Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN AKHIR

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA


JUDUL PROGRAM
ExEllen (Extract of Eggshell Membrane) Pemanfaatan Ekstrak Membran
Cangkang Telur Bebek (Anas moscha)sebagai Agen Antiinflamasi pada
Reversible Pulpitis:Kajian In Vivo pada Tikus Sprague Dawley

BIDANG KEGIATAN :
PKM PENELITIAN (PKM-P)

Diusulkan oleh :
Ketua
:
Anggota :

Risa Widya Iswara


Bina Rizka Maulida
Novaria
Rika Ayu Putri Virawati
Veri Anggara Saputri

(13/345947/KG/9501)
(13/349822/KG/9583)
(12/335582/KG/9296)
(12/335501/KG/9264)
(12/335552/KG/9289)

Angkatan 2013
Angkatan 2013
Angkatan 2012
Angkatan 2012
Angkatan 2012

UNIVERSITAS GADJAH MADA


YOGYAKARTA
2015

ii

ABSTRAK
Pulpitis merupakan salah satu penyakit pulpa yang memiliki prevalensi
cukup tinggi, menurut data Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2010, penyakit
pulpa menduduki urutan ketujuh dari sepuluh penyakit terbanyak pada pasien
rawat jalan rumah sakit di Indonesia. Pulpitis adalah inflamasi pada jaringan pulpa
gigi yang umumnya merupakan kelanjutan dari proses karies. Reversible
pulpitisterjadi pada awal inflamasi jaringan pulpa, apabila penyebabnya
dihilangkan maka pulpa akan kembali normal. Reversible pulpitisapabila tidak
segera ditangani dapat berlanjut lebih parahbahkan dapat menjadi nekrosis.
Membran cangkang telur bebek yangselama ini dianggap sebagai limbah,
ternyata mengandung kondroitin sulfat, glukosamin, dan asam hyaluronat yang
memiliki efek antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas
antiinflamasi ekstrak membran cangkang telur bebek pada reversible pulpitistikus
Sprague Dawley.
Ekstrak membran cangkang telur diekstraksi dengan metode maserasi
menggunakan etanol 70%. Tikus Sprague Dawley dibagi menjadi 3 kelompok
perlakuan yaitu kelompok kontrol positif, kelompok kontrol negatif dan kelompok
perlakuan dengan ekstrak membran cangkang telur. Tikus Sprague Dawley
diinduksi pulpitis dengan cara gigi tikus Sprague Dawley dipreparasihingga
kedalaman 0,8 mm. Ekstrak membran cangkang telur konsentrasi
70%diaplikasikan pada kavitas dan ditumpat dengan semen ionomer kacafuji
VII.Tikus Sprague dawleydikorbankan pada hari ke-1, ke-3, ke-5, ke-7 dan ke-14,
dan diambil jaringannya untuk dibuat sediaan histologis. Evaluasi inflamasi
dilakukan dengan menghitung jumlah sel netrofil dan makrofag, serta menilai
kondisilapisan odontoblas dengan menggunakan mikroskop cahaya.

Kata kunci: Reversible pulpitis, ekstrak membran cangkang telur bebek

iii

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ ii
ABSTRAK .......................................................................................................... iii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ............................................................................................... v
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ................................................................................ 2
1.3. Tujuan .................................................................................................. 2
1.4. Urgensi Penelitian ................................................................................ 2
1.5. Temuan yang Ditargetkan dan Kontribusi ........................................... 2
1.6. Luaran yang Diharapkan ...................................................................... 2
1.7. Manfaat ................................................................................................ 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pulpa............................................................................................................. 3
2.2. Reversible pulpitis ........................................................................................ 3
2.3. Membran Cangkang Telur Bebek ................................................................ 4
2.4. Manfaat Kandungan Membran Cangkang Telur Bebek .............................. 4
BAB III. METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi Penelitian .................................................................................. 5
3.2. Jenis Penelitian ..................................................................................... 5
3.3. Identifikasi Variabel Penelitian ............................................................ 5
3.4. Subyek Penelitian ................................................................................. 5
3.5. Alat dan Bahan Penelitian .................................................................... 5
3.6. Jalannya Penelitian ............................................................................... 6
BAB IV. HASIL YANG DICAPAI DAN POTENSI KHUSUS.... 8
BAB V. PENUTUP. 10
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 11
LAPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1 : Penggunaan dana .................................................................... 12
Lampiran 2 : Bukti-bukti pendukung kegiatan ............................................ 14

iv

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Alat dan Bahan Penelitian .................................................................... 5
Tabel 2. Penilaian Kondisi Lapisan Sel Odontoblas .......................................... 7
Tabel 3. Hasil uji ANAVA jumlah makrofag ..................................................... 8
Tabel 4. Hasil uji ANAVA jumlah netrofil ......................................................... 8
Tabel 5. Hasil uji Kruskal-Wallis........................................................................ 8
Tabel 6. Penggunaan Dana.................................................................................. 12

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pulpitis merupakan salah satu penyakit pulpa yang memiliki
prevalensi cukup tinggi di Indonesia, menurut data Profil Kesehatan
Indonesia Tahun 2010, penyakit pulpa menduduki urutan ke-tujuh dari
sepuluh penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit di
Indonesia tahun 2010 dengan jumlah kunjungan sebanyak 163.211 pasien.
Selama ini pulpitis ditentukan dengan adanya keluhan rasa sakit yang
sifatnya subyektif. Secara patofisiologik, pulpitis dibagi menjadi reversible
pulpitis dan irreversible pulpitis. Hal penting dalam menentukan diagnosis
pulpitis adalah jaringan pulpa tersebut masih dapat dipertahankan atau
sudah tidak dapat dipertahankan lagi (Widodo,2005).
Reversible pulpitis adalah keadaan klinis yang berhubungan dengan
indikasi subyektif dan obyektif adanya inflamasi ringan dalam jaringan
pulpa. Reversible pulpitis dapat disebabkan oleh trauma, syok termal yang
timbul pada waktu melakukan preparasi kavitas, dan karies. Apabila
penyebab dihilangkan, inflamasi akan mereda dan pulpa akan kembali ke
keadaan normalnya (Torabinejad et al., 2014). Namun, apabila reversible
pulpitis dibiarkan dan tidak segera ditangani bisa menyebabkan pulpitis
lebih parah, bahkan menjadi nekrosis. Menurut (Ngangi et al., 2013),
nekrosis dapat berawal dari reversible pulpitis, kemudian berkembang
menjadi irreversible pulpitis dan akhirnya menjadi nekrosis pulpa. Hal ini
bisa disebabkan oleh oral hygiene yang buruk, kesadaran akan merawat gigi
yang kurang, kurangnya DHE, dan faktor lainnya.
Perawatan yang dilakukan pada reversible pulpitis adalah kaping
pulpa direk atau kaping pulpa indirek (Tarigan, 2006). Kalsium hidroksida
merupakan bahan kaping pulpa yang biasa digunakan di praktik kedokteran
gigi. Penggunaan bahan ini akan memicu pembentukan dentin reparatif.
Namun, kalsium hidroksida mempunyai kelemahan karena menyebabkan
nekrosis jaringan pulpa sekitar 1,5 mm dari lapisan paling superfisial pulpa.
Hal tersebut dikarenakan bahan ini mempunyai pH sangat tinggi yaitu 12,5
sehingga mengakibatkan nekrosis lekuefaksi pada jaringan pulpa (Mellisa
etal., 2011). Mengingat adanya efek negatif yang ditimbulkan dari bahan
tersebut, maka perlu adanya suatu penelitian untuk menemukan bahan lain
yang dapat menyembuhkan reversible pulpitis tanpa menimbulkan nekrosis.
Di Indonesia, jumlah konsumsi telur bebek sangat banyak. Hal ini
menyebabkan banyak terdapat limbah membran cangkang telur. Membran
cangkang telur yang selama ini hanya dibuang begitu saja ternyata
mengandung kondroitin sulfat, glukosamin, dan asam hyaluronat yang
diketahui memiliki efek antiinflamasi (Devore and Long, 2013). Adanya

1.2.

1.3.

1.4.

1.5.

1.6.

1.7.

kandungan tersebut pada membran cangkang telur, maka diduga membran


cangkang telur dapat berfungsi sebagai agen antiinflamasi yang dapat
digunakan dalam perawatan reversible pulpitis.
Rumusan Masalah
1. Apakah ekstrak membran cangkang telur bebek memiliki aktivitas
antiinflamasi pada reversible pulpitis?
2. Bagaimana jumlah sel netrofil dan makrofag setelah aplikasi ekstrak
membran cangkang telur bebek?
3. Bagaimana struktur sel odontoblas pada pulpa gigi setelah aplikasi
ekstrak membran cangkang telur bebek?
Tujuan
Tujuan dari usulan penelitian yang diajukan adalah untuk menguji
efektivitas antiinflamasi ekstrak membran cangkang telur bebek pada
reversible pulpitis tikus Sprague Dawley.
Urgensi Penelitian
Urgensi penelitian dari usulan program penelitian ini adalah mengetahui
serta memanfaatkan membran cangkang telur bebek yang biasanya
merupakan limbah, sebagai agen antiinflamasi pada reversible pulpitis.
Mengingat bahwa Ca(OH)2 mempunyai efek negatif, yaitu bisa
menyebabkan nekrosis pulpa, maka perlu dilakukan penelitian ini untuk
mencari alternatif bahan kaping pulpa.
Temuan yang Ditargetkan dan Kontribusi
Temuan yang ditargetkan dari program penelitian ini adalah untuk
menghasilkan obat alami untuk reversible pulpitis tanpa memiliki efek
samping bagi kesehatan. Adapun kontribusi yang diharapkan terhadap ilmu
pengetahuan kedokteran gigi adalah menambah khasanah keilmuan bidang
farmakologis untuk menunjang kesehatan gigi dan mulut serta memberikan
solusi mudah dan murah untuk pengobatan reversible pulpitis.
Luaran yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari usulan program ini adalah memanfaatkan
membran cangkang telur bebek sebagai agen antiinflamasi pada radang
pulpa atau reversible pulpitisyang berujung pada artikel ilmiah terakreditasi
dan potensi paten.
Manfaat
1. Memberikan informasi mengenai ekstrak membran cangkang telur
bebek sebagai bahan alternatif dalam mempercepat penyembuhan
inflamasi pada radang pulpa atau reversible pulpitis.
2. Memberikan dukungan ilmiah bagi pengembangan penelitian
selanjutnya mengenai pengaruh pemberian ekstrak membran cangkang
telur bebek sebagai agen antiinflamasi pada radang pulpa atau reversible
pulpitis.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pulpa
Pulpa adalah jaringan mesenkimal yang didalamnya terdapat
odontoblas dan dikelilingi oleh jaringan termineralisasi (Nor,2006). Sel utama
pada pulpa adalah odontoblas, fibroblas, sel ektomesenkimal yang tidak
berdeferensiasi dan sel imun seperti makrofag, sel plasma dan sel mast
(Nanci,2008). Secara histologis pada tepi pulpa terdapat lapisan palisade sel
odontoblas yang berbentuk kolumner (Ingle dan Bakland,2002).
Odontoblas
Odontoblas adalah sel yang berasal dari sel mesenkimal tepi pada
papila dental (Ingle dan Bakland, 2002). Sel ini merupakan sel pertama yang
merespon jejas yang berasal dari dentin karena letaknya berada di tepi pulpa
(Nancy,2008; Ingle dan Bakland,2002). Jumlah odontoblas pada bagian
koronal lebih banyak dibandingkan pada bagian akar (Torabinejad dan
Walton,2014). Odontoblas berperan pada pembentukan jaringan
termineralisasi (Arana-Chavez dan Massa,2004). Pada bagian koronal, badan
sel odontoblas berbentuk kolumnar, sedangkan pada bagian tengah sel
berbentuk kuboid dan bagian apikal berbentuk pipih (Nanci,2008).
Odontoblas terdiri dari dua komponen utama, yaitu prosesus dan badan sel
(Torabinejad dan Walton,2014).
2.2. Reversible Pulpitis
Reversible pulpitis adalah keadaan klinis yang berhubungan dengan
indikasi subyektif dan obyektif adanya inflamasi ringan dalam jaringan pulpa.
Apabila penyebab dihilangkan, inflamasi akan mereda dan pulpa akan
kembali ke keadaan normalnya (Torabinejad et al.,2014). Namun, apabila
reversible pulpitis dibiarkan dan tidak segera ditangani bisa menyebabkan
pulpitis lebih parah, yaitu bisa menjadi nekrosis. Menurut (Ngangiet al.,
2013), Nekrosis dapat berawal dari reversible pulpitis, kemudian berkembang
menjadi irreversible pulpitis dan akhirnya menjadi nekrosis pulpa. Hal ini
bisa disebabkan oleh oral hygiene yang buruk, kesadaran akan merawat gigi
yang kurang, kurangnya Dental Health Education (DHE), dan faktor lainnya.
Reversible pulpitis dapat disebabkan oleh banyak hal yang mampu
melukai pulpa, diantaranya adalah trauma, syok termal timbul pada waktu
melakukan preparasi kavitas dengan bur tumpul atau membiarkan bur terlalu
lama berkontak dengan gigi atau karena panas berlebihan pada waktu
memoles tumpatan,dehidrasi kavitas dengan alkohol atau kloroform yang
berlebihan, rangsangan pada leher gigi yang dentinnya terbuka, stimulus
kimiawi misalnya bahan makan manis serta bakteri, misalnya dari karies
(Grossman,1995).

Reversible pulpitis dapat berkisar dari hiperemia ke perubahan


inflamasi ringan sampai sedang terbatas pada daerah dimana tubuli dentin
terlibat, seperti misalnya karies dentin. Secara mikroskopis, terlihat dentin
reparatif, gangguan lapisan odontoblas, pembesaran pembuluh darah,
ekstravasi cairan edema, dan adanya sel inflamasi kronis yang secara
imunologis kompeten. Meskipun sel inflamasi kronis menonjol, dapat dilihat
juga sel inflamasi akut (Grossman, 1995).
2.3. Membran Cangkang Telur Bebek
Cangkang telur Bebek memiliki dua lapisan membran yaitu membrane
cangkang di sebelah dalam (inner shell membrane) dan membran cangkang di
sebelah luar (outer shell membrane). Setiap lapisan tersebut tersusun dari
serat yang menyelubungi albumen. Pada inner shell membrane merupakan
area yang mengapur terdiri dari sel berbentuk kerucut tidak beraturan yang
berhubungan dengan lapisan mammilary knob yang mana bagian puncaknya
dipenetrasi oleh serat membran bagian luar. Pada outer shell membrane,
mengandung selaput tipis kristal hidroksiapatit pada lapisan bagian dalam,
dan bagian terbesar (2/3) dari pigmen superfisial cangkang telur (Nyset al.,
2004). Membran cangkang telur telah dimanfaatkan sebagai terapi alami
untuk radang sendi dan suplemen makanan untuk penguat sendi dan jaringan
ikat (Ruff et al., 2009).
2.4. Manfaat Kandungan Membran Cangkang Telur Bebek
Komponen utama membran cangkang telur adalah serabut protein
seperti kolagen tipe 1. Selain itu membran cangkang telur juga memiliki
kandungan glikosaminoglokan seperti dermatan sulfat, kondroitin sulfat,
asam hialuronik, dan glikoprotein sulfat serta heksosamines seperti
glukosamin (Benson etal., 2012). Menurut penelitian, membran kulit telur
memiliki efek terapeutik karena bersifat antiinflamasi. Sifat tersebut
dipengaruhi oleh adanya kandungan kondroitin sulfat, glukosamin dan asam
hyaluronat (Devore dan Long, 2013). Kondroitin sulfat dan glukosamin pada
membran cangkang telur memiliki potensi sebagai antiinflamasi. Kondroitin
sulfat mampu mereduksi inflamasi aseptik (De Vore dan Long, 2013). Secara
molekuler penggunaan glukosamin menyebabkan peningkatan signifikan
protein inti aggrekan dan mRNA juga penururnan matriks metalloproteinase3. Mencegah produksi interleukin 1 (IL-1), stimulasi prostaglandin E
(Kardiman,2013).

BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi Penelitian
Laboratorium Histologi FK UGM, LPPT Unit I UGM, Laboratorium Gizi
PAU UGM, dan Laboratorium Sistematika Hewan Fakultas Biologi UGM
3.2. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris murni
3.3. Identifikasi Variabel Penelitian
i. Variabel pengaruh
Ekstrak membran cangkang telur bebek dengan konsentasi 70%.
ii. Variabel terpengaruh
Kondisi inflamasi pada jaringan pulpa yaitusel netrofil, makrofag, dan
sel odontoblas jaringan pulpa tikus Sprague Dawley.
iii. Variabel terkendali
a. Jenis hewan uji, yaitu tikus Sprague Dawley usia 3-4 bulan dengan
berat badan 250-300 g.
b. Konsentrasi ekstrak membran cangkang telur bebek 70%.
c. Volume ekstrak membrane cangkang telur bebek yang masuk ke
dalam jaringan pulpa tikus Sprague Dawley sebanyak 0,01 ml.
d. Ukuran kedalaman pengeburan gigi Tikus Sprague Dawley0,8 mm.
iv. Variabel tak terkendali
Kondisi sistemik individual tikus Sprague Dawley.
3.4

Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah 45 ekor tikus Sprague Dawley sehat usia 3-4
bulan dengan berat badan 250 - 300 gram. Tikus Sprague Dawley dibagi ke
dalam 3 kelompok perlakuan.

3.5. Alat dan Bahan Penelitian


Tabel 1. Alat dan Bahan Penelitian
Centrifugasi 15 ml, Saringan, Vacuum Rotary Evaporator,
spuit 1 ml, Gunting bedah,Scalpel, cetakan blok paraffin, hot
Alat
plate, deck glass, Automatic tissue processor, Mikrotom,
Penelitian
mikroskop cahaya, kamera digital Optilab, contra angle
high speed bur, mata bur round end, paper point
a. Tikus Sprague Dawley, Ethanol 70%, Ketamin, Ekstrak
Bahan
membran cangkang telur bebek, Ca(OH)2, PBS Formalin,
Penelitian Parafin, Hematoxilin Eosin (HE), Toluen, HCl, Alkohol,
NaOCl 0,5%

3.6. Jalannya Penelitian


1. Pembuatan ekstrak membran cangkang telur bebek
Membran cangkang telur bebek dikeringkan dalam almari pengering
pada suhu 450C selama 48 jam, dijadikan serbuk menggunakan mesin
penyerbuk sampai halus dengan diameter lubang saringan 1 mm.
Selanjutnya bubuk simplisia membran cangkang telur ditambah etanol
70%, lalu diaduk selama 30 menit, didiamkan 24 jam, kemudian disaring
dan diulang 2 kali. Selanjutnya filtrat diuapkan dengan vacuum rotary
evaporator pemanas waterbath suhu 700C. Ekstrak kental dituang dalam
cawan porselin, lalu dipanaskan dengan waterbath suhu 700C sambil
terus diaduk. Kemudian ekstrak tersebut ditimbang dan diencerkan
dengan konsentrasi 70%.
2. Perlakuan pada Tikus Sprague Dawley
a. Induksi Reversible Pulpitis
Tikus Sprague Dawley dianestesi menggunakan ketamin dengan dosis
30 mg/kgBB dan xylazine dengan dosis 30 mg/kgBB secara
intramuscular. Dalam keadaan teranestesi, gigi molar pertama rahang
atas dipreparasi menggunakan contra angle high speed bur dengan
mata bur round end diameter 0,8 mm. Kavitas diirigasi menggunakan
akuades dan dikeringkan menggunakan paper point.
b. Aplikasi Ekstrak Membran Cangkang Telur Bebek, Kontrol
Positif dan Kontrol Negatif
Hewan coba kemudian dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan,
kelompok pertama sebagai kontrol positif diberi perlakuan dengan
meletakkan Ca(OH)2 di dasar kavitas setelah dipreparasi. Kelompok
kedua sebagai kontrol negatif tanpa perlakuan, dan kelompok ketiga,
empat dan lima diberi perlakuan dengan menggunakan ekstrak
membran cangkang telur bebek konsentrasi 70%.
c. Pengambilan Sampel Rahang Tikus Sprague Dawley
Tikus dikorbankan pada hari ke-1, hari ke-3, hari ke-5, hari ke-7, dan
hari ke-14 setelah aplikasi kontrol positif, kontrol negatif, dan ekstrak
membran cangkang telur dilakukan. Pengorbanan dilakukan dengan
injeksi ketamin 100 mg/kgBB lalu leher tikus didislokasi. Setelah
tikus mati maksila tikus yang telah diberi perlakuan diambil dan
difiksasi dengan menggunakan larutan PBS Formalin.
3. Pembuatan sediaan histologis
Jaringan didekalsifikasi dengan larutan Von Ebner selama empat
hari. Setelah lunak, jaringan didehidrasi dengan alkohol 70-100% secara
bertahap. Selanjutnya adalah penjernihan jaringan dengan menggunakan
xylol. Prosedur pertama penanaman jaringan adalah infiltrasi parafin cair
pada suhu 57-59oC ke dalam kotak parafin sebagai pengisi rongga dalam

jaringan yang ditempati oleh air sehingga terbentuk blok parafin.


Jaringan kemudian diiris pada setiap blok paraffin dengan menggunakan
mikrotom setebal 5m. Setelah pengirisan, irisan jaringan tersebut
dimasukkan ke dalam waterbath pada suhu 50oC lalu diinkubasi dengan
hot plate pada suhu 50oC selama 15 menit. Irisan jaringan tersebut
dideparafinisasi kembali dengan xylol lalu direhidrasi dengan alkohol
secara bertahap. Spesimen selanjutnya diwarnai dengan Hematoxilin
eosin (HE) kemudian dibasuh di bawah air mengalir. Pemberian clearing
xylol untuk memberikan warna bening pada jaringan dan dilakukan
mounting menggunakan balsem Kanada agar preparat menjadi lebih awet
dan jernih. Prosedur terakhir adalah menutup preparat dengan deck glass
kemudian diberi label.
4. Penilaian jumlah sel netrofil dan makrofag serta penilaian kondisi
lapisan sel odontoblas
A. Penghitungan jumlah sel netrofil dan makrofag dilakukan
menggunakan mikroskop cahaya yang dilengkapi dengan kamera
digital Optilab. Setiap potongan jaringan histologis diamati dalam 5
lapang pandang yang berbeda oleh 3 orang pengamat kemudian hasil
pengamatan diambil rata-ratanya. Netrofil tampak bergranula,
mempunyai nukleus yang terdiri dari 2 lobus atau lebih. Makrofag
tampak bulat, besar, sel mononuklear dengan nukleus bulat eksentris
atau sering berbentuk ginjal, sitoplasma mengandung granula.
B. Penilaian kondisi lapisan odontoblas
Lapisan odontoblas dinilai sesuai kriteria sebagai berikut (Raslan dan
Wetzel, 2006):
Tabel 2. Penilaian kondisi lapisan odontoblas
Skor Karakteristik
0
Lapisan odontoblas mempunyai struktur normal.
1
Lapisan odontoblas kehilangan kontinuitasnya.
2
Terdapat beberapa sel yang tidak membentuk lapisan.
3
Tidak ada lapisan maupun sel odontoblas yang dapat
diamati.
5. Analisis Data
Data perhitungan netrofil dan makrofag dianalisis secara statistik
dengan menggunakan analisis varian (ANAVA) dengan tingkat
kemaknaan P<0,05. Sedangkan, data penilaian sel odontoblas dianalisis
dengan menggunakan uji normalitas Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney
U.

BAB 4
HASIL YANG DICAPAI DAN POTENSI KHUSUS
Data hasil penghitungan jumlah makrofag diperoleh sig. 0.01<0.05 maka menolak
Ho, sehingga terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan,
kelompok kontrol positif, dan kelompok kontrol negatif.
Tabel 3. Hasil uji ANAVA jumlah makrofag
Sum of Squares
Between Groups

Df

Mean Square

940.978

470.489

Within Groups

2236.000

42

53.238

Total

3176.978

44

F
8.837

Sig.
.001

Berdasarkan hasil penghitungan jumlah netrofil diperoleh sig. 0.02<0.05 maka


menolak Ho, sehingga terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok
perlakuan, kelompok kontrol positif, dan kelompok kontrol negatif.
Tabel 4. Hasil uji ANAVA jumlah netrofil
Sum of Squares
Between Groups

df

Mean Square

6397.644

3198.822

Within Groups

18541.333

42

441.460

Total

24938.978

44

F
7.246

Sig.
.002

Pada uji normalitas Kruskal-Wallis, lapisan odontoblas menunjukkan hasil sig. =


0.00 maka p<0.05 sehingga terdapat perbedaan bermakna antara kondisi lapisan
odontoblas pada kelompok perlakuan, kontrol positif dan kontrol negatif.
Tabel 5. Hasil uji Kruskal-Wallis

Berdasarkan foto mikroskopik pulpa gigi dengan pengecatan HE (perbesaran


400x) setelah dilakukan induksi reversible pulpitis dan pemberian ekstrak
membran cangkang telur bebek tampak lapisan odontoblas kehilangan
kontinuitasnya. Kerusakan lapisan odontoblas bertambah parah setelah 5 hari dan
mulai mengalami perbaikan kontinuitas pada hari ke-7 setelah aplikasi ekstrak
(gambar 1-5).

.
Penelitian ini berpotensi untuk :
1. Memberikan informasi mengenai ekstrak membran cangkang telur bebek
sebagai bahan alternatif dalam mempercepat penyembuhan inflamasi pada
radang pulpa atau reversible pulpitis.
2. Memberikan dukungan ilmiah bagi pengembangan penelitian selanjutnya
mengenai pengaruh pemberian ekstrak membran cangkang telur bebek
sebagai agen antiinflamasi pada radang pulpa atau reversible pulpitis.
3. Dipublikasikan sebagai artikel ilmiah pada jurnal nasional dan memperoleh
hak paten karena sejauh ini belum diketahui adanya penelitian mengenai
ekstrak membran cangkang telur bebek sebagai bahan alternatif dalam
mempercepat penyembuhan inflamasi pada radang pulpa atau reversible
pulpitis.

10

BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Ekstrak membran cangkang telur bebek memiliki aktivitas antiinflamasi
pada reversible pulpitis.
2. Jumlah sel netrofil dan makrofag menurun setelah aplikasi ekstrak
membran cangkang telur bebek.
3. Struktur sel odontoblas pada pulpa gigi mengalami perbaikan
kontinuitassetelah aplikasi ekstrak membran cangkang telur bebek.
5.2 Saran
1. Perlu dilakukan uji toksisitas dan uji klinis ekstrak membrane
cangkang telur bebek.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh pemberian
ekstrak membran cangkang telur bebek sebagai agen antiinflamasi
pada radang pulpa atau reversible pulpitis.

11

DAFTAR PUSTAKA

Arana-Chavez, V.E., and Massa, L.F.2004. Odontoblasts: The Cells Forming and
Maintaining Continue. Int J Biochem cell Biol.Vol 36(8)
Benson, K. F., Ruff, K. J., Jensen, G. S. 2012. Effects of Natural Eggshell
Membrane (NEM) on Cytokine Production in Cultures of Peripheral Blood
Mononuclear Cells: Increased Suppression of Tumor Necrosis Factor-a
Levels After In Vitro Digestion. Journal of Medicinal Food. Vol 15 (4)
DeVore, D. P. and Long, F. D. 2013. Anti-inflammatory activity of eggshell
membrane and processed eggshell membrane preparations.United Sates
Patent.
Grossman, Louis I., S.Oliet, dan Rio, C.E Del .1995. Ilmu Endodontik dalam
praktek. Jakarta: EGC
Ingle, J.I., and Bakland, L.K.2002. Endodontics, Fifth Edition. Ontario:BC
Decker Inc.
Kardiman, C.2013.Manfaat Glukosamin, Kondroitin, dan Metilsulfonil Metana
pada Osteoartritis. CDK-212. 40 (12)
Kementrian Kesehatan Indonesia. 2011. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2012.
Jakarta: Kementrian Kesehatan RI
Mellisa, Hadriyanto, W., Gunawan, J.A. 2011.Trioxide Aggregate (MTA) Studi
Pustaka. MIKGI
Nanci, A. 2008. Ten Cates Oral Histology: Development Structure, and Fuction.
Missouri:Mosby Inc.
Ngangi, R. S., Mariati, N. W., Hutagalung, B. S. P. 2013. Gambaran Pencabutan
Gigi Di Balai Pengobatan Rumah Sakit Gigi Dan Mulut Universitas Sam
Ratulangi Tahun 2012.Jurnal e-GiGi. Vol 1 (2)
Nor, J.E. 2006.Tooth Regeneration in Operative Dentistry.Oper Dent.Vol 31
Nys, Y., Gautron, J., Garcia-Ruiz, J. M., Hincke, M. T. 2004. Avian Eggshell
Mineralization: Biochemical and Functional Characterization of Matrix
Proteins.Comptes Rendus Palevol. Vol.3
Ruff, K.J., DeVore, D.P., Leu, M.D., Robinson, M.A.2009. Eggshell membrane:
A possible New Natural Therapeutic for Joint and Connective Tissue
Disorders. Results from Two Open-label Human Clinical Studies. Clinical
Interventions in Aging.Vol.4
Tarigan, R. 2006. Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti), Edisi 2. Jakarta: EGC
Torabinejad, M., Walton, R.E., Fouad, A. 2014. Endodontics: Priciples and
Practice, Fifth Edition.. Missouri: Elsevier.
Widodo, T. 2005. Respon Imun Humoral pada Pulpitis (Humoral Immune
Response on Pulpitis). Maj.Ked.Gigi.(Dent.J). Vol.38(2)

12

LAMPIRAN
PENGGUNAAN DANA

NO .
NOTA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.

Tabel 6. Penggunaan Dana


Rincian Pengeluaran
Print dan jilid
Print dan jilid
Log book
Buku keuangan
Bengkok sedang
Ball applicator
Mixing pad
Excavator william
Tikus Sprague Dawley
Tisu
Sarung tangan
Sabun
Obat anestesi (xylazin)
Alkohol
Glycerin
Kalsium hidroksid
Bur
Pembuatan ekstrak
Kalsium hidroksid (Dycal)
SIK (Fuji 7 GC)
Kapas
Pinset gigi
Pinset anatomi
Sonde halfmoon
Spatula semen
Spatula agatte
Dappen dish
Konektor
Bur
Paper point
Glove
Masker
Spuit 10 ml
Fee Laboratorium Gizi
Ketamin
Identifikasi bebek
Spuit injeksi
Print dan jilid
Tisu

Pengeluaran (Rp)
22.000
9.300
22.000
13.200
23.000
13.000
18.000
20.000
2.100.000
3.800
13.000
16.000
252.000
9.000
15.000
15.000
22.000
25.000
350.000
850.000
5.000
28.000
13.000
15.000
13.000
7.000
8.500
65.000
22.000
35.000
50.000
30.000
35.000
500.000
251.000
110.000
175.000
7.000
3.500

13

40.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.

Obat anestesi
Pengenceran ekstrak
Masker
Glove
Glove
Pemeliharaan hewan coba
Bur
Pakan hewan coba
Ethical clearance
Ketamin
Fee Laboratorium Histologi
TOTAL

210.000
25.000
3.000
6.000
15.000
450.000
22.000
180.000
106.000
250.000
5.492.500
11.667.800

14

BUKTI PENDUKUNG KEGIATAN

Gambar 1. Etichal clearance

Gambar 2. Identifikasi bebek

15

Gambar 3. Pengumpulan dan pengelupasan bebek mebran cangkang telur

Gambar 4. Ekstrak Membran cangkang Telur

Gambar 5. Administrasi Peminjaman Laboratorium

16

Gambar 6. Pengadaan Alat dan Bahan

Gambar 7. Adaptasi dan Pembagian Kelompok Hewan Coba

Gambar 8. Anestesi Hewan Coba

17

Gambar 9. Induksi Reversible Pulpitis

Gambar 10. Aplikasi Bahan pada Ketiga Kelompok Hewan Coba

18

Gambar 11. Monitoring Evaluasi Internal UGM

Gambar 12. Pengorbanan dan Pengambilan Sampel Rahang

19

Gambar 13. Nekropsi Rahang

Gambar 14. Pembuatan Sediaan Histologis

Gambar 15. Pengamatan