Anda di halaman 1dari 18

Manajemen Transportasi dan Logistik

Manajemen Pengadaan
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Manajemen Transportasi dan
Logistik yang diampu oleh Bapak Supriono, S.Sos, MAB

Disusun Oleh :
Myrza Pahlevi

125030307111013

Dewi Kusnul Chotimah

145030301111001

Andika Yoga Baskara

145030301111008

Restu Cahyo Syahrindra

145030301111015

Deviana Enny P

145030301111006

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI BISNIS
PROGRAM STUDI BISNIS INTERNASIONAL
MALANG

September 2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengadaan barang adalah salah satu kegiatan inti dalam rantai pasokan
yang mana memiliki pengaruh signifikan terhadap kesuksesan suatu organisasi.
Memastikan bahwa terdapat pasokan bahan mentah yang baik dengan harga yang
sepadan, kualitas yang baik, tempat yang terjangkau dan dapat diperoleh dengan
tepat waktu merupakan hal yang krusial untuk semua perusahaan.
Pada era saat ini, rata-rata perusahaan telah memutuskan untuk
meminimalisasi jumlah pemasok yang bekerja sama dengan perusahaan dengan
tujuan untuk mengurangi biaya trankaksi. Saat ini, mayoritas perusahaan yang
dulunya menjalin hubungan dengan pemasoknya secara tradisional telah
memutuskan untuk lebih profesional yaitu dengan cara menjalin kerjasama
dengan partnership-based approach. Gaya kerjasama antara kedua belah pihak ini
bertujuan untuk memastikan bahwa kedua belah pihak berusaha menjalin
kerjasama dengan tujuan murni yaitu mencari profit demi keberlangsungan
perusahaan.
Pengadaan barang dalam hal ini bukanlah hanya barang mentah,
melainkan juga:

Utilities
: Gas, Air, Listrik dan Telepon.
Bahan Bakar : Solar, Petrol dan Heating Fuel.
Asset Modal : Mesin, Kendaraan dan Bangunan.
Transportasi Perusahaan (Mode Transportasi dan Hotel)
Peralatan dan Perlengkapan
Jasa Outsouces : distribusi kontrak, jasa IT, dsb;
Perlengkapan IT : Hardware, Software, dsb

Hal- hal diatas memberikan porsi pendanaan yang besar bagi perusahaan,
terlebih masing-masing barang memiliki elemen yang berbeda tergantung dari
bisnis apa yang dijalankan oleh perusahaan (Perusahaan transportasi sebagai
contohnya, bahan bakar menyerap 35% dari anggaran perusahaan). Untuk itu,
perusahaan perlu berhati-hati dengan melakukan manajemen pengadaan barang
yang tepat.

Dalam kaitannya dengan pemasok, perusahaan perlu melakukan


manajemen pemasok yang baik karena merupakan faktor yang krusialm pula bagi
perusahaan. Pertanyaan yang kerap muncul dalam memanajemen pemasok
adalah : Berapa banyak pemasok yang perusahaan butuhkan?, Bagaimana
kemudian perusahaan menilai kinerja dari pemasok? dan Mana yang lebih baik
apakah memproduksi sendiri atau membeli. Dengan hal-hal diatas dapat
digambarkan bahwa pengadaan barang dari sebuah perusahaan merupakan faktor
yang krusial, dan oleh karena itu perusahaan harus bisa merancang dan
mengimplementasikan manajemen pengadaan yang baik pula.
1.2 Rumusan masalah
1. Apakah definisi manajemen pengadaan ?
2. Bagaimana perusahaan memastikan pasokan bahan bakunya?
3. Bagaimana menilai kualitas dari pasokan yang didapat?
4. Bagaimana perusahaan memilih pemasok?
5. Bagaimana metode dari pengiriman pasokan?
6. Bagaimana metode transportasi yang tepat?
7. Bagaimana perusahaan memutuskan untuk memproduksi sendiri atau
membeli pasokan?
1.3 Tujuan Pembahasan
1. Agar dapat mengetahui definisi manajemen pengadaan.
2. Agar dapat mengetahui bagaimana perusahaan memastikan pasokan bahan
baku.
3. Agar dapat mengetahui bagaimana menilai kualitas pasokan.
4. Agar dapat mengetahui tahap dalam pemilihan pemasok yang tepat bagi
perusahaan.

5. Agar dapat mengetahui metode pengiriman pasokan.


6. Agar dapat mengetahui metode transportasi yang tepat.
7. Agar dapat mengetahui bagaimana perusahaan mempertimbangkan untuk
memproduksi bahan baku sendiri atau membeli dari pemasok.

BAB II
PEMBAHASAN
Definisi Manajemen Pengadaan
Pengadaan adalah proses memperoleh barang ataupun jasa dari pihak di
luar organisasi. Manajemen Pengadaan adalah proses proses yang dilakukan
untuk mendapatkan barang dan/atau jasa yang dibutuhkan sebuah proyek dari luar
organisasi yang didukungnya. Sedangkan yang menjalankan sebuah manajemen
pengadaan adalah bagian pengadaan yang secara umum memiliki visi untuk
memenuhi semua barang/bahan yang dibutuhkan perusahaan secara tepat waktu ,
tepat mutu, tepat pemasok dengan harga yang wajar dan kompetitif.
Bagian

pengadaan

berperan

secara

strategis

dalam

menciptakan

keunggulan dari segi biaya (dengan mendapatkan sumber - sumber bahan baku,
komponen, dll dengan harga yang murah). Bagian pengadaan juga berperan
mendapatkan sumber-sumber bahan baku dan komponen yang berkualitas
dan/atau menjadi jembatan dalam membina supplier-supplier yang ada dengan
berbagai program peningkatan kualitas.
Bagian pengadaan juga dituntut untuk bisa menciptakan keunggulan dari
segi waktu. Untuk mendukung keunggulan dari segi waktu, bagian pengadaan
tentunya bisa memilih supplier yang memiliki kemampuan untuk mengirim
barang dalam waktu yang lebih pendek tanpa harus mengorbankan kualitas dan
meningkatkan harga. Kecepatan dan ketepatan waktu pengiriman dari supplier
bukan hanya memungkinkan perusahaan untuk memproduksi dan mengirim
produk ke pelanggan secara tepat waktu, namun juga bisa mengurangi tingkat
persediaan bahan baku atau komponen yang harus disimpan sehingga juga akan
berakibat pada penghematan biaya. Banyak perusahaan yang juga melibatkan
supplier-supplier

kunci

mereka

dalam

kegiatan

pengembangan

produk.

Keterlibatan mereka sejak awal dalam proses pengembangan produk akan sangat
membantu keseluruhan rantai dalam supply chain dalam mempercepat time-tomarket.

Memastikan Pasokan Bahan Baku


Bahan baku merupakan salah satu kunci dapat berjalannya produksi dari
suatu perusahaan, tanpa bahan baku tentunya akan terjadi permasalahan serius
yang dihadapi oleh perusahaan. Tidak tersedianya bahan baku dapat membuat
perusahaan tidak dapat melanjutkan produksinya dan hal ini akan menimbulkan
kerugian yang besar karena perusahaan harus tetap membayarkan gaji pegawai
namun tidak bisa mendapatkan profit dari barang yang seharusnya mereka
produksi.
Bahan baku yang tersendat atau tidak tersedia yang menyebabkan tidak
berjalannya proses produksi dari perusahaan ini juga dapat membuat perusahaan
mendapatkan respon negatif dari pelanggan karena perusahaan tidak dapat
mendistribusikan hasil produksinya secara tepat waktu. Dengan alasan tersebut
maka perusahaan dapat mengadopsi kebijakan-kebijakan dari Manajemen
Pengadaan untuk memastikan pasokannya sampai pada tempat dan waktu yang
benar. Adapun beberapa kebijakan yang bisa diambil adalah:

Membeli perusaahan pemasok (umum digunakan oleh organisasi yang

terintergrasi secara vertikal).


Menyimpan cadangan bahan baku pada lokasi produksi (sebuah kebijakan
yang sebenarnya membuat perusahaan mengeluarkan biaya penyimpanan,
namun bisa diterapkan jika memang terdapat kemungkinan tersendatnya

bahan baku).
Perusahaan dapat mendirikan sebuah unit perusahaan yang lokasinya
berdekatan dengan pemasok.

Kualitas Pasokan
Memastikan bahan baku ataupun jasa yang dibeli memiliki kualitas yang
sesuai merupakan hal yang perlu diperhatikan karena kualitas dari pasokan ini bila
tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan akan menimbulkan permasalahan
dikemudian hari:

Jika barang yang didapat kualitasnya tidak sesuai maka perusahaan akan
kekurangan bahan baku produksi, oleh karena itu ketepatan waktu dalam
datangnya pasokan merupakan hal penting.

Perusahaan akan dikenakan biaya transaksi, seperti pengurusan dokumen


dan

perusahaan

terpaksa

meluangkan

waktu

untuk

meluruskan

permasalahan.
Perusahan akan kehilangan kepercayaan dari konsumen apabila produknya
memiliki kualitas yang buruk, dan pemasok akan kehilangan kepercayaan
dari perusahaan apabila pasokan yang dikirimkan kualitasnya buruk.

Memastikan pemasok memiliki sistem manajemen mutu yang baik dapat


membantu menghindari masalah. Untuk jalan keluarnya, perusahaan dapat
melakukan audit eksternal terhadap pemasok. Audit ini sebaiknya dilakukan oleh
auditor dari perusahaan.
Harga
Harga merupakan salah satu faktor yang oleh kebanyakan orang di asosiasikan
dengan proses pembelian. Harga akan ditentukan oleh faktor-faktor tertentu,
seperti:

Keterampilan negosiasi dari tim pembelian.


Kualitas barang yang bersangkutan.
Pengetahuan yang rinci tentang produk yang dibeli. Misalnya, ketika
beberapa
pengecer membeli komoditas seperti tepung mereka akan membiasakan
diri
untuk mengetahui biaya gandum dan produksi sebelum memasuki

negosiasi apapun.
Berapa banyak bahan baku dari produk yang tersedia untuk pembelian.
Dengan kata lain jika produk langka maka harga cenderung lebih tinggi
dan sebagai pembeli, perusahaan terpaksa membayar lebih tinggi untuk

biaya produksinya.
Jarak barang dari lokasi pemasok ke lokasi produksi perusahaan. Dalam
hal ini yang terkait adalah mode transportasi yang digunakan. Biaya
pengangkutan bahan baku dapat menyerap porsi biaya yang besar dari
harga pembelian.

Asal Persediaan Bahan Baku

Asal bahan baku juga merupakan hal penting. Jika barang harus
melakukan perjalanan seperti lintas negara maka tidak hanya biaya transportasi
yang menjadi tinggi tetapi lead time untuk pengiriman mungkin terlalu lama. Hal
yang menjadi perhatian juga adalah bahwa tidak semua bagian dari dunia
menikmati stabilitas politik. Jika pasokan terganggu untuk jangka waktu yang
tidak ditentukan karena terjadinya perselisihan politik maka perusahaan bisa
berada dalam kesulitan yang besar jika perusahaan tidak memiliki alternatif
sumber bahan baku.
Metode Pasokan
Dewasa ini, pengiriman pasokan pada umumnya menggunakan sistem Just
In Time. Persediaan bahan baku hanya bahkan hanya diukur dalam hitungan jam
dan bahkan mungkin dirancang untuk langsung ke lini produksi itu sendiri.
Karena semakin banyak perusahaan berusaha untuk mengurangi persediaan maka
jenis pengaturan telah menjadi lebih umum.
Beberapa

perusahaan

meminta

ke

pemasok

untuk

menyediakan

pengelolaan vendor persediaan. Didalam sistem tersebut pemasok secara rutin


mengelola stok dari lokasi produksinya hingga sampai ke tempat pelanggan.
Sehingga pelanggan (dalam hal ini perusahaan hanya membayar untuk bahan
baku yang mereka gunakan.)
Proses penerimaan barang di gudang dapat secara signifikan dipercepat jika
pemasok memberikan barang dalam jumlah yang tepat, pada waktu yang tepat,
memberikan label dan bar-kode yang benar dimana diperlukan. Bagaimana bahan
baku disediakan merupakan hal yang perlu dibahas terlebih dahulu dengan
pemasok karena mereka mungkin saja tidak dapat memenuhi kriteria yang
diperlukan. Ketidakmampuan pemasok untuk memenuhi kriteria yang diberikan
oleh perusahaan akan menjadi permasalahan lain bagi perusahaan dan dengan hal
tersebut tentunya alur distribusi produk kepada pelanggan dapat terancam.

Mode Transportasi yang Digunakan oleh Pemasok

Dalam kaitannya dengan pengiriman pasokan, banyak syarat transportasi dan


pengiriman yang perlu dibahas sebelum menyetujui kesepakatan dengan pemasok.
Dulu, manajer pengadaan perusahaan dalam beberapa kasus telah melakukan
kesalahan pembelian karena mengambil keputusan atas dasar harga saja. Saat ini
terdapat beberapa pertanyaan yang perlu diajukan kepada pemasok dalam
kaitannya dengan penyediaan pasokan bahan baku. Pertanyaan-pertanyaan
tersebut adalah:

Apakah barang dikirim melalui darat, laut, kereta atau udara?


Apa unitisasi yang digunakan?
Apakah barang akan dikemas?
Berapa ukuran dari kemasannya?
Apakah barang dimasukan kedalam container dan membutuhkan waktu
serta tenaga kerja untuk membongkar?

The Hierarchy of Importance


Dalam kunjungan kami ke perusahaan-perusahaan , kami sangat terkaget
dengan bagaiman departemen pembelian perusahaan memperlakukan microchip
penting dalam produk utama perusahaan sama seperti pembelian penjepit kertas
( Jack Berry , Arthur dari D Little Inc )
Kutipan diatas mengatakan bahwa ketepatan jumlah dan waktu merupakan
usaha atau kegiatan vital yang sangat penting bagi sebuah organisasi . Oleh karena
itu manajemen pengadaan harus memastikan pembelian tersegmentasi dengan
baik. Produk harus diklasifikasikan menurut kekritisan mereka untuk bisnis dan
nilai pembelian tahunan . Empat kategori yang biasanya digunakan adalah :
1. pembelian rutin ;
2. komoditas ;
3. item penting ;
4. item strategis.

Gambar 14.1 menunjukkan bagaimana pembelian dapat dengan mudah


dikategorikan dengan menilai seberapa penting item bagi organisasi dan dengan
menghitung nilai tahunan pembelian . Item strategis adalah salah satu yang sangat
penting untuk bisnis dan memiliki nilai pembelian tahunan yang tinggi . Disisi
lain, pembelian rutin adalah salah satu yang memiliki nilai pembelian tahunan
yang rendah dan tidak penting untuk bisnis . Setelah pembelian telah
dikategorikan dengan cara ini pembelian mereka akan dapat diputuskan . Proses
membelian meliputi :
1. katalog online ;
2. tender ;
3. sistem persediaan yang disetujui ;
4. kemitraan strategis .

Gambar 14.2 menunjukkan bagaimana proses pembelian yang tepat dapat


dicocokkan dengan kategorisasi pembelian dijelaskan pada Gambar 14.1. Katalog
online yang tersedia untuk karyawan akan memungkinkan mereka untuk membeli
barang-barang rutin dengan cepat dan mudah. Hal ini mempercepat proses dan
membatasi biaya transaksi ini (lihat contoh Texas Instruments di bawah). Proses
tender untuk komoditas nilai pembelian tahunan yang tinggi akan sesuai mana
memperoleh harga terbaik adalah penting.
Sebuah jaringan pemasok yang disetujui dan sistem formal untuk menyetujui
pemasok yang paling tepat di mana barang-barang sangat penting untuk bisnis
tetapi memiliki nilai pembelian tahunan yang rendah. Pemasok akan telah mampu
memenuhi departemen pembelian yang mereka mampu memenuhi kriteria
tertentu memuaskan secara konsisten. Kriteria yang digunakan dapat mencakup
kehandalan pengiriman, kualitas barang yang disediakan da n nilai uang.
Kemitraan strategis (lihat bagian kemitraan kemudian dalam bab ini) akan
paling sesuai di mana pembelian memiliki nilai tahunan yang tinggi dan sangat
penting untuk bisnis. Dalam kasus ini, itu adalah demi kepentingan kedua pembeli
dan penjual untuk mengembangkan hubungan kerja yang kuat.
Membuat atau Membeli
Keputusan untuk membuat barang atau menyediakan layanan dibandingkan
dengan membeli adalah salah satu yang tidak mudah . Hal ini tidak selalu hanya
soal biaya . Isu-isu lain seperti reputasi atau kapasitas produksi perusahaan dapat
dimasukkan dalamnya . Berikut ini adalah daftar beberapa faktor yang
mempengaruhi pengambilan keputusannya:

Biaya . Jika barang atau jasa yang harus disediakan secara in-house , maka
tidak hanya biaya langsung yang terlibat yang perlu diperhatikan tetapi
biaya yang lebih luas , seperti biaya peluang dari modal yang digunakan .
Dengan kata lain, bisakah modal terikat dalam kegiatan ini menghasilkan
hasil yang lebih baik jika diinvestasikan dalam kegiatan lain ? Jika
kegiatan tersebut akan diberikan kepada pemasok , maka biaya yang
berkaitan dengan pengelolaan pemasok dan biaya transaksi harus
dianalisis .

Jaminan pasokan . Seperti yg disebutkan di atas , jika barang atau jasa


yang tidak tersedia saat dibutuhkan maka akan terdapat biaya tambahan
yang signifikan. Keandalan pemasok dan kualitas penawaran adalah
bagian penting lain dari proses pengambilan keputusan .

Kapasitas produksi. Beberapa bagian dari operasi dapat diberikan oleh


sub-kontraktor karena perusahaan tidak memiliki kapasitas yang cukup
dalam operasinya untuk melakukan pekerjaan itu sendiri . Hal ini mungkin
merupakan pendekatan yang sangat masuk akal untuk mengambil dalam
keadaan tertentu . Sebuah armada kendaraan misalnya , harus terus bekerja
penuh waktu . Oleh karena itu, lebih baik untuk memiliki kendaraan yang
cukup untuk mencapai tujuan ini dan subcon- proselyting pekerjaan lebih
lanjut yang dibuat oleh kenaikan jangka pendek permintaan . Tentu saja ,
sebaliknya adalah benar dalam bahwa jika pabrik produksi memiliki
kapasitas cadangan maka mungkin benar untuk menggunakannya daripada
harus berdiri menganggur .

Keunggulan kompetitif. Mungkin ada produk-produk tertentu , komponen


atau proses bahwa perusahaan ingin menjaga rahasia sehingga tidak akan
mengizinkan perusahaan lain untuk mendapatkan informasi tentang hal
tersebut.

Manajemen Supplier
Bidang-bidang berikut harus dipertimbangkan ketika mengelola pemasok :
1. Siapa yang akan menjadi pemasok;
2. Berapa banyak pemasok yg akan terlibat;
3. Bagaimana pemasok akan dikelola - Pendekatan kompetisi atau
kemitraan .
Siapa yang akan menjadi pemasok
Memilih pemasok akan melibatkan semua elemen sudah dibahas tapi ada
satu atau dua poin lebih lanjut yang harus dipertimbangkan. Tentu saja ini
hanya berlaku dalam situasi di mana ada pilihan. Ada situasi tertentu di mana

tidak ada pilihan ada sama sekali dan satu dipaksa untuk berurusan dengan
situasi monopoli.
Jika pendekatan kemitraan yang diinginkan maka pemasok harus mampu
merespon situasi semacam ini. Mereka juga harus perusahaan yang didirikan
cukup baik. Rekening perusahaan merupakan informasi publik dan mudah
diperoleh. Sebuah cek harus dilakukan untuk menetapkan bahwa suatu
perusahaan finansial stabil. Akan sangat disayangkan untuk menghabiskan
waktu mengembangkan kemitraan hanya untuk melihat pasangan baru masuk
ke likuidasi.
Pertimbangan lain adalah apakah atau tidak pemasok ingin terlibat erat
dengan pelanggan utama. Ini akan diperlukan untuk berbagi informasi dan
pemasok juga dapat menangani pesaing. Ini bisa menempatkan pemasok
dalam posisi yang sulit dan mungkin menolak tawaran dari hubungan lebih
dekat. Ketakutan lain mungkin bahwa pelanggan bisa menjadi begitu dekat
bahwa itu akan diambil alih.
Berapa Banyak Pemasok yang Akan Terlibat
Hal ini jelas bervariasi dari industri ke industri . Biaya tinggi yang terkait
dengan transaksi mengemudi perusahaan ke dalam program pengurangan
pemasok . Pemasok yang tetap mudah-mudahan akan menjadi orang-orang yang
melakukan terbaik untuk penilaian pemasok . Mereka juga akan menjadi orangorang yang telah siap untuk berbagi informasi dan terlibat dalam pertukaran data
elektronik ( EDI ) untuk mengurangi biaya yang menunjang pembelian dan yang
memiliki cakupan geografis untuk mencocokkan perusahaan klien . Semakin
bertambah ingly perusahaan global yang ingin melakukan bisnis dengan pemasok
global.
Pendekatan Kompetisi atau Kemitraan
Dalam hubungan tradisional antara pembeli dan penjual masing-masing pihak
melihat dirinya bersaing dengan yang lain. Hasil tak terelakkan dari hubungan
semacam ini adalah bahwa satu atau pihak lain pasti 'menang' dalam negosiasi
apapun. Hal ini sering disebut sebagai situasi 'menang-kalah'. Siapa dan mengapa

satu pihak berhasil dalam jenis hubungan memiliki banyak yang harus dilakukan
dengan kekuatan relatif yang berada di satu kamp atau yang lain. Sebagai contoh,
vendor dengan produk langka yang benar-benar penting untuk proses pembeli
akan cenderung berada dalam posisi yang lebih kuat. Ini akan menjadi terutama
berlaku jika item yang dijual tidak bisa diganti dengan yang lain. Masalah dengan
jenis asosiasi adalah bahwa, karena kedua belah pihak rahasia dan defensif,
inefisiensi dalam rantai pasokan adalah hasilnya. Ini biasanya mengambil bentuk
stok penyangga kelebihan yang dimiliki oleh kedua belah pihak, saham-out dan
tingkat yang lebih rendah dari layanan pelanggan.
Ide melihat pemasok sebagai mitra membuat banyak akal dari sudut pandang
logistik. Organisasi Toyota, seperti banyak perusahaan- perusahaan Jepang
lainnya, telah lama dipandang sebagai pemasok co-pembuat produk. Sistem
Jepang keiretsu melambangkan pendekatan. Sebuah jaringan pemasok erat terikat
pada perusahaan klien di web kompleks saling ketergantungan. Jenis asosiasi
harus dilihat sebagai 'win-win' situasi di mana kedua belah pihak mendapatkan
lebih dari hubungan daripada dari gaya kompetisi.
Perlu memperkenalkan kata hati-hati pada saat ini. Toyota mengurangi basis
pemasok yang sedemikian rupa dan sangat bergantung pada pengiriman JIT
bahwa ketika kebakaran terjadi di tempat dari salah satu pemasoknya itu terpaksa
berhenti jalur produksi di Jepang selama seminggu. Pada saat itu Toyota dimiliki
22,6 persen dari pemasok, Aisin Seiki, produsen komponen rem penting.
Kebakaran terjadi di awal tahun 1997 dan membawa Toyota macet. Ini bukan
insiden yang terisolasi baik karena pada tahun 1995 setelah gempa Hanshin di
produsen mobil Jepang barat terputus dari beberapa pemasok mereka bencana.
Sebaliknya Honda tidak memiliki seperti keiretsu merajut erat dan memiliki
kebijakan pasokan ganda untuk semua bahan baku sebagai lindung nilai terhadap
situasi seperti itu.
Ini adalah contoh ekstrim dan harus sama sekali tidak menghambat
perusahaan dari membangun hubungan lebih dekat untuk saling menguntungkan.
Seperti dengan semua kemitraan pasangan harus dipilih dengan hati-hati, karena
tidak semua pemasok akan baik ingin terlibat dalam semacam ini hubungan atau
cocok. Beberapa prasyarat untuk kemitraan yang sukses akan mencakup:

budaya kompatibel;

tingkat kepercayaan yang tinggi sudah di tempat;

sistem komputer yang kompatibel untuk membantu berbagi informasi


elektronik;

stabilitas keuangan kedua belah pihak;

sikap bersedia untuk mengeksplorasi keuntungan dari kemitraan.


Dalam kemitraan, anggota departemen setara di kedua organisasi akan

bertemu secara teratur untuk membahas bidang kepentingan bersama. Misalnya,


orang pengembangan produk baru dari kedua organisasi akan duduk bersama
untuk melihat bagaimana produk dapat diproduksi sedemikian rupa untuk
menghindari menyebabkan masalah untuk satu sama lain. Dalam cara yang sama
personil logistik akan mengasosiasikan lebih bebas. Tradisional dengan cara
permusuhan lama hanya pembeli dan penjual akan bertemu. Melalui penghubung
dekat ini, berbagi informasi terjadi untuk saling menguntungkan. Manfaat nyata
telah dicapai dengan menghubungkan bersama-sama sistem informasi komputer.
Dengan cara ini, peritel dengan titik elektronik penjualan (EPOS) sistem dapat
menyediakan pemasok dengan real-time data tentang tingkat saat ini permintaan
untuk produk tertentu. Informasi seperti ini dapat menyebabkan pengurangan
nyata persediaan membawa dalam rantai pasokan dan penurunan saham-out.
Sebagai hubungan jatuh tempo maka inisiatif seperti VMI dapat diperkenalkan.
Pemesanan dan faktur dapat dilakukan melalui EDI, sehingga mengurangi biaya
transaksi dengan penghapusan sistem kertas berdasarkan mahal
Sebuah contoh praktis
Texas Instruments mampu menghemat lebih dari $ 30 juta dolar dengan
merancang ulang proses pengadaan mereka. Dalam beberapa kasus mereka
mampu mengurangi biaya transaksi terkait dengan item baris dari $ 250 untuk
order diproses secara manual untuk kurang dari $ 5. Jenis-jenis tabungan yang
dicapai dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut:

Setiap divisi dari perusahaan memiliki sistem pengadaan sendiri. Ini

diubah sehingga daya beli seluruh perusahaan bisa dimanfaatkan.


Pemasok dasar 34.000 berkurang secara signifikan.
Proses bisnis diperiksa secara hati-hati diperiksa langkah-langkah yang
tidak

perlu

atau

prosedur-prosedur

dihilangkan.

Hal

ini

dapat

mengefisiensikan waktu dan uang.


Proses baru efisien kemudian membentuk dasar model pengadaan

paperless komputerisasi mereka.


Link EDI didirikan dengan pemasok internasional.
Katalog online barang dibuat untuk karyawan. Sistem ini, dikenal sebagai
pembelian cepat, yang memungkinkan karyawan untuk memilih item
sehari-hari yang mereka butuhkan dengan kecepatan dan kemudahan,
syarat dan kondisi dari pembelian tersebut telah telah dinegosiasikan oleh

tim pembelian.
Tabungan yang dihasilkan dalam biaya tenaga kerja dan tercatat
persediaan, daya beli dikonsolidasikan pada skala global dan kebutuhan
untuk mempercepat bagian perintah kritis berkurang.

Hal diatas merupakan jenis perbaikan dan tabungan tidak dihasilkan dalam
semalam. Texas Instruments memulai proses ini kembali pada tahun 1980 tetapi
mereka memiliki gagasan yang jelas tentang apa yang mereka akan capai.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Secara tradisional bagian pengadaan sering diasosiasikan dengan
pekerjaan administratif yang memiliki sedikit nilai tambah. Dewasa ini, bagian
pengadaan dianggap memiliki kontribusi strategis bagi perusahaan dan bisa
menentukan bisa tidaknya perusahaan memenangkan persaingan di pasar.
Bagian

pengadaan

berperan

secara

strategis

dalam

menciptakan

keunggulan dari segi biaya (dengan mendapatkan sumber - sumber bahan baku,
komponen, dll dengan harga yang murah). Bagian pengadaan juga berperan
mendapatkan sumber-sumber bahan baku dan komponen yang berkualitas
dan/atau menjadi jembatan dalam membina supplier-supplier yang ada dengan
berbagai program peningkatan kualitas.
Manajemen pengadaan tidak hanya bertugas untuk melakukan kegiatan
rutin pembelian, memelihara basis data supplier dan memonitor pengiriman, tetapi
juga punya peran dalam menciptakan hubungan strategis dengan supplier,
mcncntukan

keputusan

investasi

teknologi

untuk

kegiatan

pengadaan,

mengembangkan kemampuan supplier, menjadi jembatan dalam melibatkan


supplier dalam pengembangan produk baru, dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Bagian pengadaan juga dituntut untuk bisa bagaimanapun caranya
mengola manajemen pengadaan yang baik sehingga menciptakan keunggulan dari
segi waktu. Untuk mendukung keunggulan dari segi waktu, bagian pengadaan
tentunya bisa memilih supplier yang memiliki kemampuan untuk mengirim
barang dalam waktu yang lebih pendek tanpa harus mengorbankan kualitas dan
meningkatkan harga. Kecepatan dan ketepatan waktu pengiriman dari supplier
bukan hanya memungkinkan perusahaan untuk memproduksi dan mengirim
produk ke pelanggan secara tepat waktu, namun juga bisa mengurangi tingkat
persediaan bahan baku atau komponen yang harus disimpan sehingga juga akan
berakibat pada penghematan biaya

DAFTAR PUSTAKA

Pujawan, I Nyoman. 2005. Supply Chain Management . Jakarta : Guna Widya


Rushton, Alan. 2000. Handbook of Logistics and Distribution Management. UK :
Kogan Page Limited