gizi buruk yang mendapat
perawatan sudah mencapai target 100%.
Balita gizi buruk akan kehilangan lemak, otot dan kelihatan sangat
kurus, muka seperti orang tua, kulit terlipat pada bagian pantat. Beberapa
penyebab gizi buruk kurangnya asupan makanan yang mengandung protein,
lemak dan energi, infeksi penyakit tertentu dan kurangnya perhatian dan
pengetahuan dari si Ibu tentang makanan bergizi. Beberapa intervensi yang
dilakukan untuk mencegahnya gizi buruk adalah pemberian ASI eksklusif
pada bayi sampai umur 6 bulan, pemberian vitamin A dua kali pertahun dan
pemberian obat cacing pada anak 2 kali setahun untuk mengurangi dampak
dari kecacingan dan meningkatkan berat badan serta mencegah anemia.
Pada kasus gizi buruk dibutuhkan perawatan dan terapi makanan
khusus yang telah diadaptasi untuk kebutuhan anak yang sakit (makanan yang

61

menggemukkan untuk perawatan di rumah dan susu formula khusus di Rumah


Sakit). (Suharto. T, 2005)
5.3.3.7

Bayi yang mendapat ASI Eksklusif


Hasil penilaian terhadap komponen output program gizi yaitu

cakupan bayi yang mendapat ASI eksklusif, bahwa Puskesmas Jeumpa dan
Puskesmas Juli Dua tidak baik, karena bayi yang mendapat ASI eksklusif
belum mencapai target 80%.
ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan sejak lahir hingga umur 6
bulan tanpa memberikan makanan lainnya (hanya diberi ASI saja). ASI adalah
karunia Tuhan yang amat berharga karena mengandung semua zat gizi yang
diperlukan bayi, mengandung zat kekebalan tubuh, mudah dicerna oleh bayi,
mudah diberika oleh Ibu, tidak usah dibeli, ungkapan rasa kasih sayang Ibu
terhadap anaknya, bersih dan tidak basi. Selain itu dengan pemberian ASI
eksklusif pada bayi dapat mencegah terjadinya kasus gizi buruk pada bayi.
Guna meningkatkan angka cakupan intervensi program menyusui
ASI eksklusif dianjurkan untuk melakukan upaya promosi, konseling individu,
konseling kelompok seperti pada Ibu hamil, Ibu nifas dan Ibu yang
mempunyai bayi, yang dilakukan oleh petugas kesehatan melalui kunjungan
rumah dan Posyandu di desa. (Suharto. T, 2005)
5.3.3.8

Desa dengan garam beriodium baik


Hasil penilaian terhadap komponen output program gizi yaitu

cakupan desa dengan garam beriodium baik, bahwa Puskesmas Jeumpa dan
Puskesmas Juli Dua tidak baik, karena belum mencapai target 90%.

62

Akibat dari kekurangan iodium menyebabkan kecerdasan anak


terhambat, tinggi badan terhambat, kretin atau cebol, pembesaran kelenjar
gondok dan pada Ibu hamil dapat menyebabkan keguguran. Selain itu GAKY
atau Gangguan Akibat Kekurangan Yodium dapat menghambat tumbuh
kembang anak sejak lahir hingga dewasa, baik fisik maupun mental.
Usaha pencegahan yaitu dengan cara iodisasi garam atau
menggunakan garam beriodium di masyarakat dan mengkonsumsi bahan
makanan sumber iodium seperti ikan laut, kerang-kerangan dan hasil
olahannya. Guna meningkatkan cakupan penggunaan garam beriodium oleh
masyarakat juga`perlu dilakukan promosi penggunaan garam beriodium oleh
petugas kesehatan melalui penyuluhan-penyuluhan di masyarakat.
5.3.3.9

Desa mengalami KLB yang ditangani kurang 24 jam


Hasil penilaian terhadap komponen output program gizi yaitu desa

yang mengalami kejadian luar biasa gizi buruk ditangani kurang dari 24 jam,
bahwa Puskesmas Jeumpa sudah baik, sedangkan Puskesmas Juli Dua tidak
baik, karena desa yang mengalami kejadian luar biasa gizi buruk belum
ditangani kurang dari 24 jam.
Penanganan KLB gizi buruk dilakukan oleh petugas gizi berdasarkan
laporan bidan desa dan masyarakat, serta segera ditindak lanjuti dalam waktu
kurang dari 24 jam dan bila kasusnya berat segera dirujuk ke Rumah Sakit
untuk mendapatkan perawatan khusus.
Laporan-laporan KLB gizi buruk sangat berguna untuk menentukan
prioritas penanggulangan masalah gizi buruk untuk segera ditangani dan

63

memudahkan intervensi yang tepat dan sesuai dengan masalah penyebab


terjadinya gizi buruk pada suatu wilayah. (Depkes RI, 2003)