Anda di halaman 1dari 17

TUGAS GIZI KESEHATAN MASYARAKAT

HUBUNGAN DEFISIENSI Zn DENGAN HIV

Disusun Oleh :
Kelas A-2014
Kelompok 1
Putri Asri Yanti

25010114120004

Elzha Geniz Rieny

25010114120011

Dewi Nur Rewtnowati

25010114120018

Annisa AyundaMaharani

25010114120025

Wilujeng Ginanjarwati

25010114120033

Satya Kirana Dela Rosa

25010114120040

Dwi Susilawati

25010114120048

Muchamad Bachrul Ulum

25010114120055

Fitrisya Lucki Dwiyanti

25010114120062

Nila Himayati

25010114120069

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang menyerang sistem
kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis
dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel target virus ini terutama sel
Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD4. Di dalam
sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup
lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh
manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya
berperan dalam mengatasi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan
sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang
dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai
CD4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol)
(KPA, 2007).
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala
penyakit yang disebabkan oleh virus HIV. Penderita infeksi HIV dinyatakan sebagai
penderita AIDS ketika menunjukkan gejala atau penyakit tertentu yang merupakan akibat
penurunan daya tahan tubuh yang disebabkan virus HIV (indikator sesuai dengan definisi
AIDS dari Centers for Disease Control tahun 1993) atau tes darah menunjukkan jumlah
CD4 < 200/mm3 (Depkes, 2006).
Seng termasuk dalam kelompok zat gizi mikro yang mutlak dibutuhkan tubuh dalam
jumlah yang sangat kecil untuk memelihara kehidupan yang optimal. Seng terdapat dalam
jumlah yang cukup banyak di dalam setiap sel, kecuali sel darah merah. Peranan seng
dalam pembelahan dan pertumbuhan sel serta stabilitas fungsi berbagai jaringan

menjadikan seng sebagai zat gizi mikro yang esensial untuk mempertahankan kesehatan
seseorang secara optimal.
Berbagai penelitian yang telah dilakukan menunjukkan pada penderita HIV/AIDS
didapatkan kadar Zn yang rendah (Beach dkk, 1992). Rendahnya kadar Zn plasma pada
penderita HIV berhubungan dengan jumlah limfosit CD4 yang lebih rendah dan
permulaan

terjadinya

infeksi

oportunistik

yang

lebih

cepat

pada

penderita

(Mocchegianidkk, 2000).
B. RumusanMasalah
1. Bagaimana hubungan antara asupan Zn dengan kadar Zn plasma?
2. Bagaimana hubungan antara status gizi dengan jumlah limfosit CD4?
3. Bagaimana efek langsung Zn terhadap HIV?
4. Bagaimana peran sel limfosit CD4 pada sistem imun orang dengan HIV?
5. Bagaimana pengaruh defisiensi Zn terhadap respon imun orang dengan HIV?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui hubungan asupan Zn dengan kadar Zn plasma
2. Untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan jumlah CD4
3. Untuk mengetahui efek langsung Zn terhadap orang dengan HIV
4. Untuk mengetahui peran sel limfosit CD4 pada sistem imun orang dengan HIV
5. Untuk mengetahui pengaruh defisiensi Zn terhadap respon imun orang dengan HIV

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit
yang timbul akibat menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV (Human
Immunodeficiency Virus). Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular berbagai macam

penyakit, karena sistem kekebalan di dalam tubuh menurun (Kementrian Kesehatan RI,
2010). Penyakit HIV/AIDS merupakan masalah besar bagi kesehatan dan sangat berpengaruh
pada pertumbuhan sosial ekonomi negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Berdasarkan estimasi Depkes 2006, diperkirakan di Indonesia jumlah orang yang hidup
dengan HIV/AIDS sebanyak 193.000 247.000 orang. Dari laporan Surveilans AIDS Depkes
RI hingga September 2009 mencapai 28.260 orang. Hampir semua provinsi di Indonesia
melaporkan peningkatan kasus HIV/AIDS.
Status gizi mempunyai peranan penting terhadap progresivitas penyakit dan
kelangsungan hidup pasien HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS terjadi peningkatan kebutuhan
nutrisi terkait dengan adanya stress metabolik infeksi dan demam yang menyebabkan
kenaikan kebutuhan kalori, protein, mineral dan vitamin. Sistem imun yang tidak begitu
mudah ditanggulangi, tetapi dapat dihambat dengan cara memberikan terapi nutrisi. Dengan
terapi nutrisi dapat menurunkan morbiditas, memperbaiki kualitas hidup, menurunkan biaya
dan memperpendek hari dalam perawatan di rumah sakit, memperbaiki kualitas hidup
penderita HIV/AIDS.
Makronutrien dan mikronutrien diperlukan pada infeksi HIV/AIDS. Untuk itu
diperlukan suatu inovasi dan langkah intervensi terapi dengan menambahkan unsur suplemen
mikronutrien guna mengatasi pengaruh Reactive Oxygen Species (ROS) yang berpotensi
mendorong terjadinya progresivitas penyakt ke arah yang lebih berat serta memenuhi
kebutuhan mikronutrien. Mikronutrien seperti Zinc mempunyai peran penting terhadap
infeksi HIV/AIDS karena dapat mempengaruhi beberapa gen yang memandu sistem imun.
Defisiensi zinc biasanya diikuti dengan perubahan kemampuan ketajaman rasa dan bau,
dan juga melalui anoreksia dan kehilangan berat badan. Pada level lain, zinc berpartisipasi
dalam sintesis DNA dan RNA, yang akhirnya berkaitan dengan pembelahan sel, deferensiasi

chondrocytes, osteoblas dan fibroblast, transkripsi sel, sintesis somatomedinc, collagen,


osteocalcin dan alkalin phosphatase. Alkalin phosphatase dihasilkan dalam osteoblas dan
memberikan simpanan kalsium pada diafase tulang. Zinc juga berperan dalam metabolisme
karbohidrat, lipid dan protein yang selanjutnya akan mengarah pada utilisasi makanan dengan
baik (Riyadi, 2011).
Zinc yang dikonsumsi penderita HIV/AIDS dapat berfungsi secara optimal apabila nilai
albumin dalam plasma merupakan penentu utama absorbs zinc. Albumin merupakan alat
transport utama zinc. Absorpsi zinc menurun bila nilai albumin darah menurun (Almatsier,
2009). Jadi, dapat dikatakan bahwa pemberian suplementasi zinc pada penderita HIV/AIDS
dapat meningkatkan berat badan, melalui peningkatan asupan zat gizi yang lebih baik.

BAB III
PEMBAHASAN
1. Hubungan Atau Korelasi Antara Asupan Zn Dengan Kadar Zn Plasma
Defisiensi zinc paling sering dievaluasi dengan mengukur kadar plasma. Meskipun seng
plasma merupakan reaktan fase akut yang dapat berubah dalam menanggapi perubahan

metabolik, kadar seng plasma bereaksi terhadap asupan makanan secara cepat dan terukur
(Gershwin et al. 1985, Tertarik 1990).
Kadar plasma rendah seng telah diamati dalam penyakit bawaan seperti anemia sel sabit
(Ballester et al. 1986), sindrom Down (Licastro et al. 1992) dan acrodermatitis
enteropathica. Defisiensi zinc juga ditandai oleh aktivitas thymulin menurun dan respon
limfosit gangguan ke phytohemagglutinin (Chandra 1980, 1997).
Defisiensi zinc telah diamati dalam kondisi yang diperoleh, termasuk sindrom
malabsorpsi (Mc Clain 1985), malnutrisi (Tertarik 1990), kanker (Mocchegiani et al.
1994), alkoholisme (Zarski et al. 1987), stadium akhir penyakit hati (Pescovitz dkk 1996),
uremia (Mahajan et al. 1982) dan penyakit menular kronis dan akut seperti human
immunodeficiency virus ( HIV ) 3 tipe 1 ( HIV - 1 ) infeksi ( Ripa dan Ripa 1995).
Demikian pula, tingkat seng diubah dalam plasma, enzim dan neuron telah dibuktikan
dalam sejumlah gangguan dari sistem saraf pusat( Ebadi et al. 1995). Tingkat zinc plasma
yang rendah, baik bawaan atau diperoleh, berhubungan dengan kelainan kekebalan tubuh,
proses penyembuhan gangguan dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi.
2. Hubungan antara Status Gizi dengan Jumlah Limfosit CD4
Suatu penelitian yang dilakukan dengan menggunakan uji statistik KolmogorovSmirnov, karena tidak memenuhi syarat uji statistik Chi-square dan mendapatkan nilai
p=0,520, yang artinya tidak ada hubungan bermakna antara jumlah sel limfosit T-CD4 +
dengan status gizi.
Pada tinjauan pustaka didapatkan bahwa limfosit CD4+ merupakan target utama pada
infeksi HIV sehingga dari waktu ke waktu jumlah dan fungsinya akan menurun sejalan
dengan progresivitas penyakitnya. Pada tinjauan pustaka yang lain juga dikatakan bahwa
malnutrisi merupakan tanda/gejala klinis yang paling awal dari infeksi HIV dan cenderung
memburuk selama perjalanan penyakitnya. Sehingga menurut tinjauan pustaka ini dapat
disimpulkan bahwa secara tidak langsung jumlah limfosit T-CD4 + berbanding terbalik
dengan status gizinya. Makin tinggi jumlah limfosit T-CD4 + maka status gizinya akan
makin baik, begitu juga sebaliknya.

Tinjauan pustaka lain juga menyatakan bahwa terdapat hubungan antara status gizi
buruk atau malnutrisi dengan sistem imun. Status gizi yang buruk berefek pada
kerusakkan sistem imun, yang kemudian akan meningkatkan risiko infeksi dan pada
akhirnya akan menyebabkan peningkatan kebutuhan nutrisi. Hal tersebut pada akhirnya
akan menyebabkan status gizi yang semakin buruk. Penelitian yang dilakukan Beisel pada
tahun 1996 menunjukkan bahwa supresi sistem imun akibat malnutrisi dapat
mempengaruhi infeksi HIV.
3. Efek Langsung Zn Terhadap HIV/AIDS
Zn adalah unsur esensial dalam tubuh manusia, berfungsi secara biokimia sebagai
konstituen dalam banyak metaloenzym dengan fungsi katalitik, regulator, dan struktural.
Banyak penyakit yang berhubungan dengan kondisi kekurangan Zn seperti malfungsi
metabolisme dan genetik, malabsorpsi, sirosis liver, dan kelainan gastrointestinal. Zn
diperlukan dalam penyembuhan luka, pembentukan kolagen dan mengatasi diare.
Kadmium (Cd) dan Merkuri (Hg) dikenal sebagai spesies toksik. Hg yang menembus
membran lambung dapat menyebabkan diare. Cd dan Hg dapat memberikan efek toksik
akut dengan cara menduduki posisi yang seharusnya ditempati oleh Zn dalam enzim dan
protein.
Zn adalah unsur esensial dalam tubuh manusia. Recommended Dietary Allowance
(RDA) Zn untuk orang dewasa di Amerika adalah 15 mg per hari(Saghaie, 2006). RfD
(Reference Dose) bagi Zn adalah 21 mg/ hari atau 0.3 mg/kg berat badan per hari
(Goldhaber, 2003). Bentuk senyawa Zn yang digunakan sebagai suplemen nutrisi adalah
Zn sulfat, Zn klorida, Zn glukonat, Zn oksida, dan Zn stearat. Zn (II) sulfat dipakai
sebagai bahan untuk treatmen bagi individu yang kekuragan Zn. Pemasukan Zn sulfat
dalam tubuh cukup sedikit/ sulit sehingga diperlukan dosis yang tinggi. Sayangnya hal ini
akan menimbulkan efek samping (Saghaie, 2006). Sejumlah informasi dari Situs Health
Info menjelaskan sejumlah survey berkaitan dengan biofungsi Zn. Di Nepal, sekitar

15.000 anak meninggal setiap tahunnya akibat diare. Untuk menekan angka tersebut,
dilakukan berbagai upaya. Salah satunya dengan mengkampanyekan penggunaan
suplemen Zn. Sementara itu kekurangan zinc (Zn) dapat mempengaruhi immune. Banyak
jenis dari cell-cell immune itu tampak tergantung pada zinc untuk fungsi optimalnya.
Terutama pada anak-anak, para peneliti telah mempelajari efek-efek dari kekurangan zinc
(dan supplementasi zinc) pada respon immune dan jumlahdari cell-cell darah putih,
termasuk studi-studi khusus mengenai T lymphocytes, macrophages, dan cell-cell B
(semua jenis cell darah putih). Kekurangan zinc telah menunjukkan mampu mengurangi
jumlah cell-cell darah putih dan respon immune, sementara supplementasi zinc telah
tampak mampu mengembalikan ke kondisi normal.
Suplemen Zn mengurangi kejadian diare di antara pengguna narkoba dengan HIV. Hal
ini dikatakan oleh para peneliti dalam International AIDS Conference (IAC). Diare secara
terus-menerus mempengaruhi sebagian besar pasien dengan HIV/AIDS, mengakibatkan
kelainan penyerapan, kehilangan berat badan dan penurunan ketahanan hidup. Dalam uji
coba secara acak, 231 pengguna narkoba yang HIV-positif yang didiagnosis kekurangan
Zn, diberikan suplemen Zn atau plasebo, 62,3% di antaranya memakai terapi antiretroviral
(ART). Laki-laki menerima 15 mg sementara perempuan menerima 12 mg per hari selama
satu tahun. Pemberian suplemen mengurangi kejadian diare sebanyak 50%. Secara
khusus, prevalensi diare adalah 14,1% pada penerima suplemen zat Zn dan 29,3% pada
pasien kelompok kontrol. Suplemen zat Zn memberi manfaat yang bermakna bahkan
setelah memperhitungkan faktor pembaur misalnya ART, viral load dan jumlah CD4.
Pemberian suplemen Zn adalah terapi tambahan yang aman dan efektif untuk diare terkait
HIV.
4. Peran Sel Limfosit CD4 pada Sistem Imun Penderita HIV

Untuk bisa menginfeksi sel, virus HIV memerlukan reseptor, dan reseptor utamanya
adalah molekul CD4 yang ada pada permukaan sel pejamu. Contoh sel yang memiliki
reseptor CD4 adalah sel limfosit T-CD4+, monosit, atau makrofag.
Sel CD4 adalah semacam sel darah putih atau limfosit. Sel tersebut merupakan bagian
yang penting dari sistem kekebalan tubuh manusia. Sel ini juga disebut sel T-4, sel
pembantu atau kadang kala sel CD4+. Semakin lama terinfeksi HIV, jumlah sel CD4
semakin menurun. Ini tanda bahwa sistem kekebalan tubuh sudah semakin rusak. Jumlah
sel CD4 yang normal berkisar antara 500 dan 1.600 sel/mm darah.
CD4 adalah sebuah marker atau petanda yang berada di permukaan sel-sel darah,
terutama sel-sel limfosit. CD4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun
menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia
menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan
dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Sel yang mempunyai marker
CD4 di permukaannya berfungsi untuk melawan berbagai macam infeksi. Jika CD4
berkurang, mikroorganisme yang patogen akan dengan mudah masuk ke dalam tubuh dan
menimbulkan penyakit.
Mekanisme utama dalam infektivitas HIV melalui perlekatan selubung glikoprotein
virus (gp 120) pada molekul CD4 yang bertindak sebagai reseptor dengan afinitas sangat
tinggi pada permukaan sel-sel inang. Molekul-molekul CD4 sangat banyak terdapat pada
permukaan sel T terutama pada sel-sel T helper. Namun sel-sel seperti monosit atau
makrofag dapat diinfeksi oleh HIV oleh karena fagositosis kompleks virus-antibody atau
melalui molekul CD4 yang dimiliki oleh sel bersangkutan.
Kerusakan sel CD4 sebagai penyebab turunnya fungsi sistem imun, virus merusak sel
dengan replikasi, bertunas merusak membran sel, ikatan glikoprotein (gp120) pada sel
terinfeksi dengan CD4 membentuk fusi sel-sel manjadi sinsitium. Sel terinfeksi dirusak
oleh T sitolik sel NK, gp 120 bebas berikatan dengan CD4 pada sel sehat menyebabkan
respons autoimun.

Molekul CD4 berperan sangat penting dalam patogenesis AIDS,dan CD4 berperan pula
dalam sitolisis oleh infeksi HIV. Kerusakan sel oleh HIV tergantung kepada molekul CD4
yang ada pada permukaan sel tersebut, sedang sel yang paling banyak memiliki molekul
CD4 adalah limfosit. Penyakit HIV dimulai dengan infeksi akut yang hanya di kendalikan
sebagian oleh respon imun spesifik dan berlanjut menjadi infeksi kronik progresif pada
jaringan limfoid perifer.
Infeksi HIV menyebabkan destruksi sel T CD4 dan sebagian besar virusyang terdapat
dalam darah berasal dari sel T CD4 yang mengalami lisis. Efek sitopatik langsung infeksi
HIV terhadap limfosit dibuktikan dengan halhal berikut :
Produksi virus dengan ekspresi gp 41 dan budding partikel virus menyebabkan

peningkatan permeabilitas membran dan lisis osmotik sel CD4


Membran sel terinfeksi melakukan fusi dengan sel lain yang belum terinfeksi melalui
interaksi gp 120 CD4 sehingga membentuk sel berinti banyak atau syncytia.

Pembentukan syncytia adalah lethal untuk sel terinfeksi maupun yang tidak terinfeksi.
DNA virus yang tidak terinfeksi dan terdapat dalam sitoplasma dapat menjadi toksik

untuk sel terinfeksi.


Produksi virus dapat mengganggu sintesis dan ekspresi protein sel dan berakibat

kematian sel.
Pengikatan gp 120 pada CD4 intraseluler yang baru dibentuk dapat mengganggu
proses ekspresi CD4 pada permukaan sel.
Penurunan CD4 dalam darah tepi tidak saja disebabkan oleh lisis sel CD4 oleh virus

tetapi , ekstravasasi sel CD4 merupakan salah satu faktor yang berperan dalam penurunan
CD4 dalam darah. Ada dua kemungkinan penurunan jumlah CD4 pada infeksi HIV yaitu :

Gangguan renewal CD4 secara aktif karena kerusakan yang terjadi oleh virus
Sistem imun tidak mampu mengatasi kehilangan kronis CD4 yang terjadi terus
menerus setiap hari karena keterbatasan regenerasi. Hambatan sel CD4 untuk
memperbaruhidiri dapat disebabkan perubahan pada sel precursor dan lingkungannya
akibat infeksi HIV.

Sel limfosit T-CD4+ merupakan target utama pada infeksi HIV sehingga dari waktu ke
waktu jumlah dan fungsinya akan menurun. Sel limfosit T-CD4 + ini sangat dibutuhkan
untuk operasional sistem kekebalan tubuh. Ketika HIV menginfeksi sel limfosit T-CD4 +
maka terjadilah penurunan drastis dari jumlah sel limfosit T-CD4 + tersebut. Virus yang
masuk ke dalam Sel limfosit T-CD4+ akan mengadakan replikasi sehingga jumlahnya
meningkat tajam sehingga dapat menghancurkan sel itu sendiri. Keadaan ini akan
menurunkan sistem kekebalan tubuh seluler yang akhirnya menuju pada keadaan AIDS.
Bila teraktivasi oleh antigen, sel limfosit T-CD4+ akan merangsang respon imun seluler
dan respon imun humoral sehingga seluruh sistem imun akan terpengaruh. Namun yang
terutama sekali mengalami kerusakan adalah sistem imun seluler. Awalnya sistem imun
dapat mengendalikan infeksi HIV namun dengan perjalanan dari waktu ke waktu HIV
akan menurunkan jumlah sel limfosit T-CD4 +, terganggunya homeostatis dan fungsifungsi sel lainnya dalam sistem imun tersebut. Keadaan ini akan menimbulkan berbagai
gejala penyakit. Gejala penyakit tersebut terutama merupakan akibat terganggunya fungsi
imunitas seluler karena gangguan sel limfosit T-CD4+ untuk mengaktivasi sel limfosit B.
Infeksi oleh HIV terjadi melalui 3 cara, yaitu infeksi langsung ke dalam pembuluh
darah, melalui permukaan mukosa yang rusak atau dari ibu kepada anaknya secara in
utero, selama pesalinan atau melalui air susu. Molekul CD4 diperlukan untuk perlekatan
HIV dan masuk ke dalam beberapa sel. Sesaat setelah infeksi HIV dalam bentuk partikel
virus bebas atau di dalam sel-sel T CD4 +yang terinfeksi akan mencapai limfonodus
regional dan merangsang rerspons imun selular dan humoral yang penting untuk melawan
infeksi virus. Namun banyaknya sel-sel limfosit pada limfonodus akan menyebabkan selsel CD4 semakin banyak terinfeksi. Setelah beberapa hari akan terjadi limfopenia dengan
menurunnya secara cepat jumlah sel-sel T CD4+ dalam sirkulasi.

5. ZINK (Zn) terhadap respon imun penderita HIVAids


Zink diduga menghambat replikasi HIV dengan mengikat situs katalisi protease HIV
(Friis, 2005). Zink berperan dalam proses metabolisme. Di dalam plasma zink berikatan
dan ditransportasi oleh albumin (60%) dengan afinitas rendah serta oleh transferin (10%)
(Osredkar and Sustar, 2011).
Keberadaan zink dalam serum pada penderita anemia sangat rendah. Absorpsi zink
dan Fe terjadi secara antagonis dari jalur gastrointestinal, dimana peningkatan konsentrasi
besi (Fe) pada lumen intestinal terjadi oleh karena penurunan uptake Zink (Hegazy et al.,
2010). Zink diabsorpsi di usus melalui mekanisme Divalent Metal Transporter-1 (DMT-1)
yang juga transporter besi dan mineral lain dalam usus. Adanya kesamaan transporter ini
mempengaruhi absorpsi antara zink dengan besi (Fe) (Ridwan, 2012).
Beberapa penelitian terkait peranan zink yang dikaitkan dengan pembentukan sel
darah merah menunjukkan bahwa rendahnya kadar zink dapat menganggu sintesis heme
oleh karena zink berperran dalam penyediaan enzim - ALA dehidrase yang memiliki
peranan pnting dalam sintesis heme (Astuti, dkk.,2013).
Zink dapat mempengaruhi absorpsi mineral Copper (Cu) di dalam tubuh. Copper
merupakan suatu mikronutrien yang memerankan fungsi penting pada metabolisme.
Copper (Cu) secara esensial menjaga kekuatan kulit, pembuluh darah, dan jaringan epitel
disekitar tubuh. Copper di absorpsi pada usus halus dan ditransportasi oleh albumin.
Absorpsi dan metabolisme Copper (Cu) diimbangi dengan mineral zink. Apabila kadar
zink rendah, maka absorpsi Copper di usus halus akan meningkat begitu juga sebaliknya
(Osredkar and Sustar, 2011). Indikator kadar Copper (Cu) yang rendah ditunjukkan
apabila kadar Cu di dalam rambut < 5g/g (Weber, et al., 1990).
Secara invitro zink dapat berinteraksi terhadap fungsi imun secara langsung, terhadap
HIV secara langsung dan juga terhadap HIV yang menginfeksi sel host.
a) Efek zink terhadap sistem imun

Defisiensi zink dapat menyebabkan ketidakseimbangan fungsi antara Th1 dan Th2
dengan penurunan secara proporsional cell mediated immunity (CMI). Selain itu,
defisiensi zink juga dapat mencegah regenerasi CD4 baru pada T-limfosit. Pada infeksi
HIV, dapat terjadi kerusakan kekebalan T-limfosit CMI dan dapat terjadi disregulasi
keseimbangan sitokin dengan pergeseran sitokin dari Th1 (IL-2, IFN-gamma) pada
pertahanan selular sel host ke respon sitokin humoral Th2 (IL-4, IL-5, IL-6, IL-10)
bahkan sebelum kehilangan CD4 limfosit. Dengan demikian, dalam memeriksa
interaksi status zink dan gangguan imunologi terkait HIV mungkin sulit dilakukan
oleh karena dapat disebabkan oleh peningkatan status zink atau oleh efek pada
imunosupresi HIV dengan asupan zink yang tinggi (Siberry,et al., 2002).
b) Efek langsung zink pada HIV
Berdasarkan percobaan secara in-vitro, konsentrasi zink 100 mg/mL mampu
menghambat transkripsi RNA HIV tanpa menyebabkan toksisitas pada sel host. Zink
dapat menghambat protease HIV dengan mengikat di situs aktif aspartat katalistik
(Siberry, et al., 2002).
c) Efek zink pada sel host yang terinfeksi HIV
Zink merupakan elemen yang tersedia dalam jumlah kecil yang memiliki fungsi
sebagai antioksidan. Defisiensi zink dikaitkan dengan penurunan jumlah CD4,
progresitivitas menjadi AIDS dan menyebabkan kematian. Secara in-vitro, replikasi
HIV pada kultur sel dirangsang oleh oksigen radikal bebas. Zink mampu menurunkan
oksidan dan radikal bebas, sehingga membatasi replikasi HIV (Bunupuradah, et al.,
2013; Siberry, etal., 2002).

BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit
yang timbul akibat menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV (Human
Immunodeficiency Virus). Penyakit HIV/AIDS merupakan masalah besar bagi kesehatan
dan sangat berpengaruh pada pertumbuhan sosial ekonomi negara-negara di seluruh dunia,
termasuk Indonesia.

Status gizi mempunyai peranan penting terhadap progresivitas penyakit dan


kelangsungan hidup pasien HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS terjadi peningkatan
kebutuhan nutrisi terkait dengan adanya stress metabolik infeksi dan demam yang
menyebabkan kenaikan kebutuhan kalori, protein, mineral dan vitamin. Sistem imun yang
tidak begitu mudah ditanggulangi, tetapi dapat dihambat dengan cara memberikan terapi
nutrisi.
Zinc yang dikonsumsi penderita HIV/AIDS dapat berfungsi secara optimal apabila
nilai albumin dalam plasma merupakan penentu utama absorbs zinc. Albumin merupakan
alat transport utama zinc. Jadi, dapat dikatakan bahwa pemberian suplementasi zinc pada
penderita HIV/AIDS dapat meningkatkan berat badan, melalui peningkatan asupan zat
gizi yang lebih baik.
2. Saran
Diharapkan bagi petugas kesehatan untuk dapat melakukan sosialisasi kepada
masyarakat terkait akibat kekurangan maupun kelebihan Zn bagi tubuh.
Bagi penderita HIV / Aids sangat disarankan untuk mengkonsumsi bahan makanan
yang mengandung Zn untuk menghindari defisiensi yang akan bberpengaruh terhadap
imun, seperti daging sapi, daging ayam, ikan laut, susu, keju, kentang, beras, dan lain lain
Pada penderita HIV/ AIDS , sangat disarankan untuk mengkonsumsi multivitamin
serta makanan makanan sehat yang berguna untuk menanggulangi terjadinya malnutrisi

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Cahyani, Made Riani. 2015. Skripsi Korelasi Status Zink dengan Respon Imunologi Terapi
ARV pada Anak Penderita Hiv/Aids di RSUP Sanglah Kota Denpasar. Universitas
Udayana Bali.
Depkes RI. 2008. Profil Kesehatan Indonesia 2006. Jakarta: Departemen Kesehatan.
https://lib.ui.ac.id/file?file=digital/123445-S09099fk-Jumlah-limfosit-Analisis.pdf
Kementrian Kesehatan RI. 2010. Pedoman Pelayanan Gizi Bagi ODHA. Jakarta:
Kementrian Kesehatan RI.
MW Sugeng, M Adriani - JURNAL GIZI , 2013 - ejournal.undip.ac.id
Natalia Wulan Dhari. 2010. Model Jumlah Sel Cd4 Penderita Hiv Berdasarkan Fungsi
Hazard. Skripsi Jurusan Matematika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Sadewa ,sukma.Pengaruh Pemberian Zinc Terhadap Perbedaan Peningkatan


Pada Pasien HIV/AIDS. Surabaya:Fakultas Kedokteran

Status Gizi

Universitas

Wijaya

Kusuma Surabaya.
Sahadewa, Sukma. Pengaruh Pemberian Zinc Terhadap Perbedaan Peningkatan Status Gizi
Pada Pasien HIV/AIDS. Jurnal Ilmu Kedokteran Komunitas, hlm. 35-42.
Shankar AH,Prasad AS. 1998. Zinc and immune function : the biological basis of altered
resistance to infection. Am J ClinNutr 68(suppl):447S-63S.
Solomons NW. 1993. Zinc.Dalam :Macrae R, Robinson RK, Sadler MJ, eds.
Encyclopedia of food science, food technology and nutrition, vol. 7.

London:

Academic Press 4980-94


Sunarjati Sudigdoadi. Imunopatogenesis Infeksi HIV. Bagian Mikrobiologi Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran