Anda di halaman 1dari 14

1.

PEMBORAN LEPAS PANTAI (OFFSHORE)


2. ARTIFICIAL LIFT
Artificial lift adalah metode untuk mengangkat hidrokarbon, umumnya minyak bumi,
dari dalam sumur ke atas permukaan. Ini biasanya dikarenakan tekanan reservoirnya tidak
cukup tinggi untuk mendorong minyak sampai ke atas ataupun tidak ekonomis jika mengalir
secara
alamiah.
Artificial lift umumnya terdiri dari lima macam yang digolongkan menurut jenis
peralatannya.
Pertama adalah yang disebut subsurface electrical pumping, menggunakan pompa
sentrifugal bertingkat yang digerakan oleh motor listrik dan dipasang jauh di dalam sumur.

Yang kedua adalah sistem gas lifting, menginjeksikan gas (umumnya gas alam) ke dalam
kolom minyak di dalam sumur sehingga berat minyak menjadi lebih ringan dan lebih mampu
mengalir sampai ke permukaan.

Teknik ketiga dengan menggunakan pompa elektrikal-mekanikal yang dipasang di


permukaan yang umum disebut sucker rod pumping atau juga beam pump. Menggunakan

prinsip katup searah (check valve), pompa ini akan mengangkat fluida formasi ke permukaan.
Karena pergerakannya naik turun seperti mengangguk, pompa ini terkenal juga dengan
julukan pompa angguk.

Metode keempat disebut sistem jet pump. Fluida dipompakan ke dalam sumur bertekanan
tinggi lalu disemprotkan lewat nosel ke dalam kolom minyak. Melewati lubang nosel, fluida
ini akan bertambah kecepatan dan energi kinetiknya sehingga mampu mendorong minyak
sampai
ke
permukaan.
Terakhir, sistem yang memakai progressive cavity pump (sejenis dengan mud motor). Pompa
dipasang di dalam sumur tetapi motor dipasang di permukaan. Keduanya dihubungkan
dengan batang baja yang disebut sucker rod.

3. TRAP
Dalam Sistem Perminyakan, memiliki konsep dasar berupa distribusi hidrokarbon
didalam kerak bumi dari batuan sumber (source rock) ke batuan reservoar. Salah satu elemen
dari Sistem Perminyakan ini adalah adanya batuan reservoar, dalam batuan reservoar ini,
terdapat beberapa faktor penting diantaranya adalah adanya perangkap minyak bumi.
Perangkap minyak bumi sendiri merupakan tempat terkumpulnya minyak bumi yang
berupa perangkap dan mempunyai bentuk konkav ke bawah sehingga minyak dan gas bumi
dapat terjebak di dalamnya.
Perangkap minyak bumi ini sendiri terbagi menjadi Perangkap Stratigrafi, Perangkap
Struktural, Perangkap Kombinasi Stratigrafi-Struktur dan perangkap hidrodinamik.
Perangkap Stratigrafi
Jenis perangkap stratigrafi dipengaruhi oleh variasi perlapisan secara vertikal dan
lateral, perubahan facies batuan dan ketidakselarasan dan variasi lateral dalam litologi
pada suatu lapisan reservoar dalam perpindahan minyak bumi. Prinsip dalam perangkap

stratigrafi adalah minyak dan gas bumi terperangkap dalam perjalanan ke atas kemudian
terhalang dari segala arah terutama dari bagian atas dan pinggir, hal ini dikarenakan
batuan reservoar telah menghilang atau berubah fasies menjadi batu lain sehingga
merupakan penghalang permeabilitas (Koesoemadinata, 1980, dengan modifikasinya).
Dan
jebakan
stratigrafi
tidak
berasosiasi
dengan
ketidakselarasan
seperti Channels, Barrier Bar, dan Reef, namun berasosiasi dengan ketidakselarasan
seperti Onlap Pinchouts, danTruncations.

Pada perangkap stratigrafi ini, berasal dari lapisan reservoar tersebut, atau ketika
terjadi perubahan permeabilitas pada lapisan reservoar itu sendiri. Pada salah satu tipe
jebakan stratigrafi, pada horizontal, lapisan impermeabel memotong lapisan yang
bengkok pada batuan yang memiliki kandungan minyak. Terkadang terpotong pada
lapisan yang tidak dapat ditembus, atau Pinches, pada formasi yang memiliki kandungan
minyak. Pada perangkap stratigrafi yang lain berupa Lens-shaped. Pada perangkap ini,
lapisan yang tidak dapat ditembus ini mengelilingi batuan yang memiliki kandungan
hidrokarbon. Pada tipe yang lain, terjadi perubahan permeabilitas dan porositas pada
reservoar itu sendiri. Pada reservoar yang telah mencapai puncaknya yang tidak sarang
dan impermeabel, yang dimana pada bagian bawahnya sarang dan permeabel serta
terdapat hidrokarbon.
Pada bagian yang lain menerangkan bahwa minyak bumi terperangkap pada
reservoar itu sendiri yang Cut Off up-dip, dan mencegah migrasi lanjutan, sehingga tidak
adanya pengatur struktur yang dibutuhkan. Variasi ukuran dan bentuk perangkap yang
demikian mahabesar, untuk memperpanjang pantulan lingkungan pembatas pada batuan
reservoar terendapkan.

Perangkap Struktural
Jenis perangkap selanjutnya adalah perangkap struktural, perangkap ini Jebakan tipe
struktural ini banyak dipengaruhi oleh kejadian deformasi perlapisan dengan
terbentuknya struktur lipatan dan patahan yang merupakan respon dari kejadian tektonik
dan merupakan perangkap yang paling asli dan perangkap yang paling penting, pada
bagian ini berbagai unsur perangkap yang membentuk lapisan penyekat dan lapisan
reservoar sehingga dapat menangkap minyak, disebabkan oleh gejala tektonik atau
struktur seperti pelipatan dan patahan (Koesoemadinata, 1980, dengan modifikasinya).
Jebakan Patahan
Jebakan patahan merupakan patahan yang terhenti pada lapisan batuan. Jebakan
ini terjadi bersama dalam sebuah formasi dalam bagian patahan yang bergerak,
kemudian gerakan pada formasi ini berhenti dan pada saat yang bersamaan minyak
bumi mengalami migrasi dan terjebak pada daerah patahan tersebut, lalu sering kali
pada formasi yang impermeabel yang pada satu sisinya berhadapan dengan
pergerakan patahan yang bersifat sarang dan formasi yang permeabel pada sisi yang
lain. Kemudian, minyak bumi bermigrasi pada formasi yang sarang dan permeabel.
Minyak dan gas disini sudah terperangkap karena lapisan tidak dapat ditembus pada
daerah jebakan patahan ini.

Jebakan Antiklin
Kemudian, pada jebakan struktural selanjutnya, yaitu jebakan antiklin, jebakan
yang antiklinnya melipat ke atas pada lapisan batuan, yang memiliki bentuk
menyerupai kubah pada bangunan. Minyak dan gas bumi bermigrasi pada lipatan
yang sarang dan pada lapisan yang permeabel, serta naik pada puncak lipatan. Disini,
minyak dan gas sudah terjebak karena lapisan yang diatasnya merupakan batuan
impermeabel.

Jebakan Struktural lainnya


Contoh dari perangkap struktur yang lain adalah Tilted fault blocks in an
extensional regime, marupakan jebakan yang bearasal dari Seal yang berada
diatas Mudstone dan memotong patahan yang sejajar Mudstone. Kemudian, Rollover
anticline on thrust, adalah jebakan yang minyak bumi berada pada Hanging
Wall danFootwall. Lalu, Seal yang posisinya lateral pada diapir dan menutup rapat
jebakan yang berada diatasnya.

Perangkap Kombinasi
Kemudian perangkap yang selanjutnya adalah perangkap kombinasi antara
struktural dan stratigrafi. Dimana pada perangkap jenis ini merupakan faktor bersama
dalam membatasi bergeraknya atau menjebak minyak bumi. Dan, pada jenis perangkap
ini, terdapat leboh dari satu jenis perangkap yang membenuk reservoar. Sebagai
contohnya antiklin patahan, terbentuk ketika patahan memotong tegak lurus pada
antiklin. Dan, pada perangkap ini kedua perangkapnya tidak saling mengendalikan
perangkap itu sendiri.

Perangkap Hidrodinamik
Kemudian perangkap yang terakhir adalah perangkap hidrodinamik. Perangkap ini
sangta jarang karena dipengaruhi oleh pergerakan air. Pergerakan air ini yang mampu
merubah ukuran pada akumulasi minyak bumi atau dimana jebakan minyak bumi yang
pada lokasi tersebut dapat menyebabkan perpindahan. Kemudian perangkap ini
digambarkan pergerakan air yang biasanya dari iar hujan, masuk kedalam reservoar

formasi, dan minyak bumi bermigrasi ke reservoar dan bertemu untuk migrasi ke atas
menuju permukaan melalui permukaan air. Kemudian tergantung pada keseimbangan
berat jenis minyak, dan dapat menemukan sendiri, dan tidak dapat bergerak ke reservoar
permukaan karena tidak ada jebakan minyak yang konvensional.

4. EKSPLORASI MIGAS
Eksplorasi Migas(eksplorasi hidrokarbon) adalah kegiatan mencari untuk
mendapatkan cebakan hidrokarbon seperti minyak dan gas bumi dibawah permukaan bumi
oleh para ahli geologi perminyakan dan ahli geofisika atau geosaintis.
Eksplorasi atau pencarian minyak bumi merupakan suatu kajian panjang dan kompleks yang
melibatkan disiplin ilmu kebumian yaitu geologi dan geofisika. Ini adalah suatu proses
pencarian sumber daya minyak dan gas di cekungan sedimen(sedimentary basin). Proses ini
bergantung pada metode aplikasi teknologi oleh geosaintis kreatif untuk mengarah pada
prospek yang layak dilanjutkan dengan pemboran(drilling) yaitu pengeboran ekplorasi dan
pemboran pengembangan. Ekplorasi Migas merupakan suatu bentuk komitmen dengan modal
dalam jumlah yang besar dengan hasil yang belum pasti.
Dari skema serta diagram tahapan kegiatan idustri hulu migas jelas terlihat bahwa ekplorasi
adalah hal paling fundamental dalam industri hulu migas. Membutuhkan waktu minimal 5-10
tahun tahapan ekplorasi dan dilanjutkan ke tahapan pengembangan(depelovement) yang 5-10
tahun bahkan ada yang lebih lama untuk bisa ke tahapan produksi. Hal Ini jelas membuktikan
bahwa proses ekplorasi hingga mendapatkan temuan baru(dicovered) adalah suatu proses
yang panjang yang melibatkan kajian yang kompleks. Hal ini disebabkan migas terbentuk
jauh dibawah permukaan bumi yang tidak dapat dilihat langsung, dan tiap daerah memiliki
karakteristik geologi yang unik berbeda satu dan lainnya. Makanya dalam eksplorasi suatu
cekungan sedimen dilakuakan banyak studi geologi-geofisika dari berbagai aspek dan
aplikasi teknologi dan juga perkembangan keilmuan geologi. Tahapan ekplorasi tidak seperti
tahapan produksi ketika diberi target lifting tingkat keberhasilan mendekati 100% karena
sudah merupakan cadangan terbukti (proven reserves) tinggal mengelola dan
mengembangkan reservoir migas.
Tahapan Persiapan
Pada tahapan ini berupa studi pendahuluan dan perencanaan. Survey secara umum dan
penyiapan wilayah kerja dan penawaran wilayah kerja kepada calon kontraktor (KKKS) oleh

pemerintah. Namun wilayah yang ditawarkan merupakan wilayah yang sudah diketahui
memiliki potensi sumberdaya hidrokarbon(migas). Berdasarkan studi geologi pendahuluan
diyakini memiliki potensi minyak bumi atau memiliki sistem hidrokarbon (petroleum system)
yang terdiri dari adanya batuan sumber, migrasi, reservoar, batuan penutup(seal rock), dan
perangkap reservoar.

Batuan Sumber (Source Rock), merupakan batuan yang menjadi bahan baku
pembentukan hidrokarbon. biasanya adalah serpih (Shale). Batuan ini kaya akan
kandungan unsur atom karbon (C) yang didapat dari cangkang - cangkang fosil yang
terendapkan di batuan itu. Karbon inilah yang akan menjadi unsur utama dalam rantai
penyusun ikatan kimia hidrokarbon

Tekanan dan Temperatur, untuk mengubah fosil tersebut menjadi


hidrokarbon(Generation), tekanan dan temperatur yang tinggi di perlukan. Tekanan
dan temperatur ini akan mengubah ikatan kimia karbon yang ada dibatuan menjadi
rantai hidrokarbon.

Migrasi, hirdokarbon yang telah terbentuk dari proses di atas harus dapat berpindah
ke tempat dimana hidrokarbon memiliki nilai ekonomis untuk diproduksi(bermigrasi
ke resevoir). Di batuan sumbernya sendiri dapat dikatakan tidak memungkinkan untuk
di ekploitasi karena hidrokarbon di sana tidak terakumulasi dan tidak dapat mengalir.
Sehingga tahapan ini sangat penting untuk menentukan kemungkinan eksploitasi
hidrokarbon tersebut.

Reservoir, adalah batuan yang merupakan wadah bagi hidrokarbon untuk berkumpul
dari proses migrasinya. Reservoar ini biasanya adalah batupasir dan batuan karbonat,
karena kedua jenis batu ini memiliki pori yang cukup besar untuk tersimpannya
hidrokarbon ataupun batuan jenis lainnya yang memiliki rekahan rekahan(fracture
reservoir). Reservoar sangat penting karena pada batuan inilah minyak bumi
terakumulasi dan diproduksi.

Cap Rock/Seal Rock/batuan penutup, Minyak dan atau gas terdapat di dalam
reservoir, untuk dapat menahan dan melindungi fluida tersebut, maka lapisan
reservoir ini harus mempunyai penutup di bagian luar lapisannya. Sebagai penutup
lapisan reservoir biasanva merupakan lapisan batuan yang rnempunyai sifat
kekedapan (impermeabel), yaitu sifat yang tidak dapat meloloskan fluida yarg
dibatasinya. Jadi lapisan penutup didefinisikan sebagai lapisan yang berada dibagian
atas dan tepi reservoir yang dapat dan melindungi fluida yang berada di dalam lapisan
di bawahnya.

Perangkap Reservoir (Reservoir Trap), merupakan unsur pembentuk reservoir


sedemikian rupa sehingga lapisan beserta penutupnya merupakan bentuk yang konkap
ke bawah, hal ini akan mengakumulasikan minyak dalam reservoir. Jika perangkap ini

tidak ada maka hidrokarbon dapat mengalir ketempat lain yang berarti ke
ekonomiannya akan berkurang atau tidak ekonomis sama sekali.
Tahap Eksplorasi Awal

Studi geologi, melakukan survey geologi permukaan yaitu pemetaan geologi pada
permukaan secara detail yang dapat dilakukan jika memang terdapat singkapan.
Pemetaan geologi dikombinasikan dengan citra satelit/foto udara. Tujuan pemetaan
geologi yaitu untuk memetakan persebaran batuan dan formasi batuan, umur batuan,
kandungan mineral, fosil, geokimia, stratigrafi dan sedimentologi serta struktur
geologi. Dari peta geologi akan direncanakan titik lokasi pemboran ekplorasi yang
tetap yang bisa menggambarkan kondisi bawah permukaan dan lebih efektif dalam
ekplorasi selanjutnya yang mendukung kelengkapan dan akurasi data G & G
(Geology & Geophysic /Geoscience)

Studi Geofisika, melakukan survey seismik merupakan ekplorasi yang dilakukan


sebelum pengeboran, kajiannya meliputi daerah yang luas. Dari hasil kajian ini akan
didapat gambaran lapisan batuan di dalam bumi. Untuk survey detail, metode seismik
merupakan metode yang paling teliti dan dewasa ini telah melampaui kemampuan
geologi permukaan. Metode yang digunakan adalah khusus metode refleksi.
Walaupun pemetaan geologi detail terhadap tutupan telah dilakukan, pengecekan
seismik selalu harus dilaksanakan, untuk penentuan kedalam objektif pemboran serta
batuan dasar dan juga lapisan yang akan menghasilkan minyak. Selain survey seismik
perlu juga dilakukan survey gravitasi detail yang kadang-kadang juga digunakan
untuk mendetailkan adanya suatu tutupan (closure), terutama jika yang diharapkan
adalah suatu intrusi kubah garam (salt dome) atau suatu terumbu, diharapkan adanya
kontras dalam gravitasi antara lapisan penutup dengan batuan reservoir atau kubah
garam. Metode ini sudah agak jarang digunakan karena teknologi sismik sudah
semakin maju.

Pemboran Eksplorasi, dalam pemboran eksplorasi untuk mengetahui dengan pasti


litologi(jenis batun) lebih detail antar lapisan(stratigrafi detail) serta pengambilan
contoh core(sample batuan) untuk analisis lebih lanjut di laboratorium. Selain itu
dilakukan wireline logging untuk mengambil data:
1. Data resistivity, prinsip dasarnya adalah bahwa setiap batuan berpori akan
diisi oleh fluida. Fluida ini bisa berupa air, minyak atau gas. Membedakan
kandungan fluida di dalam batuan salah satunya dengan menggunakan sifat
resistan yang ada pada fluida. Fluida air memiliki nilai resistan yang rendah
dibandingkan dengan minyak, demikian pula nilai resistan minyak lebih
rendah dari pada gas. dari data log kita hanya bisa membedakan resistan
rendah dan resistan tinggi, bukan jenis fluida karena nilai resitan fluida
berbeda beda dari tiap daerah. sebagai dasar analisa fluida perlu kita ambil

sampel fluida di dalam batuan daerah tersebut sebagai acuan kita dalam
interpretasi jenis fluida dari data resistiviti yang kita miliki
2. Data porositas
3. Data berat jenis, data ini diambil dengan menggunakan alat logging dengan
bantuan bahan radioaktif yang memancarkan sinar gamma. Pantulan dari sinar
ini akan menggambarkan berat jenis batuan. Dapat kita bandingkan bila pori
batuan berisi air dengan batuan berisi hidrokarbon akan mempunyai berat jenis
yang berbeda.
Semua data yang diperoleh diintegrasikan dalan studi G&G (geology &geophysic) untuk
memastikan keberadaan hidrokarbon dan kemungkinannya untuk dapat di ekploitasi. Datadata yang dihasilkan dari pengukuran pengukuran merupakan cerminan kondisi dan sifat-sifat
batuan di dalam bumi. Ini penting sekali untuk mengetahui apakan batuan tersebut memiliki
sifat - sifat sebagai batuan sumber, reservoir, dan batuan perangkap atau hanya batuan yang
tidak penting dalam sistem hidrokarbon. Sebagai tambahan semua prospek yang telah dipilih
serta dinilai dalam suatu sistem penilaian, kemudian dipih untuk dilakukan pemboran
eksplorasi lanjutan terhadapnya. Maka semua prospek ini haruslah diberi prognosis. Yang
dimaksud Prognosis adalah rencana pemboran secara terperinci serta ramalan-ramalan
mengenai apa yang akan ditemui waktu pemboran dan pada kedalaman berapa.
Tahap Ekplorasi Lanjut/Tahap Detail
Pada tahap ini kegiatannya hampir sama dengan ekplorasi sebelumnya namun dilakukan
lebih mendetail dan aplikasi teknologi yang menghasilkan data yang lebih detail namun
secara keseluruhan antara lain:

Geologi Permukaan detail


Pemboran Struktur (pemboran dangkal)
Seismik Detail (Refleksi) 2D dan 3D
Gravitasi Detail
Pemboran pemboran stratigrafi (dalam)
Hasil tahap eksplorasi lanjut adalah berupa data geologi bawah permukaan detail termasuk
reservoir, serta evaluasi prospek prognosis untuk rencana ke tahap appraisal driilling(sumur
uji) untuk menentukan cadangan(reserves), dan selanjutnya persiapan untuk fase
pengembangan jika ada sumur yang discovered(ditemukan hidrokarbon).
5. BATUAN RESERVOIR
Batuan Reservoir adalah wadah permukaan yang diisi dan dijenuhi oleh minyak dan
gas bumi. Ruangan penyimpanan minyak dalam reservoir berupa rongga-rongga atau poripori yang rendah. Pada hakekatnya, setiap batuan dapat bertindak sebagai batuan reservoir
asal mempunyai kemampuan untuk menyimpan dan melepaskan minyak bumi. Dalam hal ini

batuan reservoir harus menyandang dua sifat fisik penting yaitu harus mempunyai porositas
yang memberikan kemampuan untuk menyimpan, dan juga kelulusan atau permeabilitas. Jadi
secara singkat dapat disebut bahwa batuan reservoir harus berongga-rongga atau berpori-pori
yang berhubungan. Porositas dan permeabilitas sangat erat hubungannya, sehingga dapat
dikatakan permeabilitas tidak mungkin tanpa adanya porositas, walaupun sebaliknya belum
tentu demikian. Batuan dapat bersifat porous tetapi tidak permeabel.
Perbedaan antara porositas dan permeabilitas adalah bahwa porositas menentukan jumlah
cairan yang terdapat, sedangkan permeabilitas menentukan jumlahnya yang dapat
diproduksikan. Dilain pihak, suatu batuan reservoir juga dapat bertindak sebagai lapisan
penyalur aliran minyak dan gas bumi dari tempat minyak bumi tersebut keluar dari batuan
induk (migrasi primer) ke tempat berakumulasinya dalam suatu perangkap. Bagian suatu
perangkap yang mengandung minyak atau gas disebut reservoir. Jadi reservoir merupakan
bagian kecil daripada batuan reservoir yang berada dalam keadaan demikian sehingga
membentuk suatu perangkap.
Syarat-syarat untuk disebut reservoir minyak bumi adalah :

Batuan reservoir diisi dan dijenuhi oleh minyak dan gasbumi, biasanya merupakan
batuan yang berpori-pori.
Lapisan Penutup (Cap Rock), batuan yang tidak tembus minyak, terdapat di atas
reservoir.
Perangkap reservoir, bentuk reservoir sedemikian rupa sehinga minyak bumi daoat
tertampung.

Batuan yang menyandang sifat porositas dan permeabilitas yang baik adalah batupasir dan
karbonat (batugamping dan dolomit). Karena itu minyak dan gas bumi 61% didapat dari
batupasir, 39% dari batuan karbonat dan sisanya 1% dari reservoir lain, misalnya rekahanrekahan pada batuan beku.
6. SEJARAH MINYAK BUMI
Munyak Bumi (bahasa Inggris: petroleum, dari bahasa latin petrus karang
dan oleum minyak), dijuluki juga sebagai emas hitam, adalah cairan kental, berwarna coklat
gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari beberapa area di
kerak bumi. Minyak bumi terutama terdiri dari campuran yang sangat kompleks senyawa senyawa hidrokarbon, yaitu senyawa - senyawa organik yang mengandung unsur karbon dan
hidrogen.

Pompa angguk
Menurut cerita lama, pada abad VIII orang-orang Indonesia yang berdiam disekitar
Selat Sumatra telah mengenal minyak bumi dan memamfaatkannya sebagai alat pembakar
dalam pertempuran di laut. Pada abad XVI, armada laut Aceh dapat mengalahkan armada laut

Portugis yang saat itu dipimpin oleh Alfonso D' Albuquerque dengan menggunakan bola api
yang dilemparkan dari kapal-kapal perang Aceh. Pada waktu itu minyak yang digunakan
adalah minyak bumi yang merembes keluar ke permukaan bumi.
Pada zaman penjajahan Belanda sejak tahun 1871 orang-orang Belanda telah berusaha
untuk mendapatkan minyak bumi dengan melakukan pemboran di daerah-daerah rembesan
minyak bumi untuk diolah menjadi minyak lampu. Pada tahun 1883, A.J.Zylker seorang
penanam tembakau Belanda berhasil melakukan pemboran minyak bumi yang pertama
didekat Pangkalan Brandan pada kedalaman 400 kaki. Pada waktu yang hampir sama telah
pula ditemukan minyak bumi di tempat lain di Indonesia, seperti di desa Ledok Jawa Tengah,
Di desa Minyak Hitam di daerah Muara Enim dan Riawa Kiwa dekat Sangasana di
Kalimantan Timur.
Penemuan minyak bumi di Indonesia tentu mengakibatkan tumbuhnya banyak
perusahaan minyak asing, dimana pada akhir abad XIX lebih dari 18 perusahaan asing secara
aktif mengusahakan sumber-sumber minyak bumi di Indonesia. Karean usaha eksplorasi dan
kekuatan finansial, maka Royal Dutch Company ( yang mengambil alih konsesi Zylker)
dapat menyisihkan perusahaan-perusahaan yang ada pada waktu itu. Dalam tahun 1907,
Royal Dutch Company bergabung dengan Shell Transport and Trading Company dan
perusahaan yang beroperasi dari kelompok Royal Dutch Shell di Indonesia adalah Batsaafche
Petruleum Maatschappy ( BPM ), dan merupakan satu satunya perusahaan yang beroperasi
sampai tahun 1991. Pada tahun 1912, Standard Vacum Oil, suatu anak perusahaan dari
Standard Oil ( New Jersey ) dan Vacum Oil Company mulai beroperasi di Indonesia. Untuk
menghadapi saingan dari Standard Oil, maka pada tahun 1930 oleh pemerintah Kolonial
Hindia Belanda dan BPM dibentuk sebuah perusahaan campuran yaitu, NV. Nederlandsche
Indische Aardolie Maatshappy ( NIAM ). pada tahun 1931 caltex, sebuah anak perusahaan
Standard Oil of California and Texas Company mulai beroperasi di Indonesia. Kemudian
pada tahun 1935 dibentuk perusahaan minyak bernama Nederlansche Nieuw Guinea
Petroleum Maatschappy ( NNGPM ) untuk mengeksploitasi bagian barat Irian Jaya, dengan
sahamnya dari Royal Dutch Shell. Stanvac dan Caltex. Kilang minyak yang ada sebelum
perang dunia ke II ada 6 buah yaitu di Plaju (BPM), sungai Gerong ( STANVAC), Balikpapan
(BPM), Wonokromo (BPM) dan Pangkalan Brandan (BPM).
Dengan pecahnya perang dunia ke II, karena serbuan bala tentara Jepang ke
Indonesia, maka sebagian besar instalasi-instalasi minyak hancur terutama di Pangkalan
Brandan, karena politik bumi hangus pemerintah Hindia Belanda. Dalam perjuangan
kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, satu-satunya lapangan minyak yang dapat
dikuasai oleh pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia adalah lapangan minyak bumi
disekitar Pangkalan Brandan dan daerah Aceh, bekas milik Shell-BPM , yang selanjutnya
merupakan Perusahaan Minyak Indonesia yang pertama dan diberi nama Perusahaan
Tambang Minyak Negara Republik Indonesia ( PTMNRI ). BPM berhasil meneruskan
produksi minyaknya di Tarakan pada tahun 1946 meneruskan produksinya di Tarakan pada
Tahun 1945, dan pada tahun 1946 meneruskan produksinya di Kalimantan dan mengaktifkan
kembali sebagian kilang minyaknya di Balikpapan. Dalam bulan Oktober 1946 Kilang Plaju
dan Sungai Gerong masing-masing dikembalikan kepada BPM dan STANVAC untuk
rekonstruksi. Di Jawa Tengah BPM tidak berhasil kembali kelapangan Kawengan dan kilang
minyak Cepu, karena lapangan dan kilang telah dikuasai oleh koperasi buruh minyak yang

kemudian menjadi perusahaan negara PERMIGAN.


Karena PTMNRI sesudah selesainya perjuangan fisik di tahun 1950 belum nampak
usaha-usaha pembangunannya, maka pada bulan April 1954 PTMNRI diubah menjadi
Tambang Minyak Sumatra Utara (TMSU). Tindakan ini ternyata juga tidak ada mamfaatnya,
sehingga pada tanggal 10 Desember 1957 diubah menjadi PT PERMINA. setelah kira-kira
tiga setengah tahun, maka pada tanggal 1 Juli 1961 statusnya diubah menjadi Perusahaan
Negara Pertambangan Minyak Nasional (PN PERMINA).