Anda di halaman 1dari 22

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT


ANAMNESIS

Nama : Ny. Sugiyati


Umur : 44 Tahun

NO.RM :

Ruang
Kelas

: Cempaka
: IB

Nama Lengkap

: Ny.Sugiyati

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 44 tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Banyu kembar Rt 4/Rw 2 Mungseng Temanggung

Tanggal Masuk

: 15 Agustus 2014

Diagnosis Masuk

: Sinusitis maxillaris kronik dextra

Dokter yang merawat

:dr. Pramono, Sp. THT-KL Dokter Muda

: Lenny. S

ANAMNESA
Autoanamnesa dengan pasien
Keluhan Utama
: pilek di hidung kanan dirasakan sejak kurang lebih 1 bulan
Keluhan tambahan : cairan seperti nanah dan bau busuk dari hidung sebelah kanan, sering
mengeluarkan air mata.
Riwayat Penyakit sekarang
Pasien datang dengan keluhan pilek di hidung kanan sudah dirasakan sejak kurang lebih
1 bulan tidak kunjung sembuh. Cairan yang keluar dari pilek tersebut berwana kuning berbau
dan amis. Pasien juga mengeluh sering mengeluarkan air mata. Sebelumnya sebulan yang lalu
pasien demam dan pilek. Kemudian pasien mencoba memeriksakannya ke puskesmas, demam
mereda namun pileknya belum sembuh sampai sekarang. Hidung kadang terasa buntu, os juga
sering merasakan nyeri diatas mata kanan dan pipi kanan kadang nyeri dirasa menjalar sampai
telinga kiri dan seluruh kepala sampai leher. Os mengatakan keluhan lebih sering muncul saat
kecapean dan saat pagi hari atau menjelang sore hari cairan kadang-kadang keluar dari hidung.
Gangguan penciuman (-), Gigi lubang (+) kanan dan kiri bawah, gigi kanan atas akhir-akhir ini
mulai terasa sering nyeri tetapi belum terlihat berlubang, keluhan keluar cairan dari telinga (-),
batuk (+) kadang-kadang, nyeri tenggorokan (-), nyeri telan (-), demam (-).
Riwayat Penyakit Dahulu:
Riwayat keluhan serupa disangkal sebelumnya
Riwayat demam (+), batuk (-), pilek (+) 1 bulan sebelum masuk rumah sakit
Riwayat trauma kepala/ muka/ kemasukan benda asing disangkal
RM.01.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

Riwayat penyakit alergi makanan maupun obat disangkal, os mengatakan setiap musim dingin
batuk dan pilek kadang muncul tp cepat sembuhnya, os sejak 17 tahun yang lalu sering mengeluh
sesak nafas saat kecapean dan tidak pernah diperiksakan ke dokter tetapi os selalu rutin
mengkonsumsi obat asmasoho yang dibeli di warung, os minum tab setiap sesak nafasnya
kambuh.
Riwayat operasi atau mondok sebelumnya disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat gejala yang sama pada anggota keluarga disangkal
Riwayat asma atau alergi dalam keluarga disangkal.
Anamnesis Sistem
Sistem saraf : demam (-), pusing (-), penurunan kesadaran (-)
Sistem respirasi : batuk (-), pilek (+), sesak nafas (-)
Sistem kardiovaskuler : nyeri dada (-), berdebar-debar (-)
Sistem gastrointestinal: mual(-), muntah (-), BAB cair (-), lendir(-), darah (-)
Sistem urogenital: keluhan BAK (-)
Sistem muskuloskeletal: nyeri otot (-), kelemahan gerak (-)
Sistem integlumentum: gatal-gatal (-)
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis :
1. Kesan umum : cukup, kesadaran : compos mentis
2. Tanda utama :
Nadi
: 80 X/menit, isi dan tegangan cukup
RR
: 20 X/menit, regular, pola nafas normal
Suhu
: 36.5 0c
Tekanan darah : 130/90 mmHg
BB
: 69 kg
KEPALA
Bentuk

: mesocephal, rambut hitam, tipis, lurus, tidak mudah dicabut

Wajah

: simetris, pucat (-), edema (-)

Mata

: simetris, conjunctiva anemis -/-, sclera ikterik -/- , discharge -/-, pupil isokhor,

reflek cahaya +/+ .

RM.02.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

Hidung

NO.RM :

Deformitas
Deviasi septum
Edema
Kelainan kongenital
Jaringan parut
Hiperemis
Tumor
Discharge
Nyeri tekan dorsum nasi
Nyeri tekan frontalis
Krepitasi
Edema

NASI DEXTRA
INSPEKSI
PALPASI
-

NASI SINISTRA
-

RHINOSKOPI ANTERIOR
Vestibulum

Furunkel (-)

Furunkel (-)

nasi
Epidermis
Merah muda, edema (-)
Merah muda, edema (-)
Mucosa cavum Hiperemis (+) di meatus media di sekitar Hiperemis (-), edema (-)
nasi
Konka
Meatus Media

ostium sinus maxilla, edema (-)


Hiperemis (+), hipertrofi (+)
Hiperemis (+) disekitar ostium

Deviasi

maxillaries, secret mukopurulen (+)


Deviasi (-)

Septum
Sekret

Mukopurulen terakumulasi pada meatus Serosa, foetor ex nasi (-)

Hiperemis (-), hipertrofi (-)


sinus Hiperemis (-), secret (-)
Deviasi (-)

media disekitar ostium sinus maxillaries,


Massa
Kelainan

foetor ex nasi (+)


Tidak ada (-)
yg
Tidak ada (-)

Tidak ada (-)


Tidak ada (-)

lain
RHINOSKOPI POSTERIOR tidak dilakukan
RM.03.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

Telinga

NO.RM :

:
AURICULA DEXTRA

AURICULA
SINISTRA

INSPEKSI
PALPASI
-

Deskuamasi
Otore
Serumen
Tumor
Edema
Hiperemis
Kelainan kongenital
Benjolan pada luar telinga
Tragus pain
Nyeri tarik auricula
Pembesaran limfe

retro

dan

pre

+
-

auricular

Laserasi meatus eksternus


Serumen
Discharge pada CAE
CAE hiperemis
Membran Timpani
Discharge
Cone of Light
Mulut

OTOSKOPI
utuh
+

+
utuh
+

: bibir sianosis (-), trismus (-), lidak kotor (-), mukosa pucat (-), mukosa lembap

(+), gusi edema (-),tanda radang (-), nyeri (-).


Gigi-geligi

: karies dentis (+), maloklusi (-)


RM.04.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT


Tenggorokan
Inspeksi

NO.RM :

:
: Tonsil (T1-T1), kripte melebar (-/-), hiperemis (-/-), permukaan mukosa tidak
rata (-/-), detritus (-/-), uvula simetris, tidak hiperemis

Leher

: kelenjar limfonodi kanan-kiri tak teraba, kelenjar tiroid tak teraba.

THORAK
Jantung
Inspeksi : iktus kordis tak tampak
Palpasi
: iktus kordis teraba di SIC V
Perkusi : batas kanan atas
: SIC II linea parasternal kanan
batas kanan bawah : SIC IV linea parasternal kanan
batas kiri atas
: SIC II linea parasternal kiri
batas kiri bawah
: SIC V linea midklavikularis kiri
Auskultasi : S1-S2 reguler, bising (-)
Kesimpulan: konfigurasi dan suara jantung dalam batas normal
Paru-paru
Depan (kanan, kiri)

Inspeksi : Simetris

Palpasi

: tidak ada ketinggalan gerak

Perkusi

: Sonor

Auskultasi : vesikuler

Belakang (kanan, kiri)

Inspeksi : Simetris

Palpasi

: Tidak ada ketinggalan gerak

Perkusi

: Sonor

Auskultasi : vesikuler

Kesimpulan : paru-paru dalam batas normal.


ABDOMEN

Inspeksi

: datar
RM.05.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

Auskultasi : peristaltik (+) dbn

Perkusi

: timpani (+)

Palpasi

: nyeri tekan (-), turgor kulit baik, hepar dan lien tidak teraba membesar

Kesimpulan: abdomen dalam batas normal


EKSTREMITAS
Akral hangat pada keempat ekstremitas (+), perfusi jaringan baik, edema kaki (-)

Gerakan
Trofi
Tonus
Kekuatan
Klonus

tungkai
kanan
kiri
Aktif
Aktif
Eutrofi
Eutrofi
Normal
Normal
Cukup
Cukup
(-)
(-)

kanan
Aktif
Eutrofi
Normal
Cukup
(-)

Lengan
kiri
Aktif
Eutrofi
Normal
Cukup
(-)

Reflek fisiologis
Reflek bisep (+)
Reflek Trisep (+)
Reflek Patella (+)
Reflek Achilles (+)
Reflek Patologis (-)
Reflek Hoffman (-)
Reflek Trommer (-)
Reflek Babinsky (-)
Reflek Chaddock (-)
Reflek Oppenheim (-)
Reflek Gordon (-)
Meningeal Sign
Kaku kuduk (-)
Brudzinki (-)
Kernig Sign (-)
Sensibilitas
RM.06.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

Nyeri (+)
Sentuhan (+)
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium

Darah :
Hb
:
Hematrokrit
:
Angka leukosit :
Angka eritrosit
:
Jumlah trombosit :
MCH
:
MCHC
:
Hitung jenis leukosit :
Netrofil
:
Limfosit
:
CT
:
BT
:

Kimia
glukosa
ureum
kreatinin

12.1
40
8,9
4,58
296
26.4
30.6

Nilai Rujukan
12.0-16.0 g/dl
37-47
4.5-11 x 10/ul
4.20-5.40 x 106 /ul
150-450
26-36 pg
31.0-37.0

21.3
70.5
7.00
2.00

20.0-60.0 %
50.0-70.0 %
5-8
1-3

: 81 (70-140)
: 17.9 (10.0-50.0)
: 0.69 (0.50-0.90)

Kesimpulan : Hasil laboratorium dalam batas normal

RM.07.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

Foto Rontgen

Rontgen Sinus para nasal Waters/ lat view kondisi cukup


Kesan : Opasitas sinus maxillaries dextra, osteodestruksi (-) sesuai gambaran sinusitis
Tanda-tanda rhinitis, tak ada deviasi septim nasi.
Rontgen Thorax
Kesan : corakan bronchovasculer dalam batas normal, kedua sinus costophrenicus lancip, kedua
diaphragm licin, CTR<0.5, system tulang baik.
DIAGNOSA BANDING
1.Sinusitis maxillaris kronik dextra
2.Sinusitis etmoidalis kronik dextra
3.Sinusitis Frontalis kronik sinistra
DIAGNOSA KERJA
Sinusitis Maxillaris kronik Dextra

RENCANA TERAPI :
Rencana Operasi dengan FESS ( Konsul dr.Sp.An untuk dilakukan general Anastesi)
Terapi Post Operasi:

Awasi VS/10 menit sampai pasien sadar

Awasi tanda perdarahan dalam 24 jam

Infus RL 20 tpm dan Tutofusin OPS 1 flabot/hari

Injeksi cepim 1gr/12jam

Injeksi dexa 1 ampul/8jam

Injeksi kalnek 500mg/8jam

Injeksi adona 10 ampul/16jam/drip


RM.08.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

Injeksi ketorolak 30mg/12jam

Injeksi ranitidin 1 ampul/12jam

NO.RM :

Edukatif : memberitahu kepada keluarga mengenai penyakit yang diderita pasien serta memberi
pengertian mengenai terapi yang akan dijalani pasien.
PROGNOSIS
Vitam

: dubia at bonam

Sanam

: dubia at bonam

Fungsionam

: dubia at bonam

TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI HIDUNG DAN SINUS PARANASAL
1. Anatomi hidung
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah :
Pangkal hidung (bridge)
Dorsum nasi
Puncak hidung
Ala nasi
Kolumela
Lubang hidung (nares anterior)
RM.09.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan
ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang
hidung.
Kerangka tulang terdiri dari :
Tulang hidung (os nasalis)
Prosesus frontalis os maksila dan
Prosesus nasalis os frontalis
Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang
terletak dibagian bawah hidung, yaitu
Sepasang kartilago nasalis lateralis superior,
Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (kartilago ala mayor)
Beberapa pasang kartilago ala minor dan tepi anterior kartilago septum
Pada dinding lateral terdapat :
4 buah konka : konka inferior, media, superior, suprema (rudimenter)
Kartilago nasalis lateralis superior
Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (kartilago ala mayor)
Beberapa pasang kartilago ala minor
Tepi anterior kartilago septum

Gambar. Anatomi hidung


Diantara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus.
Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu
Meatus inferior terletak diantara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral
rongga hidung. Terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis
Meatus medius terletak diantara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Terdapat
muara sinus frontalis, maxilla, dan sinus etmoidalis anterior
Meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media
terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.
2. Anatomi sinus paranasal
RM.010.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

Gambar. Anatomi sinus paranasal


Ada delapan sinus paranasal, empat buah pada masing-masing sisi hidung, yaitu sinus
frontal kanan dan kiri mulai terbentuk sejak bulan ke4 fetus, sinus etmoid kanan dan kiri
(anterior dan posterior), sinus maxilla kanan dan kiri (antrium highmore) dan sinus sfenoid kanan
dan kiri. Fungsi sinus paranasal adalah untuk membentuk pertumbuhan wajah, sebagai pengatur
udara, peringan cranium, resonansi suara, produksi mukus.
Sinus maxilla merupakan sinus paranasal yang terbesar, saat lahir sinus maxilla
bervolume 6-8ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran
maksimal yaitu 15 ml saat dewasa. Sinus maxilla berbentuk segitiga. Dinding posterionya adalah
permukaan infra temporal maxilla, dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung,
dinding superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya adalah prosesus alveolaris dan
palatum. Ostium sinus maxilla berada di superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus
semilunaris melalui infundibulum etmoid.
Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maxilla adalah dasar dari
anatomi sinus maxilla sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas premolar (P1 dan P2),
molar (M1 dan M2), kadang gigi taring (C), dan gigi molar M3. Bahkan akar-akar gigi tersebut
dapat menonjol ke dalam sinus, sehingga infeksi gigi geligi mudah naik keatas menyebabkan
sinusitis. Sinusitis maxilla dapat menimbulkan komplikasi orbita. Ostium sinus maxilla terletak
lebih tinggi dari dasar sinus sehingga drainase kurang baik dan drainase harus melewati
infundibulum yang sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan
pembengkakan akibat radang atau alergi dapat menghalangi drainase sinus maxilla dan
menyebabkan sinusitis.
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu meatus medius ada muara saluran dari
sinus maxilla, sinus frontal, dan sinus etmoid anterior daerah ini rumit dan sempit dan dinamkan
komplek ostio meatal (KOM), terdiri dari infundibulum etmoid yang terdapat dibelakang
prosesus unsinatus, resesus frontalis, bula etmoid, dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya
dan ostium sinus maxilla.

RM.011.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

Gambar. Anatomi sinus maxillaris


Seperti pada mukosa hidung didalam sinus terdapat mukosa bersilia dan palut lendir
diatasnya.didalam sinus silia bergerak secara teratur untuk mengalirkan lendir menuju ostium.
Pada dinding lateral hidung terdapat 2 aliran transport mukosiliar dari sinus-lendir yang berasal
dari kelompok sinus anterior yang bergabung di infundibulum etmoid dialirkan ke nasofaring
didepan muara tuba eustachius. Lendir yang berasal dari kelompok sinus posterior bergabung di
resesus sphenoetmoidalis, dialirkan ke nasofaring di postero superior muara tuba. Inilah sebab
pada sinusitis didapatkan sektet pasca nasal ( post nasal drip) tetapi belum tentu ada sekret di
hidung.

3. Definisi
Sinusitis adalah suatu keadaan inflamasi yang melibatkan membran mukosa dari sinus
paranasal serta cairan yang terdapat pada sinus, mukosa sinus merupakan kelanjutan dari mukosa
nasal , maka sinusitis lebih tepat disebut rhinosinusitis.
RM.012.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

Sinusitis maxillaris merupakan suatu peradangan pada sinus paranasalis secara anatomi
pada sinus maxilla.
4. Etiologi dan faktor predisposisi
Penyebab sinusitis maxillaris dapat virus, bakteri, dan jamur. Menurut gluckman kuman
penyebab sinusitis tersering adalah streptoccocus pneumoniae dan haemophilus influenzae yang
ditemukan pada 70% kasus. Pada sinusitis kronik, faktor predisposisi lebih berperan, tetapi
umumnya bakteri yang ada lebih condong kearah bakteri gram negatif dan anaerob.
Dapat disebabkan rinitis akut, infeksi faring, seperti faringitis, tonsilitis akut, adenoiditis.
Berenang dan menyelam, trauma (dapat menyebabkan perdarahan mukosa sinus paranasal) dan
barotrauma ( dapat menyebabkan nekrosis mukosa). Sinusitis maksilaris dapat disebabkan juga
oleh periodontitis atau abses apikal gigi (infeksi gigi rahang atas M1, M2, M3 serta P1 dan P2)
penyakit gigi bertanggung jawab pada 10% kasus sinusitis.
Faktor predisposisi sinusitis maxillaris adalah obstruksi mekanik seperti deviasi septum,
benda asing dihidung, tumor atau polip, rinitis alergi, rinitis kronis, polusi lingkungan, dan udara
dingin atau kering.
5. Klasifikasi
Klasifikasi sinusitis berdasarkan gejala klinis berguna dalam penatalaksanaan pasien.
Secara kasar sinusitis akut merupakan suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlangsung dari
satu hari sampai 4 minggu, sinusitis sub akut bila berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan, dan
sinusitis kronik bila berlangsung lebih dari 3 bulan. Perubahan epitel pada fase akut dan sub akut
biasanya reversibel. Perubahan tak reversibel timbul setelah 3 bulan (sinusitis kronik).
Sinusitis dentogen
Sinusitis dentogen merupakan penyebab penting sinusitis kronis. Dasar sinus maxilla
adalah prosesus alveolar tempat akar gigi rahang atas, sehingga rongga sinus maxilla hanya
terpisah oleh tulang tipis dengan akar gigi. Bahkan kadang-kadang tanpa tulang pembatas.
Infeksi gigi rahang atas seperti infeksi apikal akar gigi atau inflamasi jaringan periodontal mudah
menyebar secara langsung ke sinus, atau melalui pembuluh darah dan limfe. Harus curiga adanya
sinusitis dentogen pada sinusitis maxilla kronis yang mengenai satu sisi dengan ingus purulen
dan nafas bau busuk. Untuk mengobati sinusitisnya gigi yang terinfeksi harus dicabut dan
dirawat dan pemberian antibiotik yang mencakup bakteri anaerob. Seringkali juga dilakukan
irigasi sinus maxilla.
Sinusitis jamur
Sinusitis jamur adalah infeksi jamur pada sinus paranasal, suatu keadaan yang tak jarang
ditemukan. Angka kejadiannya meningkat dengan meningkatnya pemakaian antibiotik,
kortikosteroid, obat-obat imunosupresan dan radioterapi. Kondisi yang merupakan predisposisi
antara lain diabetes melitus, neutropenia, penyakit AIDS, dan perawatan yang lama dirumah
sakit. Jenis jamur yang sering menyebabkan infeksi sinus adalah spesies Aspergillus dan
RM.013.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

Candida. Perlu diwaspadai adanya sinusitis jamur pada kasus sebagai berikut: sinusitis unilateral,
yang sukar disembuhkan dengan antibiotik. Adanya gambaran kerusakan tulang dinding sinus,
atau bila ada membran berwarna putih keabu-abuan pada irigasi antrum.
Para ahli membagi sinusitis jamur menjadi invasif dan non invasif. Sinusitis jamur invasif
akut, ada invasi jamur ke jaringan dan vaskular. Sering terjadi pada pasien diabetes yang tidak
terkontrol, pasien dengan imunosupresi. Imunitas yang rendah dan invasi ke pembuluh darah
menyebabkan penyebaran jamur sangat cepat dan merusak dinding sinus, jaringan orita, dan
sinus kavernosus. Di cavum nasi, mukosa berwarna biru kehitaman dan ada mukosa konka atau
septum yang nekrotik, sering berakhir dengan kematian.
Sinusitis jamur invasif kronik biasanya terjadi pada pasien dengan gangguan imunologik
atau metabolik seperti diabetes. Bersifat kronik progresif dan bisa juga menginvasi sampai orbita
atau intrakranial, tetapi gambaran kliniknya tidak sehebat yang fulminan karena perjalanan
penyakitnya lebih lambat. Gejalanya seperti sinusitis bakterial, tetapi sekretnya kental dengan
bercak-bercak kehitaman yang bila dilihat dengan mikroskop merupakan koloni jamur.
Sinusitis jamu non invasif atau misetoma merupakan kumpulan jamur di dalam rongga sinus
tanpa invasi ke dalam mukosa dan tidak sampai mendestruksi tulang. Sering mengenai sinus
maxilla. Gejala klinis sering menyerupai sinusitis kronis berupa rinore purulen, post nasal drip,
dan nafas bau. Kadang ada masa jamur juga dicavum nasi. Pada operasi bisa ditemukan materi
jamur berwarna coklat kehitaman dengan atau tanpa pus di dalam sinus.
Terapi untuk sinusitis jamur invasif adalah pembedahan, debridemen, anti jamur sistemik,
dan pengobatan terhadap penyakit dasar. Obat standar ialah amfoterisin B, bisa ditambah dengan
rifampisin atau flusitosin agar lebih efektif. Pada misetoma hanya perlu terapi bedah untuk
membersihkan jamur, menjaga ventilasi dan drainase sinus. Tidak diperlukan antijamur sistemik.
6. Patofisiologi

Gambar. Sinusitis maxillaris


Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lncarnya klirens
mukosiliar di dalam komplek osteo meatal. Mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan
zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk
bersama dengan udara pernapasan. Organ-organ yang membentuk kompleks osteomeatal
letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu
sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif
didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serosa. Kondisi ini
RM.014.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

bisa dianggap rhinosinusitis nonbacterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa
pengobatan. Bila kondisi ini menetap, sekret yang terkumpul dalam sinus merupakan media yang
baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Sekret menjadi purulen. Keadaan ini disebut
rhinosinusitis akut bakterial dan memerlukan terapi antibiotik. Jika terapi tidak berhasil
(misalnya karena ada faktor predisposisi), inflamasi terus berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri
anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak dan ini merupakan rantai siklus yang terus
berputar sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid atau
pembentukan polip dan kista. Pada keadaan ini mungkin diperlukan tindakan operasi.
Polusi zat kimia
Hilangnya
silia
sumbatan mekanis

Drainase yg tdk
memadai

infeksi

Perubahan
mukosa

Alergi,
defisiensi imun

Sepsis residual
Pengobatan yang tidak memadai
Gambar. patofisiologi sinusitis kronik
7. Gejala Sinusitis
Keluhan utama rhinosinusitis akut adalah hidung tersumbat disertai nyeri/rasa tekanan
pada muka dan ingus purulen, yang seringkali turun ke tenggorokan (post nasal drip) dapat
disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu
Sinusitis akut : nyeri yang berhubungan dengan lokasi sinus yang terkena, nasal obstruksi, nasal
discharge dapat berupa mukopurulen berwarna kuning kehijauan, gejala sistemik seperti panas,
malaise, lethargia.
Sinusitis kronik : keluhan tidak khas sehingga sulit di diagnosis kadang hanya 1 atau 2 dari
gejala seperti sakit kepala kronik, post nasal drip, batuk kronik, gangguan tenggorok, gangguan
telinga akibat sumbatan kronik muara tubaeustachius, gangguan paru seperti bronkitis (sino
bronkitis), bronkiektasis dan yang meningkat dan sulit diobati. Pada anak mukopus yang tertelan
dapat menyebabkan gastroenteritis.
8. DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rhinoskopi anterior, dan posterior, pemeriksaan
RM.015.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

nasoendoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khas ialah
adanya pus pada meatus Medius ( pada sinusitis maxilla dan etmoid anterior dan frontal) atau di
meatus superior (pada sinusitis etmoidalis posterior dan sfenoid). Pada rinosinusitis akut, mukosa
edema dan hiperemis. Pada anak sering ada pembengkakan dan kemerahan pada kantus medius.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan transluminasi : pada pemeriksaan transluminasi sinus yang sakit akan
menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan transluminasi bermakna bila salah satu sisi sinus yang
sakit, sehingga tampak lebih suram dibandingkan dengan sisi yang normal.
Pemeriksaan radiologik: pada pemeriksaan radiologik akan tampak perselubungan atau
penebalan mukosa atau batas cairan-udara (air fluid level) pada sinus yang sakit. 4 posisi dasar
yang digunakan dalam pemeriksaan radiologi adalah: caldwell, waters, lateral, submentovertikal.
CT-scan sinus merupakan gold standar diagnosis sinusitis karena mampu menilai secara anatomi
hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasannya.
Pemeriksaan mikrobiologik: pada pemeriksaan mikrobiologik diambil sekret dari meatus medius
atau meatus superior mungkin ditemukan bermacam-macam bakteri yang merupakan flora
normal dihidng atau kuman patogen seperti pneumokokus, streptokokus, stafilokokus, dan
haemophilus influensa, selain itu mungkin ditemukan juga virus dan jamur
Pemeriksaan Tomografi: indikasi tomografi adalah jika ada perluasan proses patologi
tidak dapat dipastikan dengan teknik konvensional atau jika daerah sinus kurang jelas karena
tumpang tindih dengan struktur lain.
Pemeriksaan sinoskopi: pada pemeriksaan sinoskopi dapat dilihat antrum (sinus
maxilla) secara langsungsehingga dapat diketahui adanya perubahan mukosa (reversibel atau
tidak).
9. Penatalaksanaan
Medikamentosa
Tujuan terapi sinusitis adalah mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi, dan
mencegah perubahan menjadi kronis. Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di komplek
osteo meatal sehingga drainase dan ventilasi sinus pulih secara alami.
Antibiotik
Karena sebagian besar sinusitis disebabkan oleh organisme gram positif, sebagian besar
streptococcus pneumoniae, staphyloccocus aureus, streptokokus (grup A,B dan D) dan
Haemophilus influenza (gram negatif) disertai hospes organisme anaerob, maka terapi pilihannya
adalah penislin G. Penisilin G juga merupakan pilihan yang terbaik sebagai terapi awal dan
definitif untuk kokus gram negatif, basil gram positif dan gram negatif. Ini kunci utama
penatalaksanaan medis pada sinusitis akut. Untuk haemophilus influenzae diindikasikan
pemberian ampicillin.
RM.016.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

Antibiotik yang efektif untuk rhinosinusitis akut antara lain amoksisilin, amoksisilinklavulanat, azytromicin, cfpodoxim, proxetil, cefprozil, loracarbef, trimetropim-sulfametoksazol,
klindamisin dan metronidazole. Selain itu dalam pemilihan antibiotik harus dipertimbangkan
faktor-faktor seperti respon pengobatan antibiotik sebelumnya, pola resistensi, efek samping,
informasi alergi obat, serta dosisnya.terapi antibiotik harus diteruskan minimal 1 minggu setelah
gejala terkontrol. Lama terapi rata-rata 10 hari.
Dekongestan
Penting mempermudah drainase dan mengurangi edema sekitar ostium. Dekongestan
peroral dan obat semprot dan atau obat tetes dekongestan topikal sangat penting untuk
mempermudah drainase.
Analgetika
Penting untuk mengontrol nyeri.
Steroid
Steroid baik topikal maupun sistemik digunakan untuk mengurangi reaksi inflamasi yang
terjadi. Steroid topikal digunakan karena mempunyai efek sistemik yang kecil serta efek lokal
yang baik sedangkan steroid sistemik digunakan untuk rhinosinusitis kronik.
Antihistamin
Antihistamin akan mengikat reseptor histamin 1secara kompetitif pada otot atau ujung
saraf untuk mengurangiefek dari pelepasan histamin. Obat ini digunaka pada pasien yang
mempunyai kecenberungan alergi yang memperberat rhinosinusitis.
Imunoterapi
Imunoterapi dapat digunakan untuk mengontrol rhinosinusitis kronik jika rhinitis alergi
merupakan faktor utama yang berperan dalam perjalanan penyakitnya.

Penatalaksanaan Bedah

Harus dipertimbangkan penatalaksanaan bedah untuk mempermudah drainase sinus yang


terkena serta mengeluarkan mukosa yang sakit. Hal ini diperlukan 1. Bila terancam komplikasi,
2. Untuk menghilangkan nyeri hebat, 3. Bila pasien tidak berespon terhadap medikamentosa.
Tindakan bedah minor
Irigasi sinus. Indikasi utama irigasi (lavase) sinus maxillaris adalah adanya materi
mukopurulen pada sinusitis subakut atau kronis, seperti yang digambarkan oleh anamnesa dan
foto rontgen abnormal karena adanya bata cairan atau adanya sinus yang opak. Irigasi sinus
maxillaris terutama bertujuan untuk mengeluarkan materi mukopurulen dari sinus yang terlibat.
Sekret hasil lavase harus dikirim untuk pemeriksaan sitologi bagi penyingkiran keganasan. Bila
pemeriksaan negatif dan diduga ada keganasan diindikasikan untuk eksplorasi bedah atas sinus
tersebut, jadi bilas sinus juga membantu diagnosis.

RM.017.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

Sebelum memulai lavase, pasien disuruh duduk tegak dikursi. Peralatan lavase meliputi
kain alas atau apron plastik untuk pasien, kaleng pengumpul, trokar, anastesi lokal dan topikal
serta semprot 100 ml dengan larutan salin normal yang hangat.
Lavase sinus maxilla terbaik adalah melalui regio fosa kanina. Setelah dioleskan anastesi
ke mukosa, disuntikkan lidokain 1% 2-3ml melalui jarum gigi 3,75 cm ukuran 27 ke lipatan
bukogingival 1cm diatas gigi premolar kedua di fossa kanina. Kemudian dipasang trokar ke
dalam dinding anterior sinus maxillaris, 1 cm diatas gigi premolar kedua. Foto ronsen penting
dibuat sebelum pungsi dan lavase dikerjakan. Beberapa tusukan dangkal dgn palu sudah
mencukupi untuk memasang trokar ke dalam sinus macillaris. Dengan pelan-pelan dimasukkan
sedikit salin hangat 50 ml ke dalam sinus (beberapa kali) dan akan keluar kembali bila pasien
membungkuk kedepan.
Irigasi sinus maxillaris melalui ostium. Hal ini dilaksanakan melalui ostium antrum yang
normaldengan mempergunakan kanula antrum dari pierce.
Irigasi sinus maxillaris dengan fungsi melalui meatus inferior. Jika irigasi melalui ostium asli
sulit atau ada iritasi jaringan yang berlebiahan, dapat dibuat jalan lain. Paling mudah melalui
meatus inferior. Digunakan trokar lurus atau bengkok.
Irigasi sinus maxillaris melalui prosesus alveolar dapat digunakan pada kasus infeksi
antrum yang terjadi akibat infeksi akar gigi dan mengakibatkan abses yang telah menyebabkan
fistula melalui dasar antrum.
Tampon argyrol
Tampon dapat dimasukkan ke dalam sinus setelah dikongesti dengan fenilefrin 1%.
Argyrol suatu astrigent yg meningkatkan drainase sinus. Tampon dapat dimasukkan setelah
pasien duduk dikursi dan ditutupi dengan plastik penutup atau kain duk yang sesuai. Kemudian
pasien membungkukkan badannya ke depan sambil memegang kaleng penampung atau panci
yang terbuat dari logam.
Setelah tampon terpasang di regio meatus medius mengelilingi sisi hidung atau sisi sinus
yang terlibat, pasien harus menunggu sekitar 20 menit,. Setelah tampon dilepaskan dapat
dilakukan pemberian tekanan negatif intermitten secara hati-hati dengan menggunakan aspirator
berujung bola. Kemudian pasien disuruh mengucapkkan kitty..kitty... ini akan membuka dan
menutup nasofaring, sehingga tekanan negatif dapat mencapai sinus dan memudahkan
pengeluaran sekresi mukopurulen apapun tanpa membutuhkan tuskan kedalam sinus yang
terkena.
Tindakan bedah mayor
Tujuan dan prinsip utama bedah sinus adalah mengeluarkan mukosa yang sakit dan
menjamin drainase ke dalam hidung (tanpa merusak sisiologi intranasal). Hal ini dicapai dengan
menghilangkan obstruksi dan menciptakan hubungan kontinu dari sinus yang terlibat ke dalam
ruang intranasal.
Jendela nasoantral
RM.018.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

Indikasi untuk penderita rinosinusitis berulang dan sinusitis kronis atau persisten dengan
atau tanpa perubahan polipoid atau hipertrofi. Jendela ini dibuat di dalam hidung dibawah konka
nasalis inferior di meatus inferior. Jendela nasoantral jg memberikan jalan pada waktu
pembedahan untuk mengangkat mukosa sinus yang sakit.
Caldwel-luc
Yaitu sinusotomi maksilla yg dilakukan melalui irisan pada fossa kanina tulang dinding
anterior sinus maxillaris direseksi melalui mulut untuk mencapai sinus guna mengeluarkan
mukosa yg terinfeksi, kista serta debris epitel. Pembedahan ini tidak boleh dilakukan pada anak
karena dapat merusak gigi primordial
Pembedahan tidak radikal
Akhir-akhir ini digunakan metode operasi sinus para nasal dengan menggunakan
endoskopi fungsional (BSEF). Prinsipnya ialah membuka dan membersihkan daerah komplek
ostio meatal yang menjadi sumber penyumbatan dan infeksi sehingga ventilasi dan drainase
sinus lancar kembali melalui ostium alami, dgn demikian mukosa sinus akan kembali normal.
10. Komplikasi
Sinusitis maxillaris kronis dapat meluas ke orbita, pipi, rahang atas, mulut, dan sinus etmoid.
Komplikasi ini telah menurun secara nyata sejak ditemukan antibiotk, komplikasi biasanya
terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronis dengan eksaserbasi akut, komplikasi yg
dapat terjadi adalah
Osteomielitis dan abses subperiostal (jarang). Osteomielitis sinus maxilla dapat timbul
fistula oroantral
Kelainan orbita berupa edema palpebra, selulitis orbita, abses subperiostal, abses orbita,
dan selanjutnya dapat terjadi trombosis sinus kavernosus. Penyebaran infeksi terjadi
melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum
Kelainan intrakranial. Kelainan dapat berupa meningitis, abses ekstradural atau subdural,
abses otak, dan trombosis sinus kavernosus.
Kelainan paru, kelainan dapat berupa bronkitis kronis (sinobronkitis), bronkiektasis dan
asma bronkial.
11. Prognosis
Prognosis untuk penderita sinusitis akut yaitu sekitar 40 % akan sembuh spontan tanpa
pemberian antibiotik. Terkadang penderita juga mengalami relaps setelah pengobatan namun
sedikit yaitu kurang dari 5%. Komplikasi dari penyakit ini bisa terjadi akibat tdk ada pengobatan
yg adekuat yg nantinya dapat menyebabkan sinusitis kronik, meningitis, brain absess, atau
komplikasi ekstra sinus.
Sedangkan prognosis untuk sinusitis kronik yaitu jika dilakukan pengobatan yg dini maka
didapatkan hasil yg baik.
RM.019.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

PEMBAHASAN
Pasien datang dengan keluhan pilek di hidung kanan sudah dirasakan sejak kurang lebih
1 bulan tidak kunjung sembuh. Cairan yang keluar dari pilek tersebut berwana kuning berbau
dan amis. Pasien juga mengeluh sering mengeluarkan air mata. Sebelumnya sebulan yang lalu
pasien demam dan pilek. Kemudian pasien mencoba memeriksakannya ke puskesmas, demam
mereda namun pileknya belum sembuh sampai sekarang. Hidung kadang terasa buntu, os juga
sering merasakan nyeri diatas mata kanan dan pipi kanan kadang nyeri dirasa menjalar sampai
telinga kiri dan seluruh kepala sampai leher. Os mengatakan keluhan lebih sering muncul saat
kecapean dan saat pagi hari atau menjelang sore hari cairan kadang-kadang keluar dari hidung.
Gangguan penciuman (-), Gigi lubang (+) kanan dan kiri bawah, gigi kanan atas akhir-akhir ini
mulai terasa sering nyeri tetapi belum terlihat berlubang, keluhan keluar cairan dari telinga (-),
batuk (+) kadang-kadang, nyeri tenggorokan (-), nyeri telan (-), demam (-). riwayat keluhan
serupa disangkal sebelumnya.
os mengatakan setiap musim dingin batuk dan pilek kadang muncul tp cepat sembuhnya,
os sejak 17 tahun yang lalu sering mengeluh sesak nafas saat kecapean dan tidak pernah
diperiksakan ke dokter tetapi os selalu rutin mengkonsumsi obat asmasoho yang dibeli di
warung, os minum tab setiap sesak nafasnya kambuh. Dari pemeriksaan fisik regio hidung
kanan di temukan konka hiperemis dan hipertrofi, hiperemis + disekitar ostium meatus sinus
maxilla serta sekret mukopurulen. Telinga dan tenggorokan dalam batas normal. Dari
pemeriksaan didapatkan gambaran opasitas pada sinus maxilla, sehingga mengarahkan ke
diagnosis sinusitis maxillaris kronik dextra. Penatalaksanaan yang dilakukan adalah tindakan
bedah FESS dengan tujuan mengeluarkan mukosa yang sakit dan menjamin drainase ke dalam
hidung (tanpa merusak sisiologi intranasal). Hal ini dicapai dengan menghilangkan obstruksi dan
menciptakan hubungan kontinu dari sinus yang terlibat ke dalam ruang intranasal.

RM.020.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

DAFTAR PUSTAKA

1. Adams GL, Boeis LR, Higler PA. Buku ajar penyakit THT BOIES edisi keenam: anatomi
dan fisiologi Telinga. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC.1997.p;240-259.
2. Brook,

I.2007.

chronic

Sinusitis.

Diakses

17

agustus

2014

dari

http://emedicine.medscape.com/article/232791
3. Kapita selekta, kedokteran, media Aesculapius, FK UI, Jakarta, Edisi 3, jilid 1; 102-106
4. Mangunkusumo, Endang dan Damajanti Soetjipto.2007.sinusitis dalam buku ajar ilmu
kesehatan telinga hidung tenggorokan kepala dan leher. Edisi ke-6.jakrta: balai penerbit FK
UI; 150-3.
5. Sjamsuhidajat.R, Buku Ajar Ilmu Bedah,EGC,Jakarta, Edisi Revisi, Cetakan I, 1997; 482484.

RM.021.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

PRESUS ILMU PENYAKIT THT

NO.RM :

RM.022.