Anda di halaman 1dari 14

Gubernur Jawa Barat

PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT


NOMOR : .............................29 TAHUN 2006
TENTANG
PEDOMAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS
GUBERNUR JAWA BARAT,
Menimbang

Mengingat

: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 23


ayat (2) Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 7
Tahun 2008 tentang Peyelenggaraaan Pendidikan, perlu
ditetapkan Peratuaran Gubernur Jawa Barat Tentang
Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Layanan Khusus,
: 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950 tentang
Pembentukan Provinsi Jawa Barat (Berita Negara
tanggal 4 Juli 1950);
2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2003
Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301);
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004
Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437);
jo. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang
Penetapan Paraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan
Daerah
menjadi
Undang-Undang
(Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4493);
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244) sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun
2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 246), dan
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58);
1

5. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang


Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara
Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4578);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang
Pedoman
Pembinaan
dan
Pengawasan
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Tahun 2001 Nomor 165, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4593);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang
Pengelolaan
dan
Penyelenggaraan
Pendidikan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5105);
sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang
Pengelolaan
dan
Penyelenggaraan
Pendidikan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5157);
8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahun
2009 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan
Pengawas Satuan Pendidikan;
9. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia
Nomor
72
Tahun
2013
tentang
Penyelenggaraan Pendidikan Layanan Khusus;
10.Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 17 Tahun
2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban
Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2000
Nomor 22 Seri D);
11. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 7 Tahun
2008 tentang Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran
Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2008 Nomor 6 Seri E,
Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor
43);
12. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 10
Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintah Provinsi Jawa
Barat (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun
2008 Nomor 9 Seri D, Tambahan Lembaran Daerah
Provinsi Jawa Barat Nomor 46);

MEMUTUSKAN :
Menetapkan

: PERATURAN
GUBERNUR
TENTANG
PEDOMAN
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS

BAB I
2

KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan :
(1)
Daerah adalah Provinsi Jawa Barat
(2)
Pemerintah Daerah adalah Gubernur dan Perangkat Daerah sebagai
unsur penyelenggara pemerintahan Daerah.
(3)
Gubernur adalah Gubernur Jawa Barat.
(4)
Dinas adalah Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
(5)
Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
(6)
Bidang adalah Bidang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan
Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
(7)
Pendidikan Layanan Khusus (PLK) adalah pendidikan bagi peserta
didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang
terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak
mampu dari segi ekonomi.
(8)
Peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang adalah peserta
didik yang bertempat tinggal di daerah yang secara geografis terletak
jauh dari jangkauan pelayanan pendidikan formal maupun nonformal.
(9)
Peserta didik pada masyarakat adat terpencil adalah peserta didik
yang bertempat tinggal di dalam lingkungan masyarakat yang secara
geografis, sosial, dan kultural terpisah dari komunitas masyarakat pada
umumnya karena ikatan adat tertentu.
(10) Peserta didik yang terkena bencana alam adalah peserta didik yang
tidak dapat mengikuti dan/atau menyelesaikan pendidikan akibat
terkena bencana alam dalam kurun waktu tertentu.
(11) Peserta didik yang tidak mampu dari segi ekonomi adalah peserta
didik dari lingkungan keluarga yang memiliki pendapatan di bawah ratarata secara ekonomi.
(12) Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang
menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan
informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.
(13) Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya
terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai
sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.
(14) Sekolah kecil adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal
yang menyelenggarakan pendidikan berdiri sendiri untuk memenuhi
kebutuhan pendidikan suatu kelompok masyarakat dengan jumlah
peserta didik sekurang-kurangnya 3 ( tiga ) orang.
(15) Sekolah terbuka adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal
yang berdiri sendiri tetapi merupakan bagian dari sekolah induk yang
penyelenggaraan pendidikannya menggunakan metode belajar mandiri.
(16) Sekolah darurat adalah bentuk satuan layanan pendidikan formal
yang didirikan pada saat situasi bencana alam dan/atau bencana sosial
yang bersifat sementara.
(17) Sekolah terintegrasi adalah salah satu bentuk satuan layanan
pendidikan yang dilaksanakan antar jenjang pendidikan dalam satu
lokasi dan memiliki satu organisasi serta satu manajemen.
(18) Sekolah induk adalah sekolah yang memenuhi syarat untuk menjadi
pembina dari satu atau lebih bentuk Pendidikan Layanan Khusus.
3

BAB II
TUJUAN DAN RUANG LINGKUP
Pasal 2
(1)
Penyelenggaraan Pendidikan Layanan Khusus bertujuan
menyediakan akses pendidikan
bagi peserta didik agar haknya
memperoleh pendidikan terpenuhi.
(2)
Ruang lingkup penyelenggaraan Pendidikan Layanan Khusus
meliputi jalur pendidikan formal, non formal, dan informal pada semua
jenjang pendidikan.

BAB III
KELEMBAGAAN
Pasal 3
(1)PLK diselenggarakan dalam bentuk satuan pendidikan dan/atau
program layanan pendidikan.
(2)PLK diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau
masyarakat.
Pasal 4
(1)Bentuk penyelenggaraan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (1) pada jalur pendidikan formal yaitu :
a. Sekolah Kecil,
b. Sekolah Terbuka
c. Sekolah Darurat, dan
d. Sekolah Terintegrasi
(2)Sekolah Kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
menyelenggarakan layanan pendidikan untuk jumlah peserta didik
sekurang-kurangnya 3 ( tiga) orang.
(3)Sekolah Terbuka sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
menyelenggarakan layanan pendidik/guru kunjung dari sekolah induk.
(4)Sekolah Darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
menyelenggarakan layanan pada saat situasi bencana alam dan/atau
bencana sosial.
(5)Sekolah Terintegrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d
menyelenggarakan pendidikan yang dilaksanakan antar jenjang
pendidikan dalam satu lokasi.
Pasal 5
Program layanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1)
antara lain:
a. pemindahan peserta didik ke daerah lain dengan fasilitas bantuan
pendanaan dan/atau asrama;
b. bantuan dana tranportasi;
c. kunjungan pendidik dan/atau guru;
d. pendidikan jarak jauh yang menyelenggarakan layanan pendidikan
tertulis,
radio, audio, video, TV, dan/atau berbasis IT;
4

e. layanan lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan


perundang -undangan.
BAB IV
PENYELENGGARAAN
Pasal 6
(1)Penyelenggaraan PLK dapat dilaksanakan secara terintegrasi antar
jenjang pendidikan dan/atau antar jenis pendidikan.
(2)PLK pada jalur pendidikan formal atau nonformal diselenggarakan
dengan cara menyesuaikan waktu, tempat, sarana dan prasarana
pembelajaran, pendidik dan tenaga kependidikan, bentuk, program
dan/atau sumber daya pembelajaran lainnya dengan kondisi kesulitan
peserta didik.
(3)PLK memberikan layanan peserta didik di daerah :
a. Terpencil atau terbelakang,
b. Masyarakat adat yang terpencil
c. Yang mengalami bencana alam,
d. Yang mengalami bencana sosial, dan/atau
e. Yang tidak mampu dari segi ekonomi.
(4)Daerah terpencil atau terbelakang sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) huruf a merupakan daerah yang mempunyai kriteria sebagai
berikut :
a. Akses transportasi sulit dijangkau dan mahal disebabkan oleh tidak
tersedianya jalan raya, tergantung pada jadwal tertentu,tergantung
pada cuaca,satu-satunya akses dengan jalan kaki, memiliki
hambatan dan tantangan alam yang besar;
b. Tidak tersedia dan/atau sangat terbatasnya layanan fasilitas
umum, fasilitas kesehatan, fasilitas listrik, fasilitas informasi dan
komuniksi, dan sarana air bersih, dan/atau ;
c. Tingginya harga-harga dan/atau sulitanya ketersediaan bahan
pangan, sandang, dan papan atau perumahan untuk pemenuhan
kebutuhan hidup.
(5)Daerah masyarakat adat yang terpencil sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) huruf b merupakan masyarakat dengan kriteria adanya
resistensi masyarakat lokal terhadap perubahan nilai-nilai budaya,
sosial, dan adat istiadat.
(6) Penyelenggaraan PLK pada jalur pendidikan formal berupa :
a. Sekolah atau madrasah kecil;
b. Sekolah atau madrasah terbuka;
c. Sekolah atau madrasah darurat;
d. Sekolah atau madrasah dengan tugas belajar khusus; dan/atau
e. Bentuk lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
(7)
Penyelenggaraan PLK pada jalur pendidikan nonformal dapat
berbentuk pendidikan kecakapan hidup, pendidikan kepemudaan,
pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan
fungsional, pendidikan keterampilan fungsional dan pelatihan kerja,
5

serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan


kemampuan peserta didik.
(8)
Peserta didik yang mengalami korban bencana alam atau
bencana sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c dan
huruf d merupakan daerah terkena musibah bencana alam atau
bencana sosial yang mengakibatkan :
a. Minimnya fasilitas perlindungan keamanan, baik fisik maupun
nonfisik;
b. Hilangnya fasilitas sarana pelayanan umum berupa fasilitas
pendidikan , fasilitas kesehatan, fasilitas listrik, fasilitas informasi
dan komuniksi, dan sarana air bersih, dan /atau;
c. Ditetapkan sebagai daerah bencana alam, bencana sosial, atau
daerah yang berada dalam keadaan darurat lain oleh pejabat
pemerintah yang berwenang.
(9)
Peserta didik yang tidak mampu dari segi ekonomi sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) huruf e merupakan peserta didik di
lingkungan masyarakat yang antara lain :
a. Jumlah pendapatanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
hidup minimal;
b. Mempunyai akses terbatas pada kegiatan ekonomi;
c. Secara sengaja ataupun tidak sengaja menjadi korban tindak
kejahatan sosial, dan/atau;
d. Keadaan tertentu lainnya yang menyebabkan kekurangan ekonomi.
(10)
Penyelenggaraan PLK merupakan tanggung jawab Pemerintah
dan Pemerintah Daerah.
(11)
Masyarakat memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk
membantu
pemerintah
dan
pemerintah
daerah
dalam
penyelenggaraan PLK.
BAB V
PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS
Fungsi Pendidikan
Pasal 7
PLK berfungsi memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan
kepada peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat
adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana
sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi dalam rangka mencapai
tujuan pendidikan nasional.
Peserta Didik
Pasal 8
(1)Peserta didik yang memerlukan PLK meliputi:
a. peserta didik di daerah terpencil dan/atau terbelakang;
b. peserta didik pada masyarakat adat yang terpencil;
c. peserta didik yang berada di daerah yang mengalami bencana alam
dan/atau bencana sosial;
d. peserta didik yang berasal dari keluarga yang tidak mampu dari segi
ekonomi;
6

e. pesertadidik yang memiliki hambatan belajar temporer maupun


permanen dalam pendidikan.
(2) Daerah terpencil atau terbelakang sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf .a merupakan daerah yang mempunyai kriteria sebagaimana
berikut :
a. akses transportasi sulit dijangkau dan mahal disebabkan oleh tidak
tersedianya jalan raya, tergantung pada jadwal tertentu, tergantung
pada cuaca, satu-satunya akses dengan jalan kaki, memiliki hambatan
dan tantangan alam yang besar.Peserta didik PLK diprioritaskan bagi
anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
b. Jumlah peserta didik PLK per rombongan belajar/kelompok belajar
disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan layanan pendidikan.
c. Peserta didik harus terdaftar pada PLK.
d. Peserta didik pada PLK harus memperoleh Nomor Induk Siswa
Nasional (NISN) dari Kementerian.
(3)Peserta didik yang memerlukan PLK terdiri atas peserta didik yang
mengalami kesulitan mengikuti dan/atau menyelesaikan pendidikan
karena tinggal di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat
yang terpencil, dan/atau mengalami
bencana alam, bencana sosial,
dan tidak mampu dari segi ekonomi.
(4)Peserta didik yang memerlukan PLK mempunyai hak:
a. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang
dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama;
b. mendapatkan jaminan kelangsungan pendidikan;
c. mendapatkan perlindungan hukum;
d. mendapatkan jaminan keamanan;
e. memperoleh layanan pendidikan sesuai dengan jenis dan tingkat
kebutuhannya;
f. memperoleh bantuan fasilitas belajar, atau bantuan lain sesuai
dengan kemampuan pemerintah, pemerintah daerah provinsi,
pemerintah daerah kabupaten/kota serta masyarakat
g. memperoleh kemudahan dari pihak terkait untuk menggunakan
sarana dan prasarana fisik dan non fisik untuk menunjang kelancaran
pembelajaran;
h. pindah ke sekolah yang sederajat atau melanjutkan ke satuan
pendidikan yang lebih tinggi;
i. mengikuti program PLK sesuai dengan kondisi dan situasi setempat;
j. menyelesaikan program PLK lebih cepat atau lebih lambat dari waktu
yang ditentukan; dan
k. mengikuti jadwal kegiatan PLK.
Kewajiban Peserta Didik
Pasal 9
Peserta didik yang memerlukan PLK mempunyai kewajiban:
a.
mematuhi ketentuan peraturan yang berlaku sesuai dengan kondisi
dan situasi setempat.
7

b.

ikut menjaga dan memelihara sarana dan prasarana, kebersihan,


ketertiban, serta keamanan lingkungan penyelenggaraan program
PLK.

Kurikulum
Pasal 10
(1)Kurikulum yang digunakan pada PLK mengacu kepada standar
kurikulum nasional yang disesuaikan dengan jenis dan satuan
pendidikan, serta kondisi dan situasi setempat.
(2)Kurikulum PLK dilaksanakan dengan memperhatikan kesesuainya
terhadap kebutuhan satuan pendidikan dan program layanan
pendidikan.
(3)Kurikulum PLK disusun mengikuti ketentuan yang berlaku dan/atau
mengikuti kurikulum sekolah induk.
(4)Materi pembelajaran PLK disajikan dalam bentuk pembelajaran tatap
muka dan/atau pemberian buku, modul dan/atau bahan ajar lain yang
sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Proses Pembelajaran
Pasal 11
(1)Proses pembelajaran PLK dilaksanakan dengan memperhatikan:
a. Tempat pembelajaran disesuaikan dengan ketersediaan dan
kelayakan
b. Waktu pembelajaran dilaksanakan berdasarkan kesepakatan antara
penyelenggara , pendidik dan peserta didik,
c. Sistem pembelajaran dilakukan dalam bentuk klasikal, tutorial, tatap
muka, jarak jauh, dan/atau mandiri, dan
d. Jumlah jam mengajar pendidik kunjung disesuaikan dengan kondisi
PLK tanpa mengurangi capaian standar kompetensi dan kompetensi
dasar.
(2)Pembelajaran praktek dapat dilakukan pada satuan pendidikan
terdekat atau lembaga lain yang memiliki fasilitas yang memadai.
(3)Pelaksanaan pembelajaran dapat menggunakan media berbasis
teknologi informasi dan komunikasi.
(4)Satuan pendidikan yang sudah ada dapat mengusulkan untuk
menyelenggarakan program layanan pembelajaran PLK kepada Dinas
Pendidikan.
Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pasal 12
(1)Pendidik dan tenaga kependidikan pada PLK disediakan oleh
pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
(2)Pendidik dan tenaga kependidikan PLK harus memenuhi kompetensi
yang sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lokasinya.

(3)Pendidik dan tenaga kependidikan PLK mendapatkan tunjangan dan


penghargaan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
(4) Pendidik dan tenaga kependidikan pada PLK merupakan pendidik dan
tenaga kependidikan yang disiapkan secara khusus untuk melayani
PLK.
(5) Ketentuan mengenai pengadaan pendidik dan tenaga kependidikan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Surat
Keputusan Gubernur.
Sarana dan Prasarana Pendidikan
Pasal 13
(1)Sarana dan prasarana yang digunakan pada PLK menggunakan
sarana dan prasarana sesuai dengan kondisi dan lokasi setempat.
(2)Sarana dan prasarana PLK sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
akan diatur lebih lanjut dalam petunjuk pelaksanaan.
(3)Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat memfasilitasi sarana
dan prasarana PLK yang disesuaikan dengan kondisi setempat melalui
kelompok kerja atau satuan tugas.
(4)Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai
dengan Peraturan Menteri dan/atau Peraturan Daerah sesuai lingkup
kewenangan masing-masing.
(5)Penyelenggara satuan pendidikan menyediakan sarana dan prasarana
pendidikan yang memadai dan menjamin kelancaran program
pendidikan.
(6)Pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat memfasilitasi sarana
dan prasarana pendidikan yang disesuaikan dengan kondisi setempat.
(7)Sarana dan prasarana satuan pendidikan harus memenuhi
persyaratan Standar Nasional Pendidikan yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Penilaian Hasil Belajar


Pasal 14
(1)Penilaian hasil belajar peserta didik PLK dilaksanakan oleh pendidik.
(2)Penilaian hasil belajar peserta didik dalam satuan pendidikan jarak
jauh dilaksanakan oleh pendidik.
(3)Penilaian akhir hasil belajar pada setiap jenjang PLK dilakukan melalui
ujian sekolah dan ujian nasional.
(4)Ujian nasional pada PLK mengikuti prosedur operasional standar yang
berlaku.
Standar Kompetensi Lulusan
Pasal 15
9

(1)Standar Kompetensi Lulusan PLK disusun oleh Badan Standar Nasional


Pendidikan (BSNP) dan ditetapkan oleh Menteri.
(2)Peserta didik PLK dinyatakan lulus apabila telah lulus ujian
sekolah/ujian satuan pendidikan dan memenuhi nilai minimal ujian
nasional.
(3)Peserta ujian yang lulus berhak mendapatkan ijazah dan/atau sertifikat
kompetensi.
(4)Ijazah dan/atau sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat
(3)
diterbitkan oleh satuan pendidikan yang menyelenggarakan PLK,
sebagai tanda bahwa peserta didik yang bersangkutan telah lulus dari
satuan pendidikan.
(5) Penilaian hasil belajar peserta didik PLK mengacu ketentuan yang
berlaku pada satuan pendidikan umum dan/atau satuan pendidikan
kejuruan dan/atau satuan pendidikan nonformal, yang pelaksanaannya
disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.
(6) Peserta didik yang tidak memungkinkan dapat mengikuti sistem
penilaian sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada satuan
pendidikan umum dan/atau satuan pendidikan kejuruan dan/atau
satuan
pendidikan
nonformal,
satuan
pendidikan
dapat
menyelenggarakan penilaian hasil belajar secara khusus.
(7) Peserta didik yang telah lulus pada satuan pendidikan tertentu
diberikan ijazah oleh satuan pendidikan yang terakreditasi.
Pengelolaan
Pasal 16
(1)Pengelolahan PLK dilaksanakan dengan menerapkan manajemen
berbasis PLK.
(2)Pemerintah dan/atau pemerintah daerah berkewajiban membiayai
pengelolaan PLK.
(3)Penyelenggaraan PLK dapat bekerja sama dengan satuan pendidikan
atau lembaga lain yang memiliki fasilitas pendidikan.
(4)Pengelolaan satuan pendidikan bagi peserta didik dilaksanakan
berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip kemandirian
dan manajemen berbasis PLK.
(5)Pengelolaan PLK bagi peserta didik mencakup perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan, pelaporan, dan pertanggungjawaban yang
meliputi komponen:
a. kurikulum;
b. proses dan hasil pembelajaran;
c. administrasi dan manajemen satuan pendidikan;
d. organisasi kelembagaan satuan pendidikan;
e. sarana dan prasarana;
f. ketenagaan;
g. pembiayaan;
h. peserta didik;
i. peran serta masyarakat;
j. lingkungan/budaya sekolah; dan
10

k. rehabilitasi sosial, edukatif, dan medis.


(6)Perencanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) disusun oleh
lembaga induk bersama stakeholder lainnya dalam bentuk Rencana
Pengembangan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pengembangan
Jangka Menengah (RPJM), dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP).
(7)KTSP harus disusun setiap tahun mencakup: visi, misi, tujuan sekolah,
beban belajar, struktur dan muatan kurikulum, kalender pendidikan
dengan pengesahan oleh Kepala Dinas Pendidikan.
(8)Pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan
oleh penanggungjawab penyelenggara kegiatan dan/atau sekolah
induk.
(9)Untuk keperluan pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud dalam
ayat (4) pada bidang keuangan, penyelenggara dapat menunjuk
akuntan publik atas beban pembiayaan operasional PLK.
Pendanaan
Pasal 17
(1)Pendanaan PLK bersumber dari pemerintah, pemerintah daerah,
dan/atau masyarakat, serta sumber lain yang sah dan tidak mengikat.
(2)Pendanaan disesuaikan dengan kebutuhan PLK.
(3)Biaya PLK diatur dengan standar biaya khusus yang ditetapkan oleh
pemerintah daerah.
BAB VI
TATA CARA PENDIRIAN DAN PENUTUPAN
Pasal 18
(1)Pendirian PLK dapat dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah,
lembaga berbadan hukum dan/atau masyarakat;
(2)Persyaratan pendirian PLK :
a. Studi kelayakan;
b. Rencana induk pengembangan PLK;
c. Sumber peserta didik;
d. Pendidik dan tenaga kependidikan;
e. Kurikulum;
f. Sumber pembiayaan;
g. Sarana dan prasarana; dan
h. Penyelenggaraan PLK.
(3)Tata cara pendirian PLK meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
a.Usul rencana pendirian PLK oleh pemrakarsa.
b. Pemberian pertimbangan oleh Kepala Dinas Pendidikan.
(4)Persetujuan pendirian PLK yang diselenggarakan oleh masyarakat
dilakukan
oleh pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
(5)Izin penyelenggaraan PLK yang diselenggarakan oleh pemerintah
kabupaten/kota ditetapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan sesuai
dengan kewenangannya.
11

(6)Dalam keadaan darurat, masyarakat dapat menyelenggarakan PLK


terlebih dahulu kemudian menggunakan perizinan.
Pasal 18
(1)Dokumen persyaratan perizinan penyelenggaraan PLK terdiri dari:
a. Uraian jenis satuan pendidikan dan/atau program PLK yang akan
dilaksanakan,
b. Akte pendirian dan AD/ART satuan pendidikan atau program layanan
pendidikan, sedangkan PLK yang akan melayani anak usia dini yang
diselenggarakan oleh perorangan dapat menggunakan KTP;
c. Surat keterangan domisili;
d. Struktur organisasi penyelenggara;
e. Daftar pendidik dan tenaga kependidikan;
f. Daftar peserta didik atau calon peserta didik; dan
g. Daftar inventaris sarana-prasarana.
(2)Dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan sebagai
lampiran surat permohonan izin pendirian.
Pasal 19
(1)Izin pendirian PLK berlaku selama masih memenuhi persyaratan.
(2)Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dapat mencabut izin
pendirian PLK bila sudah tidak dibutuhkan.
(3)PLK pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
ayat (1) yang sudah memiliki izin memperoleh Nomor Pokok Sekolah
Nasional dari Kementerian.
BAB VII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 20
(1)Pembinaan PLK menjadi tanggung jawab pemerintah
dan/atau
pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.
(2)Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pembinaan
peserta didik,
pendidik dan tenaga kependidikan, proses
pembelajaran, dan kelembagaan.
(3)Pembinaan PLK menjadi tanggung jawab Gubernur.
Pasal 21
(1)Evaluasi atas penyelenggaraan PLK dilakukan oleh pemerintah
dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.
(2)Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
prinsip transparansi dan akuntabilitas publik.
Pengawasan
Pasal 22
(1)Pemerintah provinsi dan masyarakat melakukan pengawasan terhadap
penyelenggaraan PLK
(2)Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa
pengawasan administratif yang dilakukan oleh Inspektorat Provinsi
(3)Dewan Pendidikan Provinsi melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan satuan PLK pada semua jalur
dan jenjang pendidikan sesuai dengan kewenangannya.
12

(4)Pemerintah Provinsi dan Dewan Pendidikan menyebarluaskan hasil


pengawasan secara terbuka sebagai bentuk dari akutanbilitas publik.
(5)Pengawasan satuan pendidikan meliputi pemantauan, supervisi,
evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut hasil pengawasan.
(6)Pengawasan dilakukan oleh pendidik, kepala satuan pendidikan,
kelompok kerja atau satuan tugas dan pengawas satuan pendidikan
sesuai dengan kewenangan masing-masing.
(7)Pemerintah Daerah mensupervisi dan membantu penjaminan mutu
satuan PLK.
BAB VIII
PELAPORAN DAN PENJAMINAN MUTU
Pasal 24
(1)PLK harus membuat laporan penyelenggaraan minimal satu kali dalam
satu tahun kepada dinas pendidikan dengan tembusan kepada
Gubernur.
(2)Pelaporan penyelenggaraan PLK terdiri atas pelaporan satuan
pendidikan, program layanan pendidikan, data pokok pendidikan dan
evaluasi diri PLK.
(3)Penjaminan mutu dilakukan bersama oleh pemerintah daerah, dan
penyelenggara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
(4)Pemerintah daerah menjamin terselenggaranya PLK sesuai dengan
kebutuhan peserta didik.
(5)Pemerintah daerah menyediakan sumber daya PLK yang diperlukan
untuk mencapai mutu yang dipersyaratkan.
BAB IX
PERAN SERTA MASYARAKAT
Pasal 25
(1)Masyarakat dapat berpartisipasi dalam perluasan akses dan
peningkatan mutu penyelenggaraan PLK.
(2)Partisipasi masyarakat sebagaimana dimaksud ayat (1)
dapat
dilakukan dalam bentuk penyelenggaraan, sosialisasi, advokasi, dan
kegiatan lainnya yang mendukung perluasan akses dan peningkatan
mutu.
BAB X
PENUTUP
Pasal 26
Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Gubernur ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah
Provinsi Jawa Barat.
13

Ditetapkan di Bandung
pada tanggal ...................................
GUBERNUR PROVINSI JAWA BARAT
H. AHMAD HERYAWAN

14