Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada abad ke-19, sebelum ditemukannya proses elektrolisis, aluminium hanya
bisa didapatkan dari bauksit dengan proses kimia Whler. Dibandingkan dengan
elektrolisis, proses ini sangat tidak ekonomis, dan harga aluminium dulunya jauh
melebihi harga emas.Karena dulu dianggap sebagai logam berharga, Napoleon IIIPaul
L.T Heroult dari Perancis (1808-1873) pernah melayani tamunya yang pertama
dengan piring aluminium dan tamunya yang kedua dengan piring emas dan perak.
Pada tahun 1886, Charles Martin Hall dari Amerika Serikat (1863-1914) dan Paul
L.T. Hroult dari Perancis (1863-1914) menemukan proses elektrolisis yang sampai
sekarang membuat produksi aluminium ekonomis.
1.2 tujuan
-

untuk memahami tentang Aluminium.

untuk mengetahui proses pembuatan aluminium dan densitas nya.

untuk mengetahui penggunaan aluminium dalam kehidupan sehari-hari

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Aluminium
Aluminium ialah unsur kimia.Lambang aluminium ialah Al, dan nomor
atomnya 13.Aluminium ialah logam paling berlimpah. Aluminium adalah logam yang
berwaarna putih perak dan tergolong ringan yang mempunyai massa jenis 2,7 gr cm3.
Aluminium bukan merupakan jenis logam berat, namun merupakan elemen
yang berjumlah sekitar 8% dari permukaan bumi dan paling berlimpah ketiga.
Aluminium terdapat dalam penggunaan aditif makanan, antasida, buffered
aspirin astringents, semprotan hidung,antiperspirant, air minum, knalpot mobil, asap
tembakau, penggunaan aluminium foil, peralatan masak, kaleng, keramik ,
dan kembang api.
Aluminium

merupakan

konduktor listrik yang

baik.Terang

dan

kuat.Merupakan konduktor yang baik juga buat panas.Dapat ditempa menjadi


lembaran, ditarik menjadi kawat dan diekstrusimenjadi batangan dengan bermacammacam penampang.Tahan korosi.
Aluminium digunakan dalam banyak hal.Kebanyakan darinya digunakan
dalam kabel bertegangan tinggi.Juga secara luas digunakan dalam bingkai jendela dan
badan pesawat terbang. Ditemukan di rumah sebagai panci, botol minuman ringan,
tutup botol susu dsb. Aluminium juga digunakan untuk melapisi lampu mobil
dan compact disks.
2.2 Sifat-sifat yang Dimiliki Aluminium
Sifat-sifat yang dimilki aluminium antara lain :
-

Ringan, tahan korosi dan tidak beracun maka banyak digunakan untuk alat rumah
tangga seperti panci, wajan dan lain-lain.

Reflektif, dalam bentuk aluminium foil digunakan sebagai pembungkus makanan,


obat, dan rokok.

Daya hantar listrik dua kali lebih besar dari Cu maka Al digunakan sebagai kabel
tiang listrik.

Paduan

Al

dengan

logam

lainnya

menghasilkan

logam

seperti Duralium(campuran Al, Cu, mg) untuk pembuatan badan peswat.


-

Al sebagai zat reduktor untuk oksida MnO2 dan Cr2O3.

yang

kuat

2.3 Klasifikasi Aluminium


1. Aluminium Murni

Aluminium 99% tanpa tambahan logam paduan apapun dan dicetak dalam
keadaan biasa, hanya memiliki kekuatan tensil sebesar 90 MPa, terlalu lunak untuk
penggunaan yang luas sehingga seringkali aluminium dipadukan dengan logam lain.
2. Aluminium Paduan
Elemen paduan yang umum digunakan pada aluminium adalah silikon,
magnesium, tembaga, seng, mangan, dan juga lithium sebelum tahun 1970.
Secara umum, penambahan logam paduan hingga konsentrasi tertentu akan
meningkatkan kekuatan tensil dan kekerasan, serta menurunkan titik lebur. Jika
melebihi konsentrasi tersebut, umumnya titik lebur akan naik disertai meningkatnya
kerapuhan akibat terbentuknya senyawa, kristal, atau granula dalam logam.
Namun, kekuatan bahan paduan aluminium tidak hanya bergantung pada
konsentrasi logam paduannya saja, tetapi juga bagaimana proses perlakuannya hingga
aluminium

siap

digunakan,

apakah

dengan

penempaan,

perlakuan

panas,

penyimpanan, dan sebagainya.


3. Paduan Aluminium-Silikon
Paduan aluminium dengan silikon hingga 15% akan memberikan kekerasan
dan kekuatan tensil yang cukup besar, hingga mencapai 525 MPa pada aluminium
paduan yang dihasilkan pada perlakuan panas. Jika konsentrasi silikon lebih tinggi
dari 15%, tingkat kerapuhan logam akan meningkat secara drastis akibat terbentuknya
kristal granula silika.
4. Paduan Aluminium-Magnesium
Keberadaan magnesium hingga 15,35% dapat menurunkan titik lebur logam
paduan yang cukup drastis, dari 660 oC hingga 450 oC. Namun, hal ini tidak
menjadikan aluminium paduan dapat ditempa menggunakan panas dengan mudah
karena korosi akan terjadi pada suhu di atas 60 oC. Keberadaan magnesium juga
menjadikan logam paduan dapat bekerja dengan baik pada temperatur yang sangat
rendah, di mana kebanyakan logam akan mengalami

failure pada temperatur tersebut.

5. Paduan Aluminium-Tembaga

Paduan aluminium-tembaga juga menghasilkan sifat yang keras dan kuat,


namun rapuh. Umumnya, untuk kepentingan penempaan, paduan tidak boleh
memiliki konsentrasi tembaga di atas 5,6% karena akan membentuk senyawa
CuAl2 dalam logam yang menjadikan logam rapuh.
6. Paduan Aluminium-Mangan
Penambahan mangan memiliki akan berefek pada sifat dapat dilakukan
pengerasan tegangan dengan mudah (work-hardening) sehingga didapatkan logam
paduan dengan kekuatan tensil yang tinggi namun tidak terlalu rapuh.
Selain itu, penambahan mangan akan meningkatkan titik lebur paduan aluminium.
7. Paduan Aluminium-Seng
Paduan aluminium dengan seng merupakan paduan yang paling terkenal
karena merupakan bahan pembuat badan dan sayap pesawat terbang. Paduan ini
memiliki kekuatan tertinggi dibandingkan paduan lainnya, aluminium dengan 5,5%
seng dapat memiliki kekuatan tensil sebesar 580 MPa dengan elongasi sebesar 11%
dalam setiap 50 mm bahan. Bandingkan dengan aluminium dengan 1% magnesium
yang memiliki kekuatan tensil sebesar 410 MPa namun memiliki elongasi sebesar 6%
setiap 50 mm bahan.
8. Paduan Aluminium-Lithium
Lithium menjadikan paduan aluminium mengalami pengurangan massa jenis
dan peningkatan modulus elastisitas; hingga konsentrasi sebesar 4% lithium, setiap
penambahan 1% lithium akan mengurangi massa jenis paduan sebanyak 3% dan
peningkatan modulus elastisitas sebesar 5%. Namun aluminium-lithium tidak lagi
diproduksi akibat tingkat reaktivitas lithium yang tinggi yang dapat meningkatkan
biaya keselamatan kerja.
9. Paduan Aluminium-Skandium
Penambahan skandium ke aluminium membatasi pemuaian yang terjadi pada
paduan, baik ketika pengelasan maupun ketika paduan berada di lingkungan yang
panas. Paduan ini semakin jarang diproduksi, karena terdapat paduan lain yang lebih

murah dan lebih mudah diproduksi dengan karakteristik yang sama, yaitu paduan
titanium. Paduan Al-Sc pernah digunakan sebagai bahan pembuat pesawat tempur
Rusia, MIG, dengan konsentrasi Sc antara 0,1-0,5% (Zaki, 2003, dan Schwarz, 2004).

10. Paduan Aluminium-Besi


Besi (Fe) juga kerap kali muncul dalam aluminium paduan sebagai suatu
kecelakaan. Kehadiran besi umumnya terjadi ketika pengecoran dengan
menggunakan cetakan besi yang tidak dilapisi batuan kapur atau keramik.Efek
kehadiran Fe dalam paduan adalah berkurangnya kekuatan tensil secara signifikan,
namun diikuti dengan penambahan kekerasan dalam jumlah yang sangat kecil. Dalam
paduan 10% silikon, keberadaan Fe sebesar 2,08% mengurangi kekuatan tensil dari
217 hingga 78 MPa, dan menambah skala Brinnel dari 62 hingga 70. Hal ini terjadi
akibat terbentuknya kristal Fe-Al-X, dengan X adalah paduan utama aluminium selain
Fe.
Kelemahan aluminium paduan adalah pada ketahanannya terhadap lelah
(fatigue).Aluminium paduan tidak memiliki batas lelah yang dapat diperkirakan
seperti baja, yang berartifailure akibat fatigue dapat muncul dengan tiba-tiba bahkan
pada beban siklik yang kecil.
Satu kelemahan yang dimiliki aluminium murni dan paduan adalah sulit
memperkirakan secara visual kapan aluminium akan mulai melebur, karena
aluminium tidak menunjukkan tanda visual seperti baja yang bercahaya kemerahan
sebelum melebur.
11. Aluminium paduan cor
Aluminium dapat dicor di cetakan pasir/tanah liat, cetakan besi, atau cetakan
baja dengan diberi tekanan. Logam cor dapat lebih cepat mengeras jika dicor dengan
cetakan logam, sehingga akan menghasilkan efek yang sama seperti efek quenching,
yaitu memperkeras logam.
Pengecoran dengan besi harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat
menyebabkan intrusi besi ke dalam paduan, menyebabkan paduan memiliki
komposisi yang tidak diinginkan. Proses pengecoran, selain harus terbebas dari
pengotor pencetaknya, juga harus terbebas dari uap air. Aluminium, dalam temperatur
tinggi, dapat bereaksi dengan uap air membentuk aluminium hidroksida dan gas
hidrogen. Aluminium cair, sepeti logam cair pada umumnya, dapat melarutkan gas

tersebut, dan ketika logam mulai mendingin dan menjadi padat, gelembunggelembung hidrogen akan terbentuk di dalam logam, menyebabkan logam menjadi
berpori-pori dan menyebabkan logam semakin rapuh.
Untuk mencegah keberadaan gas hidrogen dalam logam, pengecoran
sebaiknya dilakukan dalam keadaan kering dan tidak lembab serta logam tidak
dilelehkan pada temperatur jauh di atas titik lelehnya. Hal ini dapat dilakukan dengan
menggunakan tanur listrik, namun hal ini akan meningkatkan biaya produksi.
Komposisi utama aluminium paduan cor pada umumnya adalah tembaga,
silikon, dan magnesium.Al-Cu memberikan keuntungan yaitu kemudahan dalam
pengecoran

dan

memudahkan

pengerjaan

permesinan.Al-Si

memmberikan

kemudahan dalam pengecoran, kekuatan, ketahanan pada temperatur tinggi, dan


pemuaian yang rendah.Sifat pemuaian merupakan sifat yang penting dalam logam cor
dan ekstrusi, yang pada umumnya merupakan bagian dari mesin.Al-Mg juga
memberikan kekuatan, dan lebih baik dibandingkan Al-Si karena memiliki ketahanan
yang lebih tinggi hingga logam mengalami deformasi plastis (elongasi).Namun
konsentrasi lebih dari 10% dapat mengurangi kemudahan dalam pengecoran.
2.4 Pengolahan Alumininum
Aluminium

dibuat

menurut

proses Hall-heroult yang

ditemukan

oleh Charles M. Hall di Amerika Serikat dan Paul Heroult tahun 1886. Pengolahan
aluminium dan bauksit meliputi 2 tahap :
1. Pemurnian bauksit untuk meperoleh alumina murni ( proses Hall )
2. Peleburan / reduksi alumina dangan elektrolisis( Proses Charles )
Pemurnian bauksit melalui cara :
a. Ba direaksikan dengana NaOH(q) . Aluminium oksida akan larut membentuk
NaCl(OH)4.
b. Larutan disaring lalu filtrat yang mengandung NaAl(OH)4 diasamkan dengan
mengalirkan gas CO2 Al mengendap sebagai Al(OH)3
c. Al(OH)3 disaring lalu dikeringkan dan dipanaskan sehingga diperoleh Al2O3 tak
berair. Bijih bijih Aluminium
Bijih bauksit mengandung 50-60% Al2O3 yang bercampur dengan zat-zat pengotor
terutama Fe2O3 dan SiO2.Untuk memisahkan Al2O3 dari zat-zat yang tidak
dikehendaki, kita memanfaatkan sifat amfoter dari Al2O3.

Tahap pemurnian bauksit dilakukan untuk menghilangkan pengotor utama dalam


bauksit.Pengotor utama bauksit biasanya terdiri dari SiO2, Fe2O3, dan TiO2. Caranya
adalah dengan melarutkan bauksit dalam larutan natrium hidroksida (NaOH),
Al2O3 (s) + 2NaOH (aq) + 3H2O(l) ---> 2NaAl(OH)4(aq)
Aluminium oksida larut dalam NaOH sedangkan pengotornya tidak larut. Pengotorpengotor dapat dipisahkan melalui proses penyaringan. Selanjutnya aluminium
diendapkan dari filtratnya dengan cara mengalirkan gas CO2 dan pengenceran.
2NaAl(OH)4(aq) + CO2(g) ---> 2Al(OH)3(s) + Na2CO3(aq) + H2O(l)
Endapan aluminium hidroksida disaring,dikeringkan lalu dipanaskan sehingga
diperoleh aluminium oksida murni (Al2O3)
2Al(OH)3(s) ---> Al2O3(s) + 3H2O(g)
Proses Bayer terdiri dari 3 tahap yaitu ekstraksi, presipitasi, dan kalsinasi.
1. Tahap ekstraksi
Tahap ekstraksi atau tahap digestion merupakan tahap pertama dalam proses Bayer.
Bauksit dan natrium hidroksida diumpankan secara terpisah ke dalam autoclaves,
tubular reactor, dan steel vessel.Kondisi operasi tahap ini adalah pada temperatur
140oC dan tekanan 34 atm. Alumina hidrat yang terdapat di dalam bauksit larut di
dalam natrium hidroksida dan menghasilkan natrium aluminat (NaAlO2).
Reaksi yang terjadi pada tahap ini adalah :
Al(OH)3 + NaOH NaAlO2 + 2 H2O
AlO(OH) + NaOH NaAlO2 + H2O
Aluminium hidroksida larut di dalam natrium hidroksida, sedangkan zat zat lain
seperti silika dan semua oksida logam lainnya tidak larut di dalam natrium hidroksida.
Larutan natrium aluminat dan natrium hidroksida disebut dengan green liquor,
sedangkan zat zat yang tidak larut di dalam natrium hidroksida seperti silika, oksida
besi, titanium oksida (TiO2), kaolin (H4Al2Si2O9), dan oksida logam lain
membentuk red mud. Natrium aluminat yang terbentuk didinginkan hingga 50 85
oC dalam flash tank.

Ada dua macam reaksi lainnya yang terjadi pada proses ekstraksi yaitu :
A. Desilication
Desilication merupakan reaksi antara silika yang terdapat di dalam bauksit, seperti
kaolin, dengan natrium hidroksida membentuk natrium silikat terlarut.Pada
temperatur digestion, natrium silikat membentuk natrium aluminium silikat yang tidak
larut.
Reaksi yang terjadi adalah :
5 Al2Si2O5(OH)4 + 2 Al(OH)3 + 12 NaOH 2 Na6Al6Si5O17(OH)10 + 10 H2O
Desilication dipengaruhi oleh temperatur tinggi dan waktu tinggal unutk mendapatkan
produk yang murni.
B. Causticization of liquor
Causticization of liquor merupakan reaksi antara kalsium hidroksida (Ca(OH)2)
dengan natrium karbonat untuk meregenerasi natrium hidroksida dan presipitasi
kalsium karbonat. Reaksi ini merupakan reaksi yang penting dalam proses Bayer.
Reaksi yang terjadi adalah :
Na2CO3 + Ca(OH)2 CaCO3 + 2 NaOH
Natrium karbonat dihasilkan pada proses Bayer karena degradasi zat zat organik
oleh natrium hidroksida dan karena absorpsi CO2 selama larutan terkena udara luar.
2. Tahap pemisahan
Tahap kedua dari proses Bayer adalah tahap pemisahan natrium aluminat dengan red
mud. Larutan natrium aluminat difiltrasi untuk memisahkan red mud.Red mud
ditambahkan flokulan untuk meningkatkan settling rate, kemudian dipindahkan
dengan menggunakan thickener yang berdiameter besar. Partikel partikel padat yang

terkandung dalam red mud dipisahkan dengan filter press. Sedangkan, aluminium
yang masih terdapat di dalam red mud didaur ulang dengan menggunakan counter
current 18 decantation. Red mud ditambah dengan kapur (Ca(OH)2) untuk
causticization supaya terbentuk natrium hidroksida dan kalsium karbonat.

Reaksi yang terjadi yaitu :


Na2CO3 + Ca(OH)2 2 NaOH + CaCO3
Natrium hidroksida ini dapat digunakan kembali pada proses awal.
3. Tahap presipitasi
Presipitasi dilakukan untuk memisahkan aluminium hidroksida (Al(OH)3). Reaksi
yang terjadi pada tahap ini adalah :
NaAlO2 + 2 H2O Al(OH)3 + NaOH
Presipitasi Al(OH)3 tidak terjadi dengan sendirinya, sehingga presipitasi dilakukan
dengan cara menambahkan kristal aluminium hidroksida untuk menginisiasi
presipitasi. Ada 6 macam precipitating agents yang dapat digunakan di dalam proses
ini antara lain :
Hidrogen peroksida (H2O2)
Karbon dioksida (CO2)
Amonium karbonat ((NH4)2CO3)
Amonium hidrogen karbonat ((NH4)HCO3)
Amonium aluminium sulfat ((NH4)2Al(SO4)2)
Kristal aluminium hidroksida (Al(OH)3

4. Tahap kalsinasi
Aluminium hidroksida dikeringkan di dalam rotary kiln atau fluid bed calciners
pada temperatur 1100 1500 oC untuk melepaskan air. Hasil kalsinasi aluminium
hidroksida adalah alumina. Reaksi yang terjadi pada tahap ini adalah :
2 Al(OH)3 Al2O3 + 3 H2O
Dari kedelapan proses pemisahan alumina dari spent catalyst, proses Bayer
merupakan proses yang paling akhir ditemukan. Setelah ditemukan proses Bayer,
proses proses yang lain tidak digunakan lagi. Hal ini disebabkan :
Proses Bayer merupakan proses yang paling ekonomis. Pada proses Bayer, tidak
diperlukan temperatur yang tinggi dalam proses digestion.
Proses Bayer tidak memerlukan banyak energi sehingga biaya produksi yang
dibutuhkan tidak terlalu besar.

Peleburan Alumina( Proses Hall )

10

Selanjutnya adalah tahap peleburan alumina dengan cara reduksi melalui proses
elektrolisis menurut proses Hall-Heroult. Tahapan-tahapan pada proses Hall-Heroult
adalah :
1.

Aluminum oksida dilarutkan dalam lelehan kriolit (Na3AlF6) dalam bejana


baja berlapis grafit (berfungsi sebagai katode).

2.

Elektrolisis dilakukan pada suhu 950 oC (digunakan batang grafit sebagai


anode).

3.

Setelah diperoleh Al2O3 murni, proses selanjutnya adalah elektrolisis leburan


Al2O3.

4.

Al2O3 dicampur dengan CaF2 dan 2-8% kriolit (Na3AlF6) (berfungsi untuk
menurunkan titik lebur Al2O3 (titik lebur Al2O3murni mencapai 2000 0C)),

5.

Campuran tersebut akan melebur pada suhu antara 850-950 0C.

6.

Anode dan katodenya terbuat dari grafit.

7.

Reaksi yang terjadi sebagai berikut:

Al2O3 (l) 2Al3+ (l) + 3O2- (l)


Anode (+): 3O2- (l) 3/2 O2 (g) + 6eKatode (-): 2Al3+ (l) + 6e- 2Al (l)
Reaksi sel: 2Al3+ (l) + 3O2- (l) 2Al (l) + 3/2 O2 (g)

11

Proses Hall-Heroult
Peleburan alumina menjadi aluminium logam terjadi dalam tong baja yang disebut pot
reduksi atau sel elektrolisis. Bagian bawah pot dilapisi dengan karbon, yang bertindak
sebagai suatu elektroda (konduktor arus listrik) dari sistem. Secara umum pada proses
ini, leburan alumina dielektrolisis, dimana lelehan tersebut dicampur dengan lelehan
elektrolit kriolit dan CaF2 di dalam pot dimana pada pot tersebut terikat serangkaian
batang karbon dibagian atas pot sebagai katoda. Karbon anoda berada dibagian bawah
pot sebagai lapisan pot, dengan aliran arus kuat 5-10 V antara anoda dan katodanya
proses elektrolisis terjadi. Tetapi, arus listrik dapat diperbesar sesuai keperluan, seperti
dalam keperluan industri.
Alumina mengalami pemutusan ikatan akibat elektrolisis, lelehan aluminium akan
menuju kebawah pot, yang secara berkala akan ditampung menuju cetakan berbentuk
silinder atau lempengan. Masing masing pot dapat menghasilkan 66.000-110.000
ton aluminium per tahun(Anonymous,2009). Secara umum, 4 ton bauksit akan
menghasilkan 2 ton alumina, yang nantinya akan menghasilkan 1 ton alumunium.
Peleburan ini menggunakan sel elektrolisis yang terdiri atas wadah dari besi
berlapis grafit yang sekaligus berfungsi sebagai katode (-) sedang anode (+) adalah
grafit. Campuran Al2O3 dengan kriolit dan AlF3 dipanaskan hingga mencair dan pada
suhu 950 C kemudian dielektrolisis .Al yang terbentuk berupa zat cair dan terkumpul
di dasar wadah lalu dikeluarkan secara periodik ke dalam cetakan untuk
mendapat aluminium batangan (ingot). Anode grafit terus menerus dihabiskan karena
bereaksi dengan O2 sehingga harus diganti dari waktu ke waktu. Untuk mendapat 1
Kg Aldihabiskan 0,44 anode grafit. 2Al2O3 +3C 4Al + 3CO2
Beberapa nijih Al yang utama :
1. Bauksit (Al2O3. 2H2O)

12

2. Mika (K-Mg-Al-Slilkat)
3. Tanah liat (Al2Si2O7.2H2O)
Aluminium ada di alam dalam bentuk silikat maupun oksida, yaitu antara lain :
-

sebagai silikat misal feldspar, tanah liat, mika

sebagai oksida anhidrat misal kurondum (untuk amril)

sebagai hidrat misal bauksit

sebagai florida misal kriolit.


2.5 Penggunaan Aluminium
Beberapa penggunaan aluminium antara lain:
1. Sektor industri otomotif, untuk membuat bak truk dan komponen kendaraan
bermotor.
2. untuk membuat badan pesawat terbang.
3. Sektor pembangunan perumahan;untuk kusen pintu dan jendela.
4. Sektor industri makanan ,untuk kemasan berbagai jenis produk.
5. Sektor lain, misal untuk kabel listrik, perabotan rumah tangga dan barang kerajinan.
6. Membuat termit, yaitu campuran serbuk aluminium dengan serbuk besi (III) oksida,
digunakan untuk mengelas baja ditempat, misalnya untuk menyambung rel kereta api.
Beberapa senyawa
Aluminium juga banyak penggunaannya, antara lain:
1. Tawas (K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O)
Tawas mempunyai rumus kimia KSO4.AL2.(SO4)3.24H2O. Tawas digunakan untuk
menjernihkan air pada pengolahan air minum.
2. Alumina (Al2O3)
Alumin dibedakan atas alfa0allumina dan gamma-allumina. Gamma-alumina
diperoleh dari pemanasan Al(OH)3 di bawah 4500C. Gamma-alumina digunakan
untuk pembuatan aluminium, untuk pasta gigi, dan industri keramik serta industri
gelas. Alfa-allumina diperoleh dari pemanasan Al(OH)3 pada suhu diatas 10000C.
Alfa-allumina terdapat sebagai korundum di alam yang digunakan untuk amplas atau
grinda.Batu mulia, seperti rubi, safir, ametis, dan topaz merupakan alfa-allumina yang
mengandung senyawa unsur logam transisi yang memberi warna pada batu tersebut.
Warna-warna rubi antara lain:
- Rubi berwarna merah karena mengandung senyawa kromium (III)
- Safir berwarna biru karena mengandung senyawa besi(II), besi(III) dan titan(IV)

13

- Ametis berwarna violet karena mengandung senyawa kromium (III) dan titan (IV)
- Topaz berwarna kuning karena mengandung besi (III)

BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
kimia Whler Aluminium adalah logam yang berwaarna putih perak dan
tergolong ringan yang mempunyai massa jenis 2,7 gr cm3. Aluminium merupakan
elemen yang berjumlah sekitar 8% dari permukaan Pada abad ke-19, sebelum
ditemukannya proses elektrolisis, aluminium hanya bisa didapatkan dari bauksit
dengan proses bumi dan paling berlimpah ketiga. Aluminium terdapat dalam
penggunaan aditif makanan, antasida, buffered aspirin, astringents, semprotan
hidung,antiperspirant, air minum, knalpot mobil, asap tembakau,
penggunaan aluminium foil, peralatan masak, kaleng, keramik , dan kembang api.

14