Anda di halaman 1dari 49

BAB V

KONSEP PERENCANAAN PROGRAM

5.1 Program Ruang Secara Makro


Program pembangunan wadah untuk pertunjukan dan pelatihan seni tari
kontemporer ini dibangun sebagai generator baru bagi kesenian kontemporer.
Wadah ini dirancang dengan fasilitas untuk menampung kesenian kontemporer,
khususnya tari kontemporer. Namun, didalam program ini disertai dengan fasilitas
untuk menampung kesenian kontemporer lainnya selain seni tari. Selain sebagai
tempat pertunjukan dan pelatihan, wadah ini juga berfungsi untuk memberikan
informasi mengenai seni kontemporer kepada masyarakat.
Program pertunjukan dan pelatihan seni tari kotemporer ini dibangun
sebagai generator baru.
Tabel 5.1 : Luasan Program Ruang Secara Makro
Program
Luas Total (m2) Kapasitas

Luas Bangunan

Luas

(orang)

utama (m2)

Penunjang (m2)

Teater Utama

1800

1000

1100

600

Teater Kecil

600

300

400

200

Teater Terbuka

100

Fleksibel

60 (panggung)

40

Fasilitas

Pelatihan

Besar

150

50

110

40

Sedang

80

20

60

20

Kecil

60

5-10

30

15

Fasilitas Pelengkap

800

Building Support

20% dari total seluruh luas bangunan (20% x

3590= 718 m2)


Sumber : Data Pribadi Penulis

Luasan program diatas merupakan estimasi kebutuhan ruang yang akan


dibangun, estimasi kebutuhan program ini berdasarkan ukuran standar yang
dihitung secara garis besar berdasarkan kebutuhan ruang utama. Estimasi
kebutuhan ruang diatas memungkinkan adanya perubahan pada tahap proses
desain yang dilakukan pada tugas akhir.

Melakukan Analisa kegiatan atau aktifitas manusia yang dilakukan


berdasarkan program ruang yang telah ditentukan untuk mengetahui pergerakan
sirkulasi manusia dialam gedung dimana pemakai gedung ini dibagi menjadi 2
yaitu pengelola dan pengunjung sedangkan untuk gedung pelatihan dibagi
menjadi 3 yaitu pengelola, pengunjung dan murid pelatihan seni tari. Setiap
pemakai gedung ini memiliki aktifitas yang berbeda-beda didalamnya. Tujuan
dari mengetahui aktifitas pemakai gedung ini adalah untuk menentukan kebutuhan
ruang yang akan diperlukan untuk menunjang aktifitas mereka pada programprogram utama yang telah ditentukan.
Setelah mengetahui pemakai, kegiatan dan kebutuhan ruang yang
diperlukan , maka hal ini akan sangat membantu dalam rekapitulasi luasan ruang
yang telah diapat. Penghitungan luasan ruang ini didasarkan pada beberapa
sumber buku panduan standar ruang dan dimensi manusia terhadap ruang.
Program ruang dan besaran ruang yang telah didapat akan dijadikan
penduan dalam pembagian ruang. Program ruang dan besaran ruang ini akan
dimasukan kedalam massa bangunan namun tidak menutup kemungkinan standar
besaran ruang dan program ruang yang didapat di pada analisa ini akan berubah
pada saat pelaksanaan pemasukan program ruang dan besaran ruang yang didapat,
perubahan ini lebih karenakan akan penyesuain program dan besaran ruang
terhadap massa bangunan yang telah terbentuk.

5.2 Analisa Kebutuhan Program Ruang Secara Mikro


Tabel 5.2 : Analisa Kebutuhan Program Ruang Pelatihan Seni dan Ruang Publik
KEBUTUHAN
FASILITAS
PEMAKAI
KEGIATAN
RUANG
Publik
Karyawan
-Menjaga keamanan
R.satpam
-Melakukan kegiatan sanitair
Toilet pengunjung
Toilet karyawan
Musholla
Pengunjung
-Melakukan kegiatan sanitair
Hall
-Shalat
Plaza
Pelatihan Seni
Karyawan
-Menerima pendaftaran siswa. R.tata usaha
Tari
-Mengkoordinir jadwal
R.pendaftaran
latihan.
Gudang seni tari
-Menyimpan peralatan seni
R.pengajar
musik
Area alat
-Menyimpan peralatan seni
Studio tari
tari
Toilet peserta

-Melakukan kegiatan sanitai


Pengajar edukasi
seni informal

Peserta Edukasi

Pengunjung

-Menyiapkan bahan pelajaran.


-Memberi konsultasi pada
peserta edukasi.
-Melatih para siswa
-Mendapat pengajaran teori
dan
latihan.
-Latihan Menari
-Melakukan kegiatan sanitair
-Mencari buku seni
-Membaca buku
-Pelayanan meminjam buku
-Pelayanan pengembalian
buku
-Melihat catalog
-Menitipkan barang
-Menggunakan jasa fotokopi
-Menggunakan fasilitas
multimedia

Toilet karyawan
Lobby
R.tata usaha
R.pendaftaran
Gudang seni tari
R.pengajar
Area alat
Studio tari
Toilet peserta
Toilet karyawan
Lobby

Sumber : Data Pribadi Penulis


Tabel 5.3 : Analisa Kebutuhan Program Ruang Teater Besar
Teater Besar
Karyawan
-Menjual tiket konser
-Menjaga keamanan
-Mengontrol cahaya
-Mengontrol suara
-Mengontrol proyektor
-Menyajikan makanan dan
minuman ringan
-Mengadakan ekhsibisi
-Memperbaiki peralatan
-Menyimpan peralatan
-Menyimpan alat music dan
alat-alat lainnya
-Menyimpan bagian panggung
yang tidak dibutuhkan
-Menyimpan kostum
-Menaik turunkan barang
Pengunjung

-Membeli tiket konser


-Melihat acara seni
pertunjukan
-Melakukan kegiatan sanitair
-Membeli makanan dan
minuman di saat pertunjukan
-Melihat konser

Foyer
Loket tiket konser
Area jaga konser
Auditorium
Toilet pengunjung
Toilet karyawan
Snack bar
Area ekhsibisi
Pit orchestra
Panggung/pentas
Backstage
R.kontrol cahaya
R.kontrol proyektor
Bengkel
Gudang alat
R.ganti
Toilet pentas
R.latihan
R.jaga belakang
Panggung
Gudang alat musik
Gudang kostum
Loading dock
R.bawah panggung

Sumber : Data Pribadi Penulis


Tabel 5.4 : Analisa Kebutuhan Program Ruang Pendukung Teater Besar
Teater Kecil
Karyawan
-Menjaga keamanan
-Mengontrol cahaya

Toilet pengunjung
Toilet karyawan

-Mengontrol suara
-Mengontrol proyektor
-Menyimpan alat music dan
alat-alat lainnya
-Menyimpan bagian panggung
yang tidak dibutuhkan
Pengunjung

Pelaku Seni

R.kontrol cahaya dan


suara
R.kontrol proyektor
Panggung/pentas
Gudang alat
R.ganti
R.rias
Panggung

-Membeli tiket konser


-Melihat acara seni
pertunjukan
-Melakukan kegiatan sanitair
-Melihat konser
-Mementaskan pertunjukan
seni
-Merias dan mengantikan
pakaian
-Melakukan kegiatan sanitair
dan Istirahat
-Melakukan latihan

Sumber : Data Pribadi Penulis


Tabel 5.5 : Analisa Kebutuhan Program Ruang Teater Terbuka
Teater Terbuka
Karyawan
-Menjaga keamanan
-Mengontrol cahaya
-Mengontrol suara
-Mengontrol proyektor
-Menyimpan alat music dan
alat-alat lainnya
-Menyimpan bagian panggung
yang tidak dibutuhkan
Pengunjung

Pelaku Seni

-Melihat acara seni


pertunjukan
-Melakukan kegiatan sanitair
-Melihat konser
-Mementaskan pertunjukan
seni
-Merias dan mengantikan
pakaian
-Melakukan kegiatan sanitair
dan Istirahat
-Melakukan latihan

Toilet pengunjung
Toilet karyawan
R.kontrol cahaya dan
suara
R.kontrol proyektor
Panggung/pentas
Gudang alat
R.ganti
R.rias
Panggung

Sumber : Data Pribadi Penulis


KEGIATAN PENDUKUNG
Tabel 5.6 : Analisa Kebutuhan Program Ruang Retail
FASILITAS
PEMAKAI
KEGIATAN
Food Junction

Karyawan

-Menyajikan makanan dan


minuman
-Memasak
-Melakukan tranksasi
pembayaran

KEBUTUHAN
RUANG
-R.counter
-Dapur kasir
-R.makan
-R.pengelola
-Kafetaria

-Mengelola kafetaria
-Menyimpan barang
-Menyimpan peralatan
-Melakukan kegiatan
sanitair
-Menaikturunkan barang
Pengunjung

-R.penyimpanan
-Gudang
-Toilet
-Loading dock

-Mengambil makanan
-Melakukan tranksasi
pembayaran
-Duduk-makan
-Cuci tangan

Sumber : Data Pribadi Penulis


Tabel 5.7 : Analisa Kebutuhan Program Ruang Retail
Book Store
Karyawan
-Menata buku
-Melakukan tranksasi
pembayaran
-Menyimpan buku
-Melakukan kegiatan sanitair
-Bongkar muat barang
Pengunjung

R.display
Kasir
Area tempat duduk
Gudang
R.administrasi
Toilet
Loading dock

-Melihat-lihat Loading dock


-Melakukan tranksasi
pembayaran

Sumber : Data Pribadi Penulis


Tabel 5.8 : Analisa Kebutuhan Program Ruang Eksebisi
Art Exhibition
Karyawan
-Menjaga keamanan
-Melakukan kegiatan sanitair
-Mengangkut barang dari
loading dock
-Memasang display
Pengunjung

-Melihat exebhition
-Melakukan kegiatan sanitair
-Melakukan diskusi

Pelaku seni

-Memamerkan karyanya
-Melakukan diskusi
-Melakukan kegiatan sanitair

-Hall besar
-R. confference
-Toilet
-R.istirahat
-R.display
-Pos keamanan

Sumber : Data Pribadi Penulis


Tabel 5.9 : Analisa Kebutuhan Program Ruang Perpustakaan
Perpustakaan
Karyawan
-Mencari buku seni
-Membaca buku
-Pelayanan meminjam buku
-Pelayanan pengembalian
buku
-Melihat catalog
-Menitipkan barang
-Menggunakan jasa fotokopi
-Menggunakan fasilitas

Counter
pengembalian
Counter
peminjaman
Tempat penitipan
barang
R.fotokopi
R.administrasi
R.staff

multimedia
Pengunjung

-Mencari buku seni


-Membaca buku
-Pelayanan meminjam buku
-Pelayanan pengembalian
buku
-Melihat catalog
-Menitipkan barang
-Menggunakan jasa fotokopi
-Menggunakan fasilitas
multimedia

R.buku seni dewasa


R.majalah
R.buku referensi
Area catalog
R.baca
Pantry
Lobby
R.multimedia

Sumber : Data Pribadi Penulis


KEGIATAN PENGELOLA DAN SERVICE
Tabel 5.10 : Analisa Kebutuhan Program Ruang Pegelola
FASILITAS
PEMAKAI
KEGIATAN
Pengelola

Pengelola
Bangunan
Tamu

Pengelola
operasional &
promosi

-Mengelola bangunan
-Melakukan kegiatan sanitair
-Menyimpan baran
-Menunggu
-Melakukan tranksasi dan
negosiasi
-Mengelola kegiatan
operasional
-Sanitair
-Meyimpan barang

KEBUTUHAN
RUANG
Lobby
R.tunggu
R.pimpinan
R.divisi
R.rapat
R.tamu
Gudang

Sumber : Data Pribadi Penulis


Tabel 5.11 : Analisa Kebutuhan Program Ruang Pendukung
Service
Karyawan
-Mengawasi keamanan
-Mengawasi kebersihan
-Mengawasi mekanikal dan
elektrikal
-Menganti pakaian
-Melakukan kegiatan sanitair
-Mendapatkan perawatan
medic
Pengunjung

-Parkir
-Mendapatkan perawatan
medik

Lobby
R.keamanan
Gudang
R.istirahat karyawan
Pantry
R.ganti/ loker
R.Medic
R.plumbing
R.P3K
Toilet karyawan
Parkir

Sumber : Data Pribadi Penulis


KEBUTUHAN BESARAN RUANG
Tabel 5.12 : Analisa Luasan Program Ruang Teater Besar
PROGRAM RUANG
BESARAN RUANG
Gedung pertunjukan
0.72 m / penonton
Jarak punggung ke kursi 60
cm
Jarak antar kursi 60 cm

LUAS
1000 x 0.72 =720m2
Sirkulasi 30%
Total 720+216= 936m2

Panggung Orkestra

1 m2 tiap pemusik
5 m2 untuk piano
6 m2 untuk timpani
2 m2 untuk dirigen

Panggung teater
Lobby

Min 9 x 9 m
2m2 / orang
Jumlah pengunjung 900 orang
Waktu kedatangan 15 30
menit
Jumlah pengunjung/menit 900
: 30 = 33org
Pada jam puncak 2 x 30 org
Kapasitas asumsi 75%pria
75%wanita
Pria 75% x 900 = 675
Kmr mandi 15 x 1 x 2 =30m2
Urinoir = 38 x 1.1 =41,8m2
Washtafel 15 x 1.4m2 = 21m2
Wanita 75% x 2100 = 675
Kmr mandi 15 x 1 x 2 = 30m2
Washtafel 15 x 1.4m2 = 21m2
6 loket + pemesanan masing
masing 5m2
Melayani 1/2 pengunjung
dalam 15menit
900 : 2 = 450
450 : 15 menit = 60 org/mnt
Asumsi Pengunjung VIP = 150
orang
Berupa luas tambahan bagi r.
duduk biasa. 150x1.05m2 +
(150x1.5m2)
Asumsi 50 pemain opera. Luas
= 1,2m2 / pemain
1,5m2 /musisi
1 wc tiap 5 wanita & tiap 8
pria
1 urinal & wasthafel tiap 1 wc
1 shower tiap 5 performer
Pria :75% 70 orang ( 50 + 20 )
=52orang
Wc 52 :5 =11 (
11x1.1m2=12.1 m2)
Urinoir 52:8 = 7 (7m2 x 1.6m2
= 11.2m2)
Shower = 7(7 x 0.64m2
=4.48m2)
Wanita : 75% 70 performer
dan pemusik
Wc 52:5 =11 (11 x 2m2
=22m2)
Washtafel 11 x 1.1m2 =12.1m2
Shower 11 x 0.64m2 = 7.04m2
Minimal 20m2 untuk seluruh

Toilet Umum

Ruang tiket dan pemesanan


Lobby Bar

Ruang Tunggu Khusus


Area Duduk VIP

Ruang rias
Ruang Ganti Musisi
Toilet dan shower

Ruang istirahat

20 x 1m2
1 x 5 m2
1 x 6m2
1 x 2m2
Total = 33m2
Total = 200 m2
Total 2 x 33 x 3 =198 m2

Total = 164,4 m2

Total 6 x 5m2 = 30m2


Total 120 m2

Total 150 x 3m2 = 450m2


Total tambahan = 225m2
Total 1.2m2 x 50 = 187.5m2
20x1,5m2 = 300m2

Total 50m2

pemain
Ruang penyeteman alat musik
Ruang pnyimpanan alat musik
Ruang perbaikan dan
pemeliharaan kostum
Ruang penyimpanan kostum
Ruang loker dan toilet
belakangg panggung

Total : 20 m2
Total : 20 m2
Total : 25m2

50 pemain
Pria : 3 wc =3 x 2m2 = 6m2
3 urinal = 3 x 1.1m2 = 3.3m2
3 kmr mandi =3 x 1.6m2 =
4.8m2
Wanita
3 wc = 3 x 2m2 = 6m2
3 kmr mandi = 3 x 1.6m2 =
4.8m2

Total : 60 m2
Total : 25 m2

Total : 25 m2
Total : 50 m2

Ruang Kontrol Suara


Ruang Proyeksi
Sumber : Data Pribadi Penulis

Tabel 5.13 : Analisa Luasan Program Ruang Pelatihan dan Pendukung Pelatihan
Ruang Kantor umum
10m2/orang termasuk lemari
berkas
R. General Manager
Min 15 m2
Total : 25 m2
R. Wakil general manager
Min 12 m2
Total : 15 m2
R. Sekretaris
Min 12 m2
Total : 15 m2
R. pemesanan tempat
Min 12 m2
Total : 20 m2
pertunjukan
R. pemasaran
Min 12 m2
Total : 20 m2
R. publikasi
Min 12 m2
Total : 20 m2
R. penerima pengunjung
Total : 30 m2
R. Rapat
Min 20-30 m2
Total : 50 m2
R. Istirahat
Total : 50 m2
R. pengarah artistik
20-30 m2
Total : 30 m2
R. Asisten direktur
10-12 m2
Total : 12 m2
R. sekretaris
12 m2
Total : 12 m2
Toilet & shower
Total : 25 m2
Studio layar
Studio latar/dekor
Studio pencahayaan
Studio pelatihan
Kamar mandi dan loker
Ruang istirahat
Mini Stores

Ruang dan system sekuriti

Pengawas min 50 m2
Kelas belajar 150 m2
Pengawas min 50 m2
Kelas belajar 150 m2
Pengawas min 50 m2
Kelas belajar 150 m2
Pengawas min 50 m2
Kelas belajar 150 m2
Untuk pria = 100 m2
Untuk wanita = 100 m2
~ Kios kios souvenir khas
theater
~ Berupa beberapa modul
ruang sekitar @ 3 x 5 m
~ R. kepala keamanan 3 x 3 m

Total : 200 m2
Total : 200 m2
Total : 200 m2
Total : 200 m2
Total : 200 m2
Total : 100 m2
Total 17 x 10 = 170 m2

9 m2

~ R. pusat kontrol dan


pengawasan 3 x 5 m
~ R. keamanan elektrik &
operator dalam ruang (3x5m)
~Toilet
Ruang serbaguna
Sumber : Data Pribadi Penulis

15 m2
15 m2
15 m2
Total : 54 m2
Total : 600 m2

Tabel 5.14 : Analisa Luasan Program Ruang Pendukung Teater


RUANG
KAPASITAS
SATUAN LUAS
Pria
12 urn
12 x 0.66
2 wc
2 x 2.15
2 wstf
2 x 2.15
Wanita
6 wc
6 x 2.15
6 wstf
6 x 0.66
R. Ganti
50 org
Pria
25 org
9x6
Wanita
25 org
9x6
R. Persiapan
50% = 25 org
25 x 15
R. kostum
2 unit
2 x 27.5
Gudang Background
1 unit
5x5
R. Kontrol Lighting
1 unit
1 x 7.2
R. kontrol Audio
1 unit
1 x 7.2
R. Proyektor
1 unit
1 x 28
Cafetaria
10% = 60 org
60 x 1.1
Lobby Artis
20 org
4x8
Ruang Pers &
1 unit
5x6
Publikasi
Total
Sumber : Data Pribadi Penulis
Tabel 5.15 : Analisa Luasan Program Ruang Lobby Utama
Theater Tertutup
450 org
450 x 0.95
Lobby
Wkt kedatangan 15
45 mnt 100 / 45 = 2.2
org/ mnt
50-100 org
Peak load= 2 x 2.2 org
/ mnt
20 org
20 x 2
Loket
2 Loket
2x5
Stage
20 org
20 x 4
R. Ganti
20 org
Pria
10 org
5x3
Wanita
10 org
5x3
R. Persiapan
50% = 10 ORG
10 X 1.5
Toilet
Pria
2 um
2 x 0.66
Sumber : Data Pribadi Penulis
Tabel 5.16 : Analisa Luasan Program Ruang Pendukung Teater Terbuka
Ruang
Kapasitas
St. Luasan
1 wstf
1 x 0.66
Wanita
2 wc
2 x 2.15
2 wstf
2 x 0.66

LUAS
7.92
4.3
1.32
12.9
3.96
54
54
37.5
55
25
7.2
7.2
28
66
32
30
959.3

427.5

40
10
0
15
15
15
1.32

Luas (m2)
0.66
4.3
1.32

Gudang
R. Kontrol lighting
R. Proyektor
R. Satge Mng & Staff

1 unit
1 unit
1 unit
1 unit

1 x 20
1 x 7.2
1 x 7.2
1 x 12
Total

20
7.2
7.2
12
715.85

Sumber : Data Pribadi Penulis


Tabel 5.17 : Analisa Luasan Program Ruang Teater Terbuka dan Pengelola
Theater Terbuka
300 org
300 x 0.95
285
Stage
20 org
20 x 4
80
Total
365
Exhibition
R. Display

200 orang

5 x 18
Total

90
96

R. Latihan Tari
R. Latihan Tari Besar

2 unit (10-20 orang)

150m2

R. Latihan Tari Kecil

5 unit (1-10 orang)

6.5 x 20= 130m2


(65m2x6)
6.5 x 5 = 65 m2
(5 x 65m2 )

Staff Area
Front Office
Lobby
Sitting Lobby

5% pengunjung
25% = 19 org

6x8
3x8

48
24

Ruang
Reception & Inforasi
PABX & Audio Vis
Control

Kapasitasa
1 org
1 unit

St. Luasan
1 x 6.3
1x9

Luas (m2)
6.3
9

1 org
1 org
1 org
1 org
2 org
2 org
2 org

4.5 x 5
4x5
4 x4
4.5 x 4
3x3
3x3
3x4

22.5
20
16
18
9
9
12

2 org

3x4

12

2 org

3x4
Total

12
276.5

General Managemet
General Manager
Ass. General Manager
Sekretaris Gm
Sekretaris Ass. GM
Seksi Adm
Seksi Personalia
Seksi Pengolahan
Seni
Seksi Peningkatan
Seni
Seksi Publikasi

325m2

Sumber : Data Pribadi Penulis


Tabel 5.18 : Analisa Luasan Program Ruang Pertemuan
R. Rapat
Meeting Room
25 org
8x8
Toilet
Pria
2 urn
4x4
1 wc
1 x 2.15

64
16
2. 15

Wanita

1 wstf
2 wc
2 wstf

1 x 0.66
4x4
2 x 0.66
Total

0.66
16
1.32
100.13

Sumber : Data Pribadi Penulis


Tabel 5.19 : Analisa Luasan Program Ruang Perpustakaan
Perpustakaan
R. Baca
120 org
15 x 20
R. Buku
6000 vol
9 x 10
R. Katalog
6000 vol
3x2
R. Penitipan
1 unit
4 x 4.5
Seksi Perpustakaan
5 org
7x3
R. Fotocopy
1 unit
4 x 2.5
Lobby
10% = 12 org
5x8
Total
Sumber : Data Pribadi Penulis
Tabel 5.20 : Analisa Luasan Program Ruang Retail
Ruang
Kapasitas
St. Luasan
F & B Storage,
1 unit
6 x5
manager
Toilet
Pria
3 urn
3 x 0.66
4 wc
4 x 2.15
3 wst
3 x 0.66
Wanita
4 wc
4 x 2.15
3 wst
3 x 0.66
Total
Sumber : Data Pribadi Penulis
Tabel 5.21 : Analisa Luasan Program Ruang MEP
R. Mekanik
Elektrikal
Genzet
2 unit
2 x 25
Pompa % Pressure
2 unit
2 x 15
Tank
Tandon Air
1 unit
1 x 60
Septictank & Sumur
5 unit
5 x 20
Resapan
R. Panel
1 unit
5x5
R. ATS & MDP
1 unit
5x5
Total
Sumber : Data Pribadi Penulis
Tabel 5.22 : Analisa Luasan Program Ruang Parkiran
Parkir Area
Mobil
x 800 =400
12.5 x 400
Motor
100 motor
2 x 100
Bus
4 bus
55 x 4
Total
Sumber : Data Pribadi Penulis

300
90
6
18
21
10
40
485

Luas
30

1.98
8.6
1.98
8.6
1.98
358.14

50
30
60
100
25
25
290

5000
200
220
5420

Keterangan :
NAD = Neufret Architects Data
SP = Studi Pengamatan
BPDS = Building Planning Design Standard
CCEF = Conference, Convention and Exhibition Facilities
TSS

= Time Saver Standards for Building Types

BAER= Building for Administration, Entertainment and Recreation


HD

= Human Dimension and Interior Space

Rekapitulasi Luasan Proyek :


1.

Gedung Pertunjukan

959.3 m2

2.

Teater Tertutup

400

m2

3.

Teater Tebuka

365

m2

4.

R. pendukung teater

189.75 m2

5.

Exhibition

200

m2

6.

R. Pelatihan

175

m2

7.

Staff Area

276.5

m2

8.

R. Rapat

100.13 m2

9.

R. Perpustakaan

485

10.

Restaurant

358.14 m2

11.

R. Mekanikal Elektrikal

290

TOTAL
Sirkulasi 30%
TOTAL
Fasilitas Parkir
TOTAL KESELURUHAN

m2

m2

4010.67
1203.201
5213.871
2995
7568.871

m2
m2
m2
m2
m2

Rekapitulasi luasan program diatas adalah perhitungan sementara, bukan


merupakan perhitungan pasti. Luasan program yang didapat berdasarkan ukuran
standar ini dapat berubah pada saat penyesuaian dengan bentuk massa bangunan

yang sudah terbentuk. Rekapitulasi luasan program ini menjadi pegangan dalam
pembagian ruang yang diperlukan ketika diaplikasikan ke dalam massa bangunan.

BAB VI
PROSES PERANCANGAN KONSEP BANGUNAN

6.1 Perancangan Konsep Bangunan


Ilmu arsitektur dan ilmu tari memiliki kesamaan didalamnya, persamaan
itu terdapat pada unsur-unsur dan komposisi pembentuk suatu tarian maupun
arsitektur. Dengan adanya persamaan ini, konsep rancangan bangunan akan
diambil dari unsur-unsur maupun komposisi pada suatu tarian. Penjelasan pada
Bab II mengenai unsur pokok, komposisi tari dan labanonation dijadikan sebagai
alat untuk membaca suatu tarian kemudian diterapkan kedalam perancangan
bangunan.

Gambar 6.1 : Diagram Proses Design


Sumber : Data Pribadi Penulis

Dalam proses pembentukan ini, dilakukan analisa terhadap satu tarian


kontemporer yang memiliki alasan yang kuat untuk memilih satu tarian untuk
diaplikasikan kedalam bangunan. Tari tersebut kemudian dianalisa dan
diterjemahkan kedalam labanotation. Labanotation berfungsi untuk mengolah
setiap frase-frase gerakan dari setiap anggota tubuh penari kedalam bentuk 2d,
berbentuk simbol-simbol yang dapat mendefinisikan gerak itu sendiri. Simbol-

simbol ini kemudian dijadikan dengan acuan dalam pembentukan ruang bangunan
tersebut. Analisa alur, tema dan komposisi tari kontemporer yang dipilih,
digunakan sebagai media pembantu dalam peletakan massa bangunan dan
rancangan bentuk bangunan.

Gambar 6.2 : Proses Pembentukan Massa Bangunan


Sumber : Data Pribadi Penulis

6.2 Konsep Perencanaan Program


Perencanaan program dilakukan sebagai acuan dalam kebutuhan ruang apa
saja yang diutamakan dan kebutuhan ruang sebagai program pendukung. Sebagai
generator baru dalam bidang seni (khususnya dalam bidang seni tari). Pembuatan
diagram ini adalah untuk mengetahui target, siapa dan apa saja yang akan
diperlukan dalam perencanaan program teater ini agar berjalan sesuai dengan
tujuan utama dari pembangunan wadah pertunjukan dan pelatihan seni tari
kontemporer ini, sebagai generator baru dan sebagai program pendukung di
kawasan daerah Jakarta Utara daerah Pantai Mutiara.

Gambar 6.3 : Diagram Perencanaan Program


Sumber : Data Pribadi Penulis

Pada gambar 6.2 ini, analisa yang dilakukan adalah mengetahui kawasan
mana saja yang akan menjadi sasaran utama dan mengetahui siapa saja pelaku
seni di daerah kawasan Jakarta Utara dan mengetahui kawasan mana yang
memiliki potensial yang baik untuk dijadikan sebagai kawasan pembangunan
gedung pertunjukan tersebut. Diagram ini dibuat agar fungsi dan tujuan dari
pembangunan gedung pertujuan ini berjalan ddengan baik dan tidak terjadi
kesalahan fungsi dalam penentuan program pada proses selanjutnya.
6.3 Pemilihan Tarian
Pemilihan tarian dilakukan berdasarkan jenis tarian yang mana tarian yang
diambil merupakan tarian kontemporer, pengambilan tarian kontemporer ini

bertujuan untuk memperkuat konsep bangunan yang memiliki fungsi utama yaitu
gedung pertunjukan tari khususnya tari kontemporer namun tidak menutup
kumngkinan gedung ini dapat dipergunakan untuk kesenian lainnya yang
membutuhkan fasilitas gedung pertunjukan. Oleh karena itu pemilihan jenis tarian
yang diambil adalah tari kontemporer. Pemilihan tarian juga didasarkan pada
unsure-unsur yang terkandung dalam tarian tersebut, unsur-unsur yang dimaksud
adalah konsep dan tema tarian serta unsur-unsur gerakan dan unsur external
berupa kostum tarian yang mana memiliki ciri khas Indonesia. Pemilihan tema
dan konsep tarian yang dicari adalah tarian yang memiliki konsep dan tarian yang
bersifat universal dan tak akan akan luput oleh waktu serta yang memiliki sifat keIndonesiaannya. Sifat keIndonesiaan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang
terjadi di Indonesia, baik interaksi manusia, alam ,budaya dan kepercayaan yang
terjadi dalam bumi Indonesia.
Berdasarkan karakteristik tarian dapat memenuhi karakteristik tarian yang
saya cari, maka ditentukan tarian Bagaspati yang ditarikan oleh Mugiyono
Kasido. Beliau merupakan seniman kelahiran solo dan saat ini merupakan salah
satu pionner

seniman tari kontemporer di Indonesia. Tarian Bagaspati ini

memiliki konsep tentang interaksi alam dengan manusia yang mana didalamnya
terkandung unsur budaya dan kepercayaan yang ada di Indonesia. Tarian ini
menceritakan tentang Bagaspati is a father of sky, Bagaspati is a mother of earth,
Bagaspati also come from touching, swinging dan giving soul for life ,Bagspati
memiliki arti Matahari. Pada tarian ini dijelaskan bahwa matahari adalah sumber
dari kehidupan di bumi yang mana matahari memiliki pergerakan yang konstan
berdasarkan jalur yang dimilikinya yaitu berputar melingkar sesuai dengan
jalurnya, terdapat tidak terdapa titik awal dan akhir. Yang lebih ditekankan pada
tarian ini adalah mengenai matahari dan pergerakan manusia dibawah matahari.
Pergerakan matahari di bumi selalu timbul dan tenggelam yang dinterpretasikan
dengan matahari terbit dan tenggelam. Pada saat-saat tertentu matahari ini
memiliki masa-masa transisi yang terdapat pada saat matahari mulai muncul,
kemudian matahari berada pada titik tertingginya serta pada saat matahari
tenggelam.

Proses pergerakan matahari ini kemudian disatukan dengan

pergerakan manusia dibawah matahari tersebut. Penari menginterpretasikan


kegiatan manusia dibawah matahari dengan aktifitas manusia pada saat
menyambut matahari muncul kemudian , melakukan kegiatan sehari-harinya
hingga pada saat matahari tenggelam. Penari kemudian menggabungkan dengan
konsep matahari, aktifitas manusia dengan kepercayaan yang ada di Indonesia.
Tanpa disadari pada saat matahari melakukan perpindahan dari muncul hingga
titik tertinggi hingga tenggelam, masa-masa transisi ini merupakan saat-saat
paling berbahaya. Hal ini merupakan kepercayaan yang masih dipegang kuat oleh
rakyat Indonesia khususnya di Jawa. Masyarakat di Jawa masih percaya bahwa
pada saat matahari berpindah dari satu titik ke titik lainnya merupakan waktu bagi
meraka yang tak terlihat lebih tepatnya sebagai waktu yang berbahaya dan
manusia harus waspada. Namun pada saat ini banyak orang yang tidak
memperhatikan bahaya yang ada disekitarnya terutama pada saat matahari
muncul, matahari pada titik tertingginya dan matahari pada saat tenggelam. Selain
berdasarkan segi kepercayaan.
Tujuan dari penari mengangkat tema dari tarian ini adalah untuk
mengajarkan manusia lebih untuk bersyukur serta lebih waspada dalam
melakukan aktifitas sehari-harinya. Serta menekankan arti matahari itu sendiri
didalam kehidupan alam semesta ini, sehingga matahari itu sendiri yang menjadi
tema utama dalam tarian ini seerta menjadi sumber dalam pembuatan gerakan
tarian.
Konsep tarian ini merupakan tarian yang mengangkat tema universal, oleh
karena itu tarian ini dipilih karena berdasarkan tema yang diangkat dapat
mendukung konsep gedung yang akan dirancang. Gedung pertunjukan yang
dibuat merupakan generator baru yang diinterpretasikan dengan matahari yang
sama dengan konsep pada tarian. Serta kegiatan manusia didalam gedung selalu
mengalami pengulangan namun memiliki cerita yang berbeda-beda pada saat
pengulangan terjadi, hal ini pada konsep tarian sama dengan pergerakan manusia
sehari-hari yang memiliki cerita yang berbeda-beda pada saat matahari berputar
setiap saat dengan pergerakan yang sama sesuai dengan jalurnya.

Unsur lain yang menguatkan tarian ini untuk dipilih tarian ini adalah unsur
gerak dalam tarian yang masih memiliki dasar gerakan tari tradisional Indonesia,
terutama tari jawa serta kostum tarian ini keaslian merupakan salah satu budaya
serta kesenian Indonesia berupa batik.

6.4 Pembuatan Labanotation


Labanotasi yang telah diterangkan pada Bab II menjadi panduan dalam
melakukan pecatatan not tari pada tarian Bagaspati ini. Dimana dilakukan
percobaan mencatat setiap gerakan anggota tubuh kedalam bentuk 2d. Pencatatan
ini berfungsi sebagai panduan ketika akan menarikan tarian tersebut juga
sekaligus membantu dalam melakukan analisa terhadap setiap anggota tubuh yang
bergerak.
Dengan adanya notasi laban, dapat menarikan tarian ini tanpa harus
mengikuti video yang ada , karena akan lebih susah ketika mengikuti pergerakan
yang ada dalam video. Selain itu, dalam labanotasi pencatatan yang setiap
pergerakan anggota tubuh dicatat berdasarkan hitungan tempo pada tarian
tersebut. Pencatatan tempo pada labanotasi ini sudah menandakan setiap
pergerakan anggota tubuh sesuai dengan hitungan tempo. Hal ini lebih
memudahkan pada saat melakukan penyesuaian dalam pencatatan setiap
perpindahan gerak dengan tempo, hal ini memberikan keakurasian pada
pencatatan serta pada saat melakukan analisa pergerakan anggota tubuh, tempo
dan proporsi manusia. Ketiga hal ini merupakan hal pencatatan terpenting yang
akan digunakan dalam pembentukan massa bangunan.

6.5 Analisa Tarian Bagaspati


Analisa tarian dilakukan sebagai tahap awal dari pembentukan bentuk
bangunan serta mendapatkan pembagian ruang. Hal ini dilakukan untuk
memperkuat konsep bangunan serta sesuai dengan karakteristik tarian yang akan
divisualisasikan kedalam bentuk bangunan. Ketiga analisa ini memiliki
keterkaitan yang sangat kuat satu sama lainnya, tidak bisa dipisahkan dan tidak
bias di urai satu persatu. Ketiga analisa merupakan titik pembentuk bangunan.

Analisa yang saya lakukan meliputi analisa tempo, perpindahan anggota


badan tubuh penari sesuai dengan panduan labanotation dan analisa proporsi
tubuh manusia setiap adanya perpindahan gerak. Ketiga analisa ini akan menjadi
panduan pada saar memvisualisasikannya kedalam bentuk bangunan. Ketiga
analisa ini akan dimasukan kedalam bentuk diagram 2d kemudian dilanjutkan
kedalam bentuk 3d untuk mendapatkan bentuk. Hal ini dilakukan agar dapat
memvisualisasikan dengan tepat dari setiap gerakan yang dipilih. Pada diagram 3d
atau diagram kartesius membutuhkan 3 titik untuk menghasilkan suatu bentuk 3d,
diagram 3d ini menjadi dasar dari pembentukan ruang serta pembentukan
bangunan. Ketiga analisa inilah yang akan menjadi dasar dari pembentukan
bangunan yang akan dirancang.

6.5.1 Analisa tempo


Analisa tempo dilakukan untuk mengetahui adanya perpindahan kecepatan
irama dalam suatu tarian. Analisa tempo ini dilakukan agar dapat mempetakan
setiap perpindahan gerak yang terjadi, sehingga dapat mengetahui gerak ini
berpindah pada hitungan tempo keberapa. Tempo ini akan menjadi peta
pergerakan ketika akan dibuat kedalam diagram 2d. Tempo pada tarian Bagaspati
ini adalah , angka berarti setiap 1 hitungan terdapat 4 ketukan. Pada
pembuatan labanotasi, dilakukan pemilihan dari bagian-bagian tarian yang akan
divisualisasikan pada pembentukan massa bangunan. Penentuan bagaian-bagian
tari ini dilakukan dengan mengambil bagian awal dari tarian, kemudian
mengambil inti dari tarian dan yang terakhir adalah penutup tarian. Pengambilan
ini didasarkan pada bagian-bagian terpenting dari tarian yang mencangkup konsep
dan tema tarian secara keseluruhan.

6.5.2 Analisa Perpindahan Gerak Setiap Anggota Tubuh


Analisa perpindahan gerak yang dilakukan meliputi perpindahan gerak
tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, kaki kiri dan kepala. Anggota tubuh ini
saya analisa karena dalam tarian tersebut anggota tubuh ini yang memiliki andil
paling besar dan bergerak paling banyak. Panduan pada saat melakukan analisa

anggota tubuh ini adalah teori labanotation. Dalam teori labanotation

ini

menjelaskan bahwa pencatatan tarian dilakukan dengan cara membagi tubuh


menjadi dua dengan titik tenganya adalah tali pusar manusia ditarik garis secara
vertical, sehingga membagi tubuh menjadi 2 bagian yaitu anggota tubuh bagian
kiri dan anggota tubuh bagian kanan, sedangkan kepala dicatat pada anggota
tubuh bagian kiri.
Analisa perpindahan

gerak anggota tubuh ini dilakukan untuk

mendapatkan angka, karena dalam pembuatan diagram 2d ini membutuhkan


angka. Setiap perpindahan anggota tubuh dari satu titik ke titik lainny akan
disesuaikan dengan analisa tempo yang telah dilakukan. Sehingga titik tempo dan
titik perpindahan gerak pada diagram 2d ini dapat ditarik garis sehingga
membentuk satu kesatuan diagram. Metode ini dilakukan pada setiap analisa
perpindahan gerak anggota tubuh yang telah ditentukan.

6.5.3 Analisa Proporsi Anggota Tubuh


Analisa proporsi anggota tubuh dilakukan dengan cara mengukut proporsi
manusia pada setiap perpindahan gerak yang terjadi. Proporsi manusia pada saat
melakukan suatu gerakan pada tarian ini selalu berubah-ubah. Karena adanya
setiap gerakan anggota tubuh mempengaruhi proporsi manusia ketika melakukan
gerakan tersebut.
Analisa proporsi manusia ini akan disesuaikan dengan hitungan tempo
yang sudah dianalisa seblumnya. Hal ini dilakukan agar ketiga analisa ini
diletakkan pada tempo yang tepat sehingga tidak terjadi kesalahan penempatan
tempat pergekan yang terjadi pada tempo, sekaligus menjaga kesesuaian gerakan
setiap anggota tubuh pada tempo.

6.5.4 Analisa Unsur Pokok Tarian


Analisa unsur pokok tarian ini meliputi kostum, latar belakang panggung,
musik, ruang, dan komposisi tarian. Analisa ini dilakukan sebagai analisa
pendukung dalam proses pembentukan bangunan dan ruang, baik itu dalam
pembentukan fasade bangunan maupun pembentukan interior bangunan. Namun,

analisa ini hanya bersifat mendukung, bias digunakan dan bias tidak digunakan
dalam proses pembentukan bangunan dan ruang. Jika pembentukan bangunan dan
ruang dapat dicapai dengan maksimal dan dapat memvisualisasikan tarian tersebut
maka analisa ini akan diabaikan, namun jika dalam pembentukan bangunan dan
ruang masih tidak cukup untuk memvisualisasikan tarian tersebut maka analisa ini
akan dipergunakan untuk memperkuat konsep dari bangunan tersebut yang
disesuaikan dengan konsep tarian. Hal ini akan ditentukan dalam proses
pembentukan banguan dan ruang.

6.6 Pembentukan Diagram Kartesius


Pembuatan diagram kartesius ini merupakan alat utama dalam proses
pembentukan bangunan dan ruang. Terdapat 3 titik pada sumbu kartesius yaitu
titik x,y dan z. Alasan penggunaan diagram karstesius sebagai alat uatama
pembentukan bangunan dan ruang adalah karena hanya diagram kartesius yang
dapat mengubah diagram 2d atau diagram x dan y menjadi bentuk 3d.
Berdasarkan hasil pembentukan massa bangunan yang telah dicoba, massa
bangunan berdasarkan diagram kartesius ini mampu mevisualisasikan diagram 2d
ini dengan maksud dari setiap gerakan tarian tersebut.
Ketiga analisa utama yang telah dilakukan diatas merupakan bagian
terpenting dalam pembentukan diagram kartesius. Ketiga analisa tersebut adalah
analisa perpindahan anggota tubuh, analisa tempo dan analisa proporsi manusia.
Berhasilnya pembentukan massa bangunan ini sangat dipengaruhi pada peletakan
3 analisa yang telah dilakukan pada sumbu x,y dan z, hal ini berdasarkan
percobaan yang telah dilakukan dengan meletakkan ketiga titik ini pada sumbu
yang berbeda-beda.
Beberapa analisa diagram dilakukan berdasarkan peletakan sumbu x,y dan
z dengan titik tempo, perpindahan gerak dan proporsi manusia. Pemilihan diagram
yang telah dibuat dan yang telah ditentukan dibagi menjadi 3, pembagian ini
berdasarkan tema dan konsep tarian dimana pembagian ini dibagi menjadi 3

bagian yaitu awal,tengah dan akhir. Penyusunan ini diberikan kode berupa
layering 1, layering 2 and layering 3.

Gambar 6.4: Diagram Kartesius 1


Sumber : Data Pribadi Penulis

Percobaan dalam massa bangunan yang dilakukan adalah dengan


menempatkan tempo,jarak perpindahan gerak dan proporsi manusia sesuai dengan
gambar 6.2. Percobaan ini menghasilkan layering 1.

Gambar 6.5: Diagram Kartesius 2


Sumber : Data Pribadi Penulis

Percobaan kedua yang dilakukan adalah dengan menerapkan metode


notasi laban pada pembuatan diagram kartesius. Berdasarkan metode notasi laban
tersebut, dalam proses pembuatan diagram kartesius dibagi menjadi 2, yaitu :
diagram anggota tubuh bagian kiri dan diagram anggota tubuh bagian kanan.

Penulisan ini mengikuti instruksi penulisan diagram kartesius. Kemudian anggota


tubuh bagian kiri dan bagian kanan ini tidak lepas dari sumbu tempo,jarak
perpindahan gerak dan proporsi manusia. Contoh diagram kartesius ini terlihat
pada contoh gambar 6.3 dan menghasilkan layering 2. Yang berbeda dari diagram
kartesius ini adalah penggunaan alas diagram yang berwarna abu-abu pada
gambar 6.3 sebagai peta tempo, peta tempo ini berfungsi untuk menggantikan
sumbu z.

6.6.1 Hasil Pembentukan Diagram Berdasarkan Percobaan 1

Gambar 6.6: Layering 1.1 (Diagram Bentuk Awal)


Sumber : Data Pribadi Penulis

Layering 1

merupakan diagram awal yang terbentuk berdasarkan

penerapan diagram kartesius pertama yang dicoba, dan hasil dari diagram
kartesius ini menghasilkan bidang horizontal yang membentuk ruang dari bidangbidang datar.

Gambar 6.7: Layering 1.2 (Diagram Bentuk Puncak)


Sumber : Data Pribadi Penulis

Hasil dari penerapan diagram karteius awal ini tidak membentuk ruang
secara langsung, ruang yang terbentuk akibat dari susunan bidang datar secara
vertikal ini membutuhkan proses yang lebih lanjut. Proses yang dibutuhkan masi
begitu panjang dan rumit,serta ruang yang terbentuk belum tentu dapat
merepresentasikan konsep serta tema tarian kedalam massa bangunan.

Gambar 6.8: Layering 1.3(Diagram Bentuk Akhir)


Sumber : Data Pribadi Penulis

Setelah melakukan beberapa percobaan yang untuk mengolah hasil dari


diagram kartesius pertama ini, saya menemui kebuntuan dan mencoba untuk
melanjutkan ke tahap berikutnya. Memiliki kemungkinan hasil dari diagram
pertama ini akan diolah untuk menjadi pembentukan site plan bangunan.

6.6.2 Hasil Pembentukan Diagram Berdasarkan Percobaan 2


Hasil dari percobaan 2 berhasil membentuk ruang secara 4 dimensi, ruang
terbentuk karena adanya pertemuan-pertemuan bidang secara horisontal, vertikal
maupun diagonal. Percobaan kedua dengan merapkan metode notasi laban pada
pembuatan diagram kartesius ini menurut saya berhasil namun, hasil dari
percobaan diagram 2 ini lebih sedikit membutuhkan proses pengolahan
selanjutnya jika dibandingkan dengan percobaan pertama.
Keunggulan lain dari percobaan pertama dibandingkan dengan percobaan
ke dua adalah pada interpretasi konsep dan tema tarian pada massa bangunan.
Pada percobaan kedua menurut dapat menginterpretasikan tema dan konsep tarian
Bagaspati.

Gambar 6.9: Layering 2.1


Sumber : Data Pribadi Penulis

Konsep dan tema tarian Bagaspati adalah tentang marabahaya pada


perpindahan waktu. Pada tarian gerakan marabahaya ini dilakukan dengan
gerakan bebas yang meronta dengan pergerakan tangan,kaki dan anggota tubuh
lainnya bergerak bebas membentuk sudut-sudut gerak yang runcing dan jarak
perpindahan dari satu titik ke titik lainnya yang luas. Pada percobaan 2 ini, sudut
lancip serta jarak perpindahan gerak yang lebar terinterpretasikan dengan baik,
serta bentuk sudut yang runcing yang ada pada setiap sisi bangunan membeikan
kesan yang berbahaya. Hal ini menurut sesuai dengan apa yang disampaikan
penari tersampaikan dengan baik melalui gedung ini.

Gambar 6.10: Layering 2.2


Sumber : Data Pribadi Penulis

Namun ada beberapa kelemahan pada percobaan 2 ini, yaitu luasan


bangunan tidak mencukupi untuk menampung luasan program ruang yang telah
ditentukan. Oleh karena itu, membutuhkan proses penyekalaan massa bangunan.

Gambar 6.11: Layering 2.3


Sumber : Data Pribadi Penulis

Selain masalah skala massa bangunan, terdapat masalah lain yaitu masalah
kdb site terhadap dasar bangunan yang ada pada percobaan kedua ini.
Membutuhkan pengolahan massa bangunan dengan cara memirror bangunan.

6.7 Penyesuaian Skala dan Proses Pembentukan Massa Bangunan

Gambar 6.12: Penyesuaian Skala Bangunan Dengan Skala Yang Diperlukan


Sumber : Data Pribadi Penulis.

Penyekalaan ulang bangunan ini dilakukan dengan cara mengambil suatu


patokan. Patokan yang diambil sebagai tolak ukur penyekalaan ini adalah ruang

teater dengan dimensi panjang kali lebar, 40m x 60m. Ukuran ini menjadi patokan
dalam penyekalaan seluruh bangunan yang ada. Ukuran ini berdasarkan total
kebutuhan ruang yang diperlukan teater untuk menampung 800 penonton
dilengkapi dengan fasilitas pendukung lainnya.

Gambar 6.13: Proses Pembentukan Massa Bangunan


Sumber : Data Pribadi Penulis

Bangunan di mirror

untuk mengurangi penggunaan kdb pada tapak.

Dengan luasan dasar bangunan yang melebihi KDB, maka diperlukan proses
selanjutnya untuk mengatasi persoalan KDB ini adalah dengan cara memirror
bangunan terlebih dahulu kemudian dilakukan proses mengangkat bangunan
hingga pada titik tertentu. Tujuan utama dari proses ini adalah untuk menerapkan
atap bangunan diubah menjadi plafon bawah pada bangunan. Sehingga secara 180
derajat, proses ini secara tak langsung memperkuat konsep dan tema tarian yang
diaplikasikan ke massa bangunan.

6.8 Proses Pengolahan Tapak dan Peletakan Bangunan Pada Tapak


Berdasarkan analisa SWOT tapak, dilakukan beberapa hal untuk
mengatasi penurun tanah dan tingkat banjir yang tinggi, yaitu dengan cara

menaikkan level tanah sebesar lima meter untuk menanggulangi hal ini.
Kemudian dilakukan pemotongan gsp dan gsb tapak yang telah ditentukan, hasil
dari pemotongan ini merupakan dasar awal bangunan yang akan terbangun.

Gambar 6.14: Proses Pengolahan Tapak


Sumber : Data Pribadi Penulis

Kemudian beberapa pemotongan tapak dilakukan sebagai akses


untuk masuk kedalam tapak. Pemotongan ini disesuaikan dengan standar regulasi
akses ram untuk manusia dan kendaraan bermotor.

Gambar 6.15: Peletakan Massa Bangunan Pada Tapak


Sumber : Data Pribadi Penulis

Penempatan bangunan disesuaikan dengan pembentukan sirkulasi manusia


serta mobil didalam tapak, baik itu kemudahan kendaraan pribadi maupun loading
dock. Tahap awal dari peletakan bangunan adalah dengan cara menarik garis aksis
dari tapak tersebut, kemudian berdasarkan perhitungan padnangan dan kemudahan
sirkulasi serta perhitungan besaran luasan bangunan manjadi dasar dari peletakan
bangunan. Peletakan bangunan ini akhirnya diputuskan berdasarkan pada gambar
6.15.
6.9 Pengolahan Massa Bangunan Terhadap KDB
Salah satu cara yang saya lakukan untuk mengurangi penggunaan kdb
yang berlebihan adalah dengan cara mengangkat bangunan dengan ketinggian
mencapai 10m, angka 10m ini didapat dari proses pembentukan bangunan ketika
terbentuknya plafon bawah.

Gambar 6.16: Dampak Minimnya KDB Terhadap Massa Bangunan


Sumber : Data Pribadi Penulis

Tujuan lain dari pengangkatan bangunan ini selain untuk menyesuaikan


dengan ketentuan kdb yang ditentukan adalah untuk memasukan proram
penyuport , yaitu : teater terbuka, food jucntion dan gedung eksebisi seni 2d
hingga 4d. Proses pengankatan bangunan terlihat pada gambar 6.13.

Gambar 6.17: Penaikan Level Bangunan Untuk Mengurangi Penggunaan KDB


Sumber : Data Pribadi Penulis

6.10 Pembagian Massa Bangunan Berdasarkan Fungsi dan Luasan Massa


Bangunan
Berdasarkan kebutuhan ruang yang diperlukan, pada gedung pelatihan ini
terbagi menjadi 2 kategori kelas, yaitu : kelas tari kecil dengan kapasitas 1-5
orang serta kelas tari besar dengan kapasitas 5-15 orang. Yang dilengkapi dengan
fungsi pendukung lainnya, seperti : mini perpus, toilet yang dilengkapi shower,
ruang ganti, ruang istirahat, ruang peralihan fungsi dari kelas tari besar yang dapat
dijadikan sebagai ruang pertunjukan kecil. Selain program pendukung, terdapat
program service didalamnya.

Gambar 6.18: Pembagian Fungsi Bangunan


Sumber : Data Pribadi Penulis

Untuk tetaer utama, terdapat double volume pada teater. Pembuatan


volume dobel ini bertujuan untuk memenuhi kapasitas penonton yang diinginkan
yaitu 800-1000 orang serta adanya penyesuaian pada proporsi ketinggian
bangunan untuk akustik ruang. Program utama yaitu sebagai teater didukung
dengan program pendukung dan program service untuk memenuhi standar
keperluan teater.

6.11 Pembentukan Sirkulasi Manusia Terhadap Bangunan


Penempatan gedung ini juga didasari pada perencanaan sirkulasi manusia
didalam gedung. Penempatan lobby utama diletakkan diantara gedung
pertunjukan, ruang eksebisi dan gedung pelatihan serta food jucntion. Tujuan dari
penempatan ini adalah untuk membentuk suatu sirkulasi terpusat pada suatu titik
yang memiliki luasan yang besar, kemudian dari satu titik itu manusia melakukan
pergerakan sesuai dengan fungsi yang dituju. Adanya titik pusat ini bertujuan
untuk memeperjelas sirkulasi manusia pada tapak dan dalam bangunan.

Gambar 6.19: Pembentukan Sirkulasi Manusia Berdasarkan Pembagian Program Ruang


Sumber : Data Pribadi Penulis

Gambar 6.14 ini menerangkan tentang proses sirkulasi manusia didalam


gedung. Gambar potongan meninjukan sirkulasi vertikal dari lantai semi basement
hingga lantai 2 pada gedung teater. Sirkulasi vertikal ini merupakan titik pusat
dari sirkulasi manusia didalam gedung.

6.12 Konsep Perancangan Struktur


Penentuan penggunaan struktur bangunan didasarkan pada proses
perancangan massa bangunan akhir. Penggunaan struktur pada proses design ini
dibagi menjadi 3 tahap struktur, yaitu : struktur pondasi beton bertulang, struktur
transfer beam dan struktur baja tarik.

6.12.1 Struktur Beton Bertulang


Struktur beton bertulang digunakan dengan tujuan untuk mengurangi
massa KDB yang di gunakan. Struktur ini digunakan sebagai dasar struktur
bangunana yang difungsikan sebagai semi basement. Tujuan lain dari
penggunakan struktur beton bertulang adalah untuk memudahkan dalam
penyusunan tempat parkir pada system beton bertulang dapat digunakan system
grid . Sistem grid ini dapat memudahkan dalam penyusunan tempat parkir dan
penempatan ruang MEP serta fungsi-fungsi lainnya.

Gambar 6.20: Stuktur Beton Bertulang


Sumber : Data Pribadi Penulis

6.12.2 Struktur Transfer Beam


Struktur transfer beam digunakan sebagai struktur plat lantai pada lantai
dasar. Massa bangunan yang terbentuk membutuhkan struktur bangunan yang
berbeda dengan system beton bertulang, dengan adanya perbedaan struktur antara
lantai basement dengan lantai dasar, maka penggunaan struktur transfer beam
digunakan sebagai plat lantai dasar yang mana diatas struktur transfer beam ini
dapat menggunakan struktur baru yaitu struktur baja tarik yang disertai dengan
sub struktur pada fasade.

Gambar 6.21: Stuktur Transfer Beam


Sumber : Data Pribadi Penulis

6.12.3 Struktur Baja


Struktur utama dari massa bangunan

utama pada rancangan desain

menggunakan struktur baja sebagai pondasi utamanya. Pemilihan baja dijadikan


sebagai pondasi utama bangunan karena baja memiliki tingkat fleksibelitas lebih
tinggi jika dibandingkan dengan struktur beton yang tingkat fleksibelitasnya lebih
rendah jika dibandingkan dengan baja. Ukuran struktur utama baja ini pada site
kurang lebih mencapai 2meter panjang x lebar. Besarnya struktur utama ini

dikarena bentang lebar dari satu struktur ke struktur lainnya mencapai 20 m


dengan penggunaan plat lantai setebal 1 meter.

Gambar 6.22: Sambungan Struktur Baja Dengan Plat lantai


Sumber : Data Pribadi Penulis

6.13 Konsep Fasade Bangunan


Konsep fasade bangunan terbentuk ebrdasarkan konsep tarian yaitu
mengenai matahari. Konsep matahari ini menjadi dasar dalam pembentukan
fasade. Untuk memperkuat konsep matahari tersebut maka massa bangunan ini
didesain menggunakan wiremesh. Tujuan dari penggunaan wiremesh adalah untuk
memasukan dinar matahari kedalam gedung dan difungsikan sebagai penyaring
sinar matahari, agar sinar yang masuk tidak berlebihan.
Terdapat fasade

utama dan fasade kedua. Fasade utama bangunaan

menggunakan single glass system , pemasangan fasade kaca ini bertujuan untuk
menghindari air dan udara yang berlebihan masuk kedalam gedung. Tingginya
curah hujan di Daerah Pantai Mutiara dan letak site yang berada di tepi pantai
menjadikan pemilihan kaca sebagai fasade utama pada bangunan. Sedangkan
fasade kedua pada bangunan adalah wiremesh
pelapis dari fasade utama.

yang dijadikan sebagai fasade

Gambar 6.23: Modul Wiremesh 1


Sumber : http://pinterest.com/pin/539587599073809421/

Terdapat beberapa jenis material wiremesh untuk dijadikan sebagai fasade.


Yang digunakan dalam ranangan ini adalah wiremesh yang memiliki tingkat
kerenggangan

lumayan lebar, seperti pada gambar 6.23 dan 6.24 . Tingkat

kerenggangan ini bertujuan untuk memperbesar intensitas sinar matahari yang


masuk kedalam bangunan.

Gambar 6.24: Modul Wiremesh 2


Sumber : http://pinterest.com/pin/539587599073809419/

6.13.1 Sistem Pemasangan Fasade


Pemasangan fasade pada bangunan menggunakan 2 metode pemasangan.
Metode yang pertama adalah menggunakan

kaca sebagai fasade

utama,

pemasangan fasade kaca ini menggunakan sistem single glass system.

Gambar 6.25: Single Glass Sytem


Sumber :Data Pribadi Penulis

Pemasangan fasade pelapis atau fasade sekunder menggunakan substruktur


sebagai struktur utama penahan fasade. Penggunaan substruktur ini dilakukan
karena berat fasade yang akan ditopang memiliki beban yang lumayan berat.
Sehingga struktur fasade sekunder sekaligus dijadikan sebagai substruktur
bangunan.

Gambar 6.26: Sistem Pemasangan Fasade Sekunder


Sumber :Data Pribadi Penulis

Selain ditopang oleh substruktur sebagai struktur utama penopang fasade


sekunder, penggunaan spider web juga dilakukan untuk mengurangi beban

substruktur menahan fasade sekunder. Spider web

ini dipasang sekaligus

menahan fasade utama yaitu fasade kaca. Spider web ini akan bertumpu pada
substruktur.

Gambar 6.27: Spider Web


Sumber :Data Pribadi Penulis

6.14 Utilitas
Utilitas pada bangunan ini cukup rumit karena fungsinya untuk komersial
sehingga utilitas ini harus dipikirkan semaksimal mungkin agar dapat mendukung
kegiatan manusia didalamnya secara maksimal.

6.14.1 Listrik
Sistem instalasi listrik dimulai dari gardu PLN yang terletak pada
bangunan semi basemen, yang masuk kedalam tapak melalui saluran bawah tanah.
Aliran listrik menuju Main Distribution Panel. Listrik dibagi ke setiap pembagian
ruang melalui sub-distribution panel yang ada pada setiap lantai. Setelah itu
menuju KWH meter yang terdapat di ruang panel pada setiap lantai.

Gambar 6.28: Diagram Penyaluran Listrik


Sumber :Data Pribadi Penulis

Kantor sewa membutuhkan genset sebagai cadangan energi ketika aliran


listrik dari PLN terputus. Adanya genset ini berfungsi sebagai sumber energi
sekunder. Genset ini diletakkan pada lantai semi basement. Genset juga
membutuhkan tanki solar, karena solar merupakan sumber energi pada genset.

Gambar 6.29: Penempatan Genset, R.Panel dan Shaft Listrik Lantai Semi Basement
Sumber :Data Pribadi Penulis

Tanki solar ini diletakkan berdekatan dengan genset agar distribusi solar
bisa lebih cepat. Genset ini membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit
untuk menyala pada saat aliran listril dari PLN terputus.

Gambar 6.30: Shaft Listrik Lt.1


Sumber :Data Pribadi Penulis

Gambar 6.31: Shaft Listrik Lt.2


Sumber :Data Pribadi Penulis

Pada lantai semi basement terdapat ruang panel dan ruang control. Ruang
panel berisikan panel-panel untuk menyalurkan listrik ke setiap ruangnya,
sedangkan ruang control berfungsi sebagai tempat untuk mengatur dan manjada
keadaan listrik di dalam bangunan. Bangunan ini hanya terdapat satu massa
bangunan oleh karena itu terdapat satu zona ruang genset, ruang panel dan ruang
control. Didepan pintu panel tidak diperbolehkan menaruh sesuatu yang tidak ada

hubungannya dengan kelistrikan. Hal ini harus diperhatikan untuk memudahkan


perawatan yang dilakukan secara berkala.
Untuk sekering bangunan ini dibagi berdasarkan zona program ruang
utama. Tujuan pembagian peletakan sekering ini adalah agar memudahkan setiap
program utama melakukan kegiatannya.

6.14.2 Sistem Air Bersih Dan Air Kotor


Gound Water Tank diletakan di pada semi basement. GWT diletakkan
pada bagian tengah tapak agar dapat menjangkau semua area yang emembutuhkan
air dengan baik.
Sumber air bersih pada bangunan ini hanya berasal dari satu sumber yaitu
PDAM. Air bersih melalui meteran yang disalurkan ke GWT kemudian dipompa
menuju kamar mandi pada setiap lantai melalui shaft air.

Gambar 6.32: Peletakkan GWT dan Shaft Air


Sumber :Data Pribadi Penulis

Pada lantai basement terdapat tiga titik shaft air. Pembagian ini didasarkan
pada pembagian program utama dan pembagian massa bangunan yang terbagi
menjadi tiga bagian.

Gambar 6.33: Bagan Proses Air Bersih


Sumber :Data Pribadi Penulis

Untuk air kotor, tidak langsung dibuang ke saluran pembuangan kota.


Setelah melalui sewage treatment plant lalu ke sumur resapan lalu kesalur
pembuangan kota. Air kotor berasal dari floor drain setiap kamar mandi, kloset,
ataupun wastafel. Alasan kenapa air dari STP karena air kotor tersebut berbahaya
bagi lingkungan sekitar. Pada saat di STP, kadar racun pada air kotor dikurangi.
Air kotor dari setiap lantai disalurkan melalui shaft air.

Gambar 6.34: Bagan Proses Air Kotor


Sumber :Data Pribadi Penulis

Untuk sistem penyaluran air hujan yang berasal dari roof darin.
Dilanjutkan ke talang air vertikal yang terletak pada join fasade, kemudian
beberapa kubik air disalurkan dan ditampung ke dalam GWT agar bisa
dimafaatkan kembali untuk menyiram kloset dan menyiram tanaman. Sedangkan
sisanya disalurkan langsung ke laut.

Gambar 6.35: Bagan Proses Air Hujan


Sumber :Data Pribadi Penulis

6.14.3 Sistem Tata Udara


Sistem tata udara pada bangunan ini menggunakan sistem pendingin
ruangan central. Distribusi udara dingin dilakukan melalui ducting yang terletak
di atas plafond. Radius outtake adaah setiap tiga meter. Terletak di tengah,
sedangkan intake terletak dipinggir dengan raiud tiga meter.

Gambar 6.36: Bagan Proses Sistem Udara


Sumber :Data Pribadi Penulis

Sistem pendingin udara terdiri dari dua fase, fase pertama merupakan
siklus pendek untuk mendinginkan air. Fase kedua adalah siklus panjang dimana
air didinginkan oleh fase pertama yang mentransmisikan udara dari air handling
unit (AHU) tiap lantai untuk dikeluarkan kedalam raungan dalam bentuk udara
dingin.

6.14.4 .Tangga Darurat Dan Springkel


Tangga darurat untuk bangunan ini memiliki radius empat puluh meter.
Hal ini terpilih agar pengguna dapat memanfaatkan bangunan ini secara efektif
dan efisien. Radius empat puluh meter ini merupakan angka standar untuk
penempatan tangga darurat yang disertai dengan springkel. Sprinkel bertujuan jika
pada saat terjadi kebakaran sprinkel secara otomatis akan menyala dan barusaha
memadamkan api ketika orang-orang yang berada didalam gedung menuju tangga
darurat.

Gambar 6.37:Radius Tangga Darurat


Sumber :Data Pribadi Penulis

Gambar 6.38: Radius Sprinkel


Sumber :Data Pribadi Penulis

Gambar 6.37 dan gambar 6.38 merupakan contoh pengaplikasian radius


empat puluh meter pada tangga darurat dan sprinkel. Memiliki jarak radius yang
sama karena tangga darurat dan sprinkel memiliki kesamaan fungsi yang
berfungsisebagai keamanan bangunan.

BAB VII
KESIMPULAN

Kesimpulan dari pembuatan tugas akhir ini berdasarkan program adalah


untuk membuat suatu generator baru yang

dapat mengapresiasikan minat

mansyarakat terhadap seni yang berkembang khususnya seni tari kontemporer.


Agar dapat mengapresiasikan minat masyarakat maka dibutuhkan program
pengenalan dan program pengajaran berbagai macam seni tati, namun lebih
dikhususkan untuk seni tari kontemporer.Tidak menutup kemungkinan seni
lainnya dapat dikembangkan pada program ini. Selain itu program pendukung
dibuat dengan tujuan untuk menyuport kawasan Pantai Mutiara dalam bidang,
berdasarkan analisa yang dilakukan, daerah Pantai Mutiara ini minim akan
hiburan terutama pada daerah perumahan Pantai Mutiara. Oleh karena itu untuk
mendukung kawasan tersebut saya memasukan suatu program entertainmen yaitu
gabungan antara pementasan seni dipadu dengan wisata kuliner untuk mendukung
kawasan Pantai Mutiara ini. Berdasarkan perhitungan luasan ruang yang
diperlukan serta penciptaan suasana yang disesuaikan dengan site diharapkan
dengan memasukam program-program utama ini dapat berfungsi secara
maksimal, baik untuk kawasan Pantai Mutiara dan untuk kesenian khususnya seni
tari kontemporer.
Pembuatan gedung pertunjukan dan pelatihan ini melalui berbagai macam
proses yang dilakukan dari pemilihan dari, penganalisaan tari, pembuatan notasi
laban, kemudian pembuatan diagram berdasarkan notasi laban yang dibuat
kemudian penerjemahan diagram kedalam bentuk arsitektur. Proses yang di
lakukan ini merupakan proyek percobaan pertama dalam melakukan suatu
pembentuan massa bangunan dengan menggunakan metode diagram yang kerap
kali digunakan oleh Peter Eisenman. Pada tahap awal yang dilakukan adalah
mencari tarian yang memiliki unsur gerakan tarian dari budaya Indonesia dan
yang paling penting adalah pemilihan tema dan konsep tarian yang memiliki
konsep yang tak lekang oleh waktu, serta dipadukan dengan budaya Indonesia
serta kepercayaan orang Indonesia. Berdasarkan kriteria ini akhirnya saya

memutuskan untuk memilih tarian Bagaspati dengan konsep utamanya adalah


mengenai matahari. Proses selanjutnya adalah melakukan analisa gerak, tempo
dan perpindahan setiap anggota tubuh penari ketika melakukan tarian tersebut.
Hasil analisa ini kemudian diaplikasikan kedalam bentuk diagram 2d. Tujuan dari
pembentukan diagram 2d ini adalah untuk menentukan ruang yang tercipta secara
grafik 2d, dari grafik tersebut tercetus untuk mengambil bagian awal, tengah dan
akhir dari tarian. Pengambilan bagian-bagian ini berdasarkan ruang yang
terbentuk dari diagram dan berdasarkan tema dan konsep tarian tersebut, sehingga
konsep dan tema tarian dapat teraplikasikan secara maksimal yang akan
digunakan sebagai latar konsep dan pembentukan massa bangunan. Proses
selanjutnya adalah pembuatan diagram kartesius yang memakai point tempo,
perpindahan gerak anggota tubuh dan proporsi manusia yang akan diaplikasikan
kedalam sumbu x,y dan z. Hasil dari diagram kartesius ini secara langsung
membentuk massa bangunan. Massa bangunan yang terbentuk secara langsung
mampu perepresentasikan tarian Bagaspati dengan baik. Bentuk yang komplek
akan disesuaikan dengan luasan program yang akan dimasukan kedalam massa
bangunan. Pada tahap ini terdapat banyak perubahan pada massa dalam bangunan,
perubahan ini mengikuti luasan program setiap ruang yang dibutuhkan, akan
tetapi perubahan pada massa luar bangunan tidak berubah banyak, dengan tujuan
untuk mempertahankan kekuatan dari konsep bangunan tersebut.
Dengan demikian, proses pembuatan tugas akhir ini dilakukan untuk
mempelajari metode diagram sebagai dasar dari pembentukan massa bangunan.
Melalui

metode

diagram

ini,

massa

bangunan

yang

tercipta

mampu

merepresentasikan suatu karya seni tari yang dijadikan sebagai perancangan


konsep bangunan dengan baik dan dapat diterjemahkan kedalam bentuk arsitektur.