Anda di halaman 1dari 17

Jurnal Project Diagnostik (BPM)

Jurnal Project Diagnostik (BPM)
 

FINGER TIP AND EAR TIP BPM (BEATS PER MINUTE)

Rizky Abdillah (P27838113006) 1 , Faizah Firdausi MS (P27838113007) 2 ,Rahmat Zulfiqri (P27838113008) 3 , Arnoldus Yansen (P27838113014) 4 , Dinar Octaviani (P27838113015) 5 , Ida Ayu Dwi (P27838113020) 6 .

Jurusan Teknik Elektromedik Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Surabaya

ABSTRAK

Dalam dunia kesehatan, banyak alat yang digunakan untuk monitoring, salah satunya untuk memeriksa keadaan jantung. Jantung merupakan organ terpenting dalam tubuh manusia. Salah satu alat yang digunakan untuk monitoring keadaan jantung manusia adalah EKG. Elektrokardiografi (EKG) adalah suatu gambaran dari arus elektrik yang dihasilkan oleh otot jantung selama satu denyut jantung. Peralatan tersebut menyediakan informasi kondisi jantung itu. Elektrokardiogr afi dibuat dengan menerapkan elektroda pada permukaan badan untuk mengambil sinyal kecil dari tubuh kepada monitoring instrumen. Standard elektrokardiografi memungkinkan untuk pembandingan sinyal seperti diambil dari tiap orang dengan kondisi normal dan kondisi kelainan pada jantungnya. Untuk mengetahui faktor yang paling penting saat melakukan monitoring jantung adalah mengetahui beats per minute (BPM), sensor yang digunakan untuk mengetahui detak

jantung sesorang sangat bermacam macam, seperti ear clip, finger sensor transmittan dan finger sensor reflactan. Sensor ini terdiri dari infrared dan photo diode. Dengan finger Sensor ini diletakkan pada ujung jari, sedangkan ear clip diletakkan di daun telinga.

  • Cara kerja sensor ini adalah infra red akan memantulkan cahaya ke permukaan jari

dan akan diterima oleh photodiode. Dari data yang dihasilkan photodiode ini selanjutnya diolah menggunakan filter dengan frekuensi cut-off yang sesuai dan pengkondisian rangkaian sinyal yang tepat, maka dapat dihasilkan data denyut jantung yang baik.

  • Kesimpulan

Selanjutnya untuk merealisasikan BPM serta bentuk sinyal keluaran ear

clip, finger sensor transmittan dan finger sensor reflactan sebagai outputnya, Sehingga dapat diketahui hasil telah sesuai dengan rancangan sistem yang di program dengan Delphi agar dapat menampilkan grafik di PC.

Kata kunci : ECG, BPM, Infra Red, Photo Dioda, Delphi

1.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Dengan berkembangnya zaman, banyak alat kesehatan yang semakin berkembang. Sebagaimana yang kita ketahui alat yang paling sering digunakan adalah alat monitoring jantung, karena jantung merupakan organ yang terpenting dalam diri manusia. Sensor yang digunakan untuk mengetahui detak jantung sesorang sangat bermacam macam, seperti ear clip, finger sensor transmittan dan finger sensor reflactan. Sensor ini terdiri dari infrared dan photo diode.

Finger Sensor ini diletakkan pada ujung jari, sedangkan ear clip diletakkan di daun telinga. Cara kerja sensor ini adalah infra red akan memantulkan cahaya ke permukaan jari dan akan diterima oleh photodiode. Dari hasil yang diperoleh lalu akan ditampilkan grafik di PC dengan menggunakan Delphi. Tampilan berupa detak jantung per menit atau BPM. Hal ini diharapkan dapat membantu dokter untuk mengetahui detak jantung pasien normal atau tidak dengan mengetahui jumlah beats per menit.

Jurnal Project Diagnostik (BPM)

Jurnal Project Diagnostik (BPM)
 
  • 1.2. Maksud dan Tujuan

Pada tugas ini bertujuan untuk mengambil data detak jantung pasien dengan menggunaka finger sensor transmittan, reflactan dan ear clip yang diletakkan pada ujung jari untuk finger sensor dan pada daun telinga untuk ear clip. Didalam sensor ini terdapat infra red untuk memancarkan cahaya dan photo diode untuk menangkapnya. Selanjutnya akan di program menggunakan Delphi dan ditampilkan pada PC.

  • 1.3. Batasan Masalah

Input yang digunakan dapat dengan sensor retrosensor atau sensor photopletysmograph, kemudian akan diberi penguat noninverting untuk menguatkan sinyal yang didapat dari jari tersebut.

Untuk

membentuk

sinyal

yang

diinginkan

diperlukan rangkaian komparator, sehingga membentuk pulsa.

Di proses oleh mikrokontroller ATMEGA8 dan ditampilkan pada PC, melalui buetooth ataupun PL.

  • 2. LANDASAN TEORI

    • 2.1. Jantung

Jantung (bahasa Latin, cor) merupakan sebuah rongga, organ berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang berulang. Istilah kardiak berarti berhubungan dengan jantung, dari Yunani,cardia berarti jantung. Secara internal, jantung dipisahkan oleh sebuah lapisan otot menjadi dua belah bagian, dari atas ke bawah menjadi dua pompa. Kedua pompa ini sejak lahir tidak pernah tersambung. Belahan ini terdiri dari dua rongga yang dipisahkan oleh dinding jantung, maka dapat disimpulkan bahwa jantung terdiri dari empat rongga, serambi kanan & kiri dan bilik kanan & kiri (Wikipedia, 2008).

  • 2.1.1. Anatomi Jantung

Jantung adalah salah satu organ manusia yang berperan dalam sistem peredaran darah. Jantung terletak dalam rongga dada agak sebelah kiri, di antara paru-paru kanan dan paru-paru kiri. Massanya kurang lebih 300

gram, besarnya sebesar kepalan tangan. Jantung adalah satu otot tunggal yang terdiri dari lapisan endothelium. Jantung terletak di dalam rongga torakik, di balik tulang dada. Struktur jantung berbelok ke bawah dan sedikit ke arah kiri. (Silverthorn, 2013)

Jurnal Project Diagnostik (BPM) 1.2. Maksud dan Tujuan Pada tugas ini bertujuan untuk mengambil data detak

Gambar 2.1.1. Anantomi Jantung Manusia

Selain terbagi dalam rongga-rongga, aspek lain yang perlu diketahui bahwa pada jantung memiliki struktur yang menyebabkan darah tidak dapat kembali ke tempat sebelumnya sehingga akan menyebabkan darah hanya mampu beredar dalam satu arah saja/tidak bolak-balik. Struktur yang memegang peranan ini adalah klep jantung yang berada di antara atrium dan ventrikel. Di antara atrium kiri dan serambi kiri terdapat dua buah klep, sedangkan di antara atrium kanan dan serambi kanan memiliki tiga klep. Pemberian nama klep jantung didasarkan pada jumlah klep tersebut. Jika jumlahnya dua maka digunakan bi, jika digunakan tiga maka digunakan kata tri. Klep/katup dalam bahasa latin disebut valvula, tinggal ditambahkan dengan akhiran pidalis. Jadi untuk klep yang berjumlah dua disebut valvula bikuspidalis, sedangkan yang tiga klep disebut dengan valvula trikuspidalis.

Selain dua klep tersebut masih ada lagi klep yang disebut valvula semilunaris yang berbentuk bulang sabit yang berfungsi agar darah tidak kembali ke jantung. (Herman B. Rahmatina. 2009)

  • 2.1.2. Struktur Jantung

Jantung dibagi menjadi dua rongga (rongga kiri dan rongga kanan) oleh dinding otot yang disebut septum. Dua rongga terdiri dari masing-masing dua kamar. Bilik atas

disebut atrium dan yang bawah disebut ventrikel. Rongga kanan menerima darah de- oksigen dari berbagai bagian tubuh (kecuali paru-paru) dan memompanya ke paru-paru, sedangkan rongga kiri menerima darah

Jurnal Project Diagnostik (BPM)

Jurnal Project Diagnostik (BPM)
 

beroksigen dari paru-paru, yang dipompa ke seluruh tubuh. (Herman B. Rahmatina.2009) Jantung manusia tersusun atas tiga lapisan yaitu endokardium yang berbentuk selaput, miokardium yaitu lapisan yang tersusun dari otot-otot jantung, dan perikardium yaitu lapisan yang berbentuk selaput yang terbuat dari jaringan ikat longgar. Jika jantung dibelah maka akan tampak bagian dalamnya, bagian dalam jantung terbagi atas rongga-rongga. Rongga yang dimiliki jantung terdiri atas empat rongga. Empat rongga ini dibagi atas dua kelompok yaitu atrium/serambi dan ventrikel/bilik, yang masing-masing terbagi menjadi kiri dan kanan. (Ibnu Mas’ud. 2010) Kondisi bilik kiri jantung mengalami pengembangan terbesar disebut dengan keadaan sistole. Pada kondisi ini kecepatan aliran darah yang tertinggi. Sedangkan pada waktu bilik kiri mengempis maksimum disebut dengan diastole. Orang dewasa normal memiliki perbandingan sistole/diastole adalah 120/80. Jantung dapat mengembang dan mengempis karena karakter dari otot jantung. (Stein Emmanuel, Delman J. Abner. 2012)

  • 2.1.3. Cara Kerja Jantung

Pada saat berdenyut setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah (diastol). Jantung kemudian berkontraksi dan memompa darah

keluar dari ruang jantung (sistol). Kedua serambi mengendur dan berkontraksi secara bersamaan dan

kedua

bilik

juga

mengendur

dan

berkontraksi

secara

bersamaan.

Darah yang kehabisan oksigen dan mengandung banyak karbon dioksida (darah kotor) dari seluruh

tubuh mengalir melalui dua vena

terbesar

(vena

kava)

menuju

ke

dalam atrium kanan. Setelah atrium

kanan terisi

darah,

maka akan

mendorong darah ke dalam ventrikel kanan melalui katup. Darah

dari

ventrikel

kanan

akan

dipompa

trikuspidalis.

Darah

dari

ventrikel

kanan akan dipompa melalui katup

pulmonalis ke dalam arteri

pulmonalis

menuju

ke

paru-paru.

Darah akan mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil (pembuluh kapiler) yang mengelilingi kantung udara di paru-

paru,

menyerap

oksigen,

melepaskan

karbon

dioksida

dan

selanjutnya

dialirkan

kembali

ke

jantung. Darah yang kaya

akan

oksigen

mengalir

di

dalam

vena

pulmonalis menuju ke atrium kiri.

Peredaran darah di antara bagian

kanan

jantung,

paru-paru

dan

atrium

kiri

disebut

sirkulasi

pulmonalis karena darah dialirkan

ke paru-paru. Darah dalam atrium kiri akan didorong menuju ventrikel

kiri

melalui

katup

bikuspidalis/mitral,

 

yang

selanjutnya akan memompa darah

bersih

ini

melewati

katup

aorta

masuk

ke

dalam

aorta

(arteri

terbesar dalam tubuh). Darah kaya

oksigen ini disirkulasikan ke seluruh

tubuh,

kecuali

paru-paru

(Wikipedia, 2008).

Jurnal Project Diagnostik (BPM) beroksigen dari paru-paru, yang dipompa ke seluruh tubuh. (Herman B. Rahmatina.2009) Jantung

Gambar 2.2 ( a ) Aliran Darah ( b ) Sinyal Jantung

  • 2.1.4. Detak Jantung

Detak jantung atau juga dikenal dengan denyut nadi adalah tanda penting dalam bidang medis yang bermanfaat untuk mengevaluasi dengan cepat kesehatan atau mengetahui kebugaran seseorang secara umum. "Pada orang dewasa yang sehat, saat sedang istirahat maka denyut jantung yang normal adalah sekitar 60-100 denyut per menit (bpm). Jika didapatkan denyut jantung yang lebih rendah saat sedang istirahat, pada umumnya menunjukkan fungsi jantung yang lebih efisien dan lebih baik kebugaran kardiovaskularnya," ujar Edward R. Laskowski, M.D, seorang physical medicine and rehabilitation specialist, seperti dikutip dari Mayo Clinic, Senin (29/3/2010). Laskowski menambahkan ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi jumlah

Jurnal Project Diagnostik (BPM)

Jurnal Project Diagnostik (BPM)
 

denyut jantung seseorang, yaitu aktivitas fisik atau tingkat kebugaran seseorang, suhu udara disekitar, posisi tubuh (berbaring atau berdiri), tingkat emosi, ukuran tubuh serta obat yang sedang dikonsumsi. Setiap orang bisa mengukur denyut jantungnya sendiri tanpa perlu menggunakan stetoskop. Untuk mengukur denyut jantung di rumah bisa dengan cara memeriksa denyut nadi. Tempatkan jari telunjuk dan jari tengah pada pergelangan tangan atau tiga jari pada sisi leher. Saat merasakan denyut nadi, lihatlah jam untuk mneghitung jumlah denyut selama 15 detik. Hasil yang didapatkan di kalikan empat, maka didapatkan jumlah denyut jantung Anda per menit. "Meskipun jumlah denyut bervariasi, tapi denyut yang terlalu tinggi atau rendah dapat menunjukkan adanya masalah yang mendasar. Konsultasikan ke dokter jika denyut Anda secara konsisten di atas 100 bpm (tachycardia) atau di bawah 60 bpm (Bradycardia), terutama jika disertai gejala lain seperti pusing, sesak napas atau sering pingsan," ungkapnya. Denyut jantung seseorang juga dipengaruhi oleh usia dan aktivitasnya. Olahraga atau aktivitas fisik dapat meningkatkan jumlah denyut jantung, namun jika jumlahnya terlalu berlebihan atau di luar batas sehat dapat menimbulkan bahaya. Untuk mendapatkan nilai denyut jantung maksimal dilakukan dengan cara mengurangi angka 220 dengan usia. Misal usianya 40 tahun, maka jumlah maksimalnya adalah 180 bpm Dengan melakukan tes sederhana tersebut, seseorang bisa mengetahui apakah denyut jantunya normal atau tidak. Hal ini juga berguna sebagai diagnosis awal ada atau tidaknya gangguan kardiovaskuler. Frekuensi denyut jantung.

penyedia darah dari

arteri

auricularposterior (perpanjangan

dari arteri karotid eksternal) dan

dari

percabangan

auricular kecil dari arteri temporal superficial. Dari arteri temporal superficial, percabangan auricular didistribusikan ke daun telinga, bagian anterior dari aurikel dan ke auditori meatus eksternal. Meatus secara parsial ada dalam pembuluh yang sama seperti aurikel tetapi lebih dalam, termasuk permukaan luar dari membran timpani yang dialirkan oleh arteri auricular dalam, percabangan dari bagian pertama (mandibular) dari arteri maxilariinternal. Pembuluh balik bersama arteri dalam satu fungsi sampai mereka keluar bagian telinga (Wikipedia, 2014).

Jurnal Project Diagnostik (BPM) denyut jantung seseorang, yaitu aktivitas fisik atau tingkat kebugaran seseorang, suhu udara

Struktur Daun telinga

Telinga terdiri dari tiga bagian : telinga

luar,

telinga

tengah

dan telinga dalam.

Telinga luar terdiri dari daun telinga, lubang

telinga dan saluran telinga luar. Daun telinga mengandung banyak pembuluh capiler dan darah dengan aliran yang relatif pelan. Telinga juga mengandung sedikit jumlah lemak dan urat tetapi tidak bertulang. Semua ini akan membantu untuk memastikan pembacaan yang lebih baik. Daun telinga relatif stabil dalam ukuran dewasa yang mana untuk membantu perawatan (kalibrasi)

Jurnal Project Diagnostik (BPM) denyut jantung seseorang, yaitu aktivitas fisik atau tingkat kebugaran seseorang, suhu udara
  • 2.2. Daun Telinga

Telinga

merupakan

sebuah

organ

yang

mampu

mendeteksi

atau

mengenal

suara

dan

juga

banyak

berperan

dalam

keseimbangan

dan

posisi

tubuh.

Telinga

mempunyai

berlimpah

untuk waktu yang relatif panjang. Daun telinga dipilih sebagai tempat pengukuran karena dapat menghindarkan dari aliran darah yang tidak bagus. Aliran darah tidak bagus itu sering terjadi bagian tangan dan kaki. Daun telinga

Jurnal Project Diagnostik (BPM)

Jurnal Project Diagnostik (BPM)
 

adalah pusat untuk pembuluh dengan kepadatan tinggi. Pembuluh ini sangat sempit. Dalam daun telinga tidak ada otot, tulang dan sangat sedikit saraf. (Staab Wayne, 2014)

  • 2.3. Ear Clip Sensor

Jurnal Project Diagnostik (BPM) adalah pusat untuk pembuluh dengan kepadatan tinggi. Pembuluh ini sangat sempit. Dalam

Gambar 2.4 Ear Clip Sensor

Ear Clip sensor terdiri dari

infrared LED kecil

dan

sensor

cahaya

infrared

(phototransistor).

Jantung mengalirkan darah melalui

pembuluh

darah,

jumlah

darah

berubah-ubah

 

seiring

dengan

waktu.

Sensor

mengukur

level

cahaya

pengirim

melalui

jaringan

dari

lobus

telinga

dan

sesuai

dengan

variasi

dalam

intensitas

cahaya

dan

terjadi

perubahan

volume darah dalam jaringan. Clip

sensor

juga bisa digunakan

di

fingertip

atau

di

jaringan

kulit

antara

ibu

jari

dan

jari

telunjuk.

Pengukuran

sinyal

dikuatkan,

inverting dan difilter. Plotting sinyal pengukuran kejelasan dari kegiatan pemompaan dari jantung bisa dilihat dalam grafik. Ini disebabkan

oleh

kontraksi

dari

ventrikel

penyedia darah ke arteri.

Berhentinya

denyutan pertama di

detik

pertama,

denyut

terkecil

diamati.

Ini

disebabkan

oleh

menutupnya katup jantung di akhir dari phase aktif, yang mana meningkatkan tekanan dalam arteri dan lobus telinga (Mike H, 2014)

  • 2.4. Photoplethysmograph (PPG)

Plethysmografi merupakan suatu teknik untuk mendeteksi atau mengukur perubahan volume didalam suatu organ. Photoplethysmograph (PPG) digunakan untuk mengukur kondisi peredaran darah yang dipompa oleh jantung pada

organ tertentu dalam tubuhmanusia.

Pemanfaatan

sinyal

photoplethysmograph (PPG) akan di fokuskan pada perhitungan denyut

jantung seseorang selama periode tertentu, sehingga grafik tersebut dapat dimanfaatkan oleh ahli medis untuk

mengetahui kondisi jantung seseorang, yang merupakan hasil dari fluktuasi darah atau udara yang terkandung didalamnya. Photoplethysmograph yang bekerja menggunakan sensor optik. PPG menggunakan pulse oximeter. Pulse oximeter merupakan perangkat medis yang dapat mengukur banyaknya kandungan oksigen dalam darah dan perubahan volume darah pada kulit.

Pulse

oximeter

dapat dibuat menggunakan LED dan Photodioda.

Dalam teknik photoplethysmograph dikenal dua macam mode konfigurasi pemasangan sensor pulse oximeter.

  • 1. Mode transmisi : Sumber cahaya Infrared dipasang berhadapan dengan sensor cahaya photodiode seperti pada gambar dibawah. Photodioda mendeteksi perubahan cahaya yang dipancarkan oleh infra red akibat penyerapan organ (darah, kulit, daging, dan otot) secara langsung.

  • 2. Mode refleksi : dalam mode refleksi

LED

dan phototrasistor dipasang sejajar. Sinyal atau perubahan cahaya yang dideteksi oleh photodioda adalah sinyal pantulan atau refleksi.

Jurnal Project Diagnostik (BPM) adalah pusat untuk pembuluh dengan kepadatan tinggi. Pembuluh ini sangat sempit. Dalam

Gambar 2.4 Peletakan mode

photoplethsmograph[5]

Sinyal PPG(photoplethsmograph) dapat dimanfaatkan dalam bidang

Jurnal Project Diagnostik (BPM)
Jurnal Project Diagnostik (BPM)

kedokteran

untuk

:

1.

Mengamati

kinerja

dan

kelainan jantung.

  • 1. Memonitor pernafasan.

  • 2. Mengetahui

saturasi

oksigen

dalam darah.

  • 3. Sensor yang digunakan terdiri

dari

dua

jenis,

yaitu : sensor transmitter dan

sensor

receiver.

Sensor

transmitter

yang

digunakan

adalah

Infrared

sedangkan

sensor

penerima

yang

digunakan

yaitu

photodioda

sebagai

pemancar,

infrared

memancarkan

cahayanya

merspon kulit dan peredaran darah yang

dipompa

oleh jantung yang

ada

pada

jari.

Kemudian

sebagai penerima, photodioda akan merespon adanya denyut jantung.

2.1.

Infrared

Infrared merupakan salah satu jenis LED (Light Emiting Diode) yang dapat memancarkan cahaya infrared yang tidak kasat mata. Cahaya infrared merupakan gelombang cahaya yang berada pada spektrum cahaya tidak kasat mata. LED infrared dapat memacarkan cahaya infrared pada saat diode LED ini diberikan tegangan bias maju pada anoda dan katodanya. LED infrared ini dapat memancarkan gelombang cahaya infrared karena dibuat dengan bahan khusus untuk memancarkan cahaya infrared. Bahan pembuatan LED infrared tersebut adalah bahan Galium Arsenida (GaAs). Secara teoritis LED infrared mempuyai panjang gelombang 7800 Å dan mempunyai daerah frekuensi 3.104 sampai 4.104 Hz. Dilihat dari jangka frekuensi yang begitu lebar, infrared sangat fleksibel dalam pengunaanya. LED ini akan menyerap arus yang lebih besar dari pada dioda biasa. Semakin besar arus yang mengalir maka semakin besar daya pancarnya dan semakin jauh jarak sapuannya. (Widodo Sri Thomas.

2010).

Jurnal Project Diagnostik (BPM) kedokteran untuk : 1. Mengamati kinerja dan kelainan jantung. 1. Memonitor pernafasan.

Gambar 2.2 Bentuk Fisik dan Simbol Infrared

Cahaya infrared tidak mudah terkontaminasi atau teresonan dengan cahaya lain, sehingga dapat digunakan baik siang maupun malam. Aplikasi dari LED infra merah ini dapat digunakan sebagai transmitter remote control maupun sebagai line detektor pada pintu gerbang maupun sebagai sensor pada robot. Aplikasi cahaya infra merah sendiri dapat digunakan sebagai link pada jaringan telekomunikasi atau dapat juga dipancarkan pada fiber optic. Sebagai receiver cahaya infra merah dapat digunakan foto dioda, foto transistor maupun modul receiver infra merah. (Chandra, Frangky. 2009)

Photodiode Photodiode adalah sebuah dioda yang dioptimasi untuk menghasilkan aliran elektron (atau arus listrik) sebagai respon apabila terpapar oleh sinar ultraviolet, cahaya tampak, atau cahaya infrared. Kebanyakan photodiode dibuat dari silikon, tetapi ada juga yang dibuat dari germanium dan galium arsenide. Sensor photodiode merupakan dioda yang peka terhadap cahaya, sensor photodiode akan mengalami perubahan resistansi pada saat menerima intensitas cahaya dan akan mengalirkan arus listrik secara forward sebagaimana dioda pada umumnya. Sensor photodiode adalah salah satu jenis sensor peka cahaya (photodetector). Photodiode akan mengalirkan arus yang membentuk fungsi linear terhadap intensitas cahaya yang diterima. Arus ini umumnya teratur terhadap power density (Dp). Perbandingan antara arus keluaran dengan power density disebut sebagai current responsitivity. Arus yang dimaksud adalah arus bocor ketika photodiode tersebut disinari. Tanggapan frekuensi sensor photodiode tidak luas. Dari rentang tanggapan itu, sensor photodiode memiliki tanggapan paling baik terhadap cahaya infra

Jurnal Project Diagnostik (BPM) dengan kecepatan maksimum 16MIPS pada frekuensi 16MHz. Jika dibandingkan dengan ATmega8L perbedaannya
Jurnal Project Diagnostik (BPM)
dengan
kecepatan
maksimum
16MIPS pada frekuensi 16MHz. Jika
dibandingkan
dengan
ATmega8L
perbedaannya hanya terletak pada
besarnya
tegangan
yang
merah, tepatnya pada cahaya dengan panjang
gelombang sekitar 0,9 µm. (Sigit Riyanto.
diperlukanuntuk
bekerja.
Untuk
ATmega8 tipe L, mikrokontroler ini
2012)
dapat
bekerja dengan

Gambar 2.3 Simbol Photodioda

2.3.

Mikrokontroller

Mikrokontroller merupakan perangkat elektronika yang didalamnya terdapat rangkaian kontrol, mikroprosesor, memori, dan input/output. Mikrokontroller dapat diprogram menggunakan berbagai macam bahasa program. Bahasa program yang biasa digunakan untuk program mikrokontroller diantaranya bahasa assembler, bahasa C, bahasa basic dan lain-lain. Mikrokontroller biasanya digunakan untuk mengendalikan suatu proses secara otomatis seperti sistem kontrol mesin, remote kontrol, kontrol alat berat dan lain-lain. Dengan menggunakan mikrokontroller sistem kontrol akan menjadi lebih ringkas, lebih mudah dan lebih ekonomis. Salah satu jenis mikrokontroller yang banyak digunakan untuk aplikasi kontrol adalah ATMega8535. ATMega8535 merupakan salah satu mikrokontroller keluaran Atmel. Atmeladalah salah satu vendor yang bergerak di bidang mikro elektronika. Bentuk dan simbol mikrokontroller ATMega8535 dapat dilihat pada gambar.

Jurnal Project Diagnostik (BPM) dengan kecepatan maksimum 16MIPS pada frekuensi 16MHz. Jika dibandingkan dengan ATmega8L perbedaannya
  • 2.4. Arsitektur Mikrokontroller ATMega8

AVR

ATmega8

adalah

mikrokontroler CMOS 8-bit

berarsitektur

AVR

RISC

yang

memiliki 8K

byte

in-System

Programmable Flash. Mikrokontroler dengan konsumsi daya rendah ini

mampu mengeksekusi

instruksi

tegangan antara

2,7

-

5,5

V

sedangkan untuk ATmega8 hanya

dapat bekerja pada tegangan antara 4,5 – 5,5 V.

2.7.1.

Konfigurasi Pin

Atmega8

Jurnal Project Diagnostik (BPM) dengan kecepatan maksimum 16MIPS pada frekuensi 16MHz. Jika dibandingkan dengan ATmega8L perbedaannya

Gambar 2.4.1 Rangkaian Minimum Sistem

ATMega8

ATmega8

memiliki

28

Pin,

yang masing-masing pin nya memiliki fungsi yang berbeda- beda baik sebagai port maupun fungsi yang lainnya. Berikut akan dijelaskan fungsi dari masing- masing kaki ATmega8.

VCC =

Merupakan supply

tegangan digital.

 

GND =

Merupakan ground

untuk

semua

komponen

yang grounding.

membutuhkan

Port B (PB7

PB0)

= Didalam

Port B terdapat XTAL1,XTAL2,

TOSC1, TOSC2. Jumlah Port B adalah 8 buah pin, mulai dari

pin

B.0 sampai dengan B.7.

 

Jurnal Project Diagnostik (BPM)

 
Jurnal Project Diagnostik (BPM)
   
 

Tiap

pin

dapat

 

karakteristik

yang

berbeda

digunakan

sebagai

input

dengan pin-pin yang

 

maupun output. Port

B

terdapat pada port C lainnya.

merupakan

sebuah

8-bit

Namun jika RSTDISBL Fuse

bi-directional

I/O

dengan

 

tidak diprogram, maka pin ini

internal

 

pull-up

resistor.

akan berfungsi sebagai input

Sebagai input, pin-pin yang

reset.

Dan

jika

level

terdapat pada

port

B

yang

tegangan yang masuk ke pin

 

secara eksternal diturunkan,

ini rendah

dan

 

pulsa yang

maka

akan

ada lebih pendek dari pulsa

mengeluarkan arus jika pull- up resistor diaktifkan. Khusus

minimum, maka akan menghasilkan suatu kondisi

PB6

dapat

reset

meskipun

clock-nya

digunakan

sebagai

input

tidak bekerja.

=

 

Kristal

(inverting

oscillator

Port D (PD7…PD0)

Port

D

amplifier)

dan

input

ke

merupakan 8-bit bi-

 

rangkaian

clock

internal,

 

directional

 

I/O

 

dengan

bergantung pada pengaturan

internal

pull-up

resistor.

Fuse

bit

yang

digunakan

Fungsi

dari

port

ini

sama

untuk memilih sumber clock.

dengan port-port yang lain.

 

Sedangkan untuk PB7 dapat

Hanya

saja

pada

port

ini

digunakan

sebagai

output

tidak

terdapat

 

kegunaan-

 

Kristal

(output

oscillator

kegunaan

yang

lain.

Pada

amplifier)

bergantung

pada

port

ini

hanya

berfungsi

 

pengaturan

Fuse

bit

yang

sebagai

masukan

dan

digunakan

untuk

memilih

keluaran

saja

atau

biasa

sumber

clock.

Jika

sumber

disebut dengan I/O.

clock

yang

dipilih

dari

AVcc

=

Pin

ini

berfungsi

 

oscillator internal, PB7 dan PB6 dapat digunakan

sebagai

I/O

atau

jika

sebagai supply tegangan untuk ADC. Untuk pin ini harus dihubungkan secara

menggunakan

Asyncronous

terpisah dengan VCC karena

Timer/Counter2

maka

PB6

pin ini digunakan untuk

dan PB7 (TOSC2 dan TOSC1)

analog saja. Bahkan jika ADC

digunakan

untuk

saluran

pada AVR tidak digunakan

input timer.

 

tetap saja disarankan untuk

Port

C

(PC5…PC0) =

Port

C

menghubungkannya secara

merupakan sebuah 7-bit bi-

 

terpisah dengan VCC. Jika

directional

I/O

port

yang

di

ADC digunakan, maka AVcc

dalam masingmasing pin

 

harus dihubungkan ke VCC

terdapat

pull-up

resistor.

melalui low pass filter.

Jumlah pin nya hanya 7 buah

AREF

=

Merupakan

pin

mulai pin C.0 sampai dengan

dari

pin

referensi jika menggunakan ADC.

 

C.6. Sebagai keluaran/output port C memiliki karakteristik yang sama dalam hal menyerap arus (sink) ataupun mengeluarkan arus (source).

  • 2.5. Modul Bluetooth HC-05

HC-05 Adalah sebuah modul Bluetooth SPP (Serial Port Protocol) yang mudah digunakan untuk komunikasi serial wireless (nirkabel) yang mengkonversi port serial ke

RESET/PC6 = Jika RSTDISBL Fuse diprogram, maka PC6 akan berfungsi sebagai pin

Bluetooth. HC-05 menggunakan modulasi bluetooth V2.0 + EDR (Enchanced Data Rate) 3 Mbps dengan memanfaatkan

I/O.

Pin

ini

memiliki

gelombang radio berfrekuensi 2,4 GHz.

Jurnal Project Diagnostik (BPM)

Jurnal Project Diagnostik (BPM)
 

Modul ini dapat digunakan sebagai slave maupun master. HC-05 memiliki 2 mode konfigurasi, yaitu AT mode dan Communication mode. AT mode berfungsi untuk melakukan pengaturan konfigurasi dari HC-05. Sedangkan Communication mode berfungsi untuk melakukan komunikasi bluetooth dengan piranti lain.Dalam penggunaannya, HC-05 dapat beroperasi tanpa menggunakan driver khusus.

Hardware :

 

o

Sensitivitas -80dBm (Typical)

o

Daya transmit RF sampai dengan

 

+4dBm.

 

o

Operasi daya rendah 1,8V – 3,6V

o

I/O. Kontrol PIO.

o

Antarmuka UART dengan baudrate

o

yang dapat diprogram. Dengan antena terintegrasi.

Software :

 

o

Default baudrate 9600, Data bit : 8,

 

Stop bit

=

1,

Parity

:

No Parity,

Mendukung baudrate : 9600, 19200,

38400, 57600, 115200, 230400 dan

460800.

 

o

Auto

koneksi

pada

saat device

 

dinyalakan (default).

 
 

o

Auto reconnect

pada

menit ke 30

ketika hubungan putus karena range koneksi.

Jurnal Project Diagnostik (BPM) Modul ini dapat digunakan sebagai slave maupun master. HC-05 memiliki 2 mode

3.

METODOLOGI

  • 3.1 Diagram Blok Sistem

a.

Transmitter

Gambar 3.1 Diagram Blok Transmitter

Cara

kerja

blok

diagram

Transmitter: Jari pasien dipasang finger sensor untuk mendeteksi denyut jantung yang melalui jari. Pada finger sensor cahaya infrared yang dipancarkan ditangkap oleh photodioda. Karena adanya pengaruh aliran darah maka terjadi perubahan sinyal. Sinyal tersebut sangatlah kecil, sehingga

memerlukan rangkaian pengondisi sinyal yang terdiri dari rangkaian amplifier untuk menguatkan sinyal yang terdeteksi dari sensor dan rangkaian filter untuk melemahkan noise yang didapat dari sinyal tersebut. Setelah itu rangkaian diolah oleh minimum sistem Atmega8, kemudian diteruskan ke Transmitter.

b. Receiver
b.
Receiver

Cara kerja blok diagram Receiver :

Data yang dikirimkan oleh Transmitter akan diterima oleh modul Receiver yang kemudian diolah / dikonversi melalui komunikasi serial untuk ditampilkan di Personal Computer (PC)

berupa grafik dan gambar grafik akan disimpan tiap satu menit.

  • 3.2 Diagram Alir Proses/Program

Jurnal Project Diagnostik (BPM)

Jurnal Project Diagnostik (BPM)
 
  • a. Transmitter

Jurnal Project Diagnostik (BPM) a. Transmitter Gambar 3.2.1 Diagram Alir Transmitter Cara kerja diagram alir Transmitter

Gambar 3.2.1 Diagram Alir Transmitter

Cara kerja diagram alir Transmitter :

Pada

diagram

alir

Transmitter ini, sinyal

denyut jantung terdeteksi ketika main switch posisi on. Sinyal analog yang terdeteksi ini diolah oleh pengondisi sinyal kemudian dikirim melalui Bluetooth oleh mikrokontroler.

  • b. Receiver

Cara kerja diagram alir Receiver :

Pada diagram alir Receiver, data yang dikirimkan oleh Transmitter akan diterima oleh modul Receiver yang kemudian diolah / dikonversi melalui komunikasi serial untuk ditampilkan di Personal Computer (PC) berupa grafik.

Jurnal Project Diagnostik (BPM) a. Transmitter Gambar 3.2.1 Diagram Alir Transmitter Cara kerja diagram alir Transmitter
  • 3.3 Diagram Mekanis Sistem

Jurnal Project Diagnostik (BPM)

Jurnal Project Diagnostik (BPM)
 
Jurnal Project Diagnostik (BPM) Gambar 3.3 Tampak Depan 3.4 Alat dan Bahan a. Alat 1) Solder
Jurnal Project Diagnostik (BPM) Gambar 3.3 Tampak Depan 3.4 Alat dan Bahan a. Alat 1) Solder

Gambar 3.3 Tampak Depan

3.4

Alat dan Bahan

a.

Alat

 

1)

Solder

2)

Tang potong

3)

Bor

4)

Multimeter

5)

Osiloskop

6)

Soldering pump

7)

Laptop

 

b.

Bahan

 

1)

IC LM358

2)

IC Atmega8

3)

Finger sensor

4)

Resistor

5) Kapasitor

6) Crystal

7) Konektor

8) Soket

9) Saklar

10) Multiturn

11) Baterai 12) Modul Bluetooth HC-05 13) PCB 14) Timah 15) Lem bakar 16) Spacer 17) Akrilik 18) Kabel

Gambar 3.4. Tampak Samping

  • 4. PENGUJIAN DAN ANALISA

Pengujian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah alat penghitung detak jantung ini bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan, sehingga dapat diterapkan pada pengujian dan pemeriksaan yang

Jurnal Project Diagnostik (BPM)

Jurnal Project Diagnostik (BPM)
 

sebenarnya. Pengujian dan analisa dilakukan dengan cara mengukur jumlah denyut nadi pasien dengan alat pengukur denyut nadi dan juga dilakukan dengan metode manual (palpasi) untuk melihat perbandingan serta persesntasi error yang didapat. Berikut ini akan dibahas beberapa hasil pengujian dan analisa terhadap alat pengukur denyut nadi berbasis mikrokontroler.

  • 4.1 Cara Kerja Alat

Cara kerja alat pengukur denyut nadi ini dimulai dari pembacaan sensor photodiode dari cahaya yang dihasilkan LED infrared. Komponen photodiode digunakan sebagai pendeteksi intensitas cahaya berdasarkan perubahan volume darah yang mengalir. Intensitas cahaya yang diterima oleh sensor diubah menjadi tegangan dengan nilai tertentu. Tegangan yang dihasilkan berupa signal pulsa yang sesuai dengan perubahan detak jantung kemudian dikirim ke mikrokontreler sebagai pusat pengendalian sistem dan menggunakan bahasa C sebagai bahasa pemrograman. Data hasil olahan mikrokontroller kemudian ditampilkan pada PC berupa informasi jumlah detak jantung per menit atau beat per menit (bpm) dan bentuk gelombang output. Pada saat program dimulai, maka akan terjadi inisialisasi pada port input dan port output pada mikrokontroler dan juga inisialisasi pada variabel yang akan digunakan. Pada kondisi normal, variabel ini bernilai 0. Alur kerja sistem ini akan bekerja pada saat tombol start diaktifkan. Pada saat tombol start diaktifkan, maka sesnsor akan mulai bekerja (menghitung jumlah pulsa). Jika terdeteksi adanya pulsa, maka sistem diaktifkan secara manual untuk mengaktifkan timer. Pada program ini akan diaktifkan program timer selama 60 detik.

  • 4.2 Pengujian Sistem

Pengujian ini dilakukan untuk menguji sistem keseluruhan. Dimana data diambil dari anggota kelompok dengan menggunakan finger sensor transmittan, reflectan dan ear clip selama 60 detik. Kemudian data dibandingkan dengan perhitungan manual denyut nadi. Hasil yang diperoleh adalah error 0%-1,65%. Perhitungan persentase error dilihat dari rumus berikut:

%Error=

∆ Selisih Perhitungan Jumlah Perhitungan Manual x 100

Data

hasil

perhitungan

secara

keseluruhan

dapat

dilihat

pada

table

berikut:

Tabel 4.2 Data Hasil Percobaan dengan Sampling Time 1 menit

Nama

Finger Sensor

Finger Sensor

Ear Clip

Transmittan

Reflectan

Sensor

Manual

Sensor

Manual

Sensor

Manual

VC C VC C J 3 J 5 R 1 R 2 8 20 K 1
VC C
VC C
J
3
J
5
R
1
R 2
8 20 K
1
TP 2
15 0
V C
C
TP 3
U 1A
C
3
3
V C
C
+
1
R
1
0
J 2
C
6
4 ,7 uF
2
10 K
U 1B
-
5
1
+
R 3
R
4
LM 3 58
7
2
TP 1
65 K
1 0K
4 ,7 uF
6
3
-
J
4
R
6
R
7
LM 3 58
IN PU T
BP M
6 8K
1 0K
SE N SO R
C
2
J
1
C
7
10 0 n
R
8
R 5
1 00 n
4
70 K
47 0K
VC C
VC C
R 11
R
R 9
1K
D
3
LE D
D
1
D
IO D E
3
2
1
1
4
8
4
8
1

Gambar 4.1 Rangkaian Pengkondisi Sinyal

 

Jurnal Project Diagnostik (BPM)

Jurnal Project Diagnostik (BPM)
 
 
 

76

76

77

76

86

84

 

Dinar

66

67

72

73

73

76

76

 

Error

0,6%

1,3%

Error 0,6% 1,3% 1,25%

1,25%

 

Rahmat

88

87

88

87

89

87

 

90

90

90

90

90

89

90

 

Error

0,56%

0,56%

Error 0,56% 0,56% 1,65%

1,65%

 

Tage

94

94

94

94

94

94

 

95

94

94

94

94

93

94

 

Error

0,53%

0 %

Error 0,53% 0 % 0,53%

0,53%

 

Faizah

79

78

78

78

77

78

 

77

77

77

77

77

78

77

 

Error

0,67%

0%

Error 0,67% 0% 1,3%

1,3%

 

RIZKY

75

75

76

75

75

75

 

74

75

74

75

75

76

75

 

Error

0,67%

0,66%

Error 0,67% 0,66% 1,34%

1,34%

 

Dayu

86

86

86

86

95

95

 

86

85

85

85

85

94

94

 

Error

0,58%

0%

0%

 

Dinar

Data 1

Jurnal Project Diagnostik (BPM) 76 76 77 76 86 84 Dinar 66 67 72 73 76
Jurnal Project Diagnostik (BPM) Data 2 Data 2 Rahmat Data 1 Faizah Data 1 Data 2
Jurnal Project Diagnostik (BPM)
Data 2
Data 2
Rahmat
Data 1
Faizah
Data 1
Data 2
Data 2
Tage
Data 1
Rizky
Data 1

Jurnal Project Diagnostik (BPM)

Jurnal Project Diagnostik (BPM)
 
Jurnal Project Diagnostik (BPM) Data 2 dilakukan pada anggota kelompok. Hasil yang diperoleh adalah error berkisar

Data 2

dilakukan pada anggota kelompok. Hasil yang diperoleh adalah error berkisar 0%-1,65%. Hal ini dikarenakan posisi pasien yang kurang tenang saat pengukuran, sehingga menyebabkan sensor yang digunakan kurang tepat.

  • 5 KESIMPULAN DAN SARAN

    • 5.1 Kesimpulan

      • 5.1.1 Dapat dibuat alat penghitung denyut nadi berbasis mikrokontroler ATMega8.

      • 5.1.2 Alat penghitung denyut nadi berbasis mikrokontroler dapat membantu kinerja tenaga kesehatan dalam melakukan pemeriksaan denyut nadi pada pasien

      • 5.1.3 Sensor yang digunakan cukup presisi hanya saja saat pengukuran, pasien diharapkan tidak bergerak.

  • 5.2 Saran

  • Pengembangan penelitian ini dapat dikembangkan agar dapat menyimpan data, mencetak hasil diagnose dan pengaruh jarak Bluetooth apakah mempengaruhi hasil atau tidak.

    Jurnal Project Diagnostik (BPM) Data 2 dilakukan pada anggota kelompok. Hasil yang diperoleh adalah error berkisar

    Dayu

    Data 1

    Jurnal Project Diagnostik (BPM) Data 2 dilakukan pada anggota kelompok. Hasil yang diperoleh adalah error berkisar

    DAFTAR PUSTAKA

    • 1. Miyamoto, R. dan Miyamoto,

    R.

    C.

    1995.

    The

    Human

    Ear

    Canal.

    San

    Diego.

    Singular

    Pub.

    Co

    OPhone

    SDN.

    2010.

    The

    Structure of Android Package

    (

    APK

    )

    Files.

    Data 2

    http://en.wikipedia.org/wiki/An

    droid_application_p

    ackage 2. Wayne Staab. 2014. Hearing health & Technology Matters! http://hearinghealthmatters.or g/waynesworld/2014/ human-ear-canal-vii/ 3. http://mypotik.blogspot.co.id/2010/08/ berapakah-jumlah-denyutan-jantung-
    ackage
    2.
    Wayne Staab. 2014. Hearing
    health & Technology Matters!
    http://hearinghealthmatters.or
    g/waynesworld/2014/
    human-ear-canal-vii/
    3.
    http://mypotik.blogspot.co.id/2010/08/
    berapakah-jumlah-denyutan-jantung-
    yang.html
    4.
    http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/535
    /jbptunikompp-gdl-indrapurna-26711-
    5-unikom_i-i.pdf
    • 4.3 Analisa Sistem Berdasarkan hasil pengukuran yang

      • 5. Widodo. 2011. Monitor Denyut Jantung Menggunakan Metode

    Jurnal Project Diagnostik (BPM)

    Jurnal Project Diagnostik (BPM) Sensor Cahaya. Teknik Elektro PENS 6. Adil, Ratna. Pembuatan Alat Bantu Pemantau
    Jurnal Project Diagnostik (BPM) Sensor Cahaya. Teknik Elektro PENS 6. Adil, Ratna. Pembuatan Alat Bantu Pemantau

    Sensor Cahaya. Teknik Elektro PENS

    • 6. Adil, Ratna. Pembuatan Alat Bantu Pemantau Kondisi Tubuh Dan Keberadaan

    Seseorang

    Saat

    Beraktifitas

    Dengan

    Tampilan

    Web.

    Politeknik

    Surabaya

    Elektronika

    Negeri

    7.

    Rr.

    Arianti

    Rudy

    Putranti.

    Monitoring

    Pasien

    (ECG,

    Heart

    2008.

    rate,

    Suhu tubuh, Respirasi, Blood Pressure) yang terhubung ke PC. Sub Judul

    Pendeteksi ECG, Heart Tubuh Menggunakan

    Elektronika PENS-ITS.

    rate dan

    Suhu

    Mikrokontroller.