Anda di halaman 1dari 40

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena


berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Makalah Protokol Tambahan I . Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas
mata kuliah Hukum Humaniter . Kami mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan
sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi Mahasiswa dan bermanfaat


untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Lampung , April 2010

Penyusun

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................ 1


Daftar Isi ........................................................................... 2

I.Pendahuluan ................................................................ 3

I.I. Latar Belakang …………………………….............. 3


I.II. Tujuan ……………………………………………… 4

II. Pembahasan ................................................................ 5

II.I. Protokol Tambahan I ........................................................... 5


II.II. Protokol Tambahan I dan Konflik Bersenjata Internasional 6
II.III. Artikel Protokol Tambahan I ............................................. 6
II.IV. Contoh Kasus ................................................................... 6
II.IV. Analisis Artikel Protokol Tambahan I ................................ 8

III. Penutup …………………………………………………….................. 10

Lampiran ………………………………………………………… 11

2
I.PENDAHULUAN

I.I. Latar Belakang

Istilah Hukum Humaniter atau lengkapnya disebut International


Humanitarian Law Applicable in Armed Conflict, pada awalnya dikenal
sebagai hukum perang (laws of war), yang kemudian berkembang menjadi
hukum sengketa bersenjata (laws of arms conflict), dan pada akhirnya dikenal
dengan istilah hukum humaniter. Istilah Hukum humaniter sendiri dalam
kepustakaan hukum internasional merupakan istilah yang relatif baru. Istilah
ini lahir sekitar tahun 1970-an dengan diadakannya Conference of
Government Expert on the Reaffirmation and Development in Armed Conflict
pada tahun 1971.

Hukum Humaniter Internasional adalah seperangkat aturan yang, karena


alasan kemanusiaan dibuat untuk membatasi akibat-akibat dari pertikaian
senjata. Hukum ini melindungi mereka yang tidak atau tidak lagi terlibat dalam
pertikaian, dan membatasi cara-cara dan metode berperang. Hukum
Humaniter Internasional adalah istilah lain dari hukum perang (laws of war)
dan hukum konflik bersenjata (laws of armed conflict).

Hukum Humaniter Internasional adalah bagian dari hukum internasional.


Hukum internasional adalah hukum yang mengatur hubungan antar negara.
Hukum internasional dapat ditemui dalam perjanjian-perjanjian yang
disepakati antara negara-negara yang sering disebut traktat atau konvensi
dan secara prinsip dan praktis negara menerimanya sebagai kewajiban
hukum. Dengan demikian, maka hukum humaniter tidak saja meliputi
ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam perjanjian internasional, tetapi juga
meliputi kebiasaan-kebiasaan internasional yang terjadi dan diakui.

Hukum humaniter tidak dimaksudkan untuk melarang perang, atau untuk


mengadakan undang-undang yang menentukan permainan “perang”, tetapi
karena alasan-alasan perikemanusiaan untuk mengurangi atau membatasi
penderitaan individu-individu dan untuk membatasi wilayah dimana kebuasan
konflik bersenjata diperbolehkan. Dengan alasan-alasan ini, kadang-kadang
hokum humaniter disebut sebagai ”peraturan tentang perang
berperikemanusiaan”. Hukum humaniter mencoba untuk mengatur agar suatu
perang dapat dilakukan dengan lebih memperhatikan prinsip-prinsip
kemanusiaan. Mohammed Bedjaoui mengatakan bahwa tujuan hukum
humaniter adalah untuk memanusiawikan perang.

3
I.II. Tujuan

Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan


dan diharapkan bermanfaat bagi kita semua. Terutama tentang masalah
Protokol Tambahan I dimana diantaranya Mahasiswa dapat mengetahui pasal
– pasal yang ada di dalam Protokol tambahan I agar Mahasiswa mengerti
mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan pada saat
perang sehingga perang dapat lebih manusiawi .

4
II. PEMBAHASAN
II.I. Protokol Tambahan I

Latar belakang dibentuknya Protokol Tambahan I disebabkan metode


peperangan yang digunakan oleh negara-negara telah berkembang, demikian
pula dengan aturan aturan mengenai tata cara berperang (code of conduct).
Protokol Tambahan I ini menentukan bahwa hak dari para pihak yang
bersengketa untuk memilih cara dan alat adalah tidak terbatas. Selain itu, di
dalam Protokol Tambahan I ini juga melarang untuk menggunakan senjata
atau proyektil serta cara-cara lainnya yang dapat mengakibatkan luka-luka
yang berlebihan atau penderitaan yang tidak perlu. Di samping itu, dalam
Protokol Tambahan I ini terdapat juga beberapa ketentuan pokok yang
menentukan, antara lain :

a. Melarang : serangan yang membabi buta dan reprisal (pembalasan)


terhadap :
1. penduduk sipil dan orang-orang sipil;
2. obyek-obyek yang sangat penting bagi kelangsungan hidup penduduk sipil
3. benda-benda budaya dan tempat Religius
4. bangunan dan instalasi berbahaya
5. lingkungan alam.

b. Memperluas : perlindungan yangsebelumnya telah diatur dalam Konvensi


Jenewa kepada semua personil medis, unit-unit dan alat transportasi medis,
baik yang berasal dari organisasi sipil maupun militer.

c. Menentukan : kewajiban bagi Pihak Peserta Agung untuk mencari orang -


orang yang hilang (missing persons).

d. Menegaskan : ketentuan-ketentuan mengenai suplai bantuan militer (relief


supplies) yang ditujukan kepada penduduk sipil.

e. Memberikan : perlindungan terhadap kegiatan-kegiatan organisasi


pertahanan sipil.

f. Mengkhususkan : adanya tindakantindakan yang harus dilakukan oleh


negara-negara untuk memfasilitasi implementasi hukum humaniter.

Pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan sub (a) tersebut di atas,


dianggap sebagai pelanggaran berat hukum humaniter dan dikategorikan
sebagai kejahatan perang (wars crimes).

5
II.II. Protokol Tambahan I dan Konflik Bersenjata Internasional

Pasal 1 ayat (3) Protokol Tambahan I tahun1977 menyatakan bahwa Protokol


ini berlaku dalam situasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Konvensi
Jenewa 1949. Pasal 2 ketentuan yang bersamaan (common articles) dari
Konvensi Jenewa 1949 menetapkan bahwa Konvensi ini berlaku dalam hal :.
1. Perang yang diumumkan;
2. Pertikaian bersenjata, sekalipun keadaan perang tidak diakui;
3. Pendudukan, sekalipun pendudukan tersebut tidak menemui perlawanan.

Konflik bersenjata sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 2 ini dapat terjadi


antara dua atau lebih Pihak Peserta Agung atau antara Pihak Peserta Agung
dengan bukan Pihak Peserta Agung, dengan ketentuan pihak tersebut
berbentuk Negara. Istilah Negara juga digunakan pada waktu menjelaskan
mengenai konflik bersenjata dimana keadaan perang tidak diakui. Sedangkan
mengenai situasi pendudukan adalah pendudukan terhadap suatu wilayah
yang dilakukan oleh negara. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa konflik
bersenjata sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 2 Konvensi Jenewa adalah
konflik yang bersifat internasional yang terjadi antar negara

II.III. Artikel Protokol Tambahan I

Terdapat pada halaman lampiran

II.IV. Contoh Kasus

Amerika Serikat telah meratifikasi Konvensi Jenewa (Geneva Convention)


pada 2 Agustus 1955. Di samping itu, konvensi ini telah menjadi hukum
kebiasaan internasional (international customary law) karena diratifikasi oleh
lebih dari 100 negara anggota PBB. Artinya, AS tunduk pada konvensi ini.
Kemudian AS juga telah meratifikasi Konvensi Anti-Penyiksaan (Convention
Against Torture) pada 20 November 1994. Sehingga, AS pun tunduk pada
konvensi ini.

Sungguhpun demikian, peristiwa Abu Ghuraib tak pelak telah mencoreng


habis penghormatan AS terhadap hukum humaniter. Amnesti Internasional
dalam rilisnya pada 7 Mei 2004 menyebutkan bahwa AS telah
memperlihatkan ketidakhormatan yang konsisten pada Konvensi Jenewa,
prinsip-prinsip dasar hukum dan hak asasi manusia.

Dan tidak hanya kasus Abu Ghuraib, Amnesti menuding bahwa AS


melakukan kekerasan yang sama dalam kasus penahanan prajurit Taliban di
pangkalan udara Bagram dan Kandahar di Afghanistan tahun 2001-2002.
Wartawan Skotlandia, Jamie Doran berkisah dalam sebuah film dokumenter
berjudul Afghan Massacre: Convoy of Death, yang menceritakan ribuan
anggota Taliban dijebloskan ke lori-lori di dekat Kota Mazar-i-Sharif pada

6
tanggal 26 dan 27 November 2001. Seluruh pintu lori dikunci dan lori-lori
tersebut dibiarkan terpanggang panas matahari selama berhari-hari.

Lori yang berisi tahanan itu kemudian dibawa dari wilayah Konduz ke penjara
Shebergan. Dalam perjalanan, banyak dari tahanan yang tak tahan lagi
menahan haus dan kekurangan oksigen sehingga mereka membentur-
benturkan kepalanya ke dinding lori. Lori pun kemudian ditembaki. Ketika
kendaraan itu mencapai penjara Shebergan, sebagian besar tahanan sudah
tewas.

Kekerasan tentara AS ini berlanjut hingga kamp Guantanamo, tempat


penahanan prajurit Taliban di Kuba. Amnesti Internasional (7/5) menyebutkan
kisah mantan tahanan Guantanamo bernama Wazir Mohammad yang
mengaku pernah diperlakukan tidak manusiawi di Guantanamo. Ia diborgol
secara berlebihan, dikurangi waktu tidurnya (sleep deprivation), dipaksa
berjalan jongkok, diputus hubungannya dengan dunia luar (incommunicado)
walau untuk bertemu keluarga dan pengacaranya. Ia juga tak pernah bertemu
delegasi Palang Merah Internasional (International Committee of the Red
Cross, ICRC).

Lebih jauh lagi, para pelanggar hukum humaniter di Irak amat dapat
dipersalahkan dan kemudian diadili. Masalahnya kemudian, siapa yang harus
mengadili dan bagaimana model pengadilannya? Bagaimanapun peradilan
tersebut amat bergantung pada kemauan politik negara pelaku dan intervensi
publik internasional.

Di luar kesemua masalah itu, pesan dari hukum humaniter sebenarnya


sederhana. Ia tak hendak melarang terjadinya perang dan tak
mempersoalkan mengapa perang terjadi. Hukum humaniter hanya ingin
'memanusiawikan' perang. Yaitu, ketika perang harus terjadi pun, tetap hak
asasi manusia tak dengan sendirinya hilang begitu saja. Warga sipil, tentara
yang tak ikut berperang, hingga tawanan perang memiliki hak untuk dilindungi
dan diperlakukan secara layak. Terlebih lagi, hukum humaniter (yang tertuang
dalam Konvensi Den Haag dan Konvensi Jenewa) telah diratifikasi oleh
ratusan negara, termasuk Amerika Serikat, yang berarti penghormatan
terhadapnya tak dapat ditawar-tawar.

Bila Amerika Serikat saja, yang dikenal sebagai sebagai salah satu sponsor
utama penegakan HAM dan bidan lahirnya instrumen-instrumen HAM
internasional, masih melakukan pelanggaran terhadap hukum humaniter,
apalagi negara-negara lain, terutama di dunia ketiga yang 'tak memiliki'
instrument mekanisme perlindungan HAM yang baik? Peristiwa Abu Ghuraib
dan pemenggalan kepala warga AS Nick Berg, hanyalah satu episode
pelanggaran hukum humaniter di dunia. Karena, hampir semua negara telah
melanggarnya. Hukum humaniter nyaris tak terimplementasi dengan baik
dalam semua konflik bersenjata di dunia.

7
II.IV. Analisis Artikel Protokol Tambahan I

Protokol I tahun 1977 protokol amandemen terhadap Konvensi Jenewa yang


berkaitan dengan perlindungan korban konflik bersenjata internasional. Ini
menegaskan kembali hukum internasional asli Konvensi Jenewa tahun 1949,
tetapi menambahkan klarifikasi dan ketentuan-ketentuan baru untuk
mengakomodasi perkembangan dalam perang internasional modern yang
telah terjadi sejak Perang Dunia Kedua. Sampai 8 Juni 2007, Perjanjian itu
telah diratifikasi oleh 168 negara, dengan Amerika Serikat, Israel, Iran,
Pakistan, Turki, dan Irak menjadi pengecualian. Namun, Amerika Serikat,
Iran, dan Pakistan ditandatangani pada 12 Desember 1977 dengan maksud
meratifikasikannya. Menurut banding oleh Komite Internasional Palang Merah
pada tahun 1997, sejumlah artikel-artikel yang terdapat di kedua protokol
yang dikenali sebagai aturan-aturan hukum internasional adat berlaku untuk
semua negara, baik atau tidak mereka telah meratifikasi mereka.

Protokol I adalah dokumen yang luas, yang berisi 102 artikel/pasal.


Berikut ini adalah ikhtisar dasar protokol. Untuk daftar lengkap dari semua
ketentuan, konsultasikan dengan teks asli yg ada di halaman lampiran .
Secara umum, protokol ini menegaskan kembali ketentuan asli empat
Konvensi Jenewa. Namun, perlindungan tambahan berikut ditambahkan.
Berikut secara singkat kami urai sebagai berikut :

1. Pasal 51 dan 54 melanggar hukum tanpa pandang bulu serangan terhadap


penduduk sipil, dan kerusakan makanan, air, dan bahan lain yang diperlukan
untuk bertahan hidup. Serangan tanpa pandang bulu termasuk langsung
menyerang sipil (non militer) target, tetapi juga menggunakan teknologi
seperti senjata biologis dan ranjau darat, yang lingkup kerusakan tidak bisa
dibatasi. Sebuah perang total yang tidak membedakan antara sasaran sipil
dan militer dianggap kejahatan perang.

2. Pasal 56 dan 53 serangan kriminal pada dam, tanggul, stasiun pembangkit


nuklir, dan tempat-tempat ibadah.

3. Pasal 76 dan 77, 15 dan 79 memberikan perlindungan khusus bagi


perempuan, anak-anak, dan tenaga medis sipil, dan menyediakan langkah-
langkah perlindungan bagi wartawan.

4. Pasal 77 wajib militer melarang anak di bawah usia 15 ke dalam angkatan


bersenjata. Itu tidak memungkinkan, namun untuk orang di bawah usia 15
tahun untuk berpartisipasi secara sukarela.

5. Pasall 43 dan 44 menjelaskan status militer anggota pasukan gerilya.


Kombatan dan tahanan perang status diberikan kepada anggota pasukan
pembangkang ketika berada di bawah komando penguasa pusat. Kombatan
seperti itu tidak dapat menyembunyikan kesetiaan mereka; mereka harus
dikenali sebagai kombatan sambil mempersiapkan atau selama serangan.

6. Pasal 35 melarang senjata yang "berlebihan menyebabkan cedera atau


penderitaan yang tidak semestinya," serta sarana perang bahwa

8
"menyebabkan luas, jangka panjang, dan kerusakan parah pada lingkungan
alam."

7. Pasal 85 menyatakan bahwa itu adalah kejahatan perang untuk


menggunakan salah satu lambang pelindung diakui oleh Konvensi Jenewa
untuk menipu kekuatan yang berlawanan (kedurhakaan).

8. Pasal 17 dan 81 mengotorisasi ICRC, masyarakat nasional, atau tidak


memihak organisasi kemanusiaan untuk memberikan bantuan kepada para
korban perang.

merupakan kewajiban hukum untuk mengadili dan menghukum orang


-orang yang telah melakukan pelanggaran - pelanggaran terhadap hukum
humaniter, terutama yang telah melakukan kejahatan - kejahatan perang.
Menurut Konvensi Jenewa, maka Negara-negara Penandatangan
berkewajiban untuk memeriksa dan mengadili individu – individu yang diduga
melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap Konvensi. Selain itu, tiap
Negara juga berkewajiban untuk mencari tersangka pelanggar Konvensi dan
membawanya ke Pengadilan untuk diadili, apapun kewarganegaraannya.
Pelanggaran terhadap Konvensi merupakan kejahatan yang serius, sehingga
pada tahun 1949, ketika Konvensi diratifikasi, Negara-negara penandatangan
siap untuk mengadilinya didalam negeri atau mengekstradisikan pelakunya ke
negara yang siap mengadili.

9
III. PENUTUP

Kesimpulan dari hasil penelitian ini memaparkan bahwa secara umum kedua
sumber hukum yakni Hukum Humaniter Internasional tidak melarang konflik
bersenjata akan tetapi kedua hukum tersebut membatasi atau konflik
bersenjata baik yang bersifat internasional maupun non internasional. Dalam
hal terjadinya konflik bersenjata menurut Hukum Humaniter Internasional
merupakan alternatif terakhir ketika jalan damai sudah tidak dapat ditempuh.
Upaya perlindungan terhadap tawanan dalam Hukum Humaniter Internasional
meliputi perlindungan umum dan perlindungan khusus yang keduanya menitik
beratkan pada aspek pemeliharaan moril dan materiil para tawanan yang
terdiri atas: aspek tanggung jawab negara penahan, pemindahan tawanan
yang hanyadapat dilaksanakan oleh para negara peserta konvensi termasuk
pemulangan tawanan, perlakuan manusiawi harus mempertimbangkan
kondisi kesehatan jiwa dan jasmani serta menghormati tawanan meliputi hak-
hak tawanan dan penghormatan atas diri pribadi serta martabatnya.

Kemudian perlindungan tawanan memperhatikan berbagai dimensi yang


dapat mempengaruhi kondisi para tawanan baik dari dimensi ekonomi,
pendidikan, politik, sosial, moral pribadi, keluarga, informasi, kesehatan, dan
kejahatan serta dimensi lain yang dapat memperburuk kondisi para tawanan.
Kedua hukum tersebut menyebutkan bahwa tindakan pembunuhan terhadap
para tawanan tanpa didahului proses persidangan itu di larang. Yang
berkenaan dengan hak-hak para tawanan harus diberikan sebagaimana hak
dia sebelum masa penawanan.

Pelanggaran atas ketentuan terhadap perlindungan tawanan perang menurut


Hukum Humaniter Internasional harus diproses sebagaimana ketentuan
peradilan baik nasional maupun internasional. Bobot atau besaran sanksi
yang dijatuhkan kepada pelaku yang didakwa melanggar ketentuan tersebut
didasarkan pada tingkat pelanggaran yang dilakukan dan mempertimbangkan
berbagai aspek.

10
Halaman Lampiran

Pihak Tinggi,

Menyatakan mereka sungguh-sungguh ingin melihat perdamaian berlaku di antara masyarakat,

Mengingat bahwa setiap Negara mempunyai tugas, sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk
menahan diri dalam hubungan internasional dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan,
integritas teritorial atau kemerdekaan politik dari setiap Negara, atau dengan cara lain tidak konsisten dengan tujuan
Perserikatan Bangsa-Bangsa,

Percaya bagaimanapun perlu untuk menegaskan kembali dan mengembangkan ketentuan melindungi korban konflik
bersenjata dan untuk melengkapi langkah-langkah yang dimaksudkan untuk memperkuat aplikasi mereka,

Mengungkapkan keyakinan mereka bahwa tidak ada dalam Protokol ini atau dalam Konvensi Jenewa tertanggal 12
Agustus 1949 dapat diartikan sebagai mengesahkan atau otorisasi setiap tindakan agresi atau penggunaan lainnya
kekerasan tidak sejalan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa,

Lebih lanjut menegaskan kembali bahwa ketentuan-ketentuan Konvensi Jenewa 12 Agustus 1949 dan Protokol ini
harus benar-benar diterapkan dalam segala situasi kepada semua orang yang dilindungi oleh instrumen-instrumen
tersebut, tanpa perbedaan merugikan yang didasarkan pada sifat atau asal-usul konflik bersenjata atau
pada penyebab didukung oleh atau dikaitkan dengan Pihak konflik,

Telah menyetujui sebagai berikut:

BAGIAN I. KETENTUAN UMUM

Pasal 1. Prinsip-prinsip umum dan ruang lingkup aplikasi

1. Pihak Tinggi melakukan untuk menghormati dan menjamin penghormatan terhadap Protokol ini dalam segala
situasi.

2. Dalam kasus-kasus yang tidak tercakup oleh Protokol ini atau perjanjian internasional lainnya, warga sipil dan
kombatan tetap berada di bawah otoritas perlindungan dan prinsip-prinsip hukum internasional yang berasal dari
kebiasaan mapan, dari prinsip-prinsip kemanusiaan dan dari perintah nurani publik.

3. Protokol ini, yang melengkapi Konvensi Jenewa tertanggal 12 Agustus 1949 bagi perlindungan korban perang,
akan berlaku dalam situasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Konvensi Common kepada mereka.

4. Situasi dimaksud dalam ayat sebelumnya termasuk konflik bersenjata di mana orang-orang itu berperang
melawan dominasi kolonial dan pendudukan asing dan terhadap rezim rasis dalam pelaksanaan hak mereka untuk
menentukan nasib sendiri, sebagaimana diabadikan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Deklarasi
tentang Prinsip-prinsip Hukum Internasional mengenai Hubungan Ramah dan Kerjasama antara Negara-negara
sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pasal 2. Definisi

Untuk keperluan Protokol ini


(a) "Pertama Konvensi", "Konvensi Kedua", "Konvensi Ketiga" dan "Keempat Konvensi" berarti, masing-masing,
Konvensi Jenewa untuk perbaikan dari Kondisi Terluka dan Sakit dalam Angkatan Bersenjata di Bidang tertanggal
12 Agustus 1949 ; Konvensi Jenewa untuk perbaikan Kondisi Terluka, Sakit dan Kapal-menghancurkan Anggota
Angkatan Bersenjata di Laut tertanggal 12 Agustus 1949; Konvensi Jenewa relatif terhadap Perlakuan terhadap para
tawanan perang tertanggal 12 Agustus 1949; Konvensi Jenewa relatif terhadap Perlindungan Orang Sipil di Masa
Perang tertanggal 12 Agustus 1949; "Konvensi" berarti empat Konvensi Jenewa tertanggal 12 Agustus 1949 bagi
perlindungan korban perang;

(b) "Aturan hukum internasional yang berlaku dalam konflik bersenjata" berarti aturan-aturan yang berlaku dalam
konflik bersenjata yang diatur dalam perjanjian internasional yang Para Pihak ke Pihak konflik dan diakui secara
umum prinsip-prinsip dan aturan-aturan hukum internasional yang berlaku untuk konflik bersenjata ;

(c) "Melindungi Power" berarti netral atau tidak Negara lain Partai dalam konflik yang telah ditetapkan oleh Pihak dari
konflik dan diterima oleh Partai yang merugikan dan telah setuju untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang ditetapkan
ke Melindungi Power di bawah Konvensi dan Protokol ini;

(d) "Gantikan" berarti sebuah organisasi yang bekerja di tempat yang Melindungi Power sesuai dengan Pasal 5.

Pasal 3. Awal dan akhir aplikasi

Tanpa mengurangi ketentuan yang berlaku setiap saat:

11
(a) Konvensi dan Protokol ini akan berlaku dari awal situasi apapun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 Protokol
ini.

(b) penerapan Konvensi dan Protokol ini akan berhenti, di wilayah Pihak konflik, pada penutupan umum operasi
militer dan, dalam kasus wilayah-wilayah pendudukan, pada penghentian pendudukan, kecuali, di keadaan baik, bagi
mereka orang-orang yang final release, repatriasi atau pembentukan kembali terjadi sesudahnya. Orang ini akan
terus mendapatkan keuntungan dari ketentuan-ketentuan yang relevan dari Konvensi dan Protokol ini sampai
mereka rilis final repatriasi atau pembentukan kembali.

Pasal 4. Status hukum Pihak konflik

Penerapan Konvensi dan Protokol ini, serta kesimpulan dari perjanjian yang disediakan untuk di dalamnya, tidak
akan mempengaruhi status hukum Pihak konflik. Baik pendudukan wilayah atau penerapan Konvensi dan Protokol
ini akan mempengaruhi status hukum wilayah yang bersangkutan.

Pasal 5. Penunjukan Melindungi Powers dan pengganti mereka

1. Ini adalah tugas dari Pihak-pihak yang konflik dari awal konflik untuk mengamankan pengawasan dan
pelaksanaan Konvensi dan Protokol ini dengan penerapan sistem Melindungi Powers, termasuk antara lain
penunjukan dan penerimaan dari orang-orang Powers, sesuai dengan paragraf berikut. Melindungi Powers wajib
menjaga kepentingan Pihak konflik.

2. Sejak awal dari sebuah situasi dimaksud dalam Pasal 1, setiap Pihak dalam konflik harus tanpa menunda
menunjuk Melindungi Power untuk tujuan menerapkan Konvensi dan Protokol ini dan akan, juga tanpa penundaan
dan untuk tujuan yang sama, izin kegiatan atau sebuah Melindungi Power yang telah diterima oleh seperti itu setelah
penunjukan oleh Partai merugikan.

3. Jika Power Melindungi belum ditunjuk atau diterima dari awal situasi dimaksud dalam Pasal 1, Komite
Internasional Palang Merah, tanpa prasangka terhadap hak lain yang tidak memihak organisasi kemanusiaan untuk
melakukan hal yang sama, harus mempersembahkan kantor yang baik untuk Para Pihak ke konflik dengan maksud
untuk penunjukan tanpa penundaan dari Melindungi Power mana Pihak persetujuan konflik. Untuk itu mungkin
antara lain meminta setiap Pihak untuk menyediakan dengan daftar setidaknya lima Serikat yang menganggap
bahwa Partai dapat diterima untuk bertindak sebagai Melindungi Power atas nama dalam kaitannya dengan Partai
yang merugikan dan meminta masing-masing merugikan Partai untuk memberikan daftar atau sekurang-kurangnya
lima negara yang akan menerima sebagai Kekuatan Melindungi Partai pertama; daftar ini harus disampaikan kepada
Komite dalam waktu dua minggu setelah tanda terima atau permintaan mereka itu akan membandingkan dan
mencari persetujuan dari setiap usulan nama Negara di kedua daftar.

4. Jika, meskipun demikian, tidak ada Melindungi Power, Pihak konflik tanpa penundaan akan menerima sebuah
tawaran yang dapat dilakukan oleh Komite Internasional Palang Merah atau oleh organisasi lainnya yang
menawarkan semua jaminan ketidakberpihakan dan kemanjuran, setelah karena kata konsultasi dengan Pihak dan
dengan mempertimbangkan hasil konsultasi ini, untuk bertindak sebagai pengganti. Fungsi seperti pengganti adalah
tunduk pada persetujuan dari Pihak konflik; setiap upaya harus dilakukan oleh Pihak konflik untuk memfasilitasi
operasi pengganti dalam pelaksanaan tugas-tugasnya di bawah Konvensi dan Protokol ini.

5. Sesuai dengan Pasal 4, penetapan dan penerimaan Melindungi Powers untuk tujuan menerapkan Konvensi dan
Protokol ini tidak akan mempengaruhi status hukum Pihak konflik atau dari berbagai wilayah, termasuk wilayah yang
diduduki.

6. Pemeliharaan hubungan diplomatik antara Pihak konflik atau mempercayakan perlindungan dari kepentingan
Partai dan orang-orang dari negaranya ke negara ketiga sesuai dengan aturan-aturan hukum internasional yang
berkaitan dengan hubungan diplomatik tidak ada halangan untuk Melindungi penunjukan Powers untuk tujuan
menerapkan Konvensi dan Protokol ini.

7. Setiap selanjutnya disebutkan dalam Protokol ini sebuah Melindungi Power juga mencakup pengganti.

Pasal 6. Berkualitas orang

1. Pihak Tinggi akan, juga di masa damai, upaya, dengan bantuan Palang Merah nasional (Bulan Sabit Merah, Red
Lion dan Sun) Masyarakat, untuk melatih teknisi ahli untuk memfasilitasi penerapan Konvensi dan Protokol ini, dan
khususnya kegiatan Melindungi Powers.

2. Perekrutan dan pelatihan personil tersebut berada dalam yurisdiksi domestik.

3. Komite Internasional Palang Merah akan terus di pembuangan Pihak Tinggi daftar orang-orang yang terlatih
sehingga Pihak Tinggi mungkin telah mapan dan mungkin dikirimkan ke sana untuk tujuan itu.

4. Kondisi-kondisi yang mengatur kerja personil tersebut di luar wilayah nasional harus, dalam setiap kasus, menjadi
subjek persetujuan-persetujuan khusus antara Pihak yang bersangkutan.

Pasal 7 - Rapat

12
Para penyimpanan Protokol ini akan mengadakan pertemuan Tinggi Pihak, atas permintaan salah satu atau lebih
dari kata Pihak dan atas, persetujuan dari mayoritas dari kata Pihak, untuk mempertimbangkan masalah-masalah
umum mengenai penerapan Konvensi dan dari Protokol.

Bagian. II terluka, sakit dan terdampar

Bagian I: Jenderal Perlindungan

Pasal 8. Terminologi

Untuk keperluan Protokol ini:


a) "Terluka" dan "sakit" berarti orang, baik militer atau sipil, yang, karena trauma, penyakit atau gangguan fisik atau
mental atau cacat, sangat membutuhkan bantuan medis atau perawatan dan yang menahan diri dari setiap tindakan
permusuhan. Istilah-istilah ini juga meliputi kasus-kasus ibu hamil, bayi baru lahir dan orang lain yang mungkin
membutuhkan segera bantuan medis atau perawatan, seperti sakit atau ibu hamil, dan yang menahan diri dari
tindakan apapun permusuhan;

b) "terdampar" berarti orang, baik militer atau sipil, yang berada dalam bahaya di laut atau di perairan lainnya
sebagai akibat dari kemalangan yang mempengaruhi mereka atau kapal atau pesawat udara yang membawa
mereka dan menahan diri dari setiap tindakan permusuhan. Ini orang, asalkan mereka terus menahan diri dari setiap
tindakan permusuhan, akan terus dianggap terdampar selama menyelamatkan mereka sampai mereka memperoleh
status lain di bawah Konvensi atau Protokol ini;

c) "Medical personil" berarti orang-orang yang ditugaskan, oleh Pihak dari konflik, semata-mata untuk keperluan
medis yang disebutkan di bawah e) atau dengan administrasi unit medis atau pengoperasian atau administrasi
transport medis. Tugas semacam itu dapat bersifat permanen atau
sementara. Istilah meliputi:

i) tenaga medis dari Partai konflik, apakah militer atau sipil, termasuk yang dijelaskan dalam Konvensi Pertama dan
Kedua, dan mereka yang ditugaskan untuk organisasi-organisasi pertahanan sipil;

ii) tenaga medis Palang Merah nasional (Bulan Sabit Merah, Red Lion dan Sun) Masyarakat dan bantuan sukarela
nasional lainnya sepatutnya masyarakat diakui dan disahkan oleh Pihak dari konflik;

iii) tenaga kesehatan atau medis transport unit atau medis yang dijelaskan dalam Pasal 9, ayat 2.

d) "Religious personil" berarti orang militer atau sipil, seperti ulama, yang semata-mata terlibat dalam karya
pelayanan mereka dan dilampirkan:

i) kepada angkatan bersenjata Partai dalam konflik;


ii) unit medis atau transportasi medis dari Partai dalam konflik;
iii) unit medis atau angkutan medis dijelaskan dalam Pasal 9, ayat 2; atau
iv) organisasi-organisasi pertahanan sipil Partai konflik.

Lampiran personil agama dapat bersifat permanen atau sementara, dan ketentuan terkait yang disebutkan di bawah
k) berlaku untuk mereka;

e) "Medical unit" berarti instansi dan unit lain, apakah militer atau sipil, terorganisir untuk tujuan medis, yaitu
pencarian, pengumpulan, transportasi, diagnosis atau perawatan - termasuk perawatan pertolongan pertama - yang
terluka, sakit dan terdampar, atau untuk pencegahan penyakit. Istilah mencakup misalnya, rumah sakit dan unit
serupa lainnya, pusat-pusat transfusi darah, obat pencegah pusat-pusat dan lembaga-lembaga, depot medis dan
medis dan toko-toko farmasi unit tersebut. Unit medis mungkin sudah ditetapkan atau bergerak, permanen atau
sementara;

f) "Medical transportasi" berarti kendaraan darat, air atau udara yang terluka, sakit, terdampar, petugas kesehatan,
agama personil, peralatan medis atau perlengkapan medis dilindungi oleh Konvensi dan Protokol ini;

g) "Medical transport" berarti setiap sarana transportasi, apakah militer atau sipil, permanen atau sementara, yang
ditugaskan secara khusus untuk transportasi medis dan di bawah kontrol otoritas yang kompeten dari Pihak pada
konflik;

h) "Medical kendaraan" berarti setiap angkutan darat medis;

i) "Medical kapal dan kerajinan" berarti setiap transport medis oleh air;

j) "Medical pesawat" berarti setiap transport medis lewat udara;

k) "Tetap personel medis", "unit medis permanen" dan "transport medis permanen" berarti orang-orang yang
ditugaskan secara khusus untuk keperluan medis untuk jangka waktu tak jelas. "Sementara personel medis"
"sementara unit medis" dan "sementara angkutan medis" berarti mereka mengabdikan khusus untuk keperluan
medis untuk jangka waktu terbatas selama seluruh periode tersebut. Kecuali ditentukan lain, istilah "tenaga medis",
"unit medis" dan "transport medis" mencakup keduanya permanen dan sementara kategori;

13
l) "Ciri-ciri lambang" berarti khas lambang palang merah, bulan sabit merah atau singa dan matahari merah di atas
tanah putih ketika digunakan untuk perlindungan unit dan transport medis, atau personil medis dan keagamaan,
peralatan atau perlengkapan;

m) "Ciri-ciri sinyal" berarti setiap sinyal atau pesan tertentu semata-mata untuk identifikasi unit medis atau angkutan
dalam Bab III dari Annex I Protokol ini.

Pasal 9. Bidang aplikasi

1. Bagian ini, ketentuan-ketentuan yang dimaksudkan untuk memperbaiki kondisi yang terluka, sakit dan terdampar,
akan berlaku untuk semua orang terpengaruh oleh situasi dimaksud dalam Pasal 1, tanpa perbedaan merugikan
didasarkan pada ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa,agama atau kepercayaan politik atau pendapat lain, asal
nasional atau sosial, kekayaan, kelahiran atau status lainnya, atau pada kriteria lainnya yang serupa.

2. Yang relevan Ketentuan-ketentuan Pasal 27 dan 32 Konvensi Pertama akan berlaku permanen unit medis dan
transportasi (selain rumah sakit kapal, di mana Pasal 25 Konvensi Kedua berlaku) dan personil mereka tersedia
untuk sebuah Partai dalam konflik untuk kemanusiaan
tujuan:
(a) dengan yang netral atau Negara lain yang bukan merupakan Pihak yang konflik;
(b) dengan kewenangan yang diakui dan masyarakat bantuan semacam Negara;
(c) oleh organisasi kemanusiaan internasional yang tidak memihak.

Pasal 10 Perlindungan dan perawatan

1. Semua yang terluka, sakit dan terdampar, Partai mana pun mereka berasal, harus dihormati dan dilindungi.

2. Dalam semua keadaan mereka akan diperlakukan secara manusiawi dan akan menerima, untuk sepenuhnya
praktis dan dengan sedikit mungkin menunda, perawatan medis dan perhatian yang diperlukan oleh kondisi
mereka. Tidak akan ada perbedaan di antara mereka dibangun di atas dasar apapun selain yang medis.

Pasal 11 - Perlindungan dari orang-orang

1. Fisik atau kesehatan mental dan integritas dari orang-orang yang berada dalam kekuasaan Partai buruk atau yang
diinternir, ditahan atau kehilangan kebebasan sebagai akibat dari situasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 tidak
akan terancam oleh tindakan atau kelalaian dibenarkan . Oleh karena itu, adalah dilarang untuk subyek orang-orang
yang dijelaskan dalam Pasal ini untuk prosedur medis yang tidak ditandai dengan keadaan kesehatan orang yang
bersangkutan dan yang tidak konsisten dengan standar medis yang diterima secara umum yang akan diterapkan di
bawah keadaan medis yang serupa kepada orang-orang yang merupakan warga negara dari Partai melakukan
prosedur dan yang sama sekali tidak kehilangan kebebasan.

2. Hal ini, secara khusus, dilarang untuk melaksanakan pada orang-orang tersebut, bahkan dengan persetujuan
mereka:
(a) mutilasi fisik;
(b) eksperimen medis atau ilmiah;
(c) penghapusan jaringan atau organ-organ untuk transplantasi, kecuali di mana tindakan ini dapat dibenarkan
sesuai dengan kondisi yang ditentukan dalam ayat 1.

3. Pengecualian terhadap larangan dalam ayat 2 (c) hanya dapat dilakukan dalam kasus sumbangan untuk transfusi
darah atau mencangkok kulit, asalkan diberikan secara sukarela dan tanpa paksaan atau bujukan, dan kemudian
hanya untuk keperluan terapeutik, di bawahkondisi yang konsisten dengan standar medis yang berlaku umum dan
kontrol yang dirancang untuk kepentingan baik donor dan penerima.

4. Setiap tindakan disengaja atau kelalaian yang secara serius membahayakan kesehatan fisik atau mental atau
integritas dari setiap orang yang berada dalam kekuasaan Partai daripada yang lain di mana dia bergantung dan
yang kedua melanggar salah satu larangan dalam ayat 1 dan 2 atau gagal untuk memenuhi persyaratan ayat 3 akan
menjadi kuburan pelanggaran Protokol ini.

5. Orang-orang yang diuraikan dalam ayat 1 mempunyai hak untuk menolak untuk memberikan setiap operasi
bedah. Dalam kasus penolakan, tenaga medis akan berusaha untuk memperoleh pernyataan tertulis mengenai hal
tersebut, ditandatangani atau diakui oleh pasien.

6. Setiap Pihak pada konflik harus menyimpan catatan medis untuk setiap sumbangan darah untuk transfusi atau
kulit untuk mencangkok oleh orang sebagaimana dimaksud dalam ayat 1, jika sumbangan itu dibuat di bawah
tanggung jawab dari Partai. Selain itu, masing-masing Pihak pada konflik akan berusaha untuk membuat catatan
tentang semua prosedur medis yang dilakukan sehubungan dengan orang yang diinternir, ditahan atau kehilangan
kebebasan sebagai akibat dari situasi dimaksud dalam Pasal 1. Catatan-catatan ini akan tersedia setiap saat untuk
diperiksa oleh Melindungi Power.

Pasal 12 Perlindungan unit medis

1. Unit medis harus dihormati dan dilindungi sepanjang waktu dan tidak akan menjadi objek serangan.

14
2. Ayat 1 akan berlaku bagi unit medis sipil, asalkan mereka:
(a) milik salah satu Pihak konflik;
(b) diakui dan disahkan oleh pejabat yang berwenang dari salah satu Pihak konflik; atau
(c) berwenang sesuai dengan Pasal 9, ayat 2, Protokol ini atau Pasal 27 Konvensi Pertama.

3. Para Pihak ke konflik diundang untuk memberitahukan satu sama lain dari lokasi unit medis tetap mereka. Tidak
adanya pemberitahuan tersebut tidak akan membebaskan salah satu Pihak dari kewajiban untuk mematuhi
ketentuan-ketentuan dalam ayat 1.

4. Dalam situasi apapun, unit-unit medis yang digunakan dalam usaha untuk melindungi sasaran militer dari
serangan. Bila mungkin, Para Pihak ke konflik harus memastikan bahwa unit medis begitu sited bahwa serangan
terhadap sasaran militer tidak membahayakan keselamatan mereka.

Pasal 13. Penghentian perlindungan sipil unit medis

1. Perlindungan kepada unit medis sipil yang berhak tidak akan berhenti kecuali mereka digunakan untuk
melakukan, di luar fungsi kemanusiaan mereka, bertindak membahayakan musuh. Perlindungan mungkin Namun,
berhenti hanya setelah peringatan telah diberikan pengaturan, kapan pun yang sesuai, waktu yang wajar-batas, dan
setelah peringatan tersebut tetap diabaikan.

2. Berikut tidak akan dianggap sebagai tindakan berbahaya bagi musuh:

(a) bahwa personil dari unit masing-masing dilengkapi dengan senjata ringan untuk pertahanan mereka sendiri atau
untuk orang yang terluka dan sakit di jawab mereka;
(b) bahwa unit ini dijaga oleh piket atau oleh penjaga atau oleh pendamping;
(c) bahwa senjata ringan dan amunisi yang diambil dari yang terluka dan sakit, dan belum diserahkan kepada
layanan yang tepat, yang ditemukan di unit;
(d) bahwa anggota angkatan bersenjata atau pejuang lainnya berada di unit untuk alasan medis.

Pasal 14 - Keterbatasan pada daftar permintaan dari unit medis sipil

1. The Berlokasi Power juga memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa kebutuhan medis penduduk sipil di
wilayah yang diduduki terus puas.

2. Berlokasi Power yang tidak boleh, karena itu, daftar permintaan unit medis sipil, peralatan mereka, mereka materi
atau layanan dari personil mereka, asalkan sumber daya ini diperlukan untuk penyediaan pelayanan medis yang
memadai untuk penduduk sipil dan untuk melanjutkan perawatan medis ada yang terluka dan sakit sudah dalam
perawatan.

3. Asalkan aturan umum dalam ayat 2 terus dicermati, Power Berlokasi mungkin daftar permintaan sumber daya
yang berkata, sesuai dengan kondisi tertentu sebagai berikut:
(a) bahwa sumber daya yang diperlukan untuk segera cukup dan perawatan medis yang terluka dan sakit anggota
angkatan bersenjata dari Berlokasi Power atau dari tawanan perang;
(b) bahwa daftar permintaan terus hanya ketika ada kebutuhan seperti; dan
(c) bahwa pengaturan segera dibuat untuk memastikan bahwa kebutuhan medis penduduk sipil, serta orang-orang
dari segala luka dan sakit di bawah perawatan yang terpengaruh oleh daftar permintaan, terus puas.

Pasal 15. Perlindungan sipil personil medis dan agama

1. Sipil personil medis harus dihormati dan dilindungi.

2. Jika diperlukan, semua tersedia bantuan akan diberikan kepada petugas medis sipil di daerah di mana pelayanan
medis sipil terganggu dengan alasan aktivitas tempur.

3. The Berlokasi Power akan mampu personil medis sipil di wilayah-wilayah pendudukan setiap bantuan yang
memungkinkan mereka untuk melakukan, dengan segenap kemampuan mereka, mereka fungsi kemanusiaan. Yang
Berlokasi Power mungkin tidak memerlukan itu, dalam pelaksanaan fungsi-fungsi, personil tersebut akan
memberikan prioritas pada perlakuan terhadap setiap orang kecuali alasan medis. Mereka tidak akan dipaksa untuk
melaksanakan tugas-tugas yang tidak kompatibel dengan misi kemanusiaan mereka.

4. Personil medis sipil akan memiliki akses ke tempat di mana layanan mereka sangat penting, tunduk pada
pengawasan dan keselamatan sebagai Partai yang relevan dengan konflik mungkin anggap perlu.

5. Personil agama sipil harus dihormati dan dilindungi. Ketentuan-ketentuan dalam Konvensi dan Protokol ini tentang
perlindungan dan identifikasi personel medis akan berlaku untuk orang-orang tersebut.

Pasal 16. Perlindungan umum tugas medis

1. Dalam situasi apapun, setiap orang akan dihukum untuk melakukan kegiatan medis kompatibel dengan etika
medis, terlepas dari orang manfaat daripadanya.

15
2. Orang-orang yang terlibat dalam kegiatan medis tidak akan dipaksa untuk melakukan tindakan atau untuk
melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan aturan-aturan etika kedokteran atau medis lain peraturan yang
dirancang untuk kepentingan orang yang terluka dan sakit atau ketentuan-ketentuan Konvensi atau Protokol ini, atau
untuk menahan diri dari melakukan tindakan atau dari melakukan pekerjaan yang diperlukan oleh orang-aturan dan
ketentuan.

3. Tidak ada orang yang terlibat dalam kegiatan medis akan dipaksa untuk memberikan kepada siapa saja yang
termasuk baik untuk yang merugikan Partai, atau Partai sendiri, kecuali jika diwajibkan oleh hukum Partai yang
terakhir, berbagai informasi mengenai orang yang terluka dan sakit yang sedang, atau yang telah , di bawah
perawatan, jika informasi seperti itu, menurut pendapatnya, membuktikan berbahaya bagi pasien yang bersangkutan
atau ke keluarga mereka. Peraturan untuk pemberitahuan wajib penyakit menular akan, bagaimanapun, harus
dihormati.

Pasal 17. Peran penduduk sipil dan bantuan masyarakat

1. Penduduk sipil harus menghormati yang terluka, sakit dan karam, bahkan jika mereka merupakan anggota Partai
yang merugikan, dan tidak akan melakukan tindakan kekerasan terhadap mereka. Penduduk sipil dan bantuan
masyarakat, seperti Palang Merah nasional (Bulan Sabit Merah, Red Lion dan Sun) Masyarakat, harus
diperbolehkan, bahkan pada inisiatif mereka sendiri, untuk mengumpulkan dan merawat yang terluka, sakit dan
karam, bahkan dalam menyerang atau menduduki daerah. Tidak seorang pun boleh dirugikan, dituntut, dipidana
atau dihukum karena tindakan kemanusiaan tersebut.

2. Para Pihak ke konflik mungkin menarik bagi penduduk sipil dan masyarakat bantuan sebagaimana dimaksud pada
ayat 1 untuk mengumpulkan dan merawat yang terluka, sakit dan karam, dan untuk mencari orang mati dan
melaporkan lokasi mereka, mereka akan memberikan perlindungan dan baik fasilitas yang diperlukan kepada
mereka yang menanggapi seruan ini. Jika Partai merugikan keuntungan atau mendapatkan kembali kontrol daerah,
Partai yang juga akan mampu perlindungan yang sama dan fasilitas selama mereka dibutuhkan.

Pasal 18. Identifikasi

1. Setiap Pihak konflik akan berusaha untuk memastikan bahwa medis dan agama personil dan unit-unit medis dan
transportasi dapat diidentifikasi.

2. Setiap Pihak konflik juga akan berusaha untuk mengadopsi dan menerapkan metode dan prosedur yang akan
memungkinkan untuk mengenali unit dan transport medis yang menggunakan lambang dan khas khas sinyal.

3. Dalam wilayah yang diduduki dan di daerah-daerah dimana pertempuran sedang berlangsung atau akan
berlangsung, petugas medis sipil dan agama sipil karyawan harus dikenali oleh lambang khas dan kartu identitas
sertifikasi status mereka.

4. Dengan persetujuan dari pejabat yang berwenang, unit-unit dan transport medis harus ditandai dengan lambang
khas. Kapal-kapal dan kerajinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dari Protokol ini harus ditandai sesuai
dengan ketentuan Konvensi Kedua.

5. Selain lambang yang berbeda, satu Pihak ke konflik mungkin, seperti yang diberikan dalam Bab III dari Annex I
Protokol ini, wewenang penggunaan sinyal khusus untuk mengidentifikasi unit medis dan transportasi. Luar biasa,
dalam kasus-kasus khusus dibahas dalam Bab tersebut, mengangkut medis dapat menggunakan sinyal yang
berbeda tanpa menampilkan lambang khas.

6. Penerapan ketentuan-ketentuan ayat 1 sampai 5 dari pasal ini diatur oleh Bab I sampai III dari Annex I Protokol
ini. Sinyal yang ditetapkan pada Bab III Lampiran untuk penggunaan eksklusif unit dan transport medis tidak boleh,
kecuali seperti yang diberikan di dalamnya, akan digunakan untuk tujuan apapun selain untuk mengidentifikasi unit-
unit dan transport medis ditentukan dalam Bab tersebut.

7. Artikel ini tidak menggunakan wewenang yang lebih luas dari lambang khas di masa damai daripada yang
ditetapkan dalam Pasal 44 Konvensi Pertama.

8. Ketentuan-ketentuan dalam Konvensi dan Protokol ini berhubungan dengan pengawasan penggunaan lambang
khas dan dengan pencegahan dan represi penyalahgunaan daripadanya akan diterapkan pada sinyal berbeda.

Pasal 19. Netral dan tidak Negara lain Pihak konflik

Netral dan tidak Negara lain Pihak konflik akan berlaku ketentuan-ketentuan yang relevan Protokol ini untuk orang-
orang yang dilindungi oleh Bagian ini yang mungkin diterima atau magang di wilayah mereka, dan kepada setiap
orang mati dari Pihak bahwa konflik yang mereka temukan.

Pasal 20. - Larangan pembalasan

Pembalasan terhadap orang-orang dan obyek dilindungi oleh Bagian ini dilarang.

16
BAB II. MEDICAL TRANSPORTASI

Pasal 21. Kedokteran kendaraan

Kendaraan medis harus dihormati dan dilindungi dengan cara yang sama seperti mobile unit medis di bawah
Konvensi dan Protokol ini.

Pasal 22. Rumah sakit pantai menyelamatkan kapal dan kerajinan

1. Ketentuan-ketentuan Konvensi yang berkaitan dengan:


(a) pembuluh dijelaskan dalam Pasal 22, 24, 25 dan 27 dari Konvensi Kedua,
(b) sekoci mereka kecil dan kerajinan,
(c) personil dan kru mereka, dan
(d) yang terluka; sakit dan terdampar di atas kapal.

berlaku juga di mana kapal-kapal tersebut membawa warga sipil terluka, sakit dan terdampar yang tidak termasuk
salah satu kategori yang disebutkan dalam Pasal 13 Konvensi Kedua.Seperti warga sipil tidak akan, bagaimanapun,
harus tunduk menyerah kepada Partai apapun yang tidak mereka sendiri, atau untuk menangkap di laut. Jika mereka
menemukan dirinya dalam kekuatan Partai dalam konflik selain mereka sendiri mereka akan dilindungi oleh Keempat
Konvensi dan Protokol ini.

2. Perlindungan yang diberikan oleh Konvensi untuk kapal yang dijelaskan dalam Pasal 25 Konvensi Kedua akan
memperluas ke rumah sakit kapal yang disediakan untuk tujuan kemanusiaan ke dalam konflik Partai:
(a) dengan yang netral atau Negara lain yang bukan merupakan Pihak yang konflik; atau
(b) oleh organisasi kemanusiaan internasional yang tidak memihak,

syarat bahwa, dalam kedua kasus, persyaratan yang ditetapkan dalam Pasal ini dipenuhi.

3. Kecil kerajinan yang dijelaskan dalam Pasal 27 Konvensi Kedua harus dilindungi, bahkan jika pemberitahuan
bahwa Pasal dipertimbangkan oleh belum dilakukan. Para Pihak ke konflik, bagaimanapun, diundang untuk
menginformasikan satu sama lain dari setiap rincian kerajinan seperti yang akan memfasilitasi identifikasi dan
pengakuan mereka.

Pasal 23. Kapal medis lainnya dan kerajinan

1. Kapal dan kerajinan medis selain yang dimaksud dalam Pasal 22 Protokol ini dan Pasal 38 Konvensi Kedua,
apakah di laut atau di perairan lainnya, dihormati dan dilindungi dengan cara yang sama sebagai unit medis bergerak
di bawah Konvensi dan Protokol ini . Karena perlindungan ini hanya dapat efektif jika dapat diidentifikasi dan diakui
sebagai kapal medis atau kerajinan, kapal tersebut harus ditandai dengan lambang khas dan sejauh mungkin sesuai
dengan paragraf kedua Pasal 43 Konvensi Kedua.

2. Kapal-kapal dan kerajinan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 akan tetap tunduk pada hukum perang. Setiap
kapal perang di permukaan segera mampu menegakkan perintah dapat memerintahkan mereka untuk berhenti, agar
mereka, atau membuat mereka mengambil mata kuliah tertentu, dan mereka akan mematuhi setiap perintah
tersebut. Seperti kapal dan kerajinan mungkin tidak dengan cara lain dialihkan dari misi medis mereka selama
mereka diperlukan untuk terluka, sakit dan terdampar di atas kapal.

3. Perlindungan yang diberikan dalam ayat 1 akan berhenti hanya di bawah kondisi yang ditetapkan dalam Pasal 34
dan 35 dari Konvensi Kedua. Penolakan yang jelas untuk menaati perintah yang diberikan sesuai dengan ketentuan
ayat 2 akan menjadi suatu tindakan berbahaya bagi musuh dalam Pasal 34 Konvensi Kedua.

4. Suatu Pihak dapat memberitahukan konflik yang merugikan Partai di muka sejauh mungkin berlayar dari nama,
keterangan, diharapkan waktu berlayar, arah dan kecepatan diperkirakan kapal medis atau kerajinan, terutama
dalam kasus kapal lebih dari 2.000 bruto ton, serta dapat memberikan informasi lain yang akan memfasilitasi
identifikasi dan pengakuan. Merugikan Pihak harus mengakui menerima informasi tersebut.

5. Ketentuan Pasal 37 Konvensi Kedua akan berlaku untuk personil medis dan agama dalam kapal tersebut dan
kerajinan.

6. Ketentuan-ketentuan dalam Konvensi Kedua akan berlaku untuk yang terluka, sakit dan terdampar kategori milik
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 Konvensi Kedua dan dalam Pasal 44 dari Protokol ini yang mungkin di atas
kapal seperti kapal medis dan kerajinan.Terluka, sakit dan terdampar warga sipil yang tidak termasuk kategori
manapun atau disebutkan dalam Pasal 13 Konvensi Kedua tidak tunduk, di laut, baik untuk menyerah kepada Partai
apapun yang tidak mereka sendiri, atau penghapusan dari kapal tersebut atau kerajinan; jika mereka menemukan
diri mereka dalam kekuatan Partai dalam konflik selain mereka sendiri, mereka akan dilindungi oleh Konvensi
Keempat dan Protokol ini.

Pasal 24. Perlindungan Pesawat medis

Pesawat medis harus dihormati dan dilindungi, tunduk pada ketentuan-ketentuan dalam Bagian ini.

Pasal 25. Medis pesawat di daerah yang tidak dikontrol oleh Partai yang merugikan

17
Dalam dan atas tanah secara fisik daerah-daerah yang dikuasai oleh kekuatan yang ramah, atau di wilayah laut dan
lebih dari secara fisik tidak dikontrol oleh Partai yang merugikan, penghargaan dan perlindungan terhadap pesawat
medis Partai dalam konflik tidak tergantung pada kesepakatan apapun dengan Partai merugikan. Untuk keamanan
yang lebih besar, bagaimanapun, Partai konflik mengoperasikan pesawat medis di daerah-daerah ini dapat
memberitahu Partai merugikan, seperti yang diberikan dalam Pasal 29, khususnya ketika sedang membuat pesawat
seperti penerbangan membawa mereka dalam jangkauan permukaan-ke-udara sistem senjata Partai yang
merugikan.

Pasal 26. Kedokteran pesawat dalam kontak atau zona serupa

1. Dalam dan lebih dari bagian-bagian zona kontak yang secara fisik dikuasai oleh pasukan ramah dan di daerah-
daerah tersebut dan lebih dari kontrol fisik yang tidak secara jelas dibuat, perlindungan bagi pesawat medis dapat
sepenuhnya efektif hanya dengan kesepakatan sebelumnya antara otoritas militer yang kompeten Para Pihak ke
konflik, sebagaimana diatur dalam Pasal 29. Meskipun, dalam tidak adanya kesepakatan, pesawat medis beroperasi
pada risiko mereka sendiri, mereka akan tetap dihormati setelah mereka telah diakui sebagai demikian.

2. "Hubungi zona" berarti setiap daerah di tanah tempat unsur-unsur maju pasukan menentang kontak dengan satu
sama lain, terutama di mana mereka terkena tembakan langsung dari tanah.

Pasal 27. Kedokteran pesawat di daerah-daerah dikuasai oleh Partai yang merugikan

1. Pesawat medis Partai dalam konflik akan tetap harus dilindungi saat berada di atas tanah atau wilayah laut secara
fisik dikontrol oleh Partai yang merugikan, dengan ketentuan bahwa perjanjian sebelum penerbangan seperti itu
telah diperoleh dari pejabat yang berwenang dari Partai buruk.

2. Sebuah pesawat medis yang terbang di atas wilayah secara fisik dikuasai oleh Partai tanpa merugikan, atau
dalam penyimpangan dari syarat-syarat, sebuah perjanjian yang ditentukan dalam ayat 1, baik melalui navigasi yang
error atau karena keadaan darurat yang mempengaruhi keselamatan penerbangan, akan membuat setiap usaha
untuk mengidentifikasi dirinya sendiri dan untuk menginformasikan kepada Partai merugikan keadaan. Begitu
pesawat medis tersebut telah diakui oleh Partai merugikan, Partai yang akan membuat semua upaya yang wajar
untuk memberi perintah untuk tanah atau untuk turun di atas air, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, ayat 1,
atau untuk mengambil langkah-langkah lain untuk melindungi para kepentingan sendiri, dan, dalam kedua kasus,
agar pesawat waktu untuk kepatuhan, sebelum beralih ke serangan terhadap pesawat.

Pasal 28. Pembatasan operasi pesawat medis

1. Para Pihak ke konflik dilarang menggunakan pesawat medis mereka mencoba untuk mendapatkan keuntungan
militer apapun atas Partai yang merugikan. Kehadiran pesawat medis tidak akan digunakan dalam usaha untuk
membuat tujuan militer kebal dari serangan.

2. Pesawat medis tidak akan digunakan untuk mengumpulkan atau mengirimkan data intelijen dan tidak membawa
peralatan apapun yang ditujukan untuk tujuan tersebut. Mereka dilarang membawa setiap orang atau barang yang
tidak termasuk dalam definisi dalam Pasal 8 (6).Yang membawa kapal dari pengaruh pribadi penghuni atau
peralatan dimaksudkan semata-mata untuk memudahkan navigasi, komunikasi atau identifikasi tidak akan dianggap
sebagai dilarang,

3. Pesawat medis tidak akan membawa senjata apapun kecuali senjata ringan dan amunisi yang diambil dari yang
terluka, sakit dan terdampar di atas kapal dan belum diserahkan kepada layanan yang tepat, dan cahaya seperti
senjata individu yang diperlukan untuk memungkinkan petugas medis di atas kapal untuk membela diri dan yang
terluka, sakit dan terdampar di tugas mereka.

4. Sementara melaksanakan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 dan 27, pesawat medis tidak
boleh, kecuali dengan persetujuan sebelumnya dengan Partai merugikan, dapat digunakan untuk mencari orang
yang terluka, sakit dan terdampar.

Pasal 29. Pemberitahuan dan perjanjian mengenai pesawat medis

1. Pemberitahuan berdasarkan Pasal 25, atau permintaan untuk persetujuan sebelumnya dalam Pasal 26, 27, 28,
ayat 4, atau 31 negara yang diusulkan akan jumlah pesawat medis, rencana penerbangan mereka dan sarana
identifikasi, dan harus dipahami berarti bahwa setiap penerbangan akan dilaksanakan sesuai dengan Pasal 28.

2. Sebuah Partai yang menerima pemberitahuan yang diberikan di bawah Pasal 25 wajib mengakui sekaligus
menerima pemberitahuan tersebut. 3. Sebuah Pihak yang menerima permintaan persetujuan sebelumnya dalam
Pasal 25, 27, 28, ayat 4, atau 31 akan, secepat mungkin, memberitahu meminta Partai:
(a) bahwa permintaan setuju untuk;
(b) bahwa permintaan ditolak; atau
(c) usulan alternatif yang masuk akal untuk permintaan tersebut. Mungkin juga mengusulkan larangan atau
pembatasan penerbangan lain di daerah selama waktu yang terlibat. Jika Pihak yang mengajukan permintaan
menerima usulan alternatif, itu wajib memberitahukan Pihak lainnya penerimaan tersebut.

18
4. Para Pihak akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa pemberitahuan dan
kesepakatan dapat dibuat dengan cepat.

5. Para Pihak juga harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menyebarluaskan cepat substansi dari
setiap pemberitahuan dan kesepakatan unit militer yang bersangkutan dan akan menginstruksikan unit-unit
mengenai sarana identifikasi yang akan digunakan oleh pesawat medis yang bersangkutan.

Pasal 30. Pendaratan dan inspeksi pesawat medis

1. Medis pesawat terbang di atas wilayah yang secara fisik dikuasai oleh Partai yang merugikan, atau lebih daerah
kontrol fisik yang tidak secara jelas dibuat, dapat diperintahkan untuk tanah atau untuk turun di atas air,
sebagaimana mestinya, untuk mengizinkan inspeksi sesuai dengan paragraf berikut . Medis pesawat akan mematuhi
perintah tersebut.

2. Jika seperti pesawat terbang atau alights tanah air, apakah memerintahkan untuk melakukannya atau karena
alasan lain, mungkin akan dikenakan untuk inspeksi semata-mata untuk menentukan hal-hal sebagaimana dimaksud
dalam ayat 3 dan 4. Inspeksi tersebut akan dimulai tanpa penundaan dan akan dilakukan segera. Partai yang
memeriksa tidak memerlukan orang yang terluka dan sakit untuk dihapus dari pesawat kecuali penghapusan mereka
sangat penting untuk inspeksi. Partai yang akan di setiap peristiwa memastikan bahwa kondisi yang terluka dan sakit
tidak terpengaruh oleh inspeksi atau oleh penghapusan.

3. Jika pemeriksaan mengungkapkan bahwa pesawat:


(a) adalah pesawat medis dimaksud dalam Pasal 8, ayat-ayat j),
(b) tidak melanggar syarat-syarat yang ditetapkan dalam Pasal 28, dan
(c) tidak terbang tanpa atau melanggar kesepakatan sebelumnya dimana kesepakatan tersebut diperlukan,

pesawat dan para penumpang yang berasal dari Partai buruk atau netral atau tidak Negara lain Partai dalam konflik
berwenang untuk melanjutkan penerbangan tanpa penundaan.

4. Jika pemeriksaan mengungkapkan bahwa pesawat:


(a) tidak pesawat medis dimaksud dalam Pasal 8, ayat-ayat j),
(b) adalah pelanggaran atau kondisi yang ditentukan dalam Pasal 28, atau
(c) telah terbang tanpa atau melanggar kesepakatan sebelumnya dimana kesepakatan tersebut diperlukan,

pesawat dapat disita. Penghuninya akan diperlakukan sesuai dengan ketentuan yang relevan dari Konvensi dan
Protokol ini. Setiap pesawat yang telah merebut ditugaskan sebagai pesawat medis tetap dapat digunakan setelah
itu hanya sebagai pesawat medis.

Pasal 31. Netral atau tidak Negara lain Pihak konflik

1. Kecuali dengan persetujuan sebelumnya, medis tidak akan pesawat terbang di atas atau tanah di wilayah lain
yang netral atau tidak Negara Pihak konflik. Namun, dengan perjanjian, mereka akan dihormati sepanjang
penerbangan mereka dan juga untuk durasi panggilan apa pun di wilayah itu. Meskipun demikian mereka akan
mematuhi semua panggilan ke tanah atau untuk turun di atas air, sebagaimana mestinya.

2. Haruskah pesawat medis, dengan tidak adanya perjanjian atau dalam penyimpangan dari syarat-syarat perjanjian,
terbang di atas wilayah lain yang netral atau tidak Negara Pihak pada konflik, baik melalui navigasi yang error atau
karena keadaan darurat yang mempengaruhi keselamatan penerbangan, itu akan membuat setiap usaha untuk
memberikan pemberitahuan dari penerbangan dan untuk mengidentifikasi itu sendiri. Begitu pesawat medis seperti
diakui, bahwa Negara akan membuat semua upaya yang wajar untuk memberi perintah untuk tanah atau untuk turun
di atas air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, ayat 1, atau untuk mengambil langkah-langkah lain untuk
melindungi kepentingannya sendiri, dan, dalam kedua kasus tersebut, untuk mengizinkan pesawat waktu untuk
kepatuhan, sebelum beralih ke serangan terhadap pesawat.

3. Jika pesawat medis, baik dengan persetujuan atau dalam keadaan yang disebutkan dalam ayat 2, tanah atau
alights di atas air di wilayah lain yang netral atau tidak Negara Pihak pada konflik, apakah memerintahkan untuk
melakukannya atau karena alasan lain, pesawat akandikenakan inspeksi untuk tujuan menentukan apakah itu
sebenarnya pesawat medis. Inspeksi akan dimulai tanpa penundaan dan akan dilakukan segera. Partai yang
memeriksa tidak memerlukan orang yang terluka dan sakit dari Partai mengoperasikan pesawat untuk dihapus dari
itu kecuali penghapusan mereka sangat penting untuk inspeksi. Para Pihak harus memeriksa di setiap peristiwa
memastikan bahwa kondisi yang terluka dan sakit tidak terpengaruh oleh inspeksi atau penghapusan. Jika
pemeriksaan mengungkapkan bahwa pesawat sebenarnya pesawat medis, pesawat dengan penumpang, selain
orang-orang yang harus ditahan sesuai dengan aturan-aturan hukum internasional yang berlaku dalam konflik
bersenjata, akan diizinkan untuk melanjutkan penerbangannya, dan masuk akal fasilitas akan diberikan untuk
kelanjutan dari penerbangan. Jika pemeriksaan mengungkapkan bahwa pesawat ini bukan pesawat medis, maka
akan ditangkap dan para penumpang diperlakukan sesuai dengan ayat 4.

4. Yang terluka, sakit dan terdampar turun, selain untuk sementara, dari pesawat medis dengan persetujuan dari
otoritas setempat di wilayah netral atau tidak Negara lain Partai dalam konflik harus, kecuali jika diperjanjikan lain
antara Negara dan Para Pihak untuk konflik, ditahan oleh Negara di mana begitu diperlukan oleh aturan-aturan
hukum internasional yang berlaku dalam konflik bersenjata, sedemikian rupa sehingga mereka tidak bisa lagi
mengambil bagian dalam permusuhan. Biaya perawatan rumah sakit dan interniran akan ditanggung oleh Negara
yang menjadi milik orang-orang.

19
5. Netral atau tidak Negara lain Pihak konflik akan berlaku syarat apapun dan pembatasan perjalanan pesawat
medis di atas, atau pendaratan pesawat medis, wilayah mereka sama-sama untuk semua negara untuk konflik.

Bagian III Orang Hilang dan Mati

Pasal 32. Prinsip umum

Dalam penerapan Bagian ini, kegiatan Pihak Tinggi, dari Pihak konflik dan organisasi-organisasi kemanusiaan
internasional yang disebutkan dalam Konvensi dan Protokol ini akan diminta terutama oleh hak keluarga untuk
mengetahui nasib mereka kerabat.

Pasal 33. Hilang

1. Begitu keadaan memungkinkan, dan selambat-lambatnya akhir dari permusuhan aktif, masing-masing Pihak
konflik akan mencari orang-orang yang telah dilaporkan hilang oleh Partai yang merugikan. Partai yang merugikan
seperti itu akan mengirimkan semua informasi yang relevan mengenai orang-orang tersebut dalam rangka untuk
memfasilitasi pencarian tersebut.

2. Dalam rangka memfasilitasi pengumpulan informasi sesuai dengan paragraf sebelumnya, masing-masing Pihak
akan konflik, dengan rasa hormat kepada orang-orang yang tidak mau menerima lebih menguntungkan
pertimbangan di bawah Konvensi dan Protokol ini:
(a) merekam informasi yang dimaksud dalam Pasal 138 dari Konvensi Keempat sehubungan dengan orang-orang
seperti yang telah ditahan, dipenjarakan atau dimiliki di penangkaran selama lebih dari dua minggu sebagai akibat
dari permusuhan atau pekerjaan, atau yang telah meninggal selama setiap periode penahanan;
(b) untuk sepenuhnya mungkin, memfasilitasi dan, jika perlu, melakukan pencarian dan pencatatan informasi
mengenai orang-orang tersebut jika mereka telah meninggal dalam keadaan lain sebagai akibat dari permusuhan
atau pekerjaan.

3. Informasi mengenai orang-orang yang dilaporkan hilang sesuai dengan ayat 1 dan permintaan untuk informasi
semacam itu akan dikirimkan baik secara langsung atau melalui Melindungi Power atau Tracing Pusat Badan Komite
Internasional Palang Merah atau nasional Palang Merah (Red Crescent, Red Lion dan Sun) masyarakat. Dimana
informasi ini tidak menular melalui Komite Internasional Palang Merah dan Badan Tracing Tengah, masing-masing
Pihak pada konflik harus memastikan bahwa informasi tersebut juga diberikan kepada Central Tracing Agency.

4. Para Pihak ke konflik akan berusaha untuk menyetujui pengaturan untuk tim untuk mencari, mengidentifikasi dan
memulihkan yang mati dari daerah medan tempur, termasuk pengaturan, jika sesuai, karena tim tersebut harus
diiringi dengan personil dari Partai merugikan selagi melakukan misi ini di kawasan yang dikendalikan oleh Partai
merugikan. Personil tim tersebut harus dihormati dan dilindungi sementara secara eksklusif melaksanakan tugas ini.

Pasal 34. Sisa almarhum

1. Sisa-sisa dari orang-orang yang telah mati karena alasan-alasan yang berhubungan dengan pekerjaan atau dalam
tahanan yang dihasilkan dari pekerjaan atau permusuhan dan mereka atau orang-orang bukan warga negara dari
negara di mana mereka telah meninggal sebagai akibat dari permusuhan harus dihormati, dan kuburan semua
orang-orang seperti harus dihormati, dipelihara dan diberi tanda sebagaimana diatur dalam Pasal 130 dari Konvensi
Keempat, di mana tetap atau kuburan mereka tidak akan mendapat pertimbangan lebih menguntungkan di bawah
Konvensi dan Protokol ini.

2. Segera setelah keadaan dan hubungan antara Pihak yang merugikan izin, Pihak Tinggi di wilayah yang kuburan
dan, sebagai kasus mungkin, lokasi lain dari sisa-sisa orang-orang yang telah meninggal sebagai akibat dari
permusuhan atau selama pekerjaan atau dalam tahananterletak, akan menyimpulkan perjanjian dalam rangka:
(a) untuk memfasilitasi akses ke kuburan oleh keluarga almarhum dan oleh wakil-wakil dari kuburan resmi layanan
registrasi dan untuk mengatur pengaturan praktis untuk akses tersebut;
(b) untuk melindungi dan memelihara kuburan tersebut secara permanen;
(c) untuk memfasilitasi kembalinya sisa-sisa almarhum pribadi dan efek ke negara asal atas permintaannya atau,
kecuali jika negara itu objek, atas permintaan keluarga terdekat berikutnya.

3. Tanpa adanya perjanjian yang ditentukan dalam ayat 2 (b) atau (c) dan jika negeri atau meninggal seperti itu tidak
bersedia untuk mengatur di dalam pengeluaran untuk pemeliharaan kuburan tersebut, Kontraktor Tinggi Partai di
wilayah yang di kuburan terletak mungkin menawarkan untuk memfasilitasi kembalinya sisa-sisa almarhum ke
negara asal. Di mana tawaran semacam ini belum menerima Persetujuan Tinggi Partai dapat, setelah berakhirnya
lima tahun dari tanggal penawaran dan atas akibat pemberitahuan kepada negara asal, mengadopsi aturan yang
ditetapkan dalam hukum-hukumnya sendiri yang berkaitan dengan makam dan kuburan.

4. Kontraktor Tinggi Partai di wilayah yang situs kuburan dimaksud dalam Pasal ini terletak akan diizinkan untuk
menggali yang tertinggal hanyalah:
(a) sesuai dengan paragraf 2 (c) dan 3, atau
(b) di mana penggalian adalah masalah atau meng-override kebutuhan publik, termasuk kasus penyelidikan medis
dan kebutuhan, dalam hal ini Partai Kontraktor Tinggi setiap saat tetap menghormati, dan akan memberikan
pemberitahuan kepada negara asal atau niatnya untuk menggali tetap bersama-sama dengan rincian dari tempat
yang dimaksud reinterment.

20
Bagian III. Metode dan Means of Warfare kombatan dan tahanan-Of-War

Bagian I. Methods and Means of Warfare

Pasal 35. Aturan dasar

1. Dalam setiap konflik bersenjata, hak Para Pihak ke konflik untuk memilih metode atau cara perang tidak terbatas.

2. Dilarang menggunakan senjata, proyektil dan bahan dan metode peperangan dari alam yang menyebabkan luka
berlebihan atau penderitaan yang tidak semestinya.

3. Dilarang untuk menggunakan metode atau alat peperangan yang dimaksudkan, atau dapat diharapkan,
menyebabkan luas, jangka panjang dan kerusakan parah pada lingkungan alam.

Pasal 36. Senjata baru

Dalam penelitian, pengembangan, akuisisi atau adopsi dari senjata baru, berarti atau metode peperangan,
Kontraktor Tinggi Partai berada di bawah kewajiban untuk menentukan apakah pekerjaan yang akan, dalam
beberapa atau semua keadaan, dilarang oleh Protokol ini atau dengan lainnya aturan hukum internasional yang
berlaku bagi Kontraktor Tinggi Partai.

Pasal 37. Larangan kedurhakaan

1. Dilarang untuk membunuh, melukai atau menangkap musuh oleh resor untuk kedurhakaan.Kisah mengundang
kepercayaan dari musuh untuk menuntun dia percaya bahwa dia berhak, atau wajib sesuai, perlindungan dibawah
aturan hukum internasional yang berlaku dalam konflik bersenjata, dengan maksud untuk mengkhianati yang
percaya diri, akan merupakan pengkhianatan. Tindakan berikut adalah contoh-contoh pengkhianatan:
(a) pura-pura dari sebuah niat untuk bernegosiasi di bawah bendera gencatan senjata atau dari penyerahan;
(b) pura-pura dari sebuah incapacitation oleh luka atau penyakit;
(c) pura-pura sipil, status non-kombatan dan
(d) pura-pura status yang dilindungi, penggunaan tanda-tanda, lambang atau seragam Perserikatan Bangsa-Bangsa
atau netral atau tidak Negara lain Pihak konflik.

2. Tipu muslihat perang yang tidak dilarang. Seperti tipu muslihat adalah tindakan yang dimaksudkan untuk
menyesatkan musuh atau untuk membujuk dia untuk bertindak serampangan, tetapi yang tidak melanggar aturan
hukum internasional yang berlaku dalam konflik bersenjata dan yang tidak berkhianat karena mereka tidak
mengundang kepercayaan dari musuh yang berkaitan dengan perlindungan di bawah hukum. Berikut ini adalah
contoh-contoh tipu muslihat seperti: penggunaan kamuflase, umpan, mengejek operasi dan informasi yang salah.

Pasal 38. Diakui emblem

1. Dilarang untuk melakukan penyalahgunaan yang khas lambang palang merah, bulan sabit merah atau singa dan
matahari merah atau emblem lain, tanda-tanda atau sinyal yang diatur oleh Konvensi atau Protokol ini. Hal ini juga
dilarang untuk menyalahgunakan sengaja dalam konflik bersenjata yang diakui secara internasional lainnya emblem
pelindung, tanda-tanda atau sinyal, termasuk bendera gencatan senjata, dan lambang perlindungan properti
budaya.

2. Dilarang menggunakan lambang khas Perserikatan Bangsa-Bangsa, kecuali sebagaimana diizinkan oleh
Organisasi itu.

Pasal 39. Lambang kebangsaan

1. Dilarang untuk memanfaatkan dalam konflik bersenjata bendera atau lambang militer, lencana atau seragam
netral atau tidak Negara lain Pihak konflik.

2. Dilarang menggunakan bendera atau lambang militer, lencana atau seragam yang merugikan Pihak sementara
terlibat dalam serangan atau dalam rangka untuk melindungi, mendukung, melindungi atau menghalangi operasi
militer.

3. Tidak ada dalam Pasal ini atau dalam Pasal 37, ayat 1 (d), yang akan mempengaruhi diakui secara umum yang
ada aturan-aturan hukum internasional yang berlaku untuk spionase atau penggunaan bendera dalam melakukan
konflik bersenjata di laut.

Pasal 40. Quarter

Dilarang untuk memesan bahwa tidak akan ada yang selamat, untuk mengancam musuh beserta atau untuk
melakukan permusuhan atas dasar ini.

21
Pasal 41. Menjaga musuh hors de combat

1. Seseorang yang diakui atau yang, dalam situasi ini, harus diakui sebagai hors de combat tidak boleh membuat
objek serangan.

2. Seseorang yang hors de combat jika:


(a) ia berada dalam kekuatan yang merugikan Partai;
(b) ia dengan jelas menunjukkan maksud untuk menyerah; atau
(c) ia telah diterjemahkan sadar atau jika tidak lumpuh oleh luka atau sakit, dan karenanya tidak mampu membela
dirinya sendiri;

diberikan bahwa dalam setiap kasus ini ia abstains dari setiap tindakan bermusuhan dan tidak berusaha untuk
melarikan diri.

3. Ketika orang berhak mendapat perlindungan sebagai tawanan perang telah jatuh ke dalam kekuasaan Partai yang
merugikan di bawah kondisi yang tidak biasa yang mencegah mereka memerangi evakuasi sebagaimana diatur
dalam Bagian III, Bagian I, Konvensi Ketiga, mereka akan dibebaskan dan semua tindakan pencegahan yang
layak harus diambil untuk memastikan keselamatan mereka.

Pasal 42 - penumpang pesawat

1. Tidak ada orang terjun payung dari sebuah pesawat dalam kesusahan akan membuat objek serangan selama
keturunan.

2. Setelah mencapai tanah di wilayah yang dikontrol oleh Partai buruk, orang yang telah diterjunkan dari sebuah
pesawat dalam kesulitan akan diberi kesempatan untuk menyerah sebelum membuat objek serangan, kecuali
jelaslah bahwa ia terlibat dalam tindakan yang bermusuhan.

3. Pasukan udara tidak dilindungi oleh Pasal ini.

Bagian II. Kombatan dan para tawanan perang

Pasal 43. Angkatan

1. Angkatan bersenjata dari sebuah Partai untuk konflik terdiri dari semua angkatan bersenjata terorganisir,
kelompok dan unit yang berada di bawah perintah yang bertanggung jawab kepada Partai untuk melakukan atau
bawahan, bahkan jika Partai ini diwakili oleh pemerintah atau otoritas yang tidak diakui oleh Partai yang
merugikan. Seperti angkatan bersenjata harus tunduk pada sistem disipliner internal yang, antara lain, akan
melaksanakan sesuai dengan aturan-aturan hukum internasional yang berlaku dalam konflik bersenjata.

2. Anggota angkatan bersenjata dari Partai ke konflik (selain personil medis dan ulama yang dicakup oleh Pasal 33
Konvensi Ketiga) adalah pejuang, yang adalah mengatakan, mereka memiliki hak untuk berpartisipasi secara
langsung dalam permusuhan.

3. Setiap kali sebuah Partai untuk menggabungkan konflik bersenjata paramiliter atau badan penegakan hukum ke
dalam angkatan bersenjata itu akan jadi memberitahukan Pihak lain konflik.

Pasal 44. Kombatan dan tahanan perang

1. Setiap kombatan, sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 43, yang jatuh ke dalam kekuasaan Partai yang
merugikan akan menjadi tawanan perang.

2. Sementara para pejuang diwajibkan untuk mematuhi aturan-aturan hukum internasional yang berlaku dalam
konflik bersenjata, pelanggaran peraturan-peraturan ini tidak akan melucuti pejuang haknya untuk menjadi seorang
pejuang atau, jika ia jatuh ke dalam kekuasaan Partai yang merugikan, dari kanan untuk menjadi tawanan perang,
kecuali sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 dan 4.

3. Dalam rangka untuk mempromosikan perlindungan penduduk sipil dari dampak permusuhan, kombatan
berkewajiban untuk membedakan diri dari penduduk sipil, sementara mereka terlibat dalam serangan atau dalam
operasi militer persiapan untuk sebuah serangan. Menyadari, bagaimanapun, bahwa ada situasi-situasi konflik
bersenjata di mana, karena sifat permusuhan kombatan bersenjata tidak dapat membedakan dirinya, ia akan
mempertahankan statusnya sebagai seorang pejuang, dengan ketentuan bahwa, dalam situasi seperti itu, ia
membawa kedua lengannya secara terbuka:

(a) selama keterlibatan militer masing-masing, dan


(b) selama waktu tersebut karena ia terlihat oleh musuh, sementara ia terlibat dalam penggelaran militer sebelum
peluncuran serangan di mana ia adalah untuk berpartisipasi.

Kisah yang memenuhi persyaratan ayat ini tidak akan dianggap sebagai berkhianat dimaksud dalam Pasal 37, ayat 1
(c).

22
4. Seorang pejuang yang jatuh ke dalam kekuasaan Partai yang merugikan karena gagal memenuhi persyaratan
yang ditetapkan dalam kalimat kedua dari ayat 3 akan kehilangan haknya untuk menjadi tawanan perang, tetapi dia
akan, bagaimanapun, perlindungan diberikan setara dalam segala hal kepada mereka yang diberikan kepada para
tahanan perang oleh Konvensi Ketiga dan Protokol ini. Perlindungan ini meliputi perlindungan setara dengan yang
diberikan kepada para tahanan perang oleh Konvensi Ketiga dalam kasus di mana orang semacam itu diadili dan
dihukum untuk setiap pelanggaran yang telah dilakukannya.

5. Setiap pejuang yang jatuh ke dalam kekuasaan Partai yang merugikan ketika tidak terlibat dalam serangan atau
dalam persiapan untuk operasi militer serangan tidak akan kehilangan haknya untuk menjadi seorang pejuang dan
seorang tawanan perang berdasarkan dari kegiatan-kegiatan sebelumnya.

6. Pasal ini adalah tanpa prasangka terhadap hak setiap orang untuk menjadi tawanan perang sesuai dengan Pasal
4 Konvensi Ketiga.

7. Pasal ini tidak dimaksudkan untuk mengubah praktek yang diterima secara umum Serikat sehubungan dengan
pemakaian seragam ditugaskan oleh pejuang biasa, unit bersenjata berseragam Partai konflik.

8. Selain kategori-kategori orang-orang yang disebutkan dalam Pasal 13 Konvensi Pertama dan Kedua, semua
anggota angkatan bersenjata dari Partai konflik, sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 43 dari Protokol ini, akan
berhak mendapat perlindungan di bawah Konvensi tersebut jika mereka terluka atau sakit, atau, dalam kasus
Konvensi Kedua, terdampar di laut atau di perairan lainnya.

Pasal 45. Perlindungan orang-orang yang telah mengambil bagian dalam permusuhan

1. Seseorang yang mengambil bagian dalam permusuhan dan jatuh ke dalam kekuasaan Partai yang merugikan
akan dianggap menjadi tawanan perang, dan karena itu harus dilindungi oleh Konvensi Ketiga, jika ia mengklaim
status tawanan perang, atau jika ia muncul berhak untuk status seperti itu, atau jika Partai yang ia klaim tergantung
status tersebut atas namanya dengan pemberitahuan kepada penahanan Power atau ke Melindungi Power. Jika ada
keraguan timbul, apakah orang tersebut berhak mendapat status tawanan perang, ia akan terus memiliki status dan,
karenanya, harus dilindungi oleh Konvensi Ketiga dan Protokol ini sampai saat statusnya telah ditentukan oleh
pengadilan yang kompeten.

2. Jika seseorang yang telah jatuh ke dalam kekuasaan Partai yang merugikan tidak ditahan sebagai tawanan
perang dan harus diadili oleh Partai bahwa untuk suatu pelanggaran yang timbul dari permusuhan, ia berhak untuk
menegaskan hak untuk tahanan - status perang sebelum judicial pengadilan dan memiliki pertanyaan itu
diputuskan. Bila mungkin di bawah prosedur yang berlaku, ajudikasi ini akan terjadi sebelum sidang untuk
pelanggaran. Para wakil dari Power Melindungi berhak untuk menghadiri persidangan di mana pertanyaan itu adalah
diputuskan, kecuali, luar biasa, dalam persidangan yang diadakan di kamera untuk kepentingan keamanan
Negara. Dalam kasus seperti itu menahan Power akan menasihati Power Melindungi sesuai.

3. Setiap orang yang telah mengambil bagian dalam permusuhan, yang tidak berhak tawanan perang status dan
siapa yang tidak mendapatkan manfaat dari perawatan yang lebih menguntungkan sesuai dengan Konvensi
Keempat berhak setiap saat untuk memperoleh perlindungan atas Pasal 75 ini protokol. Dalam wilayah yang
diduduki, orang semacam itu, kecuali dia adalah diselenggarakan sebagai mata-mata, juga harus berhak, meskipun
Pasal 5 dari Konvensi Keempat, hak-hak kepada komunikasi di bawah Konvensi.

Pasal 46. Spies

1. Menyimpang dari ketentuan lainnya dari Konvensi atau Protokol ini, setiap anggota angkatan bersenjata dari
Partai dalam konflik yang jatuh ke dalam kekuasaan Partai yang merugikan ketika terlibat dalam spionase tidak
memiliki hak untuk status tawanan perang dan dapat diperlakukan sebagai mata-mata.

2. Seorang anggota angkatan bersenjata dari sebuah Partai untuk konflik yang, atas nama Partai itu dan di wilayah
yang dikontrol oleh Partai merugikan, mengumpulkan atau usaha-usaha untuk mengumpulkan informasi tidak akan
dianggap sebagai terlibat dalam spionase jika, sementara sehingga bertindak, dia adalah seragam dari angkatan
bersenjata.

3. Seorang anggota angkatan bersenjata dari Partai dalam konflik yang adalah penduduk wilayah yang diduduki oleh
Partai dan yang merugikan, atas nama Partai yang ia bergantung, mengumpulkan atau usaha-usaha untuk
mengumpulkan informasi dari nilai militer dalam wilayah yang tidak dianggap sebagai terlibat dalam spionase kecuali
ia melakukan itu melalui suatu tindakan atau sengaja pretences palsu dalam cara klandestin. Selain itu, seperti
penduduk tidak akan kehilangan haknya atas status tawanan perang dan tidak dapat diperlakukan sebagai mata-
mata, kecuali jika ia ditangkap saat terlibat dalam spionase.

4. Seorang anggota angkatan bersenjata dari sebuah Partai untuk konflik yang bukan penduduk wilayah yang
diduduki oleh Partai yang merugikan dan yang telah terlibat dalam spionase di wilayah itu tidak akan kehilangan
haknya atas status tawanan perang dan tidak boleh diperlakukan sebagai mata-mata, kecuali jika ia ditangkap
sebelum ia bergabung dengan angkatan bersenjata di mana ia berada.

Pasal 47. Mercenaries

1. Seorang tentara bayaran tidak memiliki hak untuk menjadi seorang pejuang atau seorang tawanan perang.

23
2. Seorang tentara bayaran adalah setiap orang yang:

(a) secara khusus direkrut secara lokal atau luar negeri untuk bertarung dalam konflik bersenjata;
(b) tidak, pada kenyataannya, ambil bagian langsung dalam permusuhan;
(c) termotivasi untuk ambil bagian dalam permusuhan dasarnya oleh keinginan untuk kepentingan pribadi dan, pada
kenyataannya, dijanjikan, oleh atau atas nama Pihak konflik, kompensasi materi secara substansial lebih dari yang
dijanjikan atau dibayarkan kepada para pejuang yang sama pangkat dan fungsi dalam angkatan bersenjata dari
Partai;
(d) bukanlah sebuah Partai nasional dalam konflik maupun penduduk wilayah dikuasai oleh Partai dalam konflik;
(e) bukan anggota angkatan bersenjata dari Partai konflik; dan
(f) belum dikirim oleh suatu Negara yang bukan Pihak pada konflik pada tugas resmi sebagai anggota dari angkatan
bersenjata.

Bagian IV. Penduduk sipil

Bagian I. Jenderal Perlindungan terhadap Efek dari Permusuhan

Bab I. Aturan dasar dan aplikasi bidang

Pasal 48. Aturan dasar

Dalam rangka untuk memastikan menghormati dan perlindungan terhadap penduduk sipil dan objek sipil, Para Pihak
ke konflik setiap saat membedakan antara penduduk sipil dan kombatan dan antara objek sipil dan militer sesuai
dengan tujuan dan operasi mereka akan langsung hanya terhadap tujuan militer.

Pasal 49. Definisi serangan dan ruang lingkup aplikasi

1. "Serangan" berarti tindakan kekerasan terhadap musuh, baik dalam pelanggaran atau dalam pertahanan.

2. Ketentuan-ketentuan dalam Protokol ini sehubungan dengan serangan berlaku untuk semua serangan di wilayah
apa pun yang dilakukan, termasuk wilayah nasional milik Partai dalam konflik tetapi di bawah kontrol Partai yang
merugikan.

3. Ketentuan bagian ini berlaku untuk setiap tanah, udara atau laut perang yang mungkin mempengaruhi penduduk
sipil, orang sipil atau objek sipil di darat. Mereka lebih berlaku untuk semua serangan dari laut atau dari udara
terhadap sasaran di darat tetapi tidak sebaliknya mempengaruhi aturan-aturan hukum internasional yang berlaku
dalam konflik bersenjata di laut atau di udara.

4. Ketentuan-ketentuan dalam bagian ini untuk tambahan mengenai ketentuan perlindungan kemanusiaan yang
terkandung dalam Konvensi Keempat, terutama di bagian II daripadanya, dan dalam perjanjian internasional lainnya
mengikat Pihak Tinggi, serta peraturan lain dari hukum internasional yang berkaitan dengan perlindungan warga sipil
dan objek sipil di darat, di laut atau di udara terhadap dampak permusuhan.

Bab II. Sipil dan penduduk sipil

Pasal 50. Definisi penduduk sipil dan penduduk sipil

1. Seorang warga sipil adalah setiap orang yang tidak termasuk salah satu kategori orang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 (A) (1), (2), (3) dan (6) dari Konvensi Ketiga dan dalam Pasal 43 dari Protokol ini . Dalam hal
keraguan apakah seseorang adalah seorang warga sipil, orang itu akan dianggap sebagai sipil.

2. Penduduk sipil terdiri dari semua orang yang adalah warga sipil.

3. Kehadiran penduduk sipil di dalam individu yang tidak datang dalam definisi warga sipil tidak menghilangkan
penduduk sipil dari karakter.

Pasal 51. - Perlindungan dari penduduk sipil

1. Penduduk sipil dan individu sipil harus mendapat perlindungan umum terhadap bahaya yang timbul dari operasi
militer. Untuk memberi efek perlindungan ini, peraturan berikut, yang merupakan tambahan untuk aturan-aturan lain
yang berlaku hukum internasional, harus diamati dalam segala situasi.

2. Penduduk sipil seperti itu, serta individu warga sipil, tidak akan menjadi objek serangan.Tindakan atau ancaman
kekerasan tujuan utama yaitu menyebarkan teror di kalangan penduduk sipil dilarang.

3. Sipil akan menikmati perlindungan yang diberikan oleh bagian ini, kecuali dan untuk waktu seperti saat mereka
mengambil bagian langsung dalam permusuhan.

4. Serangan tanpa pandang bulu dilarang. Serangan tanpa pandang bulu adalah:
(a) orang-orang yang tidak diarahkan pada sasaran militer tertentu;
(b) orang-orang yang menggunakan metode atau sarana pertempuran yang tidak dapat diarahkan pada sasaran
militer tertentu; atau
(c) orang-orang yang menggunakan metode atau cara untuk memerangi efek yang tidak dapat dibatasi seperti yang

24
dipersyaratkan oleh Protokol ini;

dan akibatnya, dalam setiap kasus seperti ini, merupakan suatu alam untuk menyerang sasaran militer dan sipil atau
objek sipil tanpa perbedaan.

5. Antara lain, jenis serangan berikut ini harus dianggap sebagai sembarangan:
(a) serangan pengeboman oleh metode atau cara apapun yang memperlakukan sebagai satu tujuan militer sejumlah
jelas terpisah dan berbeda tujuan militer yang terletak di sebuah kota, kota, desa atau daerah lain yang mengandung
konsentrasi yang sama warga sipil atau objek sipil;

dan

(b) serangan yang dapat diharapkan insidental menyebabkan hilangnya kehidupan sipil, cedera kepada warga sipil,
kerusakan obyek sipil, atau kombinasi dari semuanya, yang akan berlebihan dalam kaitannya dengan beton dan
keuntungan militer langsung diantisipasi.

6. Serangan terhadap penduduk sipil atau warga sipil dengan cara pembalasan yang dilarang.

7. Kehadiran atau pergerakan penduduk sipil atau individu warga sipil tidak akan digunakan untuk membuat poin
atau wilayah tertentu kebal dari operasi militer, khususnya dalam upaya melindungi sasaran militer dari serangan
atau untuk melindungi, mendukung atau menghambat operasi militer. Para Pihak ke konflik tidak akan langsung
gerakan penduduk sipil atau individu warga sipil dalam rangka upaya untuk melindungi sasaran militer dari serangan
atau untuk melindungi operasi militer.

8. Setiap pelanggaran terhadap larangan ini tidak akan melepaskan Pihak konflik dari kewajiban hukum mereka
terhadap penduduk sipil dan warga sipil, termasuk kewajiban untuk mengambil tindakan pencegahan yang diatur
dalam Pasal 57.

Bab III. Objek sipil

Pasal 52. Perlindungan umum objek sipil

1. Objek sipil tidak akan menjadi objek serangan atau pembalasan. Obyek sipil adalah semua objek yang tidak
tujuan militer sebagaimana dimaksud pada ayat 2.

2. Serangan akan dibatasi secara ketat untuk tujuan militer. Sejauh menyangkut objek, sasaran militer terbatas pada
objek-objek yang berdasarkan sifatnya, lokasi, tujuan atau gunakan membuat kontribusi efektif untuk aksi militer dan
yang seluruhnya atau sebagian kerusakan, menangkap atau netralisasi, dalam situasi yang berkuasa pada saat ,
menawarkan keuntungan militer yang pasti.

3. Dalam kasus meragukan apakah sebuah objek yang biasanya ditujukan untuk tujuan sipil, seperti tempat ibadah,
rumah atau hunian lain atau sekolah, yang digunakan untuk membuat kontribusi yang efektif untuk aksi militer, itu
akan dianggap tidak dapat begitu digunakan.

Pasal 53. Perlindungan benda-benda budaya dan tempat ibadah

Tanpa mengurangi ketentuan dari Konvensi Den Haag untuk Perlindungan Properti Budaya dalam Konflik Bersenjata
Acara 14 Mei 1954, dan instrumen internasional lainnya yang relevan, Dilarang:
(a) untuk melakukan segala tindakan permusuhan diarahkan terhadap monumen bersejarah, karya Pasal atau
tempat-tempat ibadah yang merupakan budaya atau warisan rohani bangsa-bangsa;
(b) untuk menggunakan benda-benda tersebut untuk mendukung upaya militer;
(c) untuk membuat objek seperti objek pembalasan.

Pasal 54. Perlindungan benda sangat diperlukan bagi kelangsungan hidup penduduk sipil

1. Kelaparan penduduk sipil sebagai metode perang adalah dilarang.

2. Hal ini dilarang untuk menyerang, merusak, menghapus atau membuat objek tidak berguna sangat diperlukan
bagi kelangsungan hidup penduduk sipil, seperti makanan-barang, daerah-daerah pertanian untuk produksi pangan-
barang, tanaman pangan, peternakan, instalasi air minum dan persediaan dan irigasi , untuk tujuan khusus, mereka
menyangkal nilai rezeki mereka kepada penduduk sipil atau ke Partai merugikan, apa pun motif, baik dalam rangka
untuk kelaparan keluar warga sipil, menyebabkan mereka pindah, atau motif lainnya.

3. Larangan-larangan dalam ayat 2 tidak berlaku untuk benda-benda seperti itu ditutupi oleh sebagai yang digunakan
oleh Partai yang merugikan:
(a) sebagai rezeki semata-mata untuk anggota dari angkatan bersenjata atau
(b) jika tidak sebagai rezeki, maka dukungan langsung aksi militer, disediakan, bagaimanapun, bahwa tidak ada
peristiwa akan tindakan terhadap benda-benda ini akan diambil yang dapat diharapkan untuk meninggalkan
penduduk sipil dengan makanan atau air yang tidak memadai untuk menyebabkan para kelaparan atau memaksa
gerakan.

4. Objek ini tidak akan membuat objek pembalasan.

25
5. Sebagai pengakuan atas persyaratan penting dari setiap Pihak konflik dalam pertahanan wilayah nasional
melawan invasi, penghinaan dari larangan-larangan yang terkandung dalam ayat 2 dapat dilakukan oleh Pihak dari
konflik di dalam wilayah tersebut di bawah kendali sendiri mana yang dipersyaratkan oleh keharusan kebutuhan
militer.

Pasal 55. Perlindungan lingkungan alam

1. Perawatan harus diambil dalam perang untuk melindungi lingkungan alam terhadap luas, jangka panjang dan
kerusakan parah. Perlindungan ini mencakup larangan penggunaan metode atau alat peperangan yang
dimaksudkan atau mungkin diharapkan seperti itu menyebabkan kerusakan pada lingkungan alam dan dengan
demikian merugikan kesehatan atau kelangsungan hidup penduduk.

2. Serangan terhadap lingkungan alam dengan cara pembalasan yang dilarang.

Pasal 56. Perlindungan karya dan instalasi berbahaya yang mengandung kekuatan

1. Bekerja atau instalasi yang berisi kekuatan yang berbahaya, yaitu bendungan, tanggul-tanggul dan stasiun
pembangkit listrik nuklir, tidak akan membuat objek serangan, bahkan di mana objek-objek ini adalah tujuan-tujuan
militer, jika serangan seperti itu dapat menyebabkan pelepasan pasukan berbahaya dan akibatnya kerugian parah di
antara penduduk sipil. Tujuan militer lainnya yang terletak pada atau di sekitar karya-karya ini atau instalasi tidak
akan membuat objek serangan bila serangan tersebut dapat menyebabkan pelepasan kekuatan berbahaya dari
karya-karya atau instalasi dan parah akibat kerugian di kalangan penduduk sipil.

2. Perlindungan khusus terhadap serangan yang diberikan oleh ayat 1 akan berhenti:
(a) untuk sebuah bendungan atau tanggul hanya jika digunakan selain untuk fungsi normal dan teratur, signifikan
dan dukungan langsung operasi militer dan jika serangan tersebut adalah satu-satunya cara yang layak untuk
mengakhiri dukungan seperti itu;
(b) untuk sebuah stasiun pembangkit listrik nuklir hanya jika ia menyediakan tenaga listrik secara teratur, signifikan
dan dukungan langsung operasi militer dan jika serangan tersebut adalah satu-satunya cara yang layak untuk
mengakhiri dukungan seperti itu;
(c) untuk tujuan militer lainnya yang terletak pada atau di sekitar karya-karya ini atau instalasi hanya jika mereka
digunakan secara teratur, signifikan dan dukungan langsung operasi militer dan jika serangan tersebut adalah satu-
satunya cara yang layak untuk mengakhiri dukungan seperti itu.

3. Dalam semua kasus, penduduk sipil dan individu sipil akan tetap berhak atas semua perlindungan yang diberikan
mereka dengan hukum internasional, termasuk perlindungan terhadap tindakan-tindakan pencegahan yang diatur
dalam Pasal 57. Jika perlindungan berhenti dan salah satu karya, instalasi atau tujuan militer dimaksud dalam ayat 1
adalah menyerang, semua tindakan pencegahan yang praktis harus diambil untuk menghindari pelepasan kekuatan
yang berbahaya.

4. Dilarang untuk membuat karya-karya, instalasi atau tujuan militer disebutkan dalam ayat 1 objek pembalasan.

5. Para Pihak ke konflik akan berusaha untuk menghindari lokasi tujuan militer apapun di sekitar karya-karya atau
instalasi dimaksud dalam ayat 1. Namun demikian, instalasi didirikan untuk tujuan tunggal membela karya-karya
yang dilindungi atau instalasi dari serangan yang diperbolehkan dan tidak diri mereka membuat objek serangan,
asalkan tidak digunakan dalam permusuhan kecuali untuk tindakan defensif yang diperlukan untuk merespon
serangan terhadap dilindungi bekerja atau instalasi dan persenjataan mereka terbatas pada senjata hanya mampu
memukul mundur aksi bermusuhan terhadap karya-karya yang dilindungi atau instalasi.

6. Pihak Tinggi dan Pihak konflik didesak untuk menyimpulkan kesepakatan lebih lanjut di antara mereka sendiri
untuk memberikan perlindungan tambahan bagi benda-benda yang mengandung kekuatan-kekuatan berbahaya.

7. Dalam rangka untuk memudahkan identifikasi objek-objek yang dilindungi oleh artikel ini, Para Pihak ke konflik
mungkin menandai mereka dengan tanda khusus yang terdiri dari kelompok tiga lingkaran oranye cerah ditempatkan
pada sumbu yang sama, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dari Annex I untuk Protokol ini [Pasal 17
Amandemen Lampiran].Tidak adanya tanda tersebut sama sekali tidak mengurangi Pihak apapun konflik
kewajibannya berdasarkan Pasal ini.

Bab IV. Tindakan pencegahan

Pasal 57. Pencegahan dalam penyerangan

1. Dalam pelaksanaan operasi militer, perawatan terus-menerus harus diambil untuk menjaga penduduk sipil, warga
sipil dan objek sipil.

2. Sehubungan dengan serangan, tindakan pencegahan berikut harus diambil:


(a) mereka yang merencanakan atau memutuskan atas serangan akan:
(i) melakukan segala sesuatu yang layak untuk memastikan bahwa tujuan yang akan diserang adalah warga sipil
baik sipil maupun benda-benda dan tidak tunduk pada perlindungan khusus tetapi tujuan militer dimaksud dalam
ayat 2 pasal 52 dan bahwa hal itu tidak dilarang oleh ketentuan Protokol ini untuk menyerang mereka;
(ii) mengambil segala tindakan pencegahan layak dalam pemilihan sarana dan metode serangan dengan tujuan
untuk menghindari, dan dalam acara apapun untuk meminimalkan, ringan kehilangan atau kehidupan sipil, cedera
kepada warga sipil dan kerusakan objek sipil;

26
(iii) menahan diri dari memutuskan untuk melancarkan serangan apapun yang dapat diharapkan insidental
menyebabkan hilangnya kehidupan sipil, cedera kepada warga sipil, kerusakan obyek sipil, atau kombinasi dari
semuanya, yang akan berlebihan dalam kaitannya dengan beton dan keuntungan militer langsung diantisipasi ;

(b) suatu serangan akan dibatalkan atau ditangguhkan jika itu menjadi jelas bahwa tujuan militer bukanlah satu atau
tunduk pada perlindungan khusus atau bahwa serangan dapat diharapkan insidental menyebabkan hilangnya
kehidupan sipil, cedera kepada warga sipil, kerusakan sipilobjek, atau kombinasi dari semuanya, yang akan
berlebihan dalam kaitannya dengan beton dan keuntungan militer langsung diantisipasi;

(c) peringatan yang efektif akan diberikan dari serangan yang mungkin mempengaruhi penduduk sipil, kecuali jika
keadaan tidak mengizinkan.

3. Ketika sebuah pilihan mungkin antara beberapa tujuan militer untuk mendapatkan keuntungan militer yang sama,
tujuan yang akan dipilih akan bahwa serangan yang mungkin diharapkan untuk menyebabkan paling bahaya untuk
kehidupan sipil dan objek sipil.

4. Dalam pelaksanaan operasi militer di laut atau di udara, masing-masing Pihak akan konflik, sesuai dengan hak
dan kewajiban di bawah peraturan hukum internasional yang berlaku dalam konflik bersenjata, mengambil semua
tindakan pencegahan untuk menghindari kerugian dari kehidupan sipil dan kerusakan objek sipil.

5. Tidak ada ketentuan pasal ini dapat ditafsirkan sebagai otorisasi setiap serangan terhadap penduduk sipil, sipil
atau objek sipil.

Pasal 58. Pencegahan terhadap serangan efek

Para Pihak konflik harus, semaksimal layak:

(a) tanpa prasangka terhadap Pasal 49 Konvensi Keempat, berusaha untuk menghapus penduduk sipil, individu
warga sipil dan objek sipil di bawah kendali mereka dari sekitar tujuan militer;
(b) menghindari lokasi tujuan militer di dalam atau dekat daerah padat penduduk;
(c) mengambil tindakan pencegahan lain yang diperlukan untuk melindungi penduduk sipil, individu warga sipil dan
objek sipil di bawah kendali mereka terhadap bahaya yang dihasilkan dari operasi militer.

Bab V. Localities dan zona bawah perlindungan khusus

Pasal 59. Non-membela lokalitas

1. Dilarang bagi Pihak konflik untuk menyerang, dengan cara apapun, non-membela daerah.
2. Pihak yang berwenang dari Pihak konflik dapat menyatakan sebagai non-lokalitas dipertahankan dihuni setiap
tempat di dekat atau di wilayah di mana pasukan bersenjata dalam kontak yang terbuka untuk pendudukan oleh
Partai yang merugikan.
Lokalitas semacam itu harus memenuhi syarat-syarat berikut:
(a) semua pejuang, serta senjata mobile dan mobile peralatan militer pasti sudah dievakuasi;
(b) tidak bermusuhan menggunakan akan dibuat tetap instalasi militer atau Pendirian;
(c) tidak ada tindakan permusuhan akan dilakukan oleh pihak yang berwenang atau oleh penduduk; dan
(d) tidak ada kegiatan dalam mendukung operasi militer akan dilakukan.

3. Kehadiran, di wilayah ini, khususnya orang-orang yang dilindungi di bawah Konvensi dan Protokol ini, dan
pasukan polisi disimpan untuk tujuan tunggal menjaga hukum dan ketertiban, tidak bertentangan dengan kondisi
yang ditetapkan dalam ayat 2.

4. Deklarasi yang dibuat berdasarkan ayat 2 harus ditujukan kepada Partai dan yang merugikan akan menentukan
dan menggambarkan, setepat mungkin, batas-batas non-lokalitas dipertahankan. Partai konflik yang ditujukan
deklarasi harus mengakui dengan tanda terima dan akan memperlakukan wilayah sebagai non-lokalitas
dipertahankan kecuali jika kondisi yang ditetapkan dalam ayat 2 sebenarnya tidak terpenuhi, di mana peristiwa itu
akan segera sehingga menginformasikan Partai membuat deklarasi. Bahkan jika kondisi yang ditetapkan dalam ayat
2 tidak dipenuhi, maka lokalitas akan terus menikmati perlindungan yang diberikan oleh yang lain ketentuan Protokol
ini dan peraturan lain yang berlaku hukum internasional dalam konflik bersenjata.

5. Para Pihak ke konflik dapat menyetujui pembentukan non-lokalitas dipertahankan bahkan jika daerah tersebut
tidak memenuhi syarat yang ditetapkan dalam ayat 2. Perjanjian harus mendefinisikan dan menggambarkan, setepat
mungkin, batas-batas non-lokalitas dipertahankan, jika perlu, hal itu mungkin meletakkan metode pengawasan.

6. Partai yang menguasai suatu wilayah yang diatur oleh perjanjian tersebut akan menandainya, sejauh mungkin,
dengan tanda-tanda seperti itu sebagaimana dapat yang telah disepakati dengan Pihak lainnya, yang akan
ditampilkan di mana mereka jelas terlihat, terutama pada perimeter dan batas-batas dan di jalan raya.

7. Sebuah lokalitas kehilangan statusnya sebagai non-lokalitas dipertahankan ketika tidak lagi memenuhi syarat-
syarat yang ditetapkan dalam ayat 2 atau dalam perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ayat 5. Dalam sebuah
kemungkinan, yang lokalitas akan terus menikmati perlindungan yang diberikan oleh yang lain ketentuan Protokol ini
dan peraturan lain yang berlaku hukum internasional dalam konflik bersenjata.

Pasal 60. Zona demiliterisasi

27
1. Dilarang bagi Pihak konflik untuk memperluas operasi militer mereka ke zona di mana mereka telah diberikan oleh
persetujuan status zona demiliterisasi, jika perluasan tersebut bertentangan dengan syarat-syarat perjanjian ini.

2. Kesepakatan akan persetujuan ekspres, dapat disimpulkan secara lisan atau secara tertulis, baik secara langsung
atau melalui Melindungi Power atau apapun organisasi kemanusiaan yang tidak memihak, dan dapat terdiri dari
timbal balik dan yg setuju deklarasi. Perjanjian tersebut dapat disimpulkan di masa damai, dan juga setelah
pecahnya permusuhan, dan harus mendefinisikan dan menggambarkan, setepat mungkin, batas-batas zona
demiliterisasi dan, jika perlu, berbaring metode pengawasan.

3. Subyek seperti lazimnya akan perjanjian zona apapun yang memenuhi syarat-syarat berikut:

(a) semua pejuang, serta senjata mobile dan mobile peralatan militer, pasti sudah dievakuasi;
(b) tidak bermusuhan menggunakan akan dibuat tetap instalasi militer atau Pendirian;
(c) tidak ada tindakan permusuhan akan dilakukan oleh pihak yang berwenang atau oleh penduduk; dan
(d) aktivitas apapun terkait dengan upaya militer harus berhenti.

Para Pihak ke konflik akan menyetujui interpretasi untuk diberikan kepada kondisi yang ditetapkan dalam huruf (d)
dan atas orang-orang harus dirawat di zona demiliterisasi selain yang disebutkan dalam ayat 4.

4. Kehadiran, dalam zona ini, orang-orang yang khusus dilindungi di bawah Konvensi dan Protokol ini, dan pasukan
polisi disimpan untuk tujuan tunggal menjaga hukum dan ketertiban, tidak bertentangan dengan kondisi yang
ditetapkan dalam ayat 3.

5. Partai yang mengontrol zona tersebut akan menandainya, sejauh mungkin, dengan tanda-tanda seperti itu
sebagaimana dapat yang telah disepakati dengan Pihak lainnya, yang akan ditampilkan di mana mereka jelas
terlihat, terutama pada perimeter dan batas-batas dan padajalan raya.

6. Jika pertempuran semakin dekat ke zona demiliterisasi, dan jika Pihak konflik telah begitu setuju, tak satu pun dari
mereka dapat menggunakan zona untuk tujuan yang terkait dengan pelaksanaan operasi militer atau mencabut
secara sepihak statusnya.

7. Jika salah satu Pihak konflik material melakukan pelanggaran terhadap ketentuan dalam ayat 3 atau 6, Pihak
lainnya akan dibebaskan dari kewajibannya berdasarkan perjanjian pada zona menganugerahkan status zona
demiliterisasi. Dalam sebuah kemungkinan, zona kehilangan statusnya tapi akan terus menikmati perlindungan yang
diberikan oleh yang lain ketentuan Protokol ini dan peraturan lain yang berlaku hukum internasional dalam konflik
bersenjata.

Bab VI. Pertahanan sipil

Pasal 61. - Definisi dan cakupan

Untuk tujuan dari Protokol ini:

(1) "pertahanan sipil" berarti kinerja dari beberapa atau seluruh tugas-tugas kemanusiaan undermentioned
dimaksudkan untuk melindungi penduduk sipil terhadap bahaya, dan membantu untuk pulih dari efek langsung,
permusuhan atau bencana dan juga untuk memberikan kondisi diperlukan untuk kelangsungan hidupnya. Tugas ini
adalah:

(a) peringatan;
(b) evakuasi;
(c) pengelolaan tempat penampungan;
(d) pengelolaan langkah-langkah pemadaman;
(e) penyelamatan;
(f) pelayanan kesehatan, termasuk pertolongan pertama, dan bantuan keagamaan;
(g) penanggulangan kebakaran;
(h) deteksi dan menandai daerah bahaya;
(i) dekontaminasi dan upaya perlindungan yang sama;
(j) penyediaan akomodasi dan persediaan darurat;
(k) bantuan darurat dalam pemulihan dan pemeliharaan ketertiban di daerah tertekan;
(l) perbaikan darurat sangat diperlukan prasarana umum;
(m) darurat pembuangan orang mati;
(n) bantuan dalam pelestarian benda-benda yang penting untuk kelangsungan hidup;
(o) kegiatan pelengkap yang diperlukan untuk melaksanakan tugas apapun yang disebutkan di atas, termasuk,
namun tidak terbatas pada, perencanaan dan organisasi;

(2) "organisasi pertahanan Sipil" berarti orang-instansi dan unit-unit lain yang diselenggarakan atau disahkan oleh
pejabat yang berwenang dari Partai dalam konflik untuk melaksanakan tugas apapun yang disebutkan di bawah (1),
dan yang ditugaskan dan mengabdikan secara eksklusif seperti itu tugasnya; (3) "Personil" dari organisasi-organisasi
pertahanan sipil berarti orang-orang yang ditugaskan oleh Pihak konflik secara eksklusif kepada kinerja tugas-tugas
yang disebutkan di bawah (1), termasuk personil yang ditugaskan oleh pejabat yang berwenang dari Partai yang
eksklusif dengan administrasi organisasi-organisasi ini;

(4) "Matériel" dari organisasi-organisasi pertahanan sipil berarti peralatan, perlengkapan dan transportasi yang
digunakan oleh organisasi-organisasi ini untuk kinerja dari tugas-tugas yang disebutkan di bawah (1).

28
Pasal 62. Perlindungan umum

1. Sipil organisasi pertahanan sipil dan personil mereka harus dihormati dan dilindungi, tunduk pada ketentuan-
ketentuan Protokol ini, khususnya ketentuan-ketentuan dalam bagian ini.Mereka berhak untuk melakukan tugas-
tugas pertahanan sipil mereka, kecuali dalam kasus imperatif kebutuhan militer.

2. Ketentuan-ketentuan ayat 1 berlaku pula terhadap warga sipil yang, walaupun bukan anggota dari organisasi-
organisasi pertahanan sipil sipil, menanggapi imbauan dari pejabat yang berwenang dan melakukan tugas-tugas
pertahanan sipil di bawah kendali mereka.

3. Bangunan dan Matériel digunakan untuk tujuan pertahanan sipil dan tempat penampungan yang disediakan bagi
penduduk sipil yang dilindungi oleh Pasal 52. Benda yang digunakan untuk tujuan pertahanan sipil tidak dapat
dihancurkan atau dialihkan dari penggunaan yang tepat kecuali oleh Partai mana mereka berasal.

Pasal 63. Pertahanan sipil di wilayah-wilayah pendudukan

1. Di wilayah-wilayah pendudukan, organisasi pertahanan sipil sipil akan menerima dari pihak berwenang fasilitas
yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas-tugas mereka. Dalam Keadaan tidak akan personil mereka dipaksa untuk
melakukan kegiatan-kegiatan yang akan mengganggu kinerja yang tepat tugas ini. Power yang Berlokasi tidak akan
mengubah struktur atau personalia organisasi tersebut dengan cara apapun yang mungkin membahayakan kinerja
yang efisien misi mereka. Organisasi-organisasi ini tidak akan diminta untuk memberikan prioritas kepada
kepentingan warga negara atau yang Power.

2. Power yang Berlokasi tidak akan memaksa, memaksa atau mendorong organisasi pertahanan sipil sipil untuk
melakukan tugas-tugas mereka dengan cara apapun merugikan kepentingan penduduk sipil.

3. Berlokasi Power yang dapat melucuti pertahanan sipil personil untuk alasan keamanan.

4. Berlokasi Power yang tidak akan mengalihkan dari penggunaan yang tepat atau bangunan daftar permintaan atau
Matériel milik atau digunakan oleh organisasi-organisasi pertahanan sipil jika pengalihan atau daftar permintaan
seperti itu akan berbahaya bagi penduduk sipil.

5. Asalkan aturan umum dalam ayat 4 terus dicermati, Power Berlokasi mungkin daftar permintaan atau mengalihkan
sumber daya tersebut, sesuai dengan kondisi tertentu sebagai berikut:
(a) bahwa bangunan atau Matériel diperlukan untuk kebutuhan lain dari penduduk sipil dan
(b) bahwa daftar permintaan atau penyelewengan terus hanya ketika ada kebutuhan seperti itu.

6. Power yang Berlokasi tidak akan mengalihkan atau disediakan tempat penampungan daftar permintaan untuk
penggunaan atau penduduk sipil yang dibutuhkan oleh penduduk tersebut.

Pasal 64. Organisasi pertahanan sipil sipil netral atau tidak Negara lain Pihak konflik dan koordinasi internasional
organisasi

1. Artikel 62, 63, 65 dan 66 berlaku juga bagi para personil dan Matériel dari organisasi-organisasi pertahanan sipil
sipil netral atau tidak Negara lain Pihak konflik yang menjalankan tugas-tugas pertahanan sipil dimaksud dalam
Pasal 61 di wilayah Partai dalam konflik, dengan persetujuan dan di bawah kontrol dari Partai. Pemberitahuan
bantuan tersebut akan diberikan sesegera mungkin untuk yang merugikan Pihak yang bersangkutan. Dalam situasi
apapun, kegiatan ini dianggap sebagai campur tangan dalam konflik. Kegiatan ini harus, bagaimanapun, harus
dilakukan dengan memperhatikan kepentingan keamanan dari konflik Pihak yang bersangkutan.

2. Para Pihak ke konflik yang menerima bantuan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan Pihak Tinggi pemberian
itu harus memfasilitasi koordinasi internasional semacam pertahanan sipil tindakan bila perlu. Dalam kasus seperti
organisasi-organisasi internasional yang relevan yang dilindungi oleh ketentuan-ketentuan dari Bab ini.

3. Di wilayah-wilayah pendudukan, yang Berlokasi Power mungkin hanya mengecualikan atau membatasi kegiatan-
kegiatan organisasi-organisasi pertahanan sipil sipil netral atau tidak Negara lain Pihak konflik dan koordinasi
internasional organisasi jika dapat menjamin kinerja yang memadai pertahanan sipil tugas dari sendiri sumber daya
atau orang-orang dari wilayah yang diduduki.

Pasal 65. Penghentian perlindungan

1. Perlindungan kepada yang sipil organisasi pertahanan sipil, personalia, bangunan, tempat penampungan dan
Matériel berhak tidak akan berhenti kecuali jika mereka melakukan atau digunakan untuk melakukan, di luar tugas-
tugas yang tepat, bertindak membahayakan musuh.Perlindungan mungkin Namun, berhenti hanya setelah
peringatan telah diberikan pengaturan, kapan pun yang sesuai, waktu yang wajar-batas, dan setelah peringatan
tersebut tetap diabaikan.

2. Berikut tidak akan dianggap sebagai tindakan berbahaya bagi musuh:


(a) bahwa tugas-tugas pertahanan sipil dilakukan di bawah arahan atau kontrol penguasa militer;
(b) bahwa personil pertahanan sipil sipil bekerja sama dengan personil militer dalam pelaksanaan tugas-tugas

29
pertahanan sipil, atau bahwa beberapa personel militer yang melekat pada organisasi-organisasi pertahanan sipil
sipil;
(c) bahwa kinerja dari tugas-tugas pertahanan sipil manfaat kebetulan korban militer, khususnya mereka yang hors
de combat.

3. Itu juga harus tidak dianggap sebagai suatu tindakan berbahaya bagi musuh yang sipil personil pertahanan sipil
individu menanggung senjata ringan untuk tujuan menjaga ketertiban atau untuk membela diri. Namun, di daerah-
daerah di mana tanah pertempuran berlangsung atau akan berlangsung, Para Pihak ke konflik harus melakukan
langkah-langkah yang tepat untuk membatasi senjata-senjata ini untuk pistol, seperti pistol atau revolver, untuk
membantu dalam membedakan antara personil pertahanan sipil dan kombatan. Meskipun personil pertahanan sipil
individu beruang cahaya lain senjata di wilayah seperti ini, mereka akan tetap dihormati dan dilindungi segera
setelah mereka telah diakui sebagai demikian.

4. Pembentukan organisasi pertahanan sipil sipil militer di sepanjang garis, dan layanan wajib di dalamnya, juga tidak
akan menghilangkan mereka dari perlindungan yang diberikan oleh Bab ini.

Pasal 66. Identifikasi

1. Setiap Pihak pada konflik akan berusaha untuk memastikan bahwa organisasi-organisasi pertahanan sipil,
personalia, bangunan dan Matériel dapat diidentifikasi sementara mereka secara eksklusif ditujukan untuk kinerja
tugas-tugas pertahanan sipil. Tempat penampungan disediakan untuk penduduk sipil harus sama diidentifikasi.

2. Setiap Pihak konflik juga akan berusaha untuk mengadopsi dan menerapkan metode dan prosedur yang akan
memungkinkan untuk mengenali tempat penampungan sipil serta personil pertahanan sipil, bangunan dan Matériel
yang tanda perbedaan internasional pertahanan sipil ditampilkan.

3. Di wilayah-wilayah pendudukan dan di daerah-daerah dimana pertempuran sedang terjadi atau mungkin terjadi,
pertahanan sipil sipil karyawan harus dikenali dengan tanda khas internasional pertahanan sipil dan dengan kartu
identitas sertifikasi status mereka.

4. Tanda perbedaan internasional pertahanan sipil adalah sama sisi segitiga biru di tanah jeruk ketika digunakan
untuk melindungi organisasi pertahanan sipil, personalia, bangunan dan material dan untuk tempat penampungan
sipil.

5. Selain tanda khas, Pihak konflik dapat menyetujui penggunaan khas pertahanan sipil sinyal untuk tujuan
identifikasi.

6. Penerapan ketentuan-ketentuan ayat 1-4 diatur oleh Bab V dari Annex I Protokol ini.

7. Dalam keadaan damai, tanda yang dijelaskan dalam ayat 4 dapat, dengan persetujuan dari otoritas nasional yang
kompeten, dapat digunakan untuk tujuan identifikasi pertahanan sipil.

8. Pihak Tinggi dan konflik Pihak harus mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengawasi layar internasional
tanda khas pertahanan sipil dan untuk mencegah penyalahgunaan dan menindas daripadanya.

9. Identifikasi pertahanan sipil personel medis dan keagamaan, unit medis dan transportasi medis juga diatur oleh
Pasal 18.

Pasal 67. Anggota angkatan bersenjata dan satuan militer yang ditugaskan untuk organisasi pertahanan sipil

1. Anggota angkatan bersenjata dan satuan militer yang ditugaskan untuk organisasi-organisasi pertahanan sipil
harus dihormati dan dilindungi, dengan syarat bahwa:
(a) seperti personil dan unit-unit tersebut ditetapkan secara permanen dan eksklusif yang ditujukan untuk kinerja dari
setiap tugas yang disebutkan dalam Pasal 61;
(b) jika demikian ditetapkan, seperti tidak personil melakukan tugas-tugas militer lainnya selama konflik;
(c) personil tersebut jelas dibedakan dari anggota lain angkatan bersenjata dengan jelas menampilkan tanda
perbedaan internasional pertahanan sipil, yang akan menjadi seperti besar sebagaimana mestinya, dan personil
tersebut disediakan dengan kartu identitas sebagaimana dimaksud dalam Bab V dari Annex I Protokol ini sertifikasi
status mereka;
(d) personil dan unit-unit semacam itu hanya dilengkapi dengan senjata ringan individu untuk tujuan menjaga
ketertiban atau untuk membela diri. Ketentuan-ketentuan dalam Pasal 65, ayat 3 wajib juga berlaku dalam kasus ini;
(e) personil tersebut tidak berpartisipasi secara langsung dalam permusuhan, dan tidak melakukan, atau tidak
digunakan untuk melakukan, di luar tugas pertahanan sipil mereka, tindakan merugikan merugikan Partai
(f) seperti personil dan unit-unit tersebut menjalankan tugas-tugas pertahanan sipil mereka hanya di dalam wilayah
nasional Partai mereka.

Non-memperhatikan kondisi yang tercantum dalam (e) di atas oleh setiap anggota angkatan bersenjata yang terikat
oleh kondisi yang ditetapkan dalam (a) dan (b) di atas adalah dilarang.

2. Personel militer melayani dalam organisasi pertahanan sipil akan, jika mereka jatuh ke dalam kekuasaan Partai
yang merugikan, menjadi tawanan perang. Dalam wilayah yang diduduki mereka, tetapi hanya untuk kepentingan
penduduk sipil wilayah yang bersangkutan, dapat digunakan pada tugas-tugas pertahanan sipil sejauh kebutuhan
muncul, namun yang disediakan, jika pekerjaan tersebut berbahaya, mereka sukarelawan untuk tugas-tugas seperti

30
itu.

3. Gedung-gedung dan perlengkapan utama dan transport unit militer yang ditugaskan untuk organisasi-organisasi
pertahanan sipil harus secara jelas ditandai dengan tanda khas internasional pertahanan sipil. Tanda perbedaan ini
akan menjadi seperti besar yang sesuai.

4. Bangunan yang material dan unit-unit militer secara permanen ditugaskan pada organisasi pertahanan sipil dan
secara eksklusif ditujukan untuk kinerja tugas-tugas pertahanan sipil akan, jika mereka jatuh ke tangan Partai yang
merugikan, tetap tunduk pada hukum perang. Mereka mungkin tidak dapat dialihkan dari tujuan pertahanan sipil
mereka selama mereka diperlukan untuk pelaksanaan tugas-tugas pertahanan sipil, kecuali dalam kasus keharusan
kebutuhan militer, kecuali sebelumnya telah dilakukan pengaturan untuk penyediaan memadai untuk kebutuhan
penduduk sipil.

Bagian II. Relief mendukung Penduduk Sipil

Pasal 68. Bidang aplikasi

Ketentuan-ketentuan dalam Pasal ini berlaku bagi penduduk sipil sebagaimana didefinisikan dalam Protokol ini dan
pelengkap untuk Pasal 23, 55, 59, 60, 61 dan 62 dan ketentuan lain yang terkait dari Konvensi Keempat.

Pasal 69. Kebutuhan dasar di wilayah-wilayah pendudukan

1. Di samping tugas-tugas yang ditetapkan dalam Pasal 55 dari Konvensi Keempat tentang makanan dan obat-
obatan, yang Berlokasi Power akan, untuk sepenuhnya sarana yang tersedia untuk itu dan tanpa perbedaan
merugikan, juga menjamin penyediaan pakaian, tempat tidur, berarti tempat berlindung, perlengkapan lain yang
penting bagi kelangsungan hidup penduduk sipil dari wilayah yang diduduki dan benda-benda yang diperlukan untuk
ibadah.

2. Relief tindakan untuk kepentingan penduduk sipil dari wilayah-wilayah pendudukan diatur oleh Pasal 59, 60, 61,
62, 108, 109, 110 dan 111 dari Konvensi Keempat, dan oleh Pasal 71 Protokol ini, dan harus dilaksanakan tanpa
penundaan .

Pasal 70. Relief tindakan

1. Jika penduduk sipil dari setiap wilayah di bawah kendali Partai dalam konflik, selain wilayah yang diduduki, tidak
cukup diberikan dengan persediaan yang disebutkan dalam Pasal 69, tindakan yang bantuan kemanusiaan dan tidak
memihak dalam karakter dan dilakukan tanpa pembedaan yang merugikan akan dilakukan, sesuai dengan
kesepakatan para Pihak yang bersangkutan dalam lega seperti tindakan. Menawarkan bantuan seperti itu tidak akan
dianggap sebagai campur tangan dalam konflik bersenjata atau sebagai tindakan tidak ramah. Dalam distribusi
bantuan kiriman, prioritas akan diberikan kepada orang-orang, seperti anak-anak, ibu hamil, bersalin kasus dan ibu
menyusui, yang, di bawah Konvensi Keempat atau di bawah Protokol ini, adalah hak istimewa harus diberi perlakuan
atau perlindungan khusus
.

2. Para Pihak ke konflik dan masing-masing pihak pada Persetujuan Tinggi Pihak harus mengizinkan dan
memfasilitasi perjalanan cepat dan tanpa hambatan semua kiriman lega, peralatan dan personil diberikan sesuai
dengan Bagian ini, bahkan jika bantuan tersebut diperuntukkan bagi penduduk sipil yang merugikan Partai.

3. Para Pihak ke konflik dan masing-masing Persetujuan Tinggi Partai yang memungkinkan bagian lega kiriman,
peralatan dan personil sesuai dengan ayat 2:
(a) mempunyai hak untuk menetapkan pengaturan teknis, termasuk pencarian, di mana bagian tersebut
diperbolehkan;
(b) dapat membuat izin tersebut bergantung pada distribusi bantuan ini sedang dibuat di bawah pengawasan lokal
yang Melindungi Power;
(c) wajib, tidak dengan cara apa pun, mengalihkan bantuan kiriman dari tujuan yang dimaksudkan mereka menunda
atau forwarding, kecuali dalam kasus-kasus kebutuhan mendesak untuk kepentingan penduduk sipil yang
bersangkutan.

4. Para Pihak ke konflik harus melindungi kiriman lega dan memfasilitasi distribusi cepat.

5. Para Pihak ke konflik dan masing-masing Pihak pada Persetujuan Tinggi Pihak yang bersangkutan akan
mendorong dan memfasilitasi internasional yang efektif koordinasi tindakan bantuan sebagaimana dimaksud pada
ayat 1.

Pasal 71. Personil berpartisipasi dalam tindakan lega

1. Apabila diperlukan, personil bantuan dapat membentuk bagian dari bantuan yang diberikan dalam setiap tindakan
bantuan, khususnya untuk transportasi dan distribusi bantuan kiriman, partisipasi personil tersebut akan tunduk pada
persetujuan dari Partai yang di dalam wilayah mereka akan melaksanakan tugas.

2. Personil harus dihormati dan dilindungi.

31
3. Setiap Partai dalam menerima kiriman lega akan, untuk sepenuhnya dapat dilaksanakan, membantu personil lega
dimaksud dalam ayat 1 dalam melaksanakan misi lega. Hanya dalam kasus keharusan kebutuhan militer mungkin
kegiatan personil lega dibatasi atau sementara gerakan mereka dibatasi.

4. Dalam situasi boleh lega personil melebihi ketentuan misi mereka di bawah Protokol ini.Secara khusus mereka
akan memperhitungkan persyaratan keamanan Partai di wilayah yang mereka melaksanakan tugas mereka. Misi
dari salah satu personil yang tidak menghormati kondisi ini dapat dihentikan.

Bagian III. Perlakuan terhadap Orang dalam Partai Kekuatan untuk Konflik

Bab I. Bidang aplikasi dan perlindungan dari orang-orang dan benda

Pasal 72. Bidang aplikasi

Ketentuan-ketentuan dalam Pasal ini adalah untuk tambahan mengenai ketentuan perlindungan kemanusiaan warga
sipil dan objek sipil dalam kekuatan Partai dalam konflik yang terkandung dalam Konvensi Keempat, khususnya
Bagian I dan III daripadanya, serta peraturan lain yang berlaku hukum internasional berkaitan dengan perlindungan
hak asasi manusia selama konflik bersenjata internasional.

Pasal 73. Pengungsi dan orang-orang tanpa kewarganegaraan

Orang-orang yang, sebelum dimulainya permusuhan, dianggap sebagai orang atau tanpa kewarganegaraan
pengungsi di bawah instrumen internasional yang relevan yang diterima oleh Pihak yang bersangkutan atau di
bawah undang-undang nasional Negara tempat berlindung atau Negara tempat tinggal orang-orang yang harus
dilindungi dimaksud dalam Bagian I dan III dari Konvensi Keempat, dalam segala situasi dan tanpa perbedaan
merugikan.

Pasal 74. Reuni keluarga tersebar

Pihak Tinggi dan Pihak konflik akan memudahkan dalam segala cara yang mungkin reuni keluarga yang tersebar
sebagai akibat dari konflik bersenjata dan akan mendorong khususnya karya organisasi kemanusiaan yang terlibat
dalam tugas ini sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Konvensi dan Protokol ini dan sesuai dengan peraturan
keamanan masing-masing.

Pasal 75. Fundamental jaminan

1. Sejauh mereka terpengaruh oleh situasi dimaksud dalam Pasal 1 Protokol ini, orang-orang yang berada dalam
kekuatan Partai dalam konflik dan yang tidak mendapat keuntungan dari lebih menguntungkan perawatan di bawah
Konvensi atau di bawah Protokol ini akan diperlakukan manusiawi dalam segala situasi dan akan menikmati, sebagai
minimum, perlindungan yang diberikan oleh Pasal ini tanpa perbedaan merugikan yang didasarkan atas ras, warna
kulit, jenis kelamin, bahasa, agama atau kepercayaan, politik atau pendapat lain, asal nasional atau sosial,
kekayaan, kelahiran atau status lainnya, atau pada kriteria lainnya yang serupa. Setiap Pihak harus menghormati
orang, kehormatan, keyakinan dan praktik keagamaan semua orang seperti itu.

2. Tindakan-tindakan berikut ini adalah dan akan tetap dilarang pada setiap saat dan di setiap tempat apa pun, baik
yang dilakukan oleh sipil atau oleh agen militer:
(a) kekerasan terhadap hidup, kesehatan, atau fisik atau mental kesejahteraan orang, khususnya:
(i) pembunuhan;
(ii) penyiksaan dari segala jenis, baik fisik atau mental;
(iii) hukuman fisik dan
(iv) mutilation;

(b) kemarahan atas martabat pribadi, khususnya perlakuan menghina dan merendahkan martabat, ditegakkan
prostitusi dan segala bentuk serangan tidak senonoh;
(c) penyanderaan;
(d) hukuman kolektif dan
(e) ancaman untuk melakukan segala tindakan yang terdahulu.

3. Setiap orang yang ditangkap, ditahan atau diasingkan untuk aktivitas yang berkaitan dengan konflik bersenjata
harus diberitahukan segera, dalam bahasa yang ia mengerti, alasan mengapa langkah-langkah ini telah
diambil. Kecuali dalam kasus-kasus penangkapan atau penahanan untuk pelanggaran pidana, orang tersebut akan
dirilis dengan keterlambatan minimum mungkin dan dalam setiap event segera setelah keadaan membenarkan
penangkapan, penahanan atau interniran tidak lagi ada.

4. Tidak ada kalimat mungkin akan berlalu dan tidak ada hukuman dapat dilaksanakan pada seseorang ditemukan
bersalah atas suatu pelanggaran hukum yang berkaitan dengan konflik bersenjata, kecuali sesuai dengan keyakinan
yang diucapkan oleh yang tidak memihak dan merupakan pengadilan secara teratur umumnya diakui menghormati
prinsip-prinsip hukum acara biasa, yang mencakup berikut:
(a) prosedur akan menyediakan bagi seorang terdakwa untuk diinformasikan tanpa penundaan tentang khusus
tentang dugaan pelanggaran terhadap dirinya dan akan mampu terdakwa sebelum dan selama persidangan semua
hak yang diperlukan dan sarana pertahanan;

32
(b) tidak ada seorang pun boleh dihukum karena suatu pelanggaran, kecuali atas dasar tanggung jawab pidana
perorangan;
(c) tidak ada seorang pun dapat dituduh atau didakwa melakukan tindak pidana di account atau setiap tindakan atau
kelalaian yang tidak merupakan suatu tindak pidana di bawah hukum nasional atau internasional di mana ia adalah
subjek pada waktu ketika perbuatan tersebut dilakukan; dan tidak pula seorang dikenakan hukuman lebih berat
daripada apa yang telah berlaku pada saat tindak pidana tersebut dilakukan; jika, setelah komisi pelanggaran,
ketentuan yang dibuat oleh hukum untuk pengenaan hukuman yang lebih ringan, pelaku akan keuntungan dengan
demikian;
(d) siapa pun didakwa dengan pelanggaran dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya menurut
hukum;
(e) orang didakwa dengan pelanggaran berhak untuk diadili di hadapannya;
(f) tidak ada seorang pun boleh dipaksa untuk bersaksi melawan dirinya sendiri atau untuk mengaku bersalah;
(g) siapa pun dikenakan dengan pelanggaran berhak untuk memeriksa, atau telah memeriksa, saksi melawan dia
dan mendapatkan kehadiran dan pemeriksaan saksi atas namanya dalam kondisi yang sama sebagai saksi terhadap
dia;
(h) tidak ada seorang pun boleh dituntut atau dihukum oleh Partai yang sama untuk suatu pelanggaran yang
menghasilkan penilaian akhir membebaskan atau menghukum orang itu sebelumnya telah dinyatakan di bawah
hukum yang sama dan hukum acara;
(i) setiap orang dituntut untuk suatu pelanggaran berhak untuk memiliki diucapkan penilaian publik dan
(j) terpidana akan menyarankan pada keyakinan atau peradilan dan solusi lainnya dan dari waktu-batas di mana
mereka dapat dilaksanakan.

5. Kebebasan perempuan yang telah dilarang karena alasan-alasan yang berkaitan dengan konflik bersenjata akan
diselenggarakan di perempat dipisahkan dari laki-laki tinggal. Mereka akan berada di bawah pengawasan langsung
perempuan. Namun demikian, dalam kasus di mana keluarga yang ditahan atau diasingkan, mereka akan, bila
memungkinkan, akan diadakan di tempat yang sama dan diakomodasi sebagai unit keluarga.

6. Orang-orang yang ditangkap, ditahan atau diasingkan karena alasan-alasan yang berkaitan dengan konflik
bersenjata akan menikmati perlindungan yang diberikan oleh Pasal ini sampai akhir mereka rilis, repatriasi atau
pembentukan kembali, bahkan setelah berakhirnya konflik bersenjata.

7. Untuk menghindari keraguan mengenai penuntutan dan pengadilan orang-orang yang dituduh melakukan
kejahatan perang atau kejahatan terhadap kemanusiaan itu, prinsip-prinsip berikut akan berlaku:
(a) orang-orang yang dituduh melakukan kejahatan semacam itu harus diajukan untuk tujuan penuntutan dan
pengadilan sesuai dengan peraturan yang berlaku hukum internasional dan
(b) orang-orang seperti yang tidak mendapat keuntungan dari lebih menguntungkan perawatan di bawah Konvensi
atau Protokol ini akan diberikan perawatan yang diberikan oleh Pasal ini, apakah atau tidak kejahatan yang mereka
dituduh merupakan pelanggaran berat Konvensi atau Protokol ini .

8. Tidak ada ketentuan Pasal ini dapat ditafsirkan sebagai membatasi atau melanggar hak apapun ketentuan lain
yang lebih menguntungkan memberikan perlindungan yang lebih besar, di bawah aturan-aturan yang berlaku hukum
internasional, untuk orang yang dicakup oleh ayat 1

Bab II. Langkah mendukung perempuan dan anak-anak

Pasal 76. Perlindungan perempuan

1. Perempuan akan menjadi objek penghormatan khusus dan harus dilindungi secara khusus terhadap
pemerkosaan, pelacuran paksa dan bentuk lain penyerangan tidak senonoh.

2. Wanita hamil dan ibu yang memiliki bayi yang tergantung ditangkap, ditahan atau diasingkan karena alasan-
alasan yang berkaitan dengan konflik bersenjata, harus mempunyai kasus mereka dipertimbangkan dengan sangat
prioritas.

3. Semaksimal mungkin, Para Pihak ke konflik akan berusaha untuk menghindari pernyataan hukuman mati
terhadap perempuan hamil atau ibu yang memiliki bayi tergantung, untuk suatu pelanggaran yang berkaitan dengan
konflik bersenjata. Hukuman mati bagi pelanggaran-pelanggaran tersebut tidak boleh dijalankan pada perempuan
tersebut.

Pasal 77. Perlindungan anak

1. Anak-anak akan menjadi objek penghormatan khusus dan harus dilindungi terhadap segala bentuk serangan tidak
senonoh. Para Pihak ke konflik akan menyediakan mereka dengan perawatan dan bantuan yang mereka butuhkan,
apakah karena usia atau karena alasan lain.

2. Para Pihak ke konflik harus mengambil semua langkah-langkah layak agar anak-anak yang belum mencapai usia
lima belas tahun tidak mengambil bagian langsung dalam permusuhan dan, khususnya, mereka akan menahan diri
dari merekrut mereka ke dalam angkatan bersenjata. Dalam merekrut di antara orang-orang yang telah mencapai
usia lima belas tahun tetapi belum mencapai usia delapan belas tahun konflik Pihak akan berusaha untuk
memberikan prioritas kepada mereka yang tertua.

3. Jika, dalam kasus-kasus luar biasa, meskipun ketentuan-ketentuan dalam ayat 2, anak-anak yang belum
mencapai usia lima belas tahun mengambil bagian langsung dalam permusuhan dan jatuh ke dalam kekuasaan
Partai yang merugikan, mereka akan terus memperoleh manfaat dari perlindungan khusus yang diberikan oleh Pasal
ini, apakah atau tidak mereka adalah tawanan perang.

33
4. Jika ditangkap, ditahan atau diasingkan karena alasan-alasan yang berkaitan dengan konflik bersenjata, anak-
anak akan diadakan di perempat tinggal terpisah dari orang dewasa, kecuali keluarga diakomodir sebagai unit
keluarga sebagaimana diatur dalam Pasal 75, ayat 5.

5. Hukuman mati untuk suatu pelanggaran yang berkaitan dengan konflik bersenjata tidak akan dilaksanakan pada
orang-orang yang belum mencapai usia delapan belas tahun pada waktu pelanggaran tersebut dilakukan.

Pasal 78. Evakuasi anak-anak

1. Tidak Pihak konflik akan mengatur evakuasi anak-anak, selain warga negaranya sendiri, ke luar negeri kecuali
untuk evakuasi sementara di mana alasan kuat kesehatan atau perawatan medis anak-anak atau, kecuali di wilayah
yang diduduki, keselamatan mereka, sangat memerlukan. Mana orang tua atau wali hukum dapat ditemukan,
mereka izin tertulis evakuasi seperti itu diperlukan. Jika orang tersebut tidak dapat ditemukan, maka persetujuan
tertulis evakuasi tersebut dari orang yang oleh hukum atau adat yang terutama bertanggung jawab untuk mengasuh
anak-anak diperlukan. Evakuasi tersebut akan diawasi oleh Power Melindungi setuju dengan Pihak yang
bersangkutan, yaitu Partai mengatur evakuasi, Partai menerima anak-anak dan setiap Pihak negara yang sedang
dievakuasi. Dalam setiap kasus, semua negara untuk konflik harus mengambil semua tindakan pencegahan untuk
menghindari layak membahayakan evakuasi.

2. Setiap kali terjadi evakuasi berdasarkan ayat 1, masing-masing pendidikan anak, termasuk pendidikan agama dan
moral sebagai orang tuanya keinginan, harus diberikan ketika ia sedang pergi dengan kemungkinan terbesar
kontinuitas.

3. Dengan tujuan untuk memfasilitasi kembali ke keluarga mereka dan anak-anak diungsikan negara berdasarkan
Pasal ini, pihak berwenang mengatur Partai untuk evakuasi dan sebagaimana mestinya, pihak berwenang dari
negara penerima menetapkan untuk setiap anak kartu dengan foto-foto, yang mereka akan kirim ke Badan Tracing
Pusat Komite Internasional Palang Merah. Setiap kartu akan menanggung, bilamana mungkin, dan setiap kali itu tak
melibatkan risiko kerugian kepada anak, informasi berikut:
(a) nama keluarga (s) dari anak;
(b) nama pertama anak (s);
(c) jenis kelamin anak;
(d) tempat dan tanggal lahir (atau, jika tanggal tidak diketahui, perkiraan usia);
(e) nama lengkap ayah;
(f) ibu nama lengkap dan nama gadisnya;
(g) anak berikutnya-of-kin;
(h) anak kewarganegaraan;
(i) anak bahasa, dan bahasa lainnya ia berbicara;
(j) alamat anak keluarga;
(k) semua nomor identifikasi bagi anak;
(l) anak keadaan kesehatan;
(m) anak golongan darah;
(n) semua ciri khas;
(o) tanggal dan tempat di mana anak itu ditemukan;
(p) tanggal dan tempat dari mana anak meninggalkan negara;
(q) anak agama, jika ada;
(r) si anak alamat sekarang di negara penerima;
(s) harus anak mati sebelum dia kembali, tanggal, tempat dan keadaan tempat kematian dan penguburan.

Bab III. Jurnalis

Pasal 79. Langkah atau perlindungan bagi jurnalis

1. Wartawan profesional yang terlibat dalam misi berbahaya di daerah konflik bersenjata akan dianggap sebagai
orang sipil dimaksud dalam Pasal 50, ayat 1.

2. Mereka harus dilindungi karena itu di bawah Konvensi dan Protokol ini, asalkan mereka tidak melakukan tindakan
merugikan mempengaruhi status mereka sebagai warga sipil, dan tanpa prasangka terhadap hak koresponden
perang yang terakreditasi untuk angkatan bersenjata untuk status yang diatur dalam Pasal 4 (A ) (4) dari Konvensi
Ketiga.

3. Mereka dapat memperoleh kartu identitas yang mirip dengan model dalam Lampiran II dari Protokol ini. Kartu ini,
yang harus dikeluarkan oleh pemerintah Negara yang merupakan Wartawan nasional atau di wilayah yang ia tinggal
atau di mana media berita mempekerjakan dia berada, akan menegaskan statusnya sebagai seorang jurnalis.

Bagian V. Pelaksanaan Konvensi dan dari Protokol

Bagian I. Ketentuan Umum

Pasal 80. Langkah-langkah untuk eksekusi

1. Pihak Tinggi dan Para Pihak ke konflik harus tanpa menunda-nunda mengambil semua langkah yang perlu untuk
pelaksanaan kewajiban mereka di bawah Konvensi dan Protokol ini.

34
2. Pihak Tinggi dan Pihak konflik harus memberikan perintah dan instruksi untuk memastikan ketaatan dari Konvensi
dan Protokol ini, dan akan mengawasi pelaksanaannya.

Pasal 81. Kegiatan Palang Merah dan organisasi kemanusiaan lainnya

1. Para Pihak ke konflik akan hibah kepada Komite Internasional Palang Merah semua fasilitas, di dalam kekuatan
mereka sehingga memungkinkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi kemanusiaan yang ditugaskan kepadanya oleh
Konvensi dan Protokol ini untuk memastikan perlindungan dan bantuan kepada korban konflik; Komite Internasional
Palang Merah mungkin juga melakukan kegiatan kemanusiaan lain yang mendukung korban-korban ini, tunduk pada
persetujuan dari konflik Pihak yang bersangkutan.

2. Para Pihak ke konflik akan memberikan kepada mereka masing-masing Palang Merah (Red Crescent, Red Lion
dan Sun) organisasi fasilitas yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan kemanusiaan yang berpihak pada
korban konflik, sesuai dengan ketentuan Konvensi dan iniProtokol dan prinsip-prinsip dasar Palang Merah seperti
yang dirumuskan oleh Konferensi Internasional Palang Merah.

3. Pihak Tinggi dan Pihak konflik akan memudahkan dalam segala cara yang mungkin bantuan yang Palang Merah
(Red Crescent, Red Lion dan Sun) organisasi dan Liga memperluas Masyarakat Palang Merah untuk korban konflik
sesuai dengan ketentuan Konvensi dan Protokol ini dan dengan prinsip-prinsip dasar Palang merah seperti yang
dirumuskan oleh Konferensi Internasional Palang Merah.

4. Pihak Tinggi dan konflik Pihak akan, sejauh mungkin, membuat fasilitas serupa dengan yang disebutkan dalam
ayat 2 dan 3 tersedia untuk organisasi-organisasi kemanusiaan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Konvensi dan
Protokol ini yang telah diberi kuasa oleh masing-masing Pihak konflik dan yang melakukan kegiatan kemanusiaan
mereka sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Konvensi dan Protokol ini.

Pasal 82. Penasihat hukum dalam angkatan bersenjata

Pihak Tinggi sepanjang waktu, dan Para Pihak ke konflik pada saat konflik bersenjata, harus memastikan bahwa
penasihat hukum yang tersedia, bila diperlukan, untuk memberi saran para komandan militer pada tingkat yang
sesuai pada penerapan Konvensi dan Protokol ini dan padainstruksi yang sesuai untuk diberikan kepada angkatan
bersenjata mengenai hal ini.

Pasal 83. Diseminasi

1. Pihak Tinggi melakukan, dalam keadaan damai seperti pada saat konflik bersenjata, untuk menyebarluaskan
Konvensi dan Protokol ini seluas mungkin dalam negara masing-masing dan, khususnya, untuk menyertakan studi
daripadanya dalam program mereka instruksi militer dan untuk mendorong studi daripadanya oleh penduduk sipil,
sehingga instrumen-instrumen tersebut dapat menjadi dikenal untuk angkatan bersenjata dan penduduk sipil.

2. Setiap pejabat militer atau sipil yang, pada saat konflik bersenjata, mengasumsikan tanggung jawab sehubungan
dengan penerapan Konvensi dan Protokol ini harus sepenuhnya mengenal dengan teks daripadanya.

Pasal 84. Aturan aplikasi

Pihak Tinggi harus menyampaikan kepada satu sama lain, secepat mungkin, melalui penyimpanan dan
sebagaimana mestinya, melalui Melindungi Powers, terjemahan resmi dari Protokol ini, serta peraturan perundang-
undangan yang mereka dapat mengadopsi untuk memastikan penerapannya .

Bagian II. Represi Pelanggaran dari Konvensi dan Protokol ini

Pasal 85 - Represi dari pelanggaran Protokol ini

1. Ketentuan-ketentuan dalam Konvensi yang berkaitan dengan pelanggaran represi dan pelanggaran serius,
dilengkapi dengan Bagian ini, akan berlaku untuk pelanggaran represi dan pelanggaran kuburan Protokol ini.

2. Kisah Para Rasul digambarkan sebagai pelanggaran serius dalam Konvensi adalah pelanggaran makam Protokol
ini jika dilakukan terhadap orang-orang dalam kekuasaan Partai yang merugikan dilindungi oleh Pasal 44, 45 dan 73
Protokol ini, atau terhadap yang terluka, sakit dan terdampar dari Partai buruk yang dilindungi oleh Protokol ini, atau
terhadap orang-orang medis atau tenaga keagamaan, unit medis atau transportasi medis yang berada di bawah
kendali Partai merugikan dan dilindungi oleh Protokol ini.

3. Di samping makam pelanggaran didefinisikan dalam Pasal 11, tindakan-tindakan berikut ini dianggap sebagai
pelanggaran serius Protokol ini, ketika dilakukan sengaja, yang melanggar ketentuan-ketentuan yang relevan
Protokol ini, dan menyebabkan kematian atau cedera serius terhadap badan atau kesehatan:
(a) membuat penduduk sipil atau individu warga sipil objek serangan;
(b) meluncurkan sebuah serangan tanpa pandang bulu yang mempengaruhi penduduk sipil atau objek sipil dalam
pengetahuan bahwa serangan tersebut akan menyebabkan hilangnya nyawa yang berlebihan, cedera pada warga
sipil atau kerusakan objek sipil, sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 57, ayat 2 (a) (iii) ;
(c) meluncurkan serangan terhadap karya-karya atau instalasi yang berisi kekuatan berbahaya dalam pengetahuan
bahwa serangan tersebut akan menyebabkan hilangnya nyawa yang berlebihan, cedera pada warga sipil atau

35
kerusakan objek sipil, sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 57, ayat 2 (a) (iii);
(d) membuat tempat-tempat non-membela dan zona demiliterisasi objek serangan;
(e) membuat seseorang objek serangan dalam pengetahuan bahwa ia adalah hors de combat;
(f) penggunaan berkhianat, melanggar Pasal 37, yang khas lambang palang merah, bulan sabit merah atau singa
dan matahari merah atau tanda-tanda perlindungan lain yang diakui oleh Konvensi atau Protokol ini.

4. Di samping makam pelanggaran didefinisikan dalam paragraf sebelumnya dan dalam Konvensi, berikut ini
dianggap sebagai pelanggaran serius Protokol ini, ketika komitmen sengaja dan melanggar Konvensi atau Protokol:
(a) transfer oleh Kekuatan menduduki bagian-bagian dari penduduk sipil sendiri ke wilayah yang didudukinya, atau
deportasi atau pemindahan semua atau sebagian penduduk dari wilayah yang diduduki dalam atau di luar wilayah
ini, yang melanggar Pasal 49 dari Keempat Konvensi
(b) dibenarkan penundaan pemulangan tawanan perang atau penduduk sipil;
(c) praktek-praktek apartheid dan tidak manusiawi dan merendahkan lainnya yang melibatkan praktik-praktik
kebiadaban atas martabat pribadi, didasarkan pada diskriminasi rasial;
(d) membuat jelas-diakui monumen bersejarah, karya Pasal atau tempat-tempat ibadah yang merupakan warisan
budaya atau spiritual bangsa-bangsa dan perlindungan khusus yang telah diberikan oleh pengaturan khusus,
misalnya, dalam kerangka organisasi internasional yang kompeten , objek serangan, menyebabkan sebagai hasil
daripadanya kehancuran yang luas, dimana tidak ada bukti pelanggaran oleh Partai merugikan Pasal 53, huruf (b),
dan ketika seperti monumen bersejarah, karya Pasal dan tempat-tempat ibadah tidak terletak di dekatnya langsung
tujuan militer;
(e) menghilangkan seseorang dilindungi oleh Konvensi atau sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 pasal ini terhadap
hak-hak yang adil dan pengadilan biasa.

5. Tanpa mengurangi penerapan Konvensi dan Protokol ini, kuburan pelanggaran instrumen ini harus dianggap
sebagai kejahatan perang.

Pasal 86. Kegagalan untuk bertindak

1. Pihak Tinggi dan Para Pihak ke konflik akan menekan pelanggaran serius, dan mengambil tindakan yang
diperlukan untuk menekan semua pelanggaran lain, tentang Konvensi atau Protokol yang ini hasil dari kegagalan
untuk bertindak ketika berada di bawah kewajiban untuk melakukannya.

2. Kenyataan bahwa sebuah pelanggaran atas Konvensi atau Protokol ini dilakukan oleh seorang bawahan tidak
membebaskan atasannya dari tanggung jawab pidana atau disipliner, sebagai kasus mungkin, jika mereka tahu, atau
memiliki informasi yang seharusnya memungkinkan mereka untuk menyimpulkan dalam keadaan pada waktu itu,
bahwa dia melakukan atau akan melakukan pelanggaran seperti itu dan jika mereka tidak mengambil semua
langkah-langkah yang layak di dalam kekuasaan mereka untuk mencegah atau menekan pelanggaran.

Pasal 87. Tugas komandan

1. Pihak Tinggi dan Para Pihak ke konflik akan memerlukan komandan militer, dengan rasa hormat kepada anggota
angkatan bersenjata di bawah perintah mereka dan orang lain di bawah kendali mereka, untuk mencegah dan, jika
perlu, untuk menekan dan melaporkan kepada pihak berwenang pelanggaran Konvensi dan Protokol ini.

2. Dalam rangka untuk mencegah dan menekan pelanggaran, Pihak Tinggi dan Pihak konflik akan memerlukan itu,
sepadan dengan tingkat tanggung jawab mereka, komandan memastikan bahwa anggota angkatan bersenjata di
bawah komando mereka sadar akan kewajiban mereka di bawah Konvensi dan Protokol ini.

3. Pihak Tinggi dan Pihak konflik akan memerlukan komandan yang sadar bahwa bawahan atau orang lain di bawah
kekuasaannya akan melakukan atau telah melakukan pelanggaran terhadap Konvensi atau Protokol ini, untuk
memulai langkah-langkah seperti yang diperlukan untuk mencegah seperti pelanggaran terhadap Konvensi atau
Protokol ini, dan, bila perlu, untuk memprakarsai tindakan disipliner atau pidana terhadap pelanggar daripadanya.

Pasal 88. Bantuan timbal balik dalam masalah pidana

1. Pihak Tinggi akan membayar satu sama lain ukuran terbesar bantuan sehubungan dengan membawa pidana
dalam hal pelanggaran berat Konvensi atau Protokol ini.

2. Tunduk pada hak-hak dan kewajiban yang ditetapkan dalam Konvensi dan dalam Pasal 85, ayat 1 Protokol ini,
dan ketika keadaan memungkinkan, High Pihak akan bekerja sama dalam masalah ekstradisi. Mereka akan
memberikan pertimbangan atas permintaan Negara di wilayah yang melakukan suatu pelanggaran diduga terjadi.

3. Hukum diminta Tinggi Partai Persetujuan akan berlaku dalam semua kasus. Ketentuan-ketentuan dalam ayat-ayat
sebelumnya akan, bagaimanapun, tidak mempengaruhi kewajiban yang timbul dari ketentuan-ketentuan lain
perjanjian bilateral atau multilateral yang mengatur atau alam yang akan mengatur seluruh atau sebagian dari subjek
saling membantu dalam masalah pidana.

Pasal 89. Kerjasama

Dalam situasi pelanggaran serius terhadap Konvensi atau Protokol ini, Pihak Tinggi melaksanakan untuk bertindak
bersama-sama atau secara individu, dalam kerjasama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sesuai dengan
Piagam PBB.

36
Pasal 90. Internasional Mencari Fakta-Komisi

1. (a) An International Menemukan Fakta-Komisi (selanjutnya disebut sebagai "Komisi") yang terdiri dari 15 anggota
berdiri moral yang tinggi dan diakui ketidakberpihakan akan didirikan;
(b) Ketika tidak kurang dari 20 Tinggi Pihak telah sepakat untuk menerima Komisi kompetensi sesuai dengan ayat 2,
lalu akan penyimpanan, dan pada interval lima tahun setelah itu, mengadakan pertemuan wakil-wakil dari Pihak yang
tinggi untuk Tujuan pemilihan anggota Komisi. Pada pertemuan tersebut, para wakil akan memilih anggota Komisi
secara rahasia dari daftar orang-orang yang masing-masing Pihak Tinggi dapat mencalonkan satu orang;
(c) anggota Komisi akan menjabat dalam kapasitas pribadi mereka dan akan menjabat sampai pemilihan anggota
baru pada pertemuan berikutnya;
(d) Pada pemilihan, High Pihak harus menjamin bahwa orang-orang terpilih untuk masing-masing Komisi memiliki
kualifikasi yang diperlukan dan bahwa, dalam Komisi secara keseluruhan, adil perwakilan geografis terjamin;
(e) Dalam hal kekosongan kasual, Komisi itu sendiri akan mengisi kekosongan, setelah memperhatikan ketentuan
sub sebelumnya;
(f) penyimpanan akan membuat tersedia kepada Komisi fasilitas administrasi yang diperlukan untuk pelaksanaan
fungsi.

2. (a) Pihak Tinggi mungkin pada saat penandatanganan, ratifikasi atau aksesi pada Protokol, atau di lain waktu
berikutnya, menyatakan bahwa mereka mengakui ipso facto dan tanpa persetujuan khusus, dalam kaitannya dengan
Persetujuan Tinggi lain Partai menerima samakewajiban, kompetensi Komisi untuk menyelidiki tuduhan oleh seperti
Partai lain, seperti yang diizinkan oleh pasal ini;
(b) pernyataan tersebut di atas akan disimpan dengan penyimpanan, yang akan mengirimkan salinan daripadanya
kepada Pihak Tinggi;
(c) Komisi berwenang untuk:
(i) menyelidiki fakta-fakta apa pun diduga kuburan pelanggaran sebagaimana yang didefinisikan dalam Konvensi dan
Protokol ini atau pelanggaran serius lainnya dari Konvensi atau Protokol ini;
(ii) memfasilitasi, melalui kantor-kantor yang baik, pemulihan kembali sikap menghormati Konvensi dan Protokol ini;
(d) Dalam situasi yang lain, lembaga Komisi penyelidikan atas permintaan Partai dalam konflik hanya dengan
persetujuan dari Pihak lainnya atau Pihak yang bersangkutan;
(e) Berdasarkan ketentuan tersebut di atas atau ayat ini, ketentuan Pasal 52 Konvensi Pertama, Pasal 53 dari
Konvensi Kedua, Pasal 132 atau Konvensi Ketiga dan Pasal 149 dari Konvensi Keempat akan tetap berlaku untuk
setiap dugaan pelanggaran dari Konvensi dan akan memperluas untuk setiap dugaan pelanggaran Protokol ini.

3. (a) Kecuali jika disetujui oleh Pihak yang bersangkutan, semua pertanyaan yang akan dilakukan oleh sebuah
Dewan yang terdiri dari tujuh anggota yang ditunjuk sebagai berikut:
(i) lima anggota KPU, bukan warga negara dari setiap Pihak konflik, ditunjuk oleh Presiden Komisi berdasarkan
merata representasi wilayah geografis, setelah berkonsultasi dengan Pihak konflik;
(ii) dua ad hoc anggota, bukan warga negara dari setiap Pihak konflik, salah satu yang akan ditunjuk oleh masing-
masing sisi;
(b) Setelah menerima permintaan untuk penyelidikan, Presiden Komisi akan menetapkan batas waktu yang tepat
untuk membuat Chamber. Jika ada ad hoc anggota belum ditunjuk dalam batas waktu, Presiden harus segera
menunjuk anggota tambahan seperti itu atau anggota Komisi yang diperlukan untuk melengkapi keanggotaan
Dewan.

4. (a) The Chamber dibentuk di bawah ayat 3 untuk melakukan penyelidikan akan mengundang Pihak konflik untuk
membantu dan untuk memberikan bukti. Kamar tersebut dapat juga mencari bukti lain yang dianggap perlu dan
dapat melaksanakan penyelidikan mengenai situasi di loco;
(b) Semua bukti harus sepenuhnya diungkapkan kepada Pihak yang berhak untuk mengomentari itu kepada Komisi;
(c) Masing-masing Pihak berhak untuk menantang bukti semacam itu.

5. (a) Komisi harus menyampaikan kepada Pihak laporan tentang temuan fakta dari Kamar, dengan rekomendasi
tersebut karena dapat anggap tepat;
(b) Jika Dewan tidak dapat bukti yang cukup aman untuk temuan faktual dan tidak memihak, Komisi menyatakan
alasan-alasan bahwa ketidakmampuan;
(c) Komisi tidak melaporkan hasil temuannya kepada publik, kecuali semua Pihak konflik telah meminta Komisi untuk
melakukannya.

6. Komisi akan menetapkan aturan-aturannya sendiri, termasuk aturan untuk presiden atau Komisi dan presiden dari
Kamar. Peraturan-peraturan itu harus memastikan bahwa fungsi Presiden Komisi tersebut dilakukan sepanjang
waktu dan bahwa, dalam kasus penyelidikan, mereka tersebut dilakukan oleh orang yang bukan dari Partai nasional
dalam konflik.

7. Biaya administrasi Komisi akan dipenuhi oleh kontribusi dari Tinggi Pihak yang membuat deklarasi berdasarkan
ayat 2, dan oleh sumbangan sukarela. Partai atau Pihak yang meminta konflik memajukan penyelidikan dana yang
diperlukan untuk biaya yang dikeluarkan oleh Dewan dan harus diganti oleh Partai atau Pihak terhadap tuduhan
yang dibuat dengan tingkat 50 persen dari biaya dari Kamar. Di mana ada kontra-tuduhan sebelum Chamber
memajukan masing-masing pihak 50 persen dari dana yang diperlukan.

Pasal 91. Tanggung jawab

Sebuah konflik Pihak yang melanggar ketentuan-ketentuan dalam Konvensi atau Protokol ini akan, jika kasus
tuntutan, bertanggung jawab untuk membayar ganti rugi. Itu akan bertanggung jawab untuk semua kegiatan yang
dilakukan oleh orang-orang yang membentuk bagian dari angkatan bersenjata.

37
Bagian IV. Final Resolusi

Pasal 92. Signature

Protokol ini akan terbuka untuk ditandatangani oleh Para Pihak ke Konvensi enam bulan setelah penandatanganan
Final Act dan akan tetap terbuka untuk suatu masa atau dua belas bulan.

Pasal 93. Ratifikasi

Protokol ini akan disahkan sesegera mungkin. Instrumen ratifikasi akan disimpan dengan Dewan Federal Swiss,
penyimpanan dari Konvensi.

Pasal 94. Accession

Protokol ini harus terbuka untuk aksesi oleh setiap Pihak dari Konvensi yang belum menandatanganinya. Instrumen
aksesi akan diserahkan dengan penyimpanan.

Pasal 95 .- Tanggal berlaku

1. Protokol ini mulai berlaku enam bulan setelah dua instrumen ratifikasi atau aksesi telah disimpan.

2. Untuk setiap Pihak pada Konvensi setelah ratifikasi atau aksesi pada Protokol ini, itu akan mulai berlaku enam
bulan setelah deposit oleh Partai seperti itu dari instrumen ratifikasi atau aksesi.

Pasal 96. Hubungan perjanjian atas atau berlakunya Protokol ini

1. Ketika Para Pihak ke Konvensi juga Pihak Protokol ini, maka Konvensi akan berlaku sebagai dilengkapi dengan
Protokol ini.

2. Ketika salah satu Pihak konflik tidak terikat oleh Protokol ini, Para Pihak pada Protokol ini akan tetap terikat oleh
itu dalam hubungan timbal balik mereka. Selanjutnya mereka akan terikat oleh Protokol ini dalam hubungannya
dengan masing-masing Pihak yang tidak terikat oleh itu, jika yang terakhir menerima dan menerapkan ketentuan
daripadanya.

3. Wewenang mewakili orang-orang yang terlibat terhadap Persetujuan Tinggi Partai dalam konflik bersenjata tipe
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, ayat 4, dapat melakukan untuk menerapkan Konvensi dan Protokol ini dalam
kaitannya dengan konflik itu melalui suatu deklarasi sepihak yang ditujukan kepada penyimpanan. Deklarasi
semacam itu akan, pada yang penerimaan oleh penyimpanan, memiliki dalam kaitannya dengan konflik efek berikut:
(a) Konvensi dan Protokol ini dibawa berlaku untuk kata otoritas sebagai Partai dalam konflik yang berlaku segera;
(b) kata otoritas menganggap hak yang sama dan kewajiban sebagai orang-orang yang telah diasumsikan oleh
Kontraktor Tinggi Pihak pada Konvensi dan Protokol ini dan
(c) Konvensi dan Protokol ini sama-sama mengikat semua negara untuk konflik.

Pasal 97. Amandemen

1. Persetujuan Tinggi Setiap Pihak dapat mengusulkan amandemen Protokol ini. Teks dari setiap usulan perubahan
akan disampaikan kepada penyimpanan, yang akan memutuskan, setelah berkonsultasi dengan semua Pihak Tinggi
dan Komite Internasional Palang Merah, apakah konferensi harus bersidang untuk mempertimbangkan amandemen
yang diusulkan.

2. The penyimpanan akan mengundang ke konferensi semua Pihak Tinggi serta Pihak pada Konvensi, apakah atau
tidak mereka penandatangan atau Protokol ini.

Pasal 98. Revisi Lampiran I

1. Tidak lebih dari empat tahun setelah berlakunya Protokol ini dan setelah itu pada interval tidak kurang dari empat
tahun, Komite Internasional Palang Merah harus berkonsultasi dengan Pihak Tinggi tentang Annex I Protokol ini dan,
jika dianggap perlu , dapat mengusulkan pertemuan para ahli teknis untuk meninjau Lampiran I dan untuk
mengusulkan perubahan tersebut sebagai mungkin tampak diinginkan. Kecuali, dalam waktu enam bulan dari
komunikasi dari sebuah proposal untuk suatu pertemuan untuk Pihak Tinggi, sepertiga dari mereka objek, Komite
Internasional Palang Merah akan mengadakan pertemuan, juga mengundang para pengamat dari organisasi
internasional yang tepat. Pertemuan tersebut juga akan diselenggarakan oleh Komite Internasional Palang Merah
setiap saat atas permintaan sepertiga dari Pihak Tinggi.

2. The penyimpanan akan mengadakan konferensi Tinggi Pihak dan Para Pihak ke Konvensi untuk
mempertimbangkan amandemen yang diusulkan oleh pertemuan para ahli teknis jika, setelah pertemuan itu, Komite

38
Internasional Palang Merah atau sepertiga dari Tinggi Pihak begitu permintaan .

3. Amandemen Annex I dapat diadopsi pada konferensi seperti oleh dua pertiga mayoritas dari Tinggi Pihak hadir
dan memberikan suara.

4. The penyimpanan harus menyampaikan perubahan yang begitu diadopsi untuk Pihak Tinggi dan kepada Pihak
dari Konvensi. Amandemen akan dianggap telah diterima pada akhir periode satu tahun setelah telah begitu
dikomunikasikan, kecuali dalam periode itu deklarasi non-penerimaan amandemen telah disampaikan kepada
penyimpanan dengan tidak kurang dari sepertiga Tinggi Pihak.

5. Amandemen dianggap telah diterima sesuai dengan ayat 4 berlaku tiga bulan setelah penerimaan untuk semua
Pihak tinggi daripada yang lain yang telah membuat pernyataan non-penerimaan sesuai dengan ayat. Setiap Partai
membuat deklarasi semacam itu dapat setiap saat menarik dan amandemen kemudian akan berlaku untuk Partai
tiga bulan setelahnya.

6. The penyimpanan harus memberitahukan kepada Pihak Tinggi dan Para Pihak ke Konvensi berlakunya
perubahan apapun, dari kedua belah pihak terikat dengan demikian, dari tanggal berlakunya dalam hubungannya
dengan masing-masing Partai, dari deklarasi non-penerimaan yang dibuat sesuai dengan ayat 4, dan penarikan
deklarasi tersebut.

Pasal 99 - Penarikan diri

1. Dalam hal Kontraktor Tinggi Partai harus mencela Protokol ini, pengecaman hanya akan berlaku satu tahun
setelah diterimanya instrumen pengecaman. Namun, jika pada berakhirnya tahun itu Partai mencela terlibat dalam
salah satu situasi yang dimaksud dalam Pasal I, pengaduan tidak akan berlaku sebelum akhir konflik bersenjata atau
pekerjaan dan tidak, dalam hal apapun, sebelum operasi terhubung dengan final release, repatriasi atau
pembentukan kembali orang-orang yang dilindungi oleh Konvensi atau Protokol ini telah dihentikan.

2. Pengecaman diberitahukan secara tertulis kepada penyimpanan, yang akan mengirimkan kepada semua Pihak
Tinggi.

3. Pengecaman hanya mempunyai efek sehubungan dengan Partai mencela.

4. Setiap pengaduan dalam ayat 1 tidak akan mempengaruhi kewajiban yang sudah dikeluarkan, dengan alasan
konflik bersenjata, di bawah Protokol ini oleh Partai mencela seperti itu sehubungan dengan tindakan yang dilakukan
sebelum pengecaman ini menjadi efektif.

Pasal 100 - Notifikasi

The penyimpanan harus memberitahukan Pihak Tinggi serta Pihak pada Konvensi, apakah atau tidak mereka
penandatangan Protokol ini, dari:
(a) tanda tangan menempel pada Protokol ini dan disimpannya instrumen ratifikasi dan aksesi berdasarkan Pasal 93
dan 94;
(b) tanggal berlakunya Protokol ini berdasarkan Pasal 95;
(c) komunikasi dan deklarasi yang diterima berdasarkan Pasal 84, 90 dan 97;
(d) pernyataan yang diterima berdasarkan Pasal 96, ayat 3, yang harus disampaikan oleh metode tercepat dan
(e) pembatalan dalam Pasal 99.

Pasal 101. Pendaftaran

1. Setelah berlakunya, Protokol ini akan ditularkan oleh penyimpanan ke Sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa
untuk pendaftaran dan publikasi, sesuai dengan Pasal 102 dari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

2. Para penyimpanan juga harus memberitahukan Sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa dari semua ratifikasi,
aksesi dan pembatalan yang diterima olehnya berkenaan dengan Protokol ini.

Pasal 102. Teks otentik

Asli dari Protokol ini, yang dalam bahasa Arab, Cina, Inggris, Perancis, Rusia dan Spanyol sama-sama otentik, akan
disimpan dengan penyimpanan, yang akan mengirimkan salinan daripadanya bersertifikat benar untuk semua Pihak
pada Konvensi.

39
TUGAS HUMANITER
Protokol Tambahan I

DISUSUN OLEH :
M. Taufik Abdaha
0852011140
M. Imron Suhada
0852011138
M. Ersyad Bafadhal
0852011151

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG

40