Anda di halaman 1dari 4

Sajadah Panjang Reformasi

oleh
Rizal Bagus Rahman
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Padjadjaran
Surel: rizal13006@mail.unpad.ac.id

Negeri ini sedang menikmati perannya sebagai bahan perbincangan di berbagai ruang
dan kesempatan, bahkan menerobos segenap perbedaan-perbedaan dalam masyarakat
setidaknya dari obrolan yang sedikit santai bertemankan kopi dan gorengan sampai forumforum ilmiah oleh ilmuwan dan politikus berjas rapi. Kadang-kadang membahas nasib negeri,
sesekali mengutuk praktik korupsi, atau rangkaian kritikan yang diekspresikan melalui puisi
atau demonstrasi. Kenikmatan mengeluarkan pendapat seperti ini tidak akan pernah dialami
dengan begitu bebasnya setelah rezim Orde Baru berhasil ditumbangkan ramai-ramai di
pertengahan tahun 1998. Kekecewaan demi kekecewaan menjadi alasan yang sangat kuat
bagi kekuatan sosial waktu itu yang kemudian mendorong mereka memberanikan diri tumpah
ruah ke jalanan; membuka mimbar-mimbar bebas, menuntut perubahan, mendesak
pemerintahan baru, demi sebuah tujuan mulia, reformasi Indonesia.
Banyak kalangan merasa terpanggil dengan gaung reformasi yang lantang disuarakan
beberapa pihak. Sedikit banyaknya mereka adalah kaum terdidik yang mengidentifikasikan
diri sebagai mata-telinga rakyat. Mereka adalah kaum terpelajar, sebut saja mahasiswa, dan
akademisi-akademisi, juga tak sedikit agamawan dan negarawan yang ikut andil merapat
dalam barisan (reformasi). Soeharto, sang penguasa Orde Baru, bergeming melihat gejalagejala penuh drama perjuangan itu. Pikirnya, keadaan genting yang dihadapi Indonesia justru
akan semakin memburuk jika dirinya pergi dari Istana. Tetapi, rakyat berkehendak lain dan
terus menguatkan harapan dan upaya-upaya konkrit dalam mempercepat perubahan.
Sublimasi Kekecewaan
Krisis moneter yang melanda kawasan Asia di tahun 1997, setidaknya telah
menyebabkan pukulan sendiri bagi perekonomian di negara-negara berkembang, seperti
Thailand, Malaysia, termasuk Indonesia. Kejatuhan nilai tukar, disusul dengan rontoknya
bursa

saham,

menyebabkan

ketidakstabilan

yang

mahadahsyat

pada

sendi-sendi

perekonomian Indonesia. Banyak bank yang gulung tikar sehingga modal dan investasi
kabur ke luar negeri. Para pemilik uang ketakutan dengan kondisi yang tak pasti.
Pemerintah Orde Baru setia dengan gaya yang begitu dingin, Main rapi, kerja apik (baik),

rakyat hepi. Padahal, kondisi seperti ini berdampak laten terhadap berbagai aspek secara
horisontal. Misalnya, jatuhnya nilai tukar rupiah yang begitu signifikan menyebabkan hargaharga bahan pokok melonjakbahkan tak sedikit komoditas menjadi sulit didapatkan
bersamaan dengan daya beli masyarakat yang semakin menukik tajam. Ekonomi dirasa
sangat sulit, jauh berbeda dengan kepastian kesejahteraan yang telah dibuktikan rezim selama
lebih dari tiga dasawarsa terakhir.
Permasalahan di bidang ekonomi belum seberapa, dibandingkan dengan dampak yang
serius pada ruang sosial-politik masyarakat Indonesia waktu itu. Sebenarnya pada penetapan
Kabinet Pembangunan ke VII pada medio Maret 1998, suara sumbang tentang suksesi
kepemimpinan nasional sudah semakin kencang terdengar sampai telinga Soeharto. Seperti
yang diceritakan Emha Ainun Nadjib1, bahwa Soeharto mulai ragu terhadap suara MPR/DPR
akan jabatan Presiden lima tahun ke depan; namun lagi-lagi sebagai raja Jawa yang begitu
agung dan bijaksana, Soeharto begitu mempercayai patih-patih di sekelilingnyabahwa
rakyat masih mempercayainya. Pemerintahan tetap berjalan, sedangkan rakyat dan gerakan
mahasiswa dari hari ke hari kian kuat. Meminjam istilah Durkheim, bahwa solidaritas organis
pada masyarakat dapat dilihat dari kolektivitas antardimensi yang begitu memuncak
menuntut adanya perubahan pada aras pemerintahan nasional.
Klimaks yang penulis singgung pada awal tulisan ini, sebenarnya adalah kekecewaan pada
praktik pemerintahan Orde Baru yang otoriter, koruptif, dan anti-kritik. Kebebasan
berpendapat menjadi barang mahal, meskipun kesejahteraan diupayakan begitu nyata melalui
paket kebijakan lima tahunan. Krisis sosial seperti ini menjadi bom waktu yang telah
menemukan momentum terbaiknya pada pertengahan 1998, ketika para tokoh nasional
mengamini pendapat umum di tingkat akar rumput akan lahirnya reformasi melalui turunnya
Soeharto dan jajarannya dari pemerintahan. Agenda reformasi dimulai.
Mahasiswa sebagai Kontrol Sosial
Membincangkan peristiwa reformasi, banyak kalangan akan mengasosiasikannya
dengan peran mahasiswa yang tidak begitu saja dapat disampingkan. Menjadi sebuah
kekhasan tersendiri dalam ruang sosial-kemasyarakatan di Indonesia, bahwa (gerakan)
1 Dapat dilihat dalam tulisan Fahmi Agustian, Kronik Mei 1998, dalam
http://kenduricinta.com/v5/kronik-mei-1998/. Emha Ainun Nadjib, atau Cak Nun,
merupakan salah satu saksi hidup yang menyaksikan proses reformasi
berlangsung pada tahun 1997-1998.

mahasiswa tidak hanya memiliki tanggung jawab akademik semata, melainkan terhimpun
dalam sebuah kekuatan sosial (social power) yang juga berfungsi sebagai kontrol sosial
(social control) pada rezim yang berkuasa. Pemerintah Orde Baru dikenal anti-kritik. Alihalih mewujudkan stabilitas nasional, pendapat-pendapat mahasiswa dikebiri dengan sangat
sistematis. Untuk sementara waktu, suara mahasiswa dapat dikendalikan dan pada akhirnya
tersalurkan melalui kanal opini berupa tulisan-tulisan di surat kabar atau majalah. Suasana
yang berbeda justru terlihat pada tahun 1998, ketika stagnasi dan kekacauan terlihat
memprihatinkan hampir di seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara; ekonomi,
sosial, politik, budaya, bahkan pertahanan dan keamanan negara. Negara dipandang rentan
untuk gagal dan dengan sangat mudah terjadi konflik hebat setelah 1965. Satu-satunya obat
mujarab dalam setiap tuntutan mahasiswa untuk menyembuhkan luka waktu itu adalah
lengsernya Soeharto. Pergerakan mahasiswa semakin berani menuju ke jalan-jalan. Tokohtokoh reformis bermunculan, seperti Amien Rais, Abdurrahman Wahid, Megawatiyang di
kemudian hari membentuk Poros Ciganjur. Militer menyatakan tetap setia pada Pemerintah.
Kekuatan kaum sipil yang diwakili mahasiswa semakin gerah.
Pada setiap perubahan diperlukan pengorbanan. Tampaknya adagium tersebut terbukti
ketara ketika empat mahasiswa harus meregang nyawa ketika demonstrasi dipertontonkan
kepada penguasa. Di bawah ujung senjata, gerakan mahasiswa tak gentar untuk maju
menyuarakan perubahan. Sementara di lingkaran Istana, perbincangan mengenai modelmodel reformasi sedang disepakati, meski pun pada akhirnya menemui jalan buntu. Soeharto
enggan mempertajam perpecahan. Ia menyatakan berhenti dari jabatannya. Kamis, 21 Mei
1998, pernyataan tersebut diucapkan Soeharto dalam pidato pengunduran dirinya. Rakyat
bersorak bergembira. Harapan terbesar dari sekian banyak gerakan sosial di tingkat
masyarakat telah terbuka lebar. Negara tidak benar-benar selamat. Seperti apa reformasi yang
sebenarnya diharapkan?
Pertanyaan itu agaknya semakin relevan untuk ditemukan jawabannya pada hari ini.
Selama 17 tahun pasca reformasi, perubahan akan perbaikan kesejahteraan masyarakat belum
benar-benar terlunaskan. Tidak sedikit bahkan beberapa kalangan menyangsikan jika
reformasi sebenarnya memperburuk keadaan. Sajadah panjang bernama reformasi belum
selesai. Ia masih harus membentang panjang, menerima setiap kening yang bersujud
bersungguh-sungguh mengadakan perubahan sebagaimana yang diserukan pada tahun 1998.
Reformasi menjadi cita-cita bersama akan sebuah keadaan Indonesia yang jauh lebih baik
terus-menerus. Sebelum bahtera besar ini karam, rakyat sebagai awak dan Pemerintah

sebagai nakhoda harus benar-benar tahu arah angin. Mari arahkan kembali reformasi ini pada
sebenar-benarnya janji perbaikan bagi seluruh rakyat Indonesia, Pemuda.

....dan perhatikanlah apa yang akan kamu lakukan pada esok hari...

Sumber Referensi
Agustian,

Fahmi.

(2015).

Kronik

Mei

1998.

Tulisan

bunga

rampai

dalam

http://kenduricinta.com/v5/kronik-mei-1998/ . Diakses 13 November 2015


Novianto, Arif. (2015). Kemana Arah Gerakan Mahasiswa; Dari Refleksi Menuju Aksi.
Tulisan Opini dalam http://indoprogress.com/2015/03/kemana-arah-gerakan-mahasiswasekarang-dari-refleksi-menuju-aksi/ . Diakses 13 November 2015.
http://www.sejarah-negara.com/2014/04/kronologi-reformasi-indonesia-tahun-1998.html
Diakses 13 November 2015.
https://tutinayati.wordpress.com/2013/03/21/gagasan-integrasi-masyarakat-emile-durkheimsolidaritas-mekanis-dan-solidaritas-organis/ . Diakses 13 November 2015