Anda di halaman 1dari 4

BAB III

KESIMPULAN
Setelah mengumpulkan dan memahami aplikasi senyawa kompleks maka dapat di simpulan
sebagai berikut:
a.

Senyawa kompleks merupakan senyawa yang tersusun dari suatu ion logam pusat

dengan satu atau lebih ligan yang menyumbangkan pasangan elektron bebasnya kepada ion
logam pusat.
b.

Tujuan utama penelitian tentang senyawa kompleks adalah untuk pengembangan

IPTEK yang berguna untuk kesejahteraan umat manusia dan makhluk lain yang ada dimuka
bumi ini.
c.

Aplikasi senyawa kompleks memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari

hari,seperti bidang kesehatan, farmasi, industri, dan lingkungan pertanian.


d.

Aplikasi senyawa kompleks banyak disalah gunakan sehingga membahayakan

kelangsungan hidup bahkan dapat menyebabkan kematian.


e.

Penelitian tentang senyawa kompleks ini akan terus berkembang sangat pesat baik

sintesis maupun aplikasinya


Kompleks oksalat dengan dua ion logam transisi dikenal sebagai kompleks bimetalik oksalat.
Telah dilaporkan oleh Sieber senyawa kompleks bimetalik oksalat dengan senyawa
{[Co(bpy)3][LiICrIII(C2O4)3]}. Pada kompleks ini terjadi interaksi diantara ion ion logam
pusat. Kompleks ini mempunyai sifat yang lebih unggul yaitu mempunyai karakter spin
tinggi ( Sieber, 2000 ).
Penggunaan senyawa organik dalam pembentukan kompleks polimer juga telah dilaporkan
(Decurtins, et al, 1994). Senyawa organik yang digunakan adalah [P(Ph)4]Cl dimana Ph
adalah fenil. Penggabungan senyawa organik tersebut dengan kompleks polimer oksalat

diperoleh senyawa dengan formula {[P(Ph)4][MnCr(C2O4)3]}. Hasil analisis Kristal tunggal


senyawa menunjukkan bahwa kompleks {[P(Ph)4][MnCr(C2O4)3]} berstruktur dua dimensi
(2D) yang dibangun oleh Mn(II)-oks-Cr(III) dengan oksalat sebagai jembatan antara dua
logam tersebut. Kompleks ini memiliki kelompok ruang R3c dan memiliki suseptibilitas yang
positif yaitu pada temperatur 10,5K. Kompleks dengan kation organik tetrafenil fosfin
menunjukkan susunan feromagnetik. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa
kompleks ini kurang stabil pada temperatur transisinya. Pada temperatur 260 K, nilai
MT(suseptibilitas magnetik molar termal) ditemukan sebesar 6,48 cm3mol-1K. Pada
penurunan temperatur sampai dengan 20 K, nilai MT naik secara lambat. Namun dibawah
20 K nilai MT naik secara tajam hingga mencapai 253,125 cm3mol-1K pada 4,2 K.
Selain itu, kompleks bimetalik oksalat lain yang juga telah dilaporkan adalah Kompleks
bimetalik oksalat [A][MIIMIII(C2O4)3] dengan A = tetrabutil fosfin (P(C4H9)4), MII =
Mn2+, Fe2+, Co2+, Ni2+, dan Cu2+, sedangkan MIII = Cr3+ dan Fe3+. 3
Pada kompleks oksalat ini ion logam M(II) maupun Cr(III) dikelilingi oleh tiga ligan oksalat
dan membentuk jaringan polimer dengan posisi ion logam berselang-seling. Jaringan ionik ini
membentuk lorong yang ditempati oleh kation organik penyeimbang tertrabutil fosfin
[P(C4H9)4]+. Lima kompleks polimer yang terbentuk menunjukkan adanya interaksi
feromagnetik. Ini ditunjukkan nilai konstanta Weiss yang positif (TCW) (Martak, 2008).
Upaya untuk menaikkan sifat magnetik senyawa kompleks bimetalik oksalat dapat dilakukan
dengan beberapa pilihan misalnya dengan menurunkan ukuran kation organik penyeimbang
ataupun dengan mensintesis kompleks bimetalik yang melibatkan logam - logam transisi
yang memiliki karakter transisi spin yang tinggi. Sehingga interaksi magnetik antara logam
transisi yang satu dengan lainnya dapat meningkat yang ditunjukkan dengan meningkatnya
nilai MT pada temperatur ruang. Pada penelitian ini dipilih kompleks bimetalik mangan(II)
kromium(III) oksalat, karena kompleks ini pada temperatur ruang bersifat paramagnetik
dan pada temperatur rendah menjadi feromagnetik. Kompleks ini memiliki struktur yang
terdiri atas lapisan lapisan magnetik yang dibentuk oleh jaringan mangan(II)
kromium(III) oksalat dengan stokiometri [MnCr(C2O4)3]nn-. Lapisan yang dibentuk
jaringan [MnCr(C2O4)3]nn- dan kation organik tetrabutil amonium yang menempati rongga
rongga terletak secara bergantian, karena tidak mungkin dua lapisan anion
[MnCr(C2O4)3]nn- terletak berdampingan tanpa diselingi oleh kation organik penyeimbang
muatan. Kompleks yang telah dihasilkan diharapkan dapat bersifat feromagnetik yang stabil
pada temperatur ruang.

Dalam bidang kesehatan


Senyawa kompleks gadolinium-dietilentriaminpentaasetato (GdDTPA) secara in vivo
telah digunakan dalam bidang kesehatan sebagai senyawa pengontras MRI untuk diagnosa
berbagai penyakit. Senyawa kompleks GdDTPA memiliki kestabilan termodinamika (log
KML
> 20) dan kestabilan kinetika yang cukup tinggi (log Ksel > 7).
Pengkhelatan gadolinium dengan beberapa
macam ligan dapat dimanfaatkan dalam bidang industri dan juga kesehatan. Pengkhelatan
gadolinium dengan ligan asam dietilentriaminpentaasetat (DTPA) menghasilkan senyawa
yang berguna dalam bidang kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mereaksikan
gadolinium dengan ligan DTPA melalui metode refluks. Kemudian untuk proses kristalisasi
ditambahkan etanol sampai tepat jenuh. Senyawa yang terbentuk kemudian dikarakterisasi
dengan

spektrofotometer

ultraviolet,

spektrofotometer

inframerah

dan

Magnetic

Susceptibility
Balance (MSB). Hasil analisis spektrofotometer ultraviolet menunjukkan bahwa ligan DTPA
mempunyai serapan maksimum pada panjang gelombang 205,2 nm sedangkan pada
senyawa GdDTPA mempunyai serapan maksimum pada panjang gelombang 214,7 nm.
Kemudian dari hasil perbandingan antara spektrum inframerah ligan DTPA dengan spektrum
inframerah senyawa kompleks GdDTPA terjadi perubahan gugus-gugus penting, yaitu pada
senyawa kompleks GdDTPA yang terbentuk, puncak gugus OH karboksilat serta pita lebar
pada sidik jari hilang dan tergantikan dengan munculnya puncak yang tajam dari gugus OH
dan pada daerah sidik jari muncul pita-pita tajam. Terjadinya perubahan gugus-gugus
penting ini dapat dijadikan petunjuk telah terjadi ikatan kovalen koordinasi antara logam
dengan ligan. Dari hasil perhitungan dengan MSB, diperoleh harga momen magnet senyawa
kompleks GdDTPA adalah 8,069 BM yang menunjukkan bahwa senyawa yang terbentuk
bersifat paramagnetik.
Kata Kunci : kompleks logam Gadolinium dengan dietilentriaminpentaasetat
1.4 Manfaat Penelitian
Keberhasilan sintesis senyawa kompleks bimetalik oksalat [N(C4H9)4][MnIICrIII(C2O4)3]
diharapkan mendapatkan senyawa kompleks sebagai material magnetik yang bersifat
feromagnetik. Material magnetik ini dapat digunakan sebagai alat alat elektronik seperti
sensor temperatur dan tekanan, elemen aktif dalam peralatandisplay dan memori pengolahan
data optik.

BAB I PENDAHULUAN
Merupakan bab yang berisi tentang latar belakang, tujuan perancangan,
manfaat perancangan, batasan masalah dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
Berisi tentang studi perancangan yang telah dilakukan sebelumnya.
Selanjutnya mengemukakan tentang teori dasar yang menjelaskan jenis dan