Anda di halaman 1dari 4

Chapter 2 The Scientific Approach and Alternative Approaches to

Investigation
THE SCIENTIFIC APPROACH AND ALTERNATIVES APPROACHES
TO INVESTIGATION
Ciri Khas dari Penelitian Ilmiah
Ciri khas atau karakter utama dari penelitian ilmiah adalah sebagai
berikut.
1. Tujuan Jelas
Manajer memulai penelitian dengan tujuan yang jelas. Fokus dalam
meningkatkan

komitmen

karyawan

kepada

organisasi,

akan

menguntungkan dalam banyak hal. Dengan begitu, penelitian


memiliki tujuan yang jelas.
2. Rigor (Kekakuan/Ketelitian)
Rigor berkonotasi kehatihatian, kecermatan, dan keseksamaan
dalam investigasi penelitian.
3. Dapat Diuji
Kemampuan diuji merupakan properti yang berlaku pada hipotesishipotesis dari suatu studi. Sebuah hipotesis ilmiah harus dapat diuji.
Hipotesis yang tidak dapat diuji sering merupakan pernyataan yang
tidak jelas, atau menempatkan sesuatu yang tidak dapat diuji
secara eksperimental.
4. Dapat Disalin
Salinan mendemonstrasikan bahwa hipotesis tersebut bukan hanya
didukung kebetulan semata, tetapi refleksi dari pernyataan yang
benar mengenai hubungan-hubungan dalam populasi.
5. Ketepatan (Precision) dan Konfidensi
Ketepatan mengarah pada kedekatan antara temuan dengan
kenyataan berdasarkan sebuah contoh. Konfidensi mengarah
pada kemungkinan estimasi yang dibuat adalah benar.
6. Objektivitas
Kesimpulan yang ditarik melalui interpretasi dari hasil analisis data
harus

objektif.

Kesimpulan

tersebut

harus

berdasarkan

fakta

temuan yang diperoleh dari data yang sebenarnya, dan tidak pada
nilai subjektif dan emosional.
7. Dapat Disamaratakan
Dapat disamaratakan mengarah pada lingkup kemampuan aplikasi
dari temuan penelitian dalam sebuah pengaturan organisasi pada
pengaturan lainnya.
8. Parsimony (Penghematan)

Sufenny Wijaya Oei A31112262

Chapter 2 The Scientific Approach and Alternative Approaches to


Investigation
Parsimony dapat diperkenalkan dengan pemahaman yang baik dari
masalah dan faktor-faktor penting yang mempengaruhinya.
Metode Hypothetico-Deductive
Metode hypothetico-deductive merupakan versi khas dari metode
ilmiah. Metode hypothetico-deductive menyediakan pendekatan yang
berguna dan sistematis untuk menghasilkan pengetahuan untuk
menyelesaikan masalah dasar dan manajerial.
Tujuh langkah proses dalam metode hypothetico-deductive, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Mengidentifikasi area permasalahan.


Menegaskan permasalahan.
Mengembangkan hipotesis.
Menentukan pengukuran.
Mengumpulkan data.
Menganalisis data.
Menginterpretasi data.

Pemikiran

deduktif

merupakan

elemen

utama

dalam

metode

hypothetico-deductive. Dalam pemikiran deduktif dimulai dengan teori


umum dan kemudian menerapkan teori pada kasus spesifik.
Pemikiran induktif berkerja secara berlawanan. Pemikiran induktif
merupakan

sebuah

proses

mengamati

fenomena

spesifik

dan

berdasarkan itu menetapkan kesimpulan umum.


Beberapa Rintangan dalam Melakukan Penelitian Ilmiah dalam
Area Manajemen
Dalam area manajemen, tidak selalu bisa melakukan investigasi yang
100% ilmiah. Hasil yang diperoleh tidak pasti dan bebas kesalahan. Hal
ini dikarenakan kesulitan dalam pengukuran dan pengumpulan data
dalam area subjektif perasaan, emosi, perilaku, dan persepsi.

Pendekatan-Pendekatan Alternatif untuk Penelitian


1. Positivisme
Dalam pandangan

penganut

positivisme

(positivist),

ilmu

pengetahuan dan penelitian ilmiah dilihat sebagai jalan untuk


mendapatkan kebenaran. Positivist memperhatikan rigor dan dapat
disalinnya

penelitian

mereka,

keandalan

observasi,

dan

Sufenny Wijaya Oei A31112262

Chapter 2 The Scientific Approach and Alternative Approaches to


Investigation
kemampuan generalisasi temuan. Mereka menggunakan pemikiran
deduktif untuk menempatkan teori yang dapat mereka uji dengan
pengukuran yang tetap, desain sebelum penelitian dan objektif.
2. Konstruksionisme (Constructionism)
Constructionist bertujuan untuk memahami aturan yang digunakan
masyarakat untuk mengerti dunia dengan menginvestigasi apa
yang terjadi dalam pikiran masyarakat. Metode penelitian dari para
peneliti constructionist sering kali merupakan kualitatif alami.
Constructionist sering kali lebih memikirkan pemahaman kasus
spesifik daripada generalisasi temuan mereka. Tidak terdapat
realitas objektif yang harus digeneralisasi.
3. Realisme Kritis
Realisme kritis merupakan sebuah kombinasi dari kepercayaan
dalam realitas eksternal (kebenaran objektif) dengan penolakan
terhadap klaim bahwa realitas eksternal dapat diukur secara
objektif. Observasi (terutama observasi fenomena yang tidak dapat
diamati dan diukur secara langsung, seperti kepuasan, motivasi,
dan budaya) akan selalu menjadi subjek untuk interpretasi.
Berdasarkan pandangan critical realist, mengukur fenomena dan
pengumpulan data seperti emosi, perasaan, dan sikap sering kali
bersifat subjektif, pembicaraan secara umum, tidak sempurna dan
memiliki kekurangan.
4. Pragmatisme
Pragmatist tidak mengambil
penelitian

yang

baik.

fenomena

yang

dapat

menghasilkan

posisi

Mereka

menganggap

diamati

pengetahuan

tertentu

dan

yang

makna

berguna,

dalam

membuat

penelitian

dalam

subjektif

dapat

tergantung

pada

masalah-masalah penelitian dari studi. Fokus dari pragmatisme


adalah dalam hal praktis, penelitian yang diterapkan di mana sudut
pandang berbeda dalam penelitian dan subjek dalam studi yang
membantu dalam penyelesaian masalah (bisnis). Pragmatisme
mendeskripsikan penelitian sebagai suatu proses di mana konsepkonsep dan makna (teori) adalah generalisasi dari tindakan pada
masa lalu dan pengalaman-pengalaman, dan interaksi dengan
lingkungan. Untuk para pragmatist, prespektif-prespektif yang
berbeda, ide-ide, dan teori-teori membantu dalam meningkatkan
pemahaman tentang dunia. Pragmatisme menyokong eklesitisme

Sufenny Wijaya Oei A31112262

Chapter 2 The Scientific Approach and Alternative Approaches to


Investigation
dan

pluralisme.

Ciri

penting

lain

dari

pragmatisme

adalah

pandangan terhadap kebenaran sekarang bersifat sementara dan


berubah dari waktu ke waktu.

Sufenny Wijaya Oei A31112262