Anda di halaman 1dari 4

Pembuatan Kurva Standar

Larutan glukosa murni 0.05; 0.10;


0.15;0.20; 0.25; 0.30; 0.35 mg/ml

diambil sebanyak 1 ml

3 ml pereaksi DNS

divortex untuk homogenisasi

dimasukkan ke dalam water


bath selama 5 menit

diukur absorbansinya menggunakan


spektrofotometer (panjang gelombang
550 nm)

hasil pengamatan

Pengukuran Kecepatan Reaksi Enzim -amilase Terhadap Substrat Amilum pada Beberapa
Konsentrasi Substrat oC

10 ml substrat amilum
konsentrasi 0.1%, 0.2%, 0.3%,
0.4%, 0.5%

1 ml enzim
-amilase

ditambahkan ke dalam tabung reaksi

dipanaskan menggunakan water bath (suhu 90-95 derajat


Celcius) selama waktu pengamatan (0, 5, 10, 15, 20, 25,
30 menit)

3 ml pereaksi DNS

divortex untuk homogenisasi

dipanaskan menggunakan water bath selama 5 menit

diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer


(panjang gelombang 550 nm)

hasil pengamatan

Kinetika reaksi enzimatis merupakan bidang biokimia yang terkait dengan


pengukuran kuantitatif dari kecepatan reaksi yang dikatalisis oleh enzim dan pemeriksaan
sistematik faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan tersebut. Analisis kinetika reaksi
enzimatis memungkinkan para ahli merekonstruksi jumlah dan urutan tahap-tahap
individual yang merupakan perubahan substrat oleh enzim menjadi produk. Kinetika reaksi
enzimatis juga merupakan dasar untuk mengidentifikasi mekanisme katalitik dan
menentukan kondisi optimum dari suatu enzim (Mustika 2013).
Pengukuran kinetika reaksi enzimatis dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu
membandingkan dengan enzim murni, mengukur kecepatan reaksi katalisis, dan mengukur
menggunakan spektrofotometer. Pengukuran dengan menggunakan enzim murni
memerlukan enzim murni dan harus terlebih dulu diketahui konsentrasi enzim murninya.
Pengukuran melalui kecepatan reaksi katalisis berdasarkan jumlah substrat yang bereaksi
atau produk yang terbentuk per satuan waktu. Satuan enzim dinyatakan dalam unit, satu
unit internasional disepakati sebagai jumlah enzim yang diperlukan untuk mengkatalisis
pembentukan 1 mol produk per menit pada kondisi tertentu (Murrey dan Robert 2002).
Menurut Murrey dan Robert (2002), dasar kinetika reaksi enzimatis adalah Hukum
Michaelis Menten. Hukum Michaelis Menten menjelaskan bahwa laju awal reaksi
enzimatis dapat ditentukan berdasarkan fungsi terhadap konsentrasi substrat dan parameter
yg berpengaruh dalam enzim. Persamaan Hukum Michaelis Menten adalah
V=

Vmax [S ]
Km+[S ]

Keterangan :
V
: kecepatan reaksi
Vmax : kecepatan reaksi maksimum
[S]
: konsentrasi substrat
Km
: konsentrasi substrat yang memberikan kecepatan reaksi separuh kecepatan reaksi
maksimum pada konsentrasi enzim tertentu
Kinetika reaksi enzimatis dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu suhu, pH,
konsentrasi enzim, konsentrasi substrat, aktivator, dan inhibitor. Suhu mempengaruhi
kinetika reaksi enzimatis. Pada suhu rendah reaksi kimia berlangsung lambat, sedangkan
pada suhu yang lebih tinggi reaksi berlangsung lebih cepat. Namun, kenaikan suhu yang
terlalu tinggi dapat menyebabkan terjadinya proses denaturasi. Hal ini karena enzim
tersusun dari protein. Proses denaturasi membuat bagian aktif enzim terganggu dan dengan
demikian konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan kecepatan reaksinya pun akan
menurun. Kenaikan suhu sebelum terjadinya proses denaturasi dapat meningkatkan
kecepatan reaksi. Suhu meningkatkan kecepatan reaksi dengan cara meningkatkan energi
kinetik dan frekuensi tubrukan dari besarnya molekul (Aminah dkk 2011).
Perubahan pH dapat mempengaruhi perubahan asam amino kunci pada sisi aktif
enzim, sehingga menghalangi sisi aktif bergabung dengan substratnya. Setiap enzim dapat
bekerja baik pada pH optimum, masing-masing enzim memiliki pH optimum yang
berbeda-beda. Sebagai contoh : enzim amilase bekerja baik pada pH 7,5 (agak basa),
sedangkan pepsin bekerja baik pada pH 2 (asam kuat/sangat asam). Perubahan pH juga
dapat menyebabkan terjadinya proses denaturasi dan hal ini akan mengakibatkan
menurunnya aktifitas enzim. Terdapat suatu nilai pH tertentu atau daerah pH yang dapat
menyebabkan kecepatan reaksi paling tinggi. pH tersebut dinamakan pH optimum
(Aminah dkk 2011).
Kecepatan reaksi dipengaruhi oleh konsentrasi enzim, semakin besar konsentrasi
enzim semakin tinggi pula kecepatan reaksi, dengan kata lain konsentrasi enzim

berbanding lurus dengan kecepatan reaksi. Aktivator merupakan molekul yang


mempermudah ikatan antara enzim dengan substratnya, misalnya ion klorida yang bekerja
pada enzim amilase. Inhibitor merupakan suatu molekul yang menghambat ikatan enzim
dengan substratnya. Inhibitor akan berikatan dengan enzim membentuk kompleks enziminhibitor (Aminah dkk 2011).
Menurut Dewi (2012), inhibitor dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu inhibitor
kompetitif dan inhibitor nonkompetitif. Inhibitor kompetitif adalah molekul penghambat
yang strukturnya mirip dengan substrat, sehingga molekul tersebut berkompetisi dengan
substrat untuk bergabung pada sisi aktif enzim. Inhibitor kompetitif dapat diatasi dengan
penambahan konsentrasi substrat. Penghambatan akibat inhibitor kompetitif bersifat
reversibel (dapat kembali seperti semula). Inhibitor kompetitif misalnya malonat dan
oksalosuksinat, yang bersaing dengan substrat untuk berikatan dengan enzim suksinat
dehidrogenase, yaitu enzim yang bekerja pada substrat oseli suksinat. Inhibitor
nonkompetitif adalah molekul penghambat yang bekerja dengan cara melekatkan diri pada
bagian bukan sisi aktif enzim. Inhibitor ini menyebabkan sisi aktif berubah sehingga tidak
dapat berikatan dengan substrat. Inhibitor nonkompetitif tidak dapat dipengaruhi oleh
konsentrasi substrat. Inhibitor nonkompetitif biasanya berupa senyawa kimia yang tidak
mirip dengan substrat. Contohnya antibiotik penisilin menghambat kerja enzim penyusun
dinding sel bakteri. Inhibitor ini bersifat reversible tetapi tidak dapat dihilangkan dengan
menambahkan konsentrasi substrat.
Daftar pustaka :
Dewi SR. 2012. Kinetika Reaksi Enzimatis[internet].[diunduh tanggal 25 Febuari 2016].
Tersedia dari: http://shintarosalia.lecture.ub.ac.id/files/2012/09/TRK-meeting12_SRD.pdf
Aminah dkk. 2011. Kinetika Reaksi Enzimatis. Program Studi Farmasi. Fakultas
Matematika dan Pengetahuan Alam. UNISBA.
Murrey dan Robert K. 2002. Biokimia. Jakarta (ID): Harper Ecg.
Mustika N. 2013. Enzim [makalah]. Program Studi Farmasi. Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Brawijaya.