Anda di halaman 1dari 3

Kasus Gayus ”Markus” Pajak

…. Dan Keadilan Pun untuk Semua

Oleh Syaiful W. Harahap*

Sebagai seorang pembela Arthur Kirkland masuk bui karena dakwaan menghina
pengadilan. Pembela di Baltimore, AS, yang mudah marah ini melemparkan pukulan ke
hakim Henry T. Fleming ketika berdebat pada sidang pengadilan dengan terdakwa Jeff
McCullaugh (Thomas G. Waites). Pesakitan ini didakwa karena pelanggaran lalu lintas,
tapi kemudian didakwa juga sebagai pembunuh. Dia sudah satu setengah tahun dibui.
Sebagai pengacara Kirkland berupaya untuk mengajukan peninjuan kembali kasus
McCullaugh karena ada bukti baru. Tapi, Hakim Fleming menolak banding Kirkland.
Kirkland menangani kasus lain. Suatu hari Kirkland kaget karena dia diminta
untuk membela Hakim Fleming. Hakim ini disidang karena kasus tududuhan
pemerkosaan. Padahal, selama ini mereka dikenal publik sebagai ’musuh bebuyuatan’ di
persidangan. Rupanya, Hakim Fleming melihat kalau Kirkland membelanya maka
masyarakat akan percaya bahwa dia memang tidak bersalah. Kirkland tidak bisa menolak
karena ada ’ancaman’ pemecatan terhadap dirinya.
Walaupun Kirkland sebagai pengacara sudah diingatkan agar tidak mengkhianatii
kliennya, dalam hal ini Hakim Fleming, tapi Kirkland tidak bergeming. Berdasakan
bukti-bukti yang ada Kirkland justru menguatkan kesalahan kliennya. Pengacara ini
‘mengirim’ musuh bebuyutannya itu ke bui.
Tapi, tunggu dulu. Itu adegan di film …. And Justice for All. Film ini diproduksi
tahun 1979. Kirkland diperankan oleh aktor Al Pacino. Hakim Fleming diperankan oleh
John Forsythe.
Kenyataan itu sangat berbeda dengan pemandangan yang selama ini terjadi di
ruang sidang pengadilan. Pengacara akan mati-matian membeli kliennya agar lolos dari
jerat hukum.
Kita teringat kembali ke film lama ini ketika pengacara Adnan Buyung Nasution,
yang akrab dipanggil Bang Buyung, menjadi pembela Gayus Tambunan, pegawai Ditjen
Pajak, Kemenkeu RI, yang terkait dengan ’makelar kasus’ (Marksu) pajak. Dengan

1
pangkat/golongan III-A yang masa kerjanya baru lima tahun pegawai Ditjen Pajak ini
sudah menorehkan angka miliaran rupiah di rekening tabungannya serta memilik rumah
dan mobil berharga ratusan juta rupiah.
Pertanyaannya kemudian adalah: ”Apakah Bang Buyung mau atau bisa meniru
jejak Kirkland?” Inilah pertanyaan yang sangat mendasar. Soalnya, selama ini pengacara
hanya burusaha untuk membebaskan klinennya dari semua dakwaan jaksa agar divonis
bebas oleh hakim.
Ada ’angin sorga’ ketika Bang Buyung mengatakan bahwa dia bersedia menjadi
pembela Gayus asalkan Gayus jujur. Putri Bang Buyung, Pia, yang menjadi anggota tim
pengacara Gayus pun mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah menjanjikan vonis bebas
bagi kliennya.
Memang, apa pun keselahan seseorang dia tetap berhak mendapatkan perlakuan
yang adil di depan hukum dengan asas praduga tidak bersalah. Inilah yang menjadi pintu
masuk bagi Bang Buyung untuk menerima permintaan keluarga Gayus untuk membela
pesakitan itu.
Tapi, di balik semua hak-hak formal Gayus dan koruptor lain ada duka yang
sangat mendalam bagi negeri ini. Uang rakyat yang dikumpulkan sebagai pajak melalui
Ditjen Pajak yang akan dipakai memutar roda pembangunan justru masuk ke kocek
pegawai dan orang-orang lain yang terkait dengan sindikat ’mafia pajak’. Miliran rupiah
uang pajak untuk dana pembangunan nasional menguap di Ditjen Pajak.
Maka, tidak mengherankan kalau kemudian muncul upaya menggalang ’kekuatan
sosial’ melalui dunia maya untuk menolak membayar pajak. Ini pun akan membuka
wacara pro dan kontra. Celakanya, lagi banyak orang yang berteriak ”Stop Pinjaman Luar
Negeri” tapi dia sendiri tidak (pernah) membayar pajak.
Ada yang luput dari cara berpikir bangsa ini yaitu filosofi pajak itu sendiri. Kita
patut bertanya: Apakah semua pengawai Ditjen Pajak mengetahui filosofi pajak? Kalau
pegawai Ditjen Pajak memahami filososi pajak secara komprehensif tentulah ada ’rem
moral’ pada diri mereka untuk tidak menyabet uang rakyat itu. Filosofi pajak ini akan
membuka pradigma dalam melihat kewajiban sebagai warga negera. Pajak merupakan
bakti untuk negeri, tapi sayang digarong para koruptor dan ’markus’ pajak.

2
Namun, kita ragu-ragu apakah alam proses pendidikan formal dan pembinaan
internal pegawai Ditjen Pajak filosofi pajak dikedepankan. Pada mulanya pajak
merupakan ’kesepakatan’ antara penguasa (pemerintah) dan rakyat. Ketika seseorang
menghasilkan uang maka dia diminta menyisihkan sebagai penghasilannya untuk negara.
Sebaliknya, jika dia tidak bisa menghasilkan lagi maka negara wajib menyantuninya.
Maka, di banyak negara penduduknya akan sumringah (berseri-seri) membayar pajak
karena merupakan ’tabungan’.
Taip, lain dengan Indonesia. Selain sebagai negara paling korup di kawasan Asia
Pasifik pengembalian pajak pun tidak menyentuh kehidupan rakyat banyak. Bahkan,
uang pajak rakyat justru ditilep oleh pegawai negara.
Di pihak lain banyak orang yang menikmati pembangunan dari uang pajak rakyat
tapi tidak membayar pajak. Bahkan, banyak orang yang memiliki harta yang banyak,
rumah mewah, mobil mentereng tapi tidak mempunyai nomor pokok wajib pajak
(NPWP). Sudah saatnya pemerintah menjadikan nomor induk kependudukan (NIK)
menjadi NPWP sehingga semua penduduk otomatis menjadi wajib pajak.
Selain pengawasan upaya memberatas korupsi di negeri ini juga dapat dilakukan
oleh setiap individu. Seorang ayah atau mertua, misalnya, mau bertanya kepada anak atau
menantunya jika melihat anak atau menantunya memiliki uang atau harta yang melebihi
penghasilannya. Namun, yang terjadi di negeri ini orang tua atau mertua justru gembira
jika melihat anak atau menantunya memiliki harta yang berlimpah.
Bagi pengawai negeri yang korupsi dan masyarakat yang tidak membayar pajak
perlu dipikirkan hukuman kerja sosial selain hukuman penjara dan denda. Para koruptor
dan ’markus’ pajak diwajibkan menyapu jalan raya di siang hari, membersihkan kaca
jendela kantor pemerintah, menguras WC umum atau rumah-rumah ibadah dengan
seragam khusus bertuliskan: ”Saya Narapidana Korupsi”. (Syaiful W. Harahap,
koresponden Harian ”Swara Kita” di Jakarta)