Anda di halaman 1dari 21

1.

Pengertian Imunisasi Anak


Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara
aktif terhadap suatu antigen, sehingga apabila kelak terpajan antigen yang
serupa tidak terjadi penyakit (Ranuh, 2008).
Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak
terhadap penyakit tertentu sehingga tidak terserang penyakit tersebut dan
apabila terserang penyakit tersebut tidak berakibat fatal (Depkes RI, 2005)
Imunisasi adalah usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan
memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk
mencegah terhadap penyakit tersebut (hidayat, 2005)
Secara umum, imunisasi dapat dibagi menjadi dua jenis :
a. Imunisasi Aktif
Imunisasi aktif adalah pemberian suatu bibit penyakit yang telah
dilemahkan (vaksin) untuk meransang pembentukan antibody spesifik dan
memori terhadap antigen ini sehingga ketika terpapar lagi, tubuh dapat
mengenali dan meresponnya. Contoh imunisasi aktif adalah imunisasi
polio dan campak.
b. Imunisasi Pasif
Imunisasi pasif adalah proses peningkatan kekebalan tubuh dengan cara
pemberian immunoglobulin, yaitu zat yang dihasilkan melalui proses
infeksi yang berasal dari plasma manusia (kekebalan yang didapat bayi
dari ibu melalui plasenta) atau binatang (misalnya bisa ular) yang
digunakan untuk mengatasi mikroba yang sudah masuk kedalam tubuh
yang terinfeksi. Contoh imunisasi pasif adalah menyuntikan ATS (anti
tetanus serum) pada orang yang mengalami luka akibat kecelakaan.
2. Tujuan Imunisasi Anak
Tujuan pemberian imunisasi (ranuh, 2008), yaitu untuk mencegah terjadinya
penyakit tertentu pada seseorang, menghilangkan penyakit tertentu pada
sekelompok masyarakat, dan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia.
3. Jenis-Jenis Imunisasi

Imunisasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu imunisasi wajib dan imunisasi
anjuran
A. Imunisasi Wajib
1. Imunisasi BCG (Bacilli Calmette Guerin)
a. Vaksin BCG
BCG adalah vaksin yang berisi bakteri hidupmycobacterium bovis
(di Indonesia) yang sudah dilemahkan sehingga didapatkan basil
yang tidak virulen, tetapi memiliki imunogenitas. Vaksin ini
memberikan perlindungan terhadap penyakit tuberculosis (TBC).
Tuberculosis disebabkan oleh bakteri mycrobacterium tuberculosis.
Penyakit ini biasanya menyerang sistem prnafasan (TBC paru),
tetapi ia dapat juga menyerang organ tubuh lainnya.
b. Kemasan Vaksin
Vaksin BCG dikemas dalam ampul, beku kering. Satu kotak berisi
10 ampul vaksin, dan setiap ampul dilengkapi dengan 4 mL
pelarut. Sebelum digunakan, vaksin harus diencerkan terlebih
dahulu.
Vaksin BCG tidak boleh terkena sinar matahari dan harus disimpan
pada suhu 2-8oC (tidak boleh beku). Vaksin yang sudah diencerkan
tidak boleh digunakan kembali dan harus dibuang dalam 8 jam.

c. Cara Pemberian Dan Dosis


Vaksin BCG diberikan pada bayi berusia < 2 bulan. Sebaiknya
vaksin ini diberikan pada bayi dengan uji tuberculin (uji mantoux)
negative. Dosis BCG untuk bayi (< 1 tahun) adalah 0,05 mL,
sedangkan dosis BCG untuk anak adalah 0,10 mL.
Vaksin BCG diberikan melalui suntikan secara intrakutan didaerah
insersio muskulus deltoideus kanan (lengan kanan atas). Lokasi ini
dipilih karena penyuntikan lebih mudah dilakukan di daerah ini
(lemak subkutis tebal) dan ulkus yang terbentuk tidak mengganggu
struktur otot setempat. Jarum suntik yang digunakan disesuaikan

dengan usia bayi atau anak. Umumnya jarum suntik yang


digunakan berukuran 26 dengan panjang 10 mm.
d. Kontra Indikasi
Imunisasi BCG tidak boleh diberikan pada kondisi:
1) Reaksi tes mantuox lebih dari 5 mm
2) Menderita infeksi HIV atau resiko tinggi infeksi HIV
3) Immunocompromised (luluh imun) akibat pengobatan
4)
5)
6)
7)
8)
9)

kortikosteroid
Efek imunosupresif
Pengobatan radiasi
Keganasan sumsum tulang atau sistem limfe
Gizi buruk
Demam tinggi
Penyakit kulit yang berat atau menahun, misalnya eksim dan

furunkulosis
10) Pernah menderita TBC
11) Menderita immunodefisiensi
e. KIPI Dan Reaksi Samping Imunisasi
Setelah imunisasi BCG, reaksi yang timbul tidak seperti pada
imunisasi

dengan

vaksin

yang

lain.

Imunisasi

ini

tidak

menyebabkan demam.
KIPI pada imunisasi BCG adalah bisul kecil (papula) yang timbul
2-6 minggu setelah imunisasi. Papula tersebut semakin membesar
dan dapat terjadi ulserasi selama 4-6 bulan, kemudian menjadi
sembuh secara perlahan (2-3 bulan) dan menimbulkan jaringan
parut bulat dengan diameter 4-8 mm.
2. Hepatitis B
a. Penyakit Hepatitis B
Imunisasi hepatitis b ditujukan untuk memberi kekebalan tubuh
terhadap penyakit hepatitis B. hepatitis B disebabkan oleh virus
yang mempengaruhi hati (liver). Penderita hepatitis B berisiko
terkena kanker hati atau kerusakan hati. Virus hepatitis B (VHB)
ditemukan dalam cairan tubuh orang yang terjangkit hepatitis B,
termasuk darah, ludah, dan air mani. Virus ini dapat menyebar

melalui kontak dengan cairan tubuh (darah, ludah, air mani)


penderita. Virus ini dapat juga ditransfer dari ibu keanak pada saat
melahirkan. Satu juta kematian per tahun disebabkan oleh infeksi
VHB. Indonesia termasuk daerah endemis sedang tinggi. Oleh
sebab itu, imunisasi hepatitis B-1 diberikan sedini mungkin sejak
lahir untuk memutuskan rantai transmisi maternal dari ibu kebayi.
b. Kemasan Vaksin
Vaksin VHB yang tersedia saat ini adalah vaksin rekombinan.
Vaksin ini berbentuk cairan. Dalam satu kotak terdapat 100 vaksin
HB PID (prefilled injection devise). PID adalah alat suntik yang
hanya bisa digunakan sekali dan telah berisi dosis tunggal dari
pabrik.
c. Cara Pemberian Dan Dosis
Vaksin VHB diberikan melalui injeksi intramuscular. Pemberian
vaksin ini didasarkan pada status HbsAg ibu pada saat melahirkan.
1) Bayi yang lahir dengan status HbsAg yang tidak diketahui
diberi vaksin rekombinan (HB Vax-11 5 ug atau Engerix B 10
ug) atau vaksin plasma derived 10 ug dalam waktu 12 jam
setelah lahir. Dosis kedua diberikan ketika bayi berusia 1-2
bulan dan dosis ketiga pada usia 6 bulan. Jika pada
pemeriksaan selanjutnya diketahui ibu memiliki HbsAg positif,
bayi segera diberi 0,5 mL HBIg (sebelum bayi berusia 1
minggu)
2) Bayi yang lahir dari ibu dengan HbsAg positif, dalam 12 jam
setelah lahir secara bersamaan diberi 0,5 mL HBIg dan vaksin
rekombinan secara IM di sisi tubuh yang berlainan. Dosis
kedua diberikan 1-2 bulan sesudahnya dan dosis ketiga
diberikan ketika bayi berusia 6 bulan.
3) Bayi yang lahir dari ibu dengan HbsAg negative, diberi vaksin
rekombinan atau vaksin plasma devided pada usia 2-6 bulan.
Dosis kedua diberikan 1-2 bulan kemudian dan dosis ketiga
diberikan 6 bulan sesudah dosis kedua.

4) Apabila sampai dengan usia 5 tahun anak belum mendapatkan


imunisasi hepatitis B, anak tersebut secepatnya diberikan catchup vaccination. Imunisasi hepatitis B ulang (hepatitis B-4)
dapat dipertimbangankan untuk anak pada usia 10-12 tahun
jika liter pencegahan belum tercapai.

d. Kontraindikasi
Imunisasi hepatitis B tidak dilakukan jika terdapat kondisi
hipersensitif terhadap komponen vaksin serta infeksi berat yang
disertai kejang.
e. KIPI Dan Reaksi Samping Imunisasi
Reaksi kipi yang umum terjadi adalah reaksi local seperti rasa
sakit,

kemerahan,

dan

pembengkakan

disekitar

tempat

penyuntikan. Reaksi ini bersifat ringan dan biasanya hilang setelah


dua hari. Kadang-kadang terjadi demam ringan 1-2 hari. Jika
demam, dapat diberikan parasetamol 15 mg/kg BB setiap 3-4 jam,
maksimal 6 kali dalam 24 jam.
3. DPT (Difteri, Pertussis, Tetanus)
a. Penyakit Difteri, Pertussis, Tetanus
Imunisasi DPT berfungsi untuk memberi ketahanan tubuh terhadap
tiga penyakit sekaligus, yaitu difteri, pertussis, tetanus. DPT ini
berisi toksoid difteri, toksoid tetanus, dan vaksin pertosis.
Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri
corynebacterium diphtheria. Penyakit ini ganas, mudah menular
dan menyerang terutama pada saluran nafas bagian atas. Penularan
difteri dapat terjadi melalui kontak lansung dengan penderita
(seperti bersin atau batuk) atau kontak tidak lansung (misalnya
karena ada makanan yang terkontaminasi lansung bakteri difteri).
Gejala penyakit difteri bervariasi, mulai dari asimtomatis (dan
penderita bertindak sebagai carrier) sampai berat yang ditandai
dengan obstruksi jalan nafas atau adanya komplikasi (misalkan

miokarditis, neuritis, paralisis ocular, paralisis diafragma, dan


gagal ginjal). Sekitar 10% penderita difteri akan meninggal akibat
penyakit ini.
Pertosis atau batuk rejan atau dikenal dengan batuk seratus hari
adalah penyakit pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh
infeksi bakteri bordetella pertussis. Bakteri ini mengeluarkan
toksin yang menurunkan ambang rangsang batuk sehinnga jika
terjadi sedikit saja rangsangan akan terjadi batuk yang hebat dan
lama. Gejala khasnya adalah batuk terus menerus dan sukar
berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan, muntah (kadangkadang) bercampur darah, serta batuk diakhiri dengan tarikan nafas
panjang, dalam dan berbunyi melengking. Penularannya biasanya
melalui udara (batuk/bersin). Pertussis dapat menyebabkan
komplikasi seperti pendarahan, kejang, peradangan paru-paru
(pneumonia),

koma,

pembengkakan

otak,

kerusakan

otak

permanen, kerusakan paru-paru jangka panjang, bahkan kematian.


Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri
clostridium tetani. Bakteri ini terdapat ditanah, debu, serta kotoran
hewan dan dapat masuk kedalam tubuh melalui luka, baik kecil
maupun besar. Penyakit ini berbahaya karena mempengaruhi
sistem saraf dan otot. Gejala awalnya adalah kejang otot rahang
(dikenal juga dengan trismus atau kejang mulut), bersamaan
dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit, dan kaku pada otot
leher, bahu, atau punggung, kesulitan menelan, kesulitan bernafas.
Penderita tetanus juga mengalami demam dan detak jantung yang
tidak normal. Komplikasi dari penyakit ini mencakup pneumonia,
patah tulang (karena kekejangan otot), gagal pernafasan, henti
jantung, dan bahkan kematian. Kekejangan otot terjadi karena
bakteri tetani mengeluarkan toksin yang disebut tetanospasmin.
Tetanospasmin

berikatan

dengan

saraf

motoric

yang

mengendalikan otot, masuk kedalam akson, dan melintas

disepanjang akson tersebut hingga mencapai badan sel saraf


motoric ini ditulang belakang atau batang otak. Akibatnya terjadi
gangguan pada aktifitas normal sel saraf.
b. Kemasan Vaksin
Terdapat tiga jenis kemasanvaksin yang berhubungan dengan
imunisasi untuk penyakit difteri, pertussis, dan tetanus, yaitu
vaksin triplet yang terdiri atas vaksin DTaP (DPT dengan
komponen acelluler pertussis), DTwP (DPT dengan whole cell
pertussis), vaksin kombinasi DT (difteri dan tetanus), serta vaksin
tunggal tetanus (TT)
c. Cara Pemberian Dan Dosis
Imunisasi dasar DPT diberikan tiga kali sejak usia 2 tahun dengan
interval 4-6 minggu. DPT-1 diberikan pada usia 2-4 bulan, DPT-2
pada usia 3-5 bulan, DPT-3 pada usia 4-6 bulan. DPT-4 diberikan
satu tahun setelah DPT-3 (sekitar 18-24 bulan) dan DPT-5
diberikan pada usia 5-7 tahun. Sejak tahun 1998, DT-5 diberikan
pada kegiatan imunisasi disekolah dasar (pada program BIAS atau
Bulan Imunisasi Anak Sekolah)
Ulangan DT-6 diberikan pada usia 12 tahun karena masih dijumpai
kasus difteri, pertussis, dan tetanus pada anak berusia > 10 tahun.
Sebaiknya untuk ulangan ini diberikan vaksin dT (adt=adult dose
untuk vaksin difteri), tetapi karena diindonesia vaksin ini belum
beredar dipasaran, vaksin yang digunakan adalah DT.
Vaksin DPT/DT diberikan melalui suntikan secara intramuscular,
baik untuk imunisasi dasar maupun ulangan dengan dosis 0,5 mL.

d. Kontraindikasi
Kontra indikasi untuk DPT antara lain:
1) Pada pemberian vaksin DPT sebelumnya, bayi atau anak
menunjukan reaksi anafilaksis

2) Anak menderita gangguan otak yang disebut ensefalopati


(ditandai dengan penurunan kesadaran dan kejang) setelah
pemberian vaksin DPT sebelumnya.
e. KIPIDan Reaksi Samping Imunisasi
Reaksi KIPI untuk vaksin ini antara lainreaksi local kemerahan,
bengkak, nyeri pada lokasi penyuntikan, demam ringan, dan
menangis terus menerus beberapa jam pasca penyuntikan. Reaksi
KIPI yang paling serius adalah bayi menangis hebat karena
kesakitan kurang lebih empat jam, kesadaran menurun, terjadi
kejang, ensefalopati akut, reaksi anafilaksis, dan syok.
4. Polio
a. Penyakit Poliomyelitis
Imunisasi polio adalah imunisasi yang dilakukan untuk mencegah
penyakit poliomyelitis. Poliomyelitis adalah penyakit yang
menyerang susunan saraf pusat yang disebabkan oleh infeksi virus
polio. Terdapat tiga serotype pada virus ini, yaitu tipe 1 (PV1), tipe
2 (PV2), dan tipe 3 (PV3). Ketiganya menginfeksi tubuh dengan
gejala yang sama. Penyakit ini menyebar melalui tinja/kotoran
orang yang terinfeksi.
Gejala umum yang terjadi akibat serangan virus polio adalah anak
tiba-tiba lumpuh pada salah satu anggota geraknya setelah demam
selama 2-5 hari. Kelumpuhan tersebut dapat menjadi permanen.
Kematian bisa terjadi jika otot-otot pernafasan terinfeksi dan tidak
segera ditangani.
Factor resiko untuk

poliomyelitis

antara

lain

malnutrisi,

tonsilektomi, dan sanitasi lingkungan kurang baik. Selain itu, virus


ini dapat ditularkan melalui plasenta ibu, sedangkan antibody yang
diberikan pasif melalui plasenta tidak dapat melindungi bayi secara
adekuat.
b. Kemasan Vaksin

Vaksin polio terdiri atas dua jenis, yaitu oral polio vaccine (OPV)
dan inactivated polio vaccine (IPV). Kedua vaksin ini berisi virus
polio tipe 1, 2, dan 3. Di Indonesia vaksin yang umum diberikan
adalah opv sabin. Di beberapa Negara dikenal pula tetravaccine,
yaitu kombinasi DPT dan polio.
Opv berisi virus polio yang masih hidup, tetapi dilemahkan. Di
dalam 1 kotak vaksin terdapat 10 vial @ 10 dosis. Setiap vial
disertai dengan 1 buah penates (dropper) yang terbuat dari bahan
plastic. Vaksin ini harus disimpan tertutup pada suhu -15 sampai
-25oc. IPV berisi virus polio yang telah dimatikan. Vaksin ini
diberikan melalui suntikan. IPV tersedia dalam vial dosis tunggal
yang mengandung 0,5 mL vaksin. Vaksin ini disimpan pada suhu
2-8oc, tidak boleh beku.
Vaksin bentuk trivelen atau trivelen oral polio vaccine (TOPV)
efektif

melawan

semua

bentuk

volio,

sedangkan

bentuk

monovalent atau monovalent oral polio vaccine (mopv) hanya


efektif melawan satu jenis virus polio.
c. Cara Pemberian Dan Dosis
Dosis untuk OPV adalah 2 tetes per oral lansung atau dengan
menggunakan sendok yang dicampur dengan gula. Sementara itu,
dosis untuk ipv adalah 0,5 mL, IM
Vaksin polio diberikan pertama kali (polio-0) saat bayi baru lahir
akan dibawa pulang dari rumah sakit. Dosis ini dianggap dosis
ekstra dan diberikan karena Indonesia merupakan daerah endemic.
Jenis vaksin yang diberikan dapat berupa OPV maupun IPV. Lalu,
imunisasi dasar polio diberikan sebanyak tiga kali (polio-1, polio2, polio-3) dengan interval 4 minggu. Vaksin ulangan polio dapat
diberikan 1 tahun setelah polio-3.
d. Kontraindikasi
Vaksin polio tidak dapat diberikan dalam kondisi:
1) Anak demam tinggi diatas 38oc

2) Anak sedang diare atau muntah


3) Anak sedang mendapat terapi obat yang menurunkan
kekebalan tubuh
4) Anak menderita kanker atau penyakit hipogamaglobulin
e. KIPI Dan Reaksi Samping Imunisasi
Reaksi KIPI dari vaksin opv dapat berupa pusing, diare ringan, dan
nyeri otot. Paralisi yang disebabkan oleh vaksin atau vaccine
associated polio paralytic (vapp) dapat terjadi, tetapi kejadian ini
sangat jarang. Selain itu, virus asal vaksin tersebut dapat
bereplikasi dalam usus manusia, kemudian diekskresikan melalui
tinja selama 2-3 bulan. Pada saat replikasi tersebut dapat terjadi
mutasi virus sehingga virus yang semula sudah lemah dapat
menjadi virulen lagi dan menyebabkan kelumpuhan layuh akut
(VAPP). Selain itu, virus neurovirulen tersebut dapat diekskresikan
melalui tinja sehingga menyebabkan kelumpuhan orang-orang
disekitar (VDPP).

5. Campak
a. Penyakit Campak
Imunisasi campak adalah imunisasi yang dilakukan untuk
mencegah penyakit campak (megsles atau morbii). Penyakit
campak adalah penyakit yang sangat mudah menular dan
disebabkan oleh virus campak. Penularan penyakit ini adalah
melalui udara atau kontak lansung dengan penderita.
Gejala yang tampak pada penderita campak diawali dengan flu
berat, batuk dan mata berair, kemudian diikuti dengan timbulnya
bercak putih dimulut (bintik koplik). Lalu, terjadi demam tinggi
(38oC). ruam akan muncul pada hari ketiga atau keempat. Bintikbintik akan memerah dan makin banyak, tetapi tidak menimbulkan
gatal.
b. Vaksin

Vaksin campak yang tersedia saat ini terdiri atas dua jenis, yaitu
vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan
(tipe edmoston) serta vaksin yang berasal dari virus campak yang
dimatikan (virus campak yang berada dalam larutan formalin yang
dicampur dengan garam aluminium).
Dalam 1 kotak vaksin terdapat 1 vial @ 10 dosis. Vaksin ini
berbentuk baku kering sehingga harus dilarutkan terlebih dahulu
sebelum digunakan. Dalam 1 kotak pelarut terdapat 10 ampul @ 5
mL.
c. Cara Pemberian Dan Dosis
Imunisasi campak diberikan pada bayi ketika berusia 9-11 bulan.
Dosis vaksin campak adalah 0,5 mL yang diberikan secara
subkutan atau intramuscular dibagian lengan kiri atas. Imunisasi
ulangan perlu diberikan pada saat anak masuk SD (5-6 tahun)
untuk mempertinggi serokonversi. Namun, jika pada usia 15-18
bulan anak telah mendapatkan imunisasi MMR, imunisasi ulangan
campak pada usia 5 tahun tidak perlu diberikan.
d. Kontraindikasi
Imunisasi campak tidak dianjurkan dalam kondisi:
1) Demam tinggi
2) Sedang menerima terapi imunosupresi jangka panjang
3) Hamil
4) Anak dengan imunodefisiesi primer
5) Memiliki riwayat alergi
e. KIPI Dan Efek Samping Imunisasi
Reaksi KIPI akibat imunisasi campak banyak dijumpai pada
pemberian vaksin campak dari virus yang dimatikan. Reaksi
tersebut antara lain demam lebih dari 39,5oc pada hari ke-5-6
sesudah imunisasi. Demam berlansung selama 2 hari dan dapat
meransang terjadinya kejang demam, ruam pada hari ke 7-10
selama 2-4 hari, serta gangguan saraf pusat seperti sensefalitis dan
ensefalopati paska imunisasi.

B. Imunisasi Anjuran
1. Imunisasi Hib
Imunisasi Hib adalah imunisasi yang diberikan agar tubuh
memiliki kekebalan terhadap penyakit yang disebabkan oleh
infeksi haemophilus influenza type B. infeksi bakteri ini dapat
menyebabkan meningitis, epiglottitis, artritis, selulitis, dan
pneumonia. Penyakit akibat infeksi Hib menular melalui bersin
atau batuk dari penderita secara lansung, penggunaan barangbarang yang terkontaminasi oleh bakteri haemophilus influenza
type B atau secara tidak sengaja menjangkit tubuh penderita
melalui mulut.
2. Imunisasi PCV
PCV (pneumococcal conjugate vaccine) atau vaksin pneumokokus
adalah vaksin yang berfungsi untuk mengurangi mortalitas akibat
penyakit

pneumokokus

disease/IPD)

yang

invasive

disebabkan

(invasive

oleh

bakteri

pneumococcal
pneumokokus

(streptocoemus pneumonia). Infeksi bakteri ini dapat menyerang


berbagai bagian tubuh, misalnya kealiran darah (dikenal dengan
bacteremia),

otak

(dikenal

dengan

meningitis),

paru-paru

(menyebabkan pneumonia), dan telinga (menyebabkan otitis


media)
3. Rotavirus
Imunisasi rotavirus adalah imunisasi yang diberikan untuk
memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit yang disebabkan
oleh rotavirus, yaitu diare. Di Indonesia, diare merupakan salah
satu penyakit utama pada anak-anak dan merupakan penyebab
kematian bayi terbesar.
4. Influenza
Imunisasi influenza adalah imunisasi untuk memberikan kekebalan
terhadap penyakit influenza dan menghindarkan anak dari
mengalami komplikasi yang lebih berat jika suatu saat mengalami
flu, misalnya pneumonia. Imunisasi ini dianjurkan pada anak

karena penyakit flu merupakan salah satu penyakit yang sering


menjangkiti anak-anak.

5. MMR (Measles, Mumps, Rubella)


Vaksin MMR adalah vaksin kombinasi yang bertujuan untuk
mencegah penyakit campak, gondongan, dan rubella. Vaksin MMR
mengandung virus campak galur edmoson yang telah dilemahkan,
virus rubella galur ra 27/3, dan virus gondongan.
6. Tifoid
Imunisasi tifoid adalah imunisasi yang bertujuan memberi
kekebalan pada tubuh terhadap penyakit demam tifoid. Demam
tifoid (atau lebih dikenal dengan tifus) adalah penyakit infeksi akut
yang disebabkan oleh bakteri salmonella typhi atau salmonella
typhosa dan menyerang sistem pencernaan. Penyakit ini menular
melalui jalur fekal-oral (melalui makanan dan tinja). Gejala untuk
demam tifoid tidak khas dan bervariasi dari mulai gejala seperti flu
ringan sampai tampilan sakit berat dan fatal yang mengenai banyak
sistem organ. Gambaran klinis penyakit ini berupa demam
berkepanjangan, gangguan fungsi usus (misalnya opstipasi, diare,
mual, muntah, dan kembung), serta gangguan pada susunan saraf
pusat (misalnya delirium, apatis, dan bahkan sampai koma).
7. Hepatitis A
Imunisasi hepatitis A adalah imunisasi yang bertujuan untuk
memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit hepatitis A.
hepatitis A dikenal juga sebagai penyakit kuning (jaundice atau
icterus). Gejala klinis penyakit ini mirip dengan gejala flu, yaitu
mual, demam dan pusing yang terus-menerus. Selain itu, gejala
penyakit ini juga mencakup air seni kemerahan, bagian bola mata
yang berwarna putih menjadi kekuningan, dan perut sebelah kanan
atas terasa sakit. Namun pada anak-anak tidak timbul gejala yang
mencolok, hanya demam tiba-tiba dan hilang nafsu makan.

Hepatitis A terkadang timbul bersama penyakit lain seperti


leptospirosis, sifilis, tuberkulosos, toksoplasmosis, dan amoebiasis.
8. Varisela
Varisela merupakan imunisasi yang dilakukan agar tubuh memiliki
kekebalan terhadap penyakit varisela atau cacar air. Penyakit ini
disebabkan oleh virusVaricella zoster dan me,beri dampak yang
lebih berat pada orang dewasa dari pada anak-anak. Apabila
dialami pada saat hamil, virus ini dapat menyebabkan sindrom
varisela kongenital dengan angka kematian tinggi.
9. HPV (Human Papilloma Virus)
Imunisasi HPV merupakan imunisasi yang di tunjukam untuk
memberi tubuh kekebalan terhadap penyakit yang disebabkan oleh
HPV.HPV merupakan papillomavirus yang menyerang lapisan
epidermis kulit dan lapisan mukosa manusia.Pada perempuan,
HPV dapat menyebabkan kanker serviks, vulva, vagina, dan anus.
Pada laki-laki, HPV dapat menyebabkan kanker di penis dan anus.

4. Jadual Pemberian Imunisasi (Ppi/Non Ppi)


Jadwal imunisasi anak usia 0-18 tahun rekomendasi ikatan dokter anak
ondonesia (idai) dapat dilihat pada table berikut ini.
Table jadwal imunisasi anak usia 0-18 tahun rekomendasi ikatan dokter
anak Indonesia (idai), tahun 2011
Jenis vaksin
Usia pemberian vaksin
lh
r

Bulan
1 2 3 4 5 6 9

1
2

1
5

1
8

2
4

Tahun
3 5 6 7 8 10

1
2

18

Hepatitis B

Polio

3
1

BCG

DTP
Hib

PCV

Rotavirus
Influenza

6 (td)

7 (td)

4
4
Diberikan 1 kali per tahun

Campak

MMR
Tifoid
Hepatitis A
Varisela
HPV

2
1

2
Ulangan setiap 3 tahun
2 kali, interval 6-12 bulan
1 kali
3 kali

5. Cold Cain
Cold cain atau rantai vaksin adalah pengelolaan vaksin sesuai dengan
prosedur untuk menjaga vaksin tersimpan pada suhu dan kondisi yang
telah ditetapkan.
a. Peralatan Rantai Vaksin
Peralatan rantai vaksin adalah seluruh peralatan yang digunakan dalam
pengelolaan vaksin sesuai dengan prosedur untuk menjaga vaksin pada
suhu yang telah ditetapkan. Sarana rantai vaksin atau cold cain dibuat
secara khusus untuk menjaga potensi vaksin dan setiap jenis sarana
cold cain mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Contoh peralatan rantai vaksin adalah sebagai berikut.
1) Lemari es
Setiap puskesmas harus mempunyai 1 lemari es sesuai standar
program (buka atas), pustu potensial secara bertahap juga
dilengkapi lemari es.
2) Mini freezer
Sebagai sarana untuk membekukan cold pack disetiap puskesmas
diperlukan 1 buah freezer.

3) Vaccine carrier
Vaccine carrier biasanya ditingkat puskesmas digunakan untuk
pengambilan vaksin ke kabupaten/kota. Untuk daerah yang sulit
dijangkau, dibutuhkan vaccine carrier yang dapat mempertahankan
suhu relative lebih lama ketika petugas terjun kelapangan.
4) Termos
Termos digunakan untuk membawa vaksin ke lapangan/posyandu.
Setiap termos dilengkapi dengan cold pack minimal 4 buah @ 0,1
liter. Mengingat daya tahan untuk mempertahankan suhu hanya
kurang lebih 10 jam, termos hanya cocok digunakan untuk daerah
yang mudah dijangkau.
5) Cold box
Cold box ditingkat puskesmas hanya digunakan ketika terjadi
keadaan darurat, misalnya ketika listrik padam untuk waktu yang
cukup lama, atau lemari es sedang mengalami kerusakan dan
membutuhkan yang lama untuk memperbaikinya.
6) Freeze tag/freeze watch
Freeze tag digunakan untuk memantau suhu dari kabupaten ke
puskesmas pada waktu membawa vaksin, serta dari puskesmas ke
lapangan/posyandu dalam upaya meningkatkan kualitas rantai
vaksin.
7) Kotak dingin cair (cool pack)
Kotak dingin cair (cool pack) adalah wadah plastic berbentuk segi
empat, besar ataupun kecil yang diisi dengan air yang kemudian
didinginkan pada suhu 2oc dalam lemari es selama 24 jam. Jika
kotak dingin tidak ada, wadah yang sama dapat dibuat dari kantong
plastik bening.
8) Kotak dingin beku (cold pack)
Kotak dingin beku (cold pack) adalah wadah plastic berbentuk segi
empat, besar atau kecil yang diisi dengan air yang kemudian
dibekukan pada suhu -5oc sampai -15oc dalam freezer selama 24

jam. Jika kotak dingin tidak ada, wadah yang sama dapat dibuat
dalam kantong plastic bening.
b. Pengelolaan vaksin
1) Penerimaan/pengambilan vaksin (transportasi)
a) Pengambilan vaksin dari puskesmas ke kabupaten/kota
dilakukan dengan menggunakan peralatan rantai vaksin yang
sudah ditentukan, contohnya cold box atau vaccine carrier.
b) Jenis peralatan pembawa vaksin disesuaikan dengan jumlah
vaksin yang akan diambil.
c) Kotak dingin cair (cool pack) dimasukkan kedalam alat
pembawa dan dibagian tengah diletakkan thermometer muller.
Untuk jarak jauh, jika freezer tag/watch tersedia, alat tersebut
dapat dimasukkan kedalam alat pembawa.
d) Alat pembawa vaksin yang sudah berisi vaksin, selama
perjalanan dari kabupaten/kota ke puskesmas tidak boleh
terkena sinar matahari lansung.
e) Catat dalam buku stok vaksin: tanggal menerima vaksin,
jumlah, nomor batch, dan tanggal kadaluarsa.
2) Penyimpanan vaksin dipuskesmas
a) Vaksin disimpan dilemari es pada suhu 2-8oc
b) Susunan dus vaksin didalam lemari es diberi jarak minimal 2
jari agar terjadi sirkulasi udara yang baik.
c) Vaksin FS (freeze sensitive = dpt, hb, dt, tt) diletakkan jauh dari
evaporator. Vaksin HS (heat sensitive = polio, campak, BCG)
diletakkan didekat evaporator.
d) Kulkas dibuka seminimal mungkin setiap kali memasukkan
atau mengeluarkan sesuatu untuk menjaga kestabilan suhu
penyimpanan.
e) Suhu dipantau setiap hari (pagi dan sore)
f) Dilakukan pemeliharaan lemari es secara berkala, misalnya
harian, mingguan, bulanan.
3) Mengeluarkan vaksin dan pelarut dari lemari es
a) Sebelum membuka lemari es, tentukan terlebih dahulu jumlah
botol vaksin yang dibutuhkan untuk pelayanan.

b) Catat suhu dalam lemari es. Jangan terlalu sering membuka


pintu lemari es dan meninggalkan pintu lemari es dalam
keadaan terbuka.
c) Dari lemari es, pilih dan gunakan vaksin dengan urutan sebagai
berikut:
(1) Vial vaksin yang sudah terpakai tetapi tetap tersimpan
didalam lemari es.
(2) Ampul atau tutup botol vaksin tertutup yang telah dibawa
ketempat pelayanan keluar dan telah berada diluar lemari
es.
(3) Vaksin dengan VVM kondisi B atau mulai merubah dari A
ke B.
(4) Vaksin paling lama yang belum melewati tanggal batas
kadaluarsa.
d) Memeriksa apakah vaksin aman diberikan.
e) Menyiapkan termos atau vaccine carrier.
f) Menyiapkan tempat kerja.

DAFTAR PUSTAKA

Ikatan Doter Anak Indonesia, Dalam : Pedoman Imunisasi Di Indonesia, Ranuh


Ign, Suyitoo H, Hadinegoro Sr, Kartasasmita Cb, Penyunting,
Edisi Ke-2, IDAI : Balai Penerbit, 2005. Hal 1-256
Wahab Samik A. Praktek-Praktek Imunisasi. Dalam : Bart Jk, Penyunting, Nelson
Ilmu Kesehatan Anak. Edisi Ke-15, 2008. Hal 1248
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI. Pediatric Pencegahan. Dalam : Hassan
R, Alatas H, Latief A, Penyunting. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Anak, Edisi Ke-1, Jakarta : Balai Penerbit, 2010. Hal 1-22

TUGAS MANDIRI 4
IMUNISASI

OLEH :
YOGI ATMAJA PUTRA
14144011060
IV/B

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK 2016/2017