Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Energi merupakan salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan

manusia. Sebagian besar kebutuhan energi masih dipasok dari sumber alam yang
tidak terbarukan seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara yang cepat atau
lambat pasti akan habis ketersediaannya. Berbagai upaya terus dilakukan untuk
mencari dan mengembangkan sumber energi alternatif yang terbarukan. Salah
satunya adalah biodiesel. Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif untuk mesin
diesel yang diproduksi dengan reaksi transesterifikasi dan esterifikasi minyak
tumbuhan atau lemak hewan dengan alkohol rantai pendek seperti metanol dengan
bantuan katalis yang bersifat asam atau basa. Sebagai negara yang kaya akan
sumber daya alam hayati, Indonesia memiliki banyak sumber minyak nabati yang
dapat digunakan sebagai bahan baku dalam proses pembuatan biodiesel.
Bahan bakar nabati (BBN) bioetanol dan biodiesel merupakan dua
kandidat kuat pengganti bensin dan solar yang selama ini digunakan sebagai
bahan bakar mesin Otto dan Diesel. Pemerintah Indonesia telah mencanangkan
pengembangan dan implementasi dua macam bahan bakar tersebut, bukan hanya
untuk menanggulangi krisis energi yang mendera bangsa. Namun, juga sebagai
salah satu solusi kebangkitan ekonomi masyarakat.
Saat ini pengembangan bahan bakar nabati untuk menggantikan bahan
bakar fosil terus dilakukan. Biofuel akan menggantikan premium, solar, maupun
kerosin atau minyak tanah. Pemerintah menargetkan antara tahun 2009-2010
komposisi biofuel dan bahan bakar fosil mencapai 15 persen berbanding 85
persen. Kebutuhan nasional untuk bahan bakar nabati sedikitnya 18 miliar liter per
tahun. Akan tetapi, keterbatasan bahan baku menjadi kendala utama karena harus
berbagi dengan berbagai industri lain. Biodiesel adalah sebuah alternatif untuk
bahan bakar diesel berbasis minyak bumi yang terbuat dari sumber daya
terbarukan seperti minyak nabati, lemak hewan, atau alga. Biodisel juga memiliki
sifat pembakaran yang sangat mirip dengan diesel petroleum. Biodisel adalah
1

salah satu kandidat yang mungkin untuk menggantikan bahan bakar fosil sebagai
sumber energi utama dunia transportasi, karena merupakan bahan bakar
terbarukan yang dapat menggantikan solar pada mesin saat ini dan dapat diangkut
dan dijual dengan menggunakan infrastruktur sekarang ini.
Biodiesel terdiri dari asam lemak rantai panjang dengan alkohol terikat
yang sering berasal dari minyak nabati. Hal ini dihasilkan melalui reaksi minyak
nabati dengan alkohol metil atau etil alkohol dengan adanya katalis. Lemak
hewani merupakan sumber potensial yang dpat digunakansebagai bahan baku
biodisel. Umumnya katalis yang digunakan adalah kalium hidroksida (KOH) atau
sodium hidroksida (NaOH). Suatu proses kimia yang disebut transesterifikasi
dapat menghasilkan biodiesel dan gliserin. Dalam ilmu kimia, biodiesel disebut
sebagai ester metil, jika alkohol yang digunakan adalah metanol. Jika etanol yang
digunakan maka disebut ester etil. Mereka adalah serupa dan saat ini, ester metil
lebih murah karena biaya yang lebih rendah untuk metanol. Biodiesel dapat
digunakan dalam bentuk murni, atau dicampur dalam jumlah dengan bahan bakar
solar untuk digunakan pada mesin pengapian kompresi.
1.2. Tujuan
1) Untuk mengetahui pengaruh rasio reaktan terhadap konversi minyak menjadi
metil ester.
2) Untuk mengetahui pengaruh dari temperatur reaksi terhadap pembentukan
metil ester.
3) Untuk mengetahui pengaruh dari waktu reaksi terhadap pembentukan metil
ester.
4) Untuk mengetahui prinsip dan cara kerja proses pembuatan metil ester.
1.3. Permasalahan
1) Bagaimana cara pengolahan minyak jelantah menjadi bahan bakar alternatif?
2) Apa yang menjadi pertimbangan agar suatu bahan bakar dapat digunakan?
3) Mengapa timbul pemikiran untuk membuat sebuah alternative bahan bakar?
4) Apa faktor yang mempengaruhi proses transesterifikasi?
5) Bagaimana pengaruh katalis Natrium Hidroksida (NaOH) pada proses
pembuatan biodisel?
1.4.

Manfaat

1) Dapat mengetahui proses pembuatan metil ester dari minyak jelantah.


2) Dapat mengetahui pengaruh penggunaan katalis untuk masing-masing reaksi
esterifikasi dan transesterifikasi.
3) Dapat mengetahui cara menghitung laju/kecepatan reaksi pada proses
pembuatan metil ester.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Karakteristik Bahan Bakar Minyak
Karakteristik bahan bakar minyak yang akan dipakai pada suatu
penggunaan tertentu untuk mesin atau peralatan lainnya perlu diketahui terlebih
dahulu, agar hasil pembakaran dapat tercapai secara optimal. Secara umum,
karakteristik bahan bakar minyak khususnya minyak solar yang perlu diketahui
adalah sebagai berikut :
1) Berat Jenis (Specific Gravity)
Berat jenis adalah suatu angka yang menyatakan perbandingan berat
bahan bakar minyak pada temperatur tertentu terhadap air pada volume dan
temperatur yang sama. Bahan bakar minyak umumnya mempunyai specific
gravity antara 0,74 0,96, dengan kata lain bahan bakar minyak lebih ringan dari
pada air.
2) Viskositas
Viskositas adalah suatu angka yang menyatakan besarnya hambatan dari
suatu bahan cair untuk mengalir, atau ukuran besarnya tahanan geser dari bahan
cair. Makin tinggi viskositas minyak, akan makin kental dan makin sulit mengalir,
begitu juga sebaliknya. Viskositas bahan bakar minyak sangat penting artinya,
terutama bagi mesin mesin diesel maupun ketel uap, karena viskositas minyak
sangat bekaitan dengan suplai konsumsi bahan bakar kedalam ruang bakar dan
juga sangat berpengaruh terhadap kesempurnaan proses pengkabutan bahan bakar
malalui injektor.
3) Titik Tuang
Titik tuang adalah suatu angka yang menyatakan suhu terendah dari
bahan bakar minyak sehingga minyak tersebut masih dapat mengalir karena gaya
gravitasi. Titik tuang ini diperlukan sehubungan dengan adanya persyaratan
praktis dari prosedur penimbunan dan pemakaian dari bahan bakar minyak. Hal
ini dikarenakan bahan bakar minyak seringkali sulit untuk dipompa apabila
suhunya telah dibawah titik tuangnya.
4

4)Titik nyala
Titik nyala adalah suatu angka yang menyatakan suhu terendah dari
bahan bakar minyak dimana akan timbul penyalaan api sesaat, apabila pada
permukaan minyak tersebut didekatkan pada nyala api. Titik nyala diperlukan
sehubungan dengan pertimbangan mengenai keamanan dari penimbunan minyak
dan pengangkutan bahan bakar minyak terhadap bahaya kebakaran.
Penggunaan dan produksi biodiesel meningkat dengan cepat, terutama di
Eropa, Amerika Serikat, dan Asia, meskipun dalam pasar masih sebagian kecil
saja dari penjualan bahan bakar. Pertumbuhan SPBU membuat semakin
banyaknya penyediaan biodiesel kepada konsumen dan juga pertumbuhan
kendaraan yang menggunakan biodiesel sebagai bahan bakar. Penggunaan
methanol murni sebagai bahan bakar, mempunyai kesulitan dalam penyimpanan,
pengisian bahan bakar, dan modifikasi mesin bis. Gas alam atau CNG mempunyai
kesulitan juga dalam penyimpanan karena berbentuk gas yang mudah terbakar,
dan bisa meledak sehingga memerlukan tenaga terdidik dalam menanganinya.
Biodiesel mempunyai kelebihan kurang mudah menyala dibanding solar,
lebih mudah dalam penyimpanannya, dan dapat dicampur dengan solar.
Penggunaan minyak goreng langsung mempunyai kelebihan lebih murah namun
mempunyai kekurangan pada kekentalan, dan mengganggu ketersediaan untuk
konsumsi masyarakat. Penggunaan biodiesel yang maksimal hanya dapat
diperoleh jika mempergunakan 100% biodiesel tanpa mencampur dengan minyak
solar. Kelebihan biodiesel dibanding minyak diesel atau solar yaitu cetane number
lebih tinggi sehingga pembakaran lebih sempurna, memiliki sifat pelumasan
terhadap piston mesin, merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena
menghasilkan emisi yang jauh lebih baik (free sulphur, smoke number rendah)
yang sesuai dengan isu-isu global, merupakan senyawa yang biodegradable
(dapat terurai dengan cepat), merupakan renewable energy karena terbuat dari
bahan alam yang dapat diperbarui, serta bahan bakunya tersedia di daerah-daerah.
Biodiesel dapat dipergunakan untuk keperluan lain seperti pelindung
kayu termasuk interior rumah yang terbuat dari kayu. Sebagai pelumas dan
pelindung korosi pada peralatan rumah tangga, pertanian yang terbuat dari logam.

Biodiesel dapat pula dicampur dengan bensin untuk mesin 2 langkah sebagai
bahan bakar dan pelumasan. Biodiesel tidak dapat menggantikan minyak tanah
untuk keperluan kompor dan lampu minyak karena sifat tidak bisa merambat
keatas. Untuk keperluan lampu petromax dengan terang yang sama, biodiesel
dapat dipergunakan hingga 8 jam dan kurang memerlukan pemompaan. Biodiesel
juga dipergunakan untuk membersihkan noda crayon pada baju dengan lebih baik
dibanding deterjen.
2.2.

Pembuatan metil ester


Metil ester mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan asam

lemak, diantaranya yaitu:


1) Pemakaian energi sedikit karena membutuhkan suhu dan tekanan lebih rendah
dibandingkan dengan asam lemak.
2) Peralatan yang digunakan murah. Metil ester bersifat non korosif dan metil
ester dihasilkan pada suhu dan tekanan lebih rendah. Oleh karena itu proses
pembuatan metil ester menggunakan peralatan yang terbuat dari karbon steel,
sedangkan asam lemak bersifat korosif sehingga untuk bahan konstruksinya
membutuhkan peralatan stainless steel yang kuat.
3) Lebih banyak menghasilkan hasil samping gliserin yaitu konsentrat gliserin.
Melalui reaksi transesterifikasi kering sehingga menghasilkan konsentrat
gliserin, sedangkan asam lemak, proses pemecahan lemak menghasilkan
gliserin yang masih mengandung air lebih dari 80%, sehingga membutuhkan
energi yang lebih banyak.
4) Metil ester lebih mudah didistilasi karena titik didihnya lebih rendah dan lebih
stabil terhadap panas.
5) Dalam memproduksi alkanolamida, ester dapat menghasilkan superamida
dengan kemurnian lebih dari 90% dibandingkan dengan asam lemak yang
menghasilkan amida dengan kemurnian hanya 65-70%.
6) Metil ester mudah dipindahkan dibandingkan asam lemak karena sifat
kimianya lebih stabil dan non korosif.
Metil ester dapat dihasilkan melalui reaksi kimia esterifikasi dan reaksi
transesterifikasi.

2.2.1.

Esterifikasi
Esterifikasi adalah tahap konversi dari asam lemak bebas menjadi ester.

Esterifikasi mereaksikan minyak lemak dengan alkohol. Katalis-katalis yang


cocok adalah zat berkarakter asam kuat, dan karena ini, asam sulfat, asam
sulfonat organik atau resin penukar kation asam kuat merupakan katalis-katalis
yang biasa terpilih dalam praktek industrial. Untuk mendorong agar reaksi bisa
berlangsung ke konversi yang sempurna pada temperatur rendah (misalnya
paling tinggi 120 C), reaktan metanol

ditambahkan dalam jumlah yang

sangat berlebih dan air produk samping reaksi harus dihilangkan dari fasa
reaksi, yaitu fasa minyak.
Melalui kombinasi-kombinasi yang tepat dari kondisi-kondisi reaksi dan
metode penghilangan air, konversi sempurna asam-asam lemak ke ester
metilnya dapat dituntaskan dalam waktu 1 sampai beberapa jam. Reaksi
esterifikasi dari asam lemak menjadi metil ester adalah
RCOOH
Asam Lemak

CH3OH

Metanol

RCOOH3
Metil Ester

H2O

(1)

Air

Esterifikasi biasa dilakukan untuk membuat biodiesel dari minyak


berkadar asam lemak bebas tinggi (berangka-asam P 5 mg-KOH/g). Pada
tahap ini, asam lemak bebas akan dikonversikan menjadi metil ester. Tahap
esterifikasi biasa diikuti dengan tahap transesterfikasi. Namun sebelum produk
esterifikasi diumpankan ke tahap transesterifikasi, air dan bagian terbesar
katalis asam yang dikandungnya harus dihilangkan dahulu. Faktor-faktor yang
mempengaruhi reaksi esterifikasi, yaitu :
1) Waktu Reaksi
Semakin lama waktu reaksi maka kemungkinan kontak antar zat semakin
besar sehingga akan menghasilkan konversi yang besar. Jika kesetimbangan
reaksi sudah tercapai maka dengan bertambahnya waktu reaksi tidak akan
menguntungkan karena tidak memperbesar hasil.
2)Pengadukan
Pengadukan akan menambah frekuensi tumbukan antara molekul zat
pereaksi dengan zat yang bereaksi sehingga mempercepat reaksi dan reaksi itu

terjadi sempurna. Sesuai dengan persamaan Archenius :


k = A e(-Ea/RT)

(2)

dimana :
T = Suhu absolut ( C)
R = Konstanta gas umum (cal/gmol K)
E = Tenaga aktivasi (cal/gmol)
A = Faktor tumbukan (t-1)
k = Konstanta kecepatan reaksi (t-1)

Semakin besar tumbukan maka semakin besar pula harga konstanta


kecepatan reaksi. Sehingga dalam hal ini pengadukan sangat penting
mengingat larutan minyak katalis metanol merupakan larutan yang immiscible.
3) Katalisator
Katalisator berfungsi untuk mengurangi tenaga aktivasi pada suatu reaksi
sehingga pada suhu tertentu harga konstanta kecepatan reaksi semakin besar.
Pada reaksi esterifikasi yang sudah dilakukan biasanya menggunakan
konsentrasi katalis antara 1 - 4 % berat sampai 10 % berat campuran pereaksi
4) Suhu Reaksi
Semakin tinggi suhu yang dioperasikan maka semakin banyak konversi
yang dihasilkan, hal ini sesuai dengan persamaan Archenius. Bila suhu naik
maka harga k makin besar sehingga reaksi berjalan cepat dan hasil konversi
makin besar.
Esterifikasi adalah proses yang mereaksikan asam lemak bebas (FFA)
dengan alkohol rantai pendek (metanol atau etanol) menghasilkan metil ester
asam lemak (FAME) dan air. Katalis yang digunakan untuk reaksi esterifikasi
adalah asam, biasanya asam sulfat (H2SO4) atau asam fosfat (H2PO4).
Berdasarkan kandungan FFA dalam minyak nabati maka proses pembuatan
biodiesel secara komersial dibedakan menjadi 2, yaitu :
1) Transesterifikasi dengan katalis basa (sebagian besar menggunakan KOH)
untuk bahan baku refined oil / minyak nabati dengan kandungan FFA rendah.
2) Esterifikasi dengan katalis asam (umumnya menggunakan asam sulfat)
untuk minyak nabati dengan kandungan FFA yang tinggi dilanjutkan dengan

transesterifikasi dengan katalis basa.


Proses pembuatan biodiesel dari minyak dengan kandungan FFA rendah
secara keseluruhan terdiri dari reaksi transesterifikasi, pemisahan gliserol dari
metil ester, pemurnian metil ester (netralisasi, pemisahan methanol, pencucian
dan pengeringan/dehidrasi), pengambilan gliserol sebagai produk samping
(asidulasi dan pemisahan metanol) dan pemurnian metanol yang tidak bereaksi
secara destilasi/rectification.
Proses esterifikasi dengan katalis asam diperlukan jika minyak nabati
mengandung FFA di atas 5%. Jika minyak berkadar FFA tinggi (>5%)
langsung ditransesterifikasi dengan katalis basa maka FFA akan bereaksi
dengan katalis membentuk sabun. Terbentuknya sabun dalam jumlah yang
cukup besar dapat menghambat pemisahan gliserol dari metil ester dan
berakibat terbentuknya emulsi selama proses pencucian. Jadi esterifikasi
digunakan sebagai proses pendahuluan untuk mengkonversikan FFA menjadi
metil ester sehingga mengurangi kadar FFA dalam minyak nabati dan
selanjutnya ditransesterifikasi dengan katalis basa untuk mengkonversikan
trigliserida menjadi metil ester.
2.2.2. Transesterifikasi
Transesterifikasi adalah proses yang mereaksikan trigliserida dalam
minyak nabati atau lemak hewani dengan alkohol rantai pendek seperti
methanol atau etanol (pada saat ini sebagian besar produksi biodiesel
menggunakan metanol) menghasilkan metil ester asam lemak (Fatty Acids
Methyl Ester / FAME) atau biodiesel dan gliserol (gliserin) sebagai produk
samping. Katalis yang digunakan pada proses transeterifikasi adalah basa atau
alkali, biasanya digunakan natrium hidroksida (NaOH) atau kalium hidroksida
(KOH).
Transesterifikasi (biasa disebut dengan alkoholisis) adalah tahap
konversi dari trigliserida (minyak nabati) menjadi alkil ester, melalui reaksi
dengan alkohol, dan menghasilkan produk samping yaitu gliserol. Di antara
alkohol-alkohol monohidrik yang menjadi kandidat sumber/pemasok gugus
alkil, metanol adalah yang paling umum digunakan, karena harganya murah

10

dan reaktifitasnya paling tinggi (sehingga reaksi disebut metanolisis). Jadi, di


hampir sebagian besar di dunia, biodiesel praktis identik dengan metil ester
asam-asam lemak (Fatty Acids Metil Ester).
Transesterifikasi juga menggunakan katalis dalam reaksinya. Tanpa
adanya katalis, konversi yang dihasilkan maksimum namun reaksi berjalan
dengan lambat. Katalis yang biasa digunakan pada reaksi transesterifikasi
adalah katalis

basa, karena katalis

ini dapat mempercepat reaksi.

Transesterifikasi yaitu proses kimiawi yang mempertukarkan grup alkoksi


pada senyawa ester dengan alkohol. Untuk mempercepat reaksi ini diperlukan
bantuan katalisator berupa asam atau basa.
Pada tanaman penghasil minyak, cukup banyak terkandung asam lemak.
Secara kimiawi, asam lemak ini merupakan senyawa gliserida. Pada proses
transesterifikasi senyawa gliserida ini dipecah menjadi monomer senyawa
ester dan gliserol, dengan penambahan alkohol dalam jumlah yang banyak dan
bantuan katalisator. Senyawa ester, pada tingkat (grade) tertentu inilah yang
menjadi biodiesel. Dalam proses transesterifikasi untuk produksi biodiesel dari
tumbuhan, biasanya digunakan asam sulfat (H2SO4) sebagai katalisator reaksi
kimianya.
Produk yang diinginkan dari reaksi transesterifikasi adalah ester metil
asam-asam lemak. Terdapat beberapa cara agar kesetimbangan lebih ke arah
produk, yaitu :
1) Menambahkan metanol berlebih ke dalam reaksi
2) Memisahkan gliserol
3) Menurunkan temperatur reaksi
Metil ester mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan asam
lemak, diantaranya yaitu pemakaian energi lebih sedikit karena membutuhkan
suhu dan tekanan lebih rendah dibandingkan dengan asam lemak, peralatan
yang digunakan murah karena metil ester bersifat non korosif dan metil ester
dihasilkan pada suhu dan tekanan lebih rendah, oleh karena itu proses
pembuatan metil ester menggunakan peralatan yang terbuat dari karbon steel,
sedangkan asam lemak bersifat korosif. Metil ester lebih banyak menghasilkan

11

hasil samping gliserin yaitu konsentrat gliserin melalui reaksi transesterifikasi


kering sehingga menghasilkan konsentrat gliserin, sedangkan asam lemak,
proses pemecahan lemak menghasilkan gliserin yang masih mengandung air
lebih dari 80%, sehingga membutuhkan energi yang lebih banyak, metil ester
lebih mudah didistilasi karena titik didihnya lebih rendah dan lebih stabil
terhadap panas. Dalam memproduksi alkanolamida, ester dapat menghasilkan
superamida dengan kemurnian lebih dari 90% dibandingkan dengan asam
lemak yang menghasilkan amida dengan kemurnian hanya 65-70%. Metil ester
lebih mudah dipindahkan dibandingkan asam lemak karena sifat kimianya
lebih stabil dan non korosif. Metil ester dihasilkan melalui reaksi kimia
esterifikasi dan transesterifikasi.
Transesterifikasi pada dasarnya terdiri atas 4 tahapan, yakni:
1) Pencampuran katalis alkali (umumnya sodium hidroksida atau potassium
hidroksida) dengan alkohol (umumnya methanol). Konsentrasi alkalin yang
digunakan bervariasi antara 0.5 - 1 wt% terhadap massa minyak. Sedangkan
alkohol diset pada rasio molar antara alkohol terhadap minyak sebesar 9:1.
2) Pencampuran alkohol+alkalin dengan minyak di dalam wadah yang dijaga
pada temperatur tertentu (sekitar 40 - 60oC) dan dilengkapi dengan pengaduk
(baik magnetik ataupun motor elektrik) dengan kecepatan konstan (umumnya
pada 600 rpm). Keberadaan pengaduk sangat penting untuk memastikan
terjadinya reaksi methanolisis secara menyeluruh di dalam campuran. Reaksi
metanolisis ini dilakukan sekitar 1 - 2 jam.
3) Setelah reaksi methanolisis berhenti, campuran didiamkan dan perbedaan
densitas senyawa di dalam campuran akan mengakibatkan separasi antara
metil ester dan gliserol. Metil ester dipisahkan dari gliserol dengan teknik
separasi gravitasi.
4) Metil ester tersebut kemudian dibersihkan menggunakan air distilat untuk
memisahkan zat-zat pengotor seperti metanol, sisa katalis alkalin, gliserol, dan
sabun-sabun. Lebih tingginya densitas air dibandingkan dengan metil ester
menyebabkan prinsip separasi gravitasi berlaku air berposisi di bagian bawah
sedangkan metil ester di bagian atas.

12

Transesterifikasi tanpa katalis yaitu proses transesterifikasi pada minyak


kedelai (soybean oil) menggunakan metanol superkritik dan co-solvent CO2.
Tidak adanya katalis ,memberikan keuntungan tidak diperlukannya proses
purifikasi metil ester terhadap katalis yang biasanya terikut pada produk proses
transesterifikasi konvensional menggunakan katalis asam/basa. Perbaikan pada
proses

transesterifikasi

menggunakan

metanol

superkritik

dengan

menambahkan co-solvent CO2 yang berfungsi untuk menurunkan tekanan dan


temperatur operasi proses transesterifikasi. Hal ini berkorelasi langsung pada
lebih rendahnya energi yang diperlukan dalam proses transesterifikasi
menggunakan metanol superkritik. Namun, temperatur yang terlibat dalam
proses yang dilakukan masih cukup tinggi, yakni sekitar 280oC.
2.2.3.

Alkoholisis
Alkoholisis trigliserida dengan alkohol fraksi ringan seperti methanol

merupakan reaksi seimbang dan kalor reaksinya seimbang dan kalor reaksinya
kecil. Untuk menggeser reaksi ke kanan biasanya menggunakan alkohol
berlebihan. Dalam penelitian ini, methanol diberikan berlebihan dibanding
gliserida maka reaksi yang terjadi bisa dianggap reaksi searah. Trigliserida
terdapat dalam minyak, setelah dialkoholisis akan diperoleh gliserol dan ester.
Untuk mempercepat reaksi dapat digunakan katalisator berupa asam, basa,
atau penukar ion. Mekanisme reaksinya sebagai berikut :
RCOOCH2

CH2OH

RCOOCH + 3 CH3O

3 RCOOCH2 + CHOH

RCOOCH2
trigliserida

(3)

CH2OH
metanol

metil ester

gliserol

dimana R adalah gugus alkil. Proses alkoholisis dapat dijalankan secara batch
maupun sinambung, dimana pada proses batch menggunakan labu leher tiga
atau autoclave. Selain itu dalam autoclave, proses dapat berjalan pada suhu
tinggi dalam fase cair, sehingga akan bisa berlangsung lebih cepat. Proses
sinambung dilaksanakan dalam reaktor kolom tegak dengan alat pencampur

13

yang berupa pengaduk atau gas inert. Proses ini lebih sulit dikarenakan perlu
bahan baku yang lebih banyak dan waktu yang lebih panjang.
Untuk meningkatkan produk terdapat beberapa faktor yang sangat
mempengaruhi antara lain :
1) Waktu reaksi, makin panjang waktu reaksi, maka kesempatan zat zat
bereakasi makin banyak, sehingga konversi semakin besar. Jika keseimbangan
reaksi telah tercapai bertambahnya waktu reaksi tidak akan memperbesar hasil.
2) Konsentrasi, kecepatan reaksi sebanding dengan konsentrasi reaktan.
Makin tinggi konsentrasi reaktan, makin banyak kesempatan molekul untuk
saling bertumbukan sehingga semaki tinggi pula kecepatan reaksinya.
3) Katalisator, katalis berfungsi untuk mempercepat reaksi dengan cara
menurunkan energi aktivasi reaksi, namun tidak mempengaruhi letak
keseimbangan.
4) Suhu, semakin tinggi suhu, kecepatan reaksi makin meningkat. Pada
proses alkoholisis pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi dipengaruhi oleh
katalisator yang dipakai.
5) Pengadukan, agar reaksi berjalan denagn baik diperlukan pencampuran
sebaik-baiknya dengan cara pengadukan. Pencampuran yang baik dapat
menurunkan tahanan perpindahan massa.
6) Perbandingan pereaksi. Reaksi alkoholisis pada umumnya memerlukan
alkohol yang berlebihan agar reaksi berjalan sempurna.
2.3.

Biodiesel sebagai Energi Alternatif


Energi alternatif adalah istilah yang merujuk kepada semua energi yang

dapat digunakan yang bertujuan untuk menggantikan bahan bakar konvensional


tanpa akibat yang tidak diharapkan dari hal tersebut. Pada umumnya, istilah energi
alternatif digunakan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar hidrokarbon
yang mengakibatkan kerusakan lingkungan akibat emisi CO2 yang tinggi, yang
berkontribusi besar terhadap pemanasan global berdasarkan Intergovernmental
Panel on Climate Change. Selama beberapa tahun, apa yang dimaksud sebagai
energi alternatif telah berubah akibat banyaknya pilihan energi yang bisa dipilih
dengan tujuan yang berbeda dalam penggunaannya.

14

Istilah alternatif merujuk kepada suatu teknologi selain teknologi yang


digunakan pada bahan bakar fosil untuk menghasilkan energi. Teknologi alternatif
yang digunakan untuk menghasilkan energi dengan mengatasi masalah dan tidak
menghasilkan masalah seperti penggunaan bahan bakar fosil. Oxford Dictionary
mendefinisikan energi alternatif sebagai energi yang digunakan bertujuan untuk
menghentikan penggunaan sumber daya alam atau pengrusakan lingkungan.
Sebagian besar pendukung menunjukkan bahwa limbah minyak nabati
adalah sumber terbaik untuk menghasilkan minyak biodiesel. Namun, pasokan
yang tersedia secara drastis kurang dari jumlah bahan bakar berbasis minyak bumi
yang dibakar untuk transportasi dan pemanasan rumah di dunia. Bahan bakar
transportasi diperkirakan dan rumah menggunakan minyak pemanas sekitar
230.000 juta gallon, limbah minyak nabati dan lemak hewan tidak akan cukup
untuk memenuhi permintaan. Oleh karena itu, diperkirakan produksi minyak
nabati untuk semua penggunaan adalah sekitar 33.000 juta pound (15.000.000
ton) atau 4.500 juta US galon (17.000.000 m), dan produksi diperkirakan lemak
hewan adalah 12.000 juta pound (5.000.000 ton). Untuk sumber minyak
terbarukan, tanaman atau sumber cultivatable serupa harus dipertimbangkan.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa, tanaman memanfaatkan
fotosintesis untuk mengubah energi matahari menjadi energi kimia. Dalam hal ini
energi kimia yang menyimpan biodiesel akan dilepaskan ketika dibakar. Oleh
karena itu tanaman dapat menawarkan sumber minyak yang berkelanjutan untuk
produksi biodiesel. tanaman yang berbeda menghasilkan minyak yang dapat
digunakan pada tingkat yang berbeda. Beberapa studi telah menunjukkan produksi
tahunan sebagai berikut :
1)
2)
3)
4)
5)

Kedelai: 40 sampai 50 US gal / acre (40 sampai 50 m / km )


Mustard: 140 US gal / acre (130 m / km )
Kelapa sawit: 650 US gal / acre (610 m / km )
Alga: 10.000 hingga 20.000 US gal / ha (10.000 hingga 20.000 m / km )
Brassica napus: 110-145 US gal / acre (100-140 m / km )
Produksi minyak panen ganggang untuk biodiesel belum dilakukan pada

skala komersial, tetapi studi kelayakan kerja telah dilakukan untuk sampai pada
nomor di atas. Khusus dibesarkan varietas sawit dapat menghasilkan cukup

15

menghasilkan minyak yang tinggi, dan memiliki manfaat tambahan bahwa sisa
makanan setelah minyak telah ditekan keluar dapat bertindak sebagai pestisida
efektif dan biodegradable. Penelitian - penelitian yang sedang berlangsung dalam
tujuannya untuk menemukan tanaman yang lebih cocok dan meningkatkan
produksi minyak. Menggunakan hasil saat ini, sejumlah besar tanah harus
dimasukkan ke dalam produksi untuk menghasilkan minyak cukup untuk
sepenuhnya menggantikan penggunaan bahan bakar fosil.
Di Amerika Serikat, minyak kedelai adalah minyak nabati utama yang
digunakan dalam memproduksi biodiesel, tetapi minyak dari tanaman seperti
kanola, bunga matahari, safflowers dan lain-lain dapat juga digunakan dalam
pembuatan biodiesel. Minyak ini mengandung berbagai proporsi asam lemak yang
mempengaruhi karakteristik mereka, terutama kemampuan untuk mengalir di
daerah beriklim dingin.
Biodiesel dapat digunakan dalam mesin diesel dengan sedikit modifikasi
atau tidak. Biodiesel merupakan solusi yang paling tepat untuk menggantikan
bahan bakar fosil sebagai sumber energi transportasi utama dunia, karena
biodiesel merupakan bahan bakar terbaharui yang dapat menggantikan diesel
petrol pada mesin dan dapat diangkut serta dijual dengan menggunakan
infrastruktur sekarang ini. Biodiesel terdiri dari metil ester asam lemak nabati,
sedangkan petroleum diesel adalah hidrokarbon. Biodiesel mempunyai sifat kimia
dan fisika yang serupa dengan petroleum diesel sehingga dapat digunakan
langsung untuk mesin diesel atau dicampur dengan petroleum diesel.
Pencampuran 20 % biodiesel ke dalam petroleum diesel menghasilkan produk
bahan bakar tanpa mengubah sifat fisik secara nyata. Produk ini di Amerika
dikenal sebagai Diesel B-20 yang banyak digunakan untuk bahan bakar bus.
Biodiesel adalah senyawa mono alkil ester yang diproduksi melalui
reaksi transesterifikasi antara trigliserida (minyak nabati, seperti minyak sawit,
minyak jarak dll) dengan metanol menjadi metil ester dan gliserol dengan bantuan
katalis basa. Biodiesel mempunyai rantai karbon antara 12 sampai 20 serta
mengandung oksigen. Adanya oksigen pada biodiesel membedakannya dengan

16

petroleum diesel (solar) yang komponen utamanya hanya terdiri dari hidro
karbon. Jadi komposisi biodiesel dan petroleum diesel sangat berbeda.
Energi yang dihasilkan oleh biodiesel relatif tidak berbeda dengan
petroleum diesel masing-masing yaitu 128.000 BTU dan 130.000 BTU, sehingga
engine torque dan tenaga kuda yang dihasilkan juga sama. Kandungan kalori
biodiesel hampir serupa dengan petroleum diesel. Namun, karena biodiesel
mengandung oksigen, maka flash point-nya lebih tinggi sehingga tidak mudah
terbakar. Biodiesel juga tidak menghasilkan uap yang membahayakan pada suhu
kamar, maka biodiesel lebih aman daripada petroleum diesel dalam penyimpanan
dan penggunaannya. Di samping itu, biodiesel tidak mengandung sulfur dan
senyawa benzen yang karsinogenik, sehingga biodiesel merupakan bahan bakar
yang lebih bersih dan lebih mudah ditangani dibandingkan dengan petroleum
diesel. Penggunaan biodiesel juga dapat mengurangi emisi karbon monoksida,
hidrokarbon total, partikel, dan sulfur dioksida.
Kelebihan lain yang dapat kita pertimbangkan dari segi lingkungannya
yaitu, biodiesel memiliki tingkat toksisitasnya yang 10 kali lebih rendah
dibandingkan dengan garam dapur dan juga memiliki tingkat biodegradabiliti
sama dengan glukosa, sehingga sangat cocok digunakan di perairan untuk bahan
bakar kapal/motor. Biodiesel tidak menambah efek rumah kaca seperti halnya
petroleum diesel atau bahan bakar fosil karena karbon yang dihasilkan masih
dalam siklus karbon. Untuk penggunaan biodiesel pada dasarnya tidak perlu
modifikasi pada mesin diesel, bahkan biodiesel mempunyai efek pembersihan
terhadap tangki bahan bakar, injektor dan selang.
Biodiesel mempunyai beberapa keunggulan diantaranya adalah mudah
digunakan, limbahnya bersifat ramah lingkungan (biodegradable), tidak beracun,
bebas dari logam berat sulfur dan senyawa aromatik serta mempunyai nilai flash
point (titik nyala) yang lebih tinggi dari petroleum diesel sehingga lebih aman jika
disimpan dan digunakan. Secara teknis biodiesel yang berasal dari minyak nabati
dikenal sebagai VOME (Vegetable Oil Metil Ester) dan merupakan sumberdaya
yang dapat diperbaharui karena umumnya dapat diekstrak dari berbagai hasil
produk pertanian seperti minyak kacang kedelai, minyak kelapa, minyak bunga

17

matahari maupun minyak sawit.


Biodiesel tidak mudah terbakar, dan berbeda dengan diesel minyak bumi
dengan sifatnya adalah non-ledakan, dengan titik nyala 150 C. Angka yang
cukup jauh jika biodiesel dibandingkan dengan solar yang memiliki titik nyala
sebesar 64C. Tidak seperti solar, biodiesel adalah biodegradable dan tidak
beracun, dan secara signifikan mengurangi emisi beracun dan lainnya ketika
dibakar sebagai bahan bakar. Secara kimia, itu adalah bahan bakar terdiri dari
campuran mono-alkil ester asam lemak rantai panjang. Bentuk yang paling umum
menggunakan metanol untuk menghasilkan ester metil, meskipun etanol dapat
digunakan untuk menghasilkan biodiesel etil ester. Sebuah proses produksi
transesterifikasi lipid digunakan untuk mengubah minyak dasar untuk ester yang
diinginkan dan membuang asam lemak bebas.
Untuk saat ini, biaya untuk memproduksi biodiesel lebih mahal jika
dibandingkan dengan diesel minyak bumi, yang tampaknya menjadi faktor utama
yang menghambat penggunaan

biodiesel untuk digunakan lebih luas lagi .

Produksi di seluruh dunia minyak nabati dan lemak hewan tidak cukup untuk
menggantikan penggunaan bahan bakar fosil cair. Beberapa kelompok
lingkungan, terutama NRDC (Natural Resources Defense Council), objek dengan
jumlah besar pertanian dan di atas hasil-pemupukan, penggunaan pestisida, dan
konversi lahan yang akan dibutuhkan untuk menghasilkan minyak nabati
tambahan.

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1.

Alat

1) Heating mantle
2) Magnetic stirrer
3) Labu leher tiga
4) Termometer
5) Condensor
6) Pipet hisap
7) Pompa
8) Ember
3.2.

Bahan

1) Minyak Jelantah
2) Minyak Goreng
3) Metanol
4) NaOH
3.3.
3.3.1.

Prosedur Pembuatan Metil Ester


Reaksi Esterifikasi

1) Bahan baku dicairkan terlebih dahulu, apabila bahan baku berwujud padat
hingga mencapai ukuran 100 ml.
2) Setelah minyak berbentuk liquid, minyak dimasukkan kedalam labu leher
tiga yang telah dilengkapi dengan termometer, pemanas, dan kondenser.
Kemudian dipanaskan sampai suhu mencapai 70C. Reaksi ini berlangsung
secara batch.
3) Metanol dan katalis dicampurkan dalam jumlah tertentu kedalam minyak
yang telah dipanaskan sebelumnya.
4) Campuran tersebut direaksikan selama satu jam.
5) Setelah 1 jam minyak tersebut diangkat dan didinginkan.

16

3.3.2.

Reaksi Trans Esterifikasi


Setelah minyak didinginkan dan dihilangkan alkoholnya, kemudian

dilanjutkan dengan reaksi transesterifikasi yaitu :


1) Minyak yang telah terbentuk pada reaksi esterifikasi dipanaskan kembali
pada suhu 70C.
2) Setelah mencapai temperature 70C, minyak tersebut ditambahkan dengan
campuran metanol dan katalis KOH dalam jumlah tertentu.
3) Campuran minyak, alcohol dan KOH tersebut direaksikan selama satu
jam, reaksi ini berlangsung pada kondisi batch.
4) Setelah 1 jam minyak tersebut diangkat dan didinginkan, serta alkoholnya
dihilangkan.
5) Campuran tersebut ddiiamkan selama 24 jam agar terlihat dua lapisan
yaitu lapisan atas metal ester dan lapisan bawah berupa gliserol, kemudian
kedua lapisan tersebut dipisahkan dengan corong pemisah.
6) Metil ester yang telah terpisah kemudian dicuci dengan cara dicampurkan
dengan air yang telah dipanaskan pada suhu 50 C.
7) Selanjutnya didiamkan sampai terbentuk dua lapisan, kemudian dua
lapisan tersebut dipisahkan dengan corong pemisah. hal ini dilakukan beberapa
kali hingga hasil cucian terakhir terlihat bersih.
8) Terakhir, metil ester (biodiesel) dipanaskan sampai suhu 100 C agar kadar
alkohol yang masih ada pada biodiesel hilang.
9) Dengan variasi minyak & methanol (1:1, 1:1,5, 1:2), perbandingan katalis
H2SO4 (1%, 2%, dan 3%) serta perbandingan katalis KOH (1%, 2%, dan 3%)
dilakukan percobaan yang sama seperti diatas.
10) Metil Ester (biodiesel) dapat dianalisa.

17

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
4.1.

Data Pengamatan
Volume Minyak Jelantah

= 200 ml

Volume Metanol

= 100 ml

Volume HCl

= 4 ml

Massa Piknometer dengan Minyak

= 24,3 gr

Massa Piknometer dengan Metanol

= 23,1 gr

18

Massa Piknometer dengan HCl

= 25,3 gr

Massa Piknometer Kosong

= 14,9 gr

Volume Piknometer

= 10 ml

Massa Metanol

= 100 ml 0,82 gr/ml


= 82 gr

Densitas Minyak Jelantah

=
= 0,94 gr/ml

Massa Minyak Jelantah

= 200 ml 0,94 gr/ml


= 188 gr

Densitas HCl

=
= 1,04 gr/ml

Massa Katalis (HCl)

= 4ml 1,04 gr/ml


= 4,16 gr

Volume HCl

=
= 4 ml

Molaritas HCl

=
= 36,5

BM Minyak Jelantah

= 284 gr/mol

BM HCl

= 36,5 gr/mol

BM Metanol

= 32 gr/mol

BM Metil Ester (Metil Stearat)

= 298 gr/mol

BM Air

= 18 gr/mol

Reaksi Esterifikasi
C17H35COOH + CH3OH

C17H35COOCH3 + H2O

19

Asam Stearat
Katalis
4.2.

Metanol

Metil Stearat

Air

: HCl

Pengolahan Data
Untuk reaksi esterifikasi diperoleh data sebagai berikut:

4.2.1. Perhitungan Secara Teoritis


Mol Minyak Jelantah Mula-Mula

=
= 0,66197 mol
Mol Metanol Mula-Mula

=
= 2,56250 mol
C17H35COOH + CH3OH
m 0,66197mol

2,56250mol

0,66197mol

0,66197mol
-

C17H35COOCH3 + H2O
0,66197mol

1,90053mol

0,66197mol

Mol Metanol Bereaksi

0,66197mol
0,66197mol

= 1/1 Mol Minyak Jelantah


Mula-Mula
= 1/1 0,66197mol
= 0,66197mol

Mol Metanol Sisa

= Mol Metanol Mula-Mula Mol Metanol Bereaksi


20

= 2,56250mol 0,66197mol
= 1,90053mol
Massa Metanol Sisa

= Mol Metanol Sisa BM


Metanol
= 1,90053mol 32 gr/mol
= 60,81696 gr

Mol Metil Ester (Metil Stearat)

= 1 Mol Minyak Jelantah


= 1 0,66197mol
= 0,66197mol

Massa Metil Ester (Metil Stearat)

= Mol Metil Ester (Metil


Stearat) BM Metil Ester
(Metil Stearat)
= 0,66197mol 298 gr/mol
= 197,26706 gr

Mol Air

= 1 Mol Minyak Jelantah


= 1 0,66197mol
= 0,66197mol

Massa Air

= Mol Air BM Air


= 0,66197mol 18 gr/mol
= 11,91546 gr
Tabel 4.1. Material Balance Secara Teori

No
1.
2.
3.
4.
Total

Material
Minyak Jelantah
Metanol
Metil Ester (Metil
Stearat)
Air

Input (gram)
188
82
-

Output (gram)
60,81696
197,26706

270

11,91546
269,99948

4.2.2. Perhitungan Secara Praktek


Mol Air

= 1 Mol Metil Ester


= 1 0,16845 mol
= 0,16845 mol

21

Massa Air

= Mol Air BM Air


= 0,16845 mol 18 gr/mol
= 3,0321 gr

Massa Metil Ester Setelah Esterifikasi (M) = 50,20 gr


Mol Metil Ester

= 0,16845 mol
Mol Minyak Jelantah Mula-Mula

=
= 0,661971 mol
Mol Metanol Mula-Mula

=
= 2,5625 mol
C17H35COOH + CH3OH

C17H35COOCH3 + H2O

m 0,66197mol

2,56250 mol

0,16845 mol

0,16845 mol

0,16845 mol

0,16845 mol

0,49352 mol

2,39405 mol

0,16845 mol

0,16845 mol

22

Mol Metanol Bereaksi

= 1 Mol Metil Ester


= 1 0,16845 mol
= 0,16845 mol

Mol Metanol Bersisa

= Mol Metanol Mula-Mula


Mol Metanol Bereaksi
= 2,56250 mol 0,16845 mol
= 2,39405 mol

Massa Metanol Sisa

= Mol Metanol Sisa BM


Metanol
= 2,39405 mol 32 gr/mol
= 76,6096 gr

Mol Minyak Bereaksi

= 1 Mol Metil Ester


= 1 0,16845 mol
= 0,16845 mol

Mol Minyak Bersisa

= Mol Minyak Mula-Mula


Mol Minyak Bereaksi
= 0,66197mol 0,16845 mol
= 0,49352 mol

Massa Minyak Bersisa

= Mol Minyak Sisa BM


Minyak
= 0,49352 mol 284 gr/mol
= 140,15968 gr

Tabel 4.2. Material Balance Secara Praktek

No
1.
2.
3.
4.
Total

Material
Minyak Jelantah
Metanol
Metil Ester (Metil
Stearat)
Air

23

Input (gram)
188
82
-

Output (gram)
140,15968
76,6096
50,20

270

3,0321
273,03348

% Konversi Minyak

=
= 0,25446
= 25,446%
% Konversi Metanol

=
= 0,06573
= 6,573 %

24

BAB V
PEMBAHASAN
Proses pembuatan biodiesel umumnya dapat melalui satu tahap ataupun
dua tahap. Apabila reaktan yang digunakan adalah asam lemak dengan kandungan
free fatty acid yang kurang dari 5% maka cukup memalui satu tahap yaitu melalui
reaksi transesterifikasi. Pada rekasi transesterifikasi, yang terjadi adalah reaksi
antara asam lemak dan alkohol dengan bantuan katalis asam yang biasanya basa
kuat seperti natrium klorida menjadi meti ester dan gliserol. Akan tetapi, apabila
bahan baku yang digunakan adalah asam lemak yang kandungan free fatty acid
nya lebih dari 5% maka diperlukan dua tahap untuk membuat biodiesel yaitu
melalui

reaksi

esterifikasi

dan

kemudian

dilanjutkan

dengan

reaksi

transesterifikasi. Pada reaksi esterifikasi, asam lemak akan bereaksi dengan


alkohol dengan bantuan katalis asam kuat seperti asam klorida dan asam sulfat
membentuk metil ester dan air. Biasanya sebelum melakukan pembuatan
biodiesel, bahan baku berupa minyak dilakukan pengujian untuk mengetahui
kandungan free fatty acid nya.
Pada praktikum ini digunakan bahan baku yaitu minyak jelantah sebagai
reaktan. Minyak jelantah merupakan minyak goreng yang digunakan berulang kali
sehingga telah mengalami oksidasi yang menyebabkan kandungan trigliseridanya
pecah menjadi gliserol dan free fatty acid. Oleh karena itu, bahan baku tersebut
diasumsikan memiliki kandungan FFA lebih dari 5% sehingga perlu melalui
reaksi esterifikasi terlebih dahulu sebelum reaksi transesterifikasi. Pada praktikum
ini hanya dilakukan reaksi esterifikasi karena keterbatasan waktu. Tujuannya
adalah untuk mengurangi kandungan FFA pada minyak jelantah sampai dengan
kurang dari 5%. Hal ini dikarenakan apabila kandungan FFA pada minyak masih
tinggi dan langsung melalui reaksi transesterifikasi, maka reaksi yang terjadi
adalah reaksi penyabunan bukan reaksi transesterifikasi. Asam lemak justru akan
25

bereaksi dengan katalis basa pada reaksi transesterifikasi sehingga terbentuk


sabun dan buih. Padahal yang diharapkan adalah asam lemak dapat bereaksi
dengan alkohol. Pada praktikum ini menggunakan alkohol yaitu metanol.
Pada reaksi esterifikasi digunakan labu tiga leher, hal ini dikarenakan
setiap leher memiliki fungsinya masing-masing. Salah satu leher untuk meetakkan
thermometer untuk menjaga suhu rekasi, satu leher untuk membuka dan menutup
untuk mencampurkan bahan, dan satu leher lagi untuk meletakkan kondensor.
Kondensor diperlukan untuk mengkondensasikan metanol yang menguap, karena
titik didih metanol yang cukup rendah sekitar 650C. Air dingin sebagai fluida
pendinginan dialirkan dari bawah kondensor dengan tujuan untuk menambah
waktu kontak antara uap methanol dan air secara indirect dan juga suapaya
kondensor dapat terisi penuh.
Minyak jelantah awalnya dipanaskan terlebih dahulu tujuannya adalah
untuk memecah molekul minyak jelantah menjadi molekul-molekul yang lebih
kecil sehingga memperlua permukaan minyak jelantah dan akan semakin
mempermudah minyak jelantah untuk bereaksi dengan metanol. Asam sulfat
dicampurkan terlebih dahulu dicampurkan dengan metanol sebelum direaksikan
dengan minyak jelantah. Penambahan asam sulfat sebanyak 2% adalah hasil riset
yang menunjukkan konversi biodiesel yang optimum pada penambahan 2%
katalis. Katalis asam sulfat ini bekerja dengan cara menurunkan energi aktivasi
dari reaksi esterifikasi. Proses pemanasan dijaga pada temperatur 700C.
Digunakan pengadukan menggunakan magnetic stirrer yang berfungsi untuk
mendistribusikan panas yang diterima sehingga temperatur pada setiap titik labu
tiga leher adalah sama.
Semakin tinggi temperatur, maka reaksi akan semakin bergeser ke kanan,
sehingga konversi menjadi lebih banyak. Akan tetapi, pada temperatur tinggi,
metanol akan menjadi lebih cepat menuap sehingga perlu diimbangi dengan
penggunaan kondensor yang disusun secara seri. Penggunaan kondensor secara
seri memungkinkan massa metanol keluar pada celah-celah sambungan kondensor
pada fase uap. oleh karena itu, temperaturnya dijaga pada 700C. Selain dengan
temperatur, reaksi esterifikasi juga bergeser ke kanan dengan adanya excess
26

methanol atau reaktan yang digunakan. Sehingga reaksi dapat bergeser ke kanan
dengan lebih cepat. Penggunaan alkohol yang terlalu sedikit atau kurang dari yang
dibutuhkan akan menyebabkan reaksi esterifikasi bergeser ke kiri.
Proses esterifikasi akan lebih efektif apabila pemanasan dilakukan selama
dua jam. Akan tetapi, karena keterbatasan waktu maka hanya direaksikan selama
satu jam. Terjadi perubahan warna pada minyak jelantah yang sebelumnya cokelat
kehitaman menjadi kuning. Selain itu juga terbentuk dua lapisan yaitu top product
berupa metil ester kasar, dan bottom product berupa air dan katalis asam sulfat
yang tidak ikut terkonversi. Metil ester yang terbentuk masih kasar atau belum
murni sehingga perlu dilanjutkan dengan reaksi tranesterifikasi untuk memperoleh
metil ester atau biodiesel. Hasil reaksi esterifikasi tersebut dipisahkan dengan
menggunakan corong pemisah.

27

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Dari praktikum reaksi esterifikasi yang telah dilakukan maka diperoleh
beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1) Reaksi esterifikasi menggunakan minyak jelantah dan metanol sebagai
reaktan membutuhkan bantuan katalis yaitu asam sulfat untuk menghasilkan
metil ester dan air dengan cara menurunkan energi aktivasi .
2) Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi esterifikasi adalah jumlah katalis,
jenis katalis, lamanya proses pemanasan, pengadukan, dan excess metanol.
3) Esterifikasi bertujuan untuk menurunkan free fatty acid (FFA) sebelum
melalui reaksi transesterifikasi untuk mengahsilkan biodiesel yang baik.
4) Semakin tinggi temperatur dan semakin banyak excess metanol maka reaksi
esterifikasi akan semakin bergeser ke kiri.
5) Pengadukan dengan magnetic stirrer bertujuan untuk mendistribusikan panas
sehingga temperatur pada setiap titik pemanasan sama.
6.2. Saran
1) Pada proses pemanasan, sebaiknya suhu tetap dijaga pada temperature 70 0C
agar reaksi esterifikasi dapat berjalan sempurna.
2) Sebaiknya alat-alat yang akan digunakan berada dalam kondisi bersih dan
praktikan teliti dalam pengukuran sehingga hasil pengukuran dapat akurat.
3) Sebaiknya selama praktikum menggunakan masker, karena metanol
merupakan senyawa yang mudah menguap dan bersifat racun.

28

LAMPIRAN

Gambar 1. Rangkaian Alat

Gambar 2. Hasil Reaksi Esterifikasi

29