Anda di halaman 1dari 23

1.

KEHAMILAN EKTOPIK (ECTOPIC PREGNANCY)


DEFINISI
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana setelah fertilisasi implantasi terjadi diluar
endometrium kavum uteri.
Kehamilan ektopik adalah implantasi hasil konsepsi pada tempat di luar rongga uterus
( misalnya, di tuba fallopi, ovarium, serviks, atau rongga peritoneum). (Barbara R Stright,cetakan
I:2005:244)
Kehamilan ektopik atau kehamilan extrauterine ialah kehamilan yang dapat terjadi di luar
rahim, misalnya dalam tuba, ovarium atau rongga perut,tetapi dapat terjadi di dalam cervix, pars
interslitialis tubae atau dalam tanduk rudimenter rahim. (obstetric patologi,hal :21)
Kehamilan ektopik kombinasi ( combined ectopic pregnancy) adalah kehamilan
intrauterine yang terjadi pada waktu bersamaan dengan kehamilan ekstrauterine.
Kehamilan ektopik rangkap ( compound ectopic pregnancy) adalah kehamilan
intrauterine dengan kehamilan ekstrauterine yang lebih dulu terjadi tapi janin sudah mati dan
terjadi litopedion.
Berdasarkan tempat implantasinnya, kehamilan ektopik dapat dibagi dalam beberapa
golongan :

Tuba Fallopii

Uterus (diluar endometrium kavum uterus)

Ovarium

Intraligamenter

Abdominal

Kombinasi kehamilan didalam dan diluar uterus

ETIOLOGI
a.
Faktor dalam lumen tuba :
Endosalpingitis dapat menyebabkan perlengketan endosalping, sehingga lumen tuba menyempit
atau membentuk kantong buntu
Lumen tuba sempit dan berlekuk-lekuk yang dapat terjadi pada hipoplasia uteri. Hal ini dapat
disertai kelainan fungsi silia endosalping
Lumen tuba sempit yang diakibatkan oleh operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tidak sempurna.
b. Faktor pada dinding tuba :

Endometriosis tuba, dapat memudahkan implantasi telur yang dibuahi dalam tuba

Divertikel tuba kongenital atau ostium assesorius tubae dapat menahan telur yang dibuahi
ditempat itu.
c.

Faktor diluar dinding tuba :


Perlekatan peritubal dengan distorsiatau lekukan tuba dapat menghambat perjalanan telur
Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba.

d. Faktor lain :
Migrasi luar ovum, yaitu perjalanan dari ovum kanan ke tuba kiri- atau sebaliknya- dapat
memperpanjang perjalanan telur yang dibuahi ke uterus. Pertumbuhan telur yang terlalu cepat dapat
menyebabkan implantasi premature
Fertilisasi in vitro

MANIFESTASI KLINIS

Nyeri perut

Gejala ini yang paling sering dijumpai dan terdapat pada hampir semua penderita. Nyeri perut ini
datang setelah mengangkat berat,buang air besar tapi kadang kadang juga waktu pasien sedang
beristirahat. Gejala ini berhubungan dengan apakah kehamilan ektopik sudah ruptur.

Shock karena hypovolaemia

(obstetri William international edition, hal: 890)

Amenorhoe
Perdarahan pervaginam
Dengan matinya telur desidua mengalami degenerasi dan nekrose dan dikeluarkan dengan
perdarahan. Perdarahan ini pada umumnya sedikit, perdarahan yang banyak dari vagina harus

mengarahkan pikiran kita ke abortus yang biasa


Nyeri bahu dan leher Karen perangsangan digfragma
Nyeri pada palpasi
Perut pendeita biasanya tegang dan agak gembung, ada tanda tanda perdarahan intra

abdominal(shifting dullness).
Tanda tanda akut abdomen : nyeri tekan yang hebat (defance musculair), muntah, gelisah,

pucat, anemis, nadi kecil dan halus, tensi rendah atau tidak terukur (syok).
Tanda Cullen : sekitar pusat atau linea alba kelihatan biru hitam dan lebam.
Pada pemeriksaan dalam :
Adanya nyeri ayun: dengan menggerakkan porsio dan serviks ibu akan merasa sakit yang

sangat
Douglas crise : rasa nyeri hebat pada penekanan kavum douglasi
Kavum douglasi teraba menonjol karena terkumpulnya darah, begitu pula teraba masa
retrouterin (masa pelvis)

PATOFISOLOGI
Kebanyakan dari kehamilan ektopik berlokasi di tuba fallopii. Tempat yang paling umum
terjadi adalah pada pars ampullaris, sekitar 80 %. Kemudian berturut-turut adalah isthmus (12%),
fimbriae (5%), dan bagian kornu dan daerah intersisial tuba (2%), dan seperti yang disebut pada
bagian diatas, kehamilan ektopik non tuba sangat jarang. Kehamilan pada daerah intersisial
sering berhubungan dengan kesakitan yang berat, karena baru mengeluarkan gejala yang muncul
lebih lama dari tipe yang lain, dan sulit di diagnosis, dan biasanya menghasilkan perdarahan
yang sangat banyak bila terjadi rupture.
Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan
halnya di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau interkolumner. Pada yang
3

pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur
selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan
diresorbsi. Pada nidasi secara interkolumner telur bernidasi antara 2 jonjot endosalping. Setelah
tempat nidasi tertutup, maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan jaringan yang
menyerupai desidua dan dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba
tidak sempurna malahan kadang-kadang tidak tampak, dengan mudah villi korialis menembus
endosalping dan masuk dalam lapisan otot-otot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh
darah. Perkembangan janin selanjutnya bergantung pada beberapa faktor, seperti tempat
implantasi, tebalnya dinding tuba, dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas.
Dibawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron dari korpus luteum gravidatis dan
trofoblas, uterus menjadi besar dan lembek, dan endometrium dapat pula berubah menjadi
desidua. Dapat ditemukan pula perubahan-perubahan pada endometrium yang disebut fenomena
Arias-Stella. Sel epitel membesar dengan intinya hipertrofik, hiperkromatik, lobuler, dan
berbentuk tidak teratur. Sitoplasma sel dapat berlubang-lubang atau berbusa, dan kadang-kadang
ditemukan mitosis. Perubahan ini hanya terjadi pada sebagian kehamilan ektopik.
Terdapat beberapa kemungkinan yang dapat terjadi pada kehamilan ektopik dalam tuba.
Karena tuba bukan merupakan tempat yang baik untuk pertumbuhan hasil konsepsi, tidak
mungkin janin dapat tumbuh secara utuh seperti di uterus. Sebagian besar kehamilan tuba
terganggu pada umur kehamilan antara 6 minggu sampai 10 minggu.
KOMPLIKASI
Pada pengobatan konsevatif yaitu bila ruptur tuba telah lama berlangsung 9 4-6 minggu ) terjadi
perdarahan ulang ( recurrent bleeding ) ini merupakan indikasi operasi.
Infeksi
Sub ileus karena masaa pelvis
sterilitas
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Berikut ini merupakan jenis pemeriksaan untuk membantu diagnsosi kehamilan ektopik :
1. HCG-
Pengukuran subunit beta dari HCG (Human Chorionic Gonadotropin-Beta) merupakan tes
laboratorium terpenting dalam diagnosis. Pemeriksaan ini dapat membedakan antara kehamilan
2.

intrauterine dengan kehamilan ektopik


Kuldosintesis

Tindakan kuldosintesis atau punksi Douglas. Adanya yang diisap berwarna hitam (darah tua)
biarpun sedikit, membuktikan adanya darah di kavum Douglasi
3. Dilatasi dan Kuretase
Biasanya kuretase dilakukan setelah amenore terjadi perdarahan yang cukup lama tanpa
4.

menemukan kelainan yang nyata disamping uterus.


Laparaskopi
Laparaskopi hanya digunakan sebagi alat bantu diagnosis terakhir apabila hasil hasil penilaian
prosedur diagnotik lain untuk kehamilan ektopik terganngu meragukan. Namun beberpa dekade

5.
6.

terakhir alat ini juga dipakai untuk terapi.


Ultrasonografi
Keunggulan cara pemeriksaan ini terhadap laporaskopi ialah tidak invasive, artinya tidak perlu
memasukkan rongga kedalam rongga perut. Dapat dinilai kavum uteri, kosong atau berisi, tebal

endometrium, adanya massa dikanan kiri uterus dan apakah kavum Douglas berisi cairan.
7. Tes Oksitosin
8.
Pemberian oksitosin dalam dosis kecil intravena dapat membuktikan adanya kehamilan ektopik
lanjut. Dengan pemerikasaan bimanual, diluar kantong janin dapat diraba suatu tumor.
9. Foto Rontgen
Tampak kerangka janin lebih tinggi letaknya dan berada dalam letak paksa. Pada foto lateral
tampak bagian- bagian janin menutupi vertebra ibu.
10. Histerosalpingografi
Memberikan gambaran kavum uteri kosong dan lebih besar dari biasa, dengan janin diluar
uterus. Pemeriksaan ini dilakukan jika diagnosis kehamilan ektopik terganggu sudah dipastikan
dengan USG (Ultra Sono Graphy) dan MRI (Magnetic Resonance Imagine). Trias klasik yang
sering ditemukan adalah nyeri abdomen, perdarahan vagina abnormal, dan amenore.

2. MOLA HIDATIDOSA
DEFINISI
Hamil anggur atau Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal berupa tumor jinak yang
terjadi sebagai akibat kegagalan pembentukan bakal janin, sehingga terbentuk jaringan
permukaan membran (vili) mirip gerombolan buah anggur.Tumor jinak mirip anggur tersebut
asalnya dari trofoblas, yakni sel bagian tepi ovum atau sel telur, yang telah dibuahi, yang
nantinya melekat di dinding rahim dan menjadi plasenta (tembuni) serta membran yang memberi
makan hasil pembuahan.
Mola Hydatidosa adalah jonjot-jonjot korion (Chorionic Villi) yang tumbuh berganda
berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah
anggur, atau mata ikan. Kelainan ini merupakan neo plasma trofoblas yang jinak-jinak (benigna)
(Rustam Mochtar, 1998 : 238).
Hamil Mola adalah suatu kehamilan dimana setelah fertilisasi hasil konsepsi tidak
berkembang menjadi embrio tetapi terjadi poliferasi dan vili korialis disertai dengan degenerasi
hidropik. Uterus melunak dan berkembang lebih cepat dari usia gestasi, tidak dijumpai adanya
janin, kavum uteri hanya terisi oleh jaringan seperti rangkaian buah anggur (Sarwono
Prawirohardjo, 2002 : 156).

Karakteristik Mola Hidatidosa bentuk komplet dan parsial :

Gambaran

Mola parsial (inkomplet)

Mola Komplet (klasik)

Jaringan embrio atau janin

Ada

Tidak ada

Pembengkakan hidatidosa
pada vili

Fokal

Difus

Hyperplasia

Fokal

Difus

Inklusi stroma

Ada

Tidak ada

Lekukan vilosa

Ada

Tidak ada

1. Mola Hidatidosa Komplet (klasik)

Vili korialis berubah menjadi kumpulan gelembung yang jernih. Gelembung-gelembung atau
vesikula ini bervariasi ukurannya mulai dari yang mudah terlihat sampai beberapa cm, dan
bergantung dalam beberapa kelompok dari tangkai yang tipis. Massa tersebut dapat tumbuh
cukup besar sehingga memenuhi uterus, yang besarnya bisa mencapai ukuran uterus kehamilan
normal lanjut. Berbagai penelitian sitogenetik terhadap kehamilan mola komplet, menemukan
komposisi kromosom yang paling sering (tidak selalu) 46XX, dengan kromosom sepenuhnya
berasal dari ayah.
Fenomena ini disebut sebagai androgenesis yang khas ovum dibuahi oleh sebuah sperma
haploid yang kemudian mengadakan duplikasi kromosomnya sendiri setelah miosis. Kromosom
ovum bias tidak terlihat atau tampak tidak aktif. Tetapi semua mola hidatidosa komplet tidak
begitu khas dan kadang-kadang pola kromosom pada mola komplet biSA 46XY. Dalam keadaan
ini dua sperma membuahi satu ovum yang tidak mengandung kromosom. Variasi lainnya juga
pernah dikemukakan misalnya 45X. jadi mola hidatidosa yang secara morfologis komplet dapat
terjadi akibat beberapa pola kromosom.
2. Mola Hidatidosa Parsial (inkomplet)
Kalau perubahan hidatidosa bersifat fokal serta belum begitu jauh dan masih terdapat janin atau
sedikitnya kantong amnion, keadaan ini digolongkan sebagai mola hidatidosa parsial. Pada
sebagian vili yang biasanya avaskuler terjadi pembengkakan hidatidisa yang berjalan lambat,
sementara vili lainnya yang vaskular dengan sirkulasi darah fetus plasenta yang masih berfungsi
tidak mengalami perubahan. Hyperplasia trofoblastik yang terjadi, lebih bersifat fokal dari pada
generalisata. Katiotipe secara khas berupa triploid, yang bias 69XXY atau 69XYY dengan satu
komplemen maternal tapi biasanya dengan dua komplemen haploid paternal. Janin secara khas
menunjukkan stigmata triploidi yang mencakup malformasi congenital multiple dan retardasi
pertumbuhan.

ETIOLOGI
Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti, namun faktor penyebabnya adalah :

Penyebab molahidatidosa belum diketahui secara pasti, namun ada faktor-faktor penyebabnya
adalah :
1. Faktor ovum
Pembuahan sel telur dimana intinya telah hilang atau tidak aktif lagi oleh sebuah sel
sperma.
2. Imunoselektif dari trofoblas
Perkembangan molahidatidosa diperkirakan disebabkan oleh kesalahan respon imun ibu
terhadap invasi oleh trofoblas. Akibatnya vili mengalami distensi kaya nutrient. Pembuluh darah
primitive di dalam vilus tidak terbentuk dengan baik sehingga embrio kelaparan, mati, dan
diabsorpsi, sedangkan trofoblas terus tumbuh dan pada keadaan tertentu mengadakan invasi
kejaringan ibu.
3. Usia
Faktor usia yang dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun dapat terjadi kehamilan mola.
Prekuensi molahidatidosa pada kehamilan yang terjadi pada awal atau akhir usia subur relatif
tinggi. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pada usia berapa pun dalam usia subur dapat terjadi
kehamilan mola.
4. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah
Dalam masa kehamilan keperluan akan zat-zat gizi meningkat. Hal ini diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan janin, dengan keadaan sosial ekonomi
yang rendah maka untuk memenuhi zat-zat gizi yang diperlukan tubuh kurang sehingga
mengakibatkan gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan janinnya.
5. Paritas tinggi
Pada ibu yang berparitas tinggi, cenderung beresiko terjadi kehamilan molahidatidosa
karena

trauma

kelahiran

atau

penyimpangan

transmisi

secara

genetik

yang

dapat

diidentifikasikan dengan penggunaan stimulandrulasi seperti klomifen atau menotropiris


(pergonal). Namun juga tidak dapat dipungkiri pada primipara pun dapat terjadi kehamilan
molahidatidosa.
6. Defisiensi protein
Protein adalah zat untuk membangun jaringan-jaringan bagian tubuh sehubungan dengan
pertumbuhan janin, pertumbuhan rahim dan buah dada ibu, keperluan akan zat protein pada

waktu hamil sangat meningkat apabila kekurangan protein dalam makanan mengakibatkan
pertumbuhan pada janin tidak sempurna.
7. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas
Infeksi mikroba dapat mengenai semua orang termasuk wanita hamil. Masuk atau adanya
mikroba dalam tubuh manusia tidak selalu menimbulkan penyakit ( desease ). Hal ini sangat
tergantung dari jumlah mikroba ( kuman atau virus ) yang termasuk virulensinya seta daya tahan
tubuh.
8. Riwayat kehamilan mola sebelumnya
Kekambuhan molahidatidosa dijumpai pada sekitar 1-2% kasus. Dalam suatu kejadian
terhadap 12 penelitian yang total mencangkup hampir 5000 Kelahiran, frekwensi mola adalah
1,3%. Dalam suatu ulasan tentang molahidatidosa berulang tapi pasangan yang berbeda bisa
disimpulkan bahwa mungkin terdapat masalah oosit primer .

PATOFISIOLOGI
Proliferasi Trofoblas

Degenerasi hidrofik dari stroma villi

Tidak ditemukan sirkulasi fetal/ perkembangannya tidak sempurna

Edema ( cairan tidak dapat diserap )

10

HCG meningkat

Pembengkakan hidrofik

Blighted ovum

Mola Hidatidosa
Gelembung-gelembung mola seperti buah anggur, kistik, berdinding
Tipis dan mudah pecah dengan keluarnya cairan jernih.
Ket: Pada pemeriksaan serum HCG, kadarnya sangat tinggi.
Jonjot-jonjot korion tumbuh berganda dan mengandung cairan merupakan kista-kista
kecil seperti anggur. Biasanya didalamnya tidak berisi embrio. Secara histopatologik kadangkadang ditemukan jaringan mola pada plasenta dengan bayi normal. Bisa juga terjadi kehamilan
ganda mola adalah satu janin tumbuh dan yang satu lagi menjadi mola hidatidosa. Gelembung
mola besarnya bervariasi, mulai dari yang kecil sampai berdiameter lebih dari satu cm. mola
parsialis adalah bila dijumpai janin dan gelembung-gelembung mola.Secara mikroskopik terlihat
trias :
1. Proliferasi dari trofoblast
2. Degenerasi hidropik dari stroma vili dan kesembaban
3. Terlambat atau hilangnya pembuluh darah dan stroma.
Sel-sel langhans tampak seperti sel polidral dengan inti terang dan adanya sel sinsisial
giantik (syncytial giant cell). Pada kasus mola banyaak kita jumpai ovarium dengan kista lutein
ganda berdiameter 10 cm atau lebih. Kista lutein akan berangsur-angsur mengecil dan hilang
setelah mola hidatidosa sembuh.
11

Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit
trofoblast, diantaranya :

1.

Teori missed abortion


Mudigah mati pada kehamilan 3 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredaran darah
sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembung-

2.

gelembung.
Teori neoplasma dari Park
Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi

3.

cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung.


Studi dari Hertig
Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi
cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan
ke lima. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan
trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan.

MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan Gejala yang biasanya timbul pada klien dengan mola hidatidosa adalah :
a) Amenore dan tanda-tanda kehamilan
b) Perdarahan pervaginam berulang. Darah cenderung berwarna coklat. Pada keadaan lanjut
kadang keluar gelembung mola.
c) Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
d) Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya DJJ sekalipun uterus
sudah membesar setinggi pusat atau lebih.

12

e) Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu.


f) hiperemesis lebih sering terjadi, lebih keras dan lebih lama.
g) mungkin timbul preeklampsia dan eklampsia. Terjadinya preeclampsia dan eklampsia
sebelum minggu kedau empat menuju kearah mola hidatidosa.
h) kadar gonadotropin tinggi dalam darah serum pada hari ke 100 atau lebih sesudah
periode menstruasi terakhir.
KOMPLIKASI

Perdarahan yang hebat sampai syok, kalau tidak segera ditolong dapat berakibat fatal.

Perdarahan berulang-ulang yang dapat menyebabkan anemia.

Infeksi sekunder.

Perforasi karena kegananasan dan Karena tindakan.

Menjadi ganas (PTG) pada kira-kira 18%-20% kasus akan menjadi mola destruens atau
koriokarsinoma.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Kita harus mempertimbangkan kemungkinan data-data tentang menstruasi atau uterus hamil
yang lebih lanjut membesar akibat mioma, hidramnion, atau terutama akibat janin lebih dari satu.

13

Ultrasonografi
Ketapatan diagnostic yang terbesar diperoleh dari gambaran USG yang khas pada mola
hidatidosa keamanan dan ketepatan pada pemeriksaan sonografi membuat pemeriksaan ini
menjadi prosedur pilihan. Tetapi kita harus ingat bahwa beberapa stuktur lainnya dapat
memperlihatkan gambaran yang serupa dengan gambaran mola hidatidosa, termasuk mioma uteri
dengan kehamilan dini dan kehamilan dengan janin lebih dari satu. Tinjauan cermat mengenai
riwayat penyakit bersama hasil evaluasi pemeriksaan USG yang cermat dan kalau perlu diulang
satu atau dua minggu kemudian, harus bias menghindari diagnose mola hidatidosa lewat USG
yang keliru ketika kehamilan sebenarnya normal.
Amniografi
Penggunaan bahan radiopak yang dimasukkan kedalam uterus secara transabdominal akan
memberikan gambaran radiografik khas pada mola hidatidosa. Cavum uteri ditembus dengan
jarum untuk amniosintesis. 20ml hypaque disuntikkan segera dan 5 hingga 10 menit kemudian
difoto anteroposterior. Pola sinar x seperti sarang tawon, khas ditimbulkan oleh bahan kontraks
yang mengelilingi gelembung-gelembung corion. Pada kehamilan normal terdapat sedikit resiko
abortus akibat penyuntikan bahan kontraks hipertonik intra amnion. Dengan semakin banyaknya
sarana USG yang tersedia, teknik pemeriksaan amniografi sudah jarang dipakai lagi.
Pengukuran kadar corionic gonadotropin
Pengukuran kadar corionic gonadotropin kadang-kadang digunakan untuk membuat
diagnose jika metode pengukuran secara kuantitatif yang andal telah tersedia, dan variasinya
cukup besar pada sekresi gonadotropin dalam kehamilan normal sudah dipahami khusus
kenaikan kadar gonadotropin yang kadang-kadang menyertai kehamilan dengan janin lebih dari
satu.
Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis
servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan, sonde diputar setelah ditarik sedikit, bila tetap
tidak ada tahanan, kemungkinan mola (cara Acosta-Sison)

14

3. ABORTUS
DEFINISI

15

Keguguran adalah pengeluaran hasil konsepsai sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan.Di bawah ini dikemukakan beberapa definisi para ahli tentang abortus.
EASTMAN: abortus adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus sanggup hidup
sendiri di luar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 4001000 gram, atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu.
JEFFCOAT: abortus adalah pengeluaran dari hasil konsepsi sebelum usia kehamilan 28 minggu,
yaitu fetus belum viable by law.
HOLMER: abortus adalah terputusnya kehamilan sebelum minggu ke 16, dimana proses
plasentasi belum selesai.
Aborsi adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) sebelum buah
kehamilan tersebut mampuuntuk hidup di luar kandungan/kehamilan yang tidak dikehendaki
atau diinginkan.Aborsi itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu aborsi spontan dan aborsi
buatan.Aborsi spontan adalah aborsi yang terjadi secara alami tanpa adanya upaya-upaya dari
luar (buatan) untuk mengakhiri kehamilan tersebut. Sedangkan aborsi buatan adalah yang terjadi
akibat adanya upaya-upaya tertentu untuk mengakhiri proses kehamilan.
Mengugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah aborsi berarti
pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di
luar kandungan.
Ternyata MONRO melaporkan bahwa fetus dengan berat 397 gram dapat hidup terus,
jadi definisi tersebut di atas tidaklah mutlak. Sungguhpun bayi dengan BB 700-800 gram dapat
hidup, tapi hal ini dianggap sebagai suatu keajaiban, makin tinggi BB anak waktu lahir, maka
makin besar kemungkinannya untuk dapat hidup terus.

16

ETIOLOGI
Faktor-faktor yang menyebabkan kematian fetus adalah faktor ovum sendiri, faktor ibu, dan
faktor bapak.
1.

Kelainan Ovum
Menurut HERTIG dkk pertumbuhan abnormal dari fetus sering menyebabkan abortus

spontan. Menurut penyelidikan mereka, dari 1000 abortus spontan, maka 48,9% disebabkan
karena ovum yang patologis: 3,2% disebabkan oleh kelainan embrio, dan 9,6% disebabkan oleh
plasenta yang abnormal.
Pada ovum abnormal 6% diantaranya terdapat degenerasi hidatid vili.Abortus spontan
disebabkan oleh karena kelainan dari ovum berkurang kemungkinannyakalau kehamilan sudah
lebih dari satu bulan, artinya makin muda kehamilan saat terjadinya abortus makin besar
kemungkinan disebabkan oleh kelainan ovum (50-80%).

2.

Kelainan Genetalia Ibu

Misalnya pada ibu yang menderita:


Anomali kongenital (hipoplasia uteri, uterus bikornis, dan lain-lain)
Kelainan letak dari uterus seperti retrofleksi uteri fiksata
Tidak sempurnanya persiapan uterus dalam menanti nidasi dari ovum yang sudah dibuahi,
seperti kurangnya progesteron atau estrogen, endometritis, mioma submukosa
Uterus terlalu cepat teregang (kehamilan ganda, mola)
Distorsio uterus, misalnya karena terdorong oleh tumor pelvis
3.

Gangguan Sirkulasi Plasenta

17

Kita jumpai pada ibu yang menderita penyakit nefritis, hipertensi, toksemia gravidarum,
anomali plasenta, dan endarteritis oleh karena lues.
4.

Penyakit-penyakit Ibu
Misalnya pada:

Penyakit infeksi yang menyebabkan demam tinggi seperti pneumonia, tifoid, pielitis, rubeola,
demam malta dan sebagainya. Kematian fetus dapat disebabkan karena toksin dari ibu atau
invasi kuman atau virus pada fetus.
Keracunan Pb, nikotin, gas racun, alkohol dan lain-lain
Ibu yang asfiksia seperti pada dekompensasi kordis, penyakit paru berat, anemia gravis
Malnutrisi, avitaminosis dan gangguan metabolisme, hipotiroid, kekurangan vitamin A,C atau
E, diabetes melitus.

5.

Antagonis Rhesus
Pada antagonis rhesus, darah ibu yang melalui plasenta merusak darah fetus, sehingga terjadi
anemia pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus.

6.

Terlalu cepatnya korpus luteum menjadi atrofis, atau faktor serviks, yaitu inkompetensi
serviks, servisitis.

7.

Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi umpamanya: sangat


terkejut, obat-obat uterotonika, ketakutan, laparatomi dan lain-lain. Atau dapat juga karena
trauma langsung teehadap fetus: selaput janin rusak langsung karena instrumen, benda dan
obat-obatan.

18

8.

Penyakit Bapak: umur lanjut, penyakit kronis seperti: TBC, anemia, dekompesasis kordis,
malnutrisi, nefritis, sifilis, keracunan (alkohol, nikotin, Pb dan lain-lain) sinar rontgen,
avitaminosis.

KLASIFIKASI ABORTUS
Abortus dapat dibagi atas dua golongan:
a.

Abortus Spontan
Adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis ataupun
medisinalis, semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.

b.

Abortus Provakatus (induced abortion)


Adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat. Abortus
ini terbagi lagi menjadi:

v Abortus Medisinalis (abortus therapeutica)


Adalah abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat
membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan
2 sampai 3 tim dokter ahli.
v Abortus Kriminalis
Adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak
berdasarkan indikasi medis.

19

KLINIS ABORTUS SPONTAN


Dapat dibagi atas:
Abortus Kompletus (Keguguran lengkap): artinya seluruh hasil konsepsi dikeluarkan (desidua
dan fetus), sehingga rongga rahim kosong.
Terapi: hanya dengan uterotonika
Abortus inkompletus (keguguran bersisa): hanya sebagian dari hasil konsepsi yang
dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta.
Gejala: didapati antara lain adalah amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas; perdarahan yang
bisa sedikit atau banya; sudah keluar fetus atau jaringan. Pada pemeriksaan dalam untuk
abortus yang baru terjadi didapati serviks membuka, kadang kadang dapat diraba sisa- sisa
jaringan dalam kanalis sevikalis atau kavum uteri, serta uterus yang berukuran lebih kecil
dari seharusnya.
Terapi : bila ada tanda- tanda syok maka atasi dulu dengan pemberian cairan dan tranfusi
darah. Kemudian keluarkan jaringan secepat mungkin dengan metode digital dan kuretase.
Setelah itu beri obat-obat uterotonika dan antibiotika.
Abortus Insipiens (keguguran sedang berlangsung) :adalah abortus yang sedang berlangsung,
dengan ostium sudah terbuka dan ketuban yang teraba. Kehamilan tidak dapat dipertahankan
lagi.
Terapi : seperti abortus inkompletus.
Abortus Iminens (keguguran membakat) :keguguran memebakat dan akan terjadi. Dalam hali
ini keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan memberikan obat-obat hormonal dan
antispasmodika serta istirahat.

20

Abortus Abortion : adalahkeadaan dimana janin sudah mati, tetap berada dalam rahim dan
tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih.
Gejala

:dijumpai

amenorea;

perdarahan

sedikit-sedikit

yang

berulang

pada

permulaannya,selama observasi fundus tidak bertambah tinggi, malahan tambah rendah.


Terapi :berikan obat dengan maksud agar terjadi his sehingga fetus dan desidua dapat
dikeluarkan, kalau tidak berhasil lakukan dilatasi dan kuratase.
Abortus Habitualis (keguguran berulang) :adalah keadaan dimana penderita mengalami
keguguran berturut- turut 3 kali atau lebih. Kalau seseorang penderita telah mengalami 2 kali
abortus berturu- turut maka optimisme untuk kehamilam berikutnya berjalan normal adalah
sekitar 63%.
Abortus Infeksiosus dan Abortus Septik : abortus infeksiosus adalah keguguran yang disertai
infeksi genital. Abortus septik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran
kuman atau toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritoneum.

Efek dan Resiko Abortus


a.

Efek abortus
Pada kasus abortus terdapat beberapa efek. Efek abortus dibagi menjadi 2 yaitu:

1.

Efek Jangka Pendek

Rasa sakit yang intens

Terjadinya kebocoran uterus

Perdarahan yang banyak

Infeksi

Bagian bayi yang tertinggal di dalam

21

Shock/koma

Merusak organ tubuh lain

Kematian

2.

Efek Jangka Panjang

Tidak dapat hamil kembali

Keguguran kandungan

Kehamilan tubal

Kelahiran Prematur

Gejala peradangan di bagian pelvis

Hysterectom

b.

Resiko Abortus
Abortus memiliki risiko penderitaan yang berkepanjangan terhadap kesehatan maupun
keselamatan hidup seorang wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa seseorang yang
melakukan aborsi ia tidak merasakan apa-apa dan langsung boleh pulang. Resiko
kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi berisiko kesehatan dan keselamatan secara
fisik dan gangguan psikologis. Risiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi
seorang wanita pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi adalah ;

Kematian mendadak karena perdarahan hebat

Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal

Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan

Rahim yang sobek (Uterine Perforation)

Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak
berikutnya.

22

Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita).

Kanker indung telur (Ovarian Cancer).

Kanker leher rahim (Cervical Cancer).

Kanker hati (Liver Cancer).

Kelainan pada ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak
berikutnya dan pendarahan hebat pada kehamilan berikutnya.

Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi ( Ectopic Pregnancy).

Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease).

Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)

DAMPAK ABORTUS
1. Timbul luka-luka dan infeksi-infeksi pada dinding alat kelamin dan merusak organ-organ
di dekatnya seperti kandung kencing atau usus.
2. Robek mulut rahim sebelah dalam (satu otot lingkar). Hal ini dapat terjadi karena mulut
rahim sebelah dalam bukan saja sempit dan perasa sifatnya, tetapi juga kalau tersentuh,
maka ia menguncup kuat-kuat. Kalau dicoba untuk memasukinya dengan kekerasan
maka otot tersebut akan menjadi robek.
3. Dinding rahim bisa tembus, karena alat-alat yang dimasukkan ke dalam rahim.
4. Terjadi pendarahan. Biasanya pendarahan itu berhenti sebentar, tetapi beberapa hari
kemudian/ beberapa minggu timbul kembali. Menstruasi tidak normal lagi selama sisa
produk kehamilan belum dikeluarkan dan bahkan sisa itu dapat berubah menjadi kanker.

23