Anda di halaman 1dari 18

PENDAHULUAN

Pityrosporum follikulitis (Malasezia follikilitis) adalah penyakit kronis


pada folikel polisebasea yang disebabkan oleh spesies Pitirosporum, berupa papul
(penonjolan kulit yang solit dengan diameter < 1 cm) dan pustul.
Di Filipina mencatat bahwa 16% dari semua kunjungan pasien yang
berobat di salah satu klinik kulit didiagnosis dengan Pityrosporum follikulitis dan
sebuah laporan pada tahun 2008 dari China menyebutkan bahwa 1,5 % dari semua
pasien dermatologi didiagnosis dengan Pityrosporum follikulitis.
Pitirosporum follikulitis merupakan penyakit jamur superfisial atau
mikosis superfisial yang termasuk golongan non dermatofitosis yaitu disebabkan
oleh jamur yang tidak dapat mengeluarkan zat yang dapat mencerna keratin kulit
tetapi hanya menyerang lapisan kulit yang palng luar dan lebih sering terjadi pada
dewasa muda ataupun orang tua dan biasanya paling sering terjadi pada usia 1345 tahun baik laki-laki ataupun perempuan.
Biasanya masyarakat yang tinggal di iklim hangat dan lembab memiliki
insiden yang lebih tinggi mengalami Pityrosporum follikulitis dikarenakan
penyebab Pityrosporum follikulitis cenderung tumbuh terlalu cepat di tempat yang
panas, lembab dan lingkungan yang berkeringat, faktor predisposisi lainnya
adalah pemakaian pakaian yang ketat sehingga menyebabkan timbulnya keringat,
tabir surya dan pelembab berminyak dapat menutup jalan folikel, kegemukan,
kehamilan, stres atau kelelahan, dan penyakit sistemik
Diagnosis dari Pitirosporum follikulitis didasarkan pada kecurigaan klinis
dari presentasi klasik papulopustules pruritus dalam pola folikuler ditemukan
dipunggung belakang, dada, lengan atas dan terkadang leher dan jarang terdapat
pada daerah wajah.
Infeksi jamur kulit cukup banyak di temukan di Indonesia, yang
merupakan negara tropis beriklim panas dan lembab, apalagi bila hygiene yang
kurang baik. Penyakit jamur kulit atau dermatomikosis adalah penyakit pada kulit,
kuku, rambut, dan mukosa yang disebabkan infeksi jamur. Pada umumnya
golongan penyakit ini dibagi atas infeksi superfisial, infeksi kutan, dan infeksi
subkutan. Infeksi superfisial yang paling sering ditemukan adalah pitiriasis

versikolor. Yang termasuk dengan infeksi kutan adalah dermatofitosis dan


kandidiasis kutis. Infeksi subkutan yang kadang-kadang ditemukan adalah
sporotrikosis, fikomikosis subkutan, aktinomikosis, dan kromomikosis. Diantara
penyakit jamur superfisial yang sering dijumpai di Indonesia salah satunya adalah
pitiriasis versikolor. Penyakit ini sangat menarik oleh karena keluhannya
bergantung pada tingkat ekonomi daripada kehidupan penderita. Bila penderita
adalah

orang

dengan

golongan

ekonomi

rendah

(misalnya:

tukang

becak, pembantu rumah tangga) penyakit ini tidak dihiraukan. Tetapi pada
penderita dengan ekonomi menengah keatas yang mengutamakan penampilan
maka penyakit ini adalah penyakit yang sangat bermasalah.7
Banyak kelainan kulit berupa bercak putih (makula hipopigmentasi) salah
satu diantaranya

adalah penyakit Pitiriasis Versikolor yang disebabkan oleh

Malassezia furfur /Pityrosporum orbiculare (P.orbiculare) / P. ovale. Penyakit ini


dikenal untuk pertama kali sebagai penyakit jamur pada tahun 1846 oleh
Eichsted. Robin pada tahun 1853 memberi jamur penyebab penyakit ini dengan
nama Microsporum furfur dan pada tahun 1889. oleh Baillon species ini diberi
nama

Mallassezia

furfur.

Penelitian

selanjutnya

dan

sampai

sekarang

menunjukkan bahwa Mallassezia Furfur dan Pityrosporum Orbiculare merupakan


organisme yang sama.6,7

TINJAUAN PUSTAKA
Pityrosporum follikulitis
Definisi
Pityrosporum folliculitis adalah penyakit kronis pada folikel polisebasea
yang disebabkan olah spesies pityrosporum, berupa papul dan pustul folikular
yang biasanya gatal dan terutama berlokasi dipunggung, dada, leher dan lengan
atas. Pityrosporum folikulitis suatu kondisi kulit yang berkembang karena jamur
dalam folikel rambut dan menyebabkan pruritus yang papulopustules, dengan
bentuk menyerupai jerawat hanya saja pada pityrosporum folikulitis papulnya
berwarna lebih merah terang. Pustula ini terbentuk dari pertumbuhan berlebih dari
jamur penyebabnya.1,2

Gambar : Pityrosporum Folikulitis dipunggung dan didada


Epidemiologi
Organisme Malassezia dapat ditemukan pada kulit orang normal sampai
75-98% karena organisme ini merupakan bagian dari flora normal tubuh.
Kolonisasi organisme ini meningkat dimulai segera setelah lahir, dan meningkat
kembali pada akhir masa remaja dan dewasa muda itu akibat aktifitas kelenjar
sebasea dan konsentrasi lemak dikulit.4,5
Data disalah satu Rumah Sakit di Philipina didapatkan bahwa 16% dari
pasien yang berobat didiagnosis dengan Pityrosporum folikulitis. Tahun 2008
laporan dari China 15% dari semua pasien kulit didiagnosis dengan Pityrosporum

folikulitis dan kebanyakan pasien yang sembuh adalah laki-laki dewasa muda.
Laki-laki dan perempuan tidak ada perbandingan hanya ada beberapa sumber
menyebutkan perempuan: laki-laki yaitu 1,5: 1 Pytirosporum folicilitis paling
sering terjadi pada mereka yang berusia 13-45 tahun.4,5
Faktor Resiko 4,5
Faktor eksternal

Jamur penyebab pityrosporum folliculitis atau malasezia folikulitis


cenderung tumbuh terlalu cepat di tempat yang panas, lembab, dan
lingkungan yang berkeringat.

Pemakaian pakian yang ketat sehingga menyebabkan timbul keringat

Tabir surya dan pelembab berminyak dapat menutup jalan folikel.

Faktor Host atau individu

Kulit berminyak (diprovokasi oleh pengaruh hormonal)

Kegemukan

Kehamilan

Stres atau kelelahan

Penyakit Sistemik, termasuk:

Diabetes mellitus

Defisiensi imun

Obat-obatan, seperti:

Antibiotik oral spektrum luas (sering diresepkan untuk jerawat), antibiotik


ini akan menekan bakteri kulit, bakteri yang tertekan ini malahan
memungkinkan jamur untuk berkembang biak.

Steroid Oral seperti prednisone ( jerawat steroid), penggunaan steroid akan


menyebabkan imun menurun yang berakibat mudahnya terinfeksi jamur

Kontrasepsi Oral atau pil

Etiologi
Jamur penyebab adalah spesies pityrosporum yang identik dengan
malassezia furfur, penyebab pityriasis versicolor atau panu. Jamur penyebab
sekarang disebut malassezia khusus malassezia furfur, adalah agen patogen pada
Pityrosporum folikulitis. Malassezia juga dikaitkan dengan penyakit kulit lain
antara lain termasuk dermatitis seboroik, folikulitis, pityriasis versicolor dan
dermatitis atopi.4
Patogenesis
Pada pityrosprum folikulitis organisme berada didalam ostium dan segmen
pusat yang mendalam dari folikel rambut. Penyumbatan folikel diikuti oleh
pertumbuhan berlebih dari ragi yang subur di bagian kelenjar sebasea. Ragi
malassezia membutuhkan asam lemak bebas untuk hidup, biasanya organisme ini
terdapat didalam stratum korneum dan folikel yang terdapat peningkatan kelenjar
sebasea seperti dada dan punggung. Ragi ini menghidrolisis trigeliserida menjadi
asam lemak rantai menengah dan lemak bebas. Hasilnya adalah respon yang sel
dimediasi dan aktivasi jalur alternative komplemen yang mengarah ke
peradangan.
Malassezia akan tumbuh berlebihan dalam folikel, sehingga folikel dapat
pecah. Dalam hal ini reaksi peradangan terhadap produk, tercampur dengan asam
lemak bebas yang dihasilkan melalui aktifitas lipase. Perluasan folikel rambut
mengarah ke letusan putih pada kulit yang mengelilingi folikel rambut. Letusan
ini juga dapat tampak merah, ini tergantung pada cuaca. Ketika folikel banyak
terinfeksi oleh jamur, maka kulit akan tampak sebagai ruam putih atau merah.
Pesatnya pertumbuhan dan multiplikasi dari jamur di wilayah folikel rambut
menyebabkan pengembangan ruam pada kulit. Kulit membentuk patch gatal dan
jerawatan.
Diagnosis banding2,3

Pityrosporum Folikulitis

Akne vulgaris (jerawat)


Folikulitis bakterial

Erupsi akne formis

Diagnosis

Diagnosis Pitirosporum folikulitis didasarkan pada kecurigaan klinis dari


presentasi klasik papulopustul pruritus dalam pola folikuler ditemukan di
punggung, dada, lengan atas, dan, terkadang leher serta jarang ditemukan
pada wajah.

Pada pemeriksaan dengan lampu Wood, terdapat fluoresensi biru terang


atau putih yang diamati pada folikel di lokasi lesi.

Diagnosa dengan biopsi juga dapat dilakukan, yang kemudian seperti


penyakit jamur umumnya di gunakan KOH 10%.2,3

Pemeriksaan Penunjang
Frekuensi pitiriasis versikolor tidak meningkat pada kasus infeksi HIV,
tetapi penyakit yang sering dijumpai akibat malassezia furfur adalah folikulitis
Malassezia, yang terutama terdapat pada pasien tranplantasi organ. Penyakit ini
ditandai dengan erupsi pustul, makula, papul pruritik dengan distribusi
generalisata. Pada beberapa kasus terdapat lesi menyerupai akne vulgaris pada
wajah, dada, dan punggung. Pada pemeriksaan KOH dijumpai hifa pendek dan sel
ragi bulat (spaghetti and meat ball). Folikulitis ini sering diduga kandidiasis
diseminata karena pada pemeriksaan biopsi dijumpai sel ragi, sehingga perlu
dilakukan kultur dengan media khusus untuk Malassezia. Media yang dipakai
mengandung lipid dan asam lemak seperti media Leeming-Notman.
Gambaran Histologis dapat dijumpai
1.

Dilated folikel rambut dengan sumbat keratin mengandung spora jamur

2.

Intra-dan perifollicular inflamasi infiltrat terdiri dari neutrofil, limfosit


dan histiosit

3.

Intra-dan perifollicular musin kolam Folikel rambut bisa pecah,


menghasut reaksi tubuh granulomatosa asing.

Penatalaksanaan
Pengobatan dilakukan dengan mengunakan obat anti jamur atau anti mikotik
oral, misalnya :
Ketokonazol 200 gr selama 2-4 minggu
Itrakonazol 200gr sehari selama 2 minggu
Flukonazol 150gr seminggu selama 2-4 minggu
Pengobatan dengan anti jamur topikal biasanya kurang efektif, walaupun
biasanya digunakan.2,3,6
Prognosis
Pada umumnya pasien dengan Pityrosporum Folikulitis umumnya baik,
dengan menjaga personal hygiene yang baik dan tepat mendapatkan pengobatan.

Pitiriasis versikolor
Definisi
Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial pada kulit yang
disebabkan oleh Malaszesia furfur atau Pityrosporum orbiculare dan ditandai
dengan adanya makula di kulit, skuama halus dan disertai rasa gatal.7,8
Epidemiologi
Pitiriasis versikolor adalah penyakit universal tapi lebih banyak dijumpai
di daerah tropis oleh karena tingginya temperatur dan kelembaban. Menyerang
hampir semua usia terutama remaja, terbanyak pada usia 16-40 tahun. Tidak ada
perbedaan antara pria dan wanita, walaupun di Amerika Serikat dilaporkan bahwa
penderita berusia 20-30 tahun dengan perbandingan 1,09% pria dan 0,6% wanita.
Insiden yang akurat di Indonesia belum ada namun diperkirakan 40-50% dari
populasi di negara tropis terkena penyakit ini, sedang di negara subtropis yaitu
Eropa tengah dan utara hanya 0,5-1% dari semua penyakit jamur.6,7
Etiologi
Pada kulit terdapat flora normal yang berhubungan dengan timbulnya
pitiriasis versikolor ialah Pityrosporum orbiculare yang berbentuk bulat atau

pityrosporum ovale yang berbentuk oval. Keduanya merupakan organisme yang


sama, dapat berubah sesuai dengan lingkungannya, misalnya suhu, media dan
kelembaban.7,8
Patogenesis
Tinea versikolor timbul bila M. Furfur berubah bentuk menjadi bentuk
miselia karena adanya faktor predisposisi, baik eksogen maupun endogen. Faktor
eksogen meliputi panas dan kelembaban. Hal ini merupakan penyebab sehingga
pitiriasis versikolor banyak dijumpai di daerah tropis dan pada musim panas di
daerah sub tropis. Faktor eksogen lain adalah penutupan kulit oleh pakaian atau
kosmetik dimana mengakibatkan peningkatan konsentrasi CO2, mikroflora dan
pH.4,5,6 Faktor endogen berupa malnutrisi, dermatitis seboroik, sindrom cushing,
terapi imunosupresan, hiperhidrosis dan riwayat keluargayang positif. Disamping
itu diabetes melitus, pemakaian steroid jangka panjang, kehamilan dan penyakitpenyakit berat memudahkan timbulnya pitiriasis versikolor.8,9
Patogenesis dari makula hipopigmentasi oleh terhambatnya sinar matahari
yang masuk ke dalam lapisan kulit yang akan mengganggu proses pembentukan
melanin, adanya toksin yang langsung menghambat pembentukan melanin, dan
adanya asam azeleat yang dihasilkan oleh Pityrosporum dari asam lemak dalam
sebum yang merupakan inhibitor kompetitif dari tirosinase. 6,7
Gambaran klinis
Lesi pitiriasis versikolor terutama dijumpai dibagian atas dada dan meluas
ke lengan atas, leher, tengkuk, perut atau tungkai atas/bawah. Dilaporkan adanya
kasus-kasus yang khusus dimana lesi hanya dijumpai pada bagian tubuh yang
tertutup atau mendapatkan tekanan pakaian , misalnya pada bagian yang tertutup
pakaian dalam. Dapat pula dijumpai lesi pada lipatan aksila, inguinal atau pada
kulit muka dan kepala.6,7
Penderita pada umumnya hanya mengeluhkan adanya bercak/makula
berwarna putih (hipopigmentasi) atau kecoklatan (hiperpigmentasi) dengan rasa
gatal ringan yang umumnya muncul saat berkeringat. Ukuran dan bentuk lesi
sangat bervariasi bergantung lama sakit dan luasnya lesi. Pada lesi baru sering
dijumpai makula skuamosa folikular. Sedangkan lesi primer tunggal berupa

makula dengan batas sangat tegas tertutup skuama halus. Pada kulit hitam atau
coklat umumnya berwarna putih sedang pada kulit putih atau terang cenderung
berwarna coklat atau kemerahan. Makula umumnya khas berbentuk bulat atau
oval tersebar pada daerah yang terkena. Pada beberapa lokasi yang selalu lembab,
misalnya pada daerah dada, kadang batas lesi dan skuama menjadi tidak jelas.8,9
Pada kasus yang lama tanpa pengobatan lesi dapat bergabung membentuk
gambaran seperti pulau yang luas berbentuk polisiklik. Beberapa kasus di daerah
berhawa dingin dapat sembuh total. Pada sebagian besar kasus pengobatan akan
menyebabkan lesi berubah menjadi makula hipopigmentasi yang akan menetap
hingga beberapa bulan tanpa adanya skuama.6,8
Diagnosis banding
1.

Diagnosis versikolor dengan lesi hiperpigmentasi:

Eritrasma
Pitiriasis Rosea
Tinea korporis
2. Diagnosis versikolor dengan lesi hipopigmentasi:
Pitiriasis alba
vitiligo
Dignosis
Diagnosis klinis Pitiriasis versikolor ditegakkan berdasarkan adanya
makula hipopigmentasi, hiperpigmentasi, atau kemerahan yang berbatas sangat
tegas, tertutup skuama halus. Pemeriksaan dengan lampu Wood akan
menunjukkan adanya lesi berwarna kuning keemasan pada lesi yang bersisik.
Pemeriksaan mikroskopis sediaan skuama dengan KOH memperlihatkan
kelompokan sel ragi bulat berdinding tebal dengan miselium kasar, sering
terputus-putus (pendek-pendek), yang akan lebih mudah dilihat dengan
penambahan zat warna tinta Parker blue-black atau biru laktofenol. Gambaran ragi
dan miselium tersebut sering dilukiskan sebagai meat ball and spaghetti.6,7,9
Pengambilan skuama dapat dilakukan dengan kerokan menggunakan
skalpel tumpul atau menggunakan selotip yang dilekatkan pada lesi. Pembuktian
dengan biakan M. Furfur tidak diagnostik oleh karena M.furfur merupakan flora
normal kulit. 9,10

Pengobatan
Pitiriasis versikolor dapat diterapi secara topikal maupun sistemik.
Tingginya angka kekambuhan merupakan masalah, dimana mencapai 60% pada
tahun pertama dan 80% setelah tahun kedua. Oleh sebab itu diperlukan terapi
profilaksis untuk mencegah rekurensi.8
1.

Pengobatan sistemik
Pengobatan sistemik diberikan pada kasus pitiriasis versikolor yang luas

atau jika pemakaian obat topikal tidak berhasil1,4,9. Obat yang dapat diberikan
adalah:

ketokonazol 200 mg/hari selama 10 hari


itrakonazol 200 mg/hari selama 5-7 hari, disarankan untuk kasus
kambuhan atau tidak responsif dengan terapi lainnya.

2.

Pengobatan topikal
Pengobatan harus dilakukan secara menyeluruh, tekun dan konsisten. Obat

yang dapat digunakan adalah:

Selenium sulfida 1,8% dalam bentuk shampoo 2-3 kali seminggu. Obat

digosokkan pada lesi dan didiamkan selama 15-30 menit sebelum mandi.
Salisil spiritus 10%
Turunan azol misalnya mikonazol, klotrimazol, isokonazol dan ekonazol

dalam bentuk topikal


Sulfur presipitatum dalam bedak kocok 4-20%
Larutan Tiosulfas natrikus 25% , dioleskan sehari 2 kali sehabis mandi
selama 2 minggu

Pencegahan
Untuk pencegahan dapat disarankan pemakaian 50% propilen glikol dalam
air atau sistemik ketokonazol 400 mg/hari sekali sebulan.2,8 Pada daerah endemik
untuk pencegahan penyakit dapat disarankan pemakaian ketokonazol 200 mg/hari
selama 3 hari setiap bulan atau itrakonazol 200 mg sekali sebulan atau pemakaian
sampo selenium sulfid sekali seminggu.8
Prognosis

10

Prognosis baik bila pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun dan


konsisten. Pengobatan harus diteruskan 2 minggu setelah fluoresensi negatif
dengan pemeriksaan lampu wood dan sediaan langsung negatif. Jamur penyebab
pitiriasis versikolor merupakan bagian dari flora normal dan kadang-kadang
tertinggal dalam folikel rambut. Hal ini yang mengakibatkan tingginya angka
kekambuhan, sehingga diperlukan pengobatan profilaksis untuk mencegah
kekambuhan. Masalah lain adalah menetapnya hipopigmentasi dan diperlukan
waktu yang cukup lama untuk repigmentasi. Namun hal tersebut bukan akibat
kegagalan terapi, sehingga penting untuk memberi informasi kepada pasien bahwa
bercak putih tersebut akan menetap beberapa bulan setelah terapi dan akan
menghilang secara perlahan.9,10,11

LAPORAN KASUS POLI


IDENTITAS PENDERITA
Nama

: Tn. K

Umur

: 13 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-Laki

Suku

: Aceh

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pelajar

Status Perkawinan

: Belum Menikah

Alamat

: Sp Surabaya Desa Suka Damai, Banda Aceh


11

Tanggal Masuk

: 4 Maret 2015

Jaminan

: JKN

Nomor CM

: 0-81-87-93

ANAMNESIS
Keluhan utama

: Jerawat di Punggung

Keluhan tambahan

: Gatal

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang dengan keluhan jerawat di punggung yang sudah mulai
muncul 1 minggu yang lalu. Punggung juga terasa gatal, awalnya muncul di
punggung atas, kemudian menjalar sampai ke punggung bawah dan dada depan.
Pasien mengaku jika berkeringat akan terasa semakin gatal. Gatal tidak berkurang
walaupun pasien sudah minum obat yang dibelinya dari mantri.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien mengaku tidak pernah mengalami hal yang sama sebelumnya.
Riwayat pemakaian obat:
Pasien pernah mendapatkan terapi ampicilin dari mantri.
Riwayat Penyakit keluarga:
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami hal yang sama seperti pasien.
Riwayat kebiasaan sosial :
Pasien seorang pelajar yang memiliki aktifitas yang banyak disekolahnya,
tapi pasien mengaku jarang mandi, pasien hanya mandi sehari sekali saat akan
pergi sekolah. Pasien juga mengaku sering merasa stres dan kelelahan dengan
aktifitasnya.
PEMERIKSAAN FISIK KULIT
Status Dermatologis
Regio

: Thorakal Anterior dan superior

Deskripsi Lesi

: Tampak patch eritematous berbatas tegas dengan tepi


irregular dan diatasnya terdapat papula dan pustule,

12

jumlah multipel, ukuran dari milier sampai gutata


distribusi generalisata.

13

Gambar 1. Tampak patch eritematous serta papula dan pustula yang


dikelilingi skuama halus disekitarnya
DIAGNOSIS BANDING
1. Pityrosporum Folikulitis
2. Acne Vulgaris
3. Foliculitis Bakterial
4. Erupsi Acne Formis
5. Pityriasis Versicolor
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pemeriksaan KOH dijumpai hifa pendek dan sel ragi bulat (spaghetti
and meat ball). Folikulitis ini sering diduga kandidiasis diseminata karena pada
pemeriksaan biopsi dijumpai sel ragi, sehingga perlu dilakukan kultur dengan
media khusus untuk Malassezia. Media yang dipakai mengandung lipid dan asam
lemak seperti media Leeming-Notman.
RESUME
Pasien datang dengan keluhan jerawat di punggung yang sudah mulai
muncul 1 minggu yang lalu. Punggung juga terasa gatal, awalnya muncul di
punggung atas, kemudian menjalar sampai ke punggung bawah dan dada depan.
Pasien mengaku jika berkeringat akan terasa semakin gatal. Gatal tidak berkurang
walaupun pasien sudah minum obat yang dibelinya dari mantri.
DIAGNOSIS KLINIS
Pityrosporum Folikulitis + pitiriasis versikolor

14

TATALAKSANA

Terapi sistemik:

Ketokenazole tablet 1x1

Cetirizine tablet 1x1


Terapi topikal:

- Lotion Kummerfeldi (sulfur,asam salisilat,resorsinol) (malam)


- Fucilex Cream (malam)
Edukasi
1. Memberitahukan pasien agar rajin mandi minimal sehari 2 kali.
2. Memberitahukan kepada pasien kalau penyakitnya ini akibat personal
hygiene yang tidak baik.
3. Memberitahukan kepada pasien agar tidak terlalu stress dengan aktifitasnya
di sekolah dan tidak terlalu lelah.
PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad Sanactionam
Quo ad Fungtionam

: Dubia ad bonam
: Dubia ad bonam
: Dubia ad bonam
ANALISIS KASUS

Diagnosis pada pasien dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis,


pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Berdasarkan anamnesis
didapatkan informasi seorang laki-laki 13 tahun datang dengan keluhan jerawat
dipunggung dan gatal. Pasien datang dengan keluhan jerawat di punggung yang
sudah mulai muncul 1 minggu yang lalu. Punggung juga terasa gatal, awalnya
muncul di punggung atas, kemudian menjalar sampai ke punggung bawah dan
dada depan. Pasien mengaku jika berkeringat akan terasa semakin gatal. Gatal
tidak berkurang walaupun pasien sudah minum obat yang dibelinya dari mantri.
Berdasarkan teori kejadian tertinggi Pityrosporum Folikulitis antara usia
13-45 tahun. Manifestasi klinis infeksi Pityrosporum Folikulitis gatal pada tempat
predeleksi, klinis morfologi terlihat papul dan pustul perifolikuler, berukuran
diameter 2-3 mm, dengan peradangan minimal. Bentuknya menyerupai jerawat,

15

karena gatal maka akan timbul juga erupsi papular dan tempat predeleksinya yaitu
dada, punggung dan lengan atas,. Kadang-kadang terdapat di leher dan jarang
ditemukan di wajah. Pada pasien, pasien berusia 13 tahun ini merupakan usia
yang rentan terinfeksi Pityrosporum Folikulitis.
Salah satu faktor predisposisi dari faktor eksternal yaitu jamur penyebab
pityrosporum folliculitis atau malasezia folikulitis cenderung tumbuh terlalu cepat
di tempat yang panas, lembab, dan lingkungan yang berkeringat. Selain itu juga
faktor stress dan kelelahan juga mempengaruhi penyakit ini. Dari anamnesis teori
ini sesuai dengan hal yang didapatkan pada riwayat kebiasaan sosial pasien,
pasien seorang pelajar yang memiliki aktifitas yang banyak disekolahnya dan
pasien mengaku jarang mandi, pasien hanya mandi sehari sekali saat akan pergi
sekolah. Pasien juga mengaku sering merasa stres dan kelelahan dengan
aktifitasnya sehari-hari.
Teori Pengobatan untuk pasien dengan pityrosporum folliculitis yaitu
dengan ketokenazole. Ini sesuai dengan pengobatan yang didapatkan pasien yaitu
Ketokenazole. Sementara itu untuk Pytiriasis Versicolor berdasarkan teori
diberikan ketokenazole, itrakonazole dan golongan azole lainnya untuk
pengobatan sistemik, sementara untuk topikal berdasarkan teori diberikan salisil
sufida, sulfur, dan turunan azole dalam bentuk topikal seperti ketokenazole cream
dan mikonazole cream. Ini sesuai dengan terapi yang diberikan kepada pasien
yaitu untuk pengobatan sistemik pasien mendapatkan ketokenazole tablet,
sementara untuk topikal pasien mendapatkan Lotion Kummerfeldi yang isinya
asam salisilat, sulfur dan resorsinol serta fucilex cream.
Edukasi yang tepat pada pasien ini ialah memberitahukan kepada pasien
agar rajin mandi minimal sehari 2 kali, memberitahukan kepada pasien kalau
penyakitnya ini akibat personal hygiene yang tidak baik serta memberitahukan
kepada pasien agar tidak terlalu stress dengan aktifitasnya di sekolah dan tidak
terlalu lelah dalam aktifitas sehari-hari.

16

DAFTAR PUSTAKA
1.

Garcia AL, Madkan VK, Tyring SK. Pityrosporum (Malaszezia) follikulitis


in: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, editor.
Fitzpatricks dermatology in general medicine. 7th ed. New York:McGraw
Hill; 2008.

2.

Khalifa E. Sharquie, Khalil AH, Sawsan S, Mohammadi A. Malaszesia


Follikulitis versus Truncal Acne vulgaris (Clinical and Histophatologica;
Study). Iraq: Departement of Dermatology and Venerology, College of
Medicine; 2012.

3.

Anane S, Chtourou ), Bodemer C, Kharfi M. Malaszesia follikulitis in an


infant. Medical Mycology Case Report; 2013.

17

4.

Ayers Katherine, Sweeney SM, Wiss K. Pityrosporum Follikulitis Diagnosis


and Management in 6 Female Adoscents with Acne vulgaris. Arch Pediatr
Adolesc Med; 2005

5.

Rubenstein RM, Malerich SA. The journal of Clinical and Aesthetic


Dermatology. Malassezia (Pityrosporum); 2014.

6.

Rippon. Superficial Infection.Dalam: Medical Mycology. Third edition. WB


Saunders company. Philadelphia. 2006:154-9.

7.

Radiono S. PitiriasisVersicolor. Dalam: Budimulja U, Kuswadji, Bramono K,


dkk, editor. DermatomikosisSuperfisialis. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
2001:17-20

8.

Partosuwiryo S, danukusumo HAT. PitiriasisVersikolor. Dalam: Diagnosis


dan Penatalaksanaan dermatomikosis. Balai Penerbit FKUI, Jakarta. 2007.9.

9.

Faegemann JN. Pityriais (Tinea) Versicolor, Tinea Nigra and Piedra. Dalam:
Jacob PH, Nall L, editor. Antifungal Drug Therapy. Marcel Dekker. New
York. 2005:23-5

10. Ortonne JP, Bahadoran P, dkk. Hypomelanosis and Hypermelanosis.Dalam:


Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K, dkk, editor. Fitzpatricks Dermatology in
General Medicine.Sixth edition.McGraw-Hill. New York. 2003 : 836-862.
11. Weeks

J,

Moser

SA,

Elewski

BE.

Superficial

cutaneous

fungal

infection.Dalam: DismukesWE, Pappas PG, Sobel JD.Ed. Clinical Mycology.


Oxford. New York 2003.13.

18