Anda di halaman 1dari 7

Sinkronisasi Estrus pada Kuda

Estrus yang dikenal dengan istilah birahi yaitu suatu periode secara psikologis
maupun fisiologis pada hewan betina yang bersedia menerima pejantan untuk
kopulasi. Siklus estrus dibagi menjadi beberapa fase yang dapat dibedakan dengan
jelas yang disebut proestrus, estrus, metestrus dan diestrus (Frandson, 1996).
Estrus merupakan periode seksual yang sangat jelas yang disebabkan oleh
tingginya level estradiol, folikel de Graaf membesar dan menjadi matang, uterus
berkontraksi dan ovum mengalami perubahan kearah pematangan. Metestrus adalah
periode dimana korpus luteum bertambah cepat dari sel-sel graulose folikel yang
telah pecah dibawah pengaruh Luteinizing hormone (LH) dari adenohyphophysa.
Diestrus adalah periode terlama dalam siklus estrus dimana korpus luteum menjadi
matang dan pengaruh progesterone terhadap saluran reproduksi menjadi nyata.
Diestrus adalah periode dimana folikel de Graaf bertumbuh dibawah pengaruh
follicle stimulating hormone (FSH) dan menghasilkan sejumlah estradiol bertambah.
Siklus birahi pada setiap hewan berbeda antara satu sama lain tergantung dari
bangsa, umur, dan spesies (Partodiharjo, 1992). Interval antara timbulnya satu periode
berahi ke permulaan periode berikutnya disebut sebagai suatu siklus berahi. Siklus
berahi pada dasarnya dibagi menjadi 4 fase atau periode yaitu ; proestrus, estrus,
metestrus, dan diestrus (Marawali, dkk., 2001; Sonjaya, 2005).
Estrus pada Kuda
Kuda betina memiliki kornua uteri yang kecil, yang bersambung ke korpus uteri
yang besar secara hampir tegak lurus sehingga memberi huruf T pada organ kelamin
betina tersebut. Kornua uteri memiliki suatu legokan convex yang menhadap ke
depan, bawah dan lateral. Cervix kuda lebih pendek dibandingkan dengan sapi dan

berbentuk seperti suatu mangkok datar. Struktur cervix lebih sederhana dari pada
ungulata. Dinding cervix relatif lebih tipis dan mengandung sangat sedikit jaringan
ikat. Canalis cervicalis terbuka selama birahi, dan tertutup selama periode
kebuntingan (Toelihere, 1993).
Menurut Frandson (1992) pubertas kuda mulai antara umur 10-24 bulan.
Panjangnya waktu antara permulaan suatu periode estrus sampai permulaan periode
berikutnya bervariasi pada kuda antara 7-124 hari. Akan tetapi angka yang rata-rata
yang dilaporkan oleh banyak peneliti adalah 21 atau 22 hari. Menurut Toelihere
(1993) kuda betina dara mencapai dewasa kelamin atau pubertas pada usia 15-18
bulan.
Lamanya estrus pada kuda kira-kira 6 hari dengan masa metestrus 2-3 hari,
diestrus sekitar 15 hari dan proestrus 2-3 hari. Ovulasi biasanya terjadi secara spontan
menjelang hari terakhir estrus. Kuda dengan lama estrus 1-3 hari hendaknya
dikawinkan pada hari pertama setelah terlihat gejala estrus. Kuda dengan lama estrus
yang lebih panjang hendaknya dikawinkan pada hari ke-3 atau ke-4 dan diulang lagi
48 sampai 72 jam kemudian (Frandson, 1992 : Toelihere, 1979 : Anonim, 2004).
Beberapa kuda memperlihatkan keinginan kawin yang besar pada awal musim
kawin selama periode estrus yang panjang tapi tidak terjadi ovulasi. Kuda-kuda ini
mungkin tidak akan subur sampai periode estrusnya menjadi lebih pendek dan lebih
teratur. Kuda-kuda lain mungkin hanya mengalami birahi tenang atau silent heat
dimana terjadi ovulasi tapi tidak memperlihatkan keinginan untuk kawin. Banyak
kuda-kuda semacam ini akan dapat bunting apabila saat estrus dapat diidentifikasi
melalui palpasi rektal dan dari perubahan-perubahan fisik pad vulva, vagina dan
cerviks (Frandson, 1992).

Sinkronisasi Estrus
Suatu cara untuk mengatasi problema sulitnya deteksi berahi yaitu dengan cara
penerapan teknis sinkronisasi birahi, baik dengan menggunakan sediaan Progesteron
dan Prostaglandin (PGF2a). Dengan tehnik ini problema deteksi berahi dapat
dieliminir, sehingga pelaksanaan inseminasi buatan dapat dioptimalisasi.
Penyerentakan berahi atau sinkronisasi estrus adalah usaha yang bertujuan
untuk mensinkronkan kondisi reproduksi ternak sapi donor dan resipien. Sinkronisasi
estrus umumnya menggunakan hormon prostaglandin (PGF2a) atau kombinasi
hormon progesteron dengan PGF2a. Penggunaan teknik sinkronisasi berahi akan
mampu meningkatkan efisiensi produksi dan reproduksi kelompok ternak, serta
mengoptimalisasi

pelaksanaan

inseminasi

buatan,

mengurangi

waktu

dan

memudahkan observasi deteksi berahi, dapat menentukan jadwal kelahiran yang


diharapkan.
Proses sinkronisasi dengan menggunakan preparat prostaglandin (PGF2a) akan
menyebabkan regresi CL akibat luteolitik, secara alami prostaglandin (PGF2a)
dilepaskan oleh uterus hewan yang tidak bunting pada hari ke-16 sampai ke-18 siklus
yang berfungsi untuk menghancurkan CL. Timbulnya berahi akibat pemberian PGF2a
disebabkan lisisnya CL oleh kerja vasokontriksi PGF2a sehingga aliran darah menuju
CL menurun secara drastis, akibatnya kadar progesteron yang dihasilkan CL dalam
darah menurun, penurunan kadar progesteron ini akan merangsang hipofisa anterior
melepaskan FSH dan LH, kedua hormon ini bertanggung jawab dalam proses
folikulogenesis dan ovulasi, sehingga terjadi pertumbuhan dan pematangan folikel.
Folikel-folikel tersebut akhirnya menghasilkan hormon estrogen yang mampu
memanifestasikan gejala berahi. Kerja hormon estrogen adalah untuk meningkatkan
sensitivitas organ kelamin betina

Siklus Estrus dan Ovulasi pada Kuda


Kuda yang telah didomestikasi umumnya mencapai pubertas antara umur10-24
bulan dengan rata-rata sekitar 18 bulan (Frandson, 1992). Periode siklusestrus
bervariasi pada kuda antara 7-124 hari dengan angka rata-rata yang banyakdilaporkan
adalah 21 atau 22 hari (Frandson, 1992). Siklus estrus pada kuda yanghidup di negara
empat musim akan lebih panjang pada musim semi dan lebihpendek pada peralihan
ke musim panas. Pada awal musim kawin yaitu bulanMaret dan April, periode estrus
cenderung tidak teratur dan lebih panjang seringjuga terjadi tanpa ovulasi. Dari bulan
Mei ke Juli periode tersebut memendek danmenjadi lebih teratur dengan adanya
ovulasi sebagai suatu bagian yang normaldari siklus (Arthur, 1975).Lama estrus pada
kuda rata-rata adalah enam hari dengan masa metestrus2-3 hari, diestrus sekitar 15
hari dan proestrus 2-3 hari. Ovulasi biasanya terjadisecara spontan menjelang hari
terakhir estrus. Kuda dengan lama estrus 1-3 harihendaknya dikawinkan pada hari
pertama setelah terlihat gejala estrus. Kudadengan lama estrus yang lebih panjang
hendaknya dikawinkan pada hari ketigaatau keempat dan diulang lagi 48-72 jam
kemudian (Frandson, 1992 ; Toelihere,1979 ; Anonim, 2004)
Uterus dan ovarium mempunyai hubungan kerja timbal balik di manakorpus
luteum

merangsang

yangsebaliknya

uterus

untuk

menghasilkan

melisiskan korpus luteum. Substansi

olehendometrium ini adalah prostaglandin F2

suatu

substansi

luteolitik yang dibentuk

(PGF2 ) yang berdifusi dari vena

uterus langsung ke dalam arteri ovarium. Adanya uterus penting untuk regresikorpus
luteum secara normal (Toelihere, 1979).
Selama diestrus dengan korpus luteum fungsional, konsentrasi progesteronyang
tinggi menghambat pelepasan FSH dan LH melalui kontrol umpan baliknegatifnya
dari

hipothalamus

tingkah

laku

dan

estrus.

hipophisis
Dengan

anterior.

demikian

Progesteron
selama

jugamenghambat

kebuntingan,konsentrasi

progesteron yang tinggi menghambat pelepasan hormon gonadotropinmaupun


tingkah laku estrus.
PGF2

dikenal sebagai suatu vasokontriktor dan pemberian PGF2

menyebabkan hambatan pengaliran


luteabeberapa

spesies.

regresikorpus

luteum

darah secara drastis melalui korpora

Pengurangan darah
yang

yang lama

berdampak

pada

dapat

merosotnya

menyebabkan
konsentrasi

progesteron.Merosotnya konsentrasi progesteron membebaskan hipothalamus dari


hambatanumpan balik negatif sehingga pulsa-pulsa GnRH, FSH dan LH dilepaskan
denganpenambahan frekuensi dan amplitudo. Kepekaan hipophisis anterior
terhadapGnRH akan menyebabkan pelepasan FSH dan LH. Peningkatan pelepasan
FSHmerangsang pertumbuhan yang cepat dari folikel dan peningkatan sekresi
dariestradiol. Saat estradiol mencapai konsentrasi ambang akan merangsang
lonjakanpreovulasi

GnRH,

FSH

dan

LH

melalui

kontrol

umpan

balik

positif padahipothalamus. Lonjakan preovulasi FSH akan merangsang pertumbuhan


folikelyang lebih cepat dan sekresi estradiol yang lebih besar yang berdampak
padatimbulnya tingkah

laku estrus. Lonjakan preovulasi LH merangsang

maturasiakhir dari oosit dan ovulasi. Lonjakan LH ini pada kuda berlangsung
selamabeberapa hari (Frandson, 1992 ; Toelihere, 1979)
Penyuntikan 1,25-10 mg PGF2 secara subkutan pada kuda pada hari keenam
sesudah ovulasi akan mengurangi lamanya diestrus (Douglas & Ginther,1972). Suatu
analog sintetik prostaglandin, ICI-79939 dalam jumlah minimum100 mikrogram
yang diberikan secara intrauterin pada kuda pada fase diestrus(pada mid-luteal karena
korpus luteum yang berkembang tidak peka terhadap aksiagen luteolisis selama 4-5
hari pertama) menyebabkan estrus dalam waktu 2-4hari sesudah pemberian preparat
tersebut (Allen & Rowson, 1973 ; Allen &Rossdale, 1973) (Toelihere, 1979).
Dari sini nampak bahwa prostaglandin F2

(PGF2 ) adalah zat luteolitik

alam yang apabila tidak terjadi kebuntingan akan mengakhiri siklus estrus

denganmelisiskan korpus luteum sehingga memungkinkan dimulainya siklus estrus


yangbaru. Hormon ini juga dapat menghentikan suatu kebuntingan yang masih
awal.Oleh karena itu prostaglandin atau PGF merupakan suatu obat yang efektif
untuksinkronisasi estrus atau pengendalian ovulasi pada berbagai jenis ternak
terlebihkuda karena sulitnya deteksi estrus dan lamanya fase luteal dalam siklus
birahinya(Frandson, 1992)
Bila

saat

ovulasi

dapat

dikendalikan

dengan

tepat

maka

memungkinkanpelaksanaan inseminasi atau kawin alam pada saat yang tepat pula.
Hal ini akanmengurangi pemeriksaan birahi berkali-kali untuk memperkirakan saat
ovulasidan mengurangi kerugian yang berkaitan dengan inseminasi yang tidak
tepatwaktu dan menjadi tuanya gamet. Waktu inseminasi atau kawin alam yang
tepatakan meningkatkan angka konsepsi (Toelihere, 1979).
Daftar Pustaka
Arthur, G.H., 1975, Veterinary Reproduction and Obstetrics, Fourth Edition, The
English Language Book Society and Bailliere Tindall, London.
Asmarani, K., Teknologi Reproduksi, Bagian Reproduksi dan Kebidanan,
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Cummings, J.N., 1977, a Study of Estrus and Ovulation in the Mare, Paper No. 167,
Journal Series, Agricultural Experiment
Station,
Montana State College,
Bozeman, Montana.
Demirel, M, Semacan, A, and Tasal, I., 1996, Estrous, Ovulation and Pregnancy Rates
Following PGF2a Injections In Mares, Journal of Veterinary and Animal
Sicences No.22 (1998) 353-357.
Douglas, R.H and Ginther, O,J., 1975, Effects Of Prostaglandin F2 On Estrous
Cycle Or Corpus Luteum In Mares And Gilts, Journal Of Animal Science, Vol.
40, No. 3.

Frandson, R.D., 1992, Anatomi dan Fisiologi Ternak, Edisi keempat,


Diterjemahkan oleh Srigandono, B dan Praseno, K., Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Hafs, H.D, Louis, T.M, Noden, P.A, and Oxender, W.D., 1977, Control of the Estrous
Cycle with Prostaglandin F2 in Cattle and Horses, Paper No. 4680, Journal
Series, Agricultural Experiment Station, Montana State College, Bozeman,
Montana.
Holtan, D.W, Douglas, R.H, Ginther, O,J., 1977, Estrus, Ovulation And
Conception Following Synchronization With
Progesterone, Prostaglandin
F2 And Human Chorionic Gonadotropin In Pony Mares, Journal Of Animal
Science, Vol. 44, No. 3.
Hunter, R.H.F., 1995, Fisiologi dan Teknologi Reproduksi Hewan Betina
Domestik, Penerbit ITB, Bandung.
McDonald, L.E., 1969, Veterinary Endocrinology and Reproduction, Lea
Febringer, Philadelphia.

&

Ninnemann, J.L., 1989, Prostaglandins, Leukotrienes and Immune, Cambridge


University Press, Cambridge.
Prihatno, S.A, 2006, Kontrol Sterilitas pada Ternak, Bagian Reproduksi dan
Kebidanan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
Salisbury, G.W, and VanDemark, N.L., 1985, Fisiologi Reproduksi dan
Inseminasi Buatan pada Sapi, Diterjemahkan oleh Djanuar, R., Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Toelihere, M.R., 1979,
Bandung.

Fisiologi Reproduksi pada Ternak, Penerbit Angkasa,