Anda di halaman 1dari 16

AIR ASAM TAMBANG

A. Pengertian Air Asam Tambang


Air asam tambang (AAT) atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai acid
mine drainage (AMD) atau acid rock drainage (ARD) terbentuk saat mineral
sulphida tertentu yang ada pada batuan terpapar dengan kondisi dimana terdapat
air dan oksigen (sebagai faktor utama) yang menyebabkan terjadinya proses
oksidasi dan menghasilkan air dengan kondisi asam. Hasil reaksi kimia ini,
beserta air yang sifatnya asam, dapat keluar dari asalnya jika terdapat air
penggelontor yang cukup, umumnya air hujan yang pada timbunan batuan dapat
mengalami infiltrasi/perkolasi. Air yang keluar dari sumber-nya inilah yang
lazimnya disebut dengan istilah AAT tersebut.
Gambar 1
Sungai yang Dialiri Air Asam
Air Asam Tambang merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk pada
air asam yang timbul akibat kegiatan penambangan. Hal ini untuk membedakan
dengan air asam yang timbul oleh kegiatan lain, seperti penggalian untuk
pembangunan pondasi bangunan, pembuatan tambak, dan sebagainya.
AAT adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada air asam yang
timbul akibat kegiatan penambangan, untuk membedakan dengan air asam yang
timbul oleh kegiatan lain seperti: penggalian untuk pembangunan pondasi
bangunan, pembuatan tambak, dan sebagainya.
Pada kegiatan penambangan, beberapa mineral sulphida yang umum ditemukan
adalah:
FeS2

pyrite

Cu2S

chalcocite

CuS

cuvellite

CuFeS2

chalcopyrite

MoS2

molybdenite

NiS

millerite

PbS

galena

ZnS

sphalerite

FeAsS

arsenopyrite

Pyrite merupakan mineral sulphida yang umum ditemukan pada kegiatan


penambangan, terutama batubara. Reaksi oksidasi pyrite adalah seperti
ditunjukkan oleh reaksi kimia berikut, dengan air dan oksigen sebagai faktor
penting. Terbentuknya AAT ditandai oleh satu atau lebih karakteristik kualitas air
sebagai berikut.:
nilai pH yang rendah (1.5 4)
a.

konsentrasi logam terlarut yang tinggi, seperti logam besi, aluminium, mangan,
cadmium, tembaga, timbal, seng, arsenik dan mercury.

b.

nilai acidity yang tinggi (50 1500 mg/L CaCO3)

c.

nilai sulphate yang tinggi (500 10.000 mg/L

d.

nilai salinitas (1 20 mS/cm)

e.

konsentrasi oksigen terlarut yang rendah


Berdasarkan persamaan kimia dapat diketahui proses pembentukan air asam
tambangnya adalah sebagai berikut:
Persamaan 1 : FeS2 + 7/2 O2 + H2O Fe+2 + 2 SO4-2 + 2 H+
(Besi sulfida teroksidasi melepaskan besi ferro, sulfat dan asam.)
Persamaan 2 : Fe+2 + 1/4 O2 + H+ Fe+3 + 1/2 H2O
(Besi ferro akan teroksidasi menjadi besi ferri.)
Persamaan 3 : Fe+3 + 3 H2O Fe(OH) + 3H+
(Besi ferri dapat terhidrolisis dan membentuk ferri hidrosida dan asam.)
Persamaan 4 : FeS2 + 14 Fe+3 +8 H2O 15 Fe+2 + 2 SO4-2 + 16 H+
(Besi ferri secara langsung bereaksi dengan pirit dan berlaku sebagai katalis yang
menyebabkan besi ferro yang sangat besar, sulfat dan asam.)
Berdasarkan hal tersebut diatas, apabila AAT keluar dari tempat terbentuknya dan
masuk ke sistem lingkungan umum (diluar tambang), maka beberapa faktor
lingkungan dapat terpengaruhi, seperti: kualitas air dan peruntukannya (sebagai
bahan baku air minum, sebagai habitat biota air, sebagai sumber air untuk

tanaman, dsb); kualitas tanah dan peruntukkanya (sebagai habitat flora dan fauna
darat), dsb.
Faktor penting yang mempengaruhi terbentuknya AAT di suatu tempat
adalah:
a. konsentrasi, distribusi, mineralogi dan bentuk fisik dari mineral sulphida
b. keberadaan oksigen, termasuk dalam hal ini adalah asupan dari atmosfir melalui
mekanisme adveksi dan difusi
c. jumlah dan komposisi kimia air yang ada
d. temperatur
e. mikrobiologi
Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, maka dapat dikatakan
bahwa

pembentukan

AAT

sangat

tergantung

pada

kondisi

tempat

pembentukannya. Perbedaan salah satu faktor tersebut diatas menyebabkan proses


pembentukan dan hasil yang berbeda. Terkait dengan faktor iklim di Indonesia,
dengan temperatur dan curah hujan yang tinggi di beberapa lokasi dimana terdapat
kegiatan penambangan, proses pembentukan AAT memiliki karakteristik yang
berbeda dengan negara-negara lain, karena memiliki kondisi iklim yang berbeda.
B. Tanda-Tanda Terbentuknya Air Asam Tambang
Terbentuknya Air Asam Tambang ditandai oleh satu atau lebih karakteristik
kualitas air sebagai berikut :
a. Nilai pH yang rendah (1.5 4)
b. Konsentrasi logam terlarut yang tinggi, seperti logam besi, aluminium, mangan,
c.
d.
e.
f.

cadmium, tembaga, timbal, seng, arsenik dan mercury


Nilai acidity yang tinggi (50 1500 mg/L CaC )
Nilai sulfat yang tinggi (500 10.000 mg/L)
Nilai salinitas (1 20 mS/cm)
Konsentrasi oksigen terlarut yang rendah

C. Kandungan Air Asam


Air asam terbentuk sebagai hasil dari proses oksidasi mineraldisertai
adanya air, dengan demikian 3 (tiga komponen utama yangmenyebabkan
terjadinya air asam tambang), yaitu :
a.

Mineral sulfida

Mineral sulfida berupa ikatan antara sulfur dan logam dijumpaitersebar di


alam dalam kadar dan dimensi kecil sampai besar. Cebakansulfida dalam jumlah
besar dapat menjadi bahan galian ekonomis yanglayak ditambang. Dispersi logam
berat beracun berbahaya dapat terjadisecara alami, berasal dari tubuh bijih sulfida
yang tersingkap atau beradadekat permukaan. Unsur logam dari bijih sulfida
terbawa bersama aliranair tanah da air permukaan menyebar ke lingkungan
sekitarnyamembentuk rona awal dengan sebaran kandungan logam yang
tinggi.Proses penambangan dengan membongkar dan memindahkanbahan galian
mengandung sulfida menyebabkan terbukanya sulfidaterhadap udara bebas. Pada
kondisi terpapar pada udara bebas mineralsulfida akan teroksidasi dan terlarutkan
membentuk air asam tambang. Airasam tambang berpotensi melarutkan logam
yang terlewati sehingga

membentuk aliran mengandung bahan beracun

berbahaya yang akanmenurunkan kualitas lingkungan. Pembentukan air asam


cenderung lebihintensif terjadi pada daerah penambangan. Hal ini dapat dicegah
denganmenghindari

terpaparnya

bebas.Penanganan

air

bahan

asam

mengandung

tambang

dapat

sulfida

pada

dilakukan

udara
dengan

menetralisirmenggunakan bahan penetral atau mengolahnya agar memenuhi batas


baku mutu.
b. Oksigen
c. Air
Peningkatan

keasaman

air

penyaluran

ini

akan

meningkatkan

pulakelarutan logam-logam yamg selanjutnya mencemari badan perairan. Hal-hal


diatas mendorong semakin pentingnya masalah air tambang saat ini.Reaksi umum
pembentukan Air Asam Tambang sebagai berikut :
4 FeS2 + 15 O2 + 14 H2O 4 Fe (OH3) + 8 H2SO4
Pyrite + Oxygen + water yellowboy + sulfuric acid
Reaksi tersebut dapat dirinci menjadi empat tahap reaksi :
1. Reaksi pertama adalah reaksi pelapukan dari pyrite disertai prosesoksidasi. Sulfur
dioksidasi menjadi sulfat dan besi fero dilepaskan. Darireaksi ini dihasilkan dua
mol keasaman dari setiap mol pirit yangteroksidasi.
2 FeS2 + 7 O2 + 2 H2O 2 Fe2+ 4 SO42- + 4 H+

Pyrite + Oxygen + Water Ferrous Iron + Sulfate + Acidity


2. Reaksi kedua terjadi konversi dari besi ferro menjadi besi ferri yangengkonsumsi
satu mol keasaman. Laju reaksi lambat pada pH < 5 dankondisi abiotik. Bakteri
thiobacillus akan mempercepat proses oksidasi.
4 Fe2++ O2 + 4 H+ 4 Fe 3+ + 2 H2O
Ferrous Iron + Oxygen + Acidity Ferric Iron + Water
3. Reaksi ketiga adalah hidrolisa dari besi. Hidrolisa adalah reaksi yangmemisahkan
molekul air. Tiga mol keasaman dihasilkan dari reaksi ini.Pembentukan presipitat
ferri hidroksida tergantung pH, yaitu lebihbanyak pada pH di atas 3,5.
4 Fe3++ 12 H2O 4 Fe(OH)3 + 12 H+
Ferric Iron + Water Ferric Hydroxide (yellowboy) + Acidity
4. Reaksi keempat adalah oksidasi lanjutan dari pirit oleh besi ferri. Iniadalah reaksi
propagasi yang berlangsung sangat cepat dan akan berhenti jika pirit atau besi
ferri habis. Agen pengoksidasi dalam reaksiini adalah besi ferri.
FeS2 + 14 Fe3+ + 8 H2O 15 Fe2++ 2 SO42-+ 16 H+
Pyrite + Ferric Iron + Water Ferrous Iron + Sulfate + Acidity
D. Proses Terbentuknya Air Asam Tambang
Pembentukan Air Asam Tambang (AAT) atau dalam bahasa Inggris
dikenal dengan "Acid Mine Drainage (AMD)" atau " Acid Rock Drainage (ARD)"
terbentuk saat mineral sulfida tertentu yang ada pada batuan terpapar dengan
kondisi dimena terdapat air dan oksigen (sebagai faktor utama) yang
menyebabkan terjadinya proses oksidasi dan menghasilkan air dengan kondisi
asam. Hasil reaksi kimia ini,beserta air yang bersifat asam dapat keluar dari
asalnya jika terdapat air pengelontor yang cukup, umumnya air hujan yang pada
timbunan batuan dapat mengalami infiltrasi/perkolasi. Air yang keluar dari
sumbernya inilah yang lazim disebut dengan istilah AAT. AAT adalah air asam
yang timbul akibat kegiatan penambangan, untuk membedakan dengan air asam
yang timbul akibat kegiatan lain seperti penggalian untuk pembangunan fondasi
bangunan, pembuatan tambak dan sebagainya. Beberapa mineral sulfida yang
ditemukan pada proses AAT FeS2, Cu2S, CuS, CuFeS2, MoS2, NiS, PbS, ZnS
and FeAsS. Pirit merupakan mineral sulfida yang umum ditemukan pada kegiatan
penambangan terutama batubara. Terbentuknya AATditandai oleh pH yang rendah

(1,5-4) konsentrasi logam terlarut yang tinggi, nilai acidity yang tinggi, nilai sulfat
yang tinggi and konsentrasi O2 yang rendah. Jika AAT keluar dari tempat
terbentuknya dan keluar kelingkungan umum maka faktor lingkungan akan
terpengaruhi.
S + O2 SO2
SO2 + H2O H2SO4
Sumber Air Asam Tambang
Sumber Air Asam Tambang adalah dari pertambangan terbuka, terutama
pada tambang batubara, yang memilki resiko terpapar oleh air hujan sehingga
berpotensi sangat besar untuk menjadi tempat terbentuknya Air Asam Tambang.
Air asam tambang dapat terjadi pada kegiatan penambangan baik itu
tambang terbuka maupun tambang bawah tanah. Umumnya keadaan ini terjadi
karena unsur sulfur yang terdapat di dalam batuan teroksidasi secara alamiah
didukung juga dengan curah hujan yang tinggi semakin mempercepat perubahan
oksida sulfur menjadi asam. Sumber sumber air asam tambang antara lain
berasal dari kegiatan kegiatan berikut :
a.

Air dari tambang terbuka


Lapisan batuan akan terbuka sebagai akibat dari terkupasnya lapisan penutup,
sehingga unsur sulfur yang terdapat dalam batuan sulfida akan mudah teroksidasi

dan bila bereaksi air dan oksigen akan membentuk air asam tambang.
b. Air dari unit pengolahan batuan buangan
Material yang banyak terdapat pada limbah kegiatan penambangan adalah batuan
buangan ( waste rock ). Jumlah batuan buangan ini akan semakin meningkat
dengan bertambahnya kegiatan penambangan. Sebagai akibatnya, batuan buangan
yang banyak mengandung sulfur akan berhubungan langsung dengan udara
terbuka membentuk senyawa sulfur oksida selanjutnya dengan adanya air akan
membentuk air asam tambang.
c.

Air dari lokasi penimbunan batuan


Timbunan batuan yang berasal dari batuan sulfida dapat menghasilkan air asam
tambang karena adanya kontak langsung dengan udara yang selanjutnya terjadi
pelarutan akibat adanya air.

d. Air dari unit pengolahan limbah tailing


Kandungan unsur sulfur di dalam tailing diketahui mempunyai potensi dalam
membentuk air asam tambang, pH dalam tailing pond ini biasanya cukup tinggi
karena adanya penambahan hydrated lime untuk menetralkan air yang bersifat
asam yang dibuang kedalamnya. Air yang masuk ke dalam tailing pond yang
bersifat asam tersebut diperkirakan akan menyebabkan limbah asam bila
merembes keluar dari tailing pond.
E. Sistem Penyaliran tambang
Sistem penyaliran tambang adalah suatu usaha yang diterapkan pada
daerah penambangan untuk mencegah, mengeringkan, atau mengeluarkan air
yang masuk ke daerah penambangan. Upaya ini dimaksudkan untuk mencegah
terganggunya aktivitas penambangan akibat adanya air dalam jumlah yang
berlebihan, terutama pada musim hujan. Selain itu, sistem penyaliran tambang ini
juga dimaksudkan untuk memperlambat kerusakan alat serta mempertahankan
kondisi kerja yang aman, sehingga alat-alat mekanis yang digunakan pada daerah
tersebut mempunyai umur yang lama.
a. Penyaliran Pada Tambang Terbuka
Penanganan masalah air dalam suatu tambang terbuka dapat dibedakan
menjadi dua yaitu :
1. Mine Drainage
Mine Drainage merupakan upaya untuk mencegah masuknya air ke daerah
penambangan. Hal ini umumnya dilakukan untuk penanganan air tanah dan air
yang berasal dari sumber air permukaan.
Beberapa metode penyaliran Mine drainage, antara lain :
a). Metode Siemens.
Pada tiap jenjang dari kegiatan penambangan dibuat lubang bor kemudian
ke dalam lubang bor dimaksukkan pipa dan disetiap bawah pipa tersebut diberi
lubang-lubang. Bagian ujung ini masuk ke dalam lapisan akuifer, sehingga air
tanah terkumpul pada bagian ini dan selanjutnya dipompa ke atas dan dibuang ke
luar daerah penambangan.

Gambar 2
Metode Siemens
b). Metode Pemompaan Dalam (Deep Well Pump).
Metode ini digunakan untuk material yang mempunyai permeabilitas
rendah dan jenjang tinggi. Dalam metode ini dibuat lubang bor kemudian
dimasukkan pompa ke dalam lubang bor dan pompa akan bekerja secara otomatis
jika tercelup air. Kedalaman lubang bor 50 meter sampai 60 meter.
Gambar 3
Metode Deep well pump
c). Metode Elektro Osmosis.
Pada metode ini digunakan batang anoda serta katoda. Bilamana elemenelemen dialiri arus listrik, maka air akan terurai, H + pada katoda (disumur besar)
dinetralisir menjadi air dan terkumpul pada sumur lalu dihisap dengan pompa.
Gambar 4
Metode Elektro Osmosis
d). Small Pipe With Vacuum Pump.
Cara ini diterapkan pada lapisan batuan yang inpermiabel (jumlah air
sedikit) dengan membuat lubang bor. Kemudian dimasukkan pipa yang ujung
bawahnya diberi lubang-lubang. Antara pipa isap dengan dinding lubang bor
diberi kerikil-kerikil kasar (berfungsi sebagai penyaring kotoran) dengan diameter
kerikil lebih besar dari diameter lubang. Di bagian atas antara pipa dan lubang bor
di sumbat supaya saat ada isapan pompa, rongga antara pipa lubang bor kedap
udara sehingga air akan terserap ke dalam lubang bor.
Gambar 5
Metode Small Pipe With Vacuum Pump
2. Mine Dewatering
Mine Dewatering Merupakan upaya untuk mengeluarkan air yang telah
masuk ke daerah penambangan. Upaya ini terutama untuk menangani air yang
berasal dari air hujan.

Beberapa metode penyaliran mine dewatering adalah sebagai berikut :


a). Sistem Kolam Terbuka.
Sistem ini diterapkan untuk membuang air yang telah masuk ke daerah
penambangan. Air dikumpulkan pada sumur (sump), kemudian dipompa keluar
dan pemasangan jumlah pompa tergantung kedalaman penggalian.
b). Cara Paritan
Penyaliran dengan cara paritan ini merupakan cara yang paling mudah,
yaitu dengan pembuatan paritan (saluran) pada lokasi penambangan. Pembuatan
parit ini bertujuan untuk menampung air limpasan yang menuju lokasi
penambangan. Air limpasan akan masuk ke saluran-saluran yang kemudian di
alirkan ke suatu kolam penampung atau dibuang langsung ke tempat pembuangan
dengan memanfaatkan gaya gravitasi.
c). Sistem Adit.
Cara ini biasanya digunakan untuk pembuangan air pada tambang terbuka
yang mempunyai banyak jenjang. Saluran horisontal yang dibuat dari tempat
kerja menembus ke shaft yang dibuat di sisi bukit untuk pembuangan air yang
masuk ke dalam tempat kerja. Pembuangan dengan sistem ini biasanya mahal,
disebabkan oleh biaya pembuatan saluran horisontal tersebut dan shaft.
Gambar 6
Sistem Adit
b. Penyaliran Pada Tambang Bawah Tanah
Penanganan masalah air pada tambang bawah tanah umumnya dilakukan
dengan cara-cara sebagai berikut :
1.

Dengan Tunnel (Terowongan).


Penyaliran dengan cara ini adalah dengan membuat tunnel atau adit

bila topografi daerahnya memungkinkan, dimana terowongan atau adit ini


dibuat sebagai level pengeringan tersendiri untuk mengeluarkan air tambang
bawah tanah. Cara ini relatif murah dan ekonomis bila dibandingkan dengan
sistem penyaliran menggunakan cara pemompaan air ke luar tambang.

2.

Dengan Pemompaan.
Penyaliran tambang bawah tanah dengan sistem pemompaan adalah

untuk mengeluarkan air yang terkumpul pada dasar shaf atau sumuran bawah
tanah yang sengaja dibuat untuk menampung air dari permukaan maupun air
rembesan air bawah tanah.
Gambar 7
Salah satu metode penyaliran air asam ke perairan umum
F. Pencegahan Terbentuknya Air Asam Tambang
Salah satu upaya pencegahan pembentukan air asam tambang (AAT)
adalah dengan pembangunan lapisan penutup material reaktif, umumnya dikenal
sebagai Potentially Acid Forming (PAF) material, dengan material yang tidak
reaktif, Non Acid Forming (NAF) material, tanah, atau material alternatif seperti
Geosyntetic Clay Liner (GCL). Lapisan ini dikenal juga dengan sebutan dry cover
system. Tujuan dari pembangunan lapisan ini adalah untuk mengurangi difusi
oksigen dan infiltrasi air, sebagai faktor penting dalam proses oksidasi mineral
sulphida. Selain itu, sistem pelapisan ini juga diharapkan dapat tahan terhadap
erosi dan mendukung upaya revegetasi lahan penimbunan material.
G. Penanganan Air Asam Tambang
Pengolahan air asam harus dilakukan sebelum air tersebut dibuang ke
badan air, sehingga nantinya tidak mencemari perairan di sekitar lokasi tambang.
Pengolahan air asam dapat dilakukan dengan cara penetralan. Penetralan air asam
dapat menggunakan bahan kimia diantaranya seperti Limestone (Calcium
Carbonat), Hydrate Lime (Calcium Hydroxide), Caustic Soda (Sodium
Hydroxide), Soda Ash Briquettes (Sodium Carbonate), Anhydrous Ammoni.
a.

Limestone (Calcium Carbonat)


Limestone atau biasa dikenal dengan batu gamping telah digunakan selama
berpuluh-puluh tahun untuk menaikkan pH dan mengendapkan logam di dalam air
asam. Penggunaan limestone merupakan penanganan yang termurah, teraman dan
termudah dari semua bahan-bahan kimia. Kekurangan dari limestone ini ialah
mempunyai keterbatasan karena kelarutan yang rendah dan limestone terlapisi.

b. Hydrate Lime (Calcium Hydroxide)


Hydrated lime adalah suatu bahan kimia yang sangat umum digunakan untuk
menetralkan air asam. Hydrated lime sangat efektif dari segi biaya dalam yang
sangat besar dan keadaan acidity yang tinggi. Bubuk hydrated lime adalah
hydrophobic, begitu lama pencampuran diperlukan untuk membuat hydrated lime
dapat larut dalam air. Hydrated lime mempunyai batasan keefektifan dalam
beberapa tempat dimana suatu pH yang sangat tinggi diperlukan untuk mengubah
logam seperti mangan.
c.

Caustic Soda (Sodium Hydroxide)


Caustic Soda merupakan bahan kimia yang biasa digunakan dan sering dicoba
lebih jauh (tidak mempunyai sifat kelistrikan), kondisi aliran yang rendah.
Caustic menaikkan pH air dengan sangat cepat, sangat mudah larut dan digunakan
dimana kandungan mangan merupakan suatu masalah. Penggunaannya sangat
sederhana, yaitu dengan cara meneteskan cairan caustic ke dalam air asam, karena
kelarutannya akan menyebar di dalam air. Kekurangan utama dari penggunaan
cairan caustic untuk penanganan air asam ialah biaya yang tinggi dan bahaya
dalam penanganannya. Penggunaan caustic padat lebih murah dan lebih mudah
dari pada caustic cair.

d. Soda Ash Briquettes (Sodium Carbonate)


Sodium Carbonate biasanya digunakan dalam debit kecil dengan kandungan besi
yang rendah. Pemilihan soda ash untuk penanganan air asam biasanya berdasar
pemakaian sebuah kotak atau tong dengan air masuk dan buangan.
e.

Anhydrous Ammoni
Anhydrous Ammonia digunakan dalam beberapa cara untuk menetralkan acidity
dan untuk mengendapkan logam-logam di dalam air asam. Ammonia diinjeksikan
ke dalam kolam atau kedalam inlet seperti uap air, kelarutan tinggi, rekasi sangat
cepat dan dapat menaikkan pH. Ammonia memerlukan asam (H+) dan juga
membentuk ion hydroxyl (OH-) yang dapat bereaksi dengan logam-logam
membentuk endapan. Injeksi ammonia sebaiknya dekat dengan dasar kolam atau

air inlet, karena ammonia lebih ringan dari pada air dan naik kepermukaan.
Ammonia efektif untuk membersihkan mangan yang terjadi pada pH 9,5.
f.

Penggunaan Tawas Sebagai Bahan Koagulan


Air asam dalam kegiatan penambangan juga bisa dipastikan akan memiliki
kekeruhan yang sangat tinggi, oleh karena itu untuk menurunkan kekeruhannya
dapat menggunakan bahan kimia seperti alum atau lebih dikenal dengan tawas
atau rumus kimianya (Al2SO4)3. Tawas merupakan bahan koagulan yang paling
banyak digunakan karena bahan ini paling ekonomis, mudah diperoleh dipasaran
serta mudah penyimpanannya. Jumlah pemakaian tawas tergantung kepada
turbidity (kekeruhan) air. Semakin tinggi turbidity air maka semakin besar jumlah
tawas yang dibutuhkan. Makin banyak dosis tawas yang ditambahkan maka pH
akan semakin turun, karena dihasilkan asam sulfat sehingga perlu dicari dosis
tawas yang efektif antara pH 5,8 -7,4. Apabila alkalinitas alami dari air tidak
seimbang dengan dosis tawas perlu ditambahkan alkalinitas.

H. Dampak Air Asam


Terbentuknya air asam tambang dilokasi penambangan akan menimbulkan
dampak negatif terhadap lingkungan.
Gambar 8
Air Asam di daerah tambang
Adapun dampak negatif dari air asam tambang tersebut antara lain yaitu :
1. Masyarakat disekitar wilayah tambang
Dampak terhadap masyarakat disekitar wilayah tambang tidak dirasakan secara
langsung karena air yang dipompakan ke sungai atau ke laut telah dinetralkan dan
selalu dilakukan pemantauan 1 x seminggu menggunakan alat water quality
checker (untuk mengetahui temperatur, kekeruhan, pH, dan salinity), hasil
pemantauan disesuaikan dengan Baku Mutu Air Sungai dan Air Laut dan dapat
dilihat pada Lampiran 5. Namun apabila terjadi pencemaran dan biota perairan
terganggu maka binatang seperti ikan akan mati akibatnya mata pencaharian
penduduk menjadi terganggu.
2. Biota Perairan

Dampak

negatif

untuk

biota

perairan

adalah

terjadinya

perubahan

keanekaragaman biota perairan seperti plankton dan benthos, kehadiran benthos


dalam suatu perairan dapat digunakan sebagai indikator kualitas perairan. Pada
perairan yang baik dan subur benthos akan mengalami kelimpahan, sebaliknya
pada perairan yang kurang subur benthos tidak akan mampu bertahan hidup.
3. Kualitas Air Permukaan
Terbentuknya air asam tambang hasil oksidasi pirit akan menyebabkan
menurunnya kualitas air permukaan. Parameter kualitas air yang mengalami
perubahan diantaranya adalah pH, padatan terlarut, padatan tersuspensi, COD,
BOD, sulfat, besi, dan Mangan.
I.

Penetralan Air Asam Tambang


Dalam hal ini bahan yang digunakan untuk penetralan tersebut adalah
hydrated lime ( Ca(OH)2 ). Sebelum proses penetralan dilakukan ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan yaitu :

a.

Kondisi lahan bekas penambangan


Lokasi bekas penambangan batubara berbentuk cekungan setelah kegiatan
penambangan selesai. Ciri ciri lokasi bekas penambangan ini adalah sebagai
berikut:
1. Mineral sulfida ( pirit ) terkandung pada batuan penutup ( over burden), lapisan
atas batubara dan setelah kegiatan penambangan selesai lapisan batubara disisakan
10 cm ( floor batubara ) pada dasar cekungan untuk mendapatkan batubara
bersih.
2. Air permukaan terutama berasal dari air hujan dan air dari sekitar lokasi
penambangan yang masuk kedalam cekungan sehingga cekungan berbentuk
kolam yang besar.
3. Curah hujan yang tinggi akan menyebabkan air yang masuk kedalam cekungan
cukup besar sehingga volume air pada cekungan juga meningkat.
4. Material penutup (over burden ) pada lapisan batubara di daerah penambangan
adalah jenis mudstone, batupasir, dan batu lempung.

b. Proses terbentuknya air asam tambang pada daerah bekas penambangan


Terbentuknya air asam tambang karena adanya reaksi kimia antara tiga komponen
utama pembentuk air asam tambang, yaitu : lapisan roof / floor batubara serta
batuan penutup ( over burden ) yang mengandung mineral sulfida, air, dan
oksigen.
Mineral sulfida sebagai faktor utama pembentuk air asam
tambang terkandung dalam lapisan batubara, dimana mineral sulfida ini
tersingkap sejak kegiatan penambangan dilakukan. Setelah penambangan selesai
pada lokasi bekas penambangan masih disisakan lapisan batubara dengan
ketebalan 10 cm yang berupa lantai batubara ( floor ). Pada daerah penelitian
mineral sulfida terdapat pada lantai batubara dan lapisan batubara yang tidak
ditambang. Komponen pembentuk air asam tambang lainnya adalah air dan
oksigen. Air yang masuk kedalam cekungan berasal dari air permukaan terutama
dari air hujan. Curah hujan yang tinggi menyebabkan volume air pada cekungan
semakin besar, sehingga cekungan berbentuk kolam besar. Dengan adanya
oksigen yang berasal dari udara, maka terjadi reaksi kimia antara mineral sulfida,
air, dan oksigen. Dari reaksi ketiga komponen tersebut maka terbentuklah air
asam tambang.
J.

Pencegahan Pembentukan Kembali Air Asam Tambang


Pembentukan air asam tambang dapat diatasi dengan menghilangkan atau
mengurangi satu atau lebih komponen komponen pembentuk air asam tambang.
Pencegahan terbentuknya air asam tambang pada kolam bekas penambangan
adalah dengan cara pelapisan. Pelapisan adalah cara pengendalian terbentuknya
air asam tambang dengan membatasi kontak oksigen dan air terhadap lapisan
batubara yang mengandung mineral sulfida. Pelapisan ini dilakukan dengan cara
menutupi lapisan batubara yang berupa lantai batubara dengan material yang
bersifat impermeable misalnya mineral liat. Adapun faktor faktor yang
mempengaruhi keberhasilan dari sistem pelapisannya adalah sebagai berikut :

a.

Kandungan sulfur

Semakin besar kandungan sulfur pada batuan maka semakin besar pula
kemungkinan

terjadinya reaksi oksidasi dengan oksigen dan air.

b. Porositas
Porositas mempengaruhi kemungkinan masuknya air serta udara ke dalam lantai
batubara yang mengandung mineral sulfida. Semakin besar porositas maka
c.

semakin besar juga kemungkinan terjadinya reaksi oksidasi.


Luas permukaan kristal pirit
Semakin luas permukan kristal pirit yang tidak tertutupi maka semakin besar pula
kemungkinan terkena air dan udara.

d. Kereaktifan kristal pirit


Meskipun kristal pirit terkena udara dan air tetapi kereaktifan dari kristal pirit
sendiri berbeda. Kereaktifan ini mempengaruhi kecepatan dari reaksi oksidasinya.
Secara umum penutupan batuan sulfida ini menggunakan mineral liat dengan
langkah langkah sebagai berikut :
a. Air asam tambang yang telah netral dikeluarkan dari kolam bekas penambangan
dengan menggunakan pompa air. Air tersebut dikeluarkan menuju aliran sungai
didekat kolam bekas penambangan.
b. Setelah air dikeluarkan seluruhnya langkah berikutnya adalah pelapis liat ditukar
diatas material sulfida kemudian dipadatkan dengan memanfaatkan lalu lintas alat
berat selama proses penumpukan batuan, pemadatannya harus benar benar
diperhatikan dan rata.
c. Selanjutnya digunakan material tambang untuk melapisi dan dilakukan pemadatan
lagi. Ketebalan penutupan batuannya disesuaikan dengan rencana yang sudah
dibuat dan ketersediaan material yang dipakai untuk penutupan batuan sulfida
(gambar 5.5)
d. Lapisan terakhir yang digunakan adalah tanah humus (top soil). Penutupan lokasi
bekas penambangannya dilakukan dengan menggunakan material yang ada pada
daerah penambangan, dalam hal ini material yang digunakan adalah material hasil
bongkaran dan top soilnya juga dari daerah penambangan.
KESIMPULAN

1. Air asam tambang (AAT) atau terbentuk saat mineral sulphida tertentu yang ada
pada batuan terpapar dengan kondisi dimana terdapat air dan oksigen (sebagai
faktor utama) yang menyebabkan terjadinya proses oksidasi dan menghasilkan air
dengan kondisi asam.
2. Pada kegiatan penambangan, beberapa mineral sulphida yang umum ditemukan
adalah FeS2, Cu2S, CuS, CuFeS2, MoS2, NiS, PbS, ZnS, FeAsS
3. Kapur padam merupakan kapur yang berasal dari batugamping yang dipanaskan
hingga suhu 9000C kemudian akan terbentuk kapur tohor (CaO) setelah itu kapur
tohor ini direaksikan dengan air (H2O), maka akan terbentuk kapur padam.
4. Faktor penting yang mempengaruhi terbentuknya AAT di suatu tempat adalah:
konsentrasi, distribusi, mineralogi dan bentuk fisik dari mineral sulphida,
keberadaan oksigen, termasuk dalam hal ini adalah asupan dari atmosfir melalui
mekanisme adveksi dan difusi, jumlah dan komposisi kimia air yang ada,
temperature, mikrobiologi.
5. Penetralan air asam dapat menggunakan bahan kimia diantaranya seperti
Limestone (Calcium Carbonat), Hydrate Lime (Calcium Hydroxide), Caustic
Soda (Sodium Hydroxide), Soda Ash Briquettes (Sodium Carbonate), Anhydrous
Ammoni.
6. Sistem penyaliran pada tambang terbuka adalah : Mine Drainage, Mine
Dewatering. Sedangkan penyaliran pada tambang tertutup adalah : dengan
Tunnel (Terowongan) dan dengan pemompaan.

SARAN

Pada pencegahan terbentuknya kembali air asam dapan dilakukan dengan cara
perlapisan. Ketika melakukan cara ini maka harus membatasi kontak oksigen dan
air terhadap lapisan batubara yang mengandung mineral sulfida. Maka disarankan
pada proses ini harus memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi
keberhasilan dari cara perlapisan, seperti : kandungan sulfur, porositas, luas
permukaan kristal pirit, dan kereaktifan Kristal pirit.