Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

OSTEOARTHRITIS GENU

Osteoarthritis (OA) juga dikenal sebagai artritis degeneratif atau penyakit sendi
degeneratif, adalah sekelompok kelainan mekanik degradasi yang melibatkan
sendi, termasuk tulang rawan artikular dan tulang subchondral. OA merupakan
bentuk yang paling umum dari artritis, dan menjadi penyebab utama kecacatan
kronis di Amerika Serikat. Hal ini mempengaruhi sekitar 8 juta orang di Britania
Raya. Osteoarthritis juga mempengaruhi hampir 27 juta orang di Amerika Serikat.
Diperkirakan bahwa 80% penduduk telah terbukti OA (radiografi) pada usia 65
tahun, walaupun hanya 60% dari mereka yang memiliki gejala. Di Amerika
Serikat, pasien yang dirawat di rumah sakit untuk osteoarthritis meningkat dari
322.000 pada tahun 1993 menjadi 735.000 pada 2006.
Osteoartritis merupakan salah satu masalah kedokteran yang paling sering terjadi
dan menimbulkan gejala pada orang orang usia lanjut maupun setengah baya.
Terjadi pada orang dari segala etnis, lebih sering mengenai wanita, dan
merupakan penyebab tersering disabilitas jangka panjang pada pasien dengan usia
lebih dari 65 tahun. Lebih dari sepertiga orang dengan usia lebih dari 45 tahun
mengeluhkan gejala persendian yang bervariasi mulai sensasi kekakuan sendi
tertentu dan rasa nyeri intermiten yang berhubungan dengan aktivitas, sampai
kelumpuhan anggota gerak dan nyeri hebat yang menetap, biasanya dirasakan
akibat deformitas dan ketidakstabilan sendi. Degenerasi sendi yang menyebabkan
sindrom klinis osteoartritis muncul paling sering pada sendi tangan, kaki,

panggul, dan spine, meskipun dapat terjadi pada sendi synovial mana pun.
Prevalensi kerusakan sendi synovial ini meningkat dengan bertambahnya usia.
Klinis osteoartritis disertai adanya nyeri sendi yang kronik. Banyak pasien dengan
osteoartritis juga mengalami keterbatasan gerakan, krepitasi dengan gerakan, dan
efusi sendi. Pada kondisi yang berat dapat terjadi deformitas tulang dan
subluksasi. Sebagian besar pasien dengan osteoartritis datang dengan keluhan
nyeri sendi. Pasien sering menggambarkan nyeri yang dalam, ketidaknyamanan
yang sukar dilokalisasikan, yang telah dirasakan selama bertahun-tahun. Nyeri
yang berhubungan dengan aktivitas biasanya terasa segera setelah penggunaan
sendi dan nyeri dapat menetap selama berjam-jam setelah aktivitas.
1. Definisi
a.
Osteoarthritis (OA) merupakan sindroma klinis nyeri sendi yang disertai
dengan berbagai derajat limitasi fungsi dan berkurangnya quality of life.
Penyakit ini merupakan bentuk arthritis yang paling sering terjadi di
seluruh dunia, menyerang lebih dari 20 juta orang hanya di negara
Amerika Serikat saja. Osteoartritis merupakan kelainan sendi non
inflamasi yang mengenai sendi-sendi penumpu berat badan dengan
gambaran patologis yang berupa memburuknya tulang rawan sendi, yang
merupakan hasil akhir dari perubahan biokimiawi, metabolisme fisiologis
maupaun patologis yang terjadi pada perendian3
b. Etiologi
Pada umumnya penderita Osteoarthritis lutut ini, etiologinya tidak
diketahui. Namun beberapa faKtor yang disebut-sebut mempunyai
peranan atas timbulnya Osteoarthritis antara lain :
a. Umur
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor ketuaan
adalah yang terkuat. Prevalensi, dan beratnya osteoartritis semakin
meningkat dengan bertambahnya umur. OA hampir tidak pernah pada
anak-anak, jarang pada umur di bawah 40 tahun dan sering pada umur di
atas 60 tahun Hal ini disebabkan karena adanya hubungan antara umur
dengan penurunan kekuatan kolagen dan proteoglikan pada kartilago
sendi.
b. Jenis kelamin

Pada orang tua yang berumur lebih dari 55 tahun, prevalensi terkenanya
osteoartritis pada wanita lebih tinggi dari pria. Usia kurang dari 45 tahun
Osteoarthritis lebih sering terjadi pada pria dari wanita.
c. Suku bangsa
Osteoartritis primer dapat menyerang semua ras meskipun terdapat
perbedaan prevalensi pola terkenanya sendi pada osteoartritis. Hal ini
mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaaan pada
frekuensi pada kelainan kongenital dan pertumbuhan.
d. Genetik
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis. Adanya
mutasi dalam gen prokolagen atau gen-gen struktural lain untuk unsurunsur tulang rawan sendi seperti kolagen, proteoglikan berperan dalam
timbulnya kecenderungan familial pada osteoartritis.
e. Kegemukan dan penyakit metabolik
Berat badan yang berlebih ternyata dapat meningkatkan tekanan mekanik
pada sendi penahan beban tubuh, dan lebih sering menyebabkan
osteoartritis lutut. Kegemukan ternyata tidak hanya berkaitan dengan
osteoartritis pada sendi yang menanggung beban, tetapi juga dengan
osteoartritis sendi lain, diduga terdapat faktor lain (metabolik) yang
berperan pada timbulnya kaitan tersebut antara lain penyakit jantung
koroner,diabetes melitus dan hipertensi.
f. Cedera sendi (trauma), pekerjaan dan olah raga
Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian suatu sendi yang terusmenerus, berkaitan dengan peningkatan resiko osteoartritis tertentu.
Demikian juga cedera sendi dan oleh raga yang sering menimbulkan
cedera sendi berkaitan resiko osteoartritis yang lebih tinggi.
2. Etiologi
Penyebab dari osteoartritis hingga saat ini masih belum terungkap, namun
beberapa faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis antara lain adalah :
a. Umur. Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor
ketuaan adalah yang terkuat. Prevalensi dan beratnya orteoartritis semakin
meningkat dengan bertambahnya umur. Osteoartritis hampir tak pernah
pada anak-anak, jarang pada umur dibawah 40 tahun dan sering pada
umur diatas 60 tahun. Perubahan fisis dan biokimia yang terjadi sejalan

dengan bertambahnya umur dengan penurunan jumlah kolagen dan kadar


air, dan endapannya berbentuk pigmen yang berwarna kuning.
b. Jenis Kelamin. Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi ,
dan lelaki lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan
leher. Secara keeluruhan dibawah 45 tahun frekuensi osteoartritis kurang
lebih sama pada laki dan wanita tetapi diatas 50 tahun frekuensi
oeteoartritis lebih banyak pada wanita dari pada pria hal ini menunjukkan
adanya peran hormonal pada patogenesis osteoartritis.
c. Genetic Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis missal,
pada ibu dari seorang wanita dengan osteoartritis pada sendi-sendi inter
falang distal terdapat dua kali lebih sering osteoartritis pada sendi-sendi
tersebut, dan anak-anaknya perempuan cenderung mempunyai tiga kali
lebih sering dari pada ibu dan anak perempuan dari wanita tanpa
osteoarthritis. Heberden node merupakan salah satu bentuk osteoartritis
yang biasanya ditemukan pada pria yang kedua orang tuanya terkena
osteoartritis, sedangkan wanita, hanya salah satu dari orang tuanya yang
terkena.
d. Suku. Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada osteoartritis nampaknya
terdapat perbedaan diantara masing-masing suku bangsa, misalnya
osteoartritis paha lebih jarang diantara orang-orang kulit hitam dan usia
dari pada kaukasia. Osteoartritis lebih sering dijumpai pada orang orang
Amerika asli dari pada orang kulit putih. Hal ini mungkin berkaitan
dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan
kongenital dan pertumbuhan.
e. Kegemukan Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan
meningkatnya resiko untuk timbulnya osteoartritis baik pada wanita
maupun pada pria. Kegemukan ternyata tak hanya berkaitan dengan
osteoartritis pada sendi yang menanggung beban, tapi juga dengan
osteoartritis sendi lain (tangan atau sternoklavikula).
f. Cedera sendi, pekerjaan dan olah raga (trauma) Kegiatan fisik yang dapat
menyebabkan osteoartritis adalah trauma yang menimbulkan kerusakan
pada integritas struktur dan biomekanik sendi tersebut.
g. Kepadatan tulang dan pengausan (wear and tear) Pemakaian sendi yang
berlebihan secara teoritis dapat merusak rawan sendi melalui dua
mekanisme yaitu pengikisan dan proses degenerasi karena bahan yang
harus dikandungnya.

h. Akibat penyakit radang sendi lain Infeksi (artritis rematord; infeksi akut,
infeksi kronis) menimbulkan reaksi peradangan dan pengeluaran enzim
perusak matriks rawan sendi oleh membran sinovial dan sel-sel radang.
i. Joint Mallignment Pada akromegali karena pengaruh hormon
pertumbuhan, maka rawan sendi akan membal dan menyebabkan sendi
menjadi tidak stabil / seimbang sehingga mempercepat proses degenerasi.
j. Penyakit endokrin Pada hipertiroidisme, terjadi produksi air dan garamgaram proteglikan yang berlebihan pada seluruh jaringan penyokong
sehingga merusak sifat fisik rawan sendi, ligamen, tendo, sinovia, dan
kulit. Pada diabetes melitus, glukosa akan menyebabkan produksi
proteaglikan menurun.
k. Deposit pada rawan sendi Hemokromatosis, penyakit Wilson, akronotis,
kalsium pirofosfat dapat mengendapkan hemosiderin, tembaga polimer,
asam hemogentisis, kristal monosodium urat/pirofosfat dalam rawan
sendi.
3. Patofisiologi
a.
Selama ini OA sering dipandang sebagai akibat dari suatu proses
penuaan yang tidak dapat dihindari. Para pakar yang meneliti penyakit
ini sekarang berpendapat bahwa OA ternyata merupakan penyakit
gangguan homeostasis dari metabolisme kartilago dengan kerusakan
struktur proteoglikan kartilago yang penyebabnya belum jelas
diketahui. OA dan proses penuaan (aging process), serta OA dapat
diinduksi pada percobaan hewan yang distimulasi menggunakan zat
kimia atau trauma buatan. Proses utama OA tersebut sebenarnya
terdapat pada khondrosit yang merupakan satu-satunya sel hidup yang
ada di dalam rawan sendi. Gangguan pada fungsi khondrosit itulah
yang akan memicu proses patogenik OA. Khondrosit akan mensintesis
berbagai komponen yang diperlukan dalam pembentukan rawan sendi,
seperti proteoglikan, kolagen dan sebagainya. Disamping itu ia akan
memelihara keberadaan komponen dalam matriks rawan sendi melalui
b.

mekanisme turn over yang begitu dinamis.


Osteoartritis ditandai dengan fase hipertrofi

kartilago

yang

berhubungan dengan suatu peningkatan terbatas dari sintesis matriks


makromolekul oleh khondrosit sebagai kompensasi perbaikan (repair).
Osteoartritis terjadi sebagai hasil kombinasi antara degradasi rawan
sendi, remodelling tulang dan inflamasi cairan sendi (Tjokroprawiro,

2007). Dengan kata lain terdapat satu keseimbangan antara proses


sintesis dan degradasi rawan sendi. Gangguan keseimbangan ini yang
pada umumnya berupa peningkatan proses degradasi, akan menandai
penipisan rawan sendi dan selanjutnya kerusakan rawan sendi yang
berfungsi sebagai bantalan redam kejut. Sintesis matriks rawan sendi
tetap ada terutama pada awal proses patologik OA, namun kualitas
matriks rawan sendi yang terbentuk tidak baik. Pada proses akhir
kerusakan rawan sendi, adanya sintesis yang buruk tidak mampu lagi
mengatasi proses destruksi sendi yang cepat. Hal ini terlihat dari
menurunya produksi proteoglikan yang ditandai dengan menurunnya
fungsi khondrosit. Khondrosit yang merupakan aktor tunggal pada
proses ini akan dipengaruhi oleh faktor anabolik dan katabolik dalam
mempertahankan keseimbangan sintesis dan degradasi. Faktor
katabolik utama diperankan oleh sitokin Interleukin-1 (IL-1) dan
tumour necrosis factor a (TNFa) yang dikeluarkan oleh sel lain di
dalam sendi. Sedangkan faktor anabolik diperankan oleh transforming
growth factor b(TGFb) dan insulin like growth factor-1 (IGF-1).
Perubahan patologik pada OA ditandai oleh kapsul sendi yang
menebal dan mengalami fibrosis serta distorsi. Pada rawan sendi
pasien OA juga terjadi proses peningkatan aktivitas fibrinogenik dan
penurunan aktivitas fibrinolitik. Proses ini menyebabkan terjadinya
penumpukan trombus dan komplek lipid pada pembuluh darah
subkondral yang menyebabkan terjadinya iskemia dan nekrosis
jaringan subkondral tersebut. Ini mengakibatkan dilepaskannya
mediator kimiawi seperti prostaglandin dan interleukin yang
selanjutnya menimbulkan bone angina lewat subkondral yang
diketahui mengandung ujung saraf sensibel yang dapat menghantarkan
rasa sakit. Penyebab rasa sakit itu dapat juga berupa akibat dari
dilepasnya mediator kimiawi seperti kinin dan prostaglandin yang
menyebabkan radang sendi, peregangan tendon atau ligamentum serta
spasmus otot-otot ekstraartikuler akibat kerja yang berlebihan. Sakit
pada sendi juga diakibatkan oleh adanya osteofit yang menekan
periosteum dan radiks saraf yang berasal dari medulla spinalis serta
kenaikan tekanan vena intrameduler akibat stasis vena intrameduler
karena proses remodelling pada trabekula dan subkondral. Sinovium

mengalami keradangan dan akan memicu terjadinya efusi serta proses


keradangan kronik sendi yang terkena. Permukaan rawan sendi akan
retak dan terjadi fibrilasi serta fisura yang lama-kelamaan akan
menipis dan tampak kehilangan rawan sendi fokal. Selanjutnya akan
tampak respon dari tulang subkhondral berupa penebalan tulang,
sklerotik dan pembentukkan kista. Pada ujung tulang dapat dijumpai
pembentukan osteofit serta penebalan jaringan ikat sekitarnya. Oleh
sebab itu pembesaran tepi tulang ini memberikan gambaran seolah
c.

persendian yang terkena itu bengkak.


Peran makrofag di dalam cairan sendi juga penting, yaitu apabila
dirangsang oleh jejas mekanis, material asing hasil nekrosis jaringan
atau CSFs, akan memproduksi sitokin aktivator plasminogen (PA)
yang disebut katabolin. Sitokin tersebut adalah IL-1, IL-6, TNF dan
, dan interferon (IFN) dan . Interleukin-1 mempunyai efek
multiple pada sel cairan sendi, yaitu meningkatkan sintesis enzim yang
mendegradasi rawan sendi yaitu stromelisin dan kolagenosa,

d.

menghambat proses sintesis dan perbaikan normal khondrosit.


Faktor pertumbuhan dan sitokin mempunyai pengaruh

yang

berlawanan dengan perkembangan OA. Sitokin cenderung merangsang


degradasi komponen matriks rawan sendi, sebaliknya faktor
pertumbuhan merangsang sintesis, padahal IGF-1 pasien OA lebih
rendah dibandingkan individu normal pada umur yang sama.
Percobaan pada kelinci membuktikan bahwa puncak aktivitas sintesis
terjadi setelah 10 hari perangsangan dan kembali normal setelah 3-4
minggu.

Pathway

4. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis dari OA biasanya terjadi secara perlahan-lahan. Awalnya
persendian akan terasa nyeri di persendian, kemudian nyeri tersebut akan menjadi

persisten atau menetap, kemudian diikuti dengan kekakuan sendi terutama saat
pagi hari atau pada posisi tertentu pada waktu yang lama.
Tanda kardinal dari OA adalah kekakuan dari persendian setelah bangun dari tidur
atau duduk dalam waktu yang lama, swelling (bengkak) pada satu atau lebih
persendian, terdengar bunyi atau gesekan (krepitasi) ketika persendian
digerakkan.
Pada kasus-kasus yang lanjut terdapat pengurangan massa otot. Terdapatnya luka
mencerminkan kelainan sebelumnya.Perlunakan sering ditemukan, dan dalam
cairan sendi superfisial, penebalan sinovial atau osteofit dapat teraba.
Pergerakan selalu terbatas, tetapi sering dirasakan tidak sakit pada jarak tertentu;
hal ini mungkin disertai dengan krepitasi.Beberapa gerakan lebih terbatas dari
yang lainnya oleh karena itu, pada ekstensi panggul, abduksi dan rotasi interna
biasanya merupakan gerakan yang paling terbatas. Pada stadium lanjut
ketidakstabilan sendi dapat muncul dikarenakan tiga alasan: berkurangnya
kartilago dan tulang, kontraktur kapsuler asimetris, dan kelemahan otot.
Seperti pada penyakit reumatik umumnya diagnosis tak dapat didasarkan hanya
pada satu jenis pemeriksaan saja. Biasanya dilakukan pemeriksaan reumatologi
ringkas

berdasarkan prinsip

GALS

(Gait, arms, legs, spine) dengan

memperhatikan gejala-gejala dan tanda-tanda sebagai berikut :


a. Nyeri sendi
Nyeri sendi merupakan hal yang paling sering dikeluhkan. Nyeri sendi pada
osteoartritis merupakan nyeri dalam yang terlokalisir, nyeri akan bertambah
jika ada pergerakan dari sendi yang terserang dan sedikit berkurang dengan
istirahat. Nyeri juga dapat menjalar (radikulopati) misalnya pada osteoarthritis
servikal dan lumbal. Claudicatio intermitten merupakan nyeri menjalar ke
arah betis pada osteoartritis lumbal yang telah mengalami stenosis spinal.
b. Kaku pada pagi hari (morning stiffness)
Kekakuan pada sendi yang terserang terjadi setelah imobilisasi misalnya
karena duduk di kursi atau mengendarai mobil dalam waktu yang sukup lama,
bahkan sering disebutkan kaku muncul pada pagi hari setelah bangun tidur
(morning stiffness).

c. Hambatan pergerakan sendi


Hambatan pergerakan sendi ini bersifat progresif lambat, bertambah berat
secara perlahan sejalan dengan bertambahnya nyeri pada sendi
d. Krepitasi
Rasa gemeretak (seringkali sampai terdengar) yang terjadi pada sendi yang
sakit.
e. Perubahan bentuk sendi
Sendi yang mengalami osteoarthritis biasanya mengalami perubahan berupa
perubahan bentuk dan penyempitan pada celah sendi
f. Perubahan gaya berjalan
Hal yang paling meresahkan pasien adalah perubahan gaya berjalan, hampir
semua pasien osteoarthritis pada pergelangan kaki, lutut dan panggul
mengalami perubahan gaya berjalan (pincang).
5. Komplikasi
Komplikasi yang bisa terjadi pada osteoartritis yaitu nyeri dan kekauan sendi
yang dapat menjadi sangat berat sehingga penderita tidak bisa beraktivitas.
6. Pemeriksaan Diagnotik
Diagnosis osteoarthritis lutut berdasrkan klinis, klinis dan radiologis, serta klinis
dan laboratoris (JH Klippel, 2001) :
a. Klinis:
Nyeri sendi lutut dan 3 dari kriteria di bawah ini:
1. umur > 50 tahun
2. kaku sendi < 30 menit
3. krepitus
4. nyeri tekan tepi tulang
5. pembesaran tulang sendi lutut
6. tidak teraba hangat pada sendi
Catatan: Sensitivitas 95% dan spesifisitas 69%.
b. Klinis, dan radiologis:
Nyeri sendi dan paling sedikit 1 dari 3 kriteria di bawah ini:
1. umur > 50 tahun
2. kaku sendi <30 menit
3. krepitus disertai osteofit
Catatan: Sensitivitas 91% dan spesifisitas 86%.
c. Klinis dan laboratoris:
Nyeri sendi ditambah adanya 5 dari kriteria di bawah ini:
1. usia >50 tahun

2. kaku sendi <30 menit


3. Krepitus
4. nyeri tekan tepi tulang
5. pembesaran tulang
6. tidak teraba hangat pada sendi terkena
7. LED<40 mm/jam
8. RF <1:40
9. analisis cairan sinovium sesuai osteoarthritis
Catatan: Sensitivitas 92% dan spesifisitas 75%.
Kriteria diagnosis osteoarthritis tangan adalah nyeri tangan, ngilu atau kaku dan
disertai 3 atau 4 kriteria berikut:
1. pembengkakan jaringan keras > 2 diantara 10 sendi tangan
2. pembengkakan jaringan keras > 2 sendi distal interphalangea (DIP)
3. pembengkakan < 3 sendi metacarpo-phalanea (MCP)
4. deformitas pada 1 diantara 10 sendi tangan
Catatan : 10 sendi yang dimaksud adalah: DIP 2 dan 3, PIP 2 dan 3 dan CMC 1
masing-masing tangan. Sensitivitas 94% dan spesifisitas 87%.
7. Penatalaksanaan
Saat ini masih belum ditemukan terapi yang dapat menyembuhkan osteoartritis.
Terapi yang saat ini diberikan hanya ditujukan untuk mengurangi nyeri,
memperbaiki pergerakan sendi, dan membatasi kerusakan sendi. Terapi yang
biasa diberikan yaitu :

1. Terapi Non Farmakologi


Terapi ini meliputi :
a. Konseling, Informasi dan Edukasi Pasien

Pemberian informasi dan edukasi pasien diperlukan agar pasien mengerti


tentang kondisi penyakit yang dihadapi dan dapat melakukan perubahan
gaya hidup kearah yang positif.
b. Latihan Kekuatan dan Senam Aerobik
Latihan bermanfaat untuk menguatkan otot sekitar sendi yang akhirnya
akan membantu pengurangan berat badan. Berenang, jalan kaki, bersepeda
stasioner atau latihan beban ringan sangat dianjurkan karena terbukti
mampu mengurangi rasa nyeri dan memperbaiki kekakuan sendi.2
c. Penurunan Berat Badan
Berkurangnya berat badan mengurangi beban yang disangga oleh sendi
sehingga mengurangi nyeri sendi dan memperbaiki fungsi sendi.3
d. Penggunaan Alat Bantu
Alat bantu seperti sepatu penyerap goncangan, tongkat dll dipertimbangkan
sebagai tambahan terapi untuk mengurangi rasa nyeri saat beraktivitas.
2. Terapi Farmakologi
a. AINS Topikal
AINS Topikal lebih disarankan dibanding AINS oral. Menurut hasil sebuah
meta analisis menunjukkan bahwa AINS Topikal terbukti efektif
mengurangi nyeri dan kekakuan sendi.4 Beberapa sediaan AINS Topikal
seperti ibuprofen, Na. Diklofenak, salisilamid dalam bentuk salep, krim,
atau gel lebih dianjurkan dibanding koyo karena berdasar penelitian yang
ada menunjukkan hasil yang tidak signifikan pada koyo dibandingkan
plasebo untuk penyakit osteoartritis.5
b. Paracetamol
Pedoman terapi menganjurkan penggunaan paracetamol sebagai pilihan
utama analgesik untuk pasien osteoartritis dengan pembatasan pemakaian
500 mg untuk satu kali minum dan tidak lebih dari 4 g dalam sehari.6

c. Kapsaisin
Penggunaan kapsaisin topikal dapat digunakan pada penderita osteoartritis
lutut atau tangan. Meskipun seringkali menimbulkan sensasi terbakar dan
kemerahan pada area yang dioleskan, namun tidak perlu penghentian
terapi.3
d. AINS Oral
Prinsip penggunaan AINS Oral adalah sebagai berikut :
1) Jika AINS Topikal atau Paracetamol tidak cukup kuat mengatasi nyeri
2) Penggunaan AINS Oral dimulai dari dosis efektif terkecil dan lama
pemberian sesingkat mungkin7
e. Operasi Joint Arthroplasty
Rujukan operasi dibuat sebelum terjadi kerusakan sendi yang parah.

8. Rencana Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
1. Aktivitas/istirahat
Gejala : nyeri sendi karena pergerakan, nyeri tekan, yang memburuk
dengan stress dengan sendi, kekakuan senda pada pagi hari, biasanya
terjadi secara bilateral dan simetris.
Tanda : malaise, keterbatasan ruang gerak, atrofi otot, kulit kontraktur atau
kelainan pada sendi dan otot.
2. Kardiovaskur
Gejala : fenomena Raynaud jari tangan/kaki, missal pucat intermitten,
sianotik kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal.
3. Integritas ego
Gejala : factor-faktor stress akut/kronis missal finansial, pekerjaan,
ketidakmampuan,

factor-faktor

hubungan

social,

keputusan

dan

ketidakberdayaan. Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas diri


missal ketergantungan pada orang lain, dan perubahan bentuk anggota
tubuh.
4. Makanan / cairan

Gejala : ketidakmampuan untuk menghasilkan atau mengonsumsi makanan


atau cairan adekuat : mual, anoreksia, dan kesulitan untuk mengunyah.
Tanda : penurunan berat badan, dan membrane mukosa kering.
5. Hygiene
Gejala : berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi
secara mandiri, ketergantungan pada orang lain.

6. Neurosensory
Gejala : kebas/ kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada
jari tangan.
Tanda : pembengkakan sendi simetri.
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala : fase akut dari nyeri ( disertai / tidak disertai pembengkakan
jaringan lunak pada sendi ), rasa nyeri kronis dan kekakuan ( terutama pada
pagi hari ).
8. Keamanan
Gejala : kulit mengkilat, tegang, nodus subkutaneus. Lesi kulit, ulkus kaki,
kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga, demam
ringan menetap, kekeringan pada mata, dan membrane mukosa.
9. Interaksi social
Gejala : kerusakan interaksi dengan keluarga/orang lain, perubahan peran,
isolasi.
B. Diagnosa
1.
Nyeri akut/kronis berhubungan dengan inflamasi
2.
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan gangguan
musculoskletal.
Difisit perawatan diri berhubungan dengan terbatasnya gerakan sendi
Resiko cidera berhubungan dengan penurunan fungsi tulang.
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan biofisik.
Difisiensi pengetahuan berhubungan dengan kondisi prognosis dan

3.
4.
5.
6.

kebutuhan pengobatan sehubungan dengan kurangnya informasi.


C. Intrvensi
1. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan inflamasi
Tujuan & Kriteria Hasil
Pasien akan :
1. Menunjukkan tingkat
kenyamanan.
2. Dapat mengendalikan nyeri
3. Dapat melaporkan
karakteristik nyeri.

Intervensi
Kaji keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas
(skala 0 10).
Berikan matras atau kasur keras, bantal kecil.
Tinggikan tempat tidur sesuai kebutuhan
Biarkan pasien mengambil posisi

yang

nyaman pada waktu tidur atau duduk di kursi.

Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi


Dorong untuk sering mengubah posisi. Bantu
pasien untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi
yang sakit di atas dan di bawah, hindari gerakan
yang menyentak
Anjurkan pasien untuk mandi air hangat .
Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendisendi yang sakit beberapa kali sehari.
Berikan masase yang lembut

Kolaborasi
Beri obat sebelum aktivitas atau latihan yang
direncanakan sesuai petunjuk.

2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan gangguan


musculoskletal.
Tujuan & Kriteria Hasil
Intervensi
Pasien akan :
berikan terapi latihan fisik : ambulasi,
1. Melakukan aktifitas
keseimbangan, mobilitas sendi, pengendalian otot
kehidupan sehari-hari
Bantu dan dorong perawatan diri
secara mandiri dengan alat
bantu
2. Memperlihatkan
mobilitas
3. Difisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan moskuluskeletal
Tujuan & kriteria hasil
Pasien akan :
1. Menunjukkan
perawaan diri dan
melakukan aktivitas
kehidupan sehari-hari

Intervensi
Bantu perawatan diri pasien : mandi/higiene
Bantu pemenuhan eliminasi pasien

4. Resiko cidera berhubungan dengan penurunan fungsi tulang


Tujuan & kriteria hasil
Intervensi
Pasien akan :
Menejemen lingkungan: pantau lingkungan
1. Pasien dan keluarga
fisik untuk memfasilitasi keamanan.
dapat mempersiapkan
Berikan bimbingan dan pengalaman belajar
lingkungan
yang
aman.
tentang kesehatan individu yang kondusif.
2. Pasien dan keluarga
Identifikasi faktor resiko potensial terjadinya
dapat
menghindari
cidera.
cidera fisik.
3. Dapat memodofikasi
gaya hidup untuk
mengurangi resiko

5. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan biofisik.


Tujuan & kriteria hasil
Pasien akan :
1. Menunjukkan
adaptasi
dengan
ketunadayaan fisik,
penyesuaian
psikososial.
2. Menunjukkan
citra
tubuh positif dan
harga diri positif.
3. Menunjukkan
kepuasan
terhadap
penampilan
dan
fungsi tubuh.
4. Menunjukkan
keinginan
untuk
menyentuh
bagian
tubuh
yang
mengalami gangguan

Intervensi
Diskusikan persepsi pasien tentang keadaan
tubuh pasien
Dorong pasien untuk beradaptasi dengan
persepsi stresor atau ancaman yang menghambat
peran hidup.
Diskusikan dengan pasien tentang faktor resiko
potensial
dan
memprioritaskan
strategi
menurunkan resiko.
Dorong pasien terhadap peningkatkan penilaian
personal terhadap harga diri.
Kolaborasi
Rujuk pada konseling psikiatri
Berikan obat-obatan sesuai petunjuk

6. Difisit pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif dan kurang


familiar dengan sumber-sumber informasi
Tujuan & kriteria hasil
Pasien akan :
1. Memperlihatkan
pengetahuan
tentang
penyakitnya
2. Dapat mengidentifikasi
kebutuhan
terhadap
informasi
tambahan
tentang program terapi

Intervensi
Edukasi kesehatan : berikan bimbingan dan
pengalaman belajar tentang perilaku kesehatan
yang kondusif
Penyuluhan prosedur terapi : berikan
pemahaman kepada pasien secara mental tentang
prosedur dan penanganan

9. Diagnosa Keperawatan Pre Dan Post Operasi


a. Nyeri b/d penurunan fungsi tulang, distensi jaringan oleh akumulasi
cairan/proses inflamasi, distruksi sendi.
b. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan : Deformitas skeletal, Nyeri,
ketidaknyamanan , Penurunan kekuatan otot
c. Risiko cedera b/d penurunan fungsi tulang.
d. Perubahan pola tidur b/d nyeri
e. Defisit perawatan diri b/d nyeri dan kelemahan, Kerusakan Auskuloskeletal :
Penurunan Kekuatan, Daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, Depresi.
f. Gangguan citra tubuh/ perubahan penampilan peran b/d perubahan
kemampuan untuk melakukan tugas-tugas umum, Peningkatan penggunaan
energi, ketidakseimbangan mobilitas.

g. Resiko Tinggi terhadap Kerusakan Penatalaksanaan Lingkungan berhubungan


dengan : Proses penyakit degeneratif jangka panjang, Sistem pendukung tidak
adekuat.
h. Kurang Pengetahuan (Kebutuhan Belajar) Mengenai Penyakit, Prognosis dan
Kebutuhan Perawatan dan Pengobatan b/d kurangnya pemahaman /
mengingat kesalahan interpretasi informasi.
10. Perencanaan Keperawatan Pre Dan Post Operasi
1. Fase Pembedahan Preoperatif
A. Persiapan Fisik
Berbagai persiapan fisik yang harus dilakukan terhadap pasien sebelum
operasi antara lain :
a. Status kesehatan fisik secara umum
Pemeriksaan status kesehatan secara umum meliputi identitas klien,
riwayat penyakit, riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik
lengkap; antara lain status hemodinamika, status kardiovaskuler, status
pernafasan, fungsi ginjal dan hepatik, fungsi endokrin dan fungsi
imunologi. Selain itu pasien harus istirahat yang cukup karena pasien
tidak akan mengalami stres fisik dan tubuh lebih rileks sehingga bagi
pasien yang memiliki riwayat hipertensi, tekanan darah pasien dapat
stabil serta bagi pasien wanita tidak akan memicu terjadinya haid lebih
awal.

b. Status Nutrisi
Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat
badan, lipat kulit trisep, lingkar lengan atas, kadar protein darah
(albumin dan globulin) dan keseimbangan nitrogen. Segala bentuk
defisiensi nutrisi harus dikoreksi sebelum pembedahan untuk
memberikan protein yang cukup bagi perbaikan jaringan. Segala

bentuk defisiensi nutrisi harus dikoreks sebelum pembedahan untuk


memberikan protein yang cukup untuk perbaikan.

Protein sangat penting untuk mengganti massa otot tubuh selama fase
katabolik setelah pembedahan, memulihkan volume darah dan protein
plasma yang hilang, dan untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat
untuk

perbaikan

jaringan

dan

daya

tahan

terhadao

infeksi.

Kondisi gizi buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami berbagai


komplikasi pasca operasi dan mengakibatkan pasien menjadi lebih
lama dirawat di rumah sakit. Komplikasi yang paling sering terjadi
adalah infeksi pasca operasi, dehisiensi (terlepasnya jahitan sehingga
luka tidak bisa menyatu), demam dan penyembuhan luka yang lama.
Pada kondisi yang serius pasien dapat mengalami sepsis yang bisa
mengakibatkan kematian.

c. Keseimbangan cairan dan elektrolit


Keseimbangan cairan dan elektrolit perlu diperhatikan dalam
kaitannya dengan input dan output cairan. Demikian juga kadar
elektrolit serum harus berada dalam rentang normal. Kadar elektrolit
yang biasanya diperiksa adalah kadar natrium serum (normal : 135
145 mmol/l), kadar kalium serum (normal : 3,5 5 mmol/l) dan kadar
kreatinin serum (0,70 1,50 mg/dl).

Keseimbangan cairan dan elektrolit berkaitan erat dengan fungsi


ginjal. Ginjal berfungsi mengatur mekanisme asam basa dan ekskresi
metabolit obat-obatan anastesi. Jika fungsi ginjal baik maka operasi
dapat dilakukan dengan baik. Namun jika ginjal mengalami gangguan
seperti oliguri atau anuria, insufisiensi renal akut, nefritis akut maka
operasi harus ditunda menunggu perbaikan fungsi ginjal, kecuali pada
kasus-kasus yang mengancam jiwa.

d. Kebersihan lambung dan kolon


Lambung dan kolon harus dibersihkan terlebih dahulu. Intervensi
keperawatan yang bisa diberikan diantaranya adalah pasien dipuasakan
dan dilakukan tindakan pengosongan lambung dan kolon dengan
tindakan enema atau lavement. Lamanya puasa berkisar antara 7 8
jam. Tujuan pengosongan lambung dan kolon adalah untuk
menghindari aspirasi (masuknya cairan lambung ke paru-paru) dan
menghindari kontaminasi feses ke area pembedahan sehingga
menghindarkan terjadi infeksi pasca pembedahan. Khusus pada pasien
yang menbutuhkan operasi CITO (segera) seperti pada pasien
kecelakaan lalu lintas, pengosongan lambung dapat dilakukan dengan
cara pemasangan NGT (naso gastric tube).

e. Personal Hygine
Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk persiapan operasi
karena tubuh yang kotor dapat menjadi sumber kuman dan
mengakibatkan infeksi pada daerah yang dioperasi. Pada pasien yang
kondisi

fisiknya

kuat

diajurkan

untuk

mandi

sendiri

dan

membersihkan daerah operasi dengan lebih seksama. Sebaliknya, jika


pasien tidak mampu memenuhi kebutuhan personal hygiene secara
mandiri maka perawat akan memberikan bantuan pemenuhan
kebutuhan personal hygiene.

f. Pengosongan kandung kemih


Pengosongan

kandung

kemih

dilakukan

dengan

melakukan

pemasangan kateter. Selain untuk pengosongan isi bladder tindakan


kateterisasi juga diperlukan untuk mengobservasi keseimbangan cairan.

g. Latihan Fisik

Berbagai latihan sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi, hal


ini sangat penting sebagai persiapan pasien dalam menghadapi kondisi
pascaoperasi, seperti nyeri daerah operasi, batuk dan banyak lendir
pada tenggorokan. Latihan yang diberikan pada pasien sebelum
operasi antara lain latihan nafas dalam, latihan batuk efektif dan
latihan gerak sendi.

h. Perubahan posisi dan gerakan tubuh aktif


Tujuannya adalah untuk memperbaiki sirkulasi, mencegah statis vena,
dan menunjang fungsi pernafasan yang optimal. Pasien ditunjukkan
bagaimana cara untuk berbalik dari satu sisi ke sisi lainnya dan cara
untuk mengambil posisi lateral. Latihan ekstremitas meliputi ekstensi
dan fleksi lutut dan sendi panggul, telapak kaki diputar seperti
membuat lingkaran sebesar mungkin menggunakan ibu jari kaki. Siku
dan bahu dilatih untuk ROM.

i. Kontrol dan medikasi nyeri


Medikasi praanestesi akan diberikan untuk meningkatkan relaksasi.
Pada pascaoperatif, medikasi akan diberikan untuk mengurangi nyeri
dan mempertahankan rasa nyaman.

j. Latihan nafas dalam dan batuk


Salah satu tujuan dari asuhan keperawatan praoperatif adalah untuk
mengajarkan pada pasien mengenai cara untuk meningkatkan ventilasi
paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum.
1) Pernafasan Diafragmatik
Pernafasan diafragmatik mengacu pada pendataran diafragma
selama inspirasi dengan mengakibatkan pembesaran abdomen
bagian atas sejalan dengan desakan udara masuk. selam ekspirasi
otot abdomen berkontraksi.

a) Lakukan dalam posisi di atas tempat tidur dengan punggung dan


bahu tesangga oleh bantal.
b) Dengan tangan dalam posisi genggaman kendur, biarkan tangan
berada di atas iga paling bawah dengan jari-jari tangan
menghadap dada bagian bawah.
c) Keluarkan nafas dengan perlahan dan penuh bersamaan dengan
gerakan iga menurun.
d) Ambil nafas dalam melalui hidung dan mulut, biarkan abdomen
mengembang bersamaan dengan paru-paru terisi oleh udara.
e) Tarik nafas dalam hitungna kelima.
f) Hembuskan dan keluarkan semua udara melalui hidung dan
mulut.
2) Batuk
a) Condong sedikit ke depan dari posisi duduk di tempat tidur,
jalinkan jari-jari tangan dan letakkan tangan melintang letak
insisi untuk bertindak sebagai bebat ketika batuk.
b) Nafas dengan diafragma.
c) Dengan mulut agak terbuka, hirup udara.
d) Hakkan keluar dengan keras dengan tiga kali nafas pendek.
e) Dengan mulut tetap terbuka, lakukan nafas dalam dengan cepat
dan dengan cepat batuk dengan kuat satu atau dua kali. Hal ini
membantu membersihkan sekresi dari dada.
3) Kontrol kognitif
Bermanfaat untuk menghilangkan ketegangan dan ansietas yang
berlebihan. Kontrol kognitif tersebut seperti : imajinasi dan
distraksi. Pada kontrol kognitif imajinasi, pasien dianjurkan untuk

berkonsentrasi pada pengalaman yang menyenangkan. Sedangkan


kontrol kognitif distraksi, pasien dianjurkan untuk memikirkan
cerita yang dapat dinikmati.

B. Persiapan Psikis (Mental)


Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses
persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat
berpengaruh terhadap kondisi fisiknya.

Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial maupun aktual pada


integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stres fisiologis
maupun psikologis (Barbara C. Long). Contoh perubahan fisiologis yang
muncul akibat kecemasan/ketakutan antara lain, pasien dengan riwayat
hipertensi jika mengalami kecemasan sebelum operasi dapat mengakibatkan
pasien sulit tidur dan tekanan darahnya akan meningkat sehingga operasi
bisa dibatalkan.

Setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi


pengalaman operasi sehingga akan memberikan respon yang berbeda pula.
Akan tetapi, sesungguhnya perasaan takut dan cemas selalu dialami setiap
orang dalam menghadapi pembedahan. Berbagai alasan yang dapat
menyebabkan ketakutan/kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan
antara lain :
1) Takut nyeri setelah pembedahan
2) Takut terjadi perubahan fisik, menjadi buruk rupa dan tidak berfungsi
normal (body image)
3) Takut keganasan (bila diagnosa yang ditegakkan belum pasti)

4) Takut/cemas mengalami kondisi yang dama dengan orang lan yang


mempunyai penyakit yang sama.
5) Takut/ngeri menghadapi ruang operasi, peralatan pembedahan dan
petugas.
6) Takut mati saat dibius/tidak sadar lagi.
6) Takut operasi gagal.

Persiapan mental yang kurang memadai dapat mempengaruhi pengambilan


keputusan pasien dan keluarga, sehingga tidak jarang pasien menolak
operasi yang sebelumnya telah disetujui dan biasanya pasien pulang tanpa
operasi dan beberapa hari kemudian datang lagi ke rumah sakit setalah
merasa sudah siap. Hal ini berarti telah menunda operasi yang mestinya
sudah dilakukan beberapa hari/minggu yang lalu.

Oleh karena itu persiapan mental pasien menjadi hal yang penting untuk
diperhatikan dan didukung oleh keluarga/orang terdekat pasien. Persiapan
mental dapat dilakukan dengan bantuan keluarga dan perawat. Kehadiran
dan keterlibatan keluarga sangat mendukung persiapan mental pasien.
Keluarga hanya perlu mendampingi pasien sebelum operasi, memberikan
doa dan dukungan pasien dengan kata-kata yang menenangkan hati pasien
dan meneguhkan keputusan pasien untuk menjalani operasi.

C.Persiapan administrasi
Keluarga pasien yang akan dilakukan prosedur operasi wajib bertanggung
jawab membaca dan mendatangani surat izin operasi.
1. Proses Keperawatan dan Klien Bedah
a. Pengkajian
a) Riwayat medis.

Pengkajian ulang riwayat kesehatan klien meliputi riwayat


penyakit yang pernah diderita dan alasan utama klien mencari
pengobatan.
b) Pemeriksaan fisik
Berfokus pada data yang berhubungan dengan riwayat kesehatan
klien dan sistem tubuh yang akan dipengaruhi oleh pembedahan.

c) Kesehatan emosional
Perawat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan, konsep diri,
citra diri, dan sumber koping klien untuk memahami dampak
pembedahan pada kesehatan emosional klien.
d) Riwayat pembedahan
Pengalaman bedah sebelumnya mempengaruhi respon fisik dan
psikologis klien terhadap prosedur pembedahan.
e) Riwayat obat-obatan
Obat tertentu mempunyai implikasi khusus bagi klien bedah. Obat
yang diminum sebelum pembedahan akan dihentikan saat klien
selesai menjalani operasi kecuali dokter meminta klien untuk
menggunakannya kembali.
f) Alergi
Perawat harus mewaspadai adanya alergi terhadap obat yang
mungkin diberikan selama fase pembedahan.
g) Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol
Pada klien perokok setelah pembedahan akan mengalami kesulitan
dalam membersihkan jalan nafas dari sekresi lender dan bagi klien

pengguna alcohol dapat menyebabkan klien memerlukan dosis


anastesi lebih tinggi.
h) Budaya
Klien yang berasal dari budaya yang berbeda akan menunjukkan
reaksi yang berebeda tentang pengalaman operasi.

b. Diagnosa
Diagnosa keperawatan pada klien preoperative
a) Ansietas yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang
pembedahan yang akan dilakukan dan adanya ancaman kehilangan
bagian tubuh
b) Ketidakefektifan koping keluarga : menurun berhubungan dengan
perubahan sementara pada peran klien dan beratnya operasi yang
akan dilaksanakan
c) Ketakutan yang berhubungan dengan pembedahan yang akan
dilaksanakan dan antisipasi nyeri pascaoperatif
d) Kurang

pengetahuan

tentang

implikasi

pembedahan

yang

berhubungan dengan kurang pengalaman tentang operasi dan


kesalahpahaman informasi
e) Perubahan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

yang

berhubungan dengan asupan nutrisi yang berlebihan


f) Ketidakberdayaan yang berhubungan dengan operasi darurat
g) Risiko gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan radiasi
preoperatif dan imobilisasi selama operasi
h) Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan ketakutan
menghadapi operasi dan jadwal preoperatif rutin di rumah sakit.

c. Perencanaan
Klien bedah perlu diikutsertakan dalam pembuatan rencana perawatan.
Dengan melibatkan klien sejak awal pembuatan rencana asuhan
keperawatan bedah, risiko pembedahan dan komplikasi pasca operatif
dapat diminimalkan. Misalnya, riset keperawatan menunjukkan bahwa
penyuluhan preoperatif yang diberikan secara terstruktur dapat
mempersingkat masa rawat klien di rumah sakit. Rasa takut klien yang
telah diinformasikan tentang pembedahan akan menurun dan klien
akan mempersiapkan diri untuk berpartisipasi dalam tahap pemulihan
pasca operatif sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai. Keluarga
juga merupakan rekan penting dalam memahami hasil akhir yang telah
ditetapkan untuk mencapai pemulihan. Pada setiap diagnosa, perawat
menetapkan tujuan perawatan dan hasil akhir yang harus dicapai untuk
memastikan pemulihan atau mempertahankan status preoperatif klien.
Untuk klien bedah sehari, tahap perencanaan preoperatif dilakukan di
rumah atau di unit bedah sehari pada pagi hari sebelum klien
menjalani operasi. Idealnya, tahap ini dilakukan di rumah dengan cara
perawat menelepon klien di rumah dan di unit bedah dan atau tempat
praktik dokter dan menjelaskan tentang informasi dan instrupsi
preoperatif. Cara ini member waktu pada klien untuk memikirkan
operasi yang akan dijalaninya, melakukan persiapan fisik yang
diperlukan (misal; mengubah diet atau berhenti minum obat), dan
bertanya tentang prosedur pasca operatif. Klien bedah sehari biasanya
pulang ke rumah pada hari yang sama ia menjalani opersi. Jadi,
perawatan preoperatif yang direncanakan dengan baik member
kepastian bahwa klien telah mendapat informasi yang cukup dan
mampu berpartisispasi aktif selama tahap pemulihan. Keluarga atau
pasangan klien juga dapat berperan sebagai pendukung aktif bagi
klien.

Rencana keperawatan preoperatif dibuat berdasarkan diagnosa

keperawatan individu. Namun, setiap klien harus menjalani persiapan


dasar.

Tujuan perawatan klien bedah antara lain


1. Memahami respon pembedahan secara fisiologis dan psikologis
2. Memahami tahap tahap intraoperatif dan pasca operatif
3. Mendapatkan rasa nyaman dan relaksasi emosional
4. Mendapatkan

kembali

fungsi

fisiologis

normal

setelah

pembedahan (misal tanda tanda vital kembali norma)


5. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit normal.
6. Mendapatkan rasa nyaman dan istirahat
7. Mempertahankan luka bedah bebas dari infeksi
8. Menghindarkan cedera selama periode perioperatif

d. Implementasi
a) Persetujuan tindakan
Secara hukum pembedahan tidak boleh dilakukan sebelum klien
memahami prosedur pembedahan yang akan dilakukan, tahap
tahap yang harus dilalui, resiko, hasil yang diharapkan dan terapi
alternatifnya. Klien harus memberikan persetujuan atas tindakan
yang akan dilakukan.
b) Penyuluhan klien
Penyuluhan preoperatif tentang perilaku yang diharapkan yang
dilakukan klien saat pascaoperasi, yang diberikan secara sistematik

dan terstruktur sesuai dengan prinsip prinsip dan mempunyai


pengaruh positif bagi pemulihan klien.
1. Memberikan dorongan pada pasien. Dengarkan, pahami klien
dan

berikan

informasi

yang

membantu

menyingkirkan

kekhawatiran klien.
2. Melibatkan

peran

keluarga

atau

sahabat

klien

untuk

memberikan dorongan pada klien.


3. Membantu klien untuk mendapatkan bantuan spiritual yang
klien inginkan Menurunkan ansietas preoperative
4. Perawat memberikan dorongan untuk pengungkapan dan harus
mendengarkan, memahami, dan memberikan informasi yang
membantu menyingkirkan kekhawatiran tersebut.
5. Evaluasi
6. Perawat mengevaluasi keberhasilan penyuluhan preoperatif dan
peningkatan fungsi fisiologis normal klien.

11. Daftar Pustaka


Wiken. 2009. Osteoartritis. http://www.health&medicine.com/share. Diakses
tanggal 30 Mei 2011.
Lozada, Carlos J. 2009. Osteoarthritis. http://emedicine.medscape.com. Diakses
tanggal 30 Mei 2011.
Dharmawirya, Mitzy. 2000. Efek Akupunktur pada Osteoartritis Lutut.
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/16EfekAkupunkturpadaOst
eoartritisLutut129.pdf/16EfekAkupunkturpadaOsteoartritisLutut
129.html, diakses tanggal 30 Mei 2011.
Ariani, F. 2009.Osteoarthritis Sebabkan Lutut Keropos. Disajikan dalam Seminar
Kesehatan by Fajar Public Makassar 8 Agustus 2009.
Tjokroprawiro, Askandar, 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya:
Airlangga University Press.
Setyohadi B, 2000. Panduan Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. www.
technorati favorites.com. Diakses tanggal 28 Desember 2009

Adam,

W.

2006.Osteoarthritis

and

How

Is

http://arthritis.about.com/od/oa/a/osteoarthritis.htm,

It.
diakses

tanggal 2 Juni 2011.


Subagjo, Harry. 2000. Struktur rawan sendi dan perunbahannya. Sub bagian
Reumatologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Cermin Dunia Kedokteran No. 129.
Jakarta.
Hoaglund, FT. 2001. Primary Osteoarthritis of the Hip: Etiology and
Epidemiology. Journal of The American Academy of Orthopedic
Surgeon 9:320-327.
Kasmir, Yoga. 2009. Penatalaksanaan Osteoartritis. Sub-bagian Reumatologi,
Bagian

Ilmu

Penyakit

DalamFKUI

Mangunkusumo, Jakarta

LAPORAN PENDAHULUAN
OSTEOARTHRITIS GENU

RSUPN

Cipto

OLEH :
SARI MARYATI
15149011286

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


PROFESI NERS A KEPERAWATAN
BANJARMASIN, 2016