Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam kegiatan sehari-hari kita pasti tidak akan terlepas dari kegiatan jual
beli yang sudah merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan manusia satu sama lain. Di kegiatan tersebut pasti ada seorang
penjual yaitu orang yang menjadi penyedia barang atau jasa dan juga pembeli
yaitu orang yang membutuhkan barang atau jasa tersebut. Penjual yang
berperan menyediakan barang atau jasa juga mempunyai tujuan yaitu untuk
bekerja memperoleh keuntungan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya juga. Di dalam ini peran pedagang atau pebisnis akan diuji akan
bagaimana cara melakukan perdagangan atau bisnis lainnya yang tidak
merugikan pembeli atau pelanggan tetapi tetap memperoleh keuntungan yang
halal.
Maka dari itu di Islam mengajarkan tentang etika bisnis. Yaitu tentang
bagaimana cara berbisnis yang baik dan benar menurut islam serta menjauhi
segala yang haram dan merugikan orang lain. Cara berbisnis berdasarkan
syariat juga telah banyak dibahas di hadist-hadist, al-quran, serta
dicontohkan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam makalah ini kami
membahas tentang hadist-hadist yang membahas tentang etika bisnis dalam
islam.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian etika bisnis?
2. Bagaimana etika bisnis dalam perspektif hadist nabi?
3. Bagaimana konsep etika bisnis dalam islam?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Etika Bisnis


Etika berasal dari bahasa latin ethos yang berarti
kebiasaan, sinonimnya adalah moral yang juga berasal
dari bahasa latin mores yang berarti kebiasaan. Dalam
bahasa arab disebut dengan akhlak, bentuk jamak dari
khuluq yang berarti budi pekerti. Baik etika maupun moral
bisa diartikan sebagai kebiasaan atau adat istiadat, yang
menunjuk kepada perilaku manusia itu sendiri, tindakan
atau sikap yang dianggap benar atau tidak.1
Menurut M. Dawam Raharjo, istilah etika dan moral
dipakai

untuk

makna

yang

sama.

Namun

secara

etimologis, kata etika berasal dari bahasa Yunani yaitu


ethos yang memiliki arti adat, akhlak, watak, perasaan,
sikap dan cara berfikir atau berarti adat istiadat. Adapun
moral berasal dari kata morales sebuah kata latin yang
sering kali diasumsikan dengan etika, kedua kata tersebut
yakni antara moral dan etika dapat di homogenkan
sebagai

custom

or

mores.2

Achamd

Charris

Zubair

menyatakan bahwa etika dan moral memiliki arti yang


sama, tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit
perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan
1 Ali Hasan, Manajemen Bisnis Syariah, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 171.
2 Dawam Raharjo, Etika Ekonomi dan Manajemen,
(Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), hlm. 3.

yang sedang dinilai, seadangkan etika dipakai untuk


pengkajian sistem nilai-nilai yang ada. 3 Menurut Endang
Syaifuddin Anshari, etika sama dengan akhlak. Akhlak
berarti perbuatan dan ada sangkut pautnya dengan katakata khaliq (pencipta) dan makhluk (yang diciptakan).4
Adapun

bisnis

adalah

semua

aktivitas

yang

melibatkan penyediaan barang dan jasa yang diperlukan


dan diinginkan oleh orang lain. Dengannya para pelaku
bisnis dapat menentukan dan menyediakan keinginan dan
kebutuhan orang lain (konsumen) serta selalu berusaha
agar konsumen memperoleh kepuasan dengan barang
dan jasa yang disediakan tersebut.5 Bisnis dalam Kamus
Bahasa Indonesia diartikan sebagai usaha komersil di
dunia perdagangan dan bidang usaha. Dalam pengertian
yang lebih luas, bisnis diartikan sebagai semua aktivitas
produksi perdagangan barang dan jasa. Bisnis merupakan
sejumlah total usaha yang meliputi pertanian, produksi,
distribusi,

transportasi,

komunikasi,

usaha

jasa

dan

pemerintahan yang bergerak dalam bidang membuat dan


memasarkan barang dan jasa ke konsumen. Istilah bisnis
pada umumnya ditekankan pada tiga hal yaitu usaha
perorangan

misalnya

industri

rumah

tangga,

usaha

3 Achmad Charris Zubair, Kuliah Etika, (Jakarta: Rajawali


Pers, 1997), hlm. 13.
4 Endang Syaifuddin Anshari, Pokok-pokok Pikiran
tentang Islam dan Umatnya, (Bandung: Pustaka Pelajar,
2002), hlm. 26.
5 Kusnadi, et al., Pengantar Bisnis dengan Pendekatan
Kewiraswastaan, (Malang: STAIN Pers, 1998), hlm.5758.

perusahaan besar seperti PT, CV, maupun badan hukum


koperasi, dan uasaha dalam bidang struktur ekonomi
suatu Negara.6
Berdasarkan pengertian etika dan bisnis di atas,
dapat dikatakan bahwa etika bisnis adalah seperangkat
aturan moral yang berkaitan dengan baik dan buruk,
benar dan salah, bohong dan jujur. Etika ini dimaksudkan
untuk

mengendalikan

menjalankan
pertukaran

perilaku

aktivitas
barang,

bisnis

jasa

atau

manusia

dalam

yakni

menjalankan

uang

yang

saling

menguntungkan untuk memperoleh keuntungan. Dengan


demikian, etika bisnis adalah tuntutan nasehat etis
manusia dan tidak bisa dipenggal atau ditunda untuk
membenarkan

tindakan

yang

tidak

adil

dan

tidak

bermoral. Etika bisnis harus dijunjung tinggi agar bisnis itu


membuahkan hasil yang dapat memuaskan semua pihak
yang terlibat dalam bisnis itu. Menurut Kwik Kian Gie etika
bisnis adalah penerapan dari apa yang benar dan apa
yang

salah

dari

kumpulan

kelembagaan,

teknologi,

transaksi, kegiatan-kegiatan dan saran-saran yang disebut


bisnis.7
Dalam syariat islam, etika bisnis adalah akhlak dalam
menjalankan

bisnis

sesuai

dengan

nilai-nilai

islam,

sehingga dalam pelaksanaan bisnis itu tidak terjadi


6 Buchari Alma, Ajaran Islam dalam Bisnis, (Bandung:
Alfabeta, 2001), hlm. 18.
7 Kwik Kian Gie, Etika Bisnis Cina: Suatu Kajian
Terhadap Perekonomian di Indonesia, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 1992), hlm. 59.

kekhawatiran karena sudah diyakini sebagai sesuatu yang


baik dan benar.8 Etika bisnis seorang muslim dibentuk
oleh iman yang menjadi pandangan hidupnya, yang
member norma-norma dasar untuk membangun daan
membina segala aktivitas muamalahnya. Seorang muslim
dituntut

oleh

imannya

untuk

menjadi

orang

yang

bertakwa dan bermoral amanah, berilmu, cakap, cerdas,


cermat, hemat, rajin, tekun, dan bertekat bekerja sebaik
mungkin untuk menghasilkan yang terbaik.
B. Etika Bisnis dalam Prespektif Hadis Nabi
Bisnis islam merupakan serangkaian aktivitas bisnis
baik produksi, distribusi maupun konsumsi dalam berbagai
bentuknya yang tidak dibatasi jumlah kepemilikan harta,
barang dan jasa termasuk keuntungan yang diperoleh,
tetapi dibatasi cara perolehan dan pendayagunaannya
yang dikenal dengan istilah halal dan haram. Konsep AlQuran

dan

komprehensif,

Hadist

Nabi

parameter

tentang

yang

bisnis

dipakai

sangat

tidak

hanya

masalah dunia saja tetapi juga akhirat. Yang dimaksud alquran tentang bisnis yang benar-benar sukses (baik)
adalah bisnis yang membawa keuntungan pada pelakunya
dalam kehidupan dunia dan akhirat.9
Dasar-dasar pemikiran ekonomi islam

berawal

dari

tuntunan-tuntunan yang berkaitan dengan kekayaan dan


ekonomi oleh Nabi Muhammad saw ketika beraada di
Mekah

(periode

Mekah)

dan

dilanjutkan

di

Madinah

(periode Madinah). Tuntutan itu adalah:


8 Ali Hasan, Manajemen Bisnis, hlm. 171.
9 Mustaq Ahmad, Business Ethics in Islam, terj. Samson
Rahman, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2001), hlm. 49.

a) tentang

kekayaan

dan

pengaruhnya

terhadap

ketaatan dan kemaksiatan ,


b) ajakan berinfak dan berlomba-lomba dalam kebaikan,
c) memenuhi timbangan, takaran dengan lurus dan
menjauhkan dari perbuatan merusak di atas bumi,
d) larangan riba dan mendorong zakat,
e) pesan-pesan wajib dalam tuntunan ekonomi, dan
f) pengembangan sumber kekayaan alam.10
Konsep etika bisnis islam dilator belakangi oleh
ajaran islam. Nabi Muhammad diutus oleh Allah untuk
menyempurnakan akhlak, sebagaimana sabdanya yang
diriwayatkan oleh Malik ibn Anas dalam kitabnya alMuwattho berikut:


) :
(
Dari Yahya al-Laytsi dari Malik bahwasannya telah sampai
kepadanya (berita) bahwa Rasulullah saw bersabda, Aku
diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR.
Malik ibn Anas)
Ketika peradaban bangsa Arab pada masa jahiliyah
sangat jauh dari akhlak mulia, misalnya mereka sering
melakukan

pembunuhan,

pelacuran,

mabuk-mabukan,

serta usaha-usaha bisnis yang curang, dan manusia tidak


lagi mengenal Allah, maka Allah mengutus Muhammad
sebagai Nabi dan Rasul untuk membuat perubaha akan
yang signifikan di bidang akhlak itu. Menurut Rasulullah,
10 Mahmud Muhammad Bablili, al-Ushul al-Fikriyyah wa
al-Amaliyah li al Iqtishaq al-Islami, (Beirut: Dar al-Fikr,
2007), hlm. 30.

orang yang menerapkan etika dalam kehidupan, termasuk


dalam bisnis, akan mendapatkan keberuntungan, misalnya
orang yang bersedekah hartanya akan bertambah, orang
suka minta maaf akan mendapatkan kemuliyaan, dan
orang-orang yang tawadhu (rendah hati) akan ditinggalkan
derajatnya, sebagaimana sabdanya:




Dari Abu Hurayrah dari Rasulullah saw ia bersabda,
Tidaklah

sedekah

akan

mengurangi

harta,

tidaklah

seseorang memberi maaf kepada orang lain kecuali Allah


akan menambah kemuliyaannya, dan tidaklah seseorang
merendahkan

hati

karena

Allah

kecuali

Dia

akan

mengangkat derajatnya. (HR. Muslim dan al-Tirmidzi)


Sebaliknya, orang yang melanggar etika atau akhlak
mulia akan mendapatkan kerugian baik di dunia maupun di
akhirat, misalnya orang yang suka zalim kepada orang lain
atau orang yang kikir, tidak mau bersedekah karena
khawatir

hartanya

habis.

Rasulullah

pernah

memperingatkan agar umat islam menjauhi dua perangai


(sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran
dan

perbuatan,

watak

tidak

mengubahnya) negatif tersebut,

seorangpun

mampu

sebagaimana dalam

sabdanya:



Dari Jabir ibn Abd. Allah bahwasannya Rasulullah saw
bersabda,

Takutlah

kalian

pada

kezaliman

karena

sesungguhnya kezaliman itu merupakan kegelapan pada


hari

kiamat

dan

takutlah

pada

sikap

kikir

karena

sesungguhnya sikap kikir itu telah membinasahkan orangorang

sebelum

kalian

yang

menyebabkan

mereaka

menumpahkan darah (saling bunuh) dan mengharamkan


sesuatu yang diharamkan bagi mereka. (HR. Muslim)
Terdapat beberapa hal penting terkait dengn dasar etika
dalam bisnis syariah, yaitu :
1. Janji
2. Utang-Piutang
3. Tidak boleh menghadang orang desa di perbatasan
kota
4. Kejujuran dalm jual beli
5. Ukuran takaran dan timbangan
6. Perilaku hemat
7. Masalah upah
8. Mengambil hak orang lain
9. Memelihara bumi
10. Perintah berusaha
11. Batasan pengumpulan harta11
C. Konsep Etika Bisnis Islam
Bisnis merupakan bagian inheren yang amat penting bagi suatu
masyarakat. Secara sadar dan dengan berbagai cara, manusia terlibat
dalam aktivitas ekonomi. Oleh karena itu, bisnis bukanlah sesuatu yang

11 Ismail Nawawi Uha, Bisnis Syariah Pendekatan EKonomi dan


Manajemen Doktrin, Teori dan Praktik, (Jakarta: CV. Dwiputra
Pustaka Jaya, 2012) hlm 684

terpisah daru masyarakat, namun dengan segala kegiatannya merupakan


bagian yang integral dari masyarakat.12
Dalam menjalankan roda bisnis dan agar tidak saling merugikan ,
manusia memerlukan seperangkat nilai aturan yang dapat dijadikan
pegangan dalam aktivitas bisnisnya. Moral dapat dijadikan sebagai tolak
ukur dalam menilai perilaku manusia. Berbagai tindakan seperti
mengurangi timbangan, menipu, memanipulasi, dan sebagainya dapat
dianggap tidak bermoral, sedangkan tindakan lain seperti menolong orang
lain, memberikan sumbangan, sedekah, infak, dan sebagainya dianggap
sebagai tindakan yang bermoral.13Jadi setiap tindakan dapat ditinjau dari
segi moralnya.
Bisnis adalah kegiatan manusia dan karena itu harus dapat dinilai
dari sudut moral. Apabila di dunia bisnis seperti konsumen, distributor,
maupun produsen bertindak tidak bermoral, maka pasti seluruh kegiatan
bisnis akan segera terhenti. Moral adalah pelumas kegiatan masyarakat
dan kegiatan bisnis.Karena memang dalam dunia bisnis terdapat nilai-nilai
luhur yang harus diimplementasikan dan dipertahankan sebagaimana
dalam kehidupan pada umumnya. Bagi umat islam, nilai-nilai luhur itu
dapat ditemukan dalam ajaran Islam baik dalam Al-Quran dan Hadis
maupun yang telah dipraktikkan dan menjadi budaya di kalangan umat
Islam.
Oleh karena itu, tujuan etika bisnis Islam bukan untuk mengubah
keyakinan moral seseorang melainkan untuk meningkatkan keyakinan itu,
sehingga orang percaya pada diri sendiri dan akan memberlakukannya

12Idri, Hadis Ekonomi Ekonomi dalam Perspektif Hadis


Nabi, ( Jakarta: Prenadamedia Group, 2015) hlm 347
13 O.P Simorangkir, Etika Bisnis, (Jakarta: Yagrat, 1998
M), hlm 44

dalam dunia bisnis.14Pada dasarnya, etika bisnis Islam tidak lepas dari
pengaruh ajaran Islam. Etika bisnis Islam hadir sebagai wujud antisipasi
terhadap banyaknya penyimpangan dan kecurangan dalam dunia bisnis
misalnya penipuan, pengelapan, dan pemerasan yang kemudian menjadi
latar belakang munculnya etika bisnis. Etika bisnis dianggap memiliki
seperangkat alat yang mampu untuk mengubah hal-hal yang negatif
menjadi positif dalam dunia bisnis.
Konsep etika bisnis dalam Islam mempunyai titik tekan yang
berbeda dengan konsep etika bisnis konvensioal.Etika bisnis Islam
didasarkan pada Al-Quran dan Hadis, pemikiran para ulama dalam bentuk
Ijma ataupun Qiyas, dan pengalaman bisnis di kalangan umat
Islam.Sedangkan etika bisnis konvensional berdasar atas hasil pemikiran
para filsuf dan keadaan masyarakat yang memaksa dibuatnya aturanaturan moralitas dalam bidang bisnis. Konsep etika bisnis Islam dapat
dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, konsep ketuhanan.Dalam dunia Islam, konsep ketuhanan
melekat dalam setiap aktivitas bisnis.Manusia diwajibkan melaksanakan
tugasnya

terhadap

Allah

baik

dalam

bidang

ibadah

maupun

muamalah.Dalam bisnis Islam, ajaran Allah meletakkan konsep dasar halal


dan haram yang berkenaan dengan transaksi.Dalam sumber-sumber ini,
dapat diperoleh etika bisnis Islam, seperti nilai-nilai moralitas yang
menyeru manusia kepada kebenaran dan kebaikan, kesabaran dan akhlak,
serta mencegah mereka dari kepalsuan, penipuan, kecurangan, kejahatan,
dan kemungkaran.
Kedua, konsep kepemilikan harta.Pandangan Islam terhadap harta
adalah bahwa pemilik mutlak terhadap segala sesuatu yang ada di muka
bumi ini, termasuk harta benda, adalah Allah.Kepemilikan oleh manusia
hanya bersifat relative, sebatas untuk melaksanakan amanah mengelola
14 Ibid hal 46

10

dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya.Konsep kepemilikan


harta

tersebut

tidak

ditemukan

dalam

sistem

ekonomi

konvensional.Kapitalisme menonjolkan kepemilikan pribadi (individu)


yang akhirnya mengarah pada sistem perusahaan bebas (free enterprise
system), sedangkan sosialisme menonjolkan kepemilikan bersama
(kolektif) yang akhirnya mengarah pada komunisme.15
Ketiga, konsep benar dan baik. Menurut Islam, kebenaran adalah ruh
keimanan, ciri utama orang yang mukmin , bahkan ciri para Nabi. Tanpa
kebenaran, agama tidak akantegak dan tidak akan stabil. Sebaliknya,
kebohongan atau kedustaan adalah bagian daripada sikap orang
munafik.Bencana terbesar di dalam pasar saat ini adalah meluasnya
tindakan dusta dan batil, misalnya berbohong dalam mempromosikan
barang dan menetapkan harga.Oleh karena itu, salah satu karakter
pedagang

yang

terpenting

dan

diridhai

oleh

Allah

ialah

kebenaran.16Berbeda dengan konsep etika Islam, etika konvensional


terdapat dalam diri manusia sendiri.Ukuran benar atau salah terdaapat
dalam alat kekuasaan jiwa manusia yakni akal, rasa, dan kehendak
(subyektif), serta kodrat manusia (obyektif).
Keempat, konsep tanggung jawab.Islam sangat menekankan konsep
tanggung jawab dalam kehidupan manusia. Manusia mendapat karunia
Allah yang luar biasa dan tidak dimiliki oleh makhluk lain karena adanya
pertanggungjawaban di pundak mereka. Mereka menjadi khalifah di muka
bumi, membangun, memakmurkan, dan menikmati banyak kenikmatan di
muka bumi.Manusia dapat mengeksploitasi alam untuk kepentingan
mereka dengan kecanggihan ilmu dan teknologi.Hanya saja, manusia tidak
15 Muhammad SyafiI Antonio, Bank Syariah dari Teori
ke Praktif (Jakarta: Gema Insani Pers, 2001 M.), hlm 55
16 Yusuf al-Qardhawi, Daur al-Qiyam wa al-Akhlaq fi alIqtishad al-Islami, (Kairo: Maktabah Wahbah, 1995 M.),
hlm 75-76

11

boleh lupa bahwa aka nada pertanggungjawabannya baik di dunia maupun


di akhirat kelak.
Menurut Islam, segala aktivitas bisnis hendaklah dilakukan dengan
penuh tanggung jawab. Tanggung jawab muncul karena manusia adalah
makhluk mukalaf, yaitu makhluk yang diberi beban hokum berbeda
dengan makhluk lain seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Karena
itulah manusia harus mempertanggungjawaban segala aktivitasnya.
Kelima, konsep kejujuran.Dasar setiap usaha menjadi orang kuat
secara moral adalah kejujuran.Kejujuran merupakan kualitas dasar
kepribadian moral. Tanpa kejujuran, seseorang tidak dapat maju selangkah
pun karena ia belum berani menjadi diri sendiri. Tanpa kejujuran,
keutamaan mmoral lainnya kehilangan nilainya.Dalam ajaran Islam,
kejujuran

merupakan

syarat

paling

mendasar

dalam

kegiatan

bisnis.Rasulullah bsangat menganjurkan kejujuran dalam segala bentuk


aktivitas bisnis. Menurut Nabi, kejujuran akan membawa kepada
kebajikan dan kebajikan akan membawa pada surga. Rasulullah melarang
segala bentuk aktivitas bisnis yang dilakukan dengan penipuan karena
penipuan dapat merugikan orang lain dan melanggar hak asasi dalam
bisnis yaitu suka sama suka. Orang yang tertipu jelas tidak suka karena
haknya dikurangi atau dilanggar.
Seorang pembisnis harus berlaku jujur yang dilandasi keinginan agar
orang lain mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan sebagaimana ia
menginginkannya dengan cara menjelaskan kelemahan, kekurangan, serta
kelebihan barang yang ia ketahui kepada orang atau mitranya, baik yang
terlihat maupun yang tidak erlihat oleh orang lain. Lawan sifat jujur adalah
menipu

(curang),

yaitu

menonjolkan

keunggulan

barang

tetapi

menyembunyikan cacatnya.
Keenam, konsep keadilan. Keadilan merupakan kesadaran dan
pelaksanaan untuk memberikan kepada pihak lain sesuatu yang sudah

12

semestinya harus diterima oleh pihak lain itu, sehingga masing-masing


pihak mendapat kesempatan yang sama untuk melaksanakan hak dan
kewajibannya tanpa mengalami rintangan atau paksaan, memberi dan
menerima yang selaras dengan hak dan kewajibannya. Adil pada
hakikatnya adalah bahwa kita memberikan kepada siapa saja apa yang
menjadi haknya. Tuntutan paling dasar keadilan adalah perlakuan sama
terhadap semua orang, tentu dalam situasi yang sama. Misalnya, seseorang
menjual barang dagangannya dengan kualitas, jumlah, ukuran serta waktu
yang sama pada orang lain dengan harga yang murah, maka hal tersebut
juga harus dilakukan kepada orang lainnya.
Islam sendiri menerapkan etika-etika dalam berbisnis.Etika ini tidak
bertujuan untuk menyusahkan atau membelenggu manusia dengan
peraturan-peraturan yang menghambat kreativitas.Etika tak hanya
bertujuan untuk kesejahteraan penjual maupun pembeli, namun juga
memperoleh ridha Allah SWT.
D. Etika Bisnis Rasulullah
Dalam lingkungan bisnis, etika memegang peranan penting. Sebab jika
tidak, tatanan interaksi muamalahakan hancur dengan mudah.
Rasulullah SAW telah menunjukkan keteladanan yang mempesona
sepanjang masa.Berbisnis bukan sekedar main hantam terjun ke dunia
bisnis

kemudian

mencari

keuntungan

sebanyak-banyaknya

tanpa

mempedulikan dengan tingkah laku bisnis kita atau tidak.


Perilaku Rasulullah yang jujur, transparan, dan pemurah, merupakan
kunci keberhasilannya mengelola bisnis Khadijah ra.17Ini adalah contoh
konkrit tentang moral dan etika dalam bisnis.Beliau adalah suri teladan
dalam segla bidang.Teladan yang agung, karena beliau tak hanya pawai
berkata-kata, namun juga pintar merealisasikannya.
17 Malahayati, Rahasia Sukses Bisnis Rasulullah,
(Yogyakarta: Percetakan Galangpress) hlm 59

13

Bisnis Islami pada hakikatnya selalu memegang asa keadilan dan


keseimbangan.Selain itu juga telah dicontohkan aplikasi nilai-nilai Islam
dalam mengelola bisnis oleh Nabi Muhammad SAW, agar berhasil baik di
dunia ataupun di akhirat.Nilai-nilai bisnis Islam telah menjadi tren dalam
mengendalikan tujuan dan harapan ekonomi dalam jangka panjang.Dengan
mengedepankan kejujuran, kepercayaa, keadilan, profesionlisme, dan
komunikasi yang baik, maka muncul spirit moral dalam bisnis sehingga
melahirkan bisnis atau usaha yang diberkahi.

E. Larangan dalam Muamalah (ekonomi) : 18


1. Tidak boleh mempergunakan cara-cara batil, seperti menipu.
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian
yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah)
kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat
memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan
(jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.(Al-Baqarah: 188)
2. Tidak boleh melakukan kegiatan riba.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang
yang beriman.(Al-Baqarah: 278)
3. Tidak boleh dengan cara-cara zalim.
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.19 Yaitu
orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain
18 Didin Hafidhuddin, Islam Aplikatif, (Jakarta: Gema
Insani 2003) hlm 62

14

mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau


menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orangorang

itu

menyangka,

bahwa

Sesungguhnya

mereka

akan

dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar.Yaitu hari (ketika)


manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.(Al-Muthafifin:
1-6)
4. Tidak boleh dengan cara spekulasi/berjudi.
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum)
khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan
panah[434], adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah
perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan
.Sesungguhnya

syaitan

itu

bermaksud hendak

menimbulkan

permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum)


khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat
Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan
pekerjaan itu).(Al-Maidah: 90-91)
5. Tidak boleh melakukan transaksi jual beli barang haram.
6. Dalam kegiatan usaha dengan cara bagi hasil tidak boleh ditetapkan
keuntungan terlebih dahulu secara pasti.
E. Praktik Etika Bisnis Islami
Dalam praktik bisnis ada beberapa nilai etika Islam yang dapat mendorong
bertumbuhnya dan suksesnya bisnis, yaitu :
1. Konsep Iman, Islam dan Ihsan dalam bisnis

19Yang dimaksud dengan orang-orang yang curang


disini ialah orang-orang yang curang dalam menakar
dan menimbang.

15

Dalam bisnis harus dilandasi berbagai rukun iman yang


aplikasikan sebagaimana di jelaskan pada doktrin bisnis. Disamping
itu di dasari keimanan dalam bisnis di dasari juga dengan aspek
hukun Islam yang tercantum dalam doktrin bisnis juga. Aplikasi Iman
dan Islam dalam kehidupan bisnis adalah Ihsan bisnis.
2. Ketelitian dan Keteraturan dalam Bisnis
Dalam praktik bisnis ketelitian dan keteraturan (itqan) artinya
membuat sesuatu dalam bisnis dengen teliti dan teratur, menjaga
kualitas produk yang dihasilkan, adakan penelitian dan pengawasan
kualitas sehingga hasilnya maksimal.
3. Hemat Dalam Bisnis
Apa yang diunggulkan oelh Protesan ethics-nya Weber,
sebenarnya adalah konsep Islam, yang sejak 14 abad yang lalu telah
diajarkan Rasulullah saw kepada umatnya. Kita harus hemat, jangan
boros, pekerjan memboros-boroskan harta adalah teman syaitan. Kita
harus hemat dengan harta tapi tidak kikir dan tidak menggunakannya
kecuali untuk sesuatu yang benar-benar bermanfaat.
4. Kejujuran dan Keadilan Dalam Bisnis
Kejujuran yang ada pada diri seseorang membuat orang lain
senang berteman dan berhubungan dia. Sehingga akan memupuk
relasi yang sangat berpengaruh pada kemajuan bisnis dalam jangka
panjang. Sedangkan keadilan perlu diterapkan misalnya terhadap
para karyawan ada aturan yang jelas tentang upah, dengan prinsip
keadilan itu, tidak membeda-bedakan manusia yang satu dengan
yang lain.
5. Kerja Keras Dalam Bisnis

16

Rasulullah saw sangat terkenal dengan pelaksanaan konsep ini.


Kita mengetahui bagaimana Rasulullah saw masa kecilnya telah
mulai bekerja keras menggembala domba orang-orang Makkah, dan
beliau menerima upah dari gembalaan itu. Setelah umur 12 tahun
beliau mulai berdagang bersama khalifahnya dari satu kota ke kota
lain. Sangat dianjurkan bekerja keras itu dilakukan pada saat pagi
hari. Setelah shalat subuh, janganlah kalian tidur, tapi carilah rizki
dan rabmu. Simbol tali dan kampak adalah lambing kerja keras,
yang dicontohkan Rasulullah saw kepada umatnya dan agar tidak
hanya berpangku tangan dengan mengharapkan belas kasihan dari
orang lain.20

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Etika bisnis adalah tuntutan nasehat etis manusia dan tidak bisa
dipenggal atau ditunda untuk membenarkan tindakan yang tidak adil dan
tidak bermoral. Sebagai seorang muslim yang memeluk agama Islam etika
bisnis harus benar-benar dijunjung tinggi. Beberapa hadist dan ayat-ayat di alquran telah menjelaskan tentang bagaimana pentingnya penerapan etika
bisnis dalam perekonomian. Di dalam etika bisnis diajarkan cara melakukan
bisnis yang benar sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw kepada
para umatnya.

20 Ismail Nawawi Uha, Bisnis Syariah Pendekatan EKonomi dan


Manajemen Doktrin, Teori dan Praktik, hlm 701-703

17

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Charris Zubair. 1997. Kuliah Etika. Jakarta: Rajawali Pers.


Ali Hasan. 2009. Manajemen Bisnis Syariah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Buchari Alma. 2001. Ajaran Islam dalam Bisnis. Bandung: Alfabeta.
Dawam Raharjo. 1990. Etika Ekonomi dan Manajemen. Yogyakarta: Tiara
Wacana.
Didin Hafidhuddin. 2003. Islam Aplikatif. Jakarta: Gema Insani.

18

Endang Syaifuddin Anshari. 2002. Pokok-pokok Pikiran tentang Islam dan


Umatnya. Bandung: Pustaka Pelajar.
Idri. 2015. Hadis Ekonomi Ekonomi dalam Perspektif Hadis Nabi. Jakarta:
Prenadamedia Group.
Ismail Nawawi Uha. 2012. Bisnis Syariah Pendekatan EKonomi dan Manajemen
Doktrin. Teori dan Praktik. Jakarta: CV. Dwiputra Pustaka Jaya.
Kusnadi. et al.. 1998. Pengantar Bisnis dengan Pendekatan Kewiraswastaan.
Malang: STAIN Pers.
Kwik Kian Gie. 1992. Etika Bisnis Cina: Suatu Kajian Terhadap Perekonomian
di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mahmud Muhammad Bablili. 2007. al-Ushul al-Fikriyyah wa al-Amaliyah li al


Iqtishaq al-Islami. Beirut: Dar al-Fikr.
Malahayati. 2012. Rahasia Sukses Bisnis Rasulullah. Yogyakarta: Percetakan
Galangpress.
Muhammad SyafiI Antonio. 2001 M. Bank Syariah dari Teori ke Praktif. Jakarta:
Gema Insani Pers.
Mustaq Ahmad. 2001. Business Ethics in Islam. terj. Samson Rahman. Jakarta:
Pustaka al-Kautsar.
O.P Simorangkir. 1998 M. Etika Bisnis. Jakarta: Yagrat.

19

Yusuf al-Qardhawi. 1995 M. Daur al-Qiyam wa al-Akhlaq fi al-Iqtishad alIslami. Kairo: Maktabah Wahbah.

20