Anda di halaman 1dari 6

Makalah

SEJARAH
POLA HUNIAN DAN PENGENALAN
API PADA MASA PRA AKSARA

Oleh:
Risqa Ramadanti
Tilawatil Hasanah
Imam Ghazali
Fudaili
SMA Negeri 1 Ambunten
Tanggal 18 Oktober 2014

BAB 1 : Pendahuluan
A. Latar Belakang
Lingkungan merupakan faktor penentu manusia memilih tempatuntuk hidup.
Oleh karena itu, manusia memperhatikan kondisilingkungan dan penguasaan
teknologi. Jika kondisi lingkungantidak sesuai dengan yang mereka harapkan, mereka
tidak akanmau bertempat tinggal di lokasi tersebut. Manusia selalu berusahauntuk
menjadikan sesuatu menjadi lebih baik. Termasuk dalam hal tempat tinggal. terdapat
beberapa variabel yang berhubungandengan kondisi lingkungan antara lain :
Tersedianya kebutuhan air, adanya tempat berteduh, kondisitanah yang tidak terlalu
lembab Tersedianya sumber makanan
Manusia mengenal tempat tinggal atau menetap semenjak masa Mesolithikum
(batu tengah) atau masa berburu dan meramu tingkat lanjut. Sebelumnya manusia
belum mengenal tempat tinggal dan hidup nomaden (berpindah-pindah). Setelah
mengenal tempat tinggal, manusia mulai bercocok tanam dengan menggunakan alatalat sederhana yang terbuat dari batu, tulang binatang ataupun kayu. Tempat tinggal
yang pertama dihuni adalah gua-gua atau ceruk peneduh (rock shelter) yang suatu
saat akan ditinggalkan apabila sumber makanan di sekitarnya habis. Selain di guagua, ada juga yang bertempat tinggal di tepi pantai, hal ini dapat dibuktikan dengan
adanya penemuan kulit kerang dan siput dalam jumlah banyak di samping tulangtulang manusia dan alatnya di Sumatera Timur.
Kehidupan manusia pada masa prasejarah tergantung pada lingkungan dan
penguasaan teknologi. Sumber-sumber subsistensi dari lingkungan ditambah dengan
penguasaan teknologi pada masa itu, mengakibatkan pola kehidupan berburu dan
mengumpulkan makanan. Selain itu, manusia juga memanfaatkan bentukan alam
untuk mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu, gua dan ceruk menjadi salah satu
alternatif tempat tinggal bagi manusia pada masa prasejarah.
Selain sumber daya yang memadai, aspek-aspek fisik lingkungan merupakan
faktor penting lainnya yang menentukan kelayakan suatu lokasi untuk permukiman.
Dalam kaitannya dengan hunian gua, faktor-faktor tersebut meliputi morfologi dan
dimensi tempat hunian, sirkulasi udara, intensitas cahaya, kelembaban, kerataan dan
kekeringan tanah, dan kelonggaran dalam bergerak.
Masyarakat pemburu dan pengumpul makanan menggunakan gua atau ceruk
untuk lokasi hunian, baik itu secara menetap maupun sementara. Ketergantungan
masyarakat tersebut terhadap sumberdaya lingkungannya mengakibatkan ada pola
yang berbeda-beda pada setiap wilayah. Sumberdaya lingkungan dan morfologi gua
yang berbeda-beda mengakibatkan adanya tipe-tipe hunian yang bervariasi. Tipe yang

muncul menunjukkan adanya satu lokasi yang menjadi pusat (central place) dari
aktivitas dan mempunyai lokasi-lokasi lainnya sebagai pendukung dalam melakukan
aktivitas dan juga tempat beraktivitas.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana pola hunian pada masa pra aksara? Bagaimana Sejarah manusia
menemukan api?
C. Tujuan
Mampu menjelaskan proses pola hunian manusia pra aksaramulai dari hidup meramu
dan mengumpulkan makanan sampaidengan bercocok tanam
Mampu menjelaskan bagaimana api ditemukan

BAB 2 : Isi
A. Pola Hunian
Manusia mengenal tempat tinggal atau menetap semenjak masaMesolithikum
(batu tengah) atau masa berburu dan meramutingkat lanjut. Sebelumnya manusia
belum mengenal tempattinggal dan hidup nomaden (berpindah-pindah). Setelah
mengenaltempat tinggal, manusia mulai bercocok tanam denganmenggunakan alatalat sederhana yang terbuat dari batu, tulang binatang ataupun kayu. Pada dasarnya
hunian pada zamanpraaksara terdiri atas dua macam, yaitu :
1.

Nomaden
Nomaden adalah pola hidup dimana manusia purba pada saat ituhidup berpindahpindah atau menjelajah. Mereka hidup dalamkomunitas-kuminatas kecil dengan
mobilitas tinggi di suatu tempat.Mata pencahariannya adalah berburu dan
mengumpulkan makanandari alam (Food Gathering).

2.

Sedenter
Sedenter adalah pola hidup menetap, yaitu pola kehidupan dimanamanusia sudah
terorganisir

dan

berkelompok

serta

menetap

disuatu

tempat.

Mata

pencahariannya bercocok tanam serta sudahmulai mengenal norma dan adat yang
bersumber pada kebiasaan-kebiasaan.
Pola hunian manusia purba memiliki dua karakter khas, yaitu :
1.

Kedekatan dengan Sumber Air Air merupakan kebutuhan pokok mahkluk hidup
terutama

manusia.Keberadaan

hadirnyaberbagai

binatang

air

untuk

pada
hidup

suatu
di

lingkungan
sekitarnya.

mengundang
Begitu

pula

dengantumbuhan. Air memberikan kesuburan pada tanaman.


2.

Kehidupan di Alam Terbuka Manusia purba mempunyai kecendrungan hidup


untuk menghunisekitar aliran sungai. Mereka beristirahat misalnya di bawah
pohonbesar dan juga membuat atap dan sekat tempat istirahat itu daridaun-daun.
Kehidupan di sekitar sungai itu menunjukkan polahidup manusia purba di alam
terbuka.

Manusia purba jugamemanfaatkan berbagai sumber daya lingkungan yang tersedia,


termasuk tinggal di gua-gua. Mobilitas manusia purba yang tinggitidak memungkin
untuk menghuni gua secara menetap.Keberadaan gua-gua yang dekat dengan sumber
air dan bahanmakanan mungkin saja dimanfaatkan sebagai tempat tinggalsementara.
Pola hunian itu dapat dilihat dari letak geografisnya situs-situsserta kondisi
lingkungannya. Beberapa contoh yang menunjukkanpola hunian seperti itu adalah
situs-situs purba disepanjang aliransungai bengawan solo (sangiran, sambung macan,
trinil , ngawi,dan ngandon), merupakan contoh dari adanya kecendrunganhidup

dipinggir sungai. Manusia purba pada zaman berburu dan mengumpulkan makanan
selalu berpindah-pindah mencari daerahbaru yang dapat memberikan makanan yang
cukup. Pada umumnya mereka bergerak tidak terlalu jauh dari sungai,danau, atau
sumber air yang lain, karena binatang buruan biasaberkumpul di dekat sumber air.
Ditempat-tempat itu kelompokmanusia praaksara menantikan binatang buruan
mereka. Selain itu,sungai dan danau merupakan sumber makanan, karena
terdapatbanyak ikan di dalamnya. Lagi pula di sekitar sungai biasanya tanahnya subur
dan ditumbuhi tanaman yang buah atau umbinyadapat dimakan
Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, mereka telahmulai lebih
lama tinggal di suatu tempat. Ada kelompok-kelompokyang bertempat tinggal di
pedalaman, ada pula yang tinggal didaerah pantai. Mereka yang bertempat tinggal di
pedalaman,biasanya bertempat tinggal di dalam gua-gua atau ceruk peneduh(rock
shelter) yang suatu saat akan ditinggalkan apabila sumber makanan di sekitarnya
habis. Pada tahun 1928 sampai 1931, Von Stein Callenfels melakukanpenelitian di
Gua Lawa dekat Sampung, Ponorogo. Di situditemukan kebudayaan abris sous roche,
yaitu merupakan hasildari kebudayaan yang ditemukan di gua-gua. Beberapa
hasilteknologi bebatuan yang ditemukan adalah ujung panah, flake,batu penggiling.
Selain itu juga ditemukan alat-alat dari tanduk rusa. Kebudayaan Abris sous roche ini
banyak ditemukan diBesuki, Bojonegor, juga di daerah Sulawesi Selatan seperti
diLamoncong. Mereka yang tinggal di daerah pantai makanan utamanya
berupakerang, siput dan ikan. Bekas tempat tinggal mereka dapatditemukan kembali,
karena dapat dijumpai sejumlah besar sampahkulit-kulit kerang serta alat yang
mereka gunakan. Di sepanjang pantai Sumatra Timur antara Langsa di Aceh
sampaiMedan, terdapat tumpukan atau timbunan sampah kulit kerangdan siput yang
disebut kjokkenmoddinger (kjokken = dapur ,modding = sampah) . Tahun 1925 Von
Stein Callenfels melakukanpenelitian di tumpukan sampah itu. Ia menemukan jenis
kapakgenggam yang disebut pebble ( Kapak Sumatra) . Selain itu, ditemukan juga
berupa anak panah atau mata tombak yangdiguankan untuk menangkap ikan.
B. Mengenal Api
Bagi manusia purba, proses penemuan api merupakan bentukinovasi yang sangat
penting. Berdasarkan data arkeologipenemuan api diperkirakan ditemukan pada
400.000 tahun yanglalu. Pertama kali api dikenal adalah pada zaman purba yang
secaratidak sengaja mereka melihat petir yaitu cahaya panas dilangityang menyambar
pohon-pohon disekitarnya, sehingga api itu pun muncul membakar pohon-pohon itu.
Dalam menemukan api, manusia purba membutuhkan proses yangsangat panjang.
Proses tersebut dikenal dengan trial and error,yaitu seseorang yang mencoba sesuatu

tanpa tahu petunjuk ataucara kerjanya sehingga banyak mengalami kegagalan dan
merekaakan terus mencoba walaupun gagal sampai mereka menemukanhasil yang
mereka inginkan. Setelah mengalami banyak kegaglan, akhirnya cara membuatapipun
ditemukan. Yaitu dengan membenturkan dua buah batuatau dengan menggesekan dua
buah kayu, sehingga akanmenimbulkan percikan api yang kemudian bisa kita
gunakan padaranting atau daun kering yang kemudian bisa menjadi sebuah api. Api
memperkenalkan manusia pada teknologi memasak makanandengan cara membakar
dan menggunakan bumbu dengan ramuantertentu. Selain itu api juga berfungsi untuk
menghangat badan,sumber penerangan, dan sebagai senjata untuk menghalaubinatang
buas yang menyerang Melalui pembakaran juga manusia dapat menaklukan alam,
sepertimembuka lahan untuk garapan dengan cara membakar hutan.Kebiasaan bertani
dengan cara menebang lalu membakar di kenaldengan nama slash and burn. Ini
adalah kebiasan pada zamankuno yang berkembang sampai sekarang.