Anda di halaman 1dari 17

MEKANISME KERJA ANTI HISTAMIN DALAM DERMATOLOGI

B. ANTIHISTAMIN
I. DEFINISI
Anti histamin adalah zat yang digunakan untuk mencegah atau menghambat
kerja histamin pada reseptornya. Histamin sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu
histos yang berarti jaringan, Histamin adalah autakoid yang berperan penting pada
aktivitas organ tubuh baik pada proses yang fisiologis maupun patologis. Di tubuh
dikenal 3 jenis reseptor histamin di berbagai jaringan, yaitu histamin 1 (H1), histamin 2
(H2), dan histamin 3 (H3). Peran reseptor tersebut berbeda beda. Reseptor H1
terdapat di kulit dan otak. Rangsangan pada reseptor H1 menyebabkan kontraksi otot
polos,

vasodilatasi,

peningkatan

permeabilitas

kapiler,

sekresi

mucus

serta

menimbulkan rasa gatal. Reseptor H2 terutama menyebabkan rangsangan sekresi asam


lambung dan beberapa hormon. Reseptor H3 terdapat di otak dan bertanggung jawab
sebagai autoregulasi pelepasan histamin.
Aktivitas blokade histamin pertama kali diketahui pada tahun 1937 oleh Bovet
dan Staub pada sebuah rangkaian amin dengan fungsi eter fenolik. Senyawa ini, 2isopropil-5-metilfenoksietildietilamin, melindungi babi guinea dari berbagai dosis letal
histamin, mengantagonisasi spasme berbagai otot polos yang diinduksi oleh histamine,
dan menurunkan gejala-gejala renjatan anafilaksis. Obat ini terlalu toksis untuk
penggunaan klinis, tetapi pada tahun 1944, Bovet dkk telah memperkenalkan pirilamin
maleat yang hingga saat ini masih menjadi salah satu antagonis histamin yang efektif, 1
selanjutnya diikuti perkembangan antihistamin di Amerika yang bersifat kurang toksik
seperti tripelenamin, difenhidramin dan prometazin pada tahun 1945 dan 1946.2 Antara
akhir tahun 1980-an hingga 1990, mulai diperkenalkan suatu generasi baru dari
antihistamin 1 yang tidak menembus sawar otak untuk mengurangi efek sedasi yang
sering mengganggu. Antihistamin golongan ini sering disebut sebagai antihistamin
generasi kedua atau antihistamin non-sedasi.3 Terfenadin dan astemizole merupakan
antihistamin generasi kedua yang pertama kali dikeluarkan, namun pada beberapa
penelitian di Amerika, terfenadin dan astemizol sudah ditarik dari peredaran karena
memiliki bahaya interaksi obat yang serius berupa pemanjangan Q-T interval yang
berhubungan dengan Torsades de pointes. Dengan adanya efek kardiotoksik itu maka
dikembangkan suatu antihistamin yang non-kardiotoksik dan non-sedatif seperti
desloratadin, levocetirizin dan fexofenadin 3,4,5

Antagonis reseptor H2 pertama kali disintesa tahun 1969. Reseptor H2 terdapat


pada pembuluh darah, jantung, kulit dan lambung , sedangkan

reseptor H3 pada

manusia diyakini terdapat dalam otak dan paru, tetapi tidak terdapat di kulit. Reseptor
histamin intraseluler dan reseptor H4 dilaporkan terdapat pada sel-sel dan jaringan
tubuh tetapi tidak terdapat di kulit.4
Dalam bidang dermatologi, antihistamin secara luas telah digunakan sebagai
terapi. Sangatlah penting untuk mengetahui farmakologi antihistamin yang akan
diberikan. Pada makalah ini akan dibahas mengenai klasifikasi, farmakologi, efek
samping maupun beberapa penggunaan klinis dari antihistamin terutama antihistamin
(AH1) baik klasik maupun non sedasi yang digunakan dalam bidang dermatologi. 2,3,5,6,7
II. Histamin
Histamin bekerja dengan menduduki reseptor tertentu pada sel yang terdapat
pada permukaan memberan. Dewasa ini didapatkan 3 jenis reseptor histamin H1, H2,
H3; reseptor tersebut termasuk golongan reseptor yang berpasangan dengan protein G.
Pada otak, reseptor H1 dan H2 terletak pada membran pascasinaptik, sedangkan
reseptor H2 terutama prasinaptik.
Aktivasi reseptor H1, yang terdapat pada endotel dan sel oto polos,
menyebabkan kontraksi otot polos, meningkatkan permabilitas pembuluh darah, dan
sekresi mukus. Sebagian dari efek tersebut mungkin diperantarai oleh peningkatan
cyclic guanosine monophosphate di dalam sel. Histamin juga berperan sebagai
neurotransmiter dalam susunan saraf pusat.
Reseptor H2 didapatkan pada mukosa lambung, sel otot jantung, dan beberapa
sel imun. Aktivasi reseptor H2 terutama menyebabkan sekresi asam lambung. Selain itu
juga berperan dalam menyebabkan sekresi asam lambung. Selain itu juga berperan
dalam menyebabkan vasodilatasi dan flushing. Histamin menstimulasi sekresi asam
lambung, meningkatkan kadar cAMP, dan menurunkan kadar cGMP, sedangkan
anithistamin H2 menghambat efek tersebut. Pada otot polos bronkus, aktivasi reseptor
H1 oleh histamin menyebabkan bronkokonstriksi, sedangkan aktivasi reseptor H2 oleh
agonis reseptor H2 akan menyebabkan relaksasi.
Reseptor H3 berfungsi sebagai penghambat umpan balik pada berbagai sistem
organ. Aktivasi reseptor H3 yang didapatkan di beberapa daerah di otak mengurangi
pelepasan transmiter baik histamin maupun norepinefrin, serotononin, dan asetilkolin.
Meskipun agonis reseptor H3 berpotensi untuk digunakan antara lain sebagai
gastroprotektif, dan antagonis reseptor H3 antara lain berpotensi untuk digunakan

sebagai antiobesitas, sampai saat ini belum ada agonis maupun anatagonis reseptor H3
yang diizinkan digunakan di klinik.
Sistem Kardiovaskular.
Dilatasi kapiler. Efek histamin yang terpenting pada manusia ialah dilatasi kapiler,
dengan akibat kemerahan dan rasa panas di wajah, menurunnya resistensi perifer dan
tekanan darah. Afinitas histamin terhadap reseptor H1 amat kuat, efek vasodilatasi cepat
timbul dan berlangsung singkat. Sebaliknya pengaruh histamin terhadap reseptor H2,
menyebabkan vasodilatasi yang timbul lebih lambat dan berlangsung lebih lama.
Akibatnya, pemberian AH1 dosis kecil hanya dapat menghilangkan efek dilatasi oleh
histamin dalam jumlah kecil. Sedangkan efek histamin dalam jumlah besar hanya dapat
dihambat oleh kombinasi AH1 dan AH2.
Permeabilitas Kapiler. Histamin meningkatkan permeabilitas kapiler dan ini
merupakan efek sekunder terhadap pembuluh darah kecil. Akibatnya protein dan cairan
plasma keluar ke ruangan ekstrasel dan menimbulkan edema. Efek ini jelas disebabkan
oleh peranan histamin terhadap reseptor H1.
Triple Response. Bila histamin disuntikkan intradermal pada manusia akan timbul tiga
tanda khas yang disebut Triple Response dari Lewis, yaitu: 1) Bercak merah setempat
beberapa mm sekeliling tempat suntikkan yang timbul beberapa detik setelah suntikan.
Hal ini disebabkan oleh dilatasi lokal kapiler, venul, dan arteriol terminal akibat efek
langsung histamin. Daerah tersebut dalam satu menit menjadi kebiruan atau tidak jelas
lagi karena adanya edema. 2) flare, berupa kemerahan yang lebih terang dengan bentuk
tidak teratur dan menyebar 1-3cm sekitar bercak awal. Ini disebabkan oleh dilatasi
arterior yang berdekatan akibat refleks akson. 3) edema setempat (wheal) yang dapat
dilihat setelah 1-2 menit pada daerah bercak awal. Edema ini menunjukkan
meningkatnya permeabilitas oleh histamin.
Pembuluh darah besar. Histamin cenderung menyebabkan konstriksi pembuluh darah
besar yang intensitasnya berbeda antar spesies. Pada binatang pengerat, konstriksi juga
terjadi pada pembuluh darah yang lebih kecil, bahkan pada dosis yang besar
vasokontriksi mentupi efek vasodilatasi kapiler sehingga justru terjadi peningkatan
resistensi perifer.
Jantung. Histamin mempengaruhi langsung kontraktilitas dan elektrisitas jantung. Obat
ini mempercepat depolarisasi diastol di nodus nSA sehingga frekuensi denyut jantung
meningkat. Histamin juga memperlambat konduksi AV, meningkatkan automatisitas
jantung sehingga pada dosis tinggi dapat menyebabkan aritmia. Semua efek ini terjadi

melalui perangsangan reseptor H1 di jantung, kecuali perlambatan konduksi AV yang


terjadi lewat rangsangan resptor H2.
Tekanan Darah. Pada manusia dan beberapa spesies lain, dilatasi arteriol dan kapiler
akibat histamin dosis sedang menyebabkan penurunan tekanan darah sistemi yang
kembali nrmal setelah terjadi refleks kompensasi atau setalh histamin dihancurkan. Bila
dosis histamin sangat besar maka hipotensi tidak dapat diatasi dan dapat terjadi syok.
Otot polos Nonvaskular. Histamin merangsang atau menghambat kontraksi berbagai
otot polos. Kontraksi otot polos terjadi karena akibat aktivasi reseptor H1, sedangkan
relaksasi otot polos sebagian besar akibat aktivasi reseptor H2.
Ujung saraf sensoris. Nyeri dan gatal. Flare oleh histamin disebabkan oleh
pengaruhnya pada ujung saraf yang menimbulkan refleks akson. Ini merupakan kerja
histamin merangsang reseptor H1 di ujung saraf sensoris.9
Histamin berperan penting dalam fenomena fisiologis dan patologis terutama
pada anafilaksis, alergi, trauma dan syok. Hampir pada semua jaringan mamalia
mengandung prekursor histamin. Kadar histamin tertinggi ditemukan pada kulit,
mukosa usus, dan paru-paru.
Anti histamin
Antihistamin (antagonis histamin ) adalah zat yang mampu mencegah pelepasan
atau kerja histamin. Istilah antihistamin dapat digunakan untuk menjelaskan antagonis
histamin manapun yang digunakan, namun sering kali istilah ini digunakan untuk
merujuk kepada antihistamin klasik yang bekerja pada reseptor histamin 1 (H1).2,4,7
Antihistamin ini

biasanya digunakan untuk mengobati reaksi alergi, yang

disebabkan oleh reaksi yang berlebihan dari tubuh terhadap alergen ( penyebab alergi ),
seperti serbuk sari tanaman. Reaksi ini menunjukkan pelepasan histamine dalam jumlah
signifikan didalam tubuh.1,2,7 Histamin berinteraksi dengan reseptor spesifik pada
berbagai jaringan target. Reseptor histamin ditemukan pada sel basofil, sel mast,
neutrofil, limfosit, makrofag, sl epitel dan endotel.Dan sewaktu diketahui bahwa
histamin mempengaruhi banyak proses faalan dan patologik, maka dicarikan obat yang
dapat mengantagonis efek histamin. Sejak pertemuan antihistamin pada awal tahun
1940, antihistamin sangat terkenal diantara pasien dan dokter. Antara tahun 1940-1972,
beratus-ratus antihistamin ditemukan dan sebagian digunakan dalam terapi, tetapi
efeknya tidak banyak berbeda. Antihistamin digolongkan menjadi anti histamin
penghambat
H3 (AH3).

reseptor

H1(AH1),penghambat

reseptor

H2 (AH2),

penghambat

Para ahli dermatologi sering menggunakan antihistamin untuk mengobati


kelainan kronik maupun rekuren. Dengan demikian dermatologist harus teliti dengan
pemakaian antihistmin dan efek samping potensial pada kelompok-kelompok
antihistamin yang berbeda untuk keperluan klinis sehingga dapat menggunakan
antihistamin dengan baik.
Antihistamin tipe H-1
Antihistamin H1 merupakan salah satu obat terbanyak dan terluas digunakan di
seluruh dunia. Fakta ini membuat perkembangan sekecil apapun yang berkenaan
dengan obat ini menjadi suatu hal yang sangat penting. Semisal perubahan dalam
penggolongan antihistamin H1. Dulu antihistamin H1 dikenal sebagai antagonis
reseptor histamin H1. Namun baru-baru ini seiring perkembangan ilmu farmakologi
molekular, antihistamin H1 lebih digolongkan sebagai inverse agonist ketimbang
antagonis reseptor histamin H1.
Suatu obat disebut sebagai inverse agonist bila terikat dengan sisi reseptor yang
sama dengan agonis, namun memberikan efek berlawanan. Jadi, obat ini memiliki
aktivitas intrinsik (efikasi negatif) tanpa bertindak sebagai suatu ligan. Sedangkan suatu
antagonis bekerja dengan bertindak sebagai ligan ynag mengikat reseptor atau
menghentikan kaskade pada sisi yang ditempati agonis. Beda dengan inverse agonist,
suatu antagonis sama sekali tidak berefek atau tidak mempunyai aktivitas intrinsik.
Sebelumnya antihistamin dikelompokkan menjadi 6 grup berdasarkan struktur
kimia, yakni etanolamin, etilendiamin, alkilamin, piperazin, piperidin, dan fenotiazin.
Penemuan antihistamin baru yang ternyata kurang bersifat sedatif, akhirnya menggeser
popularitas

penggolongan

ini. Antihistamin

kemudian

lebih dikenal

denagn

penggolongan baru atas dasar efek sedatif yang ditimbulkan, yakni generasi pertama,
kedua, dan ketiga.. Generasi pertama dan kedua berbeda dalam dua hal yang segnifikan.
Generasi pertama lebih menyebabkan sedasi dan menimbulkan efek antikolinergenik
yang lebih nyata. Hal ini dikarenakan generasi pertama kurang selektif dan mampu
berpenetrasi pada sistem syaraf pusat (SSP) lebih besar dibanding generasi kedua.
Sementara itu, generasi kedua lebih banyak dan lebih banyak terikat dengan protein
plasma, sehingga mengurangi kemampuannya melintasi otak. Sedangkan generasi
ketiga merupakan derivat dari generasi kedua, berupa metabolit (desloratadine dan
fexofenadine) dan enansiomer (levocetirizine). Pencarian generasi ketiga ini

dimaksudkan untuk memproleh profil antihistamin yang lebih baik dengan efikasi
tinggi serta efek samping lebih minimal.
a. AH-1 generasi I (klasik/sedatif)
Yang termasuk golongan ini adalah:

Alkilamin (propilamin) : bromfeniramin maleat, klorfeniramin maleat


dan tanat, deksbromfeniramin maleat, deksklorfeniramin maleat,
dimentinden maleat, tripolidin hidroklorida, feniramin maleat/pirilamin
maleat.

Etanolamin (Aminoalkil eter) :karbioksamin maleat, difenhidramin sitrat


dan

hidroklorida,

doksilamin

suksinat,

embramin

hidroklorida,

mefenhidramin metilsulfat, trimetobenzamin sitrat, dimenhidrinat,


klemastin fumarat.

Etilendiamin : mepiramin maleat, pirilamin maleat, tripenelamin sitrat


dan hidroklorida, antazolin fosfat.

Fenotiazin : dimetotiazin mesilat, mekuitazin, metdilazin dan metdilazin


hidroklrida, prometazin hidroklorida dan teoklat, trieprazin tartrat.

Piperidin

: azatadin maleat, siproheptadin hidroklorida, difenilpralin

hidroklorida, fenindamin tartrat.

Piperazin : hidroksizin hidroklorida dan pamoat.4

Rumus bangun

Antihistamin pada umumnya

Difenhidramin

Tripelenamin

Ciproheptadin

Hidroksizin

Klorfeniramin

Prometazin

b. Low sedating atau antihistamin AH 1 generasi II dan III


Beberapa AH-1 yang diperkenalkan dalam 2 dekade terakhir ditemukan
dengan cara menyaring beberapa komponen dan secara kimia berhubungan AH1 generasi yang lama. Sebagai contoh misalnya: akrivastin berhubungan dengan
tripolidin, cetirizin adalah metabolit dari hidroksizin, levocetirizin adalah
enantiomer dari cetirizin, desloratadin adalah metabolik dari terfenadin.8
- AH 1 generasi II
Yang termasuk golongan ini adalah:

Akrivastin

Astemizole

Cetirizin

Loratadin

Mizolastin

Terfenadin

Ebastin

Rumus bangun

Cetirizine

- AH-1 generasi III


Yang termasuk golongan ini adalah:

Levocetirizin

Desloratadin

Fexofenadin

Rumus bangun

Fexofenadine

Levocetirizine

Desloratadine

Antihistamin tipe H1 Klasik


Mekanisme kerja:
Antihistamin tipe H1 bekerja dengan cara competitif inhibitor terhadap histamin
pada reseptor jaringan, sehingga mencegah histamin berikatan serta mengaktivasi
reseptornya.

(Fitzpatrick, Wolverton, Katzung Arndt)

histamin dalam kadar yang tinggi.

Ikatannya reversibel dan dapat digantikan oleh


(Fitzpatrick, Katzung).

Dengan menghambat kerja dari

histamin, terjadi berbagai pengaruh yang ditimbulkan antihistamin, yaitu menghambat


peningkatan permeabilitas kapiler dan edema yang disebabkan oleh histamin serta
menghambat vasokonstriksi. Obat ini lebih efektif jika diberikan sebelum pelepasan
histamin. Pada pemberian awal, antihistamin dapat

mencegah edema dan pruritus

selama reaksi hipersensitivitas, sehingga banyak keuntungan yang didapat jika


digunakan untuk pencegahan urtikaria kronik idiopatik.Wilkin Antihistamin tipe H1 klasik
ini juga memiliki aktivitas antikolinergik, efek anestesi lokal, antiemetik, dan anti
mabuk perjalanan.(Fitzpatrick,

Goodman and Gillman)

Beberapa antihistamin tipe H1 mempunyai

kemampuan untuk menghambat reseptor -adrenergik atau reseptor muskarinik


kolinergik, sedangkan obat lain mempunyai efek antiserotonin. (Fitzpatrick)
Farmakologi
Setelah pemberian secara oral, antihistamin akan diabsorbsi dengan baik dalam
saluran cerna. Efeknya dapat terlihat dalam 30 menit, mencapai konsentrasi puncak
plasma dalam 1-2 jam, dan dapat bertahan 4-6 jam, dan beberapa obat lainnya dapat
bertahan lebih lama.(Fitzpatrick,

Goodman and Gillman, Katzung, Wolverton, Lippincot)

Antihistamin tipe H1

dimetabolisme oleh sistem enzim sitokrom hepar P450 (CYP) CYP3S4, dikonjugasi
membentuk glukuronida dan hampir seluruhnya diekskresikan ke urin setelah 24 jam
pemberian. (Fitzpatrick)
Kegunaan klinis
Antihistamin tipe H1 generasi I digunakan untuk menghilangkan pruritus,
pengobatan urtikaria akut, urtikaria kronis, angioedema dan reaksi alergi kulit lainnya
temasuk reaksi obat. (Fitzpatrick, Wilkin) Apabila salah satu dari kelompok antihistamin tipe H1
tidak efektif, maka dapat diganti dengan obat dari kelompok yang lain. (Fitzpatrick)
Antihistamin tipe H1 digunakan untuk terapi pruritus pada penderita dermatitis
atopik. Efeknya berhubungan dengan menekan ansietas dan sedasinya. Pruritus yang
disebabkan hal lain, seperti dermatitis kontak alergi dan bentuk lain dermatitis, liken
planus, gigitan nyamuk dan pruritus yang terjadi sekunder karena penyakit lain atau

yang bersifat idiopatik, juga dapat dihilangkan dengan penggunaan antihistamin tipe
H1. (Fitzpatrick)
Kontraindikasi pemberian obat ini adalah pada bayi baru lahir atau bayi
prematur, kehamilan, ibu menyusui, glaukoma sudut sempit, retensi urin, dan asma.
(Wilkin)

Panduan penggunaan antihistamin tipe H1 wanita hamil terbatas. Sebagian besar


antihistamin tipe H1 pada wanita hamil oleh United States of Food and Drug
Administration (FDA) digolongkan sebagai kategori B atau C. (Fitzpatrick)
Efek samping:
Sifat lipofilik dari antihistamin AH1 klasik menyebabkan distribusi jaringan
yang luas dan dapat melewati sawar darah otak, plasenta dan air susu ibu,

(Wilkin)

karena

itu dapat memberikan efek pada:

Sistem saraf pusat


Komplikasi tersering pada orang dewasa adalah depresi SSP, sedasi dan
pusing. Pada anak-anak dan orang tua

dapat terjadi: kecemasan,

iritabilitas, insomia, tremor dan mimpi buruk. Bangkitan dapat terjadi,


walaupun jarang. Pernah dilaporkan terjadinya diskinesia wajah dan
mulut pada penggunaan kombinasi antihistamin-dekongestan.

(Fitzpatrck,

Katzung, Wolverton Simon and Simon, Wilkin, Goodman and Gilman)

Gastrointestinal
Dapat terjadi mual, muntah, anoreksia, konstipasi dan diare.

(Fitzpatrick,

Wolverton, Wilkin, Goodman and Gilman)

Jantung
Takikardia, disritmia, hipotensi yang bersifat sementara (Wolverton, Fitzpatrick)

Genitourinaria
Disuria, disfungsi ereksi, retensi urin (Wolverton, Simon and Simon, Arndt)

Darah
Klorfeniramin

dapat

menebabkan

pansitopenia,

trombositopenia, leukopenia dan anemia aplastik.


Gilman)

Kulit

agranulositosis,

(Wilkin, Fitzpatrick, Goodman and

Reaksi kulit yang dapat terjadi berupa dermatitis, petekie, fixed drug
eruption dan fotosensitif. (Fitzpatrick)

Efek samping lainnya


Terdapat efek samping antikolinergik yang dapat berupa muka merah,
dilatasi pupil, hipertermia kekeringan pada membran mukosa dan
penglihatan yang buram. (Fitzpatrick, Arndt, Goodman and Gilman)
Antihistamin

lainnya

seperti

ciproheptadin

dapat

menyebabkan

peningkatan berat badan (Wilkin)


Interaksi obat
Efek depresi SSP akan semakin meningkat apabila antihistamin tipe H1
diminum bersamaan dengan alkohol atau obat lain yang bersifat depresif terhadap SSP
seperti diazepam. Antihistamin kelompok fenotiazin menghambat dan sebaliknya
epinefrin mempunyai efek vasosupresi. Kontra indikasi pemberian antihistamin tipe H1
adalah penderita yang mendapat inhibitor monoamine oksidase, seperti isokarboksazid,
nialamid, moklobemid, ranilsipromin, fenelzim(Fitzpatrick)
Low sedating atau antihistamin H1 generasi ke-2 dan ke-3
Mekanisme kerja
Antihistamin tipe H1 low sedating merupakan antagonis dari histamin pada
reseptor H1, berikatan secara tidak kompetitif, tidak mudah diganti oleh antihistamin,
dilepaskan secara perlahan dan kerjanya lebih lama

(Wolverton, Wilkin, Fitzpatrick)

Antihistamin H1

ini, kurang bersifat lipofilik, sangat sedikit menembus sawar darah otak, dan lebih
mengikat reseptor H1 di perifer secara lebih spesifik.

(Fitzpatrick, Wilkin, Wolverton, Arndt)

Beberapa

obat ini mempunyai membrane stabilizing atau efek seperti kuinidine pada otot jantung,
dan menyebabkan perpanjangan masa refraksi jantung serta aritmia ventrikuler
torsades de pointes. (Fitzpatrick) Walaupun golongan ini sering dikatakan nonsedasi, obatobat ini tetap dapat menyebabkan efek sedasi, namun dalam banyak penelitian
dikatakan insidensi sedasi jauh lebih sedikit dibandingkan antihistamin H1 klasik,
demikian pula efek antikolinergiknya lebih jarang terjadi dibanding antihistamin H1
klasik.

(Wilkin)

Cetirizine berpengaruh pada perpindahan sel dalam kulit dan jaringan

lainnya, pelepasan atau pembuatan dan pelepasan mediator inflamasi serta ekspresi
molekul adhesi. (Fitzpatrick)
Farmakologi:
Antihistamin tipe H1 low sedating diabsorbsi dari saluran cerna dan mencapai
puncak konsetrasi plasma dalam 2 jam. Obat tersebut menghilangkan urtikaria dan
reaksi eritema sekitar 1-24 jam. Terfenadin, astemizol, loratadin, aktivastin, mizolastin,
ebastin dan oksatomid dimetabolisme di hepar melalui sisitem enzim CYP dalam hepar
CYP3A4. Cetirizin, metabolit asam karboksilik dari terfenadin, dan desloratadin tidak
dimetablisme dalam hepar. (Fitzpatrick)
Astemizol mempunyai efek jangka panjang, namun onset mulai kerjanya dan
konsentrasi dalam keadaan stabil dicapai dalam 3-4 minggu. Efek astemizol
berlangsung lama dan obat harus dihentikan 4-6 minggu sebelum dilakukan uji tusuk.
Waktu paruh eliminasi cetirizin dan feksofenadin pada anak-anak sama dengan dewasa
(Fitzpatrick)

Kegunaan klinis
Antihistamin tipe ini terutama digunakan untuk pengobatan rinitis alergi dan
urtikaria kronis. (Katzung, Wilkin)
Kontra indikasi dari antihistamin low sedating ini adalah pada kehamilan dan
ibu menyusui. (Wilkin)
Efek samping
Antihistamin tipe low sedating memiliki efek sedasi dan antikolinergik yang
sedikit, juga mempunyai efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan
antihistamin tipe H1 klasik. (Fitzpatrick)

Kardiovaskular
Efek samping kardiovaskular berupa fibrilasi ventrikel, pemanjangan
interval QT dan takiaritmia ventrikular atipikal berhubungan dengan
pemakaian astemizole dan terfenadin.

(Murphy)

Kelainan ini dapat tejdadi

terutama pada wanita dan penderita dengan kelainan jantung organik


yang sebelumnya telah ada (seperti iskemia, kardiomiopati), arritmia,

ataupun penderita dengan gangguan eletrolit (seperti hipokalemia,


hipokalsemia dan hipomagnesemia) (Simons FER)

Sistem saraf pusat


Dalam beberapa penelitian dikatakan tefenadin, astemizole dan loratadin
memiliki efek sedasi yang lebih rendah dibandingkan antihistamin H1
klasik. (Wilkin)

Kulit
Fotosensitivitas,

urtikaria,

erupsi

makulopapular,

eritema

serta

pengelupasan kulit tangan dan kaki. Selain itu juga dilaporkan adanya
reaksi fotoalergi dan alopesia yang diduga berhubungan dengan
penggunaan terfenadin. Dilaporkan juga suatu kasus psoriasis yang
mengalami eksaserbasi selama menggunakan terfenadin. (Wilkin)

Hepar
Hepatotoksisitas jarang terjadi, namun dilaporkan adanya kasus hepatitis
yang berhubungan dengan penggunaan terfenadin selama 5 bulan.
Peningkatan serum transaminase dengan kadar ringan sampai sedang
kadang-kadang dapat terjadi. (wilkin)

Efek samping lainnya


Dilaporkan adanya sakit kepala, mual, kekeringan pada mukosa mulut
dan beberapa efek antikolinergik lainnya, namun insidensinya sangat
rendah. (Wilkin)

Peringatan
Karena terbatasnya penelitian pada manusia, penggunaan antihistamin non sedasi pada
wanita hamil dan ibu menyusi sebaiknya dihindari.Wilkin
Interaksi obat
Perpanjangan QT interval dapat terjadi pada penderita yang megkonsumsi
terfenadin bersamaan dengan ketokonazol dan intrakonazol, antibiotik makrolid, seperti
eritromisin dan klaritromisin, troleandomisin, lovastatin, inhibitor protease dan
flavonoid, seperti naringin dalam sari buah anggur.
Obat-obatan lain yang dapat berpengaruh pada peningkatan kadar antihistamin
serum dan yang memiliki risiko kardiovaskular adalah Human Immunodeficiency Virus-

1 (HIV-1) protease inhibitors, Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI)


antidepresant, seperti quinin, zileuton. (Wolverton)
Klorfeniramin
Klorfeniramin merupakan antihistamin sedatif dari golongan alkilamin yang
paling poten dan stabil. Setelah pemberian dosis tunggal per oral, klorfeniramin
diabsorbsi dengan baik dan cepat pada saluran pencernaan, mencapai kadar puncak
plasma dalam waktu 30-60 menit, melalui metabolisme pertama di hati dan di mukosa
saluran pencernaan selama proses absorbsi, kemudian didistribusikan secara luas ke
seluruh tubuh termasuk susunan saraf pusat. (Jalbani, Murphy). Sebanyak 50% dari dosis yang
diberikan diekskresikan terutama melalui urin dalam waktu 12 jam dalam bentuk asal
dan metabolitnya.

(Murphy)

Lama kerja dari klorfeniramin adalah 4-6 jam. (Goodman

and Gilman)

Dosis yang

diberikan 4-6 mg peroral dapat diberikan 3-4x/hari, dengan dosis maksimal 24 mg per
hari baik pada anak-anak dan dewasa. (Arndt)
Sediaan:
-

Klorfeniramin elixir, 2 mg/5ml: 120 ml, 480 ml (Arndt)

Klorfeniramin tablet 2 mg dan 4 mg (Arndt)

Klorfeniramin retarded tablet 8 mg dan 12 mg (Arndt)

Difenhidramin
Difenhidramin adalah derivat etanolamin yang sering digunakan dalam praktek
sehari-hari, diabsorbsi dengan baik setelah pemberian per oral. Obat ini mengalami
metabolisme pertama di hati, dan hanya 40%-60% dari dosis pemberian yang mencapai
sirkulasi sistemik, didistribusikan secara luas ke seluruh tubuh, termasuk sistem saraf
pusat. Kadar puncak plasma dicapai dalam waktu kurang lebih 1-5 jam dan bertahan
selama 2 jam. Waktu paruh bervariasi dari 2,4 sampai 10 jam. (Goodman and Gillman, Murphy)
Difenhidramin tidak dapat diberikan secara subkutan, intradermal atau
perivaskular karena sifatnya yang iritatif dan dapat menyebabkan nekrosis setempat
pada pemberian secara subkutan dan intradermal. Difenhidramin

tidak dapat

menembus jaringan kulit yang intak pada pemberian secara topikal, bahkan dapat
menyebabkan reaksi hipersensitivitas. (Murphy)
Dosis pemberian adalah 25 mg-50 mg per oral, dosis maksimal 300 mg/hari,
dengan lama kerja 4-6 jam.

(Arndt, Goodman and Gilman)

Pemberian 100 mg atau lebih dapat

menyebabkan hipertensi, takikardia, perubahan gelombang T dan pemendekan dari


diastole. (Arndt)
Sediaan :
-

Difenhidramin kapsul 25 dan 50 mg (Arndt)

Difenhidramin elixir (12,5 mg/5 ml): 120 cc, 480 cc (Arndt)

Difenhiramin injeksi (50 mg/ml) : 1 ml ampul

Difenhidramin spray : 60 ml (Arndt)

Hidroksizin
Hidroksizin merupakan derivat dari piperazin, sering digunakan sebagai
transquilizer, sedatif, antipruritus

dan antiemetik. Kadar

plasma biasanya dicapai

dalam 2-3 jam setelah pemberian per oral, dengan waktu paruh 6 jam kemudian
diekskresikan ke dalam urin.

(Murphy)

Hidroksizin merupakan obat pilihan untuk

pengobatan dermatografisme dan urtikaria kolinergik, dapat digunakan sendirian


ataupun kombinasi dengan antihistamin lainnya untuk manajemen pengobatan urtikaria
kronis, urtikaria akut, dermatitis kontak, dermatitis atopik dan pruritus yang diinduksi
oleh histamin. Lama kerja dari obat ini adalah 6-24 jam dengan dosis pemberian 10 mg
sampai 50 mg peroral, setiap 4 jam.(Arndt)
Sediaan:
-

Hidroksizin tablet 10 mg, 25 mg, 50 mg dan 100 mg (Arndt)

Hiroksizin injeksi 25 mg/ml, 50 mg/ml (Arndt)

Hidroksizin sirup 10 mg/5ml: 240 ml, 480 ml(Arndt)

Loratadin
Loratadin adalah trisiklik piperidin long acting yang mempunyai aktivitas yang
selektif dengan efek sedatif dan antikolinergik yang minimal pada dosis yang
direkomendasikan, merupakan antihistamin yang mempunyai masa kerja yang lama.
Metabolik utamanya, deskarboetoksi-loratadin, adalah biologikal aktifnya.
Loratadin cepat diabsorbsi setelah pemberian dosis 10 mg, sekali sehari dan
mencapai konsentrasi plasma maksimum dalam 1-1,5 jam. Eliminasi waktu paruhnya
sekitar 8-11 jam, diekskresikan melalui urine 40%, feses 42% dan air susu 0,029%.
Loratadin diindikasikan untuk rinitis alergi dan urtikaria kronik idiopatik pada pasien
diatas 6 tahun. Loratadin mempunyai efek terhadap fungsi dari miokardial potasium
channel tetapi tidak menyebabkan disritmia jantung.

Loratadin merupakan long acting antihistamin dengan lama kerja 24 jam. (Goodman
and Gilman)

Dosis yang direkomendasikan 10 mg dosis oral, pada anak-anak (< 30 kg)

adalah 5 mg/kg BB dosis tunggal. Meskipun loratadin tidak mempunyai kontraindikasi


pada penderita hati dan ginjal kronis, disarankan untuk mengurangi dosis yang
diberikan. (Wolverton, Wilkin)
Sediaan:
-

Loratadin sirup (1 mg/ml): 480 ml (Arndt, Wolverton)

Loratadin tablet 10 mg(Arndt, Wolverton)

Loratadin reditabs 10 mg(Arndt, Wolverton)

Cetirizin
Merupakan metabolit karboksil asid dari hidroksin. Obat ini pada manusia
hanya mempunyai transformasi metabolik yang minimal menjadi bentuk metabolit aktif
dan obat ini terutama diekskresi lewat urin. Karena cetirizin cepat diabsorbsi dan sedikit
yang dimetabolisme, dan juga diekskresi lewat urin, maka dosis obat ini harus dikurangi
pada pasien dengan gangguan ginjal.
Kadar puncak plasma dicapai dalam 1 jam dan waktu paruh plasma sekitar 7
jam, diekskresikan dalam urine sebanyak 60% dan feses 10%. Cetirizin dapat
menghambat eosinofil, netrofil dan basofil dan menghambat IgE serta menurunkan
prostaglandin D2. Cetirizin diindikasikan untuk terapi urtikaria kronik di Amerika
Serikat. Beberapa studi kemudian mendukung khasiat cetirizin untuk kondisi ini dan
juga ditemukan khasiatnya untuk terapi cold urtikaria.
Dosis yang direkomendasikan untuk dewasa 10 mg/hari (maksimal 20 mg) dosis
tunggal, pada anak-anak adalah 0,3 mg/kgBB sedangkan pada pasien dengan gangguan
ginjal kronik dan hepar dosis yang diberikan adalah 5 mg/hari. Lama kerja dari cetirizin
adalah 12-24 jam. (Goodman and Gilman)
Sediaan:
-

Cetirizin tablet 5 mg, 10 mg (Arndt)

Cetirizin sirup 5mg/ml: 120 ml (Arndt)

Feksofenadin
Feksofenadin, metabolit aktif utama dari terfenadin, merupakan reseptor
kompetitif antagonis H-1 yang selektif dengan sedikit atau tanpa efek samping
antikolinergik dan non sedatif, serta bersifat non kardiotoksik(Wolverton, Arndt, Wilkin)

Feksofenadin diabsorbsi cepat setelah pemberian dosis tunggal atau dua kapsul
60 mg dengan waktu rata-rata mencapai konsentrasi plasma maksimum 1-3 jam setelah
pemberian per oral. Feksofenadin terikat pada protein plasma sekitar 60-70%, terutama
pada albumin dan 1-acid gylcoprotein. Waktu paruh feksofenadin adalah 11-15 jam,
(Wolverton)

diekskresikan sebanyak 80% pada urine dan 12% pada feses.(Fitzpatrick, Wolverton)
Feksofenadin diindikasikan pada penderita rinitis alergi dan urtikaria idiopatik

kronis.(Arndt)Pemberian feksofenadin bersama antibiotik golongan makrolid dan obat anti


jamur golongan imidazol tidak menunjukkan adanya interaksi obat sehingga tidak
terdapat pemanjangan interval QT.(Wolverton)
Sediaan :
-

Feksofenadin kapsul 30 dan 60 mg (Arndt)

Feksofenadin tablet 60 mg (Arndt)