Anda di halaman 1dari 7

Teknik Peledakan (Blasting)

Tujuan pekerjaan peledakan dalam dunia pertambangan itu sendiri yaitu


memecah atau membongkar batuan padat atau material berharga atau endapan
bijih yang bersifat kompak atau masive dari batuan induknya menjadi material
yang cocok untuk dikerjakan dalam proses produksi berikutnya.
dalam suatu operasi peledakan pada pertambangan didahului oleh pemboran yang
bertujuan
untuk
membuat
lubang
tembak.
Lubang tembak sendiri akan diisi oleh bahan peledak yang terlebih dahulu di isi
oleh material atau pasir yang disebut Sub-drilling bertujuan agar hasil peledakan
tidak terjadi toes atau tonjolan-tonojolan pada lantai tambang yang
mengakibatkan alat berat sulit bergerak saat pemuatan dan pengangkutan hasil
peledakan. setelah disi oleh rangkaian bahan peledak seperti TNT atau ANFO
yang dilengkapi dengan nonel, maka selanjutnya diisi material penutup
yangdisebut stemming berfungsi menahan tekanan keatas agar energi yang
dihasilkan oleh bahan peledak tersebar kesegala arah dan menghancurkan batuan
disampingnya.
Tujuan perencanaan pemboran dan peledakan pada batuan: menghasilkan batuan
lepas, yang dinyatakan dalam derajat fragmentasi sesuai dengan tujuan yang akan
capai.
Hasil peledakan ini sangat mempengaruhi produktivitas dan biaya operasi
berikutnya.
Fragmentasi batuan dapat dikontrol dengan merubah pola pemboran atau
mengatur powder faktor atau menggunakan kombinasi kedua faktor tersebut.
Hal yg perlu diperhatikan dalam peledakan yaitu Sifat-sifat batuan yang penting:

Kekerasan: Tahanan dari suatu bidang permukaan halus terhadap abrasi.

Kekerasan dipakai untuk mengukur sifat-sifat teknis dari material


batuan.

Abrasiveness: Parameter yang mempengaruhi keausan (umur) mata bor.


Abrasiveness tergantung pada komposisi batuan. Keausan mata bor
sebanding dengan komposisi batuan tersebut. Kandungan kuarsa dalam
batuan biasanya dianggap sebagai petunjuk yang dapat dipercaya untuk
mengukur keausan mata bor (drill bit).

Tekstur: Struktur butiran dari batuan dan dapat diklasifikasikan


berdasarkan sifat-sifat porositas, looseness density dan ukuran butir.
Tekstur juga mempengaruhi kecepatan pemboran.

Struktur: Rekahan, patahan, bidang perlapisan schistosity dan jenis batuan,


dip, strike.

Breaking characteristic: menggambarkan sifat batuan apabila dipukul


dengan palu. Setiap jenis batuan mempunyai sifat khusus dan derajat
kerusakan yang berhubungan dengan dengan tekstur, komposisi mineral
dan strukturnya.

dalam kegiatan pemboran dan peledakan terdapat 2 ketahanan batuan


Rock Drillability yaitu Kecepatan penetrasi dari mata bor ke dalam batuan. Rock
drillability adalah fungsi dari beberapa sifat batuan, seperti: komposisi mineral,
tekstur, ukuran butiran, derajat pelapukan dan lain sebagainya.
Rock Blastability yaitu Tahanan batuan terhadap peledakan dan ini sangat
dipengaruhi oleh keadaan batuan. Dalam batuan yang keras dan padat peledakan
dapat dikontrol dengan baik. Sedangkan dalam batuan yang banyak celahnya
sebagian energi dari bahan peledak hilang ke dalam rekahan dan peledakan susah
untuk dikontrol.
Sebelum sampai pada rancang bangun peledakan, banyak hal yang harus diketahui
terlebih
dahulu,
yaitu
yang
berkaitan
dengan
:
a.
Parameter
batuan.
b.
Parameter
bahan
peledak.
c.
Parameter
pengisian.
d.
Sasaran
produksi.
e.
Fragmentasi
yang
dikehendaki.
f. Kondisi lapangan (curah hujan, bangunan sekitar, kebisingan, dll).
Suatu operasi peledakan batuan akan mencapai hasil optimal apabila perlengkapan
dan peralatan yang dipakai sesuai dengan metode peledakan yang diterapkan.
Perlengkapan peledakan (blasting supplies / blasting accessories) adalah semua
bahan atau kelengkapan yang dapat digunakan hanya untuk satu kali peledakan
saja. Contohnya adalah sumbu api, detonator, sumbu ledak, dan sebagainya.
Peralatan peledakan (blasting equipment) adalah alat-alat yang dapat digunakan
berulang kali dalam proses peledakan. Contohnya adalah blasting machine, dan
sebagainya.
BAHAN
PELEDAK
Bahan peledak (handak) adalah suatu bahan kimia yang berupa senyawa
tunggal atau campurannya yang berbentuk padat atau cair, yang apabila dikenai
suatu aksi panas, benturan, gesekan atau ledakan awal dapat bereaksi dengan
kecepatan tinggi dan akan berubah menjadi bahan-bahan yang lebih stabil yang
sebagian atau seluruhnya berbentuk gas dan disertai dengan panas dan tekanan
yang sangat tinggi.

Secara garis besarnya, jenis bahan peledak diklasifikasikan menjadi 3 bagian,


yaitu
:
Bahan
peledak
mekanis
(mechanical
explosives).
Bahan
peledak
kimia
(chemical
explosives).
Bahan peledak nuklir (nuclear explosives).
Berdasarkan lapangan penggunaannya, bahan peledak dibagi atas :
Bahan
peledak
militer
(untuk
kepentingan
militer).
Bahan peledak komersil / industri (untuk keperluan pekerjaan sipil, tambang, dll),
umumnya dari bahan peledak kimia.
Berdasarkan kecepatan reaksinya, bahan peledak dibagi 2 jenis, yaitu:
-Bahan
peledak
kuat
(high
explosives).
-Bahan peledak lemah (low explosives).
1. Bahan peledak mekanis yaitu Senyawa dalam bahan peledak mekanis akan
segera bereaksi dan berubah menjadi gas akibat suatu elemen panas yang
dimasukkan ke dalam bahan peledak tersebut. Contohnya adalah cardox, yaitu
bahan peledak yang terdiri dari suatu tabung dengan penutup yang mudah retak
yang berisi CO2 cair.
2. Bahan peledak kimia Berdasarkan kecepatan reaksinya bahan peledak ini
dibagi
dua,
yaitu:
-Bahan peledak kuat. Bahan peledak ini memiliki kecepatan reaksi sangat tinggi,
yaitu 5.000 24.000 fps (1-6 mil perdetik). Tekanan yang dihasilkan juga
sangat tinggi 50.000 4.000.000 psi. Sifat reaksinya adalah detonasi, yaitu
penyebaran gelombang kejut (shock wave). Bahan peledak kuat ini dibagi 2
macam lagi, yaitu:
- primary explosives, yaitu bahan peledak yang mudah meledak bila terkena api,
benturan, atau gesekan, misalnya PbN6, Hg(ONC)2, yaitu untuk bahan isi
detonator.
secondary explosives , yaitu bahan peledak yang hanya akan meledak apabila
ada ledakan yang mendahuluinya, misalnya ledakan dari sebuah detonator atau
primer. Contohnya adalah TNT (Tri Nitro Toluene) dan PETN.
-Bahan peledak lemah. Bahan peledak ini (low explosives) memiliki kecepatan
reaksi rendah (<5.000 fps). Tekanan yang dihasilkan <50.000 psi. Umumnya
dipakai di tambang batubara.
3. Bahan peledak nuklir. Bahan peledak nuklir umumnya terbuat dari plutonium,
uranium 235, atau bahan-bahan sejenis yang mempunyai sifat atom aktif.
METODE PELEDAKAN:

Peledakan cara non-listrik

Peledakan cara listrik

Peledakan cara non-listrik terdiri dari:

Sumbu
Sumbu

api
ledak

(Safety
(detonating

fuse)
fuse)

Nonel

Nonel adalah Tube plastik yang mempunyai diameter luar 3 mm, di dalamnya
berisi suatu bahan reaktif yang dapat menjalankan gelombang kejut (shock wave)
dengan
kecepatan
ca.
2000
meter
(2
kilometer)
per
detik.
Shock wave mempunyai energi yang dapat meledakkan primary explosive atau
delay element dalam detonator.
Macam-macam
jenis
nonel

Nonel

Nonel
GT-HD
dan
Nonel

Nonel
GT-OD
dan
Nonel

Nonel GT-HT dan Nonel Unidet HT

detonator:
standard
Unidet-HD
Unidet-OD

Macam-macam perlengkapan Nonel:


Nonel UB 0 connector, bekerja sebagai relay; gelombang kejut yang
diterima dari nonel tube diperkuat dan didistribu-sikan ke sejumlah nonel tube
penerima.

Nonel starter sama dengan UB 0, tersedia dalam 50 atau 100 m coil/reel


(gulungan).

Nonel bunch connector dipakai kebanyakan dalam terowongan

Multiclip adalah penyambung plastik yg dipakai untuk menyambung


nonel tube dengan sumbu ledak.
Geometri peledakan adalah jarak lubang tembak yang di buat pada saat sebuah
area pertambangan akan di ledakkan.

Diameter
Tinggi
Kedalaman

Burden
lubang
lubang
Subdrilling
Stemming

tembak(
jenjang

(B)
)
(L)
(H)
(J)
(T)

tembak

Spacing (S)

PELEDAKAN CARA LISTRIK:


Tiga

elemen
dasar
rangkaian
Detonator
listrik
(electric
Kawat rangkaian (circuit wiring), terdiri dari:

Leg wire

Connecting wire

Firing line

Buswire

peledakan:
detonator)

- Sumber tenaga (power source): Blasting machine dan AC-power line.


Kawat
rangkaian
(circuit
wiring),
terdiri
dari:
Legwire: Dua kawat yang menjadi satu dengan detonator listrik, yang salah satu
ujungnya dihubungkan dengan bridge wire yang terdapat dalam detonator. Isolasi
legwire pada ujung yang lain terkupas dan kedua kawat diikatkan satu terhadap
yang lain atau dilindungi plastik shunt. Panjangnya bervariasi tergantung
kebutuhan.

Connecting wire: Kawat yang mempunyai isolasi, dipakai untuk menghubungkan legwire dengan firing line. Connecting wire terdiri dari kawat
tunggal (solid wire) tembaga dengan isolasi yang tahan terhadap air yaitu 20
AWG
atau
yang
lebih
besar.

Firing line: Kawat yang dipergunakan untuk menghubungkan sumber


tenaga listrik dengan rangkaian detonator yaitu 14 AWG atau yang lebih besar.
Buswire: Kawat perpanjangan dari firing line dimana masing-masing
detonator (paralel circuit) atau masing-masing detonator dalam seri (paralel series
circuit) dihubungkan. Buswire memiliki ukuran (gauge) yang sama dengan
semua firing line.
Jenis

Instantaneous
Delay detonator

detonator
detonator

Kelas
Detonator

Instantaneous
detonator

Milli-second
detonator

Half-second
detonator
Milli-second Di dalamnya terdapat milli second delay element, berfungsi untuk
menunda detonasi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Waktu tunda (delay
interval) antara setiap inter-val seri tidak boleh melibihi 100 ms (0.1 detik).
Half yaitu Di dalamnya terdapat half second delay element. Waktu tunda (delay
interval) adalah 500 ms (0.5 detik).
Beberapa
istilah
dalam
Peledakan
Tambang
Ledakan (explosive) Ekspansi seketika yang cepat dari gas menjadi bervolume
lebih besar dari sebelumnya diiringi suara keras dan efek mekanis yang merusak.
Contoh:

Tangki bertekanan meledak

Balon karet meletus

Kriteria:

Tidak melibatkan reaksi kimia

Transfer energi ke gerakan massa (efek mekanis)

Disertai panas dan bunyi

Deflagrasi Adalah proses kimia eksotermis di mana transmisi dari reaksi


dekomposisi didasarkan pada konduktivitas termal (heat/thermal conductivity)
Merupakan fenomena reaksi permukaan di mana reaksinya meningkat menjadi
peledakan dengan kecepatan rendah, yaitu antara 300-1000 m/s, atau lebih rendah
dari
kecep
suara
(subsonic)
Deflagrasi terjadi pada reaksi peledakan LOW EXPLOSIVE (black powder):

Potassium
nitrat
+
charcoal
+
sulfur
20NaNO3 + 30C + 10S 6Na2CO3 + Na2SO4+ 3Na2S +14CO2 +10CO + 10N2

Sodium
nitrat
+
charcoal
+
sulfur
20KNO3 + 30C + 10S 6K2CO3 + K2SO4+ 3K2S +14CO2 +10CO + 10N2
Detonasi Adalah proses kimia-fisika yang mempunyai kecepatan reaksi sangat
tinggi, sehingga menghasilkan gas dan temperature sangat besar yang semuanya
membangun ekspansi gaya yang sangat besar pula. Kecepatan reaksi yang sangat
cepat dan diawali dengan panas tersebut menghasilkan gelombang tekanan kejut
(shock compression wave) dan membebaskan energi dengan mempertahankan
shock
wave
serta
berakhir
dengan
ekspansi
hasil
reaksinya.

Contoh:
TNT meledak : C7H5N3O6 1,75 CO2 + 2,5 H2O + 1,5 N2 + 5,25 C
ANFO meledak
: 3 NH4NO3 + CH2 CO2 + 7 H2O + 3 N2
NG meledak : C3H5N3O9 3 CO2 + 2,5 H2O + 1,5 N2 + 0,25 O2
NG + AN meledak : 2 C3H5N3O9 + NH4NO3 6 CO2 + 7 H2O + 4 N4 + O2
Kriteria:

Melibatkan
reaksi
kimia
Oksigen utk reaksi terdapat dalam bahan itu sendiri (tanpa oksigen dari udara)

Handak
dapat
digunakan
dalam
lubang
ledak

Reaksi
ledakan
tidak
dapat
dipadamkan
Reaksi sangat cepat (> Kecepatan suara supersonic); contoh VoD ANFO = 4500
m/s
Shock compression: mempunyai daya dorong sangat tinggi, merobek retakan
yang
sudah
ada
sebelumnya
Shock wave: bahaya symphatetic detonation, menentukan safety distance
Ada ledakan (gerakan massa, bunyi dan panas)
Bahan
dan
Komposisi
Bahan
Peledak
Kimia
Hampir semua bahan peledak komersial adalah campuran dari senyawa-senyawa
yang mengandung 4 unsur dasar, yaitu karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen.
Ke dalam senyawa dasar ditambahkan unsur-unsur seperti sodium (Na),
aluminium (Al), kalsium (Ca), dan sebagainya, yang dimaksudkan untuk
memperoleh efek tertentu, misalnya untuk menambah tenaga peledakan.
Suatu bahan peledak tidak harus selalu mengandung senyawa-senyawa eksplosive
seperti nitrogliserin, nitrostarch, TNT, dan lain-lain, tetapi yang paling penting
adalah apakah sifat masing-masing bahan itu cocok untuk suatu campuran.
kesimpulan bahwa dalam setiap proses peledakan dalam tambang, paramater yang
harus diperhatikan yaitu
1.

kelengkapan alat, perlengkapan peledakan (ANFO, PTEN, Detonator,


Nonel dan lain)

2. sifat-sifat batuan yang akan di ledakkan (kekerasan, stuktur, rekahan,


tekstur, dan lain-lain)
3. yang tepenting ialah keamanan dan keselamatan para pekerja disekitar area
peledakan