Anda di halaman 1dari 32

Presentasi Kasus

PEB PADA MULTIGRAVIDA HAMIL PREMATUR


BELUM DALAM PERSALINAN

Disusun Oleh :
Arsita Eko P.

G0001057

Muthmainah

G0002010

Nurul Akbar

G0002116

Pembimbing :
dr. A. Laqif , Sp OG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI
SURAKARTA
2007

ABSTRAK
Preeklampsia adalah kelainan multisystem spesifik pada kehamilan yang
ditandai oleh timbulnya hipertensi dan proteinuria setelah umur kehamilan 20
minggu1.
Persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi sebelum usia 37 minggu.
WHO menambahkan bahwa sekarang criteria usia hamil untuk bayi premature
adalah yang lahir sebelum 37 minggu dengan berat lahir dibawah 2500 gram2.
Wanita dengan preeklampsia dan kehamilan preterm bila diobservasi
dengan pengawasan kondisi kesejahteraan ibu dan janin secara ketat1. Pada
kehamilan preterm tanpa disertai tanda-tanda impending eklampsia dengan
keadaan janin baik dilakukan penanganan konservatif.
Sebuah kasus Seorang G5P4A0, 39 tahun dengan keluhan pusing. Pasien
merasa hamil 7 bulan, kenceng-kenceng belum dirasakan, air kawah belum
dirasakan keluar, gerak janin (+) masih dirasakan, lendir darah (-). Riwayat
fertilitas baik, riwayat baik, teraba janin tunggal, intra uterin, his (-), DJJ (+)
reguler dengan PEB.
Adanya PEB pada ibu merupakan ancaman terjadinya hipoksia pada janin,
dengan umur kehamilan yang premature (< 35 minggu) bukan merupakan indikasi
untuk dilakukannya terminasi kehamilan, sehingga penatalaksanaan konservatif
(stabilisasi hemodinamik) merupakan pilihan yang tepat.
____________________________________________________________________
Kata kunci : PEB, premature, konservatif

BAB I
PENDAHULUAN
Preeklampsia adalah kelainan multisystem spesifik pada kehamilan yang
ditandai oleh timbulnya hipertensi dan proteinuria setelah umur kehamilan 20
minggu1.
Faktor Risiko Pre-eklampsia meliputi kondisi-kondisi medis yang
berpotensi menyebabkan penyakit mikrovaskuler (missal, Diabetes Melitus,
Hipertensi kronik, kelainan vaskuler dan jaringan ikat), antifosfolipid antibody
syndrome, dan nefropati.4

Faktor-faktor resiko lain dihubungkan dengan

kehamilan itu sendiri atau lebih spesifik terhadap ibu dan ayah janin. 1
Kehamilan preterm adalah suatu kehamilan yang terjadi pada seorang
wanita dengan usia kehamilan < 37 minggu, sedangkan persalinan preterm atau
kurang bulan didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi sebelum genap 37
minggu.2
Penyebab dari persalinan preterm, antara lain : 1.

Komplikasi medis

maupun obstetrik. 1/3 dari kejadian persalinan preterm disebabkan oleh hal-hal
yang berkaitan dengan komplikasi medis maupun obstetrik tertentu misalnya pada
kasus-kasus perdarahan antepartum ataupun hipertensi pada kehamilan. 2/3 dari
kejadian perslinan preterm tidak diketahui secara jelas factor-faktor penyebabnya
(idiopatik). 2. Factor gaya hidup. Kebiasaan merokok, kenaikan berat badan ibu
selama hamil yang kurang serta penyalahgunaan obat (kokain) dan alcohol,
kehamilan pada usia muda, social ekonomi rendah, ibu yang pendek, stress
kejiwaan. 3.

Infeksi air ketuban. ]persalian preterm diperkiraan diawali dengan

produk sebagai hasil dari aktivasi monosit, interleukin-1 (IL-1), Tumor Necrosis
Faktor (TNF), Interleukin-6 (IL-6), dan sitokin-sitokin yang diekspresikan tubuh. 2
Penyebab preterm pada kasus ini adalah adanya komplikasi medis maupun
obstetric yaitu preeclampsia (hipertensi pada kehamilan).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PRE-EKLAMPSIA BERAT
Definisi
Preeklampsia adalah kelainan multisystem spesifik pada kehamilan yang
ditandai oleh timbulnya hipertensi dan proteinuria setelah umur kehamilan 20
minggu. Kelainan ini dianggap berat jika tekanan darah dan proteinuria meningkat
secara bermakna atau terdapat tanda-tanda kerusakan organ (termasuk gangguan
pertumbuhan janin) 1.
Etiologi
Penyebab pasti Preeklampsia masih belum jelas.1 Hipotesa factor-faktor
etiologi Preeklampsia bisa diklasifikasikan menjadi 4 kelompok, yaitu : genetic,
imunologik, gizi dan infeksi serta infeksi antara factor-faktor tersebut. 4
Ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan perkiraan etiologi dari
kelainan tersebut sehingga kelainan ini sering dikenal dengan The disease of
theory adapun teori-teori tersebut antara lain :
1. Peran prostasiklin dan tromboksan S
pada Preeklampsia didapatkan kerusakan pada endotel vaskuler sehingga
terjadi penurunan produksi prostasiklin (PGI-2) yang pada kehamilan
normal meningkat, aktivasi penggumpalan dan fibrinolisis. Aktivasi
trombosit menyebabkan pelepasan tromboksan (TxA2) dan serotonin
sehingga terjadi vasospasme dan kerusakan endotel.
2. Peran faktor imunologis
Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama, hal ini dihubungkan
dengan pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta yang
tidak sempurna. Beberapa wanita dengan Preeklampsia mempunyai

kompleks imun dalam serum. Beberapa study yang mendapati aktivasi


komplemen dan system imun humoral pada Preeklampsia.
3. Peran faktor genetik / familial
Beberapak bukti yang mendukung factor genetik pada Preeklampsia antara
lain:
a. Preeklampsia hanya terjadi pada manusia
b. Terdapat kecenderungan meningkatnya frekuensi Preeklampsia
pada anak-anak dari ibu yang menderita Preeklampsia.
c. Kecenderungan meningkatnya frekuensi Preeklampsia pada anakanak cucu ibu hamil dengan riwayat Preeklampsia dan bukan ipar
mereka.
d. Peran Renin-Angiotensin-Aldosteron-System (RAAS).
Faktor Resiko
Faktor Risiko Preeklampsia meliputi kondisi-kondisi medis yang
berpotensi menyebabkan penyakit mikrovaskuler (missal, Diabetes Melitus,
Hipertensi kronik, kelainan vaskuler dan jaringan ikat), antifosfolipid antibody
syndrome, dan nefropati.4

Faktor-faktor resiko lain dihubungkan dengan

kehamilan itu sendiri atau lebih spesifik terhadap ibu dan ayah janin. 1
Faktor Resiko Preeklampsia
Faktor yang berhubungan Faktor yang berhubungan Faktor yang berhubungan
dengan kehamilan
Abnormalitas
kromosom

dengan kondisi maternal


dengan pasangan
Usia > 35 tahun atau Partner lelaki yang
<20 tahun

pernah

menikahi

Mola hidatidosa

Ras kulit hitam

wanita yang kemudian

Hidrops fetalis

Riwayat Preeklampsia

hamil dan mengalami

Donor

inseminasi donor
kongenital

Pemaparan

atau Nullipara

oosit

Anomali

preeklampsia

pada keluarga

Kehamilan ganda

struktur

Preeklampsia

pada

kehamilan sebelumnya

terbatas

terhadap sperma
Primipaternity

Kondisi medis khusus :

ISK

DM,

HT

Obesitas,

Kronik,
Penyakit

Ginjal, trombofilia
Stress
Antibody
antifosfolipid syndrom
Patofisiologi
Walaupun penyebab pasti Preeklampsia tetap tidak jelas, banyak teori
memusatkan masalah pada impantasi plasenta dan level invasi trofoblas. Penting
diingat bahwa walaupun hipertensi dan proteinuria adalah kriteria diagnostik
Preeklampsia, kedua hal ini hanyalah symptom / gejala dari perubahan-perubahan
patofisiologi yang muncul pada kelainan ini. Salah satu perubakan patofisiologi
yang paling menonjol adalah vasospasme sistemik yang sangat nyata yang
bertanggung jawab terhadap penurunan perfusi semua system organ. Perfusi juga
berkurang karena hemokonsentrasi vaskuler dan pengeluaran cairan ke rongga
ketiga. Selain itu, Preeklampsia disertai oleh respon inflamasi berlebihan dan
aktivasi endotel yang tidak tepat. Aktivasi kaskade pembekuan dan resultan dari
pembentukan thrombin lebih lanjut menghalangi aliran darah organ.1
Tanda-tanda utama pada Preeklampsia adalah :
1.

Penurunan perfusi uteroplasental

2.

Peningkatan vasokonstriktor dan penurunan vasodilator dengan akibat


vasokonstriksi local dan sistemik.

3.

DIC (Disseminated Intravascular Coagulation)


Hipotesa perubahan patofisiologis Preeklampsia sangat banyak antara

lain : kegagalan invasi trofoblas, stress oksidatif, disfungsi endotel, perubahan


hormone-hormon kalsiotrofik, pelepasan faktor-faktor pertumbuhan dan protein
antiangiogenik.4

Skema patofisiologi Preeklampsia

Faktor Predisposisi Preeklampsia


( imun, genetik, dll )

Perubahan plasentasi

Obstruksi mekanik dan fungsional dari arteri spiralis

Penurunan perfusi uteroplasental

PGE2/PGI2

Renin/angiotensin II

Vasokonstriksi arteri

Kerusakan endotel

Hipertensi sistemik

Tromboksan

Disfungsi endotel
endotelin, NO

Aktivasi intravascular koagulasi

DIC

Ginjal

SSP

Proteinuri
GFR

kejang
koma

Hati

LFT abnormal

Organ lainnya

iskemi
fibrin,
trombin

Klasifikasi

Preeklampsia

termasuk

kelainan

hipertensi

dalam

kehamilan.

Penggolongan kelainan hipertensi dalam kehamilan antara lain : hipertensi kronis,


Preeklampsia, superimposed eklampsia pada hipertensi kronis dan hipertensi

gestasional.
Hipertensi kronik adalah peningkatan tekanan darah yang timbul sebelum
kehamilan, terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu, atau menetap setelah 12
minggu post partum. Sebaliknya, Preeklampsia didefinisikan sebagai peningkatan
tekanan darah dan proteinuria yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu.
Eklampsia, komplikasi berat preeklampsia adalah munculnya kejang pada wanita
dengan preeklampsia. Kejang eklampsia relatif jarang dan muncul <1% wanita
dengan eklampsia.
Superimposed preeklampsia pada hipertensi kronik ditandai dengan
proteinuria (atau dengan peningkatan tiba-tiba level protein jika sebelumnya
sudah ada proteinuria), peningkatan mendadak hipertensi ( dengan asumsi telah
ada proteinuria) atau terjadi HELLP Syndroma.
Hipertensi gestasional didiagnosa jika terjadi kenaikan tekanan darah
tanpa proteinuria setelah usia kehamilan 20 minggu dan tekanan darah kembali
normal dalam 12 minggu post partum. Seperempat wanita dengan hipertensi
gestasional mengalami proteinuria dan belakangan berkembang menjadi
preeklampsia.
Wanita hamil dengan tekanan darah
>140/90 mmHg
Sebelum usia kehamilan 20 minggu

Setelah usia kehamilan 20 minggu

Proteinuria (-) /
stabil

Proteinuria
(+) /

Proteinuria
(+) /
meningkat, TD
meningkat,
HELLP
Syndroma

Hipertensi
Preeklampsia
Preeklampsia /
kronik
superimposed
Pre eklampsia dibagi
menjadi 2 golongan, yaitu :6
pada Hipertensi
kronik

Proteinuria (-) /

Hipertensi
Gestasional

a. Pre eklampsia ringan


Tekanan darah 140/90 mmHg yang diukur pada posisi terlentang;
atau kenaikan sistolik 30 mmHg; atau kenaikan tekanan diastolik
15 mmHg.
Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada dua kali pemeriksaan
dengan jarak periksa 1 jam, sebaiknya 6 jam.
Oedem umum, kaki, jari tangan dan muka, atau kenaikan berat badan
1 kg per minggu.
Proteinuria kuantitatif 0,3 gram/liter; kualitatif 1+ atau 2+ pada urin
kateter atau mid stream.
b.

Pre eklampsia berat


Tekanan darah 160/110 mmHg.
Proteinuria 5 gram/liter.
Oligouria, yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc/24 jam.
Adanya gangguan serebral, gangguan visus dan nyeri epigastrium.
Terdapat oedem paru dan sianosis.
Thrombosytopenia berat
Kerusakan hepatoseluler
Pertumbuhan janin intrauterin yang terhambat
Klasifikasi pre-eklampsia lain , yaitu :1,3

a. Genuine pre-eklampsia
Gejala pre-eklampsia yang timbul setelah kehamilan 20 minggu disertai
dengan oedem (pitting) dan kenaikan tekanan darah 140/90 mmHg
sampai 160/90. Juga terdapat proteinuria 300 mg/24 jam (Esbach)
b. Super imposed pre-eklampsia
Gejala pre-eklampsia yang terjadi kurang dari

20 minggu disertai

proteinuria 300 mg/24 jam (Esbach), dan bisa disertai oedem. Biasanya
disertai hipertensi kronis sebelumnya.
Diagnosis

Kriteria diagnostik untuk preeklampsia :


Preeclampsia
Tekanan darah : sistolik > 140 mmHg atau diastolic > 90 mmHg setelah
kehamilan 20 minggu yang sebelumnya memiliki tekanan darah yang normal.
Proteinuria : 0,3 gr atau lebih protein 24 jam
Preeklampsia berat
Tekanan darah : sistolik > 160 mmHg atau diastolic > 110 mmHg
Proteinuria : 5 gr atau lebih protein 24 jam
Gejala lain : oliguria ( < 500 ml urin dalam 24 jam), gangguan pandangan, edema
paru dan sianosis, nyeri epigastrik kuadran atas, gangguan fungsi liver,
trombositopenia, gangguan pertumbuhan janin.
Pencegahan
Tidak ada alat ukur yang pasti untuk mencegah preeclampsia. 1 walaupun
demikian, beberapa usaha untuk mencegah preeclampsia telah dilakukan, antara
lain :
A. Pencegahan non medical
1. Restiksi garam
Tidak terbukti dapat mencegah terjadinya preeclampsia
2. Suplementasi diet yang mengandung :
a. Minyak ikan yang kaya dengan asam lemak tidak jenuh, misalnya
Omega-3 PUFA.
b. Antioksidan : vit C, vit E, B karoten, CoQ1o-N-Acethyl cysteine,
zinc, magnesium, calcium.
3. Tirah baring tidak terbukti :
a. Mencegah terjainya preeclampsia
b. Mecegah persalinan preterm
Di Indonesia tirah baring masih diperlukan pada mereka yang
mempunyai resiko tinggi terjadinya preeclampsia.
B. Pencegahan dengan Medikal

1. Diuretik : tidak terbukti mencegah terjadinya preeclampsia bahkan


memperberat hipovolemia.
2. Anti hipertensi tidak terbukti mencegah terjadinya preekalmpsia
3. Kalsium : 1500-2000 mg/ hari, dapat dipakai sebagai suplemen pada
resiko

tinggi

terjadinya

preeclampsia,

meskipun

belum

terbuktibermanfaat untuk mencegah preeclampsia.


4. Zinc : 200 mg / hari
5. Magnesium 365 mg / hari
6. Obat anti hrombotic :
a. Aspirin dosis rendah : rata-rata dib awah 100 mg / hari, tidak
terbukti mencegah terjadinya preeclampsia.
b. Dipyridamol
7. Abat-obatan antioksidan : vit C, vit E, B karoten, CoQ1o-N-Acethyl
cysteine, asam lipoik-6.
Walaupun preeklampsia tidak dapat dicegah, banyak kematian akibat
kelainan ini dapat dicegah. Deteksi awal, monitoring ketat dan terapi preeclampsia
sangat penting dalam mencegah mortalitas akibat kelainan ini.1,7
Komplikasi
-

HELLP syndrom

Perdarahan otak

Gagal ginjal

Hipoalbuminemia

Ablatio retina

Edema paru

Solusio plasenta

Hipofibrinogenemia

Hemolisis

Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intrauterin

Penatalaksanaan Pre-eklampsia Berat 3

10

1.

Perawatan Aktif
Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada setiap penderita dilakukan
pemeriksaan fetal assesment (NST & USG).
1. Indikasi (salah satu atau lebih)
a. Ibu
- Usia kehamilan 37 minggu atau lebih
- Adanya tanda-tanda atau gejala impending eklampsia, kegagalan terapi
konservatif yaitu setelah 6 jam pengobatan meditasi terjadi kenaikan
desakan darah atau setelah 24 jam perawatan medisinal, ada gejalagejala status quo (tidak ada perbaikan).
b. Janin
- Hasil fetal assesment jelek (NST & USG)
- Adanya tanda IUGR
c. Laboratorium
- Adanya "HELLP syndrome" (hemolisis dan peningkatan fungsi hepar,
trombositopenia).
Pengobatan Medisinal
Pengobatan medisinal pasien pre eklampsia berat yaitu :
1. Segera masuk rumah sakit
2. Tirah baring miring ke satu sisi. Tanda vital diperiksa setiap 30 menit,
refleks
patella setiap jam.
3. Infus dextrose 5% dimana setiap 1 liter diselingi dengan infus RL (60-125
cc/jam) 500 cc.
4. Antasida
5. Diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam.

11

6. Pemberian obat anti kejang : magnesium sulfat


7. Diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada tanda-tanda edema paru, payah
jantung kongestif atau edema anasarka. Diberikan furosemid injeksi
40mg/im.
8. Antihipertensi diberikan bila :
a. Desakan darah sistolis lebih 180 mmHg, diastolis lebih 110 mmHg atau
MAP lebih 125 mmHg. Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolis
kurang 105 mmHg (bukan kurang 90 mmHg) karena akan menurunkan
perfusi plasenta.
b. Dosis antihipertensi sama dengan dosis antihipertensi pada umumnya.
c. Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya, dapat diberikan
obat-obat antihipertensi parenteral (tetesan kontinyu), catapres injeksi.
Dosis yang biasa dipakai 5 ampul dalam 500 cc cairan infus atau press
disesuaikan dengan tekanan darah.
d. Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tablet
antihipertensi secara sublingual diulang selang 1 jam, maksimal 4-5 kali.
Bersama dengan awal pemberian sublingual maka obat yang sama mulai
diberikan secara oral.
9. Kardiotonika
Indikasinya bila ada tanda-tanda menjurus payah jantung, diberikan
digitalisasi cepat dengan cedilanid D.
10. Lain-lain :
- Konsul bagian penyakit dalam / jantung, mata.
- Obat-obat antipiretik diberikan bila suhu rektal lebih 38,5 derajat celcius
dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol atau
xylomidon 2 cc IM.
- Antibiotik diberikan atas indikasi.(4) Diberikan ampicillin 1 gr/6
jam/IV/hari.
- Anti nyeri bila penderita kesakitan atau gelisah karena kontraksi uterus.
Dapat diberikan petidin HCL 50-75 mg sekali saja, selambat-lambatnya

12

2 jam sebelum janin lahir.


Pemberian Magnesium Sulfat
Cara pemberian magnesium sulfat :
1. Dosis awal sekitar 4 gram MgSO4 IV (20 % dalam 20 cc) selama 1
gr/menit kemasan 20% dalam 25 cc larutan MgSO4 (dalam 3-5 menit).
Diikuti segera 4 gr di bokong kiri dan 4 gram di bokong kanan (40 %
dalam 10 cc) dengan jarum no 21 panjang 3,7 cm. Untuk mengurangi
nyeri dapat diberikan 1 cc xylocain 2% yang tidak mengandung adrenalin
pada suntikan IM.(6)
2. Dosis ulangan : diberikan 4 gram intramuskuler 40% setelah 6 jam
pemberian dosis awal lalu dosis ulangan diberikan 4 gram IM setiap 6 jam
dimana pemberianMgSO4 tidak melebihi 2-3 hari.(3)
3. Syarat-syarat pemberian MgSO4 :(4,7)
- Tersedia antidotum MgSO4 yaitu calcium gluconas 10%, 1 gram (10%
dalam 10 cc) diberikan intravenous dalam 3 menit.
- Refleks patella positif kuat
- Frekuensi pernapasan lebih 16 kali per menit.
- Produksi urin lebih 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0,5 cc/kgBB/jam).
4. MgSO4 dihentikan bila :
a. Ada tanda-tanda keracunan yaitu kelemahan otot, hipotensi, refleks
fisiologis menurun, fungsi jantung terganggu, depresi SSP, kelumpuhan
dan selanjutnya dapat menyebabkan kematian karena kelumpuhan otototot pernapasan karena ada serum 10 U magnesium pada dosis adekuat
adalah 4-7 mEq/liter. Refleks fisiologis menghilang pada kadar 8-10
mEq/liter. Kadar 12-15 mEq terjadi kelumpuhan otot-otot pernapasan dan
lebih 15 mEq/liter terjadi kematian jantung.
b. Bila timbul tanda-tanda keracunan magnesium sulfat :
- Hentikan pemberian magnesium sulfat
- Berikan calcium gluconase 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) secara IV

13

dalam
waktu 3 menit.
- Berikan oksigen.
- Lakukan pernapasan buatan.
c. Magnesium sulfat dihentikan juga bila setelah 4 jam pasca persalinan
sudah
terjadi perbaikan (normotensif).
Penanganan konservatif
1. Indikasi : Bila kehamilan preterm kurang 37 minggu tanpa disertai tandatanda inpending eklampsia dengan keadaan janin baik.
2. Pengobatan medisinal : Sama dengan perawatan medisinal pada
pengelolaan aktif. Hanya loading dose MgSO4 tidak diberikan intravenous,
cukup

intramuskuler saja dimana 4 gram pada bokong kiri dan 4 gram

pada bokong kanan.


3. Pengobatan obstetri :
a. Selama perawatan konservatif : observasi dan evaluasi sama seperti
perawatan aktif hanya disini tidak dilakukan terminasi.
b. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mempunyai tanda-tanda pre eklampsia
ringan, selambat-lambatnya dalam 24 jam.
c. Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan maka dianggap pengobatan
medisinal gagal dan harus diterminasi.
d. Bila sebelum 24 jam hendak dilakukan tindakan maka diberi lebih dahulu
MgSO4 20% 2 gram intravenous.
4. Penderita dipulangkan bila :
a. Penderita kembali ke gejala-gejala / tanda-tanda pre eklampsia ringan dan
telah dirawat selama 3 hari.
b. Bila selama 3 hari tetap berada dalam keadaan pre eklampsia ringan :
penderita dapat dipulangkan dan dirawat sebagai pre eklampsia ringan
(diperkirakan lama perawatan 1-2 minggu).

14

B. KEHAMILAN PRETERM
Definisi
Kehamilan preterm adalah suatu kehamilan yang terjadi pada seorang
wanita dengan usia kehamilan antara 20 minggu sampai 37 minggu, sedangkan
persalinan preterm atau kurang bulan didefinisikan sebagai masa kehamilan yang
terjadi sesudah 20 minggu dan sebelum genap 37 minggu. Persalinan yang terjadi
di antara usia gestasi ini didefinisikan sebagai persalinan kurang bulan.
Dalam literature yang digunakan adalah kriteria yang didasarkan pada
berat badan kelahiran kurang bulan yakni bobot lahirnya kurang dari 2500 gram.
Keuntungan dari parameter ini adalah kita mudah menentukan usia kehamilan,
tetapi cara ini kurang tepat, dimana berat badan lahir denagn berat badan rendah
dengan umur gestasi aterm.
Etiologi
Penyebab untuk kelahiran kurang bulan biasanya tidak diketahui. Di
bawah ini tercantum sebagian kejadian yang menjadi predisposisi untuk
persalinan preterm :
1. Ruptura spontan selaput ketuban
Persalinan spontan yang jauh sebelum aterm umumnya didahului oleh
ruptura spontan selaput ketuban. Penyebab ruptura selaput ketuban ini
jarang diketahui, tetapi infeksi setempat semakin sering terlibat dalam
tahun-tahun belakangan ini.
2. Infeksi cairan ketuban
Meskipun insiden yang tepat bagi terjadinya persalinan preterm tidak
diketahui, terdapat semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa
kemungkinan sepertiga darikasus-kasus persalinan preterm berkaitan infeksi
membran koriamnion.
Kasus-kasus ini mempunyai hubungan dengan ruptura preterm selaput
ketuban di samping dengan persalinan idiopatik.

15

3. Anomali hasil pembuahan


Malformasi janin atau plasenta bukan hanya merupakan faktor predisposisi
terjadinya

retardasi

pertumbuhan

janin,

tetapi

juga

meningkatkan

kemungkinan persalinan preterm.


4. Persalinan preterm sebelumnya atau abortus lanjut
Wanita yang pernah melahirkan jauh sebelum aterm, lebih besar
kemungkinan untuk mengalami hal yang sama sekalipun tidak ditemukan
faktor predisposisi lainnya.
5. Uterus yang overdistensi
Hidramnion, khususnya kalau bersifat akut atau mencolok, atau keberadaan
dua janin atau lebih, akan meningkatkan resiko persalinan preterm yang
mungkin disebabkan oleh overdistensi uteri.
6. Kematian janin
Kematian janin yang terjadi sebelum aterm umumnya, tapi tidak selalu
diikuti oleh persalinan preterm spontan.
7. Inkompetensi serviks
Pada wanita dalam presentasi kecil dengan kehamilan yang jauh dari aterm,
serviks yang inlompeten dapat menipis dan berdilatasi bukan sebagai akibat
dari peningkatan aktivitas uterus, melainkan akibat dari kelemahan intrinsik
serviks.
8. Anomali uterus
Sangat jarang terjadi, anomali uterus ditemukan pada kasus-kasus persalinan
preterm.
9.

Plasentasi yang salah


Solusio plasenta dan plasenta previa besar kemungkinan berkaitan dengan
persalinan preterm.

10. Retensio IUD


Kemungkinan persalinan preterm meningkat secara nyata kalau kehamilan
terjadi sementara pasien menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD).
11. Kelainan maternal yang serius

16

Penyakit sistemik pada ibu kalau berat dapat menyebabkan persalinan


preterm.
12. Induksi persalinan elektif
Perkiraan usia gestasional yang keliru dapat menyebabkan kekhawatiran
yang tidak semestinya mengenai kemungkinan kehamilan posterm, atau
menimbulkan desakan yang cukup besar dari pasien agar melakukan
tindakan. Induksi persalinan pada sebagian kasus terutama dilakukan demi
kenyamanan ibu namun menggunakan oksitosin khusus.
13. Sebab-sebab yang tidak diketahui
Sayangnya terlalu banyak penyebab yang harus digolongkan ke dalam
kategori ini.
Diagnosis
Diagnosis persalian kurang bulan harus didasarkan pada adanya kontraksi
rahim teratur pada kehamilan kurang bulan yang berkaitan dengan perubahan
serviks akibat dilatasi atau pembukaan.
Pada umumnya seperti Inggris, Amerika juga Indonesia tidaklah lazim
untuk memeriksakan serviks pada kunjungan antenatal. Beberapa peneliti
melaporkan manfaat pemeriksaan tersebut untuk meramalkan kemungkinan
persalinan preterm. Papiernik menemukan untuk bahwa indikator yang paling
sensitive ialah servik yang pendek < 2 cm dan pembukaan (tanda servik yang
matang) mempunyai resiko relatif persalinan preterm mencapai 3-4x. Meskipun
masih terdapat kendala, yakni kuantifikasi penilaian dan perbedaan antar
pemeriksa.
Pencegahan Persalinan Preterm
1. Pendidikan masyarakat melalui media yang ada tentang bahaya dan
kerugian kelahiran preterm atau berat lahir rendah. Masyarakat diharapkan
untuk menghindari faktor resiko diantaranya ialah dengan menjarangkan
kelahiran menjadi lebih dari 3 tahun, menunda usia hamil sampai 22-23
tahun.

17

2. Menggunakan kesempatan periksa hamil dan memperoleh pelayanan


antenatal yang baik.
3. Mengusahakan makanan lebih baik pada masa hamil agar menghindarkan
kekurangan gizi dan anemia.
4. Menghindarkan kerja berat selam hamil. Dalam hal ini diperlukan
peraturan yang melindungi wanita hamil dari sangsi pemutusan hubungan
kerja.
Kriteria persalinan premature antara lain :
-

kontraksi yang teratur dengan jarak 7-8 menit atau kurang dan adanya
pengeluaran lendir kemerahan cairan pervaginam diikuti salah satu
berikut ini

periksa dalam :
pendataran 50-80% atau lebih
pembukaan 2 cm atau lebih

mengukur panjang servik dengan vaginal probe USG


panjang servik kurang dari 2 cm pasti terjadi persalinan
premature

Penanganan
Tujuan utama adalah bagaimana mengetahui dan menghalangi terjadinya
persalinan premature.
Ketika mendiagnosis persalinan kurang bulan, beberapa keputusan
penanganan perlu dilakukan tentang :
- umur kehamilan, karena lebih bisa dipercaya untuk penentuan prognosis
dari berat janin
- pemeriksaan dalam
penilaian ini dilakukan bila tidak ada kontraindikasi seperti plasenta
previa. Penilaian awal harus dilakukan untuk memastikan panjang dan
dilatasi servikal serta kedudukan dan sifat dan bagian yang berpresentasi.
- apakah ada demam atau tidak

18

- kondisi janin (jumlahnya, letaknya, presentasi, taksiran berat badan janin,


hidup/gawat janin/mati, kelainan kongenital dan sebagainya dari USG).
- letak plasenta perlu diketahui untuk antisipasi seksio seksaria
- fasilitas dan petugas yang mampu menangani calon bayi terutama adanya
seorang neonatologi
- pada pasien ini juga diperiksa untuk mencari ada tidaknya setiap masalah
yang mendasari yang dapat dikoreksi, misalnya infeksi saluran kencing.
Pasien harus ditempatkan pada posisi lateral dekubitus dipantau untuk
mendeteksi adanya frekwensi aktifitas rahim, dan diperiksa ulang untuk
mencari ada tidaknya perubahan servik setelah selang waktu yang tepat.
Selama periode observasi hidrasi oral dan parental harus dilakukan.

BAB III
STATUS PENDERITA

A.

ANAMNESIS

19

Tanggal 12 Agustus 2007 jam 16.00 WIB


1. Identitas Penderita
Nama

: Ny. Supinah

Umur

: 39 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Agama

: Islam

Alamat

: Karangpuring Rt.2/Rw.9, Kismoyoso


Ngemplak, Boyolali

Status Perkawinan

: Kawin 1 kali dengan suami 15 tahun

HPMT

: 9 Maret 2007

HPL

: 16 Desember 2007

UK

: 28+5 minggu

Tanggal Masuk

: 26 Agustus 2007

No.CM

: 859730

Berat badan

: 67 Kg

Tinggi Badan

: 158 cm

2. Keluhan Utama
Kepala pusing dan kaki bengkak
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang G5P4A0, 39 tahun dengan keluhan kaki bengkak. Pasien
merasa hamil 7 bulan, kenceng-kenceng belum dirasakan, air kawah
belum dirasakan keluar, gerak janin (+) masih dirasakan, lendir darah (-).
Pasien tidak merasakan sakit kepala yang terpusat di dahi, tidak
merasakan pandangan kabur, tidak merasakan nyeri pada ulu hati.
4. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat sesak nafas

: Disangkal

Riwayat Hipertensi

: Disangkal

20

Riwayat Penyakit Jantung

: Disangkal

Riwayat DM

: Disangkal

Riwayat Asma

: Disangkal

Riwayat Alergi Obat/makanan

: Disangkal

Riwayat Minum Obat Selama Hamil

: Disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat Mondok

: Disangkal

Riwayat Hipertensi

: Disangkal

Riwayat Penyakit Jantung

: Disangkal

Riwayat DM

: Disangkal

Riwayat Asma

: Disangkal

Riwayat Alergi Obat/makanan

: Disangkal

6. Riwayat Fertilitas
Baik
7. Riwayat Obstetri
I

: perempuan, 13 thn, lahir spontan dgn BB 3000 gr

II : laki-laki, bulan ( meninggal ), lahir spontan dgn BB 2900 gr


III : laki-laki, 8 tahun, lahir spontan dgn BB 3200 gr
IV : perempuan, 5 tahun, lahir spontan dgn BB 3400 gr
V : sekarang
8. Riwayat Ante Natal Care (ANC)
Teratur, pertama kali periksa ke Puskesmas pada usia kehamilan 1 bulan.
9. Riwayat Haid
-

Menarche

: 14 tahun

21

Lama menstruasi

: 7 hari

Siklus menstruasi

: 28 hari

10. Riwayat Perkawinan


Menikah 1 kali ( umur 24 tahun )
11. Riwayat Keluarga Berencana
(-)
B.

PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Interna
Keadaan Umum : Baik, CM, Gizi cukup
Tanda Vital

Tensi

: 180/110 mmHg

Nadi

: 88 x / menit

Respiratory Rate : 22 x/menit


Suhu

: 36,6 0C

Kepala

: Mesocephal

Mata

: Conjuctiva anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-)

THT

: Tonsil tidak membesar, Pharinx hiperemis (-)

Leher

: Pembesaran kelenjar tiroid (-)

Thorax

: Normochest, retraksi (-)

Cor

Inspeksi

: Ictus Cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus Cordis tidak kuat angkat

Perkusi

: Batas jantung kesan tidak melebar

Auskultasi : Bunyi jantung I-II intensitas normal, reguler, bising (-)


Pulmo :
Inspeksi

: Pengembangan dada kanan = kiri

Palpasi

: Fremitus raba dada kanan = kiri

Perkusi

: Sonor/Sonor

22

Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), Ronki basah kasar (-/-)


Abdomen:
Inspeksi

: Dinding perut > dinding dada


Stria gravidarum (+)

Palpasi

: Supel, NT (-), hepar lien tidak membesar

Perkusi

: Tympani pada bawah processus xiphoideus, redup pada


daerah uterus

Auskultasi : Peristaltik (+) normal


Genital

: Lendir darah (-), air ketuban (-)

Ekstremitas :

Oedema
+

Akral dingin
-

2. Status Obstetri
Inspeksi
Kepala

: Mesocephal

Mata

: Conjungtiva Anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)

Wajah

: Kloasma gravidarum (+)

Thorax

: Glandula mammae hipertrofi (+), aerola mammae


hiperpigmentasi (+)

Abdomen

Inspeksi : Dinding perut > dinding dada, stria gravidarum (+)


Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), terapa janin tunggal, intra
uterin (kepala di bawah, punggung di atas).
TFU

: 20 cm

TBJ

: 1085 gram

HIS (-)
Pemeriksaan Leopold

23

: TFU setinggi 20 cm, Teraba bagian lunak memanjang, Kesan


perut janin tunggal

II

: Di sebelah kiri teraba bagian keras, rata, memanjang, kesan


punggung

III

: teraba bagian keras dan bulat, kesan kepala

IV

: Kepala janin belum masuk panggul.


Perkusi

: Tympani pada bawah processus xipoideus,


redup pada daerah uterus

Auskultasi : DJJ (+) 11-12-12/12-12-12/11-11-12/reguler


Genital eksterna

: Vulva/uretra tidak ada kelainan, lendir darah (-),


peradangan (-), tumor (-)

Ekstremitas :

Oedema
+

akral dingin
-

Pemeriksaan Dalam :
VT

: vulva / uretra tenang, dinding vagina dalam batas normal,


portio lunak, mencucu = -cm, kulit ketuban (+), teraba
kepala terbawah, janin belum masuk panggul, sakrum di
jam 8, air ketuban (-), STLD (-)

UPD

: promontorium tidak teraba


linea terminalis teraba , 1/3 bagian
spina ischiadica tidak menonjol
arcus pubis > 90
kesan : panggul normal

C.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.

Laboratorium Darah tanggal 26 Agustus 2007 :


Hemoglobin

: 10,9 gr/dl

Hematokrit

: 31,4 %

24

2.

Antal Eritrosit

: 3,69 x 103/uL

Antal Leukosit

: 11,0 x 103/uL

Antal Trombosit

: 306 x 103/uL

Golongan Darah

:A

GDS

: 75 mg/dL

Ureum

: 18 mg/dL

Creatinin

: 0,8 mg/dL

Na+

: 140 mmol/L

K+

: 4,4 mmol/L

Ion klorida

: 107 mmol/L

SGOT

: 18 u/l

SGPT

: 14 u/l

Albumin

: 3,4 g/dl

LDH

: 200 U/L

PT

: 15,8

APTT

: 30,0

HbS Ag

: negatif

Nitrazin Test

: (-) negatif

Protein Urin

: (+++) / positif 3

Ultrasonografi (USG) tanggal 26 Agustus 2007 :


Tampak janin tunggal, intrauterin, preskep, DJJ (+), dengan biometri :
I. BPD

: 62

FL

: 58

AC

: 231

EFBW

: 1100

Plasenta berinsersi di fundus Grade I-II


Air ketuban kesan cukup
Tak tampak kelainan kongenital mayor
Kesimpulan : saat ini janin dalam keadaan baik

25

D.

KESIMPULAN
Seorang G5P4A0, 39 tahun, UK 28+5 minggu, riwayat fertilitas baik, riwayat
obstetri baik, teraba janin tunggal, intra uterin, his (-), DJJ (+) reguler,
TBJ : 1085 gram, STLD (-).

E.

DIAGNOSA AWAL
PEB pada multigravida hamil prematur belum dalam persalinan

F.

PROGNOSA
baik

G. TERAPI
Terapi konservatif :
Tirah baring
Diet preeklamsi (TKTP rendah garam)
Pertahankan kehamilan
Awasi tanda tanda eklampsi
Observasi 10
DC Balance cairan
Cek darah lengkap cito
CST
Mg SO4 40% (4 mg boka, 4 mg boki), dilanjutkan 4 mg/6jam jika syarat
terpenuhi
Nifedipin sublingual jika TD 180/110 mmHg
Injeksi Dexametason
Konsul Neurologi
Konsul Anestesi
Konsul Jantung
Follow up tanggal 26 Agustus 2007
Kel

:-

26

KU

: baik, CM, gizi kesan cukup

VS

: T: 150/100 mmHg
N: 100 x/ menit

Rr: 20 x/ menit
t: 36,50C

Mata : CA (-/-), SI (-/-)


Thorax

: cor/pulmo dbn

Abdomen

: supel, nyeri tekan (-), teraba janin tunggal, intra uterin,


memanjang, puki, preskep, kepala belum masuk panggul, TFU :
20 cm ~ TBJ 1085 gram. His (-), DJJ (+) : 12 - 12 - 12 reguler.
Osborn test (-)

Genital

: Lendir darah (-), air ketuban (-)

Dx.: PEB pada multigravida hamil prematur belum dalam persalinan


Tx.:

Follow up tanggal 27 Agustus 2007


Kel

:-

KU

: baik, CM, gizi kesan cukup

VS

: T: 140/90 mmHg
N: 80 x/ menit

Rr: 20 x/ menit
t: 36,70C

Mata : CA (-/-), SI (-/-)


Thorax

: cor/pulmo dbn

Abdomen

: supel, nyeri tekan (-), teraba janin tunggal, intra uterin,


memanjang, puki, preskep, kepala belum masuk panggul, TFU :
20 cm ~ TBJ 1085 gram. His (-), DJJ (+) : 12 - 12 - 12 reguler.
Osborn test (-)

Genital

: Lendir darah (-), air ketuban (-)

Dx.: PEB pada multigravida hamil prematur belum dalam persalinan


Tx.:
Awasi KU/VS & Balance cairan
Infus D5% : RL = 2 : 1 16 tpm

27

Follow up tanggal 28 Agustus 2007


Kel

:-

KU

: baik, CM, gizi kesan cukup

VS

: T: 140/90 mmHg

Rr: 20 x/ menit
t: 36,50C

N: 80 x/ menit
Mata : CA (-/-), SI (-/-)
Thorax

: cor/pulmo dbn

Abdomen

:supel, nyeri tekan (-), teraba janin tunggal, intra uterin,


memanjang, puki, preskep, kepala belum masuk panggul, TFU :
20 cm ~ TBJ 1085 gram. His (-), DJJ (+) : 12 - 11 - 12 reguler.
Osborn test (-)

Genital

: Lendir darah (-), air ketuban (-)

Dx.: PEB pada multigravida hamil prematur belum dalam persalinan


Tx.:
Follow up tanggal 29 Agustus 2007
Kel

:-

KU

: baik, CM, gizi kesan cukup

VS

: T : 150/90 mmHg
N : 88 x/ menit

Rr : 20x/ menit
t : 36,60C

Mata : CA (-/-), SI (-/-)


Thorax

: cor/pulmo dbn

Abdomen

: supel, nyeri tekan (-), teraba janin tunggal, intra uterin,


memanjang, puki, preskep, kepala belum masuk panggul, TFU :
20 cm ~ TBJ 1085 gram. His (-), DJJ (+) : 12 - 12 - 12 reguler.
Osborn test (-)

Genital

: Lendir darah (-), air ketuban (-)

Dx.: PEB pada multigravida hamil prematur belum dalam persalinan


BAB IV
ANALISA KASUS

28

A.

Analisa Status

1. Pre-eklampsia Berat
Kriteria diagnostik untuk preeklampsia :
Preeclampsia
Tekanan darah : sistolik > 140 mmHg atau diastolic > 90 mmHg setelah
kehamilan 20 minggu yang sebelumnya memiliki tekanan darah yang normal.
Proteinuria : 0,3 gr atau lebih protein 24 jam
Preeklampsia berat
Tekanan darah : sistolik > 160 mmHg atau diastolic > 110 mmHg
Proteinuria : 5 gr atau lebih protein 24 jam
Gejala lain : oliguria ( < 500 ml urin dalam 24 jam), gangguan pandangan, edema
paru dan sianosis, nyeri epigastrik kuadran atas, gangguan fungsi liver,
trombositopenia, gangguan pertumbuhan janin.
Pada kasus ini kriteria yang mendukung ke arah pre-eklampsia berat
(PEB ) yaitu :
a)

Pemeriksaan fisik, vital sign Tensi : 180/110 mmHg

b)

Pemeriksaan laboratorium proteinuria ( Ewitz ) +3

Faktor Risiko Pre-eklampsia 1,2


Faktor yang berhubungan
dengan kehamilan
Abnormalitas
kromosom

Faktor Resiko Preeklampsia


Faktor yang berhubungan Faktor yang berhubungan
dengan kondisi maternal
dengan pasangan
Usia > 35 tahun atau Partner lelaki yang
<20 tahun

pernah

menikahi

Mola hidatidosa

Ras kulit hitam

wanita yang kemudian

Hidrops fetalis

Riwayat Preeklampsia

hamil dan mengalami

Donor

inseminasi donor
kongenital

Pemaparan

atau Nullipara

oosit

Anomali

preeklampsia

pada keluarga

Kehamilan ganda

struktur

Preeklampsia

pada

kehamilan sebelumnya

terbatas

terhadap sperma
Primipaternity

Kondisi medis khusus :


DM,

HT

Kronik,

29

ISK

Obesitas,

Penyakit

Ginjal, trombofilia
Stress
Antibody
antifosfolipid syndrom
Pada kasus ini faktor resiko terjadinya pre-eklampsia berat adalah usia
pasien yang lebih dari 35 tahun ( 39 tahun )
B.

Analisa Kasus Penatalaksanaan


Pada pasien ini umur kehamilan 28+5 minggu ( < 35 minggu ) dan belum
didapatkan adanya tanda-tanda impending eklampsi yaitu nyeri kepala frontal,
nyeri ulu hati ataupun pandangan kabur dan dari hasil pemeriksaan keadaan
janin baik, sehingga diberikan pengobatan konservatif (stabilisasi
hemodinamik).

30

DAFTAR PUSTAKA

1. Lana K. Wagener, M.D. 2004. Diagnosis and Management of


Preeklampsia. American Family Physician. Volume 70, Number 12
Pp : 2317-24.
http://www. Aafp.org
2. Agus abadi, 2004. Persalinan Preterm. Ilmu Kedokteran Fetomaternal.
Himpunan Kedokteran Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan
Ginekologi Indonesia. Surabaya. Pp: 364-7
3. Anthonius Budi Marjono. 1999. Hipertensi pada Kehamilan PreEklampsia/Eklampsia. Kuliah Obstetri/Ginekologi FKUI.
http://www.geocities.com/yosemite/rapids/1744/cklobpt 2. html
4. Luciano E. Mignini, MD, Jose Villar, MD, Khalid S, Khan, MD. 2006.
Mapping the Theories of Preeclampsia : The Need for Systemetic
reviews of Mechanism of Disease. American Journal of Obstetrics and
Gynecology 194. Pp: 317-21
http://www.ajog.org
5. Ketut Sudhaberata. 2001 Profil Penderita Preeklampsia-Eklampsia di
RSU Tarakan, Kaltim. Bagian Kebidanan dan Kandungan, RSU
Tarakan, Kaltim.
http://www.tempo.co.id/medica/arsip/022001/art-2.htm
6. Kelompok Kerja Penyusunan Pedoman Pengelolaan Hipertensi dalam
Kehamilan di Indonesia Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI.
2005. Pedoman Pengelolaan Hipertensi dalam Kehamilan di Indonesia.
Edisi Kedua.
7. Ridwan Amirudin, dkk. 2007. Issu Mutakhir Tentang Komplikasi
Kehamilan (Preeklampsia dan Eklampsia). Bagian Epidemiologi
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanudin Makasar.
8. Manoe, M, dkk. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan
Ginekologi. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanudin Makasar.
http://www.geocities.com/klinikobgin/kelainankehamilan/preeklamsiaeklampsia.htm

31