Anda di halaman 1dari 5

3.

3 Interprestasi Hasil
Gambar 3.1 Bakteri hidup bergerak aktif
Gambar 3.2 Bakteri tidak hidup atau mati

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil

Gambar 4.1 Cawan Petri berisi Blood Agar dan suspensi bakteri
Gambar 4.2 Gerak Bakteri Bakteri bergerak aktif dengan

perbesaran 40x

Gambar 4.3 Bakteri Tidak Bergerak Karena Bakteri telah matiperbesaran 40x

4.2. Pembahasan
Praktikum kali ini digunakan untuk mengamati gerak pada bakteri. Dalam
praktikum ini digunakan metode tetesan tegak. Metode ini bertujuan untuk mengamati
gerak bakteri secara bebas.
Sediaan hidup tegak tanpa atau dengan kaca tutup digunakan untuk melihat gerak
bakteri, sedimen urin, agglutinate, bile solubility test, dsb. Sediaan hidup tetesan tegak
dengan kaca tutup lebih baik daripada yang tanpa tutup, karena bahan yang diperiksa
tidak lekas kering, tidak terpengaruh aliran udara luar, mempunyai ketebalan yang
sama, tidak mengotori objektif (Anonim, 2011)
Dalam praktikum ini, pada pemindahan bakteri ke kaca preparat harus selalu dekat
dengan lampu bunsen untuk menghindari bakteri yang keluar dari wadah, dan tidak

terhirup oleh praktikan. Pemijaran atau fiksasi jarum ose harus selalu dilakukan agar
pada saat pembuatan media sediaan bakteri yang diinginkan tidak terkontaminasi
dengan bakteri lain dari luar (Anonim, 2011)
Sediaan bakteri hidup dapat dilihat apabila dilakukan kultur atau pembuatan
sediaan dilakukan dengan benar dan menghasilkan mikroorganisme bakteri tetap hidup
ketika diperiksa, apabila kultur atau pembuatan sediaan bakteri salah maka bakteri
akan mati ketika diperiksa (Anonim, 2009).
Penanaman bakteri atau biasa disebut juga inokulasi. Inokulasi adalah pekerjaan
memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat
ketelitian yang sangat tinggi. Untuk melakukan penanaman bakteri (inokulasi) terlebih
dahulu diusakan agar semua alat yang ada dalam hubungannya dengan medium agar
tetap steril, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi (Jawetz, 1982)
Ada beberapa tahap yang harus dilakukan sebelum melakukan teknik penanaman
bakteri (inokulasi) yaitu :
1. Menyiapkan ruangan
Ruang tempat penanaman bakteri harus bersih dan keadannya harus steril agar
tidak terjadi kesalahan dalam pengamatan atau percobaaan. Dalam laboratorium
pembuataan serum vaksin dan sebagainya. Inokulasi dapat dilakukan dalam sebuah
kotak kaca (encast) udara yang lewat dalam kotak tersebut dilewatkan saringan melalui
suatu jalan agar tekena sinar ultraviolet.
2. Pemindahan dengan dengan pipet
Cara ini dilakukan dalam penyelidikan air minum atau pada penyelidikan untuk
diambil 1 ml contoh yang akan diencerkan oleh air sebanyak 99 ml murni.
3. Pemindahan dengan kawat inokulasi
Ujung kawat inokulasi sebaliknya dari platina atau nikel. Ujungnya boleh lurus juga
boleh berupa kolongan yang diametrnya 1-3 mm. Dalam melakukan penanaman bakteri
kawat ini terlebih dahulu dipijarkan sedangkan sisanya tungkai cukup dilewatkan nyala
api saja setelah dingin kembali kawat itu disentuhkan lagi dalam nyala (Jawetz, 1982)
Dalam praktikum ini, sel bakteri yang diletakkan diatas NaCl steril di atas preparat
sediaan tetesan tegak akan membentuk sistem koloid. Partikel NaCl kemudian

bertumbukan dengan molekul koloid, yang gerakannya adalah gerakan lenting


sempurna. Tetapi karena ukuran bakteri lebih besar dari molekul NaCl, maka
gerakannya lambat (Anonim, 2011).
Gerak bakteri pada bakteri yang bersifat motil diakibatkan oleh adanya struktur atau
organ sel bakteri yang berbentuk benang yang disebut flagella. Karena flagella pada
bakteri berfungsi untuk bergerak. Flagella berbentuk panjang dan ramping (Anonim,
2011).
Pada umumnya memiliki panjang sekitar 12 sampai 30 nm. Flagella dapat dilihat
pada mikroskop cahaya jika ditambah dengan substansi khusus yaitu mordan yang
merupakan substansi yang dapat mempertajam pengamatan yang berfungsi untuk
membesarkan garis lengan flagella, setelah itu pada sediaan digunakan suatu zat
pewarna sehingga flagella dapat terlihat (Anonim, 2011).
Banyak spesies bakteri yang bergerak menggunakan flagel. Hampir semua bakteri
yang berbentuk lengkung dan sebagian yang berbentuk batang ditemukan adanya
flagel. Sedangkan bakteri kokus jarang sekali memiliki flagel. Ukuran flagel bakteri
sangat kecil, tebalnya 0,02 0,1 mikro, dan panjangnya melebihi panjang sel bakteri
(Anonim, 2007).
Dari hasil pengamatan dalam praktikum ini, dari suspensi bakteri yang diamati
memiliki kemampuan bergerak. Dari pengamatan bentuk bakteri diketahui bahwa
bakteri yang diamati adalah berbentuk coccus. Dari hasil pengamatan tersebut,
diketahui bahwa bakteri yang diamati bergerak bebas. Namun demikian, dalam
praktikum ini tidak dilakukan pengamatan alat gerak bakteri. Kemampuan suatu
organisme untuk bergerak sendiri disebut motilitas (daya gerak). Hampir semua sel
bakteri spiral dan sebagian dari sel bakteri basil bersifat motil, sedangkan bakteri yang
berbentuk kokus bersifat tidak bergerak (immotil) (Anonim, 2007).
Pergerakan bakteri yang diamati berbeda dengan gerak pada bakteri yang bersifat
immotil/tidak bergerak. Pergerakan pada bakteri yang bersifat motil menunjukkan
pergerakan yang lebih kompleks, menuju ke arah tertentu (bukan gerak brown)
sedangkan gerak pada bakteri yang bersifat tidak motil adalah gerak maju mundur
secara zig-zag yang disebut dengan gerak brown (Anonim, 2007).

Gerak brown terjadi karena adanya benturan dengan molekul air yang bergerak
dengan arah zig-zag, gerakan ini disebabkan adanya tumbukan antara molekul-molekul
pelarut dengan molekul koloid. Tumbukan yang terjadi adalah lenting sempurna, artinya
tenaga kinetik molekul pelarut dan partikel koloid sama tapi karena partikel koloid lebih
besar maka gerakannya lebih lambat jika dibandingkan dengan molekul pelarut
(Anonim, 2007).
Pada praktikum kali ini, bakteri yang dilihat dengan mikroskop adalah bakteri yang
berbentuk coccus sehingga gerak bakteri yang dilihat bergerak zig-zag sehingga
disebut gerak brown, karena bakteri coccus memiliki flagel yang sangat kecil (Anonim,
2007).

Pembahasan :
Motilitas bakteri adalah suatu gerakan bakteri yang disebabkan adanya gerak aktif dan
pasif
Gerak aktif adalah gerakan bakteri yang disebabkan karena bakteri memiliki flagel
Gerak pasif disebabkan karena factor dari luar (gerak brown)
Gerak brown adalah suatu gerakan yang dapat menggetarkan partikel-partikel secara
acak atau terarah karena terus-menerus terkena pukulan molekul-molekul kecil yang tak
terlihat yang terdapat dalam cairan.
Motilitas dapat diamati dengan baik pada biakan yang masih baru. Pada biakan yang
sudah lama,bakteri sudah mati, sehingga sangat sukar untuk mendapatkan sel yang motil,
selain itu produksi asam dan produk yang bersifat racun dapat menyebabkan hilangnya
motalitas sel bakteri pada biakan (Volk, 1988).
Menurut Taringan (1988) beberapa bakteri dapat melakukan gerakan meluncur yang
sangat mulus yang hanya terjadi kalau persentuhan dengan benda padat. Kebanyakan

bakteri yang motil dapat mendekati atau menjauhi berbagai senyawa kimia yang disebut
kemotaksis.
Menurut Volk (1988) kemampuan suatu organisme untuk bergerak sendiri disebut
motilitas. Hampir semua sel bakteri spiral dan sebagian dari sel bakteri basil bersifat
motil, sedangkan bakteri yang berbentuk kokus bersifat immotil
. keuntungan yang diperoleh dengan penggunaan metode preparat tetes gantung dalam
uji motilitas bakteri adalah:
a. sel bakteri akan lebih leluasa atau mudah bergerak karena fluida yang menggantung
memberikan ruangan yang lebih besar untuk bakteri bergerak, sedangkan fluida yang
menempel pada permukaan obyek glass (tidak menggantung), akan membuat bakteri
terhimpit sehingga tidak dapat bebas bergerak.
b. melalui preparat tetes gantung sel bakteri tidak akan mati terhimpit kaca penutup dan
kaca benda, karena pada metode ini kaca benda yang digunakan adalah kaca benda yang
cekung pada bagian tenganya.
c. karena posisi bakteri yang menggantung diatas cekungan, maka bakteri tidak
membahayakan praktikan seandainya saja bakteri tersebut bersifat patogen
d. lebih mudah mengamati gerak sel bakteri karena sel-sel bakteri hanya bergerak sebatas
tetesan fluida sebagai media tinggal bakteri.