Anda di halaman 1dari 6

DERMATOFITOSIS

DEFINISI
Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk,
misalnya stratum kornrum pada epidermis, rambut dan kuku, yang disebabkan
golongan jamur dermatofita (FKUI,)
ETIOLOGI
Dermatofita ialah golongan jamur yang menyebabkan dermatifitosis.
Golongan jamur ini mempunyai sifat mencernakan keratin. Dermatofita termasuk
kelas fungi imperfecti, yang terbagi dalam 3 genus, yaitu Mikrosporum,
Trichophyton, dan Epidermophyto (FKUI,)
KLASIFIKASI
Pembagian yang lebih praktis dan dianut oleh para spesialis kulit adalah yang
berdasarkan lokasi. Dengan demikian dikenal bentuk-bentuk :
1. Tinea kapitis, dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala.
2. Tinea barbe, dermatifitosis pada dagu dan jenggot.
3. Tinea kruris, dermatofitosis pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong,
dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah.
4. Tinea pedis et manum, dermatofitosis pada bagian kaki dan tangan.
5. Tinea ingulum, dermatofitosis pada kuku jari tangan dan kaki.
6. Tinea korporis, dermatofitosis pada bagian lain yang tidak termasuk 5 tinea
diatas (FKUI,)
GEJALA KLINIS
Ada beberapa bentuk klinis tinea kapitis, yaitu :
1. Grey patch ring worm
Bentuk ini
biasanya disebabkan oleh M. audoinii atau M.
ferrugineum. Lesi mulai dengan papul eritem disekitar batang rambut. Papul
kemudian melebar dan membentuk bercak yang memucat dan bersisik.
Rambut menjadi berwarna abu-abu, tidak berkilat lagi dan mudah patah ( 1-3
mm diatas kulit kepala). Disbanding tercabut. Bilas semua rambut di tempat
tersebut terserang oleh jamur, dapat terbentuk alopesia setempat, dengan
keluhan subjektif gatal.
2. Bentuk radang (kerion)

Lesi ini dimulai dari bentuk pustular folikulitis sampai terbentuk


kerion. Dijumpai lesi berupa sebukan massa rambut yang patah dan pus, serta
dapat terjadi limpadenopati. Keluhan subjektif berupa gatal, demam, dan
sakit. Keadaan ini dapat menimbulakan jaringan parut yang berakibat alopesia
menetap.
3. Blackdot ring worm
Rambut sangat rapuh dan patah tepat pada muara folikel, sehingga
ujung rambut yang hitam di dalam folikel rambut terlihat sebagai bintik hitam.
4. Favus
Bentuk ini ditandai dengan pembentukan skutula, yaitu krusta yang
berbentuk mangkuk berwarna merah kuning dan berkembang menjadi
berwarna kecoklatan. Pada pengangkatan krusta telihat dasar yang cekung,
merah, basah, dan berbau seperti tikus. Pada bentuk pavus dapat terjadi skar,
atrofi, dan alopesia permanen
(Dermatofitosis Superfisialis, 2001)
Tinea korporis .
Keluhan berupa rasa gatal. Pada kasus yang tipikal, didapatkan lesi bulat
berbatas tegas, pada tepi lesi tampak tanda radang lebih aktif dan bagian tengah
cenderung menyembuh. Lesi yang berdekatan dapat bergabung membentuk pola
gyrata atau plisiklik. Derajat inflamasi bervariasi, dengan morfologi dari eritem
sampai dengan vesikel dan pustule, bergantung pada spesies penyebab dan status
imun pasien. Pada penyebab zoofilik umumnya didapatkan tanda inflamasi akut. Pada
keadaan imunosupresi, lesi sering menjadi luas (Dermatofitosis Superfisialis, 2001)
Tinea kruris
Biasanya lokasi pada daerah genitokrural atau sisi medial paha atas, dapat asimetris
atau bilateral. Keluhan utama adalah rasa gatal yang dapat hebat. Lesi berbatas tegas,
tepi meninggi yang dapat berupa papulovesikel eritematosa. Atau kadang terlihat
pustule. Bagian tengah menyembuh berupa daerah coklat kehitaman berskuama.
Garukan kronis dapat menimbulakn gambaran likenifikasi. Skrotum sangat jarang
menunjukkan gambaran klinis, meskipun pemeriksaan mikologis dapat positif; hal

berbeda dengan kandidiasis yang sering menunjukkan keterlibatan klinis pada srotum
dan penis (Dermatofitosis Superfisialis, 2001)
Tinea pedis terdiri atas beberapa macam tipe klinis, dan yang dibahas dibawah ini
adalah yang sering ditemukan.
1. Tipe intergitalis
Merupakan bentuk yang tersering ditemukan dengan kelainan berupa
meserasi di sela jari ke-4 dan 5. Kulit terlihat putih, dapat terbentuk fisura dan
sering tercium bau yang tidak enak. Lesi dapt meluas ke bawah jari dan kaki.
2. Tipe vesikuler subakut.
Bentuk ini ditandai dengan beberapa vesikel, vesiko-pustulosa,
kadang-kadang bula, di telapak kaki dan jarang terjadi pada tumit. Lesi ini
dapat timbul akibat perluasan lesi daerah interdigita. Kelainan yang timbul
dimulai pada daerah sekitar jari, kemudian meluas ke punggung kaki atau
telapak kaki. Tampak vesikel dan bula yang terletak agak dalam di bawah
kulit, disertai rasa gatal yang hebat. Bila vesikel ini pecah akan meninggalkan
skuama melingkar yang disebut koloret. Bila terjadi infeksi akan memperberat
keadaan sehingga dapat terjadi erysipelas.
3. Tipe papuloskuamosa hiperkertotik menahun
Sering terdapat di daerah tumit, telapak kaki dan kaki bagian lateral.
Lesi berupa bercak dengan skuama putih agak mengkilat, melekat dan relative
tidak radang. Lesi umumnya setempat, akan tetapi dapat bergabung sehingga
mengenai seluruh telapak kaki dan sering simetris dan disebut Moccasin foot.
Semua bentuk yang terdapat pada tinea pedis dapat pula terjadi pada tinea
manum yaitu dermatofitosis yang menyerang tangan (Dermatofitosis
Superfisialis, 2001).
Tinea manum
Biasanya unilateral, terutama pada bagian tangan, dan lesi pada dorsum
manus menyerupai gambaran tinea korporis. Terdapat 2 bentuk lesi pada palmar
yaitu:
1. Dishidrosis/ eksematoid

Bentuk akut berupa vesikel pada tangan sisi lateral dan palmar jari-jari
atau telapak tangan disertai gatal dan rasa terbakar. Dapat mengalami fase
remisi dan eksersebasi.
2. Hiperkeratotik
Berlangsung kronik, tak pernah sembuh spntan. Bentuk sub akut/ kronik,
akubat vesikel yang berdeskuamasi, gambaran macula eritem ditutupi skuama
tebal berwarna putih. Bila kronik dapat mengenai seluruh telapak tangan dan
terjadi fisura (Dermatofitosis Superfisialis, 2001).
Tinea inguilum
Ada 3 bentuk klinis :
1. Bentuk subungual distalis
Bentuk ini mulai dari tepi distal atau distolateral kuku. Proses ini menjalar ke
proksimal dan dibawah kuku terbentuk sisa kuku yang rapuh.kalau proses
berjalan terus, maka permukaan kuku bagian distal akan hancur dan yang
terlihat hanya kuku rapuh yang menyerupai kapur.
2. Leukonikia tikofita
Kelainan kuku dalam bentuk ini merupakan leukonikia atau keputihan
dipermukaan kuku yang dapat dikerok untuk dibuktikan adanya elemen jamur.
3. Bentuk subungual proksimalis
Bentuk ini mulai dari pangkal kuku bagian proksimal terutama menyerang
kuku dan membentuk gambaran klinis yang khas, yaitu terlihat kuku dibagian
distal masih utuh, sedangkan bagian proksimal rusak. Biasnya penderita tinea
inguinum mempunyai dermatifitosis ditempat lain yang sudah sembuh atau
yang belum. Kuku kaki sering diserang daripada kuku tangan (FKUI,)
Tinea barbe
Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan. Penderita
biasanya mengeluhkan gatal dan pedih pada daerah yang terkena, disertai bintikbintik kemerahan yang terkadang bernanah. Biasanya pada daerah dagu/jenggot, tapi
dapat menyebar ke wajah dan leher. Rambut yang terkena menjadi rapuh dan tidak

mengkilat, tampak reaksi radang pada folikel berupa kemerahan, edema, kadangkadang ada pustula (Siregar, 2005).
PEMERIKSAAN
Pada pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan
klinis, yang dapat berupa kerokan kulit, rambut, dan kuku. Bahan untuk pemeriksaan
mikologik diambil dan dikumpulkan sebagai berikut : terlebih dahulu tempat kelainan
dibersihkan dengan spritus 70 %, kemudian untuk :
1. Kulit tidak berambut (glabrous skin) : dari bagian tepi kelainan sampai dengan
sedikit diluar kelainan sisik kulit dan kulit dikerok dengan pisau tumpul
steril.
2. Kulit berambut: rambut dicabut pada bagian kulit yang mengalami kelainan;
kulit di daerah tersebut dikerok untuk mengumpulkan sisik kulit.
3. Kuku : bahan diambil dari permukaan kuku sakit yang dipotong sedalamdalamnya sehingga mengenai seluruh tebal kuku, bahan dibawah kuku
diambil pula.
Sediaan basah dibuat dengan meletakkan bahan di atas gelas alas, kemudian
ditambah 1-2 tetes larutan KOH. Konsentrasi larutan KOH untuk sediaan rambut
adalah 10% dan untuk kulit dan kuku 20 %. Setelah sediaan dicampur dengan larutan
KOH, ditunggu 15-20 menit hal ini diperlukan untuk melarutkan jaringan.
Untuk melihat elemen jamur lebih nyata dapat ditambah zat warna pada
sediaan KOH, misalnya tinta Parker superchroom blue black.
Pada sediaan kulit dan kuku yang terlihat adalah hifa, sebagai dua garis
sejajar, terbagi oleh sekat, dan bercabang, maupun spora berderet(artrospora), pada
kelainan kulit lama dan/atau sudah diobati. Pada sediaan rambut yang dilihat adalah
spora kecil

(mikrospora) atau besar (makrospora). Spora dapat tersusun di luar

rambut (ektotriks) atau dalam rambut (enditriks). Kadang-kadang dapat terlighat juga
hifa pada sediaan rambut (FKUI,).

PENGOBATAN
Pada masa sekarang, dermatofitosis pada umumnya dapat diatasi dengan
pemberian griseofulvin yang bersifat fungistatik. Bagan dosis pengobatan
griseofulvin berbeda-beda. Secara umum, grisofulvin dalam bentuk fine particle
dapat diberikan dengan dosis 0,5-1 g untuk orang dewasa dan 0,25-0,5 g untuk anakanak sehari atau 10-25 mg/kg BB. Lama pengobatan bergantung pada lokasi
penyakit, penyebab, dan keadaan imunitas penderita.
Pada pengobatan kerion stadium dini, diberikan kortikosteroid sistemik
sebagai anti inflamasi yakni prednisone 3 x 4 mg sehari selama dua minggu. Obat
tersebut diberikan bersama-sama dengan Griseofulvin. Griseofulvin diteruskan selam
dua minggu setelah sembuh klinis.
Obat per oral, yang juga efektif untuk dermatofitosis yaitu ketokonazol yang
bersifat fungistatik. Pada kasus resistan terhadap Griseofulvin dapat diberikan obatobat tersebut sebanyak 200 mg/hari selama 10 hari - 2 minggu pada pagi hari setelah
makan. Ketonazol merupakan kontraindikasi untuk penderita kelainan hepar. Sebagai
gantinya dapat diberikan suatu obat tiazol

yaitu itrakonazol yang merupakan

pemilihan yang baik. Pemberian obat tersebut untuk penyakit kulit dan selaput lendir
oleh penyakit jamur yang biasanya cukup 2 x 100-200 mg sehari dalam kapsul selama
3 hari. Khusus untuk onikomikosis dikenal sebagai dosis denyut selam 3 bulan. Cara
pemberiannya sebagai berikut : diberikan 3 tahapdengan interval 1 bulan. Setiap
tahap selama 1 minggu dengan dosis 2 x 200 mg sehari dalam kapsul.
Terbinafin yang bersifat fungisidal juga dapat diberikan sebagai pengganti
Griseofulvin selama 2-3 minggu, dosisnya 62,5 mg-250 mg sehari bergantung pada
berat badan (FKUI,).