Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Infeksi Menular Seksual (IMS) menyebar cukup mengkhawatirkan di Indonesia.
Baik jenis gonorchea maupun sifilis. Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang
disebabkan oleh bakteri spiroseta, Treponema pallidum. Penularan biasanya melalui
kontak seksual; tetapi, ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan
kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus).
Gejala dan tanda dari sifilis banyak dan berlainan, sebelum perkembangan tes
serologikal, diagnosis sulit dilakukan dan penyakit ini sering disebut Peniru Besar
karena sering dikira penyakit lainnya. Data yang dilansir Departemen Kesehatan
menunjukkan penderita sifilis mencapai 5.000 10.000 kasus per tahun. Sementara di
Cina, laporan menunjukkan jumlah kasus yang dilaporkan naik dari 0,2 per 100.000
jiwa pada tahun 1993 menjadi 5,7 kasus per 100.000 jiwa pada tahun 2005. Di
Amerika Serikat, dilaporkan sekitar 36.000 kasus sifilis tiap tahunnya, dan angka
sebenarnya diperkiran lebih tinggi. Sekitar tiga per lima kasus terjadi kepada lelaki.
Bila tidak terawat, sifilis dapat menyebabkan efek serius seperti kerusakan sistem
saraf, jantung, atau otak. Sifilis yang tak terawat dapat berakibat fatal. Orang yang
memiliki kemungkinan terkena sifilis atau menemukan pasangan seks-nya mungkin
terkena sifilis dianjurkan untuk segera menemui dokter secepat mungkin.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah anatomi fisiologi kulit?
2. Bagaimana Epidemiologi sifilis?
3. Bagaimana definisi sifilis?
4. Bagaimana stadium sifilis?
5. Bagaimana etiologi sifilis?
6. Bagaimana Patofisiologi sifilis?
7. Bagaimana WOC sifilis?
8. Bagaimana manifestasi klinik sifilis?
9. Bagaimana pemeriksaan sifilis?
10. Bagaimana prognosis sifilis?
11. Bagaimana penatalaksanaan sifilis?
12. Bagaimana asuhan keperawatan sifilis?
Tugas Integumen

Page 1

1.3 Tujuan
1. Mampu menjelaskan anatomi dan fisiologi kulit.
2. Mampu menjelaskan epidemiologi sifilis.
3. Mampu menjelaskan definisi sifilis.
4. Mampu menjelaskan stadium sifilis.
5. Mampu menjelaskan etiologi sifilis.
6. Mampu menjelaskan patofisiologi sifilis.
7. Mampu menjelaskan WOC sifilis.
8. Mampu menjelaskan manifestasi klinik sifilis.
9. Mampu menjelaskan pemeriksaan sifilis.
10. Mampu menjelaskan prognosis sifilis.
11. Mampu menjelaskan penatalaksanaan sifilis.
12. Mampu menjelaskan asuhan keperawatan sifilis.

Tugas Integumen

Page 2

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Anatomi dan Fisiologi Kulit


Kulit tersusun dari tiga lapisan yaitu epidermis, dermis, dan hipodermis atau
jaringan subkutan. Setiap lapisan akan semakinn berdiferensiasi (menjadi masak
dan memiliki fungsi yang lebih spesifik) ketika tumbuh dari lapisan stratum
germinativum basalis ke lapisan stratum korneum yang letaknya paling luar.
Fungsi kulit antara lain :
a. Perlindungan
Kulit yang menutupi sebagian besar tubuh memiliki ketebalan sekitar 1 atau 2
mm saja, padahal kulit memberikan perlindungan yang sangat efektif terhadap
invasi bakteri dan benda asing lainnya. Kulit tangan dan telapak kaki yang
menebal memberikan perlindungan yang sangat efektif terhadap pengaruh
trauma yang terus menerus yang terjadi pada daerah tersebut.
b. Sensibilitas
Ujung-ujung reseptor serabut saraf pada kulit memungkinkan tubuh untuk
memantau secara teru-menerus keadaan lingkungan di sekitarnya. Fungsi
utama reseptor pada kulit adalah untuk mengindera suhu, rasa nyeri, sentuhan
ringan dan tekanan (atau sentuhan yang berat). Berbagai ujung saraf
bertanggung jawab untuk bereaksi terhadap setiap stimuli yang berbeda.
Meskipun tersebar ke seluruh tubuh, ujung-ujung saraf lebih konsentrasi pada
sebagian daerah dibandingkan daerah lainnya. Contohnya yaitu ujung-ujung
jari tangan jauh lebih terinervasi ketimbang kulit pada bagian punggung
tangan
c. Keseimbangan air
Stratum korneum memiliki kemampuan untuk menyerap air dan dengan
demikian akan mencegah kehilangan air serta elektrolit yang berlebihan dari
bagian internal tubuh dan mempertahankan kelembaban dalam jaringan
subkutan.
d. Pengaturan suhu
Tubuh secara terus menerus akan menghasilkan panas sebagai hasil
metabolism makanan yang memproduksi energi. Panas ini akan hilang
terutama lewat kulit. Tiga proses fisik yang terlibat yaituradiasi (pemindahan
panas ke benda lain yang suhunya lebih rendah dan berada pada suatu jarak
tertentu), konduksi (pemindahan panas ke benda lain yang lebih dingin yang
bersentuhan dengan tubuh), dankonveksi yang terdiri atas pergerakan massa
Tugas Integumen

Page 3

molekul udara hangat yang meninggalkan tubuh. Evaporasi dari kulit akan
membantu kehilangan panas lewat konduksi. Panas dihatarkan lewat kulit ke
dalam molekul-molekul air pada permukaan sehingga air tersebut mengisat.
Air dari permukaan kulit dapat berasal dari perspirasi yang tidak terasa,
keringat ataupun lingkungan. Pengeluaran keringat merupakan suatu proses
yang digunakan kulit untuk mengatur laju kehilangan panas
e. Produksi vitamin
Kulit yang terpajan sinar ultraviolet dapat mengubah substansi yang
diperlukanuntuk

mensintesis

vitamin

(kolekalsiferol).

Vitamin

merupakan unsure esensial untuk mencegah penyakitriketsia, suatu keadaan


yang terjadi akibat defisiensi vitamin D, kalsium serta fosfor dan
menyebabkan deformitas tulang (Morton, 1993).
f. Fungsi respon imun
Hasil penelitian terakhir (Nickoloff, 1993) menunjukkan bahwa beberapa sel
dermal (sel-sel Langerhans, interleukin-1 yang memproduksi keratinosit, dan
subkelompok limfosit-T) merupakan komponen penting dalam sistem imun.
Sedangkan lapisan kulit tersusun atas:
1. Dermis
Dermis membentuk bagian terbesar kulit dengan memberikan kekuatan dan
struktur pada kulit (Eckert, 1992). Dermis atau Korium (Kulit Jangat) adalah
lapisan jaringan ikat bagian bawah. Pada permukaan dermis tersusun papil-papil
kecil yang berisi ranting-ranting pembuluh/kapiler darah, kandung rambut, serta
ujung-ujung saraf dari alat indera. Dermis dipisahkan dari lapisan epidermis
dengan adanya membrane dasar atau lamina. Membran ini terusun dari dua
lapisan jaringan ikat yaitu lapisan papilarisdan lapisan retikularis.
Lapisan ini mengikat epidermis dengan struktur yang ada di bawahnya.
Lapisan papilaris dermis berada langsung di bawah epidermis dan tersusun dari
sel-sel fibroblast yang dapat menghasilkan salah satu bentuk kolagen yaitu suatu
komponen dari jaringan ikat. Lapisan retikularis terletak di bawah lapisan
papilaris dan juga memproduksi kolagen serta berkas-berkas serabut elastik.
a. Serabut saraf
Pada lapisan dermis kulit terdapat puting peraba yang merupakan ujung akhir
saraf sensoris. Ujung-ujung saraf tersebut merupakan indera perasa panas,
dingin, nyeri, dan sebagaiannya Oleh karena itu kulit merupakan organ terluas
dimana pada organ ini terdapat reseptor panas (ruffini), tekanan (paccini),
dingin (krause), rasa nyeri atau sakit (ujung saraf bebas), serta reseptor
sentuhan (meissner). Permukaan kulit mengandung saraf-saraf yang memiliki
bentuk dan fungsi yang berbeda-beda.
b. Pembuluh darah
Tugas Integumen

Page 4

Pembuluh darah dalam papilla dermal juga dikenalkan oleh sistem saraf. Jika
pembuluh darah berdilatasi, aliran darah ke permukaan kulit meningkat,
sehingga konduksi pans apada bagian eksterior dapat terjadi. Pembuluh darah
berkonstriksi untuk menurunkan aliran darah ke permukaan kulit dalam upaya
mempertahankan panas tubuh sentral.
c. Kelenjar keringat
Kelenjar keringat ditemukan pada kulit sebagian besar permukaan tubuh.
Kelenjar ini terutama terdapat pada telapak tangan dan kaki. Hanya glans
penis, bagian tepi bibir (margo labium oris), telinga luar dan dasar kuku yang
tidak mengandung keringat. Kelenjar keringat (sudoriferus) menghasilkan
keringat. kelenjar keringat yang berbentuk tabung berbelit-belit dan yang
banyak jumlahnya, terletak di sebelah dalam kulit jangat, bermuara di atas
pemukaan kulit di dalam lekukan halus yang disebut pori.
d. Kelenjar sebasea
Kelenjar sebasea adalah kelenjar holokrin (sel-sel sekretori menghilang
selama sekresi sebum). Kelenjar sebasea adalah kelenjar kantong di dalam
kulit. Bentuknya seperti botol dan bermuara di dalam folikel rambut. Kelenjar
ini banyak terdapat di atas kepala dan muka, sekitar hidung, mulut, telinga,
tetapi sama sekai tidak terdapat dalam kulit tapak tangan dan telapak kaki.
Kelenjarnya dan saluranya dilapisi epitel. Kelenjar sebasea mengeluarkan
sebum yang biasanya dialirkan ke folikel rambut. Kelenjar sebasea, rambut
dan kelenjar keringat apokrin membentuk unit pilosebasea, tetapi hanya
terbentuk pada rambut di area genitalia, bibir, puting susu, dan areola
payudara.
e. Folikel rambut
Rambut pada beberapa bagian tubuh memiliki fungsi yang bermacam-macam.
Rambut merupakan suatu pertumbuhan keluar dari kulit, rambut atau pili
terdapat pada hampir seluruh bagian tubuh, kecuali pada telapak tangan dan
kaki, tetapi sebagian besar berupa rambut vellus yang kecil dan tidak
berwarna atau tersamar. Rambut terminal biasanya kasar dan dapat dilihat.
Rambut ini tertanam di kulit kepala, alis dan bulu mata, ketika masa pubertas
rambut ini akan menggantikan posisi rambut vellus di area ketiak dan pubis
(dan di wajah laki-laki) sebagai bagian dari karakteristik seksual sekunder.
2. Epidermis (Kulit Ari Atau Kutikula)
Epidermis adalah bagian terluar kulit. Epidermis membentuk lapisan paling
luar dengan ketebalan sekitar 0,1 mm pada kelopak mata hingga sekitar 1 mm
pada telapak tangan dan kaki (Morton, 1993). Epidermis tersusun dari jaringan
epitel skuamosa bertingkat yang mengalami keratinisasi, jaringan ini tidak
memiliki pembuluh darah dan sel-selnya sangat rapat.
Tugas Integumen

Page 5

Epidermis yang bersambung dengan membran mukosa dan dinding saluran


telinga terdiri atas sel-sel hidup yang selalu membelah dan pada permukaannya
ditutupi oleh sel-sel mati yang asalnya lebih dalam pada dermis tetapi kemudian
terdorong ke atas oleh sel-sel yang baru tumbuh dan lebih berdiferensiasi yang
berada di bawahnya.
Lapisan eksternal ini hampir selurunya akan diganti setiap 3 hingga 4 minggu
sekali. Sel-sel mati mengandung sejumlah besarkeratin yaitu protein fibrous
insoluble yang membentuk barrierpaling luar kulit dan memiliki kemampuan
untuk mengusir mikroorganisme patogen serta mencegah kehilangan cairan yang
berlebih dari tubuh (Holbrook, 1991). Keratin merupakan unsure utama yang
mengeraskan rambut dan kuku.
Pada permukaan kulit terdapat pori-pori yang merupakan tempat bermuaranya
kelenjar keringat. Kulit ari tidak berisi pembuluh darah. Saluran kelenjar keringat
menembus kulit ari dan mendampingi rambut. Sel epidermis membatasi folikel
rambut. Di atas permukaan epidermis terdapat garis lekukan yang berjalan sesuai
dengan papil dermis di bawahnya.
Garis-garis ini berbeda, pada ujung jari berbentuk ukiran yang jelas yang
pada setiap orang tidak sama. Atas hal inilah studi kasus sidik jari dalam
kriminologi dilakukan. Epidermis mengalami modifikasi pada berbagai daerah
tubuh yang berbeda. Ketebalan epidermis dapat meningkat jika bagian tersebut
banyak digunakan dan bisa mengakibatkan pembentukan kalus pada telapak
tangan atau klavus (corns) pada kaki.
a. Stratum korneum
Stratum korneum adalah lapisan yang tipis, datar seperti sisik yang terus
dilepaskan dan merupakan lapisan terluar epidermis. Stratum korneum terdiri
dari sel mati yang pipih dan mengalami keratinisasi. Jumlah sel matinya
sebanyak 25 sampai 30 lapisan dan semakin gepeng saat mendekati
permukaan kulit. Sel-sel tersebut berasal dari lapisan epidermis yaitu stratum
basalis. Sel pada stratum basalis akan membelah, berproliferasi dan pindah ke
permukaan epidermis.
Setelah mencapai stratum korneum, sel berubah menjadi pipih dan
mati. Pergerakan yang konstan ini menjamin adanya pergantian sel di semua
permukaan kulit selama deskuamasi normal. Stratum korneum yang tipis
melindungi sel dan jaringan di bawahnya dari dehidrasi dan mencegah
masuknya zat kimia tertentu. Stratum korneum juga memungkinkan
terjadinya evaporasi air dari kulit dan absorpsi obat-obatan topical tertentu.
Stratum korneum Epidermis tipis yang melapisi seluruh tubuh, kecuali pada
Tugas Integumen

Page 6

telapak tangan dan telapak kaki, tersusun hanya dari lapisan basalis dan
korneum.
b. Melanosit
Melanosit merupakan sel-sel khusus epidermis yang terutama terlibat pada
produksi pigmen melanin yang mewarnai kulit dan rambut. Melanosit terletak
pada stratum basalis. Semakin banyak melanin, semakin gelap warnanya.
Sebagian besar orang yang berkulit gelap dan bagian-bagian kulit yang
berwarna gelap pada orang yang berkulit cerah mengandung pigmen ini dalam
julah lebih banyak. Warna kulit yang normal bergantung pada ras dan
bervariasi dari merah muda cerah hingga coklat.
3. Hipodermis
Hipodermis atau jaringan subkutan merupakan lapisan kulit yang paling
dalam. Lapisan ini terutama berupa jaringan adipose yang memberikan bantalan
antar lapisan kulit dan struktur internal seperti otot dan tulang. Jaringan ini
memungkinkan mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan panas
tubuh (Halbrook, 1991). Lemah atau gajih akan bertumpuk dan tersebar menurut
jenis kelamin seseorang dan secara parsial menyebabkan perbedaan bentuk tubuh
laki-laki dengan perempuan. Makanan yang berlebihan akan menyebabkan
penimbunan lemak di bawah kulit. Jaringan subkutan dan jumlah lemak yang
tertimbun merupakan faktor dalam pengaturan suhu tubuh.
2.2 Epidemiologi Sifilis
Asal penyakit sifilis ini tidak jelas. Sebelum tahun 1492 belum dikenal di
Eropa. Pada tahun 1494 terjadi epidemi di Napoli. Pada abad ke-18 baru
diketahui bahwa penularan sifilis melelui hubungan seksual. Pada abad ke-15
terjadi wabah di Eropa. Sesudah tahun 1860, morbilitas sifilis menurun cepat.
Selama perang dunia II, kejadian sifilis meningkat dan puncaknya pada tahun
1946, kemudian menurun setelah tahun 1946.Kasus sifilis di Indonesia adalah
0,61%. Penderita yang terbanyak adalah stadium laten, disusul sifilis stadium I
yang jarang, dan yang langka ialah sifilis stadium II.
2.3 Definisi Sifilis
Syphilis adalah salah satu penyakit menular seksual. Penyakit tersebut
ditularkan melalui hubungan seksual, penyakit ini bersifat Laten atau dapat
kambuh lagi sewaktu-waktu selain itu bisa bersifat akut dan kronis. Penyakit ini
dapat cepat diobati bila sudah dapat dideteksi sejak dini. Kuman yang dapat
menyebabkan penyakit sifilis dapat memasuki tubuh dengan menembus selaput

Tugas Integumen

Page 7

lender yang normal dan mampu menembus plasenta sehingga dapat menginfeksi
janin. (Soedarto, 1990).
Sifilis disebabkan oleh Treponema Pallidum. Treponema Pallidum
termasuk golongan Spirochaeta yang berbentuk seperti spiral dengan panjang
antara 5-20 mikron dan lebar 0,1 0,2 mikron, mudah dilihat dengan mikroskop
lapangan gelap akan Nampak seperti spiral yang bisa melakukan gerakan seperti
spiral yang bisa melakukan gerakan seperti rotasi. Organism ini bersifat anaerob
mudah dimatikan oleh sabun, oksigen, sapranin, bahkan oleh Aquades. Didalam
darah donor yang disimpan dalam lemari es Treponema Pallidum akan mati
dalam waktu tiga hari tetapi dapat ditularkan melalui transfuse menggunakan
darah segar. (Soedarto, 1990).
Sifat-sifat yang mendasari virelansi Treponema Pallidum belum dipahami
selengkapnya tidak ada tanda-tanda bahwa kuman ini bersifat toksigenik karena
didalam dinding selnya tidak ditemukan eksotosin ataupun endotoksin.
Meskipun didalam lesi primer dijumpai banyak kuman namun tidak ditemukan
kerusakan jaringan yang cukup luas karena kebanyakan kuman yang berada
diluar sel akan terbunuh oleh fagosit tetapi ada sejumlah kecil Treponema yang
dapat tetap bertahan didalam sel makrofag dan didalam sel lainnya yang bukan
fagosit misalnya sel endotel dan fibroblast. Ini dapat menjadi petunjuk mengapa
Treponema Pallidum dapat hidup dalam tubuh manusia dalam jangka waktu
yang lama. Yaitu selama masa asimtomatik merupakan cirri khas dari penyakit
sifilis. Sifat invasive Treponema sangat membantu memperpanjang daya tahan
kuman didalam tubuh manusia.
Sifilis merupakan penyakit kronik Granulomatosa dimana perjalanan
penyakitnya berlangsung lama. Lesi pada stadium akhir mungkin baru muncul
30 tahun setelah infeksi pertama. Pada penyakit sifilis terdiri dari 3 stadium yaitu
stadium primer, sekunder dan tersier. Ketiga stadium ini dipisahkan oleh periode
asimtomatik, yang masa tunasnya 3-4 minggu muncul lesi primer yang
terlokalisasi yang akan sembuh setelah 2-6 minggu. Sifilis disebabkan oleh
bakteri yang disebut spiroketa. Penyebarannya tidak seluas gonorea, tetapilebih
menakutkan karena kerusakan yang mungkin ditimbulkannya lebih besar. Seperti
gonorea, penyakit ini disebarkan melalui kontak langsung dengan luka-luka pada
orang yang ada pada stadium menular. Spiroketa, seperti gonokokus, adalah
microbe yang tidak tahan berada di luar tubuh manusia, sehingga kemungkinan
tertulari dari benda mati sangat kecil. Treponema Pallidum masuk ke dalam

Tugas Integumen

Page 8

tubuh sewaktu terjadi hubungan kelamin melalui luka-luka goresan yang amat
kecil pada epitel, dengan cara menembus selaput lender yang utuh ataupun
mungkin melalui kulit yang utuuh lewat kantung rambut.
2.4 Stadium Sifilis
Masa inkubasi sifilis berkisar 10-90 hari (rata-rata 21 hari) setelah infeksi. Bila
tidak diobati, sifilis dapat timbul dalam beberapa stadium penyakit.
1. Sifilis primer
Gejala pertamanya adalah munculnya bisul kecil keras yang disebut syanker
pada situs infeksi. Biasanya di ujung batang pelir pada pria dan di leher rahim
atau vagina wanita. Syanker itu terlihat jelas pada pria, tetapi pada wanita
seringkali tersembunyi. Bisul itu tidak gatal ataupun sakit. Jadi sifilis pimer
dapat berkembang tanpa diketahui. Treponema biasanya dapat ditemukan di
dalam syanker semacam itu melalui pemeriksaan mikroskopis medan gelap.
Juga dalam stadium ini, spiroketa menyerang kelenjar getah bening,
menyebabkan menjadi lebih besar dan keras. Setelah 3-5 minggu, syanker itu
sembuh secara spontan, dan penyakit itu dari luar Nampak tenang-tenang saja.
Tetapi sementara itu organism tersebut disebrkan lewat aliran darah ke seluruh
tubuh.
2. Sifilis sekunder
Stadium penyaki ini di dahului oleh ruam (pemunculan pada kulit) yang
timbul setiap saat pada 2 sampai 12 minggu setelah hilangnya syanker.
Penyakit itu sekarang tersebar umum dan juga terjadi limfodenopati (kelenjar
getah belling yang berpenyakit) yang tersebar luas. Sifilis disebut pula peniru
besar karena gejala-gejala yang timbul pada stadium ini mirip dengan yang
ditimbulkan oleh penyakit lain seperti flu atau mononucleosis menular. Selain
ruam gejala-gejala lannya meliputi radang tenggorokan, kelenjar getah bening
yang lembek, demam, lesu dan pusing. Kadang-kadang disertai rontok-rontok
rambut sebagian-sebagian. Luka patogenik terjadi pada selaput lender, mata,
dan sistim suaraf pusat luka-luka ini penuh dengan treponema. Korban dapat
menderita hanya satu atau dua dari seluruh gejala penyakit ini atau semua
gejala. Stadium ini berlangsung beberapa minggu, dan gejala-gejalanya
termasuk luka-luka patogenik, hilang tanpa pengobatan. Tetapi sementara itu
treponema mungkin sudah mulai menyerang organ-organ lain dalam tibuh.
Seorang pnderita dapat menularkan penyakit ke orang lain hanya bila
menderita sifilis stadium primer dan sekunder, yang berlangsung sampai 2
tahun.
3. Sifilis laten
Tugas Integumen

Page 9

Bila tidak diobati, sifilis sekunder berlanjut menjadi sifilis laten. Selama
stadium ini penderita sama sekali tidak menunjukkan gejala yang jelas.
Stadium ini dapat berlangsung berbulan-bulan, bertahun-tahun atau bahkan
seumur hidup. Stadium laten hanya dapat diketahui dengan melakukan uji
darah (serologis).
4. Sifilis tersier atau lanjut
Stadium ini timbul pada sekitar 30% dari orang-orang yang tidak diobati dan
dapat terjadi 5 sampai 40 tahun sesudah infeksi mula-mula. Hasil kerja
spiroketa

secara diam-diam tetapi mematikan selama stadium laten itu

menjadi jelas. Luka-luka patogenik tersier terjadi pada sistim saraf pusat,
sistim pembuluh darah jantung, kulit dan organ-organ vital lain seperti mata,
otak, tulang, ginjal dan hati. Luka-luka ini yang disebut gumata lalu pecah dan
menjadi borok. Penderita dapat terserang sakit jiwa, kebutaan atau penyakit
jantung; dan akhirnya dapat meninggal.
5. Sifilis Syaraf
Selama stadium early, sepertiga dari penderita sifilis dapat terkena susunan
syaraf pusatnya dan setengah dari golongan ini jika tidak mendapat
pengobatan akan menderita laten pengobatan akan menderita laten
neurosifilis, yang jaraknya dari stadium primer dapat mencapai waktu lebih
dari 5 tahun. Penyakit ini terjadi tanpa gejala, sedangkan gejala klasik dapat
timbul dalam bentuk dementia paralytica, tabes dorsalis dan sebagainya.
Gejala penyakit yang timbul juga dapat menyerupai penyakit saraf lainnya.
6. Sifilis Kardiovaskuler
Setelah 10-40 tahun sejak terjadinya sifilis primer, penderita yang tidak
mendapat pengobatan dapat , menunjukan tanda-tanda terkena sistem
kardiovaskuler. Terjadi kelainan sifilis pada aorta dan artertis paru-paru.
Reaksi peradangan yang terjadi dapat menyebabkan stenosis yang berakibat
angina, insufiensi miokardium yang dapat mengakibatkan kematian
7. Sifilis Kongenita
Sifilis kongenita merupakan penyakit sifilis yang timbul pada waktu bayi
lahir, beberapa waktu atau beberapa tahun sesudahnya. Wanita hamil yang
sedang menderita sifilis, terutama stadium sekunder, dapat menularkannya
pada bayi yang sedang dikandungnya secara transplasenta. Treponema
pallidum yang terdapat dalam peredaran darah ibu masuk kejanin pada waktu
kehamilan minggu ke 16. Pada saat itu lapisan gel Langhans telah menjadi
atropik. Jika inveksinya terjadi secara masif, maka dapat mengakibatkan
kematian janin, atau bayi lahir kemudian meninggal. Infeksi Treponema juga
dapat mengakibatkan gangguang pertumbuhan janin intra Ekstrauteri. Jika
Tugas Integumen

Page 10

wanita hamil baru terkena sifilis pada waktu 6 minggu terakhir kehamilannya,
maka biasanya janin belum sempat terkena sifilis karena kuman belum sempat
tersebat di dalam peredaran darah ibu
8. Sifilis Kongenita Praekoks
Penyakit ini mulai menunjukkan gejala pada waktu bayi lahir atau setelah
berumur 3 bulan terlihat bullae pada telapak tangan, condylomata fasilata,
osteochondritis dan perios titis epiphysis tulang panjang yang dapat
menyebabkan terjadinya pseudoparalisis dari parrot, kelainan pada tulang
tibia, terjadi patah tulang spontan atau penonjolan tulang dahi. Selain itu dapat
terjadi gejala penyumbatan hidung atau snuffle nose, hepatosplenomegali,
atropi dan distropi otot sehingga berat badan statis tidak bertambah.
9. Sifilis Kongenita Tarda
Penyakit ini dimulai menunjukan gejala pada usia lebih dari 1-7 tahun, akan
ditemukan trias Hutchinson, yaitu berupa tuli syaraf ke-8 atau tuli perseptif,
defo-itas gigi seri atas tengah dan karatitisinterstitialis. Syphilis demblee
penyakit ini terjadi karena infeksi Treponema lewat tusukan jarum yang
dalam, misalnya pada transfusi darah yang berasal dari penderita sifilis
biasanya tidak dijumpai stadium primer melainkan langsung muncul gejalagejala stadium sekunder.
2.5 Etiology Sifilis
Faktor predisposisi
1. Hubungan seksual yang bebas (Genitogenital, Orogenital maupun
Anogenital).
2. Sering berganti pasangan.
3. Melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi yang
aman.
4. Melakukan hubungan seksual dengan orang yang mengidap sifilis.
5. Janin yang orang tuanya menderita sifilis.
6. Kurangnya kebersihan diri .
7. Menggunakan alat-alat yang telah di pakai penderita tanpa di desinfektan
atau di sterilisasi terlebih dahulu, misalnya jarum suntik.
8. Virulensi kuman yang tinggi.

Tugas Integumen

Page 11

9. Kontak langsung dengan lesi yang mengandung Bakteri Treponema


Pallidum.
Penyebab atau etiologi
Etiologi dari Penyakit Sifilis, antara lain:
Penyebab sifilis ditemukan oleh SCHAUDINN dan HOFMAN ialah Treponema
palidum yang termasuk ordo Spirochaetaceae dan genus Treponema bentuknya
spiral panjang antara 6-15 um dan lebar 0,15 um terdiri atas 8-24 lekukan.
Gerakannya berupa rotasi sepanjang aksis dan maju seperti gerakan pembuka
botol membiak secara pembelahan melintang, pada stadium aktif terjadi setiap
30 jam. Pembiakan pada umumnya tidak dapat dilakukan diluar badan. Diluar
badan kuman tersebut mudah mati sedangkan dalam darah untuk transfusi dapat
hidup sampai 72 jam.
2.6 Patofisiologi Sifilis
Setelah mengalami kontak, organism dengan cepat menembus selaput lender
normal atau suatu lesi kulit dan dalam beberapa jam, kuman akan memasuki
limfatik dan darah dengan memberikan manifestsi infeksi sistematik. Pada tahap
sekunder, SSP merupakan target awal infeksi, pada pemeriksaan menunjukkan
bahwa lebih dari 30% dari pasien memiliki temuan abnormal dalam cairan
cerebrospinal (CSF). Selama 5-10 tahun pertama setelah terjadinya infeksi primer
tidak diobati, penyakit ini akan menginvasi meninges dan pembuluh darah,
mengakibatkan neurosifilis meningovaskular, kemudian, parenkin otak da
sumsum tulang belakang mengalami kerusakan sehingga terjadi kondisi
parenchymatousneurosifilis.

Terlepas dari tahap penyakit dan lokasi lesi, histopatologi dari sifilis
menunujukkan tanda-tanda endotelialarteritis. Endotelialaryeritis disebabkan oleh
peningkatan spirochaeta dengan sel endotel yang dapat sembuh dengan jaringan
parut

Tugas Integumen

Page 12

2.6 WOC Sifilis

Sifilis akuisita : didapat


(hubungan
seksual,
tranfusi darah)
Sifilis
congenital
:
transplasenta ibu ke janin

Kuman berkembang biak di


Integumen
kelenjarTugas
getah bening

Kuman
Treponema
(Spirochaeta) Pallidum

Kuman masuk ke kulit


mikroseli atau selaput
lendir

Penjalaran hematogen
menyebar ke semua jaringan

Kuman berkembang
biak

Reaksi jaringan membentuk


infiltrat

Page 13

kepala,
Lokasi: lidah,Nyeri
tonsil,
anus pusing,
dan genital
Kelemahangetah
dan impotensi
MK:fibrosis:
Kerusakan
integritas
Kelenjar
beningeksterna Terjadi
darah
kemual
otak
pengelihatan
kabur
dan
(pria:
sulkus
koronarius,
Sumsum
MK:
Disfungsi
tulang
belakang
seksual
MK:
Nyeri
kulit
membesar,
generalisata
berkurang
MK: Hipertermi
TIK
, meningis
wanita: labiaSSP
mayora
dan
minora
Otak
( system
saraf
pusat)

Pembentukan
bilirubin
pada bayi terganggu,
MK:
Terasa
MK:
Terjadi
Jaringan
Ikterik
Resiko
gatal
papul
ulkus
fibrosis
dan
neonatus
kulit
infeksi
panas
Hepar
dan
lien
udema

MK: Gangguan citra diri

2.7 Manifestasi Klinik Sifilis


Secara umum gejala klinis dari Penyakit Sifilis, yaitu:
1. Keluarnya cairan dari vagina, penis, atau dubur yang berbeda dari biasanya.
Dapat berwana putih susu, kekuningan, kehijauan, atau disertai berak darah
dan bau yang tidak enak.
2. Perih, nyeri, atau panas saat BAK atau setelah BAK atau menjadi sering
BAK.

Tugas Integumen

Page 14

3. Adanya luka terbuka (luka basah disekitar alat kemaluan atau mulut). Dapat
terasa nyeri atau tidak.
4. Tumbuh sesuatu seperti jengger ayam atau kutil di sekitar kemaluan.
5. Pada pria, skrotum menjadi bengkak dan nyeri.
6. Sakit perut bagian bawah, terkadang timbul, terkadang hilang.
7. Secara umum merasa enak badan atau demam.
Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 1-13 minggu setelah terinfeksi; ratarara 3-4 minggu. Infeksi bisa menetap selama bertahun-tahun dan jarang
menyebabkan kerusakan jantung, kerusakan otak maupun kematian.
Infeksi oleh Treponema pallidum berkembang melalui 4 tahapan:
1. Fase primer
Terbentuk luka atau ulkus yang tidak nyeri (cangker) pada tempat yang
terinfeksi; yang tersering adalah pada penis, vulva atau vagina. Cangker juga
bisa ditemukan di anus, rektum, bibir, lidah, tenggorokan, leher rahim, jari-jari
tangan atau bagian tubuh lainnya.
Biasanya penderita hanya memiliki1 ulkus, tetapi kadang-kadang terbentuk
beberapa ulkus. Cangker berawal sebagai suatu daerah penonjolan kecil yang
dengan segera akan berubah menjadi suatu ulkus (luka terbuka), tanpa disertai
nyeri. Luka tersebut tidak mengeluarkan darah, tetapi jika digaruk akan
mengeluarkan cairan jernih yang sangat menular. Kelenjar getah bening
terdekat biasanya akan membesar, juga tanpa disertai nyeri. Luka tersebut
hanya menyebabkan sedikit gejala sehingga seringkali tidak dihiraukan. Luka
biasanya membaik dalam waktu 3-12 minggu dan sesudahnya penderita
tampak sehat secara keseluruhan.
2. Fase sekunder
Fase sekunder biasanya dimulai dengan suatu ruam kulit, yang muncul dalam
waktu 6-12 minggu setelah terinfeksi. Ruam ini bisa berlangsung hanya
sebentar atau selama beberapa bulan. Meskipun tidak diobati, ruam ini akan
menghilang. Tetapi beberapa minggu atau bulan kemudian akan muncul ruam
yang baru. Pada fase sekunder sering ditemukan luka di mulut. Sekitar 50%
penderita memiliki pembesaran kelenjar getah bening di seluruh tubuhnya dan
sekitar 10% menderita peradangan mata. Peradangan mata biasanya tidak
menimbulkan gejala, tetapi kadang terjadi pembengkakan saraf mata sehingga
Tugas Integumen

Page 15

penglihatan menjadi kabur. Sekitar 10% penderita mengalami peradangan


pada tulang dan sendi yang disertai nyeri. Peradangan ginjal bisa
menyebabkan bocornya protein ke dalam air kemih. Peradangan hati bisa
menyebabkan sakit kuning (jaundice).
Sejumlah kecil penderita mengalami peradangan pada selaput otak
(meningitis sifilitik akut), yang menyebabkan sakit kepala, kaku kuduk dan
ketulian. Di daerah perbatasan kulit dan selaput lendir serta di daerah kulit
yang lembab, bisa terbentuk daerah yang menonjol (kondiloma lata). Daerah
ini sangat infeksius (menular) dan bisa kembalimendatar serta berubah
menjadi pink kusam atau abu-abu. Rambut mengalami kerontokan dengan
pola tertentu, sehingga pada kulit kepala tampak gambaran seperti digigit
ngengat. Gejala lainnya adalah merasa tidak enak badan (malaise), kehilangan
nafsu makan, mual, lelah, demam dan anemia.
3. Fase laten
Setelah penderita sembuh dari fase sekunder, penyakit akan memasuki fase
laten dimana tidak nampak gejala sama sekali. Fase ini bisa berlangsung
bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun atau bahkan sepanjang hidup
penderita. Pada awal fase laten kadang luka yang infeksius kembali muncul.
4. Fase tersier
Pada fase tersier penderita tidak lagi menularkan penyakitnya. Gejala
bervariasi mulai ringan sampai sangat parah. Gejala ini terbagi menjadi 3
kelompok utama :
a. Sifilis tersier jinak. Pada saat ini jarang ditemukan. Benjolan yang disebut
gumma muncul di berbagai organ; tumbuhnya perlahan, menyembuh
secara bertahap dan meninggalkan jaringan parut. Benjolan ini bisa
ditemukan di hampir semua bagian tubuh, tetapi yang paling sering adalah
pada kaki dibawah lutut, batang tubuh bagian atas, wajah dan kulit kepala.
Tulang juga bisa terkena, menyebabkan nyeri menusuk yang sangat dalam
yang biasanya semakin memburuk di malam hari.
1) Sifilis kardiovaskuler. Biasanya muncul 10-25 tahun setelah infeksi
awal. Bisa terjadi aneurisma aorta atau kebocoran katup aorta. Hal ini
bisa menyebabkan nyeri dada, gagal jantung atau kematian.
2) Neurosifilis. Sifilis pada sistem saraf terjadi pada sekitar 5% penderita
yang tidak diobati. 3 jenis utama dari neurosifilis adalah neurosifilis
meningovaskuler, neurosifilis paretik dan neurosifilis tabetik.
2.8 Pemeriksaan Diagnostik Sifilis

Tugas Integumen

Page 16

Pemeriksaaan fisik
a. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum
Kesadaran, status gizi, TB, BB, suhu, TD, nadi, respirasi
b. Pemeriksaan sistemik
Kepala (mata, hidung, telinga, gigi&mulut), leher (terdapat perbesaran tyroid
atau tidak), tengkuk, dada (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi), genitalia,
ekstremitas atas dan bawah.
Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium (kimia darah, ureum, kreatinin, GDS, analisa urin,
darah rutin)
1) pemeriksaan T Palidum, cara pemeriksaannya adalah : mengambil serum
dari lesi kulit dan dilihat bentuk dan pergerakannya dengan microskop
lapangan gelap. Pemeriksaan dilakukan 3 hari berturut-turut jika pada
hasil pada hari 1 dan 2 negatif sementara itu lesi dikompres dengan larutan
garam saal bila negative bukan selalu berarti diagnosisnya bukan sifilis ,
mungkin kumannya terlalu sedikit.
2) Pemeriksaan TSS
TSS atau serologic test for sifilis . TSS dibagi menjadi 2 :
a. Test non treponemal : pada test ini digunakan antigen tidak spesifik
yaitu kardiolopin yang dikombinasikan dengan lesitin dan kolesterol,
karena itu test ini dapat memberi Reaksi Biologik Semu (RBS) atau
Biologic Fase Positif (BFP).
Contoh test non treponemal :
1) Test fiksasi komplemen : Wasseman (WR) kolmer
2) Test flokulasi : VDRL (Venereal Disease Research Laboratories).
Kahn, RPR (Rapid Plasma Reagin), ART (Automated Reagin
Test), dan RST (Reagin Screen Test).
b. Tes treponemal
Test ini bersifat spesifik karena antigennya ialah treponema atau
ekstratnya dan dapat digolongkan menjadi 4 kelompok :
1) Tes immobilisasi
: TPI (Treponemal

Pallidium

Immbolization Test)
2) Test Fiksasi Komplemen : RPCF (Reiter Protein Complement
Fixation Test)
3) Tes Imunofluoresen

: FTA-Abs (Fluorecent treponemal

Antibody Absorption Test), ada dua : IgM, IgG; FTA-Abs DS


(Fluorecent treponemal Antibody Absorption Double Staining)
4) Tes hemoglutisasi
: TPHA (Treponemal pallidum
Haemoglutination
Tugas Integumen

Assay),19S

IgM

SPHA

(Solid-phase
Page 17

Hemabsorption Assay), HATTS (Hemagglutination Treponemal


Test for Syphilis), MHA-TP (Microhemagglutination Assay for
Antibodies to Treponema pallidum).
b. Pemeriksaan Yang Lain
Sinar Rontgen dipakai untuk melihat kelainan khas pada tulang, yang dapat
terjadi pada sifilis kongenital. Juga pada sifilis kardiovaskuler, misalnya untuk
melihat aneurisma aorta. Pada neurosifilis,test koloidal emas sudah tidak
dipakai lagi karena tidak khas. Pemeriksaan jumlah sel dan protein total pada
likuor serebrospinalis hanya menunjukan adanya tanda inflamasi pada
susunan saraf pusat dan tidak selalu berarti terdapat neurosifilis. Harga normal
iyalah 0-3 sel/mm3, Jika limfosit melebihi 5/mm3 berarti ada peradangan.
Harga normal protein total ialah 20-40 mg/100 mm3, jika melebihi 40
mg/mm3 berarti terdapat peradangan.
Histopatologi
Kelainan yang utama pada sifilis ialah proliferasi sel-sel endotel terutama
terdiri atas infiltrate perivaskular tersusun oleh sel-sel limpoid dan sel-sel
plasma.
Imunologi
Pada percobaan kelinci yang disuntik dengan T.Pallidium secara intradermal,
yang sebelumnya telah diberi serum penderita sifilis menunjukan adanya
antibody. Terdapat dua antibody yang khas yaitu terhadap T. Pallidum dan
yang tidak khas yaitu yang ditujukan pada golongan antigen protein
Spirochaetales yang pathogen.
2.9 Prognosis Sifilis
Prognosis sifilis menjadi lebih baik setelah ditemukannya penisilin. Jika
penisilin tidak diobati, maka hampir seperempatnya akan kambuh, 5% akan
mendapat S III, 10% mengalami sifilis kardiovaskuler, neurosifilis, dan 23% akan
meninggal.
Pada sifilis dini yang diobati, angka penyembuhan mencapai 95%. Kelainan
kulit akan sembuh dalam 7-14 hari. Pembesaran kelenjar getah bening akan
menetap berminggu-minggu. Kegagalan terapi sebanyak 5% pada S I dan S II.
Kambuh klinis umumnya terjadi setahun setelah terapi berupa lesi menular pada
mulut, tenggorokan, dan regio perianal. Selain itu, terdapat kambuh serologik.
Pada sifilis laten lanjut, prognosis baik. Pada sifilis kardiovaskuler, prognosis
sukar ditentukan. Prognosis pada neurosifilis bergantung pada tempat dan derajat
kerusakan.
Sel saraf yang sudah rusak bersifat irreversible. Prognosis neurosifilis pada
sifilis dini baik, angka penyembuhan dapat mencapai 100%. Neurosifilis
asimtomatik pada stadium lanjut juga baik, kurang dari 1% memerlukan terapi
Tugas Integumen

Page 18

ulang. Prognosis sifilis kongenital dini baik. Pada yang lanjut, prognosis
tergantung pada kerusakan yang sudah ada.
2.10

Penatalaksanaan Medis Sifilis

Penderita sifilis fase primer atau sekunder bisa menularkan penyakitnya, karena
itu penderita sebaiknya menghindari hubungan seksual sampai penderita dan
mitra seksualnya telah selesai menjalani pengobatan. Pada sifilis fase primer,
semua mitra seksualnya dalam 3 bulan terakhir terancam tertular. Pada sifilis fase
sekunder, semua mitra seksualnya dalam 1 tahun terakhir terancam tertular.
Mereka harus menjalani tes penyaringan antibodi dan jika hasilnya positif,
mereka perlu menjalani pengobatan.
1. Antibiotik terbaik untuk semua fase sifilis biasanya adalah suntikan penisilin:
Untuk sifilis fase primer, suntikan diberikan melalui kedua bokong, masingmasing 1 kali.
Untuk sifilis fase sekunder, biasanya diberikan suntikan tambahan dengan
selang waktu 1 minggu.
2. Penisilin juga diberikan kepada penderita sifilis fase laten dan semua bentuk
sifilis fase tersier, meskipun mungkin perlu diberikan lebih sering dan lebih
lama.
Jika penderita alergi terhadap penisilin, bisa diberikan doksisiklin atau
tetrasiklin per-oral selama 2-4 minggu. Lebih dari 50% penderita sifilis
stadium dini, terutama sifilis fase skunder, mengalami reaksi JarischHerxheimer dalam waktu 2-12 jam setelah pengobatan pertama. Reaksi ini
diyakini

merupakan

akibat

dari

matinya

jutaan

bakteri.

Gejalanya adalah merasa tidak enak badan, demam, sakit kepala, berkeringat,
menggigil dan semakin memburuknya luka sifilis yang bersifat sementara
waktu.
Penderita neurosifilis kadang mengalami kejang atau kelumpuhan.
Setelah menjalani pengobatan, penderita sifilis fase laten atau fase tersier
diperiksa secara teratur. Hasil positif dari pemeriksaan antibodi biasanya
menetap selama beberapa tahun, kadang seumur hidup penderita. Hal ini tidak
menunjukkan adanya suatu infeksi baru. Untuk mengetahui adanya infeksi
baru dilakukan pemeriksaan darah yang lain.
a. Medika mentosa dan sekunder
1) Sifilis primer dan sekunder

Tugas Integumen

Page 19

Penisilin benzatin G disis 4,8 juta unit injeksi 1.m. (2,4 juta unit/kali)
diberi sekali seminggu, penisilin prokain dalam aqua dengan dosis 600.00
unit injeksi i.m. sehari selama 10 hari, penisilin prokain +2% alumunium
monostearat, dosis total 2,8 juta unit, diberikan 2,4 juta unit/kali sebanyak
2 kali seminggu.
2) Sifilis Laten
Penisilin benzatin D dosis total 7,2 juta unit, penisilin G prokain dalam
aqua dengan dosis total 12 juta unit (600.000 unit sehari), penisilin
prokain +2% aluminium monostearat, dosis total 7,2 juta unit (diberikan
1,2 juta unit/kali, 2 kali seminggu)
3) Sifilis III
Penisilin benzatin G dosis total 9,6 juta unit, penisilin G prokain dalam
aqua dengan dosis total 18 juta unit (600.000 unit sehari), penisilin
prokain +2% aluminium monostearat, dosis total 9,6 juta unit (diberikan
1,2 juta unit/kali, 2 kali seminggu)
4) Sifilis I dan II (alergi penisilin)
Tetrasiklin 500mg peroral 4 kali sehari selama 15 hari, eritromisin 500 mg
peroral 4 kali sehari selama 15 hari.
5) Umur >1 tahun
Tetrasiklin 500 mg peroral 4 kali sehari selama 30 hari, eritromisin 500
mg peroral 4 kali sehari selama 30 hari
Bagi penderita yang tidak tahan dengan penisilin dapat diganti dengan
tetrasiklin atau eritromisin, yang harus dimakan 15 hari. Sifilis yang telah
menyebabkan penderita lumpuh dan gila biasanya idak dapat diobati lagi.
b. Pemantauan serologi dilakukan pada bulan I, II, VI, dan XII tahun pertama
dan setiap 6 bulan pada tahun kedua.
c. Nonmedikamentosa
Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan seperti :
1. Bahaya PMS dan komplikasinya
2. Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan

Tugas Integumen

Page 20

3. Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks


tetapnya
4. Hindari hubunga seksual sebelum sembuh, dan memakai kondom jika
tidak dapat dihindari lagi.
Program diet
1. Kebutuhan zat gizi ditambah 10-25% dari kebutuhan minimum.
2. Pasiem diberikan porsi makanan kecil tetapi sering.
3. Konsumsi protein berkualitas tinggi dan mudah dicerna.
4. Sayuran dan buah-buah untuk jus.
5. Susu rendah lemak dan sudah dipasteurisasi setiap hari (susu sapi atau
kedelai).
6. Hindari makanan di awetkan atau beragi.
7. Makanan bebas dari pestisida atau zat kimia.
8. Rendah serat, makanan lunak atau cair, jika ada gangguan saluran pencernaan.
9. Rendah laktosa dan lemak jika ps diare.
10. Hindari rokok, kafein dan alcohol.
2.10

Asuhan Keperawatan dengan Sifilis

Pengkajian
Pada pengkajian anamnesis didapatkan adanya riwayat kontak dengan individu yang
terinfeksi 3 minggu sebelum munculnya gejala awal. Pasien mengeluh adanya papula
merah soliter yang dengan cepat membentuk ulkus tanpa disertai darah dan tanpa rasa
sakit (ulkus durum). Ulkus ini biasanya sembuh dalam 4-8 minggu, dengan atau tanpa
terapi.
Pasien yang tidak diobati akan mengeluh adanya ulkus yang terjadi selama 2-10
minggu setelah pembentukan ulkus pertama dan akan muncul eritema 3-4 bulan
setelah infeksi. Pada kondisi ini biasanya didapatkan keluhan malaise, sakit kepala,
anoreksia, mual, nteri tulang, dan kelelahan sering hadir, serta demam dan leher kaku.
Sejumlah kecil pasien menegmbangkan meningitis sifilis akut dan hadir dengan
keluhan sakit kepala, leher kaku, mati rasa wajah atau kelemahan, dan tuli.
Pada pengkajian pasien dengan lesi sifilis tersier, biasanya keluhan berkembang
dalam 3-10 tahun setelah infeksi. Keluhan pasien biasanya adalah nyeri tulang, yang
digambarkan sebagai rasa sakit yang mendalam membosankan khas di malam hari.
Keterlibatan SSP dapat terjadi, dengan menampilkan gejala sesuai daerah yang
terkena, yaitu keterlibatan otak (sakit kepala, pusing, gangguan mood, leher kaku,
pengelihatan kabur) dan keterlibatan sumsum tulang belakang (gejala yang
berhubungan dengan bengkak, kelemahan dan inkontinensia, impotensi).

Tugas Integumen

Page 21

Beberapa pasien mungkin hadir hingga 20 tahun setelah terinfeksi dengan


perubahan perilaku dan tanda-tanda demensia, yang merupakan indikasi neurosifilis.
Pengkajian Pemeriksaan Fisik
Tahap Primer
Timbul suatu ulkus yang disebut ulkus durum yang mempunyai sifat khusus. Sifatsifat ulkus tersebut, meliputi tidak nyeri (indolen), sekitar ulkus teraba keras
(indurasi), dasar ulkus bersih dan berwarna merah, serta bersifat soliter (biasanya
hanya 1-ulkus). Lokasi ulkus ini pada laki-laki biasanya terdapat pada preputium,
ulkus koronarius, batang penis, dan skortum. Sementara itu, pada wanita terdapat di
labium mayora dan minora, klitoris, serta bisa juga pada serviks. Ulkus bisa terdapat
ekstra genital misalnya pada anus, rectum, bibir, mulut, lidah, tonsil, jari, dan
payudara.
Tahap Sekunder
Lesi sekunder timbul 4 10 minggu setelah timbulnya lesi primer. Lesi di kulit
berbentuk macam-macam, seperti roseolae syphilitica merupakan macula yang
pertama timbul, papulo-sisiner: papulae yang timbul kemudian yang menyusun diri
menjadi setengah lingkaran atau satu lingkaran pebuh; korona veneris: gerombolan
papulae yang terdapat di dahi atau muka dan kondilomata lata (bila 1 lesi: kondiloma
latum) : banyak papula yang tebal berwrna putih ke abu-abuan, basah, beebentuk
bulat atau bulat lonjong, terdapat di daerah yang lembap seperti: genetila, perineum,
anus, aksila. Bila lesi-lesi di atas menyembuh mungkin meninggalkan bekas berupa
macula hipopigmentasi disebut lekoderma sifilitika.
Tahap Tersier
Sifilis tersier adalah tahap akhir dari riwayat penyakit ini. Sifilis menunjukkan
penyakit peradangan lambat yang progresif dengan potensi memengaruhi banyak
organ. Manifestasi umum pada tingkat ini adalah arthritis dan neurosifilis, serta
ditandai dengan demensia, psikosis, paresis, stroke, dan meningitis.
Pengkajian Diagnostik
Tes serologic untuk penyakit sifilis. Tes antibody treponema mengukur antibody
reaktif T.pallidum. tes nontreponema (VDRL, RPR) mengukur antibody terhadap
fosfolipid kardiolipin. Keduanya menjadi positif sekitar 6 minggu sesudah infeksi dan
memberikan hasil yang positif pada sifilis sekunder. Tes nontreponema dapat menjadi

Tugas Integumen

Page 22

negative bersamaan dengan waktu atau ketika pasien diobati, tetapi tes antibody
treponema tetap menunjukkan hasil yang positif.
Pengkajian Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan yang dilakukan pada tiap tahap sifilis diberikan dengan antibiotic.
Penisilin G benzatin adalah pilihan obat untuk sifilis awal atau sifilis lten kurang dari
1 tahun. Diberikan dengan injeksi intramuscular (IM) pada sesi tunggal. Terapi yang
sama diberikan, direkomendasikan dengan sifilis laten awal. Bagaimana punmereka
dengan tahap laten atau laten akhir sifilis dari waktu yang tidak diketahui harus
menerima tiga jenis injeksi dalam interal satu minggu. Pasien yang alergi pada
penisilinbiasanya diebrikan doksisiklin. Pasien yang ditangani dengan penisilin
dipantau selama 30 menit setelah injeksi untuk melihat kemungkinan reaksi alergi.
Diagnosis Keperawatan
1.
2.
3.
4.

Gangguan integritas jaringan kulit b.d. adanya ulkus pada genitalia.


Nyeri b.d. kerusakan jaringan sekunder dari ulkus mole, pasca-drainase.
Hipertermi b.d respons sistematik dari ulkus mole.
Kurang pengetahuan tentang penyakit dan risiko penyebaran infeksi dan

infeksi berulang.
5. Gangguan gambaran diri (citra diri) b.d. perubahan struktur kulit genitalia.
Rencana Keperawatan
Tujuan intervensi keperawatan adalah peningkatan integritas jaringan kulit,
penurunan respons nyeri, peurunan suhu tubuh ke rentang normal, pemenuhan
infrmasi, dan mekanisme koping yang efektif. Untuk gangguan integritas jaringan
nyeri, hipertermi, dan gangguan citra diri dapat disesuaikan dengan masalah yang
sama pada pasien ulkus mole.
Kurang pengetahuan tentang penyakit dan risiko penyebaran infeksi dan infeksi
berulang
Tujuan

: Terpenuhinya pengetahuan pasien tentang kondisi penyakit.

Kriteria Evaluasi :
Mengungkapkan pengertian tentang proses infeksi, tindakan yang dibutuhkan
dengan kemungkinan penularan.
Mengenal perubahan gaya hidup atau tingkah laku untuk mencegah terjadinya
penularan.
Intervensi
Tugas Integumen

Rasional
Page 23

Beritahukan pasien atau orang terdekat Informasi

dibutuhkan

mengenai dosis, aturan, dan pengobatan, meningkatkan

perawatan

pembatasan aktivitas seksual yang dapat menambah

kejelasan

dilakukan.

untuk
diri,

untuk

efektivitas

pengobatan dan mencegah penularan.


Pasien harus sangat disarankan untuk
menghindari kontak seksual sementara
sampai ulkus sudah kering karena mereka
sangat menular dan dapat menyebabkan
wabah masyarakat.

Jelaskan

tentang

cara

menurunkan Sifilis adalah penyakit menular. Pada

penularan dari penyakit sifilis.

beberapa fasilitas perawatan kesehatan


harus dapat meyakinkan bahwa semua
pasien yang didiagnosis dilaporkan pda
departemen

local

meyakinkan
Departemen

atau

adanya

egara
tindak

kesehatan

untuk
lanjut.

masyarakat

bertanggung jawab untuk mewawancarai


pasien untuk menentukan kontak seksual,
maka kontak seksual dapat dicatat dan
dapat dilakukan penyaringan.
Lesi sifilis primer dan sekunder sangat
menular. Sarung tangan digunakan sat
melakukan kontak langsung dengan lesi
dan tangan harus dicuci setelah sarung
tangan dilepas. Isolasi pada ruangan
khusus tidak diperlukan.
Jelaskan tentang pentingnya pengobatan Pemberian
antibiotic.

antibiotic

di

rumah

dibutuhkan untuk mengurangi invasi


bakteri pada kulit.

Meningkatkan cara hidup sehat seperti Meningkatkan

system

imun

dan

intake makanan yang baik, keseimbangan pertahanan terhadap infeksi.


antara

aktivitas

dan

istirahat,

serta

monitor status kesehatan dan adanya


infeksi.
Tugas Integumen

Page 24

Beritahu pasien bahwa mereka dapat Dengan mengetahui kondisi ini, maka
menulari orang lain.

perlu diperhatikan tindakan higenis rutin


seperti pemakaian alat pribadi.

Identifikasi sumber-sumber pendukung Keterbatasan aktivitas dapat mengganggu


yang

memungkinkan

untuk kemampuan pasien untuk memenuhi

mempertahankan perwatan di rumah yang kebutuhan sehari-hari.


dibutuhkan.
Evaluasi
Evaluasi yang diharapkan setelah meendapat intervensi keperawatan, meliputi:
1.
2.
3.
4.

Menurunnya keluhan nyeri.


Terjadi peningkatan integritas jaringan kulit.
Suhu tubuh dalam rentang normal.
Terpenuhnya informasi pengetahuan tentang penyakit dan risiko penyebaran

5.
6.
7.
8.

infeksi.
Pasien tidak mengalami komplikasi ke organ genetilia lain.
Terpenuhinya kepatuhan pasien terhadap program terapi.
Terjadinya peningkatan gambaran diri.
Terjadi penurunan kecemasan.

Tugas Integumen

Page 25

BAB III
APLIKASI TEORI
3.1 Kasus
Nn. A berusia 20 tahun bekerja sebagai perempuan seks selama 1 tahun terakhir.
Setiap bulan tempat ia bekerja dilakukan pemeriksaan kesehatan rutin IMS
(Infeksi Menular Seksual) oleh PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana
Indonesia). Nn. A mengeluh merasa tidak nyaman pada area genitalnya seperti
ada masa yang mengganjal dan terasa nyeri. Akibat adanya massa yang
mengganjal tersebut, Nn. A merasa aneh dan saat menyentuh area genitalnya.
Setelah dibawa ke RS Islam pada tanggal 3 Oktober 2015, Nn. A didiagnosa
medis menderita sifilis. Nn. A merasa malu dengan penyakitnya dan takut jika
teman-temannya mengetahui

dia pekerja seks. Klien merasa putus asa dan

berfikir negative mengenai pandangan orang terhadap dirinya berhubungan


dengan penyakit yang dideritanya.
3.2 Data Klinis
Nama

: Nn. A

Umur

: 20 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: PSK

Alamat

: Rahasia

Status perkawinan

: Belum menikah

Agama

: Islam

TB

: 168 cm

BB

: 40 Kg

1.1 Asuhan Keperawatan

Tugas Integumen

Page 26

1. Pengkajian Keperawatan
a. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang
Nn. A mengeluh merasa tidak nyaman pada area genitalnya seperti
ada massa yang mengganjal dan terasa nyeri. Akibat adanya massa yang
mengganjal tersebut, Nn. A merasa aneh dan saat menyentuh area
genitalnya.
Riwayat kesehatan dahulu
Sebelumnya, Nn. A tidak mengalami penyakit serupa.
Riwayat kesehatan keluarga
Dari riwayat kesehatan sebelumnya, Keluarga Nn. A tidak ada
yang menderita penyakit yang sama dengan klien.
b. Pemeriksaan Fisik
Vital sign
TB
: 168 cm
BB
: 40 kg
RR
: 24x/menit
TD
: 90/60 mmHg
Nadi
: 70 x/menit
Suhu
: 370 C
Pemeriksaan kepala
Inspeksi :
Bentuk : simetris
Rambut: warna rambut hitam, tidak ada ketombe
Palpasi: tidak terdapat benjolan, dan nyeri tekan
Pemeriksaan mata
Inspeksi
Konjungtiva : tidak anemis
Sclera : tidak ikterus
Pemeriksaan hidung
Inskpeksi: bentuk hidung simetris, tidak ada polip maupun peradangan,
tidak ada sekret.
Palpasi :tidak terdapat nyeri tekan.
Pemeriksaan mulut
Inspeksi : bibir pucat, sudut bibir pecah-pecah, gusi berdarah.
Pemeriksaan wajah
Inspeksi : terlihat kemerahan pada bagian yang berjerawat.
Palpasi : Adanya nyeri pada bagian yang berjerawat
Pemeriksaan telinga
Inspeksi : simetris kiri dan kanan
Tugas Integumen

Page 27

Palpasi : tidak ada nyeri tekan. Fungsi pendengaran normal.


Pemeriksaan leher
Inspeksi : tidak ada pembesaran getah bening
Palpasi : tidak ada pembesaran getah bening kelenjer tiroid
Pemeriksaan thorak
Jantung
Inspeksi : iktus terlihat
Palpasi : iktus teraba.
Perkusi : redup
Auskultasi : terdengar bunyi jantung 1 dan 2 normal.
Paru- paru
Inspeksi : simetris kiri dan kanan saat inspirasi dan ekspirasi
Palpasi
: vokal femoris teraba, simetris kiri dan kanan.
Perkusi : sonor
Auskultasi : bunyi nafas vesikuler.
Pemeriksaan abdomen
Inspeksi : tidak terdapat lesi, tidak ada luka bekas operasi.
Auskultasi : bising usus normal 15 x / menit.
Palpasi : Terdapat nyeri tekan
Perkusi : bunyi tympani untuk semua daerah abdomen
Pemeriksaan Ekstremitas
Ekstremitas atas: tangan kanan terpasang infus, pergerakan lemah.
Terdapat memar dan bercak-bercak hitam di tangan kiri.
Ekstremitas bawah : pergerakan lemah
Nyeri di persendian dan tulang.
Pemeriksaan Kelamin
Inspeksi: terdapat benjolan di daerah genital dan berwarna kemerahan.
Palpasi: terdapat nyeri tekan.
Pemeriksaan Laboratorium
pemeriksaan T Palidum : ditemukan kuman Treponema pallidum
2. Analisis Data

No. Data

Diagnosa Keperawatan

1.

Nyeri

DS :
1.

Klien mengatakan bahwa area

gentinalnya nyeri
2. Klien mengatakan nyeri saat buang

berhubungan

dengan

proses peradangan dan adanya


lesi pada kulit.

air kecil.

DO:

RR : 26 x / menit

TD : 90/60 mmHg

Tugas Integumen

Page 28

Suhu : 37 0C
pada saat dipalpasi pada area gentialnya
terdapat nyeri tekan

2.

DS :

Gangguan

1. Klien

mengatakan

genitalnya

terdapat

kemerahan
2. Klien
mengatakan

pada

area

bentol-bentol
pada

integritas

kulit

berhubungan dengan lesi dan


reaksi inflamasi

area

genitalnya terdapat pus


DO :
1. Area genital klien terlihat adanya
bentol-bentol kemerahan
2. Area genital klien terlihat adanya pus.
3.

DS:

Gangguan

1. Klien mengatakan malu terhadap


penyakitnya.
2. Klien mengatakan merasa putus asa.
3. Klien mengatakan berfikir negative

citra

diri

berhubungan dengan penyakit


yang dideritanya.

mengenai pandangan orang terhadap


dirinya berhubungan dengan penyakit

yang dideritanya
DO :
TD : 90/60 mmHg
Nadi : 100x/menit
Suhu : 37 0C
RR : 26 x / menit
BB : 45 Kg
TB : 160 cm
Klien terlihat selalu murung
Klien terlihat selalu melamun

Prioritas Diagnosa:
1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan dan adanya lesi pada kulit.
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan lesi dan reaksi inflamasi
3. Gangguan citra diri berhubungan dengan penyakit yang dideritanya.

Tugas Integumen

Page 29

3.Intervensi
No.
Dx
1

NOC (Tujuan)
Setelah dilakukan

NIC (Rencana

Rasional

Keperawatan)
1. Kaji TTV (TD, N, RR)

1.

TTV

dapat

tindakan

menunjukan tingkat

keperawatan selama

perkembangan

1x24 jam klien

pasein.

dapat menunjukkan
tingkat nyeri
Kriteria Hasil :
ekspresi pada wajah
tidak ada

2. Mengindikasikan
2. Kaji

keluhan,

lokasi,

intensitas, frekuensi dan


waktu terjadinya nyeri.

kebutuhan

untuk

intervensi dan tandatanda perkembangan


atau resolusi

3. Ajarkan tehnik distraksi


dan relaksasi.

komplikasi..
3. Tehnik relaksasi
dengan nafas dalam
dapat
nyeri

mengurang
dan

tehnik

distraksi (membaca,
menonton

tv,

mengobrol,dll)
dapat mengalihkan
pemusatan
4. Kolaborasi

dengan

pikiran

ps terhadap nyeri.

dokter dalam pemberian


analgetik

4. Analgetik dapat
mengurangi

rasa

nyeri pasien.
2

Setelah dilakukan
tidakan keperawatan

1. warna, turgor, sirkulasi


dan sensasi kulit.

1. Menentukan
garis dasar

selama 1x24 jam

perubahan yang

menunjukkan

terjadi untuk

integritas kulit dan

menentukan

membrane mukosa

intervensi yang

Kriteria Hasil :
Keutuhan kulit tidak

Tugas Integumen

2. Kolaborasi dalam

tepat.

melindungi area genital

Page 30

ada gangguan

dengen balutan basah

2. lindungi area

atau salep antibiotic

genital dari
kontaminasi dan
mempercepat

Setelah dilakukan

1. Kaji persepsi pasien dan

penyembuhan.
1.Pasien
yang

tindakan

pandangannya terhadap

memandang

keperawatan selama

sifilis.

sebagai cacat kulit

sifilis

1x24 jam gangguan

biasanya

tidak

citra diri berkurang


Kriteria Hasil:
Harga diri positif

toleransi

terhadap

tampilan

diri,

sedangkan

pasien

yang

memandang

sifilis

sebagai

penyakit

yang

normal dan fisiologis


2. Perhatikan perilaku
menarik diri, membicarakan
diri tertang hal negatif

dapat

menerima

konsep diri dan tidak


beresiko

terganggu

konsep diri
3. Dorong pengungkapan
perasaan

2. Mengidentifikasi
kebutuhan untuk
intervensi

4. Perhatikan perilaku
menarik diri dan
penggunaan penyangkalan.

3. Orang terdekat
memulai penerimaan
perubahan dan
mengurangi ansietas
mengenai perubahan
citra diri.
4.Penyangkalan
mungkin lama dan
mungkin maladaptif
karena pasien tidak
siap

mengatasi

masalah pribadi.

Tugas Integumen

Page 31

4. Implementasi
No.

Tanggal dan

Dx

Jam

Pelaksanaan

Evaluasi

Nama

Tindakan/respon

dan

Klien

Paraf
Petugas

2 Oktober 2015
Pukul 08.00

1. Kaji TTV (TD, N, 1. Nyeri hanya


RR)

berada pada area


genital.
2. Pasien terlihat

2. Kaji keluhan, lokasi, nyeri


intensitas,

frekuensi

dan waktu terjadinya


nyeri.

3. pasien terlihat
nyaman

3. Ajarkan

tehnik

distraksi dan relaksasi.

4. nyeri tetap
terasa meskipun
sedikit berkurang.

2 Oktober 2015
Pukul 08.30

4. Kolaborasi

dengan

dokter

dalam

pemberian analgetik
1. warna,
turgor, 1.kulit klien masih
sirkulasi

dan berwarna

sensasi kulit.
kemerahan pada
2. Kolaborasi dalam
area genital
melindungi area
2. Klien merasa
genital
dengen
tidak nyaman dan
balutan basah atau
kulit area
salep antibiotic
genitalnya masih
3

2 Oktober 2015
Pukul 09.00

1. Kaji persepsi pasien

kasar
1. Pasien merasa

dan pandangannya

malu dengan

terhadap sifilis.

jerawat diwajahnya
2.Klien tetap

2. Perhatikan perilaku
Tugas Integumen

Page 32

menarik diri,

merasa minder

membicarakan diri

terhadap

tertang hal negatif

jerawatnya

3. Dorong pengungkapan

3. Klien

perasaan

mengatakan
jerawatnya merasa
dirinya tidak cantik
sehingga klien
malu untuk

4. Perhatikan perilaku
menarik diri dan

menunjukkan
dirinya

penggunaan

4.klien terlihat

penyangkalan.

malu dengan
jerawatnya

5. Evaluasi
No.
Dx
1

Tanggal
5 Oktober 2015

Catatan Perkembangan

Nama
& paraf

S: Nn. A masih merasa nyeri saat BAK


O: Pasien terlihat nyeri pada area yang
terkena sifilis
A: Tujuan tidak tercapai
P: Lanjutkan intervensi 1, 2.
I: Ditambahkan intervensi, yaitu :
sesuaikan frekuensi dosis sesuai indikasi
melalui pengkajian nyeri dan efek
samping.
E: Nyeri menghilang saat pemberian obat
R: intervensi 1,2,3 tetap dilanjutkan
sampai sesuai dengan kroteria hasil yang

5 Oktober 2015

sudah direncanakan.
S: Nn. A mengatakan kulitnya masih kasar
naum lebih baik dari sebelumnya.
O: sudah mulai baik dari pada sebelum
dilakukan tindakan keperawatan,

Tugas Integumen

Page 33

A: Tujuan teratasi sebagian


P:Lanjutkan intervensi 4
3

5 Oktober 2015

S: Nn. A mengatakan memiliki pandangan


positif pada dirinya.
O: Pasien terlihat tenang
A:Masalah Teratasi
P:Pasien diberikan HE

BAB IV
PEMBAHASAN

Tugas Integumen

Page 34

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
Setelah membahas penyakit Sifilis, hal terbesar yang sebaiknya kita lakukan adalah
agar lebih menanamkan perilaku hidup sehat, seperti kebiasaan sehari hari dan
perilaku sex. Dan apabila sudah positif mengidap harus segera dilakukan pengobatan
yang tepat.

Tugas Integumen

Page 35

DAFTAR PUSTAKA
Huda, Amin. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan
NANDA. Yogyakarta: Mediaction
Jurnal Nursing. 2011. Nursing the Series for Clinical Exellence; Memahami Berbagai
Macam Penyakit. Jakarta: Indeks
Muttaqin, Arif. 2012. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen. Jakarta:
Salemba Medika
Smeltzer, Suzanne. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Susanto, Clevere. 2013. Penyakit Kulit Kelamin.Yogyakarta: Nuha Medika

Tugas Integumen

Page 36