Anda di halaman 1dari 11

AMJ June, 2014

Status Gizi Pasien Skizofrenia di Departemen


Psikiatri
Rumah Sakit Umum Dr. Hasan Sadikin
Tiara Aulia Maisyarah1, Gaga Irawan Nugraha2, Lynna Lidyana3
Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran, Department of Nutritional Sciences,
Faculty of
Medicine, Universitas Padjadjaran, Department of Psychiatry, Faculty of Medicine,
Universitas
Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital
Abstrak
Latar Belakang: Saat ini Skizofrenia merupakan suatu penyakit mental dengan
komorbiditas yang tinggi akibat perubahan gaya hidup, faktor predisposisi, dan
dampak mengonsumsi obat antipsikotik
yang membuat penderita kerap mengalami perubahan berat badan. Oleh karena
itu, diperlukan deteksi dini perubahan berat badan pada pasien skizofrenia
sebagai pertimbangan penyusunan tatalaksana yang komprehensif.
Metode: Studi deskriptif potong lintang ini dilakukan untuk mengetahui status
gizi pasien skizofrenia
di Klinik Rawat Jalan Departemen Psikiatri Sub Bagian Dewasa Rumah Sakit Dr.
Hasan Sadikin Bandung. Pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) dan lingkar
pinggang dilakukan pada 94 pasien skizofrenia dewasa. Wawancara mengenai
pekerjaan juga dilakukan untuk mengetahui tingkat aktifitas fisik, riwayat
pengobatan responden didapatkan melalui rekam medis.
Hasil: Dari 94 responden (65 pria dan 29 wanita) mayoritas berusia 2837 tahun
(29.8%). Sebanyak
46.8% responden memiliki IMT normal, 45.74% responden adalah overweight,
dan 7.45% termasuk dalam kategori underweight. Responden pria memiliki
ukuran lingkar pinggang yang mayoritas normal (78%), sedangkan wanita
sebagian besar memiliki ukuran lingkar pinggang di atas normal (52%). Tingkat
aktifitas fisik responden rata-rata tergolong ringan (67%). Kebanyakan
responden diberikan obat antipsikotik tipikal tunggal (46%) dan sebanyak 63%
telah mengonsumsi obat antipsikotik selama 05 tahun.
Simpulan: Mayoritas responden memiliki IMT yang normal dengan ukuran
lingkar pinggang wanita lebih tinggi dibandingkan dengan pria.
Kata Kunci: Status Gizi, Psikiatri, Skizofrenia
Pendahuluan
Skizofrenia adalah penyakit mental dengan prevalensi 1% dari total populasi
dunia. Penyakit ini sering ditemukan antara usia 15 hingga 55 tahun, dengan
insiden yang lebih tinggi pada laki-laki. 1,2 Skizofrenia dikenal sebagai penyakit
mental yang memberikan dampak besar pada hampir semua aspek kehidupan
pasien, yang sering menyebabkan kesulitan dalam interaksi dengan orang lain. 2
Saat ini, skizofrenia dikaitkan dengan banyak masalah kesehatan karena
perubahan berat badan akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas. 3 Dapat
juga disebabkan oleh predisposisi faktor genetik, perubahan gaya hidup, dan
konsumsi obat antipsikotik (APDs).4 Perubahan pada berat badan merupakan
1 . Althea Medical Journal.2014;1(1)

AMJ June, 2014


masalah umum yang ditemukan di pasien skizofrenia, mereka mungkin
mengalami penigkatan berat badan atau sebaliknya. Penurunan berat badan,
dapat disebabkan oleh hipophagia, diet ketat, dan masalah kesehatan lainnya,
yang biasanya ditemukan pada awal perawatan. 5 Di sisi lain, gaya hidup pasien
skizofrenia banyak yang menyukai makanan berlemak dan mengkonsumsi
sedikit sayuran, diperburuk oleh sisi efek samping penggunaan obat antipsikotik
yang menyebabkan dampak yang besar dengan meningkatkan risiko obesitas
untuk 2-3 kali lebih besar dari populasi umum. 4 Peristiwa ini selanjutnya akan
meningkatkan kejadian kematian dini akibat gangguan pada kardiovaskuler. 6
Selama perawatan, pasien diberikan antipsikotik (APDs) yang bekerja
dengan menghalangi reseptor dopamin, selain mengobati gejala positif dari
skizofrenia seperti halusinasi dan delusi, dopamin juga dapat merangsang nafsu
makan dan menyebabkan gangguan metabolisme. 7 Meningkatnya penggunaan
obat antipsikotik atipikal akan meningkatkan insiden peningkatan berat badan
yang drastis pada pasien skizofrenia. Hiperglikemia dan diabetes merupakan
komplikasi kedepan yang akan meningkatkan angka komorbiditas dan mortalitas,
dimana obesitas dan mengkonsumsi obat antipsikotik adalah faktor risiko
terbesar untuk pengembangan penyakit diabetes pada schizophrenia. 8
Masalah kesehatan pada orang dengan skizofrenia umumnya sulit untuk
didiagnosa, karena keterlambatan dalam treatment. 8 Ini terjadi karena kesulitan
pasien untuk mengekspresikan keluhan. Selain itu, sebanyak 60% dari masalah
kesehatan tidak terdeteksi karena rendah monitoring oleh pelayanan kesehatan.
Komorbiditas dapat dicegah dengan deteksi dini untuk pengobatan dini,
termasuk melalui modifikasi gaya hidup.8
Kesehatan fisik pasien skizofrenia merupakan masalah penting untuk
diperhatikan ketika akan mempersiapkan perawatan komperhensif. 9 Penilaian
status gizi, seperti pengukuran indeks massa tubuh dan pinggang lingkar,
diharapkan dapat mendeteksi risiko faktor-faktor yang dapat meningkatkan
komorbiditas dan mortalitas.10
Metode
Penelitian ini adalah deskriptif potong lintang yang dilakukan dari Oktober 2012.
Pasien di kumpulkan dari Klinik Rawat Jalan bagian Psikiatri Rumah Sakit Umum
Dr Hasan Sadikin, Bandung-Indonesia yang didiagnosis sebagai penderita
skizofrenia menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder 4 th
Edition (DSM-IV) dengan usia 18 tahun dengan menerima penjelasan tentang
tujuan dan manfaat dari penelitian sambil ditemani keluarga mereka. Informed
consent ditandatangani untuk menunjukkan pemahaman keluarga dan izin untuk
memasukkan pasien sebagai subjek penelitian. Anggota keluarga yang diizinkan
untuk memberikan persetujuan untuk partisipasi pasien adalah orang tua / wali /
kerabat / induk semang, berusia 21 tahun / menikah, dengan kondisi mental
yang sehat. Pasien yang tidak diantar dengan anggota keluarga ketika penelitian
berlangsung dikeluarkan dari subjek penelitian.

2 . Althea Medical Journal.2014;1(1)

AMJ June, 2014


Sebanyak 94 subjek diambil dengan menggunakan teknik pengambilan
sampel berturut-turut. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
subjek penelitian dengan karakteristik umur, jenis kelamin, dan diagnosis subtipe
skizofrenia (ditegakkan oleh seorang psikiater yang diperoleh dari rekam medis).
Status gizi ditentukan dengan menghitung indeks massa tubuh (IMT) (berat
badan (kg)) / (tinggi badan (m 2)) kemudian diklasifikasikan berdasarkan indeks
masa tubuh di kawasan Asia Pasifik yang dibuat dari WHO:

Tabel 1. Semua Karakteristik dari Subjek Penelitian (n=94)


Variabel
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan

Frekuensi

Persentase

65
29

69,1
30,9

Usia (tahun)
18-27
28-37
38-47
48-57
58-67

17
28
27
18
4

18,1
29,8
28,7
19,1
4,3

Diagnosis subjek penelitian


Skizoprenia hebeprenik
Skizoprenia paranoid
Depresi pasca skizoprenia
Skizoprenia residual
Skizoprenia tidak terperinci

15
67
2
3
7

16
17,3
2,1
3,2
7,4

Obat antipsikosis yang digunakan


pasien
APDs tipikal
APDs atipikal
Kombinasi APDs tipikal dan atipikal
Kombinasi dua APDs tipikal

43
21
7
23

45,5
22,3
7,4
24,5

Durasi waktu pengobatan


1-5 tahun
6-10 tahun
11-15 tahun

68
16
10

72,3
17
10,6

3 . Althea Medical Journal.2014;1(1)

AMJ June, 2014


Tingkat aktivitas fisik
Ringan
Aktif
Berat

63
25
6

67
26,6
6,4

berat badan kurang (<18,5), normal (18,5-22,9), dan berat badan berlebih (
23). Hasil pengukuran lingkar pinggang dibandingkan dengan standar Asia dari
WHO: tinggi jika> 90 cm untuk laki-laki dan >80 cm untuk wanita. Informasi
tingkat aktivitas fisik diperoleh dari wawancara tentang kegiatan subjek seharihari. Klasifikasi itu sebagai berikut: (1) ringan; mereka dengan kegiatan yang
tidak memerlukan banyak energi, ini merupakan salah satu contoh gaya hidup.
(2) aktif; mereka dengan tingkat aktivitas yang ringan, yang berarti bahwa
mereka secara teratur melakukan aktivitas dan pada waktu tertentu melakukan
aktivitas berat. (3) berat; orang-orang yang bekerja keras selama beberapa jam
secara teratur, misalnya, perenang, seorang petani (tanpa mesin) dan pekerja
yang mengangkat beban berat.11
Sejarah pengobatan juga capai berdasarkan pada dua hal: (1) Jenis
antipsikotik obat yang dikonsumsi (obat antipsikotik lalu dikonsumsi saat
penelitian berlangsung), (2) Lama pengobatan (yang mencakup periode sejak
subjek mulai menggunakan obat antipsikotik untuk pertama kalinya sampai
waktu penelitian berlangsung.) Data diolah lebih lanjut dan dianalisis sesuai
dengan metode deskriptif, menggunakan aplikasi SPSS (untuk windows) untuk
mencari frekuensi dan untuk membuat tabulasi silang.
Hasil
Enam puluh lima laki-laki dan 29 perempuan mulai usia mulai 18 hingga 67
tahun berpartisipasi dalam penelitian ini, dimana 28 orang atau (29,8%) berada
pada kelompok usia 28-37 tahun (Tabel 1). Mayoritas subjek penelitian 33 orang
(35,1%) tidak memiliki pekerjaan. Ada 71% subyek penelitian yang menderita
skizofrenia paranoid. Lebih banyak subjek penelitian yang mendapat obat
antipsikotik (ADPs) tipikal (46%) dibandingkan dengan atipikal (22%). Sekitar
24% dari subyek penelitian diberikan dua obat kombinasi antipsikotik tipikal.
Persentase ini lebih tinggi dari jumlah obat antipsikotik yang diberikan untuk
jenis tipikal dan atipikal (22%). Haloperidol menjadi obat antipsikotik peringkat
pertama yang diresepkan pada subjek penelitian (64,9%), diikuti oleh risperidone
(21,3%).
Sebagian besar subyek (72%) telah menggunakan obat antipsikotik
selama periode 0-5 tahun dan lebih sedikit subjek yang telah menggunakan obat
antipsikotik setelah rentang waktu itu. Subjek dengan indeks massa tubuh
normal (46,81%) merupakan frekuensi tertinggi dibandingkan dengan lainnya
kategori (tabel 2), namun terdapat perbedaan yang sangat kecil dari persentase
subyek penelitian dimana 45,74% subjek memiliki indeks massa tubuh berlebih
(Tabel 2). Mayoritas subjek laki-laki memiliki lingkar pinggang 90 cm (78%),
sedangkan untuk subjek perempuan hampir sama di kedua kategori. Sebagian
besar subyek (67%) memiliki tingkat aktifitas fisik ringan.
4 . Althea Medical Journal.2014;1(1)

AMJ June, 2014


Indeks massa tubuh (BMI) yang normal dan berlebih ditemukan di semua
kelompok umur (Tabel 3). Dari total subyek penelitian (n=94), persentase BMI
normal tertinggi terjadi pada kelompok usia 38-47 tahun (16%). Persentase
tertinggi berat badan berlebih ditemukan di kelompok usia 48-57 tahun (55,6%).
Sebagian besar subyek yang diberi antipsikotik (APDs) tipikal memiliki BMI yang
normal (53,5%). Sebaliknya, subyek yang mengkonsumsi antipsikotik (APDs)
atipikal mengalami kelebihan berat badan (61,9%). Namun, ada juga subyek
dengan kelebihan berat badan ditemukan pada kelompok yang mengkonsumsi
antipsikotik (APDs) tipikal (18,1%). Pengguna haloperidol yang memiliki BMI
normal (52,5%). Namun, konsumsi haloperidol dikombinasikan dengan CPZ
menyebabkan sebagian besar subjek memiliki berat badan berlebih (52,4%).
Penggunaan obat quetiapine, olanzapine (tunggal dan + CPZ), clozapine dan
pengguna aripiprazole juga menyebabkan kelebihan berat badan.
Dari semua subjek penelitian yang menggunakan abat antipsikotik (APDs)
selama 0-5 tahun 32 orang (47,1%) memiliki berat badan berlebih. Subjek yang
memiliki BMI normal dan berlebih terdapat pada semua kelompok usia, namun
BMI yang kurang pada kelompok ini tidak ada, APDs diberikan pada usia 11-15
tahun.
Tabel 2. Status Nutrisi Pasien
Variabel
BMI
Kurang
Normal
Lebih

Frekuensi

Presentase

7
44
43

7,4
46,8
45,7

Lingkar pinggang
Laki-laki
90
> 90

51
14

54,3
14,9

Perempuan
80
> 80

14
15

14,9
16

Diskusi
Mayoritas subjek penelitian memiliki BMI normal (46,81%), sebuah temuan yang
mirip dengan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Sadhya et al. 5 yang
menulis mengenai status gizi pasien skizofrenia di klinik rawat jalan suatu rumah
sakit di Dhaka. Kegemukan pada pasien skizofrenia dapat dipengaruhi oleh
banyak hal, seperti genetika, gaya hidup, dan obat antipsikotik yang digunakan. 4
Terdapat hubungan yang signifikan antara kelebihan berat badan dengan obat
efek samping antipsikotik (terutama untuk kelompok obat atipikal); konsumsi
APDs adalah faktor risiko utama untuk obesitas pada pasien penderita
skizofrenia.8 Obat ini merangsang nafsu makan dan kecenderungan untuk
5 . Althea Medical Journal.2014;1(1)

AMJ June, 2014


mengonsumsi makanan manis atau berlemak, karena obat memberikan efek
langsung pada sistem saraf dan metabolisme yang mengontrol rasa kenyang dan
penurunan berat badan. Faktor-faktor lain, seperti tingkat aktivitas fisik yang
kurang akibat gangguan mental, diperkirakan sebagai faktor risiko lainnya. Kita
harus waspada terhadap kondisi ini karena akan meningkatkan angka kejadian
kematian dini akibat gangguan kardiovaskular yang umum terjadi pada pasien
schizophrenia.7 Selain itu, subjek penelitian juga ditemukan dengan kondisi
kurus, yang mungkin disebabkan oleh hypophagia, diet ketat, dan masalah
kesehatan lain.5 Faktor lain yang mungkin berhubungan adalah faktor sosial
ekonomi kurang sehingga kurang mampu memenuhi kebutuhan gizi seimbang
untuk tubuhnya.
Tabel 3. Semua Karekteristik Pasien yang Masuk kedalam Penelitian
Konsep umum
Kurang
Usia (tahun)
18-27
28-37
38-47
48-57
58-67

5,9
21,4
0
0
0

BMI (%)
Normal
52,9
35,7
55,6
44,4
50

Obat antipsikosis yang digunakan pasien


APDs tipikal
7
53,5
APDs atipikal
4,8
33,3
Kombinasi
APDs
0
71,4
tipikal dan atipikal
Kombinasi
dua
13
39,1
APDs tipikal
Durasi waktu pengobatan
1-5 tahun
7,4
45,6
6-10 tahun
12,5
43,8
11-15 tahun
0
60
Note: BMI= body mass index

Berlebih
41,2
42,9
44,4
55,6
50

39,5
61,9
28,6
47,8

47,1
43,8
40

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa risiko pada wanita lebih besar,
dengan lingkar pinggang >80 cm (52%) dan pada laki-laki menujukkan risiko
lebih kecil dengan lingkar pinggang 90 cm (78%). Temuan ini bertentangan
dengan Hasil penelitian yang dilakukan di Malaysia mengenai status gizi pasien
skizofrenia di Klinik Rawat Jalan Rumah Sakit Universiti Kebangsaan Malaysia,
penelitiannya menunjukkan bahwa lingkar pinggang lebih besar pada kelompok
laki-laki.12
Banyak subyek dalam penelitian ini dikategorikan dengan tingkat aktivitas
fisik ringan. Kondisi ini merupakan faktor risiko untuk kenaikan berat badan. Pada
pasien skizofrenia, kenaikan berat badan karena aktivitas minimal bisa ditambah
dengan peningkatan nafsu makan karena efek samping oabat antipsikotik. 7

6 . Althea Medical Journal.2014;1(1)

AMJ June, 2014


Berdasarkan informasi yang diperoleh dari klinik, semua pasien
menggunakan asuransi kesehatan, yaitu Jamkesmas atau Askes, sehingga obat
antipsikotik (APDs) dapat diperoleh secara gratis. Namun, ada perbedaan dosis
obat untuk setiap perusahaan asuransi; hanya tiga jenis APD yang tersedia untuk
pengguna Jamkesmas, obat antipsikotik tipikal yang ditanggung (haloperidol,
klorpromazin, dan trifluoperazine), sementara obat dan dosis APDs pengguna
Askes pengguna lebih bervariasi, obat antipsikotik tipikal yang ditanggung
seperti dalam Jamkesmas, dengan penambahan obat antipsikosis atipikal yaitu
clozapine, olanzapine, risperidone, dan quetiapine. 13,14
Haloperidol adalah obat tipikal APDs yang paling umum dikonsumsi.
Alasannya adalah karena haloperidol efektif mengurangi positif gejala dan sudah
tersedia di asuransi kesehatan Jamkesmas dan Askes.
Tidak seperti obat APDs tipikal, APDs atipikal merupakan obat antipsikotik
efektif untuk meredakan gejala baik positif dan negatif dan mereka cenderung
'aman' karena kurangnya efek ekstrapiramidal dibandingkan dengan golongan
obat APDs tipikal.15 Kelompok APDs atipikal tidak tersedia bagi penggunan
Jamkesmas, sehingga obat hanya dapat diresepkan untuk pengguna Askes.
Sedikit subyek penelitian yang perlu diresepkan APDs atipikal diresepkan APDs
tipikal menunjukkan hasiat obat yang sensitif sehingga APDs atipikal tidak
diperlukan.
Sebanyak 72,3% subjek telah menggunakan obat antipsikotik dalam
rentang 0-5 tahun. Presentase yang tinggi ini dapat menjadi alasan tingginya
efek samping obat seiring dengan kepatuhan pasien. Sedikit subjek penelitian
yang menggunakan obat selama lebih dari 5 tahun hal tersebut mungkin
disebabkan penurunan kepatuhan subjek memeriksakan kesehatannya setiap
bulan sepanjang hidupnya dan secara tidak langsung meningkatkan angka
kematian pasien skizofrenia.
Ada hubungan antara indeks massa tubuh dan usia. Berat badan
meningkat sampai usia 49 tahun dan menurun sedikit setelah 50 tahun.
Peningkatan berat badan di usia pertengahan disebabkan oleh akumulasi lemak
lebih banyak karena peningkatan intake makanan yang tinggi dan diet kaya
lemak. Penurunan berat badan pada lansia adalah karena penurunan massa otot
yang disebabkan oleh berkurangnya asupan protein dan penurunan ukuran dan
jumlah serat otot, massa mineral dalam tulang yang disebabkan oleh penyakit
degeneratif.16

7 . Althea Medical Journal.2014;1(1)

AMJ June, 2014

Sebanyak 53,5% dari subyek yang diberikan APDs tipikal dikategorikan


memiliki BMI normal. Ini didukung oleh penelitian dilakukan oleh Czobor et al. 17
mengenai efek APDs tipikal, yaitu haloperidol, menyatakan bahwa jenis
antipsikotik ini setidaknya memiliki berpengaruh signifikan terhadap kelebihan
berat badan daripada obat antipsikotik lainnya. Ada juga penelitian lain, suatu
meta-analisis oleh Alisson et al.18 disebutkan bahwa haloperidol masih bisa
meningkat sebanyak 0,48 kg tubuh berat badan setelah sepuluh minggu,
sementara trifluoperazine tidak menyebabkan kenaikan berat badan yang
signifikan.
Sebaliknya, adanya kelebihan berat badan pada subyek penelitian yang
menggunakan APDs atipikal. BMI yang normal masih ditemukan di banyak
pengguna risperidone. Risperidone serta haloperidol, tidak menyebabkan
peningkatan berat badan yang signifikan.18 Clozapine dan olanzapine adalah dua
APDs atipikal yang terkait dengan tinggi angka kematian akibat penyakit
kardiovaskular disebabkan oleh tingginya berat badan. 18 Berdasarkan literatur,
dapat terjadi peningkatan 3,5-4 kg berat dalam sepuluh minggu pertama
clozapine / konsumsi olanzapine dan akan terus meningkat, terutama untuk
pasien yang menjalani terapi jangka panjang. 5
Perubahan berat badan akan terus terjadi di suatu periode tertentu. Pada
pasien yang memakai clozapine, kenaikan berat badan akan terjadi mulai 46
minggu ( satu tahun).18 Berdasarkan uraian di atas, efek samping dari APDs di
tahun-tahun awal, adalah peningkatan berat badan yang melebihi batas normal,
sehingga memberikan dampak pada frekuensi yang lebih tinggi dari subyek
penelitian yang menggunakan obat dalam kelompok 0-5 tahun. 18 Sebagian orang
usia lanjut, kemampuan metabolisme tubuh akan menurun. Dengan konsumsi
APDs jangka panjang dan aktivitas fisik yang rendah, obesitas mungkin faktor
risiko setelah tahun pertama terapi.18
8 . Althea Medical Journal.2014;1(1)

AMJ June, 2014


Salah satu keterbatasan penelitian ini adalah asupan gizi yang tidak
diketahui dari penelitian sampel sebagai efek langsung pada status gizi. Selain
itu, tidak ada informasi yang tersedia pada BMI dan lingkar pinggang dari subjek
penelitian sebelum memulai pengobatan sehingga diketahui apakah subjek
mengalami setiap perubahan berat badan atau tidak.
Untuk menyimpulkan, sebagian besar subyek 'gizi status normal dalam
kaitannya dengan BMI. Mayoritas subjek penelitian laki-laki memiliki lingkar
pinggang yang normal, sedangkan sebagian besar wanita memiliki lingkar
pinggang yang lebih tinggi dari standar. Sebuah kontrol status gizi harus
dilakukan secara berkala setiap kali pasien datang kontrol setiap bulan.
Pasien dengan BMI yang berlebih dan lingkar pinggang karena faktor
nutrisi dan modifikasi gaya hidup. Namun, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan
dengan menambahkan penilaian gizi melalui laboratorium pengujian, seperti
profil lipid, kolesterol, dan penilaian glukosa darah sebagai faktor risiko untuk
deteksi dini. Selain itu, kesehatan umum pasien perlu di perhatikan sehingga
penelitian dampak besar bagi pasien skizoprenia.
DAFTAR PUSTAKA
1. McGrath J, Saha S, Chant D, Welham J.Schizophrenia: a concise overview of
incidence, prevalence, and mortality. Epidemiol Rev. 2008;30(1):6776.
2. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral
Sciences / Clinical Psychiatry. 10th ed. New York: Lippincott Williams & Wilkins;
2007. p. 46897.
3. Saha S, Chant DC, McGrath JJ. Meta analyses of the incidence and prevalence
of schizophrenia: conceptual and methodological issues. Int J Methods in
Psychiatr Res. 2008;17(1):5561.
4. Aquila R. Management of weight gain in patients with schizophrenia. J Clin
Psychiatry. 2002;63 Suppl 4:33-6
5. Sadhya G, Selimuzzaman, Islam R. Nutritional Status Psychiatric Patients
Attending OPD at a Selected Tertiary Hospital. TAJ. 2009;22(1):827.
6. Tandon R, Nasrallah H. Subjecting meta analyses to closer scrutiny: Little
support for differential efficacy among second generation antipsychotics at
equivalent doses. Arch Gen Psychiatry. 2006;63 (8):9357.
7. Teixeira PJR, Rocha FL. Metabolic side effects of antipsychotics and mood
stabilizers. Rev Psiquiatr Rio Gd Sul. 2006; 28(2):18696.
8. Nasrallah H. An overview of common medical comorbidities in patients with
schizophrenia. J Clin Psychiatry. 2005;66 Suppl 3:34.
9. MasExpsito L, Mazo A, Emeterio MS, Teixid M, LalucatJo L. Physical health
and schizophrenia in clinical practice guidelines and consensus statements. J
Addict Res Ther. 2012;S8(001):15.
10. World Health Organization. Fact sheet No 311: obesity and overweight..
Geneva: WHO Media Centre; 2011 [cited 2012 April 26]; Available from:
http://www.who.int/ mediacentre/factsheets/fs311/en/.
11. United Nations University, World Health Organization, Food and Agriculture
Organization of the United Nations. Human energy requirements: report of a
Joint FAO/WHO/UNU Expert Consultation Rome: FAO; 2004.
12. Ainsah O, Salmi R, Osman CB, Shamsul AS. Relationship between
antipsychotic medication and anthropometric measurements in patients with

9 . Althea Medical Journal.2014;1(1)

AMJ June, 2014


schizophrenia attending a psychiatric clinic in Malaysia. Hong Kong Journal of
Psychiatry. 2008;18(1):237.
13.Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 1455/MENKES/ SK/X/2010 tentang Formularium
Program Jaminan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia; 2010.
14. PT Asuransi Kesehatan. Keputusan Direksi PT Askes (Persero) Nomor 0437/
Kep/1111 tentang Daftar dan Plafon harga obat (DPHO) PT Askes (Persero)
Edisi XXXI Periode JanuariDesember 2012. Jakarta: PT. ASKES; 2011.
15.Amir N. Skizofrenia. In: Elvira SD, Hadisukanto G, editors. Buku ajar psikiatri.
Jakarta; Badan Penerbit FKUI. 2010. p. 1706.
16. Mungreiphy NK, Kapoor S, Sinha R. Association between BMI, blood pressure,
and age: study among Tangkhul Naga Tribal males of Northeast India. Journal
of Anthropology. 2011;2011:748147
17.Czobor P, Volavka J, Sheitman B, Lindenmayer JP, Citrome L, McEvoy J, et al.
Antipsychoticinduced weight gain and therapeutic response: a differential
association. J Clin Psychopharmacol. 2002; 22(3):24451.
18. Allison DB, Mentore JL, Heo M, Chandler LP, Cappelleri JC, Infante MC, et al.
Antipsychoticinduced weight gain: a comprehensive research synthesis. Am J
Psychiatry. 1999;156(11):168696.

10 . Althea Medical Journal.2014;1(1)

19.