Anda di halaman 1dari 21

SURVEILANS EPIDEMIOLOGI

RESUME MATERI

Disusun Oleh :
Kelompok 1
A-2014
Elzha Geniz Rieny

25010114120011

Hadiati Sukma Ika Pertiwi

25010114120028

Dita Aulia Ramadhayanti

25010114120030

Novita Haloho

25010114120045

Indriyanti Agustina Putri

25010114120068

Fakultas Kesehatan Masyarakat


Universitas Diponegoro
2016

SURVEILANS EPIDEMIOLOGI

Surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus


menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang
mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah
kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penaggulangan secara efektif dan
efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi
epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan.
Tujuan umum surveilans adalah menilai status kesehatan masyarakat,
menentukan prioritas kesehatan masyarakat, mengevaluasi program dan melaksanakan
riset. Sedangkan, tujuan khusus surveilans adalah sebagai berikut :
1. Menganalisis keadaan penyakit yang ditelitinya. Jika dalam pengamatan
masih didapat kasus baru, berarti keadaan penyakit belum dapat diatasi.
2. Pekerjaan surveilans dihentikan bila dalam waktu dua kali masa tunas tidak
ditemukan lagi kasus tersebut.
Contoh tujuan surveilans dalam menganalisis masalah kesehatan yang
ditelitinya, diantaranya :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Deteksi KLB, letusan, wabah (epidemi)


Memantau kencederungan penyakit endemik
Evaluasi intervensi
Mamantau kemajuan pengendalian
Memantau kinerja program
Prediksi KLB, letusan, wabah (epidemi)
Memperkirakan dampak masa datang dari penyakit

Jenis-jenis Surveilans :
1. Surveilans Individu

Surveilans individu (individual surveillance) mendeteksi dan memonitor


individu-individu yang mengalami kontak dengan penyakit serius, misalnya pes,
cacar, tuberkulosis, tifus, demam kuning, sifilis. Surveilans individu memungkinkan
dilakukannya isolasi institusional segera terhadap kontak, sehingga penyakit yang
dicurigai dapat dikendalikan. Sebagai contoh, karantina merupakan isolasi
institusional yang membatasi gerak dan aktivitas orang-orang atau binatang yang
sehat tetapi telah terpapar oleh suatu kasus penyakit menular selama periode
menular. Tujuan karantina adalah mencegah transmisi penyakit selama masa
inkubasi seandainya terjadi infeksi (Last, 2001).
Isolasi institusional pernah digunakan kembali ketika timbul AIDS 1980an dan
SARS. Dikenal dua jenis karantina: (1) Karantina total; (2) Karantina parsial.
Karantina total membatasi kebebasan gerak semua orang yang terpapar penyakit
menular selama masa inkubasi, untuk mencegah kontak dengan orang yang tak
terpapar. Karantina parsial membatasi kebebasan gerak kontak secara selektif,
berdasarkan perbedaan tingkat kerawanan dan tingkat bahaya transmisi penyakit.
Contoh, anak sekolah diliburkan untuk mencegah penularan penyakit campak,
sedang orang dewasa diperkenankan terus bekerja. Satuan tentara yang ditugaskan
pada pos tertentu dicutikan, sedang di pospos lainnya tetap bekerja.
Dewasa ini karantina diterapkan secara terbatas, sehubungan dengan masalah
legal, politis, etika, moral, dan filosofi tentang legitimasi, akseptabilitas, dan
efektivitas langkah-langkah pembatasan tersebut untuk mencapai tujuan kesehatan
masyarakat (Bensimon dan Upshur, 2007).
2. Surveilans Penyakit
Surveilans penyakit (disease surveillance) melakukan pengawasan terusmenerus terhadap distribusi dan kecenderungan insidensi penyakit, melalui
pengumpulan sistematis, konsolidasi, evaluasi terhadap laporan-laporan penyakit
dan kematian, serta data relevan lainnya. Jadi fokus perhatian surveilans penyakit
adalah penyakit, bukan individu.
Di banyak negara, pendekatan surveilans penyakit biasanya didukung melalui
program vertikal (pusat-daerah). Contoh, program surveilans tuberkulosis, program
surveilans malaria. Beberapa dari sistem surveilans vertikal dapat berfungsi efektif,
tetapi tidak sedikit yang tidak terpelihara dengan baik dan akhirnya kolaps, karena
pemerintah kekurangan biaya. Banyak program surveilans penyakit vertikal yang
berlangsung paralel antara satu penyakit dengan penyakit lainnya, menggunakan

fungsi penunjang masing-masing, mengeluarkan biaya untuk sumberdaya masingmasing, dan memberikan informasi duplikatif, sehingga mengakibatkan inefisiensi.
3. Surveilans Sindromik
Syndromic surveillance (multiple disease surveillance) melakukan pengawasan
terus-menerus terhadap sindroma (kumpulan gejala) penyakit, bukan masing-masing
penyakit. Surveilans sindromik mengandalkan deteksi indikator-indikator kesehatan
individual maupun populasi yang bisa diamati sebelum konfirmasi diagnosis.
Surveilans sindromik mengamati indikator-indikator individu sakit, seperti pola
perilaku, gejala-gejala, tanda, atau temuan laboratorium, yang dapat ditelusuri dari
aneka sumber, sebelum diperoleh konfirmasi laboratorium tentang suatu penyakit.
Surveilans sindromik dapat dikembangkan pada level lokal, regional, maupun
nasional. Sebagai contoh, Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
menerapkan kegiatan surveilans sindromik berskala nasional terhadap penyakitpenyakit yang mirip influenza (flu-like illnesses) berdasarkan laporan berkala
praktik dokter di AS. Dalam surveilans tersebut, para dokter yang berpartisipasi
melakukan skrining pasien berdasarkan definisi kasus sederhana (demam dan batuk
atau sakit tenggorok) dan membuat laporan mingguan tentang jumlah kasus, jumlah
kunjungan menurut kelompok umur dan jenis kelamin, dan jumlah total kasus yang
teramati. Surveilans tersebut berguna untuk memonitor aneka penyakit yang
menyerupai influenza, termasuk flu burung, dan antraks, sehingga dapat
memberikan peringatan dini dan dapat digunakan sebagai instrumen untuk
memonitor krisis yang tengah berlangsung (Mandl et al., 2004; Sloan et al., 2006).
Suatu sistem yang mengandalkan laporan semua kasus penyakit tertentu dari
fasilitas kesehatan, laboratorium, atau anggota komunitas, pada lokasi tertentu,
disebut surveilans sentinel. Pelaporan sampel melalui sistem surveilans sentinel
merupakan cara yang baik untuk memonitor masalah kesehatan dengan
menggunakan sumber daya yang terbatas (DCP2, 2008; Erme dan Quade, 2010).
4. Surveilans Berbasis Laboratorium
Surveilans berbasis laboratorium digunakan untuk mendeteksi dan menonitor
penyakit infeksi. Sebagai contoh, pada penyakit yang ditularkan melalui makanan
seperti salmonellosis, penggunaan sebuah laboratorium sentral untuk mendeteksi
strain bakteri tertentu memungkinkan deteksi outbreak penyakit dengan lebih segera
dan lengkap daripada sistem yang mengandalkan pelaporan sindroma dari klinikklinik (DCP2, 2008).

5. Surveilans Terpadu
Surveilans terpadu (integrated surveillance) menata dan memadukan semua
kegiatan surveilans di suatu wilayah yurisdiksi (negara/ provinsi/ kabupaten/ kota)
sebagai sebuah pelayanan publik bersama. Surveilans terpadu menggunakan
struktur, proses, dan personalia yang sama, melakukan fungsi mengumpulkan
informasi yang diperlukan untuk tujuan pengendalian penyakit. Kendatipun
pendekatan surveilans terpadu tetap memperhatikan perbedaan kebutuhan data
khusus penyakitpenyakit tertentu (WHO, 2001, 2002; Sloan et al., 2006).
Karakteristik pendekatan surveilans terpadu: (1) Memandang surveilans sebagai
pelayanan bersama (common services); (2) Menggunakan pendekatan solusi
majemuk; (3) Menggunakan pendekatan fungsional, bukan struktural; (4)
Melakukan sinergi antara fungsi inti surveilans (yakni, pengumpulan, pelaporan,
analisis data, tanggapan) dan fungsi pendukung surveilans (yakni, pelatihan dan
supervisi, penguatan laboratorium, komunikasi, manajemen sumber daya); (5)
Mendekatkan

fungsi

surveilans

dengan

pengendalian

penyakit.

Meskipun

menggunakan pendekatan terpadu, surveilans terpadu tetap memandang penyakit


yang berbeda memiliki kebutuhan surveilans yang berbeda (WHO, 2002).
6. Surveilans Kesehatan Masyarakat Global
Perdagangan dan perjalanan internasional di abad modern, migrasi manusia dan
binatang serta organisme, memudahkan transmisi penyakit infeksi lintas negara.
Konsekunsinya, masalah-masalah yang dihadapi negara-negara berkembang dan
negara maju di dunia makin serupa dan bergayut. Timbulnya epidemi global
(pandemi) khususnya menuntut dikembangkannya jejaring yang terpadu di seluruh
dunia, yang manyatukan para praktisi kesehatan, peneliti, pemerintah, dan
organisasi internasional untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan surveilans yang
melintasi batas-batas negara. Ancaman aneka penyakit menular merebak pada skala
global, baik penyakit-penyakit lama yang muncul kembali (re-emerging diseases),
maupun penyakit-penyakit yang baru muncul (newemerging diseases), seperti
HIV/AIDS, flu burung, dan SARS. Agenda surveilans global yang komprehensif
melibatkan aktor-aktor baru, termasuk pemangku kepentingan pertahanan keamanan
dan ekonomi (Calain, 2006; DCP2, 2008).
Prinsip Umum Surveilans :
Prinsip umum penanganan penyakit menular:

a
b
c

Kontrol terhadap sumber atau reservoir infeksi


Memutuskan rantai penularan
Proteksi pada kelompok penduduk yang rentan

Fungsi Surveilans Epidemiologi:


1

Fungsi inti: Deteksi, pelaporan,investigasi dan konfirmasi,analisis dan

interpretasi dan aksi/respons.


Fungsi penunjang: Pelatihan,supervisi,sumber daya dan standar/panduan.

Kegunaan Surveilans Epidemiologi:


a
b
c
d

Mengetahui dan melengkapi gambaran epidemiologi dari suatu penyakit


Menentukan penyakit mana yang diprioritaskan untuk diobati atau diberantas
Meramalkan terjadinya wabah
Menilai dan memantau pelaksanaan program pemberantasan penyakit
menular dan program-programkesehatan lainnya , seperti program mengatasi

kecelakaan,program kesehatan gigi,program gizi dan lainnya


Mengetahui jangkauan atau cakupan dari pelayanan kesehatan

Unsur Dasar Surveilans Epidemiologi


Unsur-unsur surveilans epidemiologi untuk penyakit,khususnya penyakit
menular adalah sebagai berikut:
a

Pencatatan kematian
Dilakukan di tingkat desa dilaporkan ke kantor kelurahan lalu ke kantor
kecamatan dan puskesmas. Sementara itu dari kantor kecamatan,pencatatan
tersebut dikirim ke kantor kabupaten/kota. Unsur ini akan bermanfaat bila
data pada pencatatan kematian cepat diolah dan hasilnya segera

diberitahukan kepada yang berkepentingan.


Laporan penyakit
Unsur ini penting untuk mengetahui distribusi penyakit menurut waktu,

apakah musiman, cyclic atau secular.


Laporan Wabah
Penyakit tersebut terjadi dalam bentuk wabah,misalnya

keracunan

makanan,influenza,demam berdarah, dan lain-lain. Laporan wabah dengan


distribusi

menurut

waktu

,tempat,danorang

penting

artinya

untuk

menganalisis dan menginterpretasikan data dalam rangka mengetahui


sumber dan penyebab wabah tersebut.
d Pemeriksaan laboratorium

Laboratorium merupakan suatu sarana yang penting untuk mengetahui


kuman penyebab penyakit menular dan pemeriksaan tertentu untuk penyakite

penyakit lainnya.
Penyakit Khusus
Penyelidikan kasus untuk penyakit khusus dimaksudkan untuk mengetahui
riwayat alamiah penyakit yang belum umum dietahui,terjadi pada seorang

atau lebih individu.


Penyelidikan wabah
Dalam hal ini diperlukan diagnosis klinis,diagnosis laboratoris di samping

penyelidikan epidemi di lapangan.


g Survei
Survei ialah suatu cara penelitian epidemiologi untuk mengetahui prevalens
penyakit Dengan ukuran ini dapat diketahui luas masalah penyakit tersebut.
h Penyelidikan tentang distribusi dari vektor dan reservoir penyakit
Vektor-vektor penyakit perlu diselidiki oleh ahli epidemiologi untuk
mengetahui apakah mengandung kuman malaria atau virus dari demam
i

berdarah,dsb.
Penggunaan obat-obatan, Sera dan vaksin
Keteragan yang menyangkut penggunaan bahan-bahan tersebut mengenai
banyaknya,jenisnya dan waktunya memberi petunjuk kepada kita mengenai
masalah penyakit. Di samping itu,dapat pula dikumpulkan keterangan

mengenai efek samping dari bahan-bahan tersebut.


Keterangan tentang penduduk serta lingkungan
Keterangan tentang penduduk penting untuk menetapkan Population at
risk. Persediaan bahan makanan juga penting diketahui apakah ada
hubungan dengan kekurangan gizi,faktor-faktor lain yang berhubungan
dengan kependudukan,dan lingkungan ini perlu selalu dipikirkan dalam
rangka analisis epidemiologis.

Di masa sekarang masalah kesehatan sudah semakin kompleks dan penyebabnya


juga bervariasi, oleh karena itu secara operasional dalam sektor kesehatan sendiri
diperlukan tatalaksana terintegrasi dan komprehensif dengan kerjasama yang harmonis
antar sektor dan program, sehingga perlu dikembangkan subsistem surveilans
epidemiologi kesehatan yang lingkupnya mencangkup Surveilans Epidemiologi
Penyakit Menular, Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Surveilans
Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Perilaku, Surveilans Epidemilogi Masalah
Kesehatan, dan Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra. (Kemenkes RI No.

1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans


Epidemiologi Kesehatan)
Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular merupakan suatu analisis yang
dilakukan secara terus-menerus dan sistematis terhadap penyakit menular dan faktor
risiko untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular seperti filariasis, TB,
diare, HIV/AIDS, dst. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular sendiri juga
merupakan analisis yang dilakukan secara terus-menerus dan sistematis terhadap
penyakit tidak menular dan faktor risiko untuk mendukung upaya pemberantasan
penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes melitus,
kanker, dst. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Perilaku dilakukan
untuk mendukung program-program kesehatan tertentu seperti sarana air bersih, limbah
industri, rumah sakit, dst. Sedangkan surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra
dilakukan untuk mendukung program kesehatan matra seperti kesehatan para jemaah
haji, udara, keracunan, pelabuhan, laut, KLB, dst. (Permenkes RI No.45 Tahun 2014
tentang Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan)
Sedangkan ruang lingkup epidemiologi menurut tempatnya dapat dibedakan
menjadi surveilans epidemilogi dalam masyarakat dan surveilans epidemiologi di rumah
sakit. Surveilans Epidemiologi dalam masyarakat dilakukan pada suatu wilayah atau
kelompok populasi tertentu yang memberi kesempatan untuk mengenal variabel yang
diteliti seperti distribusi penyakit menurut musim, mengetahui daerah geografis dengan
jumlah kasus kesehatan tertinggi, dsb. Kemudian Surveilan Epidemiologi di rumah sakit
sendiri dilakuakn untuk mengatasi penularan penyakit infeksidi rumah sakit.
Penilaian terhadap kesehatan masyarakat dapat didasarkan pada kejadian penting
yang menimpa masyarakat. Indikator kesehatan masyarakat anatara alain adalah angka
kematian, angka kelahiran, dan angka kesakitan. Dalam pelaksanaan surveilans
diperlukan suatu ukuran yang digunakan untuk memonitor penyakit. Ukuran tersebut
adalah indikator penyakit. Adapun indikator pengukuran penyakit tersebut antara lain
angka atau jumlah kasus, rate, proporsi, ratio. Indikator pengukuran penyakit juga dpat
menjadi indikator dari insiden penyakit dan keefektifan dari pengobatan suatu penyakit.
Selain indikator pengukuran penyakit, terdapat pula indikator dari surveilans itu
sendiri. Indikator surveilans ini haruslah spesifik (specific), dapat diukur (measurable),

berorientasi apda aksi (action oriented), realistis (realistic), dan tepat waktu (timlely).
Dalam indikator surveilans harus tersedia tenaga epidemiologi minimal satu orang,
tersedianya data terkini, kelengkapan pelaporan secara menyeluruh dari jenis pelaporan
yakni prosentase laporan yang seharusnya diterima atau dikirim dibanding realisasi
laporan yang diterima atau dikirim dalam waktu tertentu seperti pelaporan program
kesehatan ibu dan anak, pelaporan KLB, pelaporan penemuan kasus baru dari penyakit
menular dan pelaporan lainnya yang terakomodir dalam sistem pencatatan dan
pelaporan terpadu dan benar-benar dapat dipertanggung jawabkan, serta ketepatan
waktu pelaporan yakni laporan harus diterima sesuai dengan waktu yang ditetapkan
(Depkes RI, 2004).
Indikator Surveilans berfungsi untuk memperoleh gambaran penyakit, faktor
risiko, dan masalah kesehatan, sebagai contoh kunjungan ibu hamil, cakupan imunisasi,
laporan bulanan data kesakitan puskesemas, laporan bulanan kasus TB, laporan bulanan
kematian rumah sakit, registri penyakit tidak menular, dan sebagainya. Di dalam
indiakor surveilans haruslah memperhatikan kelengkapan laporan, jumah dan kualitas
kajian epidemiologi serta rekomendasi yang dapat dihasilkan, terdistribusinya berita
epidemiologi lokal dan nasional, pemanfaatan informasi epidemiologi dalam
manajemen program kesehatan, mampu menurunkan frekuensi kejadian luar biasa
penyakit, dan meningkatkan kajian sistem kewaspadaan dini-SKD penyakit.

DAFTAR PUSTAKA
Bensimon CM, Upshur REG (2007). Evidence and effectiveness in decisionmaking for
quarantine. Am J Public Health;97:S44-48.
Budiarto, Eko. 2002. Pengantar Epidemiologi Edisi 2. Jakarta: EGC.
DCP2 (2008). Public health surveillance. The best weapon to avert epidemics. Disease
Control Priority Project. www.dcp2.org/file/153/dcpp-surveillance.pdf
fk.uns.ac.id/static/materi/Surveilans_-_Prof_Bhisma_Murti.pdf
https://adityasetyawan.files.wordpress.com/.../ukuran2-dlm-epidemiologi.
https://adityasetyawan.files.wordpress.com/.../ukuran-epid-2008-new.pdf
https://pendokunand2011.files.wordpress.com/.../27-indikator-pengukur...
http://repository.dinus.ac.id/docs/ajar/PRINSIP_DASAR_SURVEILANS_EPIDEMIOL
OGI.ppt
https://www.academia.edu/8420422/Analisis_dan_Interpretasi_Data_Surveilans
journal.unhas.ac.id/index.php/jadkkm/article/download/685/584

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

1116/MENKES/SK/VIII/2003
Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan
Last, JM (2001). A dictionary of epidemiology. New York: Oxford University Press,
Inc.
Rajab,Wahyudin. 2009. Buku Ajar Epidemiologi untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta :
EGC
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19934/5/Chapter%20I.pdf
WHO (2001). An integrated approach to communicable disease surveillance. Weekly
epidemiological record, 75: 1-8. http://www.who.int/wer
WHO (2002). Surveillance: slides. http://www.who.int

Soal dan Jawaban Resume Materi 1


1 Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular
2 Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
3 Surveilans Epidemilogi dalam masyarakat
4 Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Perilaku
5 Surveilans Epidemiologi dalam Rumah Sakit
6 Surveilans Epidemilogi Masalah Kesehatan
7 Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra.
1) Berikut ini yang Surveilans Epidemiologi yang ruang lingkupnya mencakup analisis
penyakit diabetes melitus dan keracunan adalah nomor...
a 1 dan 6
b 3 dan 4
c 5 dan 7
d 4 dan 5
e 2 dan 7
2) Dalam prisip umum surveilans epidemiologi, penghubung antara sistem pelayanan
kesehatan dan autoritas kesehatan masyarakat adalah...
a. Evaluasi
b. Pelaporan
c. Analisis

d. Umpan Balik
e. BSSD
3) Berikut ini bukan termaksud dalam Unsur-unsur surveilans epidemiologi adalah..
a Pencatatan kematian
b Pencatatan kelahiran
c Pemeriksaan laboratorium
d Penyelidikan wabah
4) Kegunaan statistik vital adalah sebagai berikut, kecuali :
a

Melaksanakan aktivitas perencanaan kesehatan

Menilai perbedaan berdasarkan area geografik dan pekerjaan

Memantau kemajuan kearah tujuan kesehatan

Memonitor kematian yang dapat dicegah

Memberikan perhatian pada penyakit yang menjadi masalah kesehatan


utama.

5) Salah satu indikator pengukuran penyakit/ epidemiologis adalah. . .


a. Spesifik
b. Tepat waktu
c. Proporsi
d. Realistis
e. Dapat diukur

SUMBER DATA SURVEILANS EPIDEMIOLOGI


A. Notifabel Disease
Notifiable disease berarti penyakit yang wajib dilaporkan. Pertama kali
diterapkannya penyakit yang waji dilaporkan ini ditingkat nasional adalah oleh
Amerika Serikat pada tahun 1878 meliputi penyakit kolera, cacar, pes dan demam
kuning. Selanjutnya perintah untuk pelaporan ini diamanatkan oleh kongres pada
tahun 1902, dan pada tahun 1928 semua negara bagian Amerika Serikat ikut serta
dalam pelaporan mingguin penyakit wajib dilaporkan ini.
B. Mekanisme Pelaporan
Mekanisme pelaporan ini tidak dapat dipisahkan dari macam-macam Notifiable
disease karena terkadang, berbeda penyakit memiliki mekanisme pelaporan yang
berbeda. Ada mekanisme pelaporan yang harus melalui laporan nasional namun ada
pula mekanisme pelaporan yang cukup menelepon dinas kesehatan terdekat. Berikut
adalah berbagai contoh Notifiable Disease tersebut dan mekanisme pelaporannya:
1. Laporan nasional dari negara bagian dengan persetujuaan dari CDC (Centre
Disease Control) dan Dewan Negara dan CSTE (Council of State and Territotial
Epidemiologist)
a. Dalam tahun 1996, laporan nasional diperlukan untuk penyakit:
i. Kolera
ii. Pes
iii. Demam Kuning

b. Penyakit lain yang dilaporlan dan didiskusikan secara tahunan (52


penyakit infeksius pada tahun 1996)
c. Penyakit yang diamanatkan hukum oleh negara bagian masing-masing
2. Penyakit yang wajib dilaporkan telah digunakan untuk mengumpulkan informasi
pada kondisi noninfeksius
a. Berkaitan dengan pekerjaan
i. Keracunan timbal
ii. Keracunan pestisida
iii. Penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan
b. Kondisi noninfeksius
i. Cedera medula spinalis
ii. Penyakit Alzheimer
c. Kondisi yang berkaitan dengan vaksin nasional.

Kondisi

ini

dimaksudkan bahwa apabila ada kecurangan dalam pembeliaan atau


pengadaan vaksin dapat dilaporkan
3. Pengumpulan, transmisi dan diseminasi data. Tujuan sistem surveilans
memberik arah pada program pemberataian dan pencegakan lokal atau nasional,
informasi biasanya dilaporkan oleh petugas kesehatan pada dinas kesehatan
lokal atau nasional.
- Bersifat sewaktu-waktu melalui telefon
- Bersifat mingguan untuk menggunakan surat
- Untuk informasi yang lebih rinci berkenaan dengan faktor
-

risiko, dsb dikumpulkan ke CDC dengan format khusus


Dapat juga menggunakan rekaman kehadiran untuk surveilans di
sekolah dan industri

Berikut ini adalah berbagai sistem pelaporan yang telah diterapkan di Amerika
Serikat beserta negara bagiannya:
a. Surveilans mungkin dibagi atas tiga jenis survey. (1) survei pasif yang
diawali oleh petugas (2) survei aktif yang diawali oleh departemen
kesehatan dan (3) survei sentinel memilik laporan individual
b. National Notifiable Disease Surveillance System (NNDSS) terbagi atas
dua sistem, yaitu (1) laporang dari negara bagian dan (2) personal
investigasi tidak termasuk
c. NETSS (National Electronic

Telecommunication

System

for

Surveillance) yang dimulai pada tahun 1985 dan pada tahun 1990 semua
negara

bagian

menggunakan

sistem

ini

sebagai

mekanisme

pelaporaannya. NETSS ini menggunakan transmisi elektronik yang


menghubungkannya ke CDC (Centre Disease Control)
d. MMWR (Morbidity and Mortality Weekly Report) diterbitkan oleh CDC,
digunakan untuk laporan kasus nasional untuk penyakit yang dilaporkan
mingguan setelah dilaorkan ke CDC dan tersedia dalam bentuk cetakan
dan laporan elektronik
e. Laporan mingguan tentang data surveilans dan informasi kesehatan
masyarakat oleh dinas kesehatan
f. Surveilans untuk penyakit yang melibatkan hewan secara langsung
maupun tidak langsung seperti Ensefalitis, rabies, demam Rocky
Mountain Spotted dan penyakit Lyme
g. Peranan laboratorium dalam pelaporan penyakit menjadi sangat penting
dan banyak negara bagian yang telah mengembangkan laporan yang
dikendaki
C. Statistik Vital
Statistik vital meliputi data yang tersedia berkaitan dengan kesehatan dalam
beberapa negara dalam suatu format yang baku dan sering hanya sumber-sumber
tersedia untuk pengestimasian angka untuk daerah geografik yang kecil.
Kegunaan Statistik Vital adalah:
1. Untuk mengidentifikasi perbedaan status kesehatan

dalam

kelompok-kelompok berdasarkan area geografik dan pekerjaan


2. Memonitor kematian yang dapat dicegah
3. Menghasilkan hipotesis mengenasi korelasi yang mungkin
berhubungan
4. Melaksanakan aktifitas perencanaan kesehatn
5. Memantau kemajuan kearah tujuan kesehatan
Statistik Vital biasanya terdiri atas Sertifikat Kelahiran dan Sertifikat Kematian.
a. Sertifikat Kelahiran telah menjadi tanggung jawab di Amerika Serikat paling
lambar 24 jam setelah bayi dilahirkan dan telah mencakup tanggal, waktu
dan informasi tambahan lainnya. Sertifikasi adopsi pun memiliki sertifikat
baku yang didukung.
b. Sertifikat Kematian mencakup informasi sebab kemarian, kisaran antara
kondisi awal dan kematian, kondisi medik, cara kematian, pelaksanaan
autopsi, dan sebab pemeriksaan medik dilakukan. Sertifikat kematian ini
bermanfaat untuk kondisi pengklasifikasian dan perhitungan rates.

Surveilans vital dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi mutu


statistik vital, faktor-faktor yang mempengaruhi komparabilitas statistik vital, estimasi
populasi, populasi yang tidak dihitung, perbandignan angka sebab-spesifik dan dampak
menggunakan kode dalam sertifikat.
Sistem surveilans berdasarkan statistik vital dalam berupa laporan mingguan,
laporan bulanan dan triwulan, kematian bayi dan keluaran reproduktid lain dari yang
merugikan, kematian karena pekerjaan dan sumber-sumber tambahan lainnya.
D. Surveilans Sentinel
Surveilans Sentinel adalah penyelenggaraan surveilens epidemiologi pada
populasi dan wilayah terbatas untuk mendapatkan signal adanya masalah kesehatan
pada suatu populasi atau wilayah yang lebih luas. (Dinkes Kota Semarang, 2004).
Atau dengan kata lain surveilans sentinel merupakan adanya suatu kejadian
penyakit, kecacatan atau kematian yang dapat menjadi suatu tanda diperlukan atau
tidaknya upaya preventif atau pengobatan pada wilayah tersebut. Tempat-tempat
sentinel cukup mewakili suatu area tertentu, biasanya seperti di rumah sakit, klinik
dan pusat kesehatan masyarakat. Tempat-tempat sentinel digunakan untuk
memantau kondisi informasi lain yang tidak tersedia dan memantau kondisi dalam
subkelompok yang rentan pada populasi umum.
Puskesmas sentinel
Yaitu sebuah puskesmas yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/ Kota sebagai Puskesmas sentinel dengan memperhatikan
sumber daya puskesmas dan kemampuan pembinaan. (Keputusan

Menteri Kesehatan RI Nomor 1479/MENKES/SK/X/2003)


Rumah Sakit sentinel
Rumah Sakit sentinel yaitu Rumah Sakit Pemerintah tipe A, tipe B dan
sebuah Rumah Sakit tipe lain di Kabupaten/ Kota yang ditetapkan oleh
Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota sebagai Rumah Sakit Sentinel.
(Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1479/MENKES/SK/X/2003)

Petugas sentinel yaitu pegawai pada daerah kerja sentinel yang diberikan
pelatihan dan pengawasan khusus untuk menyakinkan bahwa pelaporan lengkap dan
akurat. Petugas sentinel bertugas untuk melaporkan data surveilans, meningkatkan mutu
data dan dapat menghitung serta mengestimasi morbiditas penyakit.

E. Register
Register merupakan kegiatan pendataan yang dilakukan secara aktif oleh orang
yang mengalami kejadian penyakit yang menjadi masalah utama pada kesehatan
masyarakat. Register mengidentifikasi laporan kejadian-kejadian penyakit yang
terjadi setiap saat secara rutin. Manfaat register yaitu :
Memberikan perhatian pada penyakit yang menjadi masalah utama di

dalam masyarakat
Memantau penyakit kronik
Mendapatkan informasi dari banyak sumber setiap waktu
Mengumpulkan data secara sistematik
Mengidentifikasi peluang untuk pemberantasan dan pencegahan penyakit

Tipe register ada 3 yaitu :

Serial kasus dan didasarkan rumah sakit yaitu tulisan yang melaporkan lebih dari
1 kasus yang mengikuti perjalanan penyakit beberapa pasien. Namun tipe ini

hanya dapat dilakukan oleh pemegang/ penanggungjawab pasien tersebut


Didasarkan pada populasi yaitu seluruh sumber populasi dicatat
Pemajan
F. Survei
Survei adalah suatu cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pencacahan
sampel atau studi kasus untuk memperkirakan karakteristik suati populasi tertentu.
Survei menyediakan informasi untuk penilaian prevalens kondisi kesehatan dan
risiko sepanjang waktu. Perbedaan antara survei dengan registrasi yaitu survei
biasanya dilakukan secara periodik untuk memperkirakan suatu penyakit atau
kematian dan merekomendasikan tindakan pencegahan apabila suatu waktu kejadian
itu terulang. Sedangkan register dilakukan dari penyedia layanan kesehatan umum
dan swasta yang menyediakan laporan kematian, kelahiran ataupun data lainnya
kepada suatu sistem pusat.
Tipe-tipe survei diantaranya :
Survei wawancara kesehatan
Yaitu teknik memperoleh informasi dengan cara menanyakan pertanyaan
langsung kepada responden. Dalam hal ini, seorang pewawancara harus paham
dari tujuan dan maksud dari survei. Dan salah satu kunci keberhasilan
wawancara kesehatan yaitu proses wawancaranya. Contoh survei wawancara
kesehatan yaitu SKRT (Survei Kesehatan Rumah Tangga) dan SDKI (Survei
Demografi Kesehatan Indonesia).

Survei Morbiditas
Survei Pelayanan Medis Rawat Jalan
Survei Pemeriksaan Kesehatan
Survei Pencatatan Kesehatan

DAFTAR PUSTAKA

Kepetusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1479/MENKES/SK/X/2003


Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit
Menular Dan Tidak Menular Terpadu
Rajab, Wahyudin. 2008. Buku Ajar Epidemiologi. Jakarta: EGC.

Soal dan Jawaban Materi 2


1. Terdapat beberapa sistem pelaporan penyakit wajib lapor di Amerika Serikat. Salah
satunya dibuat sendiri oleh CDC gendan melaporkan kasus nasional untuk penyakitpenyakit yang dilaporkan mingguan setelah dilaporkan ke CDC, sistem ini adalah...
a. NNDSS
b. NETSS
c. MMWR
d. Surveilans Zoonotik
e. BSSD
2. Berikut ini yang bukan merupakan manfaat register sebagai sumber data dalam
Surveilans Epidemiologi adalah...
a. Memantau penyakit kronik
b. Memantau perubahan dalam prevalen sepanjang waktu
c. Mengumpulkan data secara sistematik
d. Menjalin informasi dari banyak sumber setiap waktu
e. Mengidentifikasi peluang pemberantasan dan pencegahan penyakit

3. Dibawah ini adalah kelebihan survei, kecuali...


a

Dengan survei dapat dilakukan penghematan atas biaya, tenaga dan waktu

Data sangat khusus, perlu kehati-hatian dalam menerapkan analisis untuk


pengambilan keputusan.

Topik/aspek yang dikumpulkan lebih beragam, spesifik, rinci sesuai kebutuhan

Fleksibilitas pelaksanaan, survei dapat dilaksanakan kapan saja.

4. Penyelenggaraan surveilans Epidemiologi pada populasi dan wilayah terbatas untuk


mendapatkan signal adanya masalah kesehatan pada suatu populasi atau wilayah
yang lebih luas, merupakan definisi dari :
a. Surveilens epidemiologi
b. Surveilens Sentinel
c. Surveilens KIA
d. Prinsip Surveilans
e. Sumber Data
5. Yang termasuk dalam jenis surveilans sentinel adalah. . .
a. Sentinel health event
b. Sentinel site
c. Sentinel basecamp
d. A dan B benar