Anda di halaman 1dari 6

Mewujudkan Program Penanggulangan HIV dan AIDS yang Konkret

Oleh Syaiful W. Harahap*

Di awal-awal epidemi penanggulangan HIV dan AIDS hanya bertumpu pada penyuluhan
secara umum. Celakanya, materi penyuluhan dibalut dengan norma, moral dan agama
sehingga yang muncul hanya mitos (anggapan yang salah) tentang HIV dan AIDS.
Perkembangan epidemi HIV kemudian mendorong perubahan paradigma dalam
penanggulangan HIV dan AIDS secara global. Di tingkat nasional dan lokal pun
penanggulangan HIV dan AIDS mulai bergeser dari sekedar penyuluhan ke
pendampingan sampai akhirnya kepada perlindungan hukum dan meningkatkan
kehidupan Odha (Orang dengan HIV/AIDS).

Jika program komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) HIV dan AIDS tetap menyelipkan
materi norma, moral, dan agama maka penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia
hanya akan jalan di tempat, bahkan mundur jauh ke belakang. Soalnya, tatkala di Eropa
Barat, Afrika, Amerika Serikat, dan Australia kasus infeksi baru pada kalangan dewasa
mulai menunjukkan grafik yang mendatar sejak awal tahun 1990-an di Asia Pasifik justru
yang terjadi sebaliknya, terutama Indonesia, kasus infeksi baru di kalangan dewasa justru
meroket.
Materi KIE
Hal itu terjadi bukan karena sudah ada obat AIDS dan vaksin HIV, tapi semata-
mata karena penduduk di sana sudah mengetahui cara-cara mencegah penularan HIV
dengan akurat. Ini terjadi karena materi KIE tentang HIV dan AIDS diberikan kepada
masyarakat sesuai dengan fakta medis. Sebaliknya, di beberapa negara di kawasan Asia
Pasifik, seperti di Indonesia, materi KIE tentang HIV dan AIDS tetap dibalut dengan
norma, moral, dan agama.

1
Selama hal itu terjadi maka pemahaman HIV dan AIDS yang diterima masyarakat
Indonesia hanya sebatas mitos belaka. Sampai sekarang dalam banyak materi KIE
disebutkan bahwa penularan HIV terkait dengan zina, pelacuran, ’jajan’, selingkuh,
’kumpul kebo’, seks pranikah, waria, dan homoseksual. Padalah, sebagai fakta medis
penularan HIV sama sekali tidak ada kaitannya secara langsung dengan zina, pelacuran,
’jajan’, selingkuh, ’kumpul kebo’, seks pranikah, waria, dan homoseksual.
Tapi, karena masyarakat hanya menangkap mitos banyak orang yang tidak
mengetahui cara-cara melindungi diri agar tidak tertular HIV. Hal ini dialami oleh
seorang remaja putri yang menjalani rehabilitasi narkoba di sebuah LSM di Bogor, Jawa
Barat. ”Saya kecewa karena selama ini infomrasi tentang HIV dan AIDS hanya
menyebut-nyebut zina,” kata gadis manis yang tertular HIV dengan faktor risiko
pengguna narkoba suntik.
Mitos-mitos seputar HIV dan AIDS itu pun kemudian menyuburkan pemberian
cap buruk atau negatif (stigmatisasi) dan perlakuan yang berbeda (diskriminasi) terhadap
orang-orang yang tertular HIV. Untuk itulah diperlukan penanggulangan yang
komprehensif dengan meningkatkan perlindungan hukum dan hak, serta pelayanan
terhadap Odha.
Dalam pandangan Prof Dr DN Wirawan dari Yayasan Kerti Praja, Denpasar, Bali,
upaya-upaya penanggulangan HIVdan AIDS yang dilakukan selama ini sudah lumayan
terutama oleh LSM, KPAN dan Depkes. Namun, yang menjadi persoalan besar adalah
sebagian besar sumber dana untuk program penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia
justru datang dari bantuan luar negeri.
Penanggulangan yang baik terutama penerapan harm reduction (pengurangan
dampak buruk) di kalangan pengguna narkoba suntikan dan layanan obat antiretroviral
(ARV). “Walaupun banyak keluhan dalam skala mikro, tapi secara umum sudah
lumayan,” kata Prof Wirawan. Hal ini dibenarkan oleh Adi, bukan nama sebeanrnya,
seorang Odha berusia 31 tahun asal Padang, Sumatera Barat, yang berobat di sebuah
LSM di Jakarta. Biar pun dia terdeteksi HIV tapi pelayanan yang dilakukan oleh sebuah
rumah sakit di Padang terhadap dirinya tidak berbeda dengan pasien lain. Bahkan, rumah
sakit itu langsung merujuk Adi ke Jakarta.

2
Sejak Januari 2010 Adi mendapat layanan yang baik di LSM itu. ”Saya pikir
penanganan pasien AIDS sudah baik,” kata Adi. Tapi, yang dialami Adi ternyata bisa
terjadi karena rumah sakit yang menanganinya di Padang sudah memiliki klinik VCT.
Sedangkan rumah sakit rujukan di Jakarta pun dikenal sebagai rumah sakit yang
berempati terhadap Odha. Ini menandakan karyawan rumah sakit di Padang dan Jakarta
itu sudah dilatih sehingga mereka tidak canggung lagi menangani pasien dengan status
HIV-positif.
Penanganan yang baik terhadap pengguna narkoba melalui program harm
reduction menurunkan kasus infeksi di kalangan mereka. Di Bali, misalnya, pengguna
narkoba suntikan menurun tajam yang pada akhirnya menurukan infeksi HIV baru. Lima
tahun yang lalu estimasi jumlah pengguna narkoba suntikan di Bali sekitar 3.000,
sedangkan estimasi saat ini hanya sekitar 1.000. Ini antara lain terjadi karena sekarang
banyak di antara pengguna narkoba suntikan memakai metamphetamine (extacy, shabu,
dll.) yang tidak disuntikkan.
Jalur Seksual
Program harm reduction merupakan salah satu bentuk yang ’revolusioner’, tapi
tetap saja ditentang segelintir orang yang tidak melihat program ini dengan perspektif
kesehatan masyarakat. Yang kontra menyebut bahwa subsitusi methadon hanya
memindahkan bentuk ketergantungan. Padahal, dengan subsitusi ini mereka tidak lagi
memakai jarum suntik sehingga risiko penyebaran HIV bisa ditekan. Jika pengguna
narkoba tetap memakai jarum suntik secara bergantian maka risiko penyebaran HIV di
kalangan mereka tetap tinggi. Pada gilirannya pengguna narkoba yang tertular HIV akan
menjadi mata rantai penyebaran HIV ke masyarakat. Inilah yang tidak dilihat kalangan
yang kontra terhadap harm reduction karena mereka melihatnya dengan sudut pandang
moral.
Prof Wirawan justru melihat yang gawat sekarang adalah penularan HIV melalui
jalur hubungan seksual. Tapi, penanggulangan pada jalur ini banyak sekali tantangannya,
seperti aspek teknologi, lingkungan dan sosial. Tantangan aspek teknologi yaitu
pencegahan penularan HIV melalui hubungan seks dengan memakai kondom. Padahal,
kondom ditentang habis-habisan oleh berbagai kalangan. Berbeda dengan
penanggulangan di kalangan pengguna narkoba yang tidak mendapat penolakan dari

3
masyarakat luas. Sedangkan dari aspek lingkungan sosial penanggulangan epidemi HIV
justru mendapat tantangan yang kuat, terutama terkait dengan lokalisasi pelacuran dan
sosialisasi kondom.
Karena jalur seksual merupakan faktor risiko penularan yang akan mendorong
penyebaran HIV secara horizontal maka diperlukan upaya yang konkret untuk memutus
mata rantai penyebaran HIV melalui jalur seksual. Pencegahan melalui jalur seksual
adalah penggunaan kondom pada setiap hubungan seks, di dalam atau di luar nikah, yang
dilakukan dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering
berganti-ganti pasangan. Ini yang disebut sebagai perilaku berisiko tinggi tertular dan
menularkan HIV.
Di beberapa negara, seperti Thailand, penularan HIV di kalangan dewasa sudah
menurun. Ini terjadi Thailand menerapkan ’program kondom 100 persen’. Bukan hanya
sekedar program tapi ada pula penegakan hukum yang konsisten. Secara rutin pekerja
seks komersial di lokalisasi dan rumah bordir menjalani tes IMS (infeksi menular
seksual, seperti GO, sifilis, dll.). Jika ada pekerja seks komersial (PSK) yang terdeteksi
mengidap IMS maka pengelola (germo) akan diberikan peringatan secara bertahap
sampai pada penutupan usaha.
Keberhasilan Thailand ini pun kemudian dilirik Indonesia. Beberapa daerah
menelurkan peraturan daerah (Perda) yang mengharuskan pemakaian kondom.
Celakanya, ada Perda lain yang justru melarang pelacuran. Ini ambiguitas yang
menunjukkan kemunafikan. Karena tidak ada lokalisasi atau rumah bordir tentulah tidak
bisa dilakukan tes rutin terhadap PSK. Maka, langkah yang ditempuh dalam Perda-perda
itu pun bagaikan ‘menggantang asap’ (pekerjaan yang sia-sia).
Jangankan program kondom 100 persen, kegiatan membawa PSK ke klinik setiap
minggu pun menohok Prof Wirawan. Seorang wartawan menuding Prof Wirawan sebagai
’pelindung PSK’. Ini terjadi karena setiap hari Jumat klinik Kerti Praja di Sesetan,
Denpasar, Bali, ’dibanjiri’ PSK untuk memeriksakan kesehatan, terutama terkait dengan
infeksi menular seksual (IMS), seperti GO, sifilis, klamidia, dll. Padahal, yang dilakukan
Prof Wirawan adalah upaya memutus mata rantai penyebaran IMS, termasuk HIV, ke
populasi melalui laki-laki yang menjadi palanggan PSK. Soalnya, laki-laki ’hidung

4
belang’ itu bisa saja sebagai suami sehingga menjadi jembatan penyebaran IMS dan HIV
atau dua-duanya sekaligus dari PSK ke masyarakat.
Kambing Hitam
Upaya yang dilakukan Prof Wirawan ini merupakan salah satu langkah konkret.
Tapi, berbagai kalangan mulai dari organisasi masyarakat, agama, dan adat serta jajaran
pemerintah justru tidak mengakui ada (praktek) pelacuran di daerahnya dengan alasan
sudah tidak ada lokasi dan lokalisasi pelacuran. Biar pun tidak ada lokasi atau lokalisasi
pelacuran tetap saja ada praktek pelacuran sehingga cara-cara yang dilakukan Prof
Wirawan merupakan salah satu cara yang efektif untuk memutus mata rantai penyebaran
IMS dan HIV. Tapi, adakah yang berani mengikuti jejak Prof Wirawan?
Ya, yang terjadi adalah ’perlombaan’ membuat Perda penanggulangan HIV dan
AIDS serta IMS. Tapi, dari 32 Perda yang sudah ada tidak satu pun yang memberikan
cara yang konkret dalam menanggulangi penyebaran HIV. Semua Perda bertumpu pada
norma, moral, dan agama. Misalnya, menyebutkan pencegahan HIV dengan
meningkatkan iman dan taqwa. Ini menyesatkan dan menyuburkan stigma serta
diskriminasi terhadap orang-orang yang terinfeksi HIV.
Penanggulangan HIV dan AIDS di kalangan pengguna narkoba suntikan dan PSK
sering terbentur dengan masalah hukum yang pada gilirannya juga tersandung pada
masalah hak asasi manusia (HAM). Perlakuan yang tidak adil (diskriminasi) dan cap
buruk (stigmatisasi) sering dialami Odha. Kondisi ini memperburuk upaya
penanggulangan epidemi HIV karena banyak orang yang takut menjalani tes HIV
sukarela. Selain itu ada pula yang sudah terdeteksi tapi tidak melanjutkan pengobatan.
PSK selalu menjadi ’kambing hitam’ penyebaran HIV tanpa memperhitungkan
laki-laki yang sudah menularkan HIV kepada PSK dan laki-laki yang kemudian tertular
HIV dari PSK. Ini menyuburkan stigma terhadap PSK yang pada gilirannya
mengaburkan fakta empiris tentang penyebaran HIV karena laki-laki penular luput dari
stigma. Pekerjaan PSK yang ilegal juga membuat posisi mereka terpojok karena bisa
menjadi objek hukum dalam bentuk kriminalisasi dan pemerasan.
Dengan kondisi penanggulangan seperti sekarang ini maka kalau hanya
mengandalkan anjuran melalui penjangkauan dan pendidikan untuk meningkatkan
pemakaian kondom hasilnya akan sia-sia. ”Saya sudah melaksanakan hal ini tanpa henti

5
selama 20 tahun, tanpa hasil yang memadai,” ujar Prof Wirawan. Apalagi penolakan dari
beberapa kalangan terhadap sosialisasi kondom yang sangat kuat membaut anjuran
memakai kondom kian runyam. Celakanya, anjuran sunat yang disebut-sebut bisa
menurunkan risiko tertular HIV tidak ditentang. Padahal, ini akan menjadi bumerang
karena laki-laki yang sudah disunat menganggap dirinya sudah memakai kondom.
Padahal, sunat bukan jaminan tidak tertular HIV pada hubungan seksual yang berisiko.
Untuk itulah dalam penanggulangan epidemi HIV diperlukan cara-cara yang lebih
komprehensif. Antara lain dengan intervensi struktural seperti yang dilakukan di
Thailand dan Kamboja. Namun, hal ini tidak mudah karena menyangkut norma, moral
dan agama yang selama ini dibenturkan ke sosialisasi kondom. Tentu saja ini
mengharapkan komitmen pemimpin di pusat dan daerah. Yang terjadi selama ini
komitmen muncul kalau kasus sudah banyak yang terdeteksi. Itu pun hanya sebentar
karena akan muncul lagi isu lain yang menenggelamkan isu seputar HIV dan AIDS.
Program-program penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesai diharapkan bisa
mengerem laju epidemi HIV, seperti halnya pada pengguna narkoba dengan suntikan.
Prevalensi HIV melalui hubungan seksual akan terus naik sehingga diperlukan intervensi
penanggulangan yang komprehensif. Ini tentu saja akan berhadapan dengan isu moral
sehingga memerlukan komitmen yang tinggi di semua kalangan. Tapi, inilah tantangan
yang harus kita hadapi. ***

* Penulis adalah pemerhati berita HIV/AIDS melalui LSM (media watch) ”InfoKespro”
Jakarta dan Koresponden Harian ”Swara Kita” Manado di Jakarta.