Anda di halaman 1dari 33

Logika Deduktif

dan Induktif

Logika Deduktif
Argumen deduktif adalah argumen yang bagian
kesimpulannya ditarik secara niscaya
(necessary) dari premis-premisnya.
Cara berpikir deduktif (logika deduktif) adalah
cara berpikir yang berurusan dengan penarikan
kesimpulan dari kategori yang umum (general)
menjadi yang khusus (particular).
Sekiranya alasan-alasan yang diberikan di
bagian premis adalah benar, mustahillah
kesimpulannya salah.

Contoh argumen deduktif


Premis mayor = Setiap manusia pasti
mati.
Premis minor = Bang Toyib manusia.
Kesimpulan = Karenanya, bang Toyib juga
pasti mati

Logika Induktif
Argumen induktif adalah argumen yang bagian
kesimpulannya ditarik secara mentak (probably) dari
premis-premisnya.
Dalam argumen induktif, yang kita cari cukuplah buktibukti yang cukup beralasan (well-founded), sehingga
kesimpulan yang kita tarik sifatnya lebih mungkin (more
probable) daripada sejumlah kemungkinan kesimpulan
yang lain.
Inductive logic is concerned with the soundness of those
inferences for which the evidence is not conclusive.
[Popkin dan Stroll ]
Cara berpikir induktif (logika induktif) adalah cara berpikir
yang berurusan dengan penarikan kesimpulan dari
(bukti-bukti, premis-premis) yang khusus menuju yang
umum, dan sifat kesimpulan yang ditarik tidak pernah
konklusif

Contoh Logika induktif (versi


panjang)
Brankas besar di Bank Mandiri Cabang Cut Meutia
dirampok semalam. Kerugian ditaksir sekitar 1.5 milyar.
Siapapun yang merampok bank tersebut pasti
mengetahui nomor kombinasi untuk membuka
brankasnya, karena tidak ditemukan jejak kekerasan
(paksaan) di brankas yang dirampok. Hanya ada dua
orang yang tahu nomor kombinasi tersebut, Saskia si
Manajer Bank dan Giovanni, teller kepercayaannya.
Menurut pengakuan teman dekatnya, Giovanni
membutuhkan uang cash dalam jumlah yang besar
karena dia baru saja kalah taruhan bola dalam jumlah
yang besar. Giovanni tidak punya alibi keberadaannya
semalam saat terjadinya perampokan. Cukup beralasan
jika kita menyimpulkan bahwa Giovanni terlibat dalam
perampokan bank tersebut.

Contoh2 yang menarik dari Logika Induktif


Bisa dibaca dalam cerita-cerita detektif
seperti Monsieur Hercule Poirot (dalam
novel-novel karangan Agatha Christie),
Detektif Conan, Trio Detektif, dll., atau
ditonton dalam serial TV seperti CSI
(Crime Scene Investigation).

Perbedaan Logika Deduktif dengan Induktif


Induction differs from deduction in a crucial
aspect. In deduction, for an argument to be
correct, if the premises were true, the conclusion
would have to be true as well. In induction,
however, even when an argument is inductively
strong, the possibility remains that the premises
are true and the conclusion false. Thus, strictly
speaking, all inductive inferences are
deductively invalid.
Sumber kutipan: Marti, Genoveva. "Induction (logic)."
Microsoft Encarta 2006 [DVD]. Redmond, WA:
Microsoft Corporation, 2005.

Yang termasuk pola penalaran /


argumen deduktif
(i) silogisme hipotetis
(ii) silogisme kategoris
(iii) argumen dengan menghilangkan
(iv) argumen berdasarkan matematika
(v) argumen berdasarkan definisi

Yang termasuk pola penalaran


induktif
(1) Generalisasi induktif
(2) Argumen prediktif
(3) Argumen dari otoritas
(4) Argumen sebab-akibat (kausal)
(5) Argumen statistik
(6) Argumen dari analogi

Silogisme Hipotetis
Argumen yang tersusun dari 3 baris (2 premis, 1 kesimpulan) yang
salah satu premisnya (setidaknya) mengandung pernyataan
kondisional (jika-maka).
*) Nama lainnya = modus ponens
*) Pola =
Jika A maka B
A.
Maka B.
Contoh:
*) Jika Chelsea mengalahkan Arsenal dalam babak perempat final Liga
Champions nanti malam, maka Chelsea akan lolos ke babak
semifinal.
**) Chelsea mengalahkan Arsenal 2-1.
***) Maka, Chelsea lolos ke babak semifinal.

4 pola berpikir deduktif yang


termasuk dalam silogisme hipotetis
(*) Argumen berantai
(**) Modus tollens (menyangkal
konsekuensi)
(***) Menyangkal anteseden
(****) Mengafirmasi konsekuensi.

Argumen Berantai
Pola dari argumen berantai adalah sbb:

Jika A maka B.
Jika B maka C.
Dengan demikian, jika A maka C.
Contoh:
Jika kita tidak segera mampir di pom bensin dan mengisi
bensin, mobil kita akan kehabisan bensin.
Jika kita kehabisan bensin, kita akan telat masuk kuliah.
Dengan demikian, jika kita tidak segera mampir di pom
bensin, kita akan telat masuk kuliah.

Modus Tollens (menyangkal konsekuensi)


Pola dari modus tollens adalah sebagai berikut:

Jika A maka B
Bukan B
Maka, bukan A.
Contoh:
Jika kita ada di Tugu Monas, maka kita ada di
Jakarta.
Kita tidak ada di Jakarta.
Maka, kita tidak ada di Tugu Monas.

Contoh argumen deduktif yang secara


logis tidak bisa diandalkan (1)
Menyangkal anteseden.
Pola:
Jika A maka B
Bukan A
Maka, bukan B
Contoh:
Jika hujan deras maka jalanan tergenang.
Tidak hujan deras.
Maka, jalanan tidak tergenang.

Contoh argumen deduktif yang secara


logis tidak bisa diandalkan (2)
Mengafirmasi konsekuensi
Pola:
Jika A maka B
B
Maka, A
Contoh:
Jika Dian Sastro adalah seorang atlet angkat besi, maka ia
seorang manusia
Dian Sastro adalah seorang manusia.
Maka, Dian Sastro adalah seorang atlet angkat besi.

Silogisme Kategoris
Pengertian: Argumen yang tersusun dari 3 baris yang mana
setiap pernyataan dalam argumen tersebut diawali dengan
kata semua, sejumlah / beberapa atau tidak.
Contoh:
* ) Semua harimau adalah karnivora.
Semua karnivora adalah pemakan daging.
Jadi, semua harimau adalah pemakan daging.
**) Beberapa pejabat publik melakukan tindak
korupsi
Semua yang melakukan tindak korupsi
merugikan kepentingan umum.
Oleh karena itu, beberapa pejabat publik
merugikan kepentingan umum.

Argumen dengan menghilangkan


Definisi: Argumen yang secara logis menghapuskan (to
rule out) satu per satu kemungkinan yang ada
sehingga akhirnya hanya tersisa satu kemungkinan
saja (yang paling kuat).
Contoh:
Jono pergi ke kampus atau dengan berjalan kaki atau
dengan naik kendaraan umum atau dengan mobil
pribadinya.
Jono tidak naik kendaraan umum.
Mobilnya sedang diperbaiki di bengkel.
Dengan demikian, Jono pergi ke kampus dengan berjalan
kaki.

Argumen berdasarkan matematika


Definisi: Argumen yang bagian kesimpulannya
diklaim sebagai tergantung sebagian atau
seluruhnya pada perhitungan atau ukuran
matematis yang ada di bagian premispremisnya.
Contoh:
Kecepatan berjalan seorang dewasa normal
adalah 5 km/jam.
Jarak BSD City Dukuh Atas lebih dari 20 km.
Jadi, membutuhkan waktu lebih dari 4 jam untuk
berjalan kaki dari BSD City ke Dukuh Atas.

Argumen dari definisi


Definisi: Argumen yang bagian
kesimpulannya dinyatakan sebagai
benar oleh karena definisinya (yang ada
di bagian premis).
Contoh:
*) Betti adalah seorang tante (bibi).
**) Jadi, Betti adalah seorang perempuan.
#) Bona hanya bisa membaca huruf Braille.
##) Jadi, Bona adalah seorang tuna netra.

Generalisasi Induktif
Definisi: Argumen di mana generalisasi yang diklaim
sebagai mungkin benar didasarkan pada informasi
tentang sejumlah anggota dalam kelas tertentu
Contoh:
Enam bulan yang lalu, saya berjumpa dengan seorang
petani dari Klaten dan dia orang yang ramah.
Empat bulan lalu, saya berjumpa dengan seorang guru asli
Klaten, dan dia juga orang yang ramah.
Dua minggu lalu saya ngobrol-ngobrol dengan tukang
bakso kelahiran Klaten dan dia juga ramah.
Jadi, saya kira sebagian besar orang Klaten adalah orang
yang ramah.

Pernyataan prediktif
Definisi: Argumen dengan menggunakan prediksi
yang beralasan.
Prediksi = pernyataan tentang apa yang mungkin
terjadi di masa depan.
Contoh:
Bulan September sampai dengan Desember
adalah bulan dengan curah hujan terbesar di
Indonesia.
Dengan demikian, kemungkinan besar bulan
September s/d Desember tahun depan hujan
deras akan turun.

Argumen dari otoritas


Definisi: Argumen yang mendaku (klaim) sesuatu sebagai benar
kemudian mengutip sumber-sumber yang dianggap mempunyai
otoritas atau mereka yang menjadi saksi atas suatu kejadian
untuk menguatkan argumen itu.
Contoh:

Sekitar 442,000 orang di Amerika Serikat meninggal tiap


tahunnya karena penyakit yang diakibatkan oleh kebiasaan
merokok;

Merokok bertanggungjawab atas 90% kematian akibat kanker


paru-paru.

Demikian menurut artikel yang terdapat dalam Ensiklopedi


Encarta keluaran Microsoft tahun 2006.

Karena Ensiklopedi Encarta adalah salah satu sumber informasi


yang tepercaya, maka kemungkinan besar pernyataan di atas
benar adanya.

Argumen kausal
Definisi: Argumen yang menegaskan atau
menyangkal bahwa sesuatu menjadi
penyebab dari sesuatu yang lain.
Contoh:
Wah, gue nggak bisa log in, nih, mungkin
karena jaringannya sedang down. ,
Lampu di rumahnya mati. Kemungkinan
besar (karena) pemiliknya sedang tidak
ada di rumah.

Argumen statistik
Definisi: Argumen yang melandaskan
kesimpulannya pada premis-premisnya yang
didukung oleh bukti-bukti statistik, artinya bahwa
dalam sebuah kelompok, sejumlah persentase
tertentu memiliki karakteristik / ciri-ciri tertentu.
Contoh:
Lebih dari 60% mahasiswa UMN Angkatan I
mendapatkan nilai A untuk M.K. Religiositas.
Bonar adalah mahasiswa UMN Angkatan I.
Jadi, kemungkinan Bonar mendapat nilai A untuk
M.K. Religiositas.

Argumen dari analogi


Definisi = Argumen yang bagian kesimpulannya diklaim
tergantung pada sebuah analogi (perbandingan atau
kemiripan) antara dua hal atau lebih.
Contoh:
Sarwono Kusumaatmadja adalah alumnus SMA Kanisius
Jakarta, dan dia adalah seorang yang cerdas, kritis,
dan mempunyai bakat menjadi pemimpin.
Fauzi Bowo adalah alumnus SMA Kanisius Jakarta, dan dia
adalah seorang yang cerdas, kritis, dan mempunyai
bakat menjadi pemimpin.
Andreas Arifianto adalah alumnus SMA Kanisius Jakarta.
Jadi, Andreas mungkin pula cerdas, kritis, dan
mempunyai bakat menjadi pemimpin.

Validitas argumen dalam cara


bernalar deduktif
Syarat-syarat:
Jika premis-premisnya benar, maka kesimpulannya juga pasti
benar.
Kesimpulan mengikuti secara niscaya dari premis-premisnya.
Premis-premis menyediakan landasan yang konklusif bagi
kebenaran bagian kesimpulan.
Kebenaran dari premis-premis menjamin kebenaran dari
kesimpulan.
Secara logis tidaklah konsisten untuk menegaskan (mengiyakan)
semua premis sebagai benar namun menyangkal kesimpulannya.
Dengan demikian:
Argumen deduktif hanya bisa bersifat valid atau tidak valid.
Argumen deduktif yang valid adalah argumen deduktif yang
kesimpulannya secara niscaya mengikuti dari premis-premisnya

Sound and unsound argument


Argumen yang masuk akal (a sound
argument) adalah argumen deduktif
yang valid sekaligus mempunyai premispremis yang benar.
Argumen yang tidak masuk akal ( an
unsound argument) adalah argumen
yang atau tidak valid, atau yang salah
satu premisnya keliru, atau keduaduanya.

Contoh sound argument:


Menara Eiffel ada di kota Paris.
Paris adalah ibukota negara Perancis.
Jadi, menara Eiffel terletak di Perancis.
Contoh unsound argument
*) Sejumlah siswa di kelas ini suka es krim
**) Sejumlah siswa lainnya di kelas ini suka
gorengan
***) Jadi, sejumlah siswa di kelas ini yang
suka es krim pasti suka gorengan.

Argumen kuat dan argumen lemah


(Strong and Weak argument)
Dalam model bernalar secara induktif, kita mengenal
penalaran yang kuat dan penalaran yang lemah, bukan
yang valid atau tidak valid.
Argumen yang kuat adalah argumen induktif yang
kesimpulannya mengikuti secara mentak dari premispremisnya, yang mana tidak mungkin kesimpulannya
salah jika premis-premisnya benar.
Contoh argumen induktif yang kuat:
Sebagian besar mahasiswa UMN mempunyai MP3 Player.
Leo adalah mahasiswa UMN yang menyukai musik.
Jadi, Leo kemungkinan mempunyai MP3 player.

Argumen induktif yang lemah (a weak


inductive argument) adalah argumen
induktif yang kesimpulannya tidak secara
mentak mengikuti dari premis-premisnya.
Contoh argumen induktif yang lemah:
Pada tahun 2007, 55% pangsa pasar film nasional
dikuasai film-film produksi dalam negeri. [KONTAN,
Sabtu, 22 Maret 2008, hlm. 1]
Film Atonement adalah film yang dirilis pada September
2007.
Jadi, film Atonement kemungkinan produksi dalam
negeri.

Dalam argumen induktif, penambahan premis


bisa menguatkan / melemahkan kesimpulan
yang bisa ditarik.
Contoh (yang menguatkan):
Lebih dari 80 ribu orang yang pernah atau masih
bekerja sebagai barista di Starbucks wilayah
Kalifornia mengajukan gugatan class action
kepada Starbucks pada 2006.
Jou Chou adalah mantan barista yang pernah
bekerja di Starbucks La Jolla, Kalifornia.
[Jou Chou adalah seorang yang pemberani dan
sangat peduli pada kesejahteraan sesama rekan
seprofesinya.]
Jou Chou kemungkinan besar ikut mengajukan
gugatan terhadap Starbucks.

Cogent and uncogent argument


Cogent (adj) = dari kata Latin, cogere artinya to
drive together.
Argumen cogent adalah jenis argumen induktif
yang kuat dan mempunyai premis-premis yang
benar sehingga secara rasional amat persuasif
(meyakinkan).
Argumen uncogent adalah jenis argumen
induktif yang lemah atau yang mempunyai
setidaknya satu premis yang salah, atau keduaduanya (sudah lemah, premisnya salah /
ngawur)

Contoh cogent dan uncogent argument


Contoh argumen cogent
Semua Presiden Indonesia berumur di atas 35 tahun ketika
dilantik menjadi Presiden.
Jadi, Presiden Indonesia berikutnya kemungkinan juga
berumur di atas 35 tahun ketika dilantik menjadi
Presiden.
Contoh argumen uncogent
Sebagian besar presiden Indonesia pernah menempuh
pendidikan militer.
Jadi, Presiden Indonesia berikutnya kemungkinan juga
pernah menempuh pendidikan militer.
Catatan: ini adalah argumen uncogent karena premisnya
salah. Habibie, Gus Dur dan Megawati tidak pernah
menempuh pendidikan militer.

Anda mungkin juga menyukai