Anda di halaman 1dari 15

PERMINTAAN TENAGA KERJA

Permintaan pengusaha atas tenagakerja berlainan dengan permintaan


konsumen terhadap barang dan jasa. Orang membeli barang karena barang itu
memberikan nikmat (utility) kepada si pembeli. Akan tetapi pengusaha
mempekerjakan seseorang karena seseorang itu membantu memproduksikan
barang atau jasa untuk dijual kepada masyarakat konsumen. Dengan kata lain,
pertambahan permintaan pengusaha terhadap tenaga kerja, tergantung dari
pertambahan permintaan masyarakat terhadap barang yang diproduksikannya.
Permintaan akan tenaga kerja yang separti itu disebut derived demand. Pengusaha
harus dengan kombinasi agar diperoleh keutungan maksimal. Agar mencapai
keuntungan penerimaan yang lebih besar daripada tambahaan terhadap tambahan
biayanya. Semakin menambah jumlah tenaga kerja maka jumlah produksi akan
semakin meningkat, akan tetapi untuk menambah jumlah pekerja harus
menghitung seberapa keuntungan yang kita dapat. Laba adalah pendapatan total
dikurangi biaya total, maka laba yang dihasilkan oleh seorang pekerja tambahan
sama dengan kontribusinya bagi pendapatan perusahaan dikurangi gajinya.
Dengan ekonomi pasar diasumsikan bahwa seorang pengusaha tidak dapat
mempengaruhi harga. Di satu pihak, satu perusahaan disebut price taker, yaitu
bahwa dia sendiri tidak dapat merubah harga dengan menaikkan atau menurunkan
produksinya. Di pihak lain pengusaha dapat menjual berapa saja produksinya
dengan harga yang berlaku, untuk memaksimumkan laba pengusaha hanya dapat
mengatur berapa jumlah karyawan yang dapat dipekerjakannya. Banyak pilihan
yang tersedia bagi pengusaha, namun dalam jangka pendek pilihan menjadi
terbatas. Jangka pendek dapat diartikan sebagai suatu jangka waktu yang selama
waktu itu paling tidk satu input produksi tidak diubah (misalnya modal, yaitu
gedung dan perlengkapan perusahaan).
Suatu kurva permintaan terhadap pekerja menggambarkan:
1. Pada setiap tingkat upah berapa kuantitas pekerja yang maksimum yang
akan dipekerjakan oleh majikan pada kurun waktu tertentu.
2. Untuk masing-masing jumlah pekerja yang mungkin, terdapat sebuah
tingkat upah maksimum bagi majikan untuk mau mempekerjakan pekerja
pada jumlah tersebut.
1.1 Teori Produktivitas
Produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang dapat dicapai dengan
keseluruhan sumberdaya yang dipergunakan per satuan waktu. Peningkatan
produktivitas tenaga kerja merupakan sasaran yang strategis karena peningkatan
produktivitas faktor-faktor lain sangat tergantung pada kemampuan tenaga

manusia yang memanfaatkannya. Faktor yang mempengaruhi produktivitas


karyawan perusahaan dapat di golongkan pada tiga kelompok (Payaman J.
Simanjuntak, 1997): (1) menyangkut kualitas dan kemampuan fisik karyawan; (2)
sarana pendukung; dan (3) supra sarana.
Produktivitas secara umum dapat diartikan sebagai perbandingan antara apa yang
dihasilkan dengan apa yang dimasukkan. Menurut Terry (1996) mendefinisikan
produktivitas sebagai perbandingan antara apa yang dihasilkan dengan apa yang
dimasukkan. Konsep produktivitas mengandung unsur-unsur yang komplek,
menyangkut banyak faktor baik dilihat dari konsep dan pendekatannya maupun
cara pengukurannya. Dari kompleksitas ini dapat disadari kalau timbul berbagai
macam penafsiran dan pengertian tentang konsep prokdutivitas dan bagaimana
mengukurnya. Bahkan kata produktivitas sendiri merupakan bagian dari suatu
persoalan. Tetapi apabila diperhatikan lebih mendalam terdapat titik temu dalam
pandangan mereka tentang konsep produktivitas yang mengartikan produktivitas
adalah rasio antara keluaran dengan masukan (Hinrichs and John R, 1995).
Dalam konsep produktivitas, kegiatan pengukuran merupakan kegiatan yang
sangat penting karena mempunyai sifat evaluatif dan pengembangan. Meskipun
demikian, pengukuran produktivitas merupakan sebagian saja dari keseluruhan
dari produktivitas. Terdapat dua cara pengukuran priuduktivitas yang sering
digunakan yaitu: Engineering Model yang mengacu pada lingkungan fisik dan
pendekatan ekonomi yang sering disebut Accounting Model yang mengacu
pada ligkungan pasar. Baik engineering maupun accounting model, dapat
dipergunakan untuk mengukur berbagai tingkat skala kegiatan ekonomi dengan
berbagai dimensi, yaitu dimensi nasional yang sering disebut dengan prokdutivitas
makro, dimensi sektoral disebut juga produktivitas organisasi/perusahaan dan
dimensi parsial disebut dengan produktivitas faktor parsial.
Efisiensi merupakan ukuran keberhasilan suatu usaha, dapat juga bearti
prokdutivitas. Sedangkan produktivitas itu sendiri adalah kemampuan
menghasilkan barang atau jasa dari suatu tenaga kerja manusia, mesin atau faktor
produksi lainnya yang dihitung berdasarkan waktu rata-rata dari tenaga kerja
tersebut dalam proses produksi.
Produktivitas perusahaan/industri terdiri dari produktivitas mesin/peralatan
produktivitas tenaga kerja. Produktivitas tenaga kerja merupakan ukuran
keberhasilan tenaga kerja menghasilkan suatu produk dalam waktu tertentu.
Sedangkan produktivitas mesin dapat diartikan sebagai perbandingan antara output dengan kapital in-put, dimana kapital in-put tersebut meliputi tanah, mesin
dan peralatan. Satuan out-put berbeda-beda sesuai denga unsur kapitalnya,
sedangkan untuk satuan input dinyatakan dengan waktu.

Sedangkan yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja itu sendiri antara lain:
pendidikan, keterampilan , disiplin, motivasi, sikap dan etika kerja, gizi dan
kesehatan, tingkat penghasilan, jaminan sosial, lingkungan dan iklim kerja,
hubungan industrial, teknologi, sarana produksi,manajemen dan kesempatan
berprestasi (Wana Nusa, 1990). Pengertian produktivitas adalah perbandingan
antara hasil yang dikeluarkan dengan sumber-sumber dayanya yang ada pada
kurun waktu tertentu.
Beberapa pengertian produktivitas adalah (Dinas Perburuan Jatim, 1994:5):
1. Menurut OECD (Organization for Economic Cooperation and Development)
bahwa producitivity is equal to outputs devided by one of its productions
elements. Pada dasarnya produktivitas adalah to output dibagi dengan elemen
produksi yang dimanfaatkan;
2. sMenurut ILO (International Labour Organization) menyatakan bahwa pada
prinsipnya, perbandingan antara elemen-elemen produksi dengan yang
dihasilkan merupakan ukuran produktivitas. Elemen-elemen produksinya
tersebut berupa tanah, kapital, buruh dan organisasi.
3. Menurut European Productivity Agency (EPA), menyatakan bahwa pada
prinsipnya, produktivitas adalah tingkat efektivitas manfaatan setiap elemen
produktivitas;
4. Menurut tulisan Vinay Goel yang termuat dalam
Toward Higher
Productivity menyatakan bahwa produktivitas adalah hubungan antara
keluaran yang dihasilkan dengan masukan yang dipakai dalam waktu tertentu.
5. Menurut Paul Maili,pruduktivitasn adalah pengukuran seberapa baik sumber
daya yang digunakan, bersama didalam organisasi untuk menyelesaikan suatu
kumpulan hasil-hasil;
6. Menurut formulasi dari National Productivity Board, Singapura. Pada
prinsipnya produktivitas adalah sikapnya mental yang mempunyai semangat
untuk bekerja keras, dan berusaha memiliki kebiasaan untuk melakukan
peningkatan perbaikan. Perwujudan sikap mental tersebut dalam berbagai
kegiatan. Produktivitas merupakan acuan pokok bagi pihak perusaan dalam
menentukan upah.

Fungsi produksi

kualitas
345
300
195

100

kuantitas

Q = f(M,TK)
Bila kita menambah M dan atau Tk untuk memperoleh tambahan Q sesuai dengan
produktivitasnya masing-masing masukan
Q
Q

dQ
M dM + TK dTK
Bila M dan TK ditambah dengan nilai satu rupiah masing-masing, maka sebagai
berikut :
dQ

Q
M

= Rp

Rp 1,- +
Q
M

Q
TK
Q
TK

Rp 1,-

Rp

Bila dQ kita jual, penerimaannya sama dengan pendapatan Marginal (RM) atau
Marginal Revenue (MR).
RM = Rp

Q
M

Q
TK

Rp

Seperti kita ketahui perusahaan ada pada posisi optimal


RM = BM
(RM = MC)
Biaya marginal berasal dari tambahan biaya modal dan tambahan biaya tenaga
kerja, maka terjadi hubungan berikut :

BMtk = Rp

Q
TK

Q
Seperti kita ketahui Btk tidaklah lain dari pada tingkat upah U (=W) dan TK
adalah PMtk (=MP) sehingga :
U = PMtk
(W = MP)
Atau tingkatan upah sama dengan nilai rupiah produk marginal.

Wage

VMPP

W1
E

W
W2

D = MPP x P
L
A

Employment

ON

terus menambah jumlah TK

Laba max, yaitu bila MPPL x P = W

NB

merugikan employer, dapat ditanggulangi dengan membayar upah

dibawah W dan/atau bila pengusaha mampu menaikkan harga jual barang.


Perubahan jumlah tenaga kerja
1. Marginal Physical Product (MPPL)
Merupakan tambahan output yang diperoleh pengusaha sehubungan dengan
penambahan seorang tenaga kerja.

2. Marginal Revenue
Merupakan jumlah uang yang akan diperoleh pengusaha dengan tambahan
hasil marjinal tersebut.
MR = VMPPL = MPPL x P
MR

Marginal product

VMPPL

Value Marginal Physical Product of Labor

MPPL

Marginal Physical Product of Labor

Price

3. Marginal Cost
Merupakan biaya yang dikeluarkan employer sehubungan dengan
mempekerjakan tambahan seorang karyawan.
Employer akan membandingkan antara MR dengan biaya mempekerjakan
tambahan seorang karyawan tersebut.
MR > MC tambahan TK menguntungkan
Semakin banyak TK maka MPPL semakin kecil
Law of Diminishing Returns
Dari kacamata tenaga kerja ingin agar upah mencukupi. Oleh karena itu
tenaga kerja pun mempunyai konsep tersendiri mengenai tentang seberapa
tinggi tingkat upah sebaliknya. Dari berbagai faktor yang dijadikan
pertimbangan mereka, ada dua buah yang penting dalam kaitannya dengan
pembahasan searang ini.
Pertama, tingkat upah perlu mencukupi kebutuhan dan yang kedua tingginya
diinginkan agar sesuai dengan harapan ekonomis. Jika perusahaan kompetitif
merekrut tenaga kerja sampai ke suatu titik dimana nilai produk marjinalnya sama
dengan upah, maka ia akan berproduksi sampai ke suatu titik dimana harga sama
dengan biaya marginal. Kebutuhan hidup seseorang biasanya tidak hanya harus
mencukupi kebutuhan bagi dirinya sendiri melainkan untuk seluruh anggota
rumah tangganya yang intinya terdiri dari istri dan anak-anaknya. Dalam konsep
Extended Family kepada rumah tangga seringkali harus menanggung kewajiban
alimentasi baik secara vertikal maupun horisontal. Kriteria kebutuhan dasar (Basic
Needs) pun masih sangat relatif dan dengan sendirinya bervariasa. Beberapa
pemikiran tentang kebutuhan fisik minimum seseorang bujangan (KFM) K
dengan istri K dengan seorang anak K dan seterusnya merupakan usaha kearah

konsep upah yang mencukupi penerapannya pada penentuan tingginya tingkat


upah masih belum menyeluruh. Biasanya konsep-konsep ini dibutuhkan untuk
menetapkan upah minimum bagi tenaga kerja tak terampil. Faktor kedua yang
mnjadi pertimbangan bagi pemasok tenaga kerja lebih bersifat ekonomis yaitu
bahwa upah harus sepadan dengan pengeluaran investasi untuk membentuk modal
insani untuk meraih sesuatu pekerjaan, biasanya orang mempunyai bekal keahlian,
keterampilan atau pengetahuan tertentu. Bekal tersebut diperoleh melalui
pendidikan, latihan atau pengalaman kerja yang harus dibayar biayanya. Bila
akumulasi aturan pendapatan dengan memperhitungkan tingkat bunga (dan
tingkat inflasi) yang berlaju melebihi jumlah pengeluaran investasinya maka
orang tersebut akan merasa untung.
Bila upah kita sebut sebagai Return (R) dan investasi kita sebut sebagai Biaya (B)
sedangkan tingkat bunga adalah dan untuk sementara tingkat bunga sudah
dianggap mewakili tingakt inflasi maka pertimbangan untuk bersedia menerima
atau enggan menerima pekerjaan didasarkan atas hubungan berikut ini :

) (I + i) =
B

R (1i)
j=1

Nilai sekarang dari investasi yang lalu (B) sama dengan nilai sekarang aliran
pendapatan upah yang akan diterimanya. Bila ruas kanan sama atau lebih besar
dari pada ruas kiri orang tersebut akan bersedia menerima pekerjaan dengan upah
R tersebut.
Produktivitas dilihat dari pemasokan tenaga kerja dapat dengan mudah membagi
pendapatan upah R dengan pengeluaran investasi B yang kita beri nama lain yaitu
Rate of Return (r).
R
r = B
Ketidaksamaan/kesamaan tersebut dimuka dijamin bila
ri
Bila tingkat upah atau Rate of Return lebih besar dari tingkat biaya bunga orang
tersebut akan menerima pekerjaan yang mnjanjikan tingkat upah tersebut. Sekali
lagi r dan i kita lihat dalam pengertian in real terus yaitu sesudah kita koreksi
dengan tingkat inflasi.
1.2 Permintaan Tenaga Kerja di Perusahaan
Hubungan input output sebuah perusahaan tertentu digambarkan garis
melengkung yang disebut isoquant yang menggambarkan berbagai kombinasi
pekerja dan modal yang digunakan oleh perusahaan untuk produksi sejumlah
output yang sama. Dalam hal ini pekerja dan modal merupakan substitusi dalam
proses produksi.

Sejumlah pekerja digunakan, output mulai meningkatkan dengan tambahan yang


makin kecil. Kedaaan ini merupakan ciri setiap proses produksi dalam jangka
pendek. Hasil yang mengecil mempunyai implikasi yang penting bagi analisis
ekonomi. Implikasi utamanya adalah bahwa perusahaan hanya mau menggunakan
tambahan input pekerja dengan upah yang lebih rendah, karena setelah jumlah
pekerja digunakan, setiap tambahan pekerja akan memberi tambahan output yang
lebih kecil.
Perusahaan mempekerjakan seseorang karena seseorang itu membantu
memproduksi barang dan jasa untuk dijual kepada masyarakat konsumen.
Permintaan tenaga kerja seperti itu disebut derived demand. Dalam ekonomi pasar
diasumsikan seorang pengusaha tidak dapat mempengaruhi harga. Perusahaan
disbut price taker, perusahaan sebagai penerima harga pasar yang berlaku dan
tidak dapat merubah harga dengan menaikkan atau menurunkan produksinya.
Dalam memaksimumkan laba, pengusaha hanya dapat mengatur berapa jumlah
karyawan yang dapat dipekerjaannya.
Sifat permintaan tenaga kerja adalah derived demand,yang artinya bahwa
permintaan tenaga kerja oleh pengusaha sangat tergantung permintaan masyarakat
terhadap hasil produksi. Untuk menjaga stabilitas permintaan produk perusahaan
serta kemungkinan pelaksanaan export,maka perusahaan harus memiliki
kemampuan bersaing baik untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri.
1.3 Kebijaksanaan Manajemen Sumber Daya Manusia
Perencanaan ketenagakerjaan pada tingkat nasional atau regional baru dapat
diimplementasikan dengan baik bila terdapat manajemen SDM yang baik pula.
Keberhasilan suatu perusahaan antara lain ditentukan oleh pendayagunaan SDM
yang dimiliki secara tepat, dan ini dimungkinkan bila pimpinan organisasi melihat
karyawan sebagai manusia seutuhnya. Setiap manajer pada berbagai tingkatan
akan selalu melakukan proses manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan serta pengawasan. Perencanaan SDM suatu organisasi perlu melihat
berbagai faktor yaitu proses perencanaan itu sendiri, sarana yang menunjang serta
proses staffing.
Pada tiap subsistem terdiri dari beberapa aktivitas sebagai berikut :
1. Tantangan Lingkungan, yaitu perusahaan dipengaruhi oleh lingkungan
ekonomi, pasar pemerintah dan masyarakat.
2. Perencanaan Tenaga Kerja, yaitu peruahaan perlu menyusun data base
mengenai jumlah dan kualifikasi tiap karyawan. Data ini dapat digunakan
apabila perusahaan membutuhkan tenaga kerja untuk diseleksi dan
ditempatkan.
3. Pengembangunan dan evakuasi, yaiti setelah tenaga kerja diterima, maka
perku dikembangkan melalui pendidikan/latihan agar dapat bekerja lebih
baik.

4. Batas jasa, yaitu agar tenaga kerja dapat bekerja dengan baik perlu
dimotivasi dan diberi kepuasan, antara lain dengan gaji dan fasilitas lain
termasuk komunikasi,nasehat dan aktivitas disiplin.
5. Hubungan karyawan, yaitu hubungan antara karyawan dengan perusahaan
diatur dalam hubungan industrial.
Perencanaan SDM adalah salah satu subsistem manajemen SDM dan suatu upaya
secara sistematis memproyeksikan kebutuhan dan penyediaan personalia.
1.4 Proyeksi Kebutuhan Sumber Daya Manusia
4.1.1 Permintaan Pada Tenaga Kerja
Perencanaan SDM ini memungkinkan organisasi untuk:
1. Memperbaiki penggunaan SDM
2. Memadukan kegiatan kepegawaian dan tujuan organisasi yang akan datang
secara efisien.
3. Mengembangkan informasi mengenai SDM untuk membantu kegiatan
karyawan dan unit organisasi lainnya.
4. Mengkoordinasikan program penarikan, seleksi dan penempatan karyawan
dari berbagai unit terpadu.
Peran tenaga kerja sangat penting, akan tetapi kebutuhan tenaga kerja harus di
seimbangkan dengan prosepek ekonomi suatu perusahaan artinya kebutuhan
tenagakerja harus seimbang dengan output yang dihasilkan agar tidak terjadi
ketidak efisien dalam melakukan produktifitas.
4.1.2

Permintaan Sumber Daya Manusia

Permintaan (kebutuhan) SDM diwaktu yang akan datang merupakan inti kegiatan
perencanaan SDM. Peramalan kebutuhan karyawan memerlukan berbagai
pertimbangan yaitu:
1. Identifikasi lowongan pekrjaan dimas akan datang.
2. Bagaimana mengisi lowongan tersebut
Faktor yang menyebabkan timbulny permintaan SDM dimasa yang akan datang
antara lain: perkembangan lingkungan eksternal, organisasi unit usaha dan
tersedianya tidaknya penyediaan karyawan beberapa teknik penentuan
permintaan, yaitu:
1. Analisis kecendrungan (trend analisis), yaitu suatu cara yang logis
memproyeksikan kebutuhan SDM dengan mengkaji kecendrungan tenaga
kerja pada perusahaan selama lima tahun terakhir atau lebih.
2. Analisis Ratio, merupakan ratio atau perbandingan yang tepat antara beberapa
fekor penyebab, misalnya volume penjualan dan jumlah pegawai yang
diperlukan

3. Analisis korelasi, yaitu merupakan cara menentukan hubungan statistik antara


dua variabel.
Permintaan tenaga kerjaan pada masa akan datang adalah merupakan pusat
perencanaan kepegawaian. Perusahaan harus membuat prediksi dan peramalan
kebutuhan kepegawaian pada masa yang akan datang, jumlah tenaga kerja harus
sesuai dengan kebutuhan suatu perusahaan. Agar tidak terjadi ketidak keselarasan
antara pekerja dan perusahaan hendaknya permintaan tenagakerja didahului oleh:
1. Adanya identifikasi berbagai tantangan yang mempengaruhi permintaan, baik
faktor pengaruh langsung seperti persediaan personalia atau aspek-aspek
organisasi yang lain ataupun faktor-faktor tidak langsung lainnya serta
perubahan lingkungan yang mendadak.
2. Organisasi peramalan kebutuhan karyawan dibuat dalam satu periode dimasa
yang mendatang. Forcasting kebutuhan karyawan dibuat dengan
pertimbangan keakuratan jumlah karyawan dengan dibutuhkan oleh
perusahaan yang menginginkannya.
Untuk mengatasi adanya tuntutan kenaikan upah tenaga kerja, dapat dipecahkan
dengan beberapa alternatif, yaitu:
1. Pengusaha menuntut peningkatan produktifitas kerja karyawannya sedemikan
rupa sehingga pertambahan produksi yang dihasilkan karyawan senilai
dengan pertambahan nilai upah yang diterimanya.
2. Pengusaha terpaksa menaikkan harga jual.
3. Pengusaha mengurangi jumlah karyawan yang bekerja.
4. Pengusaha melakukan kombinasi dari dua diantara ketiga alternatif diatas
atau kombinasi dari ketiganya.
Dari alternatif diatas tersebut, maka untuk Indonesia alternatif yang paling cocok
adalah alternatif 1 atau bila dikaitkan dengan laju inflasi, maka kombinasi antara
1 dan 2 adalah yang sesui dengan kondisi di Indonesia.
4.1.3 Konsep Ketenagakerjaan
Beberapa pengertian yang berhubungan dengan ketenagakerjaan, yaitu:
(1). Tenaga Kerja (manpower)
Adalah pendudukan dalam usia kerja (berusia 15-64 tahun) atau jumlah seluruh
penduduk dalam suatu Negara yang dapat memproduksi barang dan jasa jika ada
permintaan terhadap tenaga mereka, dan jika mereka mau berpartisipasi dalam
aktivitas tersebut.
(2). Angkatan Kerja (labor force)

Adalah bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya terlibat, atau berusaha untuk
terlibat,dalam kegiatan produksi yaitu produksi barang dan jasa.
(3). Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (Labor Force Participation rate).
Adalah menggambarkan jumlah angkatan kerja dalam suatu kelompok umum
sebagai persentase penduduk dalam kelompok umur tersebut.

TPAk

Angkatan Kerja
Tenaga Kerja

100%

(4). Tingkatankatan Pengangguran (Unemployment rate)


Adalah y ang menunjukkan berapa banyak dari jumlah angkatan kerja yang
sedang aktif mencari pekerjaan. Pengertian menganggur di sini adalah aktif
mencari pekerjaan.
TP

Jumlah Orang yang Mencari Pekerjaan


Jumlah Angkatan Keja

100%

(5). Pengangguran Terbuka (Open Unemployment)


Pengangguran terbuka atau pengangguran adalah bagian dari angkatan kerja yang
sekarang ini tidak bekerja dan sedang aktif mencari pekerjaan.
(6). Setengah Menganggur (Underemployment)
Adalah perbedaan antara jumlah pekerjaan yang betul dikerjakan seseorang dalam
pekerjaannya dengan jumlah pekerjaan yang secara normal mampu dan ingin
dikerjakannya.
(7). Setengah Menganggur yang Kentara (Visible Underemployment).
Adalah jika seseorang bekerja tidak tetap (part time) di luar keinginannya sendiri,
atau bekerja dalam waktu yang lebih pendek dari biasanya.
(8).Setengah Menganggur yang Tidak Kentara (Invisible Underemployment)
Adalah jika seseorang bekerja secara penuh (full time) tetapi pekerjaannya itu
dianggap tidak mencukupi, karena pendapatannya yang terlalu rendah atau
pekerjaan tersebut tidak memungkinkan ia untuk mengembangkan seluruh
keahliannya.
(9). Pengangguran Tidak Kentara (Disguised Unemployment)
Dalam angkatan kerja mereka dimaksukkan dalam kegiatan bekerja, tetapi
sebetulnya mereka adalah pengangguran jika dilihat dari segi produktifitasnya.

(10). Pengangguran Friksional


Adalah pengangguran yang terjadi akibat pindahnya seseorang dari suatu
pekerjaan ke pekerjaaan yang lain, dan akibatnya harus mempunyai tengang
waktu dan berstatus sebagai pengangguran sebelum mendapat pekerjaan yang lain
tersebut.
(11). Pengangguran Struktural
Adalah pengangguran yang disebabkan karena ketidakcocokan antara struktur
para pencari kerja sehubungan dengan keterampilan, bidang keahlian, maupan
daerah lokasinya dengan srtuktur permintaan tenaga kerja yang belum terisi.
Pergeseran Dalam Permintaan Tenaga Kerja
Pergeseran dalam permintaan tenaga kerja terjadi ketika permintaan tenaga kerja
mneningkat disebabkan oleh kenaikan harga output perusahaan, maka upah
ekuilibrium akan meningkat dan ekuilibrium akan menyerap sumber tenaga kerja.
Berikut akan di gambarkan kedalam grafik :
Upah

penawaran

W1
1. suatu kenaikan permintaan pekerja
Penawaran
W2
2. Upah meningkat

Permintaan

L1

L2

kuantitas tenaga kerja

3.Menterap tenaga kerja

Pendapatan total dari suatu perekonomian terdistribusikan dipasar faktor produksi


yang terpenting adalah tenaga kerja, tanah, dan modal. Permintaan terhadap faktofaktor produksi tersebut merupakan derivasi atau turunan dari permintaan oleh
perusahaan pemakai faktor produksi guna membuat berbagai barang dan jasa.
Harga yang dibayarkan kepaa setiap faktor produksi senantiasa menyesuaikan diri
dalam rangka menyeimbangkan penawaran dan permintaannya. Karena
permintaan atas suatu faktor produksi mencerminan nilai produk marjinal dari
faktor produksi itu sendiri, maka dalam kondisi ekuilibrium setiap faktor produksi

saling memberikan kompensasi sesuai dengan kontribusi marjinalnya bagi


kegiatan produksi barang dan jasa. Karena faktor-faktor produksi itu digunakan
secara bersamaan, maka besar-kecilnya produk marjinal dari suatu dari suatu jenis
faktor produksi ditentukan oleh banyak-sedikitnya ketersediaan faktor-faktor
produksi akan mengubah ekuilibrium pendapatan bagi semua faktor produksi
lainnya.

REFRENSI
Sumarsono,sonny.2003ekonomi manajemen SDM & ketenagakerjaan.
Yogyakarta:Graha ilmu
Dra.Arfida BR,M.S.1996Ekonomi Sumber Daya ManusiaJakarta:Ghalia
Indonesi
N. Gregory Mankiw.1998Pengantar Ekonomi Jilid 2.jakarta:Erlangga
Andri_wijanarko@yahoo.com// labor deman
Payaman.J.Simanjuntak.1983.pengantar ekonomi sumber daya manusia.
Jakarta:FE UI

NAMA KELOMPOK :
1. FERDYTA ISMIBAHARI
2. LILIK INDRAWATI
3. ABD. WAHID

JUDUL TUGAS ESDM :


PERMINTAAN TENAGA KERJA

(100231100061)
(100231100071)
(100231100087)

Anda mungkin juga menyukai