Anda di halaman 1dari 7

F.

Pembahasan
Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan pembentukan senyawa kompleks
antara kation dengan zat pembentuk kompleks. Salah satu zat pembentuk kompleks yang banyak
digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah garam dinatrium etilendiamina tetraasetat
(dinatrium EDTA). Salah satu jenis reaksi kimia yang dapat digunakan sebagai dasar dalam
penentuan secara titrimetri adalah pembentukan suatu zat yang dikenal sebagai senyawa
kompleks, yang mempunyai sifat larut dengan baik tetapi hanya sedikit terdisosiasi. Ion logam
dapat menerima pasangan elektron dari gugus donor elektron membentuk senyawa koordinasi
atau ion kompleks. Ion dalam logam dalam kompleks tersebut dinamakan atom pusat sedangkan
zat yang dapat membetuk seyawa kompleks dengan atom pusat ini disebut ligan, dan gugus yang
terikat pada atom pusat disebut bilangan koordinasi.
Dalam percobaan ini diambil 3 sampel air dari sumber yang berbeda-beda, yakni air
sumur, air kran, dan air hujan. Ketiganya diukur kandungan Ca-nya sehingga dapat diketahui
kadar Ca dalam ketiga sampel air tersebut. Kesadahan didefinisikansebagai kemampuan air dalam
mengkonsumsi sejumlah sabun secara berlebihan serta mengakibatkan pengerakan pada pemanas air,
boiler, atau pemanasan lainnya. Hal inidisebabkan adanya kehadiran ion-ion metal polivalen, terutama
kalsium dan magnesium.Ca2+ dan Mg2+ dapat bereaksi dengan sabun sehingga membentuk garamgaram organik yang tidak melarut dan berbentuk sebagai busa pada permukaan air.
Pada percobaan ini mencoba menentukan tingkat kesadahan suatu sampel air dengan
menggunakan reaksi pembentukkan ion kompleks. Sampel air didapat dari berbagai sumber. Mula-mula
sampel air dipipet sebanyak 25 ml dan diberi larutan buffer pH 10. Tujuan ditambahkannya larutan
dapar ammonium pH 10 untuk menjaga ion tetap dalam larutan misalnya Zn 2+ yang ditrasi pada
pH 10 dengan konsentrasi ion ammonium yang tinggi. Ammoniak tidak hanya membufferkan
pada pH yang diperlukan tetapi juga menghindarkan terjadinya hidrolisis. Setelah itu, diberi
indikator EBT sehingga berwarna ungu. Eriochrome Black T (Edokrom Hitam T) adalah sejenis
indicator yang berwarna merah muda bila berada dalam larutan yang mengandung ion kalsium dan ion
magnesium dengan ph 10,0 + 0,1. Tujuan diberikan indikator ini adalah karena indikator tersebut peka
terhadap kadar logam dan pH larutan sehingga titik akhir titrasinya pun dapat diketahui. Lalu
dititrasi menggunakan Na2EDTA.
Dalam percobaan didapat hasil bahwa kesadahan air di berbagai tempat berbeda-beda. Hal
tersebut dilihat dari perhitungan pada berbagai sampel air air yang berbeda. Ketiganya menunjukkan
ketidaksamaan pada kadar Ca didalam air tersebut. Masing-masing sampel diteliti kadar
kalsiumnya (Ca2+), karena seperti yang kita ketahui kesadahan masing-masing air berbeda yang
ditunjukkan dari kadar kalsium air tersebut dimana semakin tinggi kadar kalsium (Ca 2+) air
maka tingkat kesadahannya akan tinggi pula.
Kesadahan air tiap tempat berbeda karena beberapa faktor diantaranya pengaruh dari
geologi tanah di setiap daerah. Keadaan geologi tanah ini misalnya kandungan logamnya

semakin tinggi, maka kesadahan airnya juga akan semakin tinggi. Selain keadaan geologi tingkat
kesadahan air juga dapat disebabkan oleh limbah industri.
G. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa kadar
Ca2+ dalam berbagai sumber air berbeda-beda. Air sumur memiliki kandungan Ca2+ sebesar
0,0128%, air kran sebesar 0,0144%, dan pada air hujan sebesar 0,0112%.

DAFTAR PUSTAKA
Aini, M.N. dan L. Indriati. 2007. Proses Pemutihan Zeolit Sebagai Bahan Pengisi Kertas.Berita
Selulosa Vol. 42(1).
Harjadi, W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT Gramedia. Jakarta.
Khopkar, S. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI-Press. Jakarta.
Khopkar. 2002. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press. Jakarta.Rivai, H. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia.
Universitas Indonesia Press, Jakarta

4.4 Pembahasan
Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan
persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion),
Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat
saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksireaksi
pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali
dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu
perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks, sekalipun disini
pertama-tama akan diterapkan pada titrasi. Titrasi kompleksometri
juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ionion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi

dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian


adalah tingkat kelarutan tinggi. Kompleksometri termasuk salah satu
analisis kimia kuantitatif, yang tujuannya untuk menentukan kadar ataupun
konsentrasi dalam suatu sampel. Adapun prinsip kerjanya yaitu berdasarkan
reaksi pembentukan senyawa kompleks dengan EDTA, sebagai larutan standar
dengan bantuan indikator tertentu. Titik akhir titrasi ditunjukkan dengan
terjadinya perubahan warna larutan, yaitu dari merah anggur menjadi biru.
Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator
yang berguna sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. Ada lima
syarat suatu indikator ion logam dapat digunakan pada pendeteksian
visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus sedemikian
sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua ion logam telah
berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat. Kedua, reaksi
warna itu haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif.
Ketiga, kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang
cukup, kalau tidak, karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan
warna yang tajam. Namun, kompleks-indikator logam itu harus kurang
stabil dibanding kompleks logam-EDTA untuk menjamin agar pada titik
akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam
ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. Kelima, kontras warna
antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus
sedemikian sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka
terhadap ion logam (yaitu, terhadap pM) sehingga perubahan warna
terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen. Terakhir, penentuan
Ca dan Mg dapat dilakukan dengan titrasi EDTA, pH untuk titrasi
adalah 10 dengan indikator eriochrome Black T.
Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA,
merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya
adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam
lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan
multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul,
misalnya asam 1,2-diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina tetraasetat,
EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen penyumbang dan empat atom
oksigen penyumbang dalam molekul.
Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap
dengan sejumlah besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak
selektif. Dalam larutan yang agak asam, dapat terjadi protonasi parsial EDTA
tanpa pematahan sempurna kompleks logam, yang menghasilkan spesies

seperti CuHY-. Berikut adalah struktur dari EDTA (Asam etilen diamin tetra
asetat) :

EDTA merupakan ligan seksidentat yang berpotensi, yang dapat berkoordinasi


dengan ion logam dengan pertolongan kedua nitrogen dan empat gugus
karboksil. Dalam hal-hal lain, EDTA mungkin bersikap sebagai suatu ligan
kuinkedentat atau kuadridentat yang mempunyai satu atau dua gugus
karboksilnya bebas dari interaksi yang kuat dengan
logamnya.
Sebagian besar titrasi kompleksometri mempergunakan
indikator yang juga bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks
logamnya mempunyai warna yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri.
Indikator demikian disebut indikator metalokromat. Indikator jenis ini contohnya
Erichrome Black T (EBT). EBT adalah sejenis indikator yang berwarna merah
muda bila berada dalam larutan yang mengandung ion kalsium dan ion
magnesium dengan pH 10,0 + 0,1. Berikut adalah struktur dari EBT (Erichrome
Black T):

Pada percobaan pembakuan larutan EDTA dengan larutan MgCl2. Pertama-tama


yang dilakukan adalah mengambil 10 ml MgCl2, lalu dimasukkan kedalam
erlenmayer. MgCl2 merupakan larutan yang digunakan untuk menstandarisasi
EDTA. Lalu ditambahkan 30 ml aquades. MgCl2 berwarna bening, setelah
ditambahkan aquades warna larutan tetap bening. Lalu ditambahkan 2 ml
larutan buffer pH 10. Tujuan ditambahkan larutan dapar amilum pH 10 untuk
menjaga ion tetap dalam larutan. Setelah ditambahkan buffer pH 10 warna
larutan tetap bening. Selanjutnya ditambahkan sedikit EBT. Diberi indikator EBT
sehingga titikakhir titrasinya pun dapat diketahui. Lalu dititrasi dengan EDTA.
Setelah dititrasi dengan EDTA larutan berubah warna menjadi biru, pada V 1 =
4,5 ml, V2 = 4,4 ml, V3 = 5,1 ml. Pada proses penitrasian terjadi kesalahan pada
penentuan volume, saat perubahan warna menjadi biru. Karena kurang terbiasa
menitrasi sehingga hasil yang didapat memiliki perbedaan yang cukup jauh.
Seharusnya jarak yang didapat dari V1=V2=V3 tidak boleh terlalu jauh. Tetapi
karena adanya kesalahan penitrasian jarak yang didapat dari V 1 ke V2 = 0,1 dan
V2 ke V3 = 0,7.
Penentuan kadar Ca dalam sampel, pertama yang dilakukan adalah mengambil
10 ml air sampel (parit gor 27) dimasukkan kedalam erlenmayer. Warna larutan
kuning keruh. Lalu ditambahkan sedikit EBT. Tujuan ditambahkan indikator EBT
karena indikator tersebut peka terhadap kadar logam dan pH larutan sehingga
titik akhir titrasinya pun diketahui. Lalu dititrasi dengan EDTA, dan dicatat
volume EDTA, dan dihitung kadar Ca. Larutan berubah warna menjadi

birusetelah dititrasi dengan EDTA pada V1=1 ml, V2= 1 ml, dan V3= 0,1 ml. Pada
saat penitrasian larutan sampel megalami perubahan warna menjadi biru. Hal
itu membuktikan bahwa terdapat kesadahan didalam sampel air yang
digunakan. Dam juga membuktikan bahwa larutan sampel mengandung ion
Ca2+. Dalam proses penitrasian didapat hasil yang kurang memuaskan.itu
dikarenakan adanya faktor kesalahan yang terjadi, dikarenakan karena kurang
terbiasanya menitrasi suatu larutan. Seharusnya jarak yang didapat dari
V1=V2=V3, tidak boleh terlalu jauh. Tetapi karena adanya kesalahan penitrasian
jarak yang didapat menjadi V1 ke V2 = 1 ml, V2 ke V3 = 0,1
ml.
Kesadahan adalah salah satu sifat kimia yang dimiliki oleh air. Penyebab air
menjadi sadah adalah karena adanya ion-ion Ca2+, Mg2+. Atau dapat juga
disebabkan karena adanya ion-ion lain dari polyualent metal (logam bervalensi
banyak) seperti Al, Fe, Mi, Sr dan Zr dalam bentuk garam sulfat, klorida dan
bikarbonat dalam jumlah kecil.
Kesadahan sementara adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya garamgaram bikarbonat, seperti Ca(HCO3)2, Mg(HCO3)2. Kesadahan ini dapat/ mudah
dieliminir dengan pemanasan (pendidihan), sehingga tebentuk endapan
CaCO3 atau MgCO3.
Kesadahan tetap adalah
kesadahan yang disebabkan oleh adanya garam-garam klorida, sulfat dan
karbonat, misal CaSO4, MgSO4, CaCl2, MgCl2. Kesadahan tetap dapat dikurangi
dengan penambahan larutan soda-kapur (terdiri dari larutan natrium karbonat
dan magnesium hidroksida) sehingga terbentuk endapan kalsium karbonat
(padatan/ endapan) dan magnesium hidroksida (padatan/ endapan) dalam air.

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
- Adapun prinsip kerja dalam penentuan kadar Ca secara kompleksometri yaitu berdasarkan reaksi
pembentukan senyawa kompleks dengan EDTA, sebagai larutan standar dengan bantuan
indikator tertentu. Titik akhir titrasi ditujukkan dengan terjadinya perubahan warna larutan, yaitu
merah anggur menjadi biru.
- EBT (Eriochrome Black T) adalah sejenis indikator yang berwarna merah muda bila berada
dalam larutan yang mengandung ion kalsium dan ion magnesium dengan pH 10,0 + 0,1. Tujuan

diberi indikator ini adalah karena indikator tersebut peka terhadap kadar logam dan pH larutan,
sehingga titik akhir titrasinya pun dapat diketahui. Lalu dititrasi dengan EDTA.
- Metode yang dapat dilakukan dalam titrasi kompleksometri dengan EDTA, yaitu titrasi langsung
dengan EDTA untuk kesadahan total air, kalsium, dan magnesium, titrasi kembali untuk reduksi
antara kation dengan EDTA, titrasi penggantian bila tidak ada indikator yang sesuai, dan titrasi
tidak langsung untuk penentuan sulfat dengan mengendapkannya sebagai BaSO4.
5.2 Saran
Sebaiknya pada percobaan penentuan kalsium secara kompleksometri tidak hanya diajarkan
metode titrasi langsung saja, tetapi juga metode titrasi kembali, titrasi penggantian dan penentuan
tidak langsung. Sehingga hasilnya lebih beragam dan dapat dibandingkan.