Anda di halaman 1dari 14

UJI PRODUKTIVITAS PRIMER DI PERAIRAN PANTAI BAMA, TAMAN

NASIONAL BALURAN, SITUBONDO


Indrie Dwi Andarwati, Isti Anisa Turobia, Viki Safitri
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Surabaya

ABSTRAK
Pantai Bama yang merupakan salah satu habitat akuatik yang menjadi bagian dari Taman
Nasional Baluran. Keseimbangan aliran energi yang ada dalam habitat akuatik di Pantai Bama
sangat menentukan keberlangsungan kehidupan organisme di dalamnya.. Pengujian air sangat
penting dilakukan karena air merupakan substansi yang sangat penting dalam menunjang kehidupan
makhluk hidup. Penelitian ini bertujuan Untuk mendeskripsikan kadar fotosintesis, kadar respirasi,
produktivitas primer, dan produktivitas total di perairan Pantai Bama, Taman Nasional Baluran.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah bersifat kegiatan observasional dengan metode winkler.
Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Pantai Bama pada tanggal 12 Desember. Produktifitas
primer akhir lebih besar dari pada produktifitas primer awal. Oksigen terlarut (DO) pada botol
terang lebih banyak daripada pada botol gelap. Hal itu dikarenakan pada botol terang laju
fotosintesis lebih besar daripada pada botol gelap.
Kata Kunci : Pantai Bama, Produktivitas Primer

PENGANTAR
Pengujian air sangat penting dilakukan karena air merupakan substansi yang sangat
penting dalam menunjang kehidupan makhluk hidup didalamya yang meliputi pengujian
secara baik secara kualitatif maupun kuantitatif dapat dipakai sebagai pengukuran kualitas air
(Ramona dkk., 2007).
Diketahui bahwa oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas
perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik
dan anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukan kegiatan biologis yang dilakukan oleh
organisme aerob atau anaerob, sebagai pengoksidasi dan pereduksi bahan kimia beracun
menjadi senyawa lain yang lebih sederhana dan tidak beracun. Oksigen juga sangat
dibutuhkan

oleh

mikroorganisme

untuk

pernapasan.

Organisme

tertentu,

seperti

mikroorganisme, sangat berperan dalam menguraikan senyawa kimia beracun menjadi


senyawa lain yang lebih sederhana dan tidak beracun (Fauziah, 2010).
Sumber oksigen air antara lain dapat diperoleh secara langsung dari atmosfer melalui
proses difusi dan melalui biota berklorofil yang mampu berfotosintesis. Disamping itu juga
terdapat faktor yang menyebabkan berkurangnya oksigen dalam air laut yaitu karena respirasi
biota, dekomposisi bahan organik dan pelepasan oksigen ke udara. Mengetahui kualitas air
dalam suatu perairan, dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter kimia yang

sering digunakan yaitu DO (Dissolved Oxygen), BOD (Biochemical Oxygen Demand), dan
COD (Chemical Oxygen Demad) (Nontji, 2009 : 24).
Produktivitas adalah laju penambatan atau penyimpanan energi oleh suatu komunitas
dalam ekosistem. Ekosistem memperkenalkan adanya produsen dan konsumen sehingga
dikenal juga dengan produktivitas oleh produsen dan produktivitas oleh konsumen (Djumara,
2007).
Produktivitas Primer secara umum dapat diartikan sebagai hasil dari fotosintesis
fitoplankton dan tumbuhan air yang menghasilkan senyawa organik dan oksigen sebagai
kebutuhan dari organisme akuatik (Sinurat, 2009).
Pantai Bama yang merupakan salah satu habitat akuatik yang menjadi bagian dari
Taman Nasional Baluran. Keseimbangan aliran energi yang ada dalam habitat akuatik di
Pantai Bama sangat menentukan keberlangsungan kehidupan organisme di dalamnya.
Kondisi air di pantai bama sedikit keruh, bukan karena kotor akibat manusia, tetapi pantai
bama dekat dengan hutan mangrove, meskipun kondisi air keruh, masih terdapat batu karang
dan ekosistem lain (Rivki,2013). Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan pengujian air
produktivitas primer di Pantai Bama untuk mengetahui hasil dari fotosintesis fitoplankton dan
tumbuhan air yang menghasilkan senyawa organik dan oksigen sebagai kebutuhan dari
organisme akuatik.
Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mendeskripsikan kadar fotosintesis, kadar
respirasi, produktivitas primer, dan produktivitas total di perairan Pantai Bama, Taman
Nasional Baluran. Manfaat dari proyek ini adalah dapat mengetahui produktivitas primer di
perairan Pantai Bama. Sehingga dengan mengetahui produktivitas air dapat diketahui juga
kualitas air di perairan Pantai Bama. Harapannya kualitas air di perairan Pantai Bama
menjadi lebih bersih dan bebas pencemaran sehingga makhluk hidup yang ada di perairan
Pantai Bama menjadi lebih sehat dan tidak tercemar.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Pantai Bama, Taman Nasional Baluran, Situbondo pada
tanggal 12 Desember 2015. Kegiatan praktikum ini bersifat kegiatan observasional, karena
pada penelitian ini memiliki ciri-ciri eksperimen, yaitu terdapat variabel kontrol, variabel
manipulasi dan variabel respon. Metode yang dilakukan pada pengamatan di perairan pantai
bama menggunakan metode winkler, prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri.
Ssampel yang dianalisis terlebih dahulu ditambahkanlarutan MnCl2 dan NaOH KI sehingga
akan terjadi endapanMnO2.
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian adalah botol winkler terang, botol
winkler gelap, tali rafia, erlenmeyer, spuit Larutan MnSO4, Larutan KOH-KI, Larutan H2SO4,

Larutan Amilum 1 %, Larutan N2S 2O3, dan Sample air. Sasaran dari penelitian ini adalah
mengukur kadar DO dengan menggunakan metode winkler pada perairan Pantai Bama,
sedangkan objek yang dikaji adalah hasil nilai DO awal dan akhir.
Pengamatan dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan pada tanggal dan waktu yang
sama. Pengamatan dilakukan pada siang hari pukul 12.00-14.00 WIB. Tujuan dari langkah
pengamatan lapangan ini Untuk mendeskripsikan kadar fotosintesis, kadar respirasi,
produktivitas primer, dan produktivitas total di perairan Pantai Bama, Taman Nasional
Baluran. Pengambilan gambar objek percobaan dilakukan dengan menggunakan kamera
digital.

HASIL
Pada penelitian di Perairam Pantai Bama Taman Nasional Baluran, Situbondo
menghasilkan nilai produktivitas primer sebesar 1,98 mg/l ( Tabel 1)

Tabel 1. Data Pengamatan Produktivitas Primer di Perairan Pantai Bama, Taman Nasional Baluran.

Stasiu
n

Parameter (mg/l)
DO

DO Akhir

Fotosin

Respir

Produktivitas

Awal

Terang

gelap

-tesis

asi

primer

Sekunder

Total

1,17

2,77

1,62

1,6

0,45

1,08

1,98

3,06

2.98

4,88

3,57

1,90

0,59

1,13

2,49

5,6

3,51

3,52

2,4

0,01

1,11

1,12

-1,1

0,02

3,98

4,88

4,06

0,9

0,08

0,82

0,98

1,8

3,01

2,88

3,36

-0,13

0,35

-0,48

0,22

-0,26

3,57

6,88

4,41

3,31

0,84

2,47

4,15

6,62

3.02

4,55

3,96

1,53

0,94

0,59

2,47

3,06

3,2

5,6

2,4

0,8

1,6

0,32

4,8

1,52

2,67

2,56

1,15

1,04

0,11

0,65

2,30

10

3,01

4,75

4,46

1,74

1,45

1,45

0,76

3,48

Total

29

43,38

34,4

14,38

7,62

8,89

19,78

28,75

Rata-rata

2,9

4,34

3,44

1,44

0,76

0,90

1,98

2,88

PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis data yang ada di atas Pantai Bama yang merupakan salah satu
habitat akuatik yang menjadi bagian dari Taman Nasional Baluran.Keseimbangan aliran
energi yang ada dalam habitat akuatik di Pantai Bama sangat menentukan keberlangsungan
kehidupan organisme di dalamnya. Kondisi air di pantai bama sedikit keruh, bukan karena
kotor akibat manusia, tetapi pantai bama dekat dengan hutan mangrove, meskipun kondisi air
keruh, masih terdapat batu karang dan ekosistem lain (Rivki,2013), maka terlihat perbedaan
nilai DO awal yang ditunjukkan oleh botol terang dengan botol terang yang didiamkan 1 jam
maupun dengan botol gelap. Nilai produktivitas primer sendiri dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya suhu, intensitas cahaya, pH, DO dan nutrient, selain itu faktor yang
mempengaruhi perbedaan DO awal pada botol terang dan botol gelap adalah adanya
mekanisme metabolisme yang dilakukan oleh fitoplakton dan zooplankton. Mekanisme
metabolisme yang dilakukan oleh fitoplakton yaitu fotosintesis yang menghasilkan O2.
Hasil uji produktivitas primer yang didapatkan menunjukkan bahwa rerata kadar
fotosintesis pada perairan Pantai Bama yang diperoleh yaitu sebesar 1,44 mg/l lebih besar
dari nilai respirasi yang hanya sebesar 0,76 mg/l. Hasil fotosintesis yang dilakukan oleh
fitoplakton diketahui melalui indikator Na2S2O3 melalui titrasi. Nilai DO yang ada pada botol
terang semakin tinggi maka semakin besar oksigen yang terlarut didalamnya. Nilai DO botol
gelap lebih rendah dibandingkan yang ada pada botol terang. Hal ini dipengaruhi oleh
mekanisme fotosintesis yang terdapat pada botol terang dan botol gelap. Botol gelap pun juga
mengalami respirasi sama halnya dengan botol terang. Mekanisme respirasi yang dilakukan
oleh fitoplakton dan zooplankton yang ada didalam botol gelap dan terang dapat
mempengaruhi jumlah oksigen yang terlarut didalam botol tersebut.
Cahaya adalah sumber energi primer dalam ekosistem khususnya dalam produktivitas
primer. Tumbuhan dan fitoplankton menggerakkan mesin fotosintesisnya dalam tubuhnya
dengan cahaya. Hal ini berarti pada daerah yang menerima lebih banyak dan lebih banyak
penyinaran cahaya matahari tahunan akan memiliki proses fotosintesis yang lebih panjang
sehingga mendukung peningkatan produktivitas primer (Mahmuddin, 2009). Faktor ini
berkaitan dengan pemberian botol terang dan botol gelap pada saat percobaan. Botol winkler

terang yang telah didiamkan dalam air selama 1 jam mempunyai kadar DO lebih besar
daripada kadar DO awal maupun botol gelap. Hal ini membuktikan bahwa semakin lama
biota air terpapar cahaya matahari maka semakin besar pula laju fotosintesis sehingga
meningkatkan kandungan oksigen yang larut dalam air. Kandungan oksigen terlarut
dipengaruhi oleh suhu, kehadiran fitoplankton, penetrasi cahaya matahari dan jumlah bahan
organic yang diuraikan dalam air (Sastrawidjaja, 1991).
Kadar oksigen terlarut produktivitas primer suatu ekosistem perairan pada dasarnya
merupakan hasil perubahan energi cahaya matahari menjadi energi kimia dalam tubuh
organisme autotrof perairan tersebut melalui fotosintesis. Sebagian organisme autotrof dapat
melakukan sintesis tanpa bantuan cahaya matahari, namun persentasenya sangat kecil
(Barnes dan Mann, 1994), sehingga besarnya produktivitas primer perairan sangat tergantung
aktivitas dan efektivitas fotosintesis organisme fotoautotrof.
Nilai kadar DO akhir yang hanya sebesar 4,34 mg/l menunjukkan bahwa air di Pantai
Bama termasuk dalam kategori perairan kurang bersih. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Anikouchine dan Stenberg (1973) yang menyatakan bahwa konsentrasi oksigen terlarut (DO)
diperairan jika berkisar diantara 0-9 mg/l maka dikategorikan perairan kurang bersih
sehingga berpengaruh juga terhadap organisme didalamnya termasuk kelimpahan
fitoplankton. Makin baik kondisi fisik suatu perairan maka fitoplankton yang melakukan
proses fotosintesis makin banyak, sehingga kadar oksigen yang dihasilkan juga banyak.
SIMPULAN
Kadar fotosintesis di perairan pantai bama lebih besar dari kadar respirasi, begitu juga
pada nilai produktifitas primer akhir lebih besar dari pada produktifitas primer awal. Oksigen
terlarut (DO) pada botol terang lebih banyak daripada pada botol gelap. Hal itu dikarenakan
pada botol terang laju fotosintesis lebih besar daripada pada botol gelap.

KEPUSTAKAAN
Anikouchine, W.A. and R.W. Sternberg. 1973.

The World Ocean, on Introduction to

Oceanography. Prentice-Hill, Inc.. London : 338 p Campbell, J.B; Reece, L.G;


Mitchell. 2002. Biologi. Edisi Kelima Jilid 3. Penerbit: Erlangga. Jakarta
Barus, T.A. 2004. Pengantar Limnologi Studi Tentang Ekosistem Sungai & Danau. Medan:
USU-Press.
Connel, W. Des dan Gregor. J.Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Alih
Bahasa; Yanti Koestori. Universitas Indonesia. Jakarta

Djumara, 2007. Modul 3 : Sumber Daya Alam Lingkungan Terbarukan dan Tidak
Terbarukan Diklat Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup di Daerah. Jakarta:
Environmental Assesment and Management
Emberlin, J.C. 1983. Introduction to Ecology. Mac Donald and Evans. Estrover, Plymouth
Lemusluoto, P.O. 1927. Introduction to Phytoplankton Primary Productivity in Waters.
United Nations Development Programe OTC/SE.
Moss, B. 1980. Ecolgy of Freshwater. Blackwell Scientic Publ. Oxford. London
Nontji, Anugerah. 2005. Laut Indonesia. Jakarta: Djambatan Nybakken, J.W.1992. Biologi
Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT Gramedia. Jakarta.
Odum, E.P. 1971. Fundamental of Ecology. W. B. Saunder COM. Philadelphia 125pp.
Payne, A.I. 1986. The Ecology of Tropical Lakes and Rivers. Jhon Wiley & Sons. Singapore
Ramona, Y, R. Kawuri, I. B. G Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum
Program Studi Farmasi. Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi F. MIPA UNUD.
Bukit Jimbaran.
Sinurat, Gokman. 2009. Skripsi: Studi tentang Nilai Produktivitas Primer di Pangururan
Perairan Danau Toba. Medan: Departemen Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam. Universitas Sumatera Utara.
Wiadnyana, N.N (1999). Variasi Kelimpahan Zooplankton dalam Kaitannya Dengan
Produktivitas Perairan Laut Banda. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. No.
31;57-68.

LAMPIRAN

DO awal

8000 N a
V 4

DO awal

DO awal

8000 N a
V 4

DO awal

8000 0.025 1,5


250

DO awal = 1,2 mg/l

DO awal

DO awal

8000 0.025 1,4


2504

DO awal

8000 N a
V 4

DO awal

8000 0.025 1,5


2504

DO awal = 1,12 mg/l

DO awal = 1,2 mg/l

DO akhir WT

DO akhir WT

8000 N a
V 4

8000 0.025 1,46


2504

DO awal =1,17 mg/l


DO akhir WT

8000 N a
V 4

DO akhir WT

8000 N a
V 4

DO akhir WT

8000 N a
V 4

DO akhir WT

8000 0.025 3,5


250

DO akhir WT = 2,8 mg/l

8000 0.025 3,4


250

DO akhir WT = 2,72 mg/l

DO akhir WT

8000 N a
V 4

DO akhir WT

8000 0.025 3,46


250

8000 0.025 3,5


250

DO akhir WT = 2,8 mg/l

DO akhir WT = 2,7 mg/l

DO akhir WG

DO akhir WG

8000 N a
V 4

DO akhir WG

8000 N a
V 4

DO akhir WG

8000 0.025 2
250

DO akhir WG = 1,6 mg/l

8000 0.025 1,9


250

DO akhir WG = 1.52 mg/l

DO akhir WG

8000 N a
V 4

DO akhir WG

8000 0.025 2,03


250

= 1.53

8000 N a
V 4

DO akhir WG

8000 0.025 2,2


250

DO akhir WG = 1,76 mg/l

DO akhir WG = 1,62 mg/l

Kadar Fotosintesis = DO akhir WT DO awal


= 2.7 1.17

DO akhir WG

Kadar respirasi

= DO akhir WG DO awal
= 1.62 1.17
= 0.45

Produktivitas primer = Kadar Fotosintesis - Kadar respirasi


= 1.53 0.45
= 1.08
Produktivitas Sekunder

= Kadar Fotosintesis + Kadar respirasi


= 1.53 + 0.45
= 1.98

Produktivitas Total

= Produktivitas primer + Produktivitas Sekunder


= 1.08 + 1.98
= 3.06

LAMPIRAN
Uji DO Awal Botol Winkelr Terang

Gambar 1. Hasil endapan setelah penambahan


KOH-KI

Gambar 2. Hasil sampel air setelah diberi


larutan MnSO4, KOH-KI dan H2SO4

(Kuning kecokelatan)

Gambar 3. Setelah ditetesi amilum berubah


warna menjadi biru kehitaman

Gambar 4. Di titrasi NaS2O3 sampai


berubah warna menjadi bening

Uji DO Akhir Botol Winkelr Terang

Gambar 7. Penambahan larutan MnSO4 2ml

Gambar 8. Sampel air + MnSO4 2ml

Gambar 9. Penambahan larutan KOH-KI

Gambar 10. Terbentuknya endapan 2


lapisan

Gambar 11. Penambahan larutan H2SO4 pekat


2ml

Gambar 12. Hasil warna setelah


Penambahan larutan H2SO4 pekat 2ml

Gambar 14. Hasil warna titrasi


Gambar 13. . Hasil sampel air setelah diberi
larutan (Kuning kecokelatan)

Gambar 15. Hasil warna setelah penambahan


amilum

Gambar 16. Hasil warna bening setelah di


titrasi dengan NaS2O3

Uji DO Akhir Botol Winkkelr Gelap

Gambar 17. Sampel air pada winkler gelap

Gambar 18. Hasil sampel air setelah diberi


larutan MnSO4, KOH-KI dan H2SO4
(Kuning kecokelatan)

Gambar 19. Hasil warna titrasi

Gambar 20. Penambahan larutan amilum