Anda di halaman 1dari 5

GOOD REFURBISHMENT PRACTICE

FOR MEDICAL EQUIPMENT

Di beberapa Negara di dunia, peralatan medis bekas (used medical equipment) masih
dianggap aman dan dapat dipercaya untuk menangani masalah diagnosis dan terapi.
Dengan melakukan refurbishing pada peralatan medis bekas maka akan dihasilkan
peralatan yang handal dan ekonomis. Untuk melakukan refurbishing yang dapat
menghasilkan peralatan yang baik maka harus dilkukan sistem yang ketat, seperti pada
pembuatan peralatan baru.

Dalam penanganan peralatan radiologi bukan baru, ada beberapa proses yang dapat
dilakukan sehingga peralatan radiologi bukan baru masih dapat digunakan kembali.
Berikut ini beberapa istilah tersebut.

1. Refurbishment
Mengembalikan kondisi peralatan radiologi bukan baru, sehingga keselamatan
dan keefektifannya sama seperti dalam kondisi masih baru. Prosesnya meliputi
memperbaiki, mengerjakan kembali, memperbarui dan mengganti bagian-bagian
dengan yang asli. Semua tindakan harus dilakukan secara konsisten terhadap
spesifikasi produk dan prosedur pelayanan yang telah ditetapkan oleh produsen
asal tanpa perubahan yang signifikan pada performa peralatan, spesifikasi
keselamatan dan perubahan tujuan penggunaan seperti pada saat masih baru.
2. Remanufacturing
Tindakan yang dilakukan terhadap peralatan radiologi bukan baru, seperti
processing, conditioning, renovating dan sebagainya, sehingga mengasilkan
perubahan signifikan terhadapap performa, spesifikasi teknis, dan kegunaannya.
3. Second Hand Equipment
Peralatan yang sudah digunakan kemudian digunakan lagi di tempat lain.
Biasanya hanya melakukan proses bongkar dan dipasang ulang di tempat lain
tanpa proses lainnya.

Ada 3 (tiga) asosiasi yang berkecimpung dibidang radiologi menerbitkan sebuah paper
yang berisi standar yang harus dilakukan oleh sebuah industri dalam melakukan
refurbishing peralatan medis, dalam hal ini peralatan radiologi. Ketiga asosiasi itu
adalah COCIR (European Coordination Committee of the Radiological, Electromedical
and Healthcare IT Industry), JIRA (Japan Industries Association of Radiological
Systems), dan MITA (Medical Imaging & Technology Alliance). Penerbitan paper ini
bertujuan untuk memberikan arahan kepada anggota asosiasi dalam melakukan
refurbishing peralatan radiologi. ”GOOD REFURBISHMENT PRACTICE FOR
MEDICAL EQUIPMENT” adalah sebuah kerangka kerja yang dianjurkan kepada
industri dalam melakukan refurbishing peralatan radiologi sehingga menghasilkan
peralatan yang handal dan bernilai ekonomis.

Tujuan Refurbishment
Dibanding peralatan baru, peralatan radiologi bukan baru dapat menimbulkan resiko
(seperti kontaminasi, ketidaktepatan, kerusakan spare part) terhadap pasien, pengguna,
pihak ketiga dan lingkungan jika tidak dirawat dengan baik. Tujuan utama proses
refurbishment adalah untuk mengembalikan peralatan radiologi bukan baru ke kondisi
awal (as good as when it was new). Hal penting yang harus dimengerti adalah
refurbishment berbeda dengan pemeliharaan, perbaikan apau remanufacturing.

Peralatan Radiologi untuk Refurbishment


Tidak semua peralatan radiologi dapat dilakukan refurbishment, peralatan tersebut harus
memenuhi beberapa persyaratan dasar sehingga hasil dari refurbishing dapat
berkualitas, dan harus memperhatikan beberapa faktor berikut:
 Tujuan penggunaan dan spesifikasi produk.
 Standard untuk peralatan radiologi pada saat pertama kali digunakan.
 Umur pakai dan kemampuan pelayanan.
Kriteria pertama dalam proses refurbishmen adalah tujuan penggunaan, seperti yang
telah ditetapkan oleh produsen asal, meliputi spesifikasi produk. Peralatan yang
didesain untuk single use atau tidak dimungkinkan untuk dilakukan refurbishment tidak
boleh dipaksakan untuk dilakukan refurbishment.
Kriteria kedua adalah peralatan hanya dapat dilakukan proses refurbishment jika
memiliki kesamaan terhadap standard saat peralatan tersebut digunakan. Ketika standar
yang digunakan tidak sama maka peralatan tersebut tidak bisa di-refurbish.
Umur pakai dan daya guna peralatan juga menjadi kriteria yang penting dalam
menetapakan apakah suatu peralatan dapat dikalukan refurbishment atau tidak. Juga
harus diperhatikan perkiraan umur pakai suatu peralatan yang ditetapakan oleh
produsen awal. Refurbishment dapat membantu untuk memperpanjang waktu pakai
suatu peralatan.

Refurbishment process
Seperti yang sudah dibahas, pertimbangan untuk mendayagunakan kembali peralatan
radiologi harus memperhatikan beberapa aspek seperti kualitas, performa, keselamatan
dan tujuan penggunaan. Oleh karena itu setiap proses harus bisa menjamin bahwa
peraltan yang dihasilkan melalui refurbishment harus memiliki kualitas, performa,
keselamatan dan tujuan penggunaan yang sama termasuk garansi dan servis seperti pada
saat baru. Berikut ini adalah skema proses refurbishment:

1. Selection of Used Equipment (Penyeleksian Peralatan)


Tidak semua system cocok untuk dilakukan refurbishment. Umumnya seleksi
peralatan bukan baru didasarkan pada prinsip bahwa peralatan yang akan di-
refurbish harus memiliki kualitas, performa keselamatan dan tujuan penggunaan
yang sama ketia saat masih baru.
Ativitas yang dilakukan dalam proses ini antara lain, mengevaluasi tipe, umur, dan
konfigurasi peralatan, Mengevaluasi kondisi peralatan, Mengevaluasi kemampuan
upgrade untuk software dan hardware, mengevaluasi ketersediaan spare parts dan
servis.
2. Disassembly, Packing and Shipment. (Pembongkaran, Pengemasan dan
Pengiriman)
 Pembongkaran
Selama proses pembongkaran, harus dipastikan bahwa system tidak boleh
rusak. Untuk menghindari resiko tambahan, pihak yang melakukan
refurbishment harus memberi jaminan bahwa system yang dibonakar harus
dalam kondisi yang sama seperti sebelumnya.
Perlu diperhatikan tempat-tempat khusus penggunaan peralatan seperti di
ruang emergency, ruang operasi dan lainnya. Sebelum dilakukan
pembongkaran, harus terlebih dahulu disterilkan menggunakan disinfektan,
sehingga ada proteksi terhadap bahaya bakteri yang bisa menimbulkan
penyakit.
 Pengemasan dan Pengiriman
Pihak yang melakukan refurbishment bertanggung jawab memastikan bahwa
system tidak akan rusak selama pengemasan dan pengiriman
3. Refurbishing Process (Proses Refurbishing)
 Cleaning and Disinfection
Peralatan Radiologi bukan baru kadangkala biasa terkontaminasi oleh bakteri
karena dipergunakan di lingkungan medis. Tujuan proses ini adalah untuk
memastikan sistem yang akan di-refurbish tidak memiliki resiko akibat bakteri
baik selama proses refurbishment dan setelahnya.
 Refurbishment Planning
Proses ini bergantung pada spesifikasi peralatan yang akan di-refurbish.
Konfigurasi harus ditetapkan baik oleh pihak yang akan melakukan
refurbishment maupun oleh pihak yang melakukan pemesanan (user).
Konfigurasi akhir dari sistem yang di-refurbish harus masih dalam relevansi
dengan regristrasi dari pihak produsen awal ketika peralatan pertama kali di
produksi dan dipasarkan pertama kali.
Proses ini sangat penting dalam refurbishment karena semua tindakan yang
akan dilakukan harus secara cermat dinilai dan ditentukan. Personil yang
melakukan rencana tindakan refurbishment harus memiliki kemampuan untuk
memastikan tindakan yang diperlukan tidak boleh mengakibatkan modifikasi
yang dapat merubah identitas dan konfigurasi awal peralatan.

 Mechanical and Electrical Refurbishmnet and System Configuration


Dalam Proses ini semua tindakan yang telah di rencanakan untuk me-refurbish
peralatan dilkukan, terutama untuk sistem elektrik dan mekanis. Penggantian
komponen, konfigurasi ulang, pembaruan software, dan memutakhirkan
spesifikasi teknis peralatan merupakan begian dari proses ini.
 System Testing
Setelah semua tindakan dilakukan maka dilakukan pengecekan pada peralatan
yang telah di-refurbish. Pengecekan dilakukan pada semua bagian peralatan.
Pengecekan dilakukan untuk memastikan peraltan yang telah di-refurbish tidak
ada perbedaan spesifikasi dan konfigurasi awal.
 Good Refurbishment Practice Declaration (Release)
Jika hasil pengecekan sudah sesuai, maka pihak yang melakukan
refurbishment harus membuat pernyataan bahwa peralatan tersebut adalah
hasil dari proses refurbishment. Pelabelan bertujuan agar pengguna tahu
bahwa alat tersebut merupakan peralatan yang telah di-refurbish. Pendataan
ulang sangat penting untuk memastikan peralatan sesuai dengan spesifikasi
dan konfigurasi awal.

4. Reinstallation of Refurbished Equipment (Instalasi Ulang Peralatan Hasil
Refurbishment)
Peralatan hasil refurbishment memiliki kualitas, performa dan standard
keselamatan, oleh karena itu instalasi ulang harus mengikuti prosedur yang sudah
ditetapkan oleh produsen asal.
5. Professional Service (Pelayanan yang Profesional)
Pengguna yang membeli peralatan yang telah di-refurbish harus memperoleh
pelayanan setelah pembelian sama seperti yang diperoleh saat peralatan masih
baru. Pihak yang melakukan refurbishment harus memastikan pelayanan yang
diberikan sama dengan pelayanan yang diberikan oleh produsen awal. Garansi
adalah faktor terpenting.

Secara umum refurbishment adalah proses yang dapat menjadi alternatif untuk
memenuhi kebutuhan peralatan radiologi. Waktu pakai peralatan radiologi dapat
diperpanjang dengan melakukan proses refurbishment. Keunggulan proses ini adalah
peraltan yang dihasilkan memiliki kualitas, performa dan standar keselamatan yang
sama dengan pada saat pertama diproduksi. Pihak yang melakukan refurbishment juga
memberikan pelayanan stelah pembelian yang sama kualitasnya dengan seperti membeli
peralatan yang baru.