Anda di halaman 1dari 16

A.

Antihistamin
1. Definisi
Antihistamin adalah zat zat yang dapat mengurangi atau menghalagi efek
histamin terhadap tubuh dengan jalan mengeblok reseptor histamin. Anti
histamin adalah zat yang digunakan untuk mencegah atau menghambat
kerja histamin pada reseptornya. Histamin sendiri berasal dari bahasa Yunani
yaitu histos yang berarti jaringan.
Histamin adalah autakoid yang berperan penting pada aktivitas organ
tubuh baik pada proses yang fisiologis maupun patologis. Histamin bekerja
dengan

menduduki

reseptor

tertentu

pada

sel

yang

terdapat

pada

permukaan memberan. Terdapat 3 jenis reseptor histamin H1, H2, H3;


reseptor tersebut termasuk golongan reseptor yang berpasangan dengan
protein G. Pada otak, reseptor H1 dan H2 terletak pada membran
pascasinaptik, sedangkan reseptor H2 terutama prasinaptik.

Secara farmakologis reseptor histamin dapat di bagi dalam 3 tipe yaitu


histamin 1 (H1), histamin 2 (H2), dan histamin 3 (H3). Peran reseptor
tersebut berbeda beda. Reseptor H1 terdapat di kulit dan otak. Rangsangan
pada

reseptor

H1

menyebabkan

kontraksi

otot

polos,

vasodilatasi,

peningkatan permeabilitas kapiler, sekresi mucus serta menimbulkan rasa


gatal. Reseptor H2 terutama menyebabkan rangsangan sekresi asam
lambung dan beberapa hormon. Reseptor H3 terdapat di otak dan
bertanggung jawab sebagai autoregulasi pelepasan histamin .
Aktivasi reseptor H1, yang terdapat pada endotel dan sel otot polos,
menyebabkan kontraksi otot polos, meningkatkan permabilitas pembuluh
darah, dan sekresi mukus. Sebagian dari efek tersebut mungkin diperantarai
oleh peningkatan cyclic guanosine monophosphate di dalam sel. Histamin
juga berperan sebagai neurotransmiter dalam susunan saraf pusat.
Reseptor H2 didapatkan pada mukosa lambung, sel otot jantung, dan
beberapa sel imun. Aktivasi reseptor H2 terutama menyebabkan sekresi
asam lambung. Selain itu juga berperan dalam menyebabkan sekresi asam
lambung. Selain itu juga berperan dalam menyebabkan vasodilatasi dan
flushing. Histamin menstimulasi sekresi asam lambung, meningkatkan kadar

cAMP,

dan

menurunkan

kadar

cGMP,

sedangkan

anithistamin

H2

menghambat efek tersebut. Pada otot polos bronkus, aktivasi reseptor H1


oleh histamin menyebabkan bronkokonstriksi, sedangkan aktivasi reseptor H2
oleh agonis reseptor H2 akan menyebabkan relaksasi.
Reseptor H3 berfungsi sebagai penghambat umpan balik pada
berbagai sistem organ. Aktivasi reseptor H3 yang didapatkan di beberapa
daerah di otak mengurangi pelepasan transmiter baik histamin maupun
norepinefrin, serotononin, dan asetilkolin. Meskipun agonis reseptor H3
berpotensi

untuk

digunakan

antara

lain

sebagai

gastroprotektif,

dan

antagonis reseptor H3 antara lain berpotensi untuk digunakan sebagai


antiobesitas, sampai saat ini belum ada agonis maupun anatagonis reseptor
H3 yang diizinkan digunakan di klinik.

2. Klasifikasi
a. Antihistamin Penghambat Reseptor H1 (AH1)
Atihistamin H1 merupakan salah satu obat terbanyak dan terluas digunakan di seluruh
dunia. Fakta ini membuat perkembangan sekecil apapun yang berkenaan dengan obat
ini menjadi suatu hal yang sangat penting. Semisal perubahan dalam penggolongan
antihistamin H1. Dulu antihistamin H1 dikenal sebagai antagonis reseptor histamin
H1. Namun baru-baru ini seiring perkembangan ilmu farmakologi molekular,
antihistamin H1 lebih digolongkan sebagai inverse agonist ketimbang antagonis
reseptor histamin H1.
Suatu obat disebut sebagai inverse agonist bila terikat dengan sisi reseptor yang sama
dengan agonis, namun memberikan efek berlawanan. Jadi, obat ini memiliki aktivitas
intrinsik (efikasi negatif) tanpa bertindak sebagai suatu ligan. Sedangkan suatu
antagonis bekerja dengan bertindak sebagai ligan ynag mengikat reseptor atau
menghentikan kaskade pada sisi yang ditempati agonis. Beda dengan inverse agonist,
suatu antagonis sama sekali tidak berefek atau tidak mempunyai aktivitas intrinsik.
Sebelumnya antihistamin dikelompokkan menjadi 6 grup berdasarkan
struktur kimia, yakni etanolamin, etilendiamin, alkilamin, piperazin,
piperidin, dan fenotiazin. Penemuan antihistamin baru yang ternyata
kurang bersifat sedatif, akhirnya menggeser popularitas penggolongan ini.
Antihistamin kemudian lebih dikenal denagn penggolongan baru atas

dasar efek sedatif yang ditimbulkan, yakni generasi pertama, kedua, dan
ketiga.. Generasi pertama dan kedua berbeda dalam dua hal yang
segnifikan.

Generasi

pertama

lebih

menyebabkan

sedasi

dan

menimbulkan efek antikolinergenik yang lebih nyata. Hal ini dikarenakan


generasi pertama kurang selektif dan mampu berpenetrasi pada sistem
syaraf pusat (SSP) lebih besar dibanding generasi kedua. Sementara itu,
generasi kedua lebih banyak dan lebih banyak terikat dengan protein
plasma, sehingga mengurangi kemampuannya melintasi otak. Sedangkan
generasi ketiga merupakan derivat dari generasi kedua, berupa metabolit
(desloratadine

dan

fexofenadine)

dan

enansiomer

(levocetirizine).

Pencarian generasi ketiga ini dimaksudkan untuk memproleh profil


antihistamin yang lebih baik dengan efikasi tinggi serta efek samping
lebih minimal.

1) Klasifikasi atau Penggolongan antihistamin 1 (AH1)


a) antihistamin generasi pertama
AH1 efektif untuk mengatasi urtikaria akut, sedangkan pada urtikaria kronik
hasilnya kurang baik. Mekanisme kerja antihistamin dalam menghilangkan
gejala-gejala alergi berlangsung melalui kompetisi dalam berikatan dengan
reseptor H1 di organ sasaran. Histamin yang kadarnya tinggi akan
memunculkan lebih banyak reseptor H1. Antihistamin tersebut digolongkan
dalam antihistamin generasi pertama.
Pada umumnya obat antihistamin generasi pertama ini mempunyai efektifitas
yang serupa bila digunakan menurut dosis yang dianjurkan dan dapat
dibedakan satu sama lain menurut gambaran efek sampingnya. Namun, efek
yang tidak diinginkan obat ini adalah menimbulkan rasa mengantuk sehingga
mengganggu aktifitas dalam pekerjaan.
Efek sedatif ini diakibatkan oleh karena antihistamin generasi pertama ini
memiliki sifat lipofilik yang dapat menembus sawar darah otak sehingga dapat
menempel pada reseptor H1 di sel-sel otak. Dengan tiadanya histamin yang
menempel pada reseptor H1 sel otak, kewaspadaan menurun dan timbul rasa
mengantukSelain itu, efek sedatif diperberat pada pemakaian alkohol dan obat
antidepresan. Di samping itu, beberapa antihistamin mempunyai efek samping

antikolinergik seperti mulut menjadi kering, dilatasi pupil, penglihatan


berkabut, retensi urin, konstipasi dan impotensia.
Yang termasuk golongan ini adalah:

Alkilamin (propilamin)

: bromfeniramin maleat, klorfeniramin

maleat dan tanat, deksbromfeniramin maleat, deksklorfeniramin


maleat, dimentinden maleat, tripolidin hidroklorida, feniramin
maleat/pirilamin maleat.

Etanolamin

(Aminoalkil

eter)

difenhidramin

sitrat

embramin

hidroklorida,

dan

:karbioksamin

hidroklorida,

maleat,

doksilamin

mefenhidramin

suksinat,

metilsulfat,

trimetobenzamin sitrat, dimenhidrinat, klemastin fumarat.

Etilendiamin : mepiramin maleat, pirilamin maleat, tripenelamin


sitrat dan hidroklorida, antazolin fosfat.

Fenotiazin : dimetotiazin mesilat, mekuitazin, metdilazin dan


metdilazin hidroklrida, prometazin hidroklorida dan teoklat,
trieprazin tartrat.

Piperidin

azatadin

maleat,

siproheptadin

hidroklorida,

difenilpralin hidroklorida, fenindamin tartrat.

Piperazin : hidroksizin hidroklorida dan pamoat.4

b) antihistamin generasi kedua


Antihistamin generasi kedua mempunyai efektifitas antialergi seperti generasi
pertama, memiliki sifat lipofilik yang lebih rendah sulit menembus sawar
darah otak. Reseptor H1 sel otak tetap diisi histamin, sehingga efek samping
yang ditimbulkan agak kurang tanpa efek mengantuk. Obat ini ditoleransi
sangat baik, dapat diberikan dengan dosis yang tinggi untuk meringankan
gejala alergi sepanjang hari, terutama untuk penderita alergi yang tergantung
pada musim. Obat ini juga dapat dipakai untuk pengobatan jangka panjang
pada penyakit kronis seperti urtikaria dan asma bronkial. Peranan histamin
pada asma masih belum sepenuhnya diketahui. Pada dosis yang dapat
mencegah bronkokonstriksi karena histamin, antihistamin dapat meredakan
gejala ringan asma kronik dan gejala-gejala akibat menghirup alergen pada

penderita dengan hiperreaktif bronkus. Namun, pada umumnya mempunyai


efek terbatas dan terutama untuk reaksi cepat dibanding dengan reaksi lambat,
sehingga antihistamin generasi kedua diragukan untuk terapi asma kronik.
Yang termasuk golongan ini adalah:

Akrivastin

Astemizole

Cetirizin

Loratadin

Mizolastin

Terfenadin

Ebastin

c) antihistamin generasi ketiga


Antihistamin generasi ketiga

yaitu

feksofenadin,

norastemizole

dan

deskarboetoksi loratadin (DCL), ketiganya adalah merupakan metabolit


antihistamin generasi kedua. Tujuan mengembangkan antihistamin generasi
ketiga adalah untuk menyederhanakan farmakokinetik dan metabolismenya,
serta menghindari efek samping yang berkaitan dengan obat sebelumnya.
Yang termasuk golongan ini adalah:

Levocetirizin

Desloratadin

Fexofenadin

2) Farmakologi
Antihistamin tipe H1 generasi ke-1
Antihistamin tipe H1 bekerja dengan cara competitif inhibitor terhadap
histamin

pada

reseptor

jaringan,

sehingga

berikatan serta mengaktivasi reseptornya.

mencegah

(Fitzpatrick,

Wolverton,

histamin
Katzung

Arndt)

Ikatannya reversibel dan dapat digantikan oleh histamin dalam kadar


yang tinggi.
terjadi

(Fitzpatrick, Katzung).

berbagai

Dengan menghambat kerja dari histamin,

pengaruh

yang

ditimbulkan

antihistamin,

yaitu

menghambat peningkatan permeabilitas kapiler dan edema yang


disebabkan oleh histamin serta menghambat vasokonstriksi. Obat ini
lebih

efektif

jika

diberikan

sebelum

pemberian awal, antihistamin dapat

pelepasan

histamin.

Pada

mencegah edema dan pruritus

selama reaksi hipersensitivitas, sehingga banyak keuntungan yang


didapat jika digunakan untuk pencegahan urtikaria kronik idiopatik. Wilkin
Antihistamin tipe H1 generasi ke-1 ini juga memiliki
antikolinergik, efek anestesi lokal,
perjalanan.

(Fitzpatrick,

Goodman

and

Gillman)

aktivitas

antiemetik, dan anti mabuk


Beberapa antihistamin tipe H1

mempunyai kemampuan untuk menghambat reseptor -adrenergik


atau reseptor muskarinik kolinergik, sedangkan obat lain mempunyai
efek antiserotonin. (Fitzpatrick)
Antihistamin H1 generasi ke-2 dan ke-3
Antihistamin tipe H1 low sedating merupakan antagonis dari histamin
pada reseptor H1, berikatan secara tidak kompetitif, tidak mudah
diganti oleh antihistamin, dilepaskan secara perlahan dan kerjanya
lebih lama

(Wolverton, Wilkin, Fitzpatrick)

Antihistamin H1 ini, kurang bersifat

lipofilik, sangat sedikit menembus sawar darah otak, dan lebih


mengikat reseptor H1 di perifer secara lebih spesifik.
Arndt)

(Fitzpatrick, Wilkin, Wolverton,

Beberapa obat ini mempunyai membrane stabilizing atau efek

seperti kuinidine pada otot jantung, dan menyebabkan perpanjangan


masa refraksi jantung serta aritmia ventrikuler torsades de pointes.
(Fitzpatrick)

Walaupun golongan ini sering dikatakan nonsedasi, obat-obat

ini tetap dapat menyebabkan efek sedasi, namun dalam banyak


penelitian dikatakan insidensi sedasi jauh lebih sedikit dibandingkan
antihistamin H1 klasik, demikian pula efek antikolinergiknya lebih
jarang terjadi dibanding antihistamin H1 klasik.

(Wilkin)

Cetirizine

berpengaruh pada perpindahan sel dalam kulit dan jaringan lainnya,


pelepasan atau pembuatan dan pelepasan mediator inflamasi serta
ekspresi molekul adhesi.

(Fitzpatrick)

3) Farmakokinetik
Antihistamin tipe H1 generasi ke-1
Setelah pemberian secara oral, antihistamin akan diabsorbsi dengan
baik dalam saluran cerna. Efeknya dapat terlihat dalam 30 menit,
mencapai konsentrasi puncak plasma dalam 1-2 jam, dan dapat

bertahan 4-6 jam, dan beberapa obat lainnya dapat bertahan lebih
lama.(Fitzpatrick,

Goodman and Gillman, Katzung, Wolverton, Lippincot)

Antihistamin tipe H1

dimetabolisme oleh sistem enzim sitokrom hepar P450 (CYP) CYP3S4,


dikonjugasi

membentuk

glukuronida

dan

diekskresikan ke urin setelah 24 jam pemberian.

hampir

seluruhnya

(Fitzpatrick)

Antihistamin H1 diekskresi melalui urin setelah 24 jam, terutama dalam bentuk


metabolitnya. Waktu paruh beberapa antihistamin H1 menjadi lebih pendek pada
anak dan lebih panjang pada orang tua, pasien disfungsi hati, dan pasien yang
menerima

ketokonazol,

eritromosin,

atau

menghambat microsomal

oxygenase lainnya.
Antihistamin H1 generasi ke-2 dan ke-3
Antihistamin tipe H1 low sedating diabsorbsi dari saluran cerna dan
mencapai puncak konsetrasi plasma dalam 2 jam. Obat tersebut
menghilangkan

urtikaria

dan

reaksi

eritema

sekitar

1-24

jam.

Terfenadin, astemizol, loratadin, aktivastin, mizolastin, ebastin dan


oksatomid dimetabolisme di hepar melalui sisitem enzim CYP dalam
hepar CYP3A4. Cetirizin, metabolit asam karboksilik dari terfenadin,
dan desloratadin tidak dimetablisme dalam hepar. (Fitzpatrick)
Astemizol mempunyai efek jangka panjang, namun onset mulai
kerjanya dan konsentrasi dalam keadaan stabil dicapai dalam 3-4
minggu. Efek astemizol berlangsung lama dan obat harus dihentikan 46 minggu sebelum dilakukan uji tusuk. Waktu paruh eliminasi cetirizin
dan feksofenadin pada anak-anak sama dengan dewasa

(Fitzpatrick)

4) Indikasi
Antihistamin tipe H1 generasi ke-1
Antihistamin tipe H1 generasi I digunakan untuk menghilangkan
pruritus, pengobatan urtikaria akut, urtikaria kronis, angioedema dan
reaksi alergi kulit lainnya temasuk reaksi obat.

(Fitzpatrick, Wilkin)

Apabila

salah satu dari kelompok antihistamin tipe H1 tidak efektif, maka dapat
diganti dengan obat dari kelompok yang lain. (Fitzpatrick)
Antihistamin tipe H1 digunakan untuk terapi pruritus pada penderita
dermatitis atopik. Efeknya berhubungan dengan menekan ansietas dan
sedasinya. Pruritus yang disebabkan hal lain, seperti dermatitis kontak
alergi dan bentuk lain dermatitis, liken planus, gigitan nyamuk dan
pruritus yang terjadi sekunder karena penyakit lain atau yang bersifat

idiopatik, juga dapat dihilangkan dengan penggunaan antihistamin tipe


H1.

(Fitzpatrick)

Antihistamin H1 generasi ke-2 dan ke-3


Antihistamin tipe ini berguna untuk pengobatan simptomatik berbagai penyakit
alergi dan mencegah efek sedatif. Antihistamin generasi pertama digunakan untuk
mengatasi hipersitifitas, reaksi tipe I yang mencakup rhinitis alergi, urtikaria
kronis, rhinitis vasomotor, alergi konjunktivitas, dan urtikaria. Agen ini juga bisa
digunakan sebagai terapi anafilaksis adjuvan. (Katzung, Wilkin)
5) Kontraindikasi
Antihistamin tipe H1 generasi ke-1
Kontraindikasi pemberian obat ini adalah pada bayi baru lahir atau bayi
prematur, kehamilan, ibu menyusui, glaukoma sudut sempit, retensi
urin, dan asma. (Wilkin)
Panduan penggunaan antihistamin tipe H1 wanita hamil terbatas.
Sebagian besar antihistamin tipe H1 pada wanita hamil oleh United
States of Food and Drug Administration (FDA) digolongkan sebagai
kategori B atau C.

(Fitzpatrick)

Antihistamin H1 generasi ke-2 dan ke-3


Kontra indikasi dari antihistamin low sedating ini adalah pada
kehamilan dan ibu menyusui.

(Wilkin)

6) Efek samping
Pada dosis, terapi, semua antihistamin H1 menimbulkan efek samping walaupun
jarang bersifat serius dan kadang-kadang hilang bila pengobatan diteruskan.
Terdapat variasi yang besar dalam toleransi obat antar individu, kadang-kadang
efek ini sangat menganggu sehingga terapi perlu dihentikan.
Efek samping antihistamin H1 Generasi pertama:

Sistem saraf pusat


Komplikasi tersering pada orang dewasa adalah depresi SSP, sedasi
dan pusing. Pada anak-anak dan orang tua

dapat terjadi:

kecemasan,

mimpi

iritabilitas,

insomia,

tremor

dan

buruk.

Bangkitan dapat terjadi, walaupun jarang. Pernah dilaporkan


terjadinya diskinesia wajah dan mulut pada penggunaan kombinasi
antihistamin-dekongestan.
and Gilman)

(Fitzpatrck, Katzung, Wolverton Simon and Simon, Wilkin, Goodman

Gastrointestinal
Dapat terjadi mual, muntah, anoreksia, konstipasi dan diare.

(Fitzpatrick,

Wolverton, Wilkin, Goodman and Gilman)

Jantung
Takikardia, disritmia, hipotensi yang bersifat sementara

(Wolverton,

Fitzpatrick)

Genitourinaria
Disuria, disfungsi ereksi, retensi urin

(Wolverton, Simon and Simon, Arndt)

Darah
Klorfeniramin dapat menebabkan pansitopenia, agranulositosis,
trombositopenia, leukopenia dan anemia aplastik.

(Wilkin, Fitzpatrick, Goodman

and Gilman)

Kulit
Reaksi kulit yang dapat terjadi berupa dermatitis, petekie, fixed
drug eruption dan fotosensitif.

(Fitzpatrick)

Efek samping lainnya


Terdapat efek samping antikolinergik yang dapat berupa muka
merah, dilatasi pupil, hipertermia kekeringan pada membran
mukosa dan penglihatan yang buram.

(Fitzpatrick, Arndt, Goodman and Gilman)

Efek samping antihistamin H1 generasi kedua dan ketiga:

Kardiovaskular
Efek

samping

kardiovaskular

berupa

fibrilasi

ventrikel,

pemanjangan interval QT dan takiaritmia ventrikular atipikal


berhubungan dengan pemakaian astemizole dan terfenadin.

(Murphy)

Kelainan ini dapat tejdadi terutama pada wanita dan penderita


dengan kelainan jantung organik yang sebelumnya telah ada
(seperti

iskemia,

kardiomiopati),

arritmia,

ataupun

penderita

dengan gangguan eletrolit (seperti hipokalemia, hipokalsemia dan


hipomagnesemia)

Sistem saraf pusat

(Simons FER)

Dalam beberapa penelitian dikatakan tefenadin, astemizole dan


loratadin memiliki efek sedasi yang lebih rendah dibandingkan
antihistamin H1 klasik.

(Wilkin)

Kulit
Fotosensitivitas, urtikaria, erupsi makulopapular, eritema serta
pengelupasan kulit tangan dan kaki. Selain itu juga dilaporkan
adanya reaksi fotoalergi dan alopesia yang diduga berhubungan
dengan penggunaan terfenadin. Dilaporkan juga suatu kasus
psoriasis

yang

terfenadin.

mengalami

eksaserbasi

selama

menggunakan

(Wilkin)

Hepar
Hepatotoksisitas jarang terjadi, namun dilaporkan adanya kasus
hepatitis yang berhubungan dengan penggunaan terfenadin selama
5 bulan. Peningkatan serum transaminase dengan kadar ringan
sampai sedang kadang-kadang dapat terjadi.

(wilkin)

Efek samping lainnya


Dilaporkan adanya sakit kepala, mual, kekeringan pada mukosa
mulut

dan

beberapa

insidensinya sangat rendah.

efek

antikolinergik

lainnya,

namun

(Wilkin)

7) Interaksi Obat
Antihistamin tipe H1 generasi ke-1
Efek depresi SSP akan semakin meningkat apabila antihistamin tipe H1
diminum bersamaan dengan alkohol atau obat lain yang bersifat
depresif terhadap SSP seperti diazepam. Antihistamin kelompok
fenotiazin menghambat dan sebaliknya epinefrin mempunyai efek
vasosupresi. Kontra indikasi pemberian antihistamin tipe H1 adalah
penderita yang mendapat inhibitor monoamine oksidase, seperti
isokarboksazid, nialamid, moklobemid, ranilsipromin, fenelzim (Fitzpatrick)
Antihistamin H1 generasi ke-2 dan ke-3
Perpanjangan QT interval dapat terjadi pada penderita yang
megkonsumsi

terfenadin

bersamaan

dengan

ketokonazol

dan

intrakonazol, antibiotik makrolid, seperti eritromisin dan klaritromisin,

troleandomisin, lovastatin, inhibitor protease dan flavonoid, seperti


naringin dalam sari buah anggur.
Obat-obatan lain yang dapat berpengaruh pada peningkatan kadar
antihistamin serum dan yang memiliki risiko kardiovaskular adalah
Human Immunodeficiency Virus-1 (HIV-1) protease inhibitors, Selective
Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI) antidepresant, seperti quinin,
zileuton.

(Wolverton)

b. Anthistamin Penghambat Reseptor H2 (AH2)


Reseptor histamin H2 berperan dalam efek histamin terhadap sekresi cairan lambung,
perangsangan jantung. Beberapa jaringan otot polos pembuluh darah mempunyai
kedua reseptor yaitu H1 dan H2.
Sejak tahun 1978 di Amerika Serikat telah diteliti peran potensial H2cemitidine untuk
penyakit kulit. Pada tahun 1983, ranitidine ditemukan pula sebagai antihistamin
H2. Baik simetidine dan ratidine diberikan dalam bentuk oral untuk mengobati
penyakit kulit
1) Struktur
Antihistamin H2 secara struktur hampir mirip dengan histamin. Simetidin
mengandung komponen imidazole, dan ranitidin mengandung komponen
aminomethylfuran moiety.
2) Farmakodinamik
Simetidine dan ranitidine menghambat reseptor H2 secara selektif dan reversibel.
Perangsangan reseptor H2 akan merangsang sekresi cairan lambung, sehingga
pada pemberian simetidin atau ranitidin sekresi cairan lambung dihambat.
Pengaruh fisiologi simetidin dan ranitidin terhadap reseptor H2 lainnya, tidak
begitu penting. Walau tidak lengkap simetidin dan renitidin dapat menghambat
sekresi cairan lambung akibat perangsangan obat muskarinik atau gastrin.
Semitisin dan ranitidin mengurangi volume dan kadar ion hidrogen cairan
lambung. Penurunan sekresi asam lambung mengakibatkan perubahan pepsinogen
menjadi pepsin juga menurun.

3) Farmakokinetik
Bioavaibilitas oral simetidin sekitar 70%, sama dengan setelah pemberian IV atau
IM. Absorpsi simetidin diperlambat oleh makanan. Absorpsi terjadi pada menit ke
60-90. Masa paruh eliminasi sekitar 2jam. Bioavaibilitas ranitidin yang diberikan
secara oral sekitar 50% dan meningkat pada pasien penyakit hati. Pada pasien
penyakit hati masa paruh ranitidin juga memanjang meskipun tidak sebesar pada
gagal ginjal. Kadar puncak plasma dicapai dalam 1-3 jam setelah pengguanaan
150 mg ranitidin secara oral, dan yang terikat protein plasma hanya 15%.Sekitar
70% dari ranitidin yang diberikan IV dan 30% dari yang diberikan secara oral
diekskresi dalam urin.
4) Mekanisme aksi
Walaupun simetidin dan ranitidin berfungsi sama yaitu menghambat reseptor H2,
namun ranitidin lebih poten. Simetidin juga menghambat histamin N-methyl
transferase, suatu enzim yang berperan dalam degrasi histamin. Tidak seperti
ranitidin, simetidin menunjukkan aktivitas antiandrogen, suatu efek yang
diketahui tidak berhubungan dengan kemampuan menghambat raseptor
H2. Simetidin tampak meningkatkan sistem imun dengan menghambat aktivitas
sel T supresor. Hal ini disebabkan oleh blokade resptor H2 yang dapat dilihat dari
supresor limfosit T. Imunitas humoral dan sel dapat dipengaruhi.
5) Indikasi
Simetidin dan ranitidin diindikasikan untuk tukak peptik. Antihistamin H2 sama
efektif dengan pengobatan itensif dengan antasid untuk penyembuhan awal tukak
lambung dan duodenum. Antihistamin H2 juga bermanfaat untuk hipersekresi
asam lambung pada sindrom Zollinger-Ellison.
Penggunaan antihistamin H2 dalam bidang dermatologi seringkali digunakan
ranitidin atau simetidin untuk pengobatan gejala dari mastocytosis sistematik,
seperti urtikaria dan pruritus. Pada beberapa pasien pengobatan digunakan dosis
tinggi.
6) Kontraindikasi
a) Kehamilan
b) Ibu menyusui
7) Efek samping
Insiden efek samping kedua obat ini rendah dan umumnya berhubungan dengan
pemhambatan terhadap reseptor H2, beberapa efek samping lain tidak

berhubungan dengan penghambatan reseptor. Efek samping ini antara lain : nyeri
kepala, pusing, malaise, myalgia, mual, diare, konstipasi, ruam kulit, pruritus,
kehilangan libido, dan impoten.
Simetidin mengikat reseptor androgen dengan akibat disfungsi seksual dan
ginekomastia. Ranitidin tidak berefek antiandrogenik sehingga penggantian terapi
dengan ranitidin mungkin akan menghilangkan impotensi dan ginekomastia
akibat simetidin. Simetidin IV akan merangsang sekresi prolaktin, tetapi hal ini
pernah pula dilaporkan setelah pemberian simetidin kronik secara oral. Pengaruh
ranitidin terhadap peninggian prolaktin ini kecil.
8) Interaksi Obat
Antasid dan metoklopramid mengurangi biovailabilitas oral simetidin sebanyak
20-30%. Ketakonazol harus diberikan 2jam sebelum pemberian simetidin karena
absorpsi ketakonazol berkurang sekitar 50% bila diberikan bersama simetidin.
Selain itu ketakonazol membutuhkan pH lebih tinggi yang terjadi pada pasien
yang juga mendapat AH2.
Simetidin terikat sitokrom P-450 sehingga menurunkan aktivitas enzim mikrosom
hati, jadi obat lain akan terakumulasi bila diberikan bersama simetidin. Obat yang
metabolismenya dipengaruhi simetidin adalah arfarin, karbamazepin, diazepam,
propranolol, metaprolol dan imipramin.
Ranitidin jarang berinteraksi dengan obat lain dibandingkan dengan simetidin
akan tetapi makin banyak obat dilaporkan berinteaksi dengan ranitidin yaitu
nifedifin warfarin, teofilin, dan metaprolol. Ranitidin dapat menghambat absorbsi
diazepam dan dapat mengurangi kadar plasmanya sejumlah 25%. Obat-obat ini
diberikan dengan selang waktu minimal 1 jam sam a dengan penggunaan
ranitidin bersama abtasid atau antikolinergik.
Simetidin dan ranitidin cenderung menurunkan aliran darah hati sehingga akan
memperlambat bersihan obat lain. Simetidin dapata menghambat alkohol
dehidrigenase dalam mukosa lambung dan menyebabkan peningkatan kadar
alkohol serum. Simetidin juga mengganggu disposisi dan meningkatkan kadar
lidokoin serta meningkatkan antagonis kalsium dalam serum. Simetidin dapat
menyebabkan berbagai gangguan SSP terutama pada pasien usia lanjut atau
dengan penyakit hati atau ginjal. Gejala ganggua slurredspeech, somnolen, letargi,
gelisah, bingung, disorentasi, agitasi, halusinasi, dan kejang. Gejala seperti

demensia dapat timbul pada penggunaan simetidin bersama obat psikotropik atau
sebagai efek samping simetidin. Ranitidin menyebabkan gangguan SSP ringan
karena sukarnya melewati sawar darah otak.
Efek samping simetidin yang jarang

terjadi

adalah

trombositopenia,

granulositopenia, toksisitas terhadap ginajal atau hati. Pemberian simetidin dan


ranitidin IV sesekali menyebabkan bradikardi dan efek kardiotoksik lain.

FAMOTIDIN
Farmakodinamik.
Seperti halnya

dengan

simetidin

dan

ranitidin.

Famotidin

merupakan AH2 sehingga dapat menghambat sekresi asam lambung pada


keadaan basal, malam dan akibat distimulasi oleh pentagastrin. Famotidin
tiga kali lebih potan dari pada renitidin dan 20 kali lebih poten daripada
simetidin.
Farmakokinetik.
Femotidin mencapai kadar puncak di plasma kira kira dalam 2
jam setelah penggunaan secara oral, masa paruh eliminasi 3-8 jam dan
viovailabilitas 40-50%. Metabolit utama adalah femotidin-S- oksida.
Setelah dosis oral tunggal, sekitar 25% dari dosis ditemukan dalam
bentuk asal di urin. Pada pasien gagal ginjal berat masa paruh eliminasi
dapat melebihi 20 jam.
Indikasi
Efektivitas obat ini untuk tukak duodenum dan tukak lambung setelah 8 minggu
pengobatan sebanding dengan ranitidin dan simetidin. Pada penelitian selama 6
bula famotidin juga mengurangi kekambuhan tukak duodenum yang secara klinis
bermakna. Famotidin kira-kira sama efektif dengan AH2 lainnya pada pasien
sindrom Zollinger-Ellison meskipun untuk keadaan ini omeprazol merupakan

obat terpilih. Efektivitas famotidin untuk profilaksis tukak lambung, refluks


esofagitis dan pencegahan tukak stres pada saat ini sedang diteliti.
Efek samping.
Efek samping femotidin biasanya ringan dan jarang terjadi, misalnya sakit
kepala, pusing, konstipasi dan diare. Seperti halnya dengan ranitidin
famotidin nampaknya lebih baik dari simetidin karena tidak menimbulkan
efek antiandrogenik. Famotidin harus digunakan hati-hati pada ibu menyusui
karena obat ini belum diketahui apakah obat ini diekskresi kedalam air susu ibu.
Interaksi obat
Fenotidin tidak mengganggu oksidasi diazepam, teofilin, warfarin,
atau fenitoin di hati. Ketakonazot membutuhkan pH asam untuk bekerja
sehingga kurang efektif bila diberikan bersama AH 2.
NIZATIDIN
Farmakodinamik.
Potensi nizatidin dalam menghambat sekresi asam lambung
kurang. Lebih sama dengan ranitidin.
Farmakokinetik
Biovailabilitas oral nizatidin lebih dari 90% dan tidak di pengaruhi
oleh makanan atau antikolinergik. Kirens menurun pada pasien uremik
dan usia lanjut.
Kadar puncak dalam serum setelah pemberian oral dicapai dalam 1 jam,
masa paruh plasma sekitar 11/2 jam dan lama kerja sampai dengan 10 jam.
Nizatidin di sekresi terutama melalui

ginjal 90% dari dosis yang

digunakan ditemukan di urin dalam 16 jam.


Indikasi
Efektvitas untuk pengobatan gangguan asam lambung sebanding dengan ranitidin
dan simetidin. Dengan pemberian satu atau dua kali sehari biasanya dapat
menyembuhkan tukak duodeni dalam 8 minggu dan dengan pemberian satu kali
sehari nizatidin mencegah kekambuhan. Pada refluks esofagitis, sindrom

Zollinger-Ellison dan gangguan asam lambung lainnyan nizatidin siperkirakan


sama efektif dengan ranitidin meskipun masih diperlukan pembuktian lanjut.
Efek samping.
Nizatidin umumnya jarang menimbulkan efek samping. Efek
samping ringan saluran cerna dapat terjadi. Peningkatan kadar asam urat
dan transminase serum ditemukan pada beberapa pasien yang
nampaknya tidak menimbulkan gejala klinik yang bermakna. Seperti
halnya dengan AH2 lainnya, potensi nizatidin untuk menimbulkan
hepatotoksisitas rendah . nizatidin tidak mempunyai efek antiandrogenik.
Nizatidin dapat menghambat alcohol dehidrogenase pada mukosa
lambung dan menyebabkan kadar alcohol yang lebih tinggi dalam kadar
serum. Nizatidin tidak menghambat system P450. Pada sukarelawan
sehat tidak dilaporkan terjadinya interkasi obat bila nizatidin diberikan
bersama teofilin, lidokain, warfarin, klordiazepoksid, diazepam, atau
lorazepam. Penggunanan bersama antacid tidak menurunkan absorbs
nizatidin secara bermakna. Ketokonazol yang membutuhkan pH asam
menjadi kurang efektif bila pH lambung lebih tinggi pada pasien yang
mendapat AH2.