Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
Fisura Ani merupakan retaknya pada dinding anus yang disebabkan oleh
peregangan akibat lewatnya feses yang keras1. Fisura Anus (Fissure in ano, Ulkus
anus) merupakan suatu robekan atau luka dengan nanah pada daerah anus dekat
perbatasan dengan kulit, luka sering terjadi pada bagian belakang walau terkadang
lebih jarang juga dapat ditemukan pada bagian depan, lebih jarang lagi pada
bagian samping (bila terjadi harus dipikirkan penyebab penyakit lain) 2. Fisura ani
adalah suatu keadaan yang sering dijumpai pada pasien dengan gejala utama
berupa nyeri pada daerah sekitar anus terutama terjadi pada saat pasien buang air
besar. Keadaan ini terjadi akibat adanya robekan atau suatu retakan pada dinding
anus yang paling sering disebabkan oleh peregangan akibat lewatnya feses yang
keras. Fisura ani merupakan robekan pada mukosa anus yang berada dibawah
garis dentate yang mana mayoritas fisura umumnya ditemukan pada region
midline posterior sebesar 70-80% sedangkan pada midline anterior sebesar 1020% dan terutama sering ditemukan pada wanita dari pada pria 3,4,5.
Fisura ani dapat disebabkan oleh pengeluaran atau defekasi feses yang
besar dan keras, trauma pada saat kelahiran, diare kronis, trauma akibat insersi
objek tertentu pada anus, alergi makanan, ataupun kebiasaan menahan defekasi
yang lama. Pada bayi ataupun anak-anak yang mengkonsumsi susu sapi dalam
jumlah yang banyak cenderung terjadi suatu fisura ani dan konstipasi yang kronis
terutama terjadi pada anak-anak yang menerima ASI dalam periode yang pendek.
Seorang dokter harus mempertimbangkan adanya suatu crohns disease terutama
apabila pasien merupakan anak-anak yang memiliki riwayat diare yang periodik
ataupun

diare

kronik

serta

ditemukannya

fisura

yang

terdapat

pada

anterioposterior vertical axis. Pada beberapa kasus pasien yang memperlihatkan


fisura ani yang kronis biasanya selalu memiliki gejala irritable bowel disease atau
gejala maldigestif yang kronis 3,4.
Pemeriksaan pada pasien dengan fisura ani mungkin akan sulit untuk
dilakukan karena adanya rasa nyeri dan spasme dari spinter, diagnosis ditegakkan
berdasarkan hasil pemeriksaan di daerah anus, untuk membedakan dari hemoroid
dan wasir, pada pemeriksaan colok dubur diagnosis hampir selalu dapat
ditegakkan. Diagnosis juga dapat ditegakkan dengan menggunakan anoskopi

apabila dengan pemeriksaan colok dubur tidak dapat menegakkan diagnosis suatu
fisura ani6,7,8.
Pengobatan untuk suatu fisura ani dapat diberikan pelunak tinja, yang bisa
mengurangi cedera karena buang air besar yang keras dan sulit. Pelumas berupa
suppositoria (obat yang dimasukkan ke dalam dubur) juga bisa diberikan. Duduk
berendam dalam air hangat selama 10-15 menit setelah buang air besar,
mengurangi rasa tidak nyaman dan membantu meningkatkan aliran darah,
sehingga membantu proses penyembuhan. Pembedahan dilakukan hanya bila
pengobatan lain tidak berhasil. Tapi perlu digaris bawahi tujuan utama terapi
adalah untuk menghilangkan rasa sakit sehingga ketegangan otot polos berkurang
sehingga luka dapat sembuh. Pencegahan selalu lebih baik daripada mengobati.
Perubahan gaya hidup juga dapat membantu, makan banyak mengandung serat
dan banyak minum air putih untuk mempermudah buang air besar, juga
menghindari makanan yang merangsang diare karena akan memperberat fissura
ani 3,4,5.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Fisura ani adalah suatu keadaan yang sangat menyakitkan karena adanya
inervasi somatic yang dihasilkan akibat terjadinya spasme pada spinter anus
terhadap respon dari peregangan serta gesekan ataupun robekan selama lewatnya
feses. Adanya fisura ani akan memicu spasme pada spinter anus yang mana akan
semakin menegangkan spinter dan akan meningkatkan rasa nyeri ketika feses
melewati spinter tersebut. Pasien akan merasakan nyeri yang sangat hebat ketika
defekasi ataupun setelah defekasi dan apabila lesi semakin membesar ini akan
menimbulkan suatu ulserasi dan akan menjadi suatu infeksi. Kemudian terjadi
lingkaran setan (circulus vitiosus), otot polos semakin menegang dan pasien
menjadi semakin takut untuk buang air besar sehingga menahan untuk BAB. Pada
akhirnya pasien semakin menahan buang air besar , kotoran semakin keras dan
luka semakin luas 3,4,5.
Fisura ani merupakan suatu robekan dalam anoderma distal terhadap
dentate line yang disebabkan oleh pengeluaran atau defekasi feses yang besar dan
keras, trauma pada saat kelahiran, diare kronis, trauma akibat insersi objek
tertentu pada anus, alergi makanan, ataupun kebiasaan menahan defekasi yang
lama 6,7,8.
2.2 Etiologi dan Epidemiologi
Umumnya disebabkan oleh cedera karena buang air besar yang keras dan
besar. Fissura menyebabkan otot melingkar (sfingter) dari anus mengalami kejang
dan hal ini akan menyulitkan penyembuhan. Otot polos yang melingkari dubur
berfungsi sebagai katup penutup sehingga kotoran bersifat padat, cair dan gas
tidak keluar. Otot ini bersifat involunter, sehingga tidak dapat dipengaruhi oleh
kehendak kita. Dalam keadaan duduk lama atau stress akan bertambah tegang,
bila kemudian terdapat gangguan buang air besar akan mempermudah timbulnya
luka pada selaput lendir. Pada selaput lendir dekat perbatasan dengan kulit banyak
terdapat saraf perasa (sensorik), sehingga bila ada luka kecil saja akan
menyebabkan rasa sakit. Kemudian terjadi lingkaran setan (circulus vitiosus), otot
polos semakin menegang dan pasien menjadi semakin takut untuk buang air besar

sehingga menahan untuk BAB. Pada akhirnya pasien semakin menahan buang air
besar, kotoran semakin keras dan luka semakin luas 2.
Penyebab terjadinya suatu fisura ani berupa suatu keadaan yang
menyebabkan trauma pada anoderma, paling sering kejadian ini berhubungan
dengan periode konstipasi yang akan menyebabkan pengeluaran atau defekasi
feses yang besar dan keras ataupun dapat disebabkan oleh trauma pada saat
kelahiran, diare kronis, trauma akibat insersi objek tertentu pada anus, alergi
makanan, ataupun kebiasaan menahan defekasi yang lama. Telah diketahui adanya
hubungan antara terbentuknya suatu fisura ani dengan meningkatnya anal resting
pressure, yang mana peningkatan ini akan menyebabkan terjadinya suatu
hipoperfusi pada area tersebut sehingga meningkatkan predisposisi terjadinya
cedera pada anoderma dan juga akan menghambat proses penyembuhan.
Pembentukan fisura paling sering terjadi pada daerah midline terutama 99% pada
daerah posterior pada pria dan 1% pada anterior, sedangkan pada wanita tempat
terbentuknya fisura terjadi pada daerah midline posterior sebesar 90% dan anterior
sebesar 10 %. Ini disebabkan karena terjadinya penurunan suplai darah pada area
midline posterior sehingga memudahkan terjadinya suatu fisura 7,8,9.
Insiden Fisura ani ini lebih banyak terjadi pada wanita dari pada pria.
Berdasarkan usia, 87% fisura ani yang kronis terjadi pada usia antara 20-40 tahun.
Pada bayi ataupun anak-anak yang mengkonsumsi susu sapi dalam jumlah yang
banyak cenderung terjadi suatu fisura ani dan konstipasi yang kronis terutama
terjadi pada anak-anak yang menerima ASI dalam periode yang pendek. Seorang
dokter harus mempertimbangkan adanya suatu crohns disease terutama apabila
pasien merupakan anak-anak yang memiliki riwayat diare yang periodik ataupun
diare kronik serta ditemukannya fisura yang terdapat pada anterioposterior
vertical axis 2,7,8,9.
2.3 Anatomi Anal Canal
Panjang anal kanal adalah kira-kira 4-5 cm pada pria dan sedikit lebih
pendek pada wanita, pada pertengahan dari anal kanal terdapat suatu garis yang
disebut sebagai dentate line yang merupakan suatu batas mukosa dari embrionik
endoderm dan ectoderm. Diatas kanal ini dilapisi oleh epithelium kolomnar dan
dibawah kanal ini dilapisi oleh epiteliun skuamosa bertingkat (stratified
squamous epithelium). Ada beberapa perbedaan antara anal kanal bagian atas dan

anal kanal bagian bawah, anal kanal bagian atas diinervasi oleh nervus autonomik,
aliran vena melalui sistem portal dan aliran limpha melalui limpha node
abdominal sedangkan anal kanal bagian bawah diinervasi oleh nervus somatik,
aliran vena melalui sisten sistemik serta aliran limpha melalui limpha node
inguinal8.
Resting pressure di dalam anal kanal sangat penting untuk dijaga
keseimbangannya, yang mana tekanan ini dihasilkan dari 55% spinter anal
internus, 30% dari spinter anal eksternus dan 15% berasal dari bantalan pada anus
dan mukosa. Arah jarum jam sering digunakan untuk menggambarkan posisi
patologis pada anal kanal, jam 12 merupakan bagian anterior pada saat pasien
berada pada posisi supinasi8.

Gambar anatomi anal kanal8


2.4 Patofisiologi
Adanya suatu keadaan yang menyebabkan trauma pada anoderma, paling
sering kejadian ini berhubungan dengan periode konstipasi yang akan
menyebabkan pengeluaran atau defekasi feses yang besar dan keras ataupun dapat
disebabkan oleh trauma pada saat kelahiran, diare kronis, trauma akibat insersi
objek tertentu pada anus, alergi makanan, ataupun kebiasaan menahan defekasi
yang lama serta meningkatnya anal resting pressure, yang mana peningkatan ini
akan menyebabkan terjadinya suatu hipoperfusi pada area tersebut sehingga

meningkatkan predisposisi terjadinya cedera pada anoderma dan juga akan


menghambat

proses

penyembuhan.

Semua

penyebab

tersebuat

akan

mengakibatkan robekan pada anoderma yang akan memicu spasme dari sfingter
ani internus, hal ini akan meninbulkan gejala berupa nyeri yang sangat hebat dan
meningkatkan robekan serta akan menurunkan suplai darah ke anoderma yang
akan mengakibatkan luka akan sulit sembuh sehingga nantinya akan
menyebabkan terjadinya suatu fisura yang kronis. Kemudian terjadi lingkaran
setan (circulus vitiosus), otot polos semakin menegang dan pasien menjadi
semakin takut untuk buang air besar sehingga menahan untuk BAB. Pada
akhirnya pasien semakin menahan buang air besar, kotoran semakin keras dan
luka semakin luas 4,5,6.
2.5 Manifestasi Klinis
Rasa nyeri yang dirasakan pasien saat buang air besar merupakan gejala
utama dari fisura ani, rasa nyeri berlangsung selama beberapa menit sampai
beberapa jam dan kemudian menghilang sampai saat buang air besar berikutnya.
Rasa sakit bisa sampai menyayat sedangkan perdarahan dapat terjadi walaupun
tidak sebanyak pada wasir. Kadang-kadang terdapat peradangan di daerah luka
sehingga terbentuk perianal abses dan akhirnya menjadi fistula 6,7,8,9.
Secara klinis terdapat dua jenis fissura ani :
1. Akut
Baru terjadi pertama kali atau belum lama berselang, belum terjadi penebalan
dan penggantian menjadi jaringan ikat (fibrosis). Umumnya menyembuh
dalam beberapa hari sampai beberapa minggu.
2. Kronis
Terjadi berulang dalam waktu cukup panjang, sering terjadi penebalan pada
daerah tepi dan sekitar luka, dapat terbentuk benjolan kenyal disebut skintag
pada benjolan bawah dan hipertrofi papilla pada bagian atas. Kadang-kadang
disalah tafsirkan sebagai hemorid atau wasir.
2.6 Diagnosis
Pemeriksaan pada pasien dengan fisura ani mungkin akan sulit untuk
dilakukan karena adanya rasa nyeri dan spasme dari spinter, diagnosis ditegakkan
berdasarkan hasil pemeriksaan di daerah anus, untuk membedakan dari hemoroid

dan wasir, pada pemeriksaan colok dubur diagnosis hampir selalu dapat
ditegakkan. Diagnosis juga dapat ditegakkan dengan menggunakan anoskopi
apabila dengan pemeriksaan colok dubur tidak dapat menegakkan diagnosis suatu
fisura ani. Disamping pemeriksaan fisik tersebut adanya riwayat konstipasi
berkepanjangan, kebiasaan menahan defekasi yang lama, riwayat diare kronis,
adanya trauma pada saat kelahiran ataupun riwayat insersi objek tertentu pada
anus saat anamnesis ditambah dengan adanya gejala klinis berupa nyeri yang
hebat saat buang air besar dapat membantu dalam penegakan diagnosis dari fisura
ani 7,8,9.

Gambar prokoskopi memperlihatkan fisura ani kronis8


2.7 Pengobatan Fisura Ani
Tujuan utama dalam terapi fisura ani adalah untuk mencegah siklus nyeri
yang dialami oleh pasien, spasme yang terjadi serta mencegah terjadinya iskemik
yang bertanggung jawab terhadap perkembangan suatu fisura ani. Terapi awal
adalah untuk meminimalisir trauma pada anus yaitu dengan memberikan pelunak
tinja, yang bisa mengurangi cedera karena buang air besar yang keras dan sulit.
Pelumas berupa suppositoria (obat yang dimasukkan ke dalam dubur) juga bisa
diberikan. Duduk berendam dalam air hangat selama 10-15 menit setelah buang
air besar, mengurangi rasa tidak nyaman dan membantu meningkatkan aliran
darah, sehingga membantu proses penyembuhan3,4,8.
Terapi obat hanya efektif untuk fisura akut dan 50-60% efektif untuk
fisura kronis berupa:

2 % lidocaine jelly atau krim analgesik yang lain

Nitroglycerin ointment (0,2%) (glyceryl trinitrate(GNT)) dua hingga tiga


kali sehari,

secara lokal untuk memperbaiki aliran darah, tapi sering

menyebabkan sakit kepala berat

Diltiazem oral dan topical

Agen terbaru seperti arginine (nitric oxide donor) dan topikal bethanecol
(muscarinic agonist)

Terapi obat khusus untuk fissura kronik

Botulinum toxin secara injeksi, menyebabkan paralisis otot sementara


dengan mencegah pelepasan asetilkolin ke presynaptic nerve terminal.
Komplikasinya yaitu inkontinensia (jarang). Penyembuhan luka lebih
lambat dibanding operasi dan rekurensi juga lebih sering terjadi.

Operasi, diindikasikan untuk fissura kronik yang gagal dengan terapi obat.
Tipe operasi yang paling sering dipilih yaitu lateral internal sphincterotomy.
Tujuannya adalah menurunkan spasme dari sfingter internal dengan membelah
bagian ototnya. Sekitar 30% dari sfingter internal dibelah secara lateral dengan
menggunakan teknik terbuka atau tertutup. Pasien 95% sembuh dan mungkin
mengalami rekurensi sekitar 10%, serta dapat mengalami inkontinensia sebesar 515%.

Gambar penanganan fisura ani8


Pengobatan non farmakologis juga dapat dipertimbangkan untuk mencegah
perburukan penyakit dengan cara memperbaiki defekasi. Pelaksanaan berupa
perbaikan pola hidup, perbaikan pola makan dan minum, perbaikan pola/cara
defekasi. Perbaikan defekasi disebut Bowel Management Program (BMP) yang
terdiri atas diet, cairan, serat tambahan, pelicin feses, dan perubahan perilaku
defekasi (defekasi dalam posisi jongkok/squatting). Selain itu, lakukan tindakan
kebersihan lokal dengan cara merendam anus dalam air selama 10-15 menit, 2-4
kali sehari. Dengan perendaman ini, eksudat/sisa tinja yang lengket dapat
dibersihkan. Eksudat/sisa tinja yang lengket dapat menimbulkan iritasi dan
sumber infeksi pada fisura ani 4,5,6,7.
Pencegahan selalu lebih baik daripada mengobati. Perubahan gaya hidup juga
dapat membantu, makan banyak mengandung serat dan banyak minum air putih
untuk mempermudah buang air besar, juga menghindari makanan yang
merangsang diare karena akan memperberat fissura ani.
2.8 Prognosis
Fisura ani merupakan suatu keadaan dimana terjadi robekan pada
anoderma distal terhadap dentate line yang dapat sembuh sendiri apabila
merupakan suatu fisura ani yang akut serta tidak terdapat penyulit dalam
penyembuhan seperti konstipasi yang berkepanjangan, diare kronis, alergi
makanan seperti alergi susu sapi pada anak-anak serta peningkatan anal resting
pressure yang akan menyebabkan terjadinya hipoperfusi yang mengakibatkan
berkurangnya suplai darah dan menyebabkan terhambatnya penyembuhan luka.
Sebagian besar pasien dengan fisura ani akan sembuh dalam beberapa hari hingga
beberapa minggu tetapi terdapat sebagian kasus yang akan berkembang menjadi
fisura ani kronis yang tidak bisa disembuhkan dengan terapi konservatif serta
terapi farmakologis sehingga harus dilakukan tidakan operasi 7,8,9.

10

BAB III
KESIMPULAN
Fisura ani merupakan suatu robekan atau luka dengan nanah pada daerah
anus dekat dengan perbatasan kulit, luka sering terjadi pada bagian belakang
walau terkadang - lebih jarang juga dapat ditemukan pada bagian depan. Fissura
ani secara umum disebabkan oleh cidera karena buang air besar yang keras dan
besar serta disebabkan juga oleh iritasi akibat diare.
Fisura ani merupakan suatu keadaan dimana insiden lebih banyak terjadi
pada wanita dari pada pria. Berdasarkan usia, 87% fisura ani yang kronis terjadi
pada usia antara 20-40 tahun. Pada bayi ataupun anak-anak yang mengkonsumsi
susu sapi dalam jumlah yang banyak cenderung terjadi suatu fisura ani dan
konstipasi yang kronis terutama terjadi pada anak-anak yang menerima ASI dalam
periode yang pendek. Pembentukan fisura paling sering terjadi pada daerah
midline terutama 99% pada daerah posterior pada pria dan 1 % pada anterior,
sedangkan pada wanita tempat terbentuknya fisura terjadi pada daerah midline
posterior sebesar 90% dan anterior sebesar 10 %. Ini disebabkan karena terjadinya
penurunan suplai darah pada area midline posterior sehingga memudahkan
terjadinya suatu fisura.
Tanda dan gejala dari penyakit ini adalah anus robek, sakit akibat
pergerakan usus dan terdapat nanah dalam anus. Fissura ani yang berkelanjutan
akan mengakibatkan komplikasi salah satunya adalah penndarahan dan anemia.
Rasa nyeri yang dirasakan pasien saat buang air besar merupakan gejala utama
dari fisura ani, rasa nyeri berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa
jam dan kemudian menghilang sampai saat buang air besar berikutnya. Rasa sakit
bisa sampai menyayat sedangkan perdarahan dapat terjadi walaupun tidak
sebanyak pada wasir. Kadang-kadang terdapat peradangan di daerah luka
sehingga terbentuk perianal abses dan akhirnya menjadi fistula.
Pemeriksaan pada pasien dengan fisura ani mungkin akan sulit untuk
dilakukan karena adanya rasa nyeri dan spasme dari spinter, diagnosis ditegakkan
berdasarkan hasil pemeriksaan di daerah anus, untuk membedakan dari hemoroid
dan wasir, pada pemeriksaan colok dubur diagnosis hampir selalu dapat
ditegakkan.
Penatalaksanaan pada penyakit ini diantaranya adalah dengan cara
menjalankan pola hidup sehat, olahraga secara teratur, minum obat sesuai anjuran
11

dokter. Tujuan utama dalam terapi fisura ani adalah untuk mencegah siklus nyeri
yang dialami oleh pasien, spasme yang terjadi serta mencegah terjadinya iskemik
yang bertanggung jawab terhadap perkembangan suatu fisura ani. Terapi awal
adalah untuk meminimalisir trauma pada anus baik dengan farmakologis, non
farmakologis serta tindakan operasi jika terapi tersebut tidak berhasil dan fisura
ani berkembang menjadi fisura ani kronis.

12

Daftar Pustaka
1. Wilson Lorraine,dkk. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit.
Jakarta: Penerbit EGC.
2. Heru

Wiyono,

2009.

Fissura

Ani

(Anus).

http://penyakitdalam-

internis.blogspot.com/2009/12/fissura-ani.html (Diakses pada : 4 Februari


2015)
3. Medlineplus.

2010.

Anal

Fissure.

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001130.htm. (Diakses pada :


4 Februari 2015)
4. WebMD.

2012.

Digestive

Disorders

health

Center.

http://www.webmd.com/digestive-disorders/tc/anal-fissure-topic-overview.
(Diakses pada : 4 Februari 2015)
5. Cambridge

University.

2010.

Anal

fissure.

http://www.cuh.org.uk/resources/pdf/patient_information_leaflets/PIN1547_a
nal_fissures.pdf. (Diakses pada : 4 Februari 2015)
6. Perry, Brian et all. 2010. Practice Parameters for the Management of Anal
fissure. http://www.fascrs.org. (Diakses pada : 4 Februari 2015)
7. Cheboygan

Surgical

Associate.

2010.

Anal

Fissure.

http://www.cheboyganhospital.org. (Diakses pada : 4 Februari 2015)


8. Eames, tom et all. 2010. Fissures, Pruritus ani and Haemorrhoids.
http://www.sovegastro.com. (Diakses pada : 4 Februari 2015)
9. Kruzel

ND.

2010.

Naturopathic

Treatment

of

Anal

Fissure.

http://www.rockwoodnaturalmedicine.com/pdf/articles/Naturopathic
%20Treatment%20of%20Anal%20Fissure.pdf. (Diakses pada : 4 Februari
2015)

13